Friday, August 31, 2007

Peternak Sapi Perah Tuntut Harga Susu Segar yang Rasional

Susu merupakan bahan makanan yang kaya gizi dan sangat dibutuhkan semua lapisan masyarakat. Negara yang maju adalah negara yang peternakannya maju dan negara yang maju masyarakatnya gemar minum susu. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan, karena susu merupakan bahan makanan yang kaya gizi menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa.

Akhir-akhir ini susu menjadi bahan pemberitaan berbagai media massa, dengan isu pokok meningkatnya harga jual produk susu dari pabrik. Infovet menyampaikan suara dari Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) yang berusaha memberikan informasi kemasyarakat luas tentang permasalahan tersebut.

Sampai sejauh ini produksi susu dalam negeri baru bisa memenuhi 30% kebutuhan bahan baku susu segar Industri Pengolah Susu (IPS), sedangkan yang 70 % lagi IPS harus mengimpor dari berbagai negara. Sementara itu konsumsi susu masyarakat Indonesia baru 7,5 kg/kapita/tahun, sangat jauh bila dibanding negara lain tingkat regional ASEAN.

Pertanyaannya kenapa produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 30% kebutuhan IPS? Hal tersebut bisa terjadi karena selama ini peternakan sapi perah belum menarik minat banyak investor yang diakibatkan rendahnya harga susu segar yang diterima oleh peternak. Bisa dikatakan peternak sapi perah belum bisa menikmati dari hasilnya beternak.

Puncaknya, peternak di daerah tertentu yang merasa susu dari sapi perahnya tak lagi menguntungkan dari yang seharusnya dijual ke koperasi kemudian mengalihkan susunya untuk konsumsi pedetnya dan yang lebih tragisnya sapi perah dialih fungsikan untuk pedaging alias dipotong.

Saat ini harga susu segar ditingkat peternak berkisar Rp 2.400 hingga Rp 2.600 per liter susu segar. Sementara itu harga susu dunia per liter berkisar antara Rp.6.000-an. Mengapa IPS membeli susu segar dari peternak kita jauh lebih murah bila dibandingkan dengan mereka membeli susu segar dari luar? Tentunya tak semata karena pertimbangan perbandingan kualitas susu dalam dan luar negeri kan.

APSPI melalui ketuanya H Masngut Imam S mengusulkan bahwa sebaiknya untuk membangkitkan semangat para peternak sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah, harga susu segar dalam negeri sampai IPS selisihnya 10% - 20% dibawah harga susu dunia dengan syarat kualitas yang sama. Dengan harga susu dunia per liter Rp 6.000 maka harga susu segar dalam negeri sampai IPS harus dibeli Rp 3.800 – Rp 4.200. Dengan harga tersebut sebenarnya para IPS mampu, nyatanya IPS masih impor sebanyak 70% dari total kebutuhan bahan bakunya dengan harga Rp 6000/liter. Sehingga apabila membeli susu segar dalam negeri semisal Rp 4.200/liter, IPS masih ada selisih biaya pengadaan bahan baku Rp 1.800/liter bila dibandingkan dengan impor.

IPS sendiri juga harus mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan oleh para peternak untuk menghasilkan satu liter susu. Dengan harga susu segar ditingkat peternak minimal Rp. 3.000 akan sangat mendorong semangat para peternak sapi perah untuk terus menambah populasi dan memotivasi pihak lain untuk ikut beternak sapi perah dan akan menarik minat para investor ataupun perbankan guna membiayai peternakan sapi perah yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi susu nasional.

“Permintaan kami agar harga susu segar dalam negeri hanya terpaut 10% – 20% dibawah harga susu dunia. Kami mengharapkan IPS dalam menentukan harga susu segar dalam negeri perlu mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan oleh peternak untuk menghasilkan satu liter susu segar, sehingga harga yang diterima peternak akan layak. Sedangkan masuknya susu impor dari Malaysia kami tidak mempermasalahkan dari Negara manapun, karena kami percaya masuknya susu dari Malaysia tentu sudah terdaftar pada instansi berwenang yaitu POM dengan label tertentu,” ujar H Masngut.

