Saturday, September 1, 2007

BEBERAPA KAJIAN DAN AKSI (Yang Tetap) MENDESAK

Berbagai pengalaman kita alami selama empat (4) tahun bersama AI. Kita membutuhkan kejernihan berpikir untuk tetap melangkah. Laporan berikut kiranya menjadi alat penerang dalam langkah kita yang penuh warna dalam menanggulangi AI.

Tentu sudah jelas bagi pembaca Infovet, tentang Virus Influenza, burung (terutama burung perairan yang bermigrasi) merupakan sumber alami virus influenza "Tipe A".

Virus Tipe A memiliki sifat berubah secara tetap. Perubahan ini biasanya terjadi secara bertahap. Terkadang, meskipun jarang, virus Tipe A mengalami perubahan besar secara cepat.
Jika hal ini terjadi, kemungkinan tubuh manusia tidak mampu melindungi dirinya dari pengaruh virus yang baru ini. Virus jenis ini akan menjadi jenis pandemik.

H5N1 (virus Flu Burung saat ini) telah membuat para ilmuwan khawatir karena: cepat menyebar pada kelompok unggas rumah tangga; manusia dapat terjangkiti virus jenis ini dari unggas yang sakit.

Angka kematian akibat hal ini sangat tinggi. Para ilmuwan khawatir bahwa virus ini dapat berubah sedemikan rupa sehingga semakin mudah menyebar ke dan antarmanusia.

Virus H5N1 itu sendiri tidak bersifat Pandemic Strain. Virus ini bisa menjadi atau sarna sekali tidak menjadi Pandemic Strain. Kita tidak tahu bagaiamana virus ini bisa berubah dari wantu ke waktu.

Para ilmuwan dapat membuat vaksin untuk melawan flu burung, namun kita tidak tahu sejauh mana keampuhan vaksin ini jika virus tersebut berubah menjadi Pandemic Strain.
Semua negara saling bergantung untuk membantu mengawasi perubahan virus Flu Burung yang dapat menunjukkan perubahan virus tersebut menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Begitulah hal-hal Pokok untuk wartawan yang Meliput Masalah Flu Burung (dan Kesehatan Umum), sesuai dengan disampaikan oleh Dan Rutz dari Centers for Disease Control and Prevention dalam workshop di Jakarta baru-baru ini, di mana Infovet termasuk salah satu hadirin yang diundang.

Kajian Epidemiologi Kuantitatif

Dalam waktu lain di Yogyakarta, Prof Dr Drh Bambang Sumiarto SU MSc dalam pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM belum lama ini mengungkapkan, kajian epidemiologi kuantitatif telah dilakukan oleh Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD dari FKH UGM pada tahun 2006.

Hasil kajian kasus-kontrol AI pada unggas memberikan indikasi bahwa peranan biosekuriti memiliki pengaruh yang amat kecil terhadap kejadian AI. Hal ini disebabkan karena sangat sedikit peternakan unggas menerapkan biosekuriti yang benar.

Sebaliknya, pengaruh lingkungan, terutama burung liar dan hewan pengerat sangat berperanan terhadap kejadian AI. Demikian juga, lalu lintas manusia di peternakan komersial sektor tiga (peternakan unggas dengan biosekuriti tidak ketat dan sistem terbuka) berpengaruh terhadap AI pada unggas.

Hasil analisis juga menunjukkan peranan sektor tiga di beberapa kabupaten pada spesies unggas sebagai sumber infeksi AI di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY.

Prof Charles dengan aplikasi analisis regresi logistik mengindikasikan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap infeksi AI pada unggas secara berurutan adalah peternakan komersial broiler pada sektor tiga peternakan komersial layer sektor tiga, puyuh, layer, dan entog.

Model tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya kita tidak perlu kawatir dengan ayam buras sebagai faktor penyebab AI, justru puyuh dan entog sebagai reservoir AI perlu mendapat perhatian.

Analisis model regresi ganda dan logistik tersebul sebenarnya belum mengetahui faktor penyebab yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap kejadian penyakit.

Untuk mengetahui faktor yang berpengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap prevalensi AI di dusun, Prof Charles menganalisis data investigasi kejadian infeksi AI dengan pendekatan analisis garis edar.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa prevalensi AI di peternakan komersial yang berada di dusun, secara berurutan, dipengaruhi secara langsung oleh adanya AI di luar peternakan, kebersihan personal petugas kandang, dan kebersihan peralatan kandang.

Selanjutnya, secara tidak langsung prevalensi AI di peternakan komersial di dusun, secara berurutan, dipengaruhi oleh adanya hewan liar, program vaksinasi yang dilakukan, sistem pemeliharaan terbuka, dan menggunakan pakan campuran sendiri.