Belakangan ini harga susu formula melambung tinggi, sehingga membuat masyarakat resah dan melakukan aksi borong produk. Seharusnya IPS tidak perlu menaikkan harga sementara ini, mengingat margin harga jual susu formula selama ini cukup tinggi maka dengan tidak menaikkan harga jual masih menguntungkan meskipun harga susu segar naik.

Ir Suharto MS Sekjen APSPI menambahkan, untuk meningkatkan produk susu dalam negeri tidak mesti harus impor susu, tetapi masih ada jalan lain yaitu menambah populasi dengan jalan impor induk sapi perah. Untuk mendukung pertambahan populasi, peternak sapi perah yang sudah ada juga harus berfungsi sebagai pembibit sapi perah, pedet yang mereka hasilkan harus diarahkan menjadi induk sapi perah yang baik.

“Diseleksi dari awal yang memenuhi kriteria di besarkan untuk calon induk, sedangkan yang tidak baik maupun pedet jantan langsung diarahkan sebagai sapi potong, hal ini bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan daging dan mendukung program kecukupan daging 2010,” jelas Suharto.

Lebih lanjut Suharto memaparkan, usaha pembibitan sapi perah dinilai tidak menarik bagi investor yang disebabkan oleh nilai investasi cukup tinggi dengan nilai keuntungan yang sangat tipis. Untuk itu kami mengusulkan ke semua Pemerintah Daerah yang ada sapi perahnya untuk dapat menyisihkan APBDnya sebesar 1- 2% untuk diinvestasikan dibidang sapi perah. Teknisnya adalah pinjaman lunak berjangka panjang, dari 1-2 % tersebut dibagi lagi menjadi dua. Dimana setengahnya untuk membiayai pembibitan dan setengahnya lagi untuk program rearing (pembesaran pedet).

Secara teknis Suharto menjelaskan usulannya lebih rinci, “Untuk program pembibitan bunga yang kami usulkan adalah sebesar 5% per tahun dengan jangka waktu pengembalian 5 tahun, sedangkan untuk program rearing sebesar 6% per tahun dengan jangka waktu pengembalian 3 tahun. Karena dana tersebut bersumber dari APBD yang hakekatnya milik rakyat, maka dana tersebut harus bisa kembali ke kas negara sesuai jadwal. Untuk itu yang dapat meminjam dana tersebut harus memenuhi beberapa syarat yaitu 1) peternak berpengalaman, 2) memiliki sapi dan kandang, 3) memiliki jaminan bisa berupa sertifikat ataupun yang lain dan 4) memiliki ijin usaha.”

Sebagai penutup APSPI menghimbau ke semua masyarakat agar tidak panik merespon naiknya harga susu pabrikan, toh yang naik hanya produk susu jenis formula yang lebih dikhusukan pada bayi, sedangkan jenis yang lain tidak mengalami kenaikan.

Untuk itu saran APSPI bila susu formula harganya terus melambung maka sebaiknya berilah ASI (air susu ibu) sampai bayi umur 1 tahun, janganlah enggan untuk menyusui bayi. Setelah bayi umur 1 tahun berilah produk susu yang harganya lebih terjangkau dan murah seperti: susu pasteurisasi, UHT, lebih-lebih susu murni dari sapi, mudah bukan! (wan)

SINDROMA KERDIL KADANG MASIH USIL

Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak – peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak – seragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.

Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
1. Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
2. Multi strain dalam satu flock / kandang
3. Kurang tempat pakan dan tempat minum
4. Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
5. Penyakit infectious seperti Coccidiosis
6. Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )

Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada / hilang dengan sendirinya.

Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti :

√ Malabsorption Syndrome
√ Stunting Syndrome
√ Reovirus Malabsorption
√ Pale Bird Syndrome
√ Helicopter Disease
√ Brittle – bone Disease

Apa itu sindroma kekerdilan pada broiler ? dan apa saja penyebabnya ?

Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari. Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal. (Nick Dorko, 1997).

Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya ayam culling; tingginya fcr; rataan berat badan di bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila ada kontrak dengan “slaughter house” / rumah potong ayam; masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil.

Pertanyaannya adalah apakah kejadian kekerdilan pada broiler ini hanya merupakan sindroma saja ataukah merupakan penyakit yang sangat banyak penyebabnya ? / Multifactorial Causative Disease ?
Beberapa ahli penyakit ayam menyatakan bahwa runting and stunting syndrome terdiri atas tiga bentuk yaitu Enteritic; Pancreatic dan Proventricular (yang mana hal tersebut lebih didasarkan kepada organ yang diserangnya), yang paling penting sindroma kekerdilan ini merupakan sindroma penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor.

PENYEBAB SINDROMA KEKERDILAN
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :
• Penyebab berasal dari Pembibitan
• Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery
• Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
• Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi
• Penyebab berasal dari Lingkungan
• Penyebab berasal Penyakit

1. Penyebab berasal dari Pembibitan
Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
 Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk <> 30 % populasi dengan kategori BENCANA / MALAPETAKA

Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
 Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads”
 Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds “ / “ Stress Banding”
 Tulang kering / betis berwarna pucat
 Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja

PATOLOGI ANATOMI
 Perubahan terutama terjadi pada usus seperti : pucat, tipis, berisi material cair sampai berlendir
 Kadang ada radang proventriculus
 Ada degenerasi pada pancreas
 Makanan pada usus bagian belakang masih utuh

PENGENDALIAN PENYAKIT
1. Pembibitan
 Induk harus dapat memberikan bekal maternal antibodi yang tinggi
 Hindari terinfeksi dengan Salmonella enteriditis
 Perbesar telur tetas dengan cara tunda awal produksi dini (pengaturan lighting), berat badan betina harus masuk berat standar, kebutuhan Kcal / protein / ayam terpenuhi. Tambahkan protein / asam amino pada pakan periode petelur dengan Methionine / Cysteine

2. Hatchery
 Hindari menetaskan telur tetas yang kecil
 Perpendek waktu koleksi telur tetas
 Jangan menetaskan telur tetas yang berbeda usia / ukuran dalam satu mesin
 Percepat proses seleksi doc dan secepatnya didistribusikan
 Pergunakan alat pengangkut doc dari hatchery sampai peternak dengan alat angkut yang representatif, terutama lengkapi dengan “Ventilator”

3. Farm Broiler
 Laksanakan proses biosecurity dengan baik dan benar, agar farm dapat seoptimal mungkin terbebas dari serangan infeksi penyakit pemicu terjadinya kekerdilan
 Penggunaan desinfektan yang mengandung antiviral seperti GLUTAMAS dan SEPTOCID sangat dianjurkan
 Usahakan satu unit farm diisi oleh ayam yang satu usia, karena jika ada serangan kekerdilan ayam yang ber-usia paling muda yang paling parah terkena infeksi
 Jika mendapat doc kecil / bibit muda / doc berasal dari telur tetas kecil, maka tatalaksana brooding harus sempurna; berikan pada minumnya multivitamin yang mengandung vitamin A, D dan E seperti VITAMAS; perhatian difokuskan kepada suhu sekitar brooding; pemberian pakan yang intensif dan mudah dijangkau ayam, demikian juga dengan air minum harus selalu tersedia dalam keadaan segar
 Bila kekerdilan sudah menyerang ayam di kandang, maka lakukan langkah :