Prof Charles juga melaporkan bahwa prevalensi AI pada peternakan non komersial di dusun secara langsung, secara berurutan, dipengaruhi oleh adanya peternakan komersial terinfeksi di dusun, asal DOC, pemakaian air berasal dari sumur terbuka, kebersihan kandang, dan menggunakan pakan campuran sendiri.

Selanjutnya, secara tidak langsung prevalensi AI pada peternakan non komersial di dusun, secara berurutan, dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan, kebersihan lingkungan, dan adanya hewan liar.

Aksi Mendesak

Dengan demikian, tetap perlu aksi mendesak untuk dilakukan adalah koordinasi dalam mengurangi kasus pada manusia, mengurangi penyebaran virus, melindungi unggas dan peternakan, meningkatkan konsumsi daging dan telur.

Lalu penyadaran masayarakat dengan suatu tindakan ebrani dan cerdas misalnya biosecurity dan kampanye vaksinasi. Juga kompensasi sector 3 dan 4, vaksin yang tepat dan insentif bagi vaksinator. Tak lupa secara teknis dan inovatif perlu integrasi survey, evaluasi vaksin, kontrol prosedur standar operasional karantina.

Juga diperlukan kisah sukses yang selalu dicatat dan dikabarkan untuk menajdi teladan bagi daerah lain. Demikian pula diperlukan dukungan berbagai kalangan masyarakat seperti BKKBN, Dharmawanita, masyarakat unggas, dan lain-lain.

Demikian Drh Djajadi Gunawan MPH Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Ditjen Peternakan Deptan seraya menambahkan:

“Pendekatan dalam penanggulangan AI/Flu Burung selama ini masih melakukan pendekatan peternakan. Mestinya harus diubah dengan pendekatan pada unsur kemasyarakatan mengingat kasus flu burung sudah masuk pada sektor 4 di mana di sini terdapat pada rumah pemukiman penduduk.”

Konsep perubahan strategi yang ditawarkan Drh Djajadi Gunawan MPH dapat dilihat dalam table “Perubahan Strategi”.

Penanggulangan Flu Burung yang selama ini penuh dengan saling menyalahkan antara pihak-pihak yang berkepentingan, semestinya segera dihentikan, diganti dengan sikap saling mendukung.

Petunjuk Resiko

Menurut Dan Rutz, terkait petunjuk komunikasi (resiko) tentang penyebaran wabah, sejumlah besar negara anggota WHO telah secara informal berkomitmen pada nilai-nilai Komunikasi (Risiko) tentang Penyebaran Wabah

Sejumlah petunjuk tersedia di situs jaringan WHO. Petunjuk-petunjuk ini dibuat berdasarkan hal-hal berikut:

Informasi pemerintah tentang hal-hal darurat berkenaan dengan kesehatan masyarakat harus akurat sehingga dapat membangun dan menjaga kepercayaan.

Informasi harus dikeluarkan segera. Pengumuman yang tepat waktu sangat penting bagi sebuah masyarakat yang terinformasi secara penuh.

Transparansi mensyaratkan para pejabat untuk berterus terang mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan publik, terutama tentang keputusan atau petunjuk yang memiliki efek pada masyarakat.

Para pejabat juga harus mau mendengarkan. Komunikasi Dua-Arah menunjukkan adanya rasa hormat terhadap publik serta membantu memastikan bahwa publik memperoleh informasi yang mereka inginkan dan perlukan.

Prinsip-prinsip ini hanya akan efektif apabila para pejabat senior bersedia mematuhinya.

Kewenangan Media Kesehatan

Adapun Dan Rutz melanjutkan, reporter bidang kesehatan mempunyai hak dan tanggung jawab besar yang ada di tangan mereka. Karena berita tentang kesehatan berdampak pada nyawa seseorang, wartawan harus berhati-hati untuk tidak memberi informasi yang salah atau menakut-nakuti masyarakat.

Wartawan dapat membantu menyelamatkan nyawa seseorang dari serangan Flu Burung termasuk memasukkan petunjuk-petunjuk dasar dalam tulisan: Melaporkan unggas sakit kepada pihak berwenang.

Lalu, memisahkan unggas sakit dari yang sehat, dan memisahkan jenis spesies satu dari yang lain.

Kemudian, masak unggas hingga benar-benar matang—sampai daging tidak lagi berwarna merah muda dan tidak ada lagi cairan yang keluar.
Lantas, Mencuci tangan sesering mungkin, khususnya setelah menangani atau mengurusi unggas.

Jurnalisme bidang kesehatan yang bertanggung jawab akan mendapat perhatian: Masyarakat akan menghargai media cetak/radio yang menjalankan pekerjaan mereka secara serius. Pembuat berita akan memberi imbalan kepada wartawan terbaik dengan menyediakan waktu dan akses lebih banyak kepada wartawan tersebut.
Beberapa persoalan saling terkait menjadi suatu benang merah, dan kita akan tetap melangkah dengan optimis dan pikiran cerah. (YR)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template