1. Ayam yang hanya mencapai 40% dari berat badan standar dipisahkan / diculling
2. Lakukan desinfeksi area kandang secara rutin dengan GLUTAMAS atau SEPTOCID, dosis berikan sesuai petunjuk pembuatnya
3. Ayam yang ber-berat badan > 40% dari berat badan standar dan Normal berikan minum yang mengandung MASABRO atau HYPRAMIN – B, sesuai petunjuk pembuatnya
4. Pakan sebaiknya tetap menggunakan pakan starter sampai panen
5. Sebaiknya ayam di panen pada berat 1.0 – 1.2 kg saja

 Periksakan pakan secara periodik untuk kontrol kandungan mycotoxin
 Pastikan pakan kandungan bahan bakunya seimbang dan sesuai dengan peruntukan usia ayam


Drh Arief Hidayat
Technical Department
PT. Mensana Aneka Satwa

FAKTA LAPANGAN: AYAM POTONG PUN KINI RENTAN DENGAN AI


Adalah Dr Drh Fedik Abdul Rantam, tenaga pengajar pada Laboratorium Virologi dan Immunologi Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya menguatkan tulisan pada Infovet Edisi Mei 2007 yang memuat serangan Avian Influenza (AI) pada ayam potong. Hal itu diungkapkan Fedik ketika tampil dalam Seminar Terbatas untuk peternak ayam potong dan petelur Se-Jogjakarta dan Magelang, pertengahan Mei 2007 di Jogjakarta. Sedangkan Ir Danang Purwantoro dari PT Biotek Jogja yang bertindak sebagai Ketua Penyelenggara mengungkapkan bahwa topik yang diangkat memang masih seputar penyakit AI oleh karena penyakit itu kini sudah menyebar ke ayam potong dan bukan lagi monopoli pada ayam petelur.

“Topik penyakit AI kami pilih karena penyakit itu tidak saja sudah merambah ke ayam potong akan tetapi juga oleh karena penyakit itu sangat strategis bagi para peternak. Mengenai pembicara yang kami tampilkan memang pakar yang juga sangat kompeten dan dedikasinya sangat tinggi dalam ikut mengendalikan penyakit AI di Indonesia selama ini,” ujar Danang.

Lebih lanjut, Danang menjelaskan, masalah pembicara yang dipilihnya merupakan Anggota Komnas Flu Burung dan Anggota Komisi Obat Hewan Deptan, tentunya diharapkan sangat banyak informasi baru yang bisa bermanfaat bagi para peternak di Jogja dan Magelang. Dan ternyata Dr Fedik sangat komunikatif dan dalam penyampaiannya juga sangat sistematis serta mudah dipahami para hadirin yang sebagian besar para peternak.

Perkembangan penyakit Avian Influenza dijelaskan dengan gamblang oleh Fedik secara runut, sistematis dan didukung ilustrasi gambar yang menarik sehingga sangat mudah dicerna oleh hadirin yang sebagian besar adalah peternak dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang heterogen.

Menurut Fedik hasil Tim Pemantau Penyakit AI dari FKH Unair bahwa di Jawa Timur kasus AI pada ayam potong sudah sedemikian mengkhawatirkan, karena dari populasi yang ada termasuk banyak. Tanpa menyebut angka, berapa banyak farm komersial dan breeding yang diamati, Fedik menyimpulkan bahwa kini peternak ayam potong tidak bisa meremehkan kasus penyakit AI yang sementara ini diasumsikan hanya menyergap pada ayam petelur.

Selanjutnya ditekankan oleh Doktor muda lulusan Jerman yang murah senyum itu, bahwa tidak ada jalan lain bagi peternak ayam komersial di Indonesia saat ini selain hanya ada langkah utama yang harus ditempuh yaitu biosekuriti termasuk vaksinasi. Langkah itu sebenarnya merupakan sebuah kebutuhan baku bagi industri peternakan unggas, namun selama ini di Indonesia hal itu sering dilalaikan dan dianggap pemborosan.

Meski harus diakui bahwa langkah itu telah dilakukan oleh pihak breeding alias pembibit, namun hasil pengamatan Fedik aspek kontrol pasca vaksinasi belum begitu baik. Kontrol yang dimaksud adalah melihat hasil vaksinasi melalui titer antibodi, banyak pihak yang belum melaksanakan secara optimal dan baik.

Dalam seminar yang bertajuk “Strategi Budidaya Layer dan Broiler di era Flu Burung” itu, Fedik kembali menjelaskan kepada para peternak tentang sifat dasar virus AI. Bahwa itu sebuah kenyataan bahwa virus AI adalah tipe yang mudah mengalami mutasi atau setidaknya mampu memodifikasi genetiknya. Meski sebenarnya virus yang bersangkutan sangat “ringkih” gampang mati saat berada di luar tubuh hospes dan juga mudah mati oleh berbagai jenis desinfektan. Selain itu di dalam tubuh ayam virus ternyata mampu mengaglutinasi sel darah merah ayam dan mempunyai sifat mudah menular ke manusia. Saat ini menurutnya hampir tidak ada daerah di Indonesia yang benar-benar dapat terbebas dari sergapan penyakit yang menghebohkan tahun 2003 itu sampai saat ini.

Vaksinasi Diperkuat Multivitamin dan Imunostimulator

Dijelaskan juga bahwa penyakit AI pada unggas adalah menyerang sistem pernafasan yang bersifat mudah menular dengan angka kematian (mortalitas) mencapai 100%. Bahwa sementara ini banyak para peternak dibuat kalang kabut oleh penyakit ini tetapi sangatr sedikit yang mengetahui bahwa sebenarnya ada kelompok yang patogen yang biasa disebut High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan kurang patogen atau Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Asumsi para peternak sebagian besar menyamaratakan hal itu. Atas kondisi seperti ini menjadi tidak seragamnya aksi atau langkah dalam menghadapi penyakit itu. Ada peternak yang nekat tidak mau melakukan vaksinasi AI kecuali hanya melakukan penyemprotan yang berlebih. Akan tetapi, syukurlah kini nampaknya meski terlambat, persepsi para peternak dan praktisi di lapangan sudah nyaris sama.

Memberikan pemahaman akan pentingnya sebuah vaksinasi memang butuh waktu, karena hal itu terkait dengan sifat dasar sebuah usaha yang mencoba menekan ongkos produksi. Dan ketika semakin banyak peternak yang terantuk batu karena ayamnya terinfeksi maka akhirnya langkah itu harus dilakukan.

“Vaksinasi adalah sangat perlu karena langkah itu merupakan cara memberikan perisai dan memberikan pelindung bagi ayam. Dan yang perlu diperhatikan saat vaksinasi adalah hendaknya pemberian multivitamin dan immunostimulator. Baik itu immunostiimulator ataupun multivitamin tidak lain dalam rangka merangsang tubuh ayam agar memproduksi secara optimal zat kebal atau antibodi,” ujarnya yang seolah ingin menegaskan arti pentingnya kedua hal itu.

Sebenarnya ada jenis tumbuhan yang bersifat mendorong dan merangsang produksi zat kebal saat vaksinasi dilakukan. Contohnya adalah tanaman Putrimalu dan Daun Dewa, dimana kedua tanaman itu sudah diteliti mengandung zat immunomodulator.

Tanda Infeksi pada Ayam Potong

Hasil Tim Fedik di lapangan menemukan fakta bahwa tanda-tanda infeksi AI pada ayam potong, memang tidak sejelas dibanding pada ayam petelur. Namun demikian sebenarnya sangat mudah dan para peternak kini sangat paham benar tanda-tanda penyakit AI pada ayam potong. Jika sergapan dari virus LPAI biasanya mortalitas relatif rendah dan umumnya pertumbuhan terhambat atau muncul sindroma kerdil. Selain itu perlu diwaspadai adanya penularan melalu air minum yang tercemar feses. Jika dilakukan bedah bangkai akan dijumpai degenerasi hati dan pembengkakan limpa dan ginjal. Selain itu kantung udara menjadi agak gelap dan keruh. Sangat sering dijumpai adanya perdarahan yang berat (haemorragic) pada usus.

Sedangkan pada jenis HPAI umumnya mortalitas akan sangat tinggi bahkan sering 100% dan umumnya saluran pernafasan yang terganggu sehingga sering disalah dugakan dengan penyakit pernafasan oleh karena penyebab virus. Jika demikian maka, harus diwaspadai karena penularan sering sangat terjadi, hal ini oleh karena tingkat penularan sangat tinggi dengan bantuan angin.

Vaksinasi AI Tetap Penting untuk Ayam Umur Pendek

Umumnya muncul asumsi bahwa ayam potong tidak perlu divaksin, karena lebih banyak menyerang pada ayam usia tua, ayam petelur contohnya . Namun kini harus direvisi pendapat dan asumsi itu. Di daratan benua Eropa pada saat ini juga sudah hampir semua negara merekomendasikan vaksinasi AI pada semua bangsa unggas, termasuk unggas untuk tujuan komersial. “Vaksinasi AI kini menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan pada ayam komersial agar terhindar dari kerugian yang lebih besar. Hampir sebagian besar negara di benua Eropa sudah merekomendasikan hal itu,” tegas Fedik.

Selain itu, menurut Fedik, biosekuriti harus semakin ditingkatkan. Aspek pemilihan bibit yang berkualitas, terutama nilai atau angka titer antibodi maternal yang tinggi. Dijelaskan bahwa kini sudah ada banyak pihak breeding yang menekankan arti penting DOC yang mempunyai maternal antibodi yang tinggi terhadap virus AI. Langkah lain untuk menekan kasus AI di farm komersial adalah memberikan multivitamin dan immunostimulator agar produksi antibodi mencapai tingkat yang optimal.

Menjawab pertanyaan seorang peternak tentang kapan sebaiknya ayam potong divaksin AI. Menurut Fedik harus diperhatikan jadwal dan program vaksinasi terhadap penyakit yang lain, seperti vaksin ND dan Gumboro. Sebab pada ayam potong umumnya diusia awal demikian ketat atau banyaknya program vaksinasi. Namun demikian sebaiknya vaksinasi AI harus dilakukan sedikitnya dua kali agar tercapai tingkat kekebalan yang optimal. Tidak ada dan belum pernah terjadi vaksinasi AI yang hanya sekali mampu menghasilkan keberhasilan vaksinasi.

Untuk itu menurutnya sebaiknya pada ayam potong divaksin pada umur 5-7 hari dengan aplikasi sub kutan/dibawah kulit (s.c) atau intra muskuler/didalam daging (i.m). Hasil penelitiian Tim FKH Unair bahwa baik aplikasi s.c maupun i.m tidak ada perbedaan hasil yang signifikan. Yang paling penting dan patut diperhatikan adalah ulangan (revaksinasi) atau booster. Tanpa booster tidak akan bisa mencapai hasil vaksinasi yang optimal.

Sedangkan Drh Carolina dari PT Biotek mencoba membagi pengalaman bahwa hasil penerapan di lapangan di kawasan Jabodetabek vaksinasi AI telah mampu mencapai tingkat keberhasilan yang menggembirakan. Di beberapa farm komersial yang menjadi mitra PT Biotek, terbukti program vaksinasi AI membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Oleh karena itu pilihan atas vaksin menjadi salah satu aspek yang terpenting. Selain itu ketatnya biosekuriti akan ikut membantu tingkat keberhasilan itu (iyo)

AVIAN INFLUENZA Perkembangan Kasus Avian Influenza


Hasil kajian lapangan menurut sebagian besar sumber, penyebab Avian Influenza di Indonesia masih disebabkan oleh virus Avian Influenza tipe A, sub tipe H5N1, dan HPAI. Tingkat homologi (susunan asam amino) antara isolat virus AI dari ayam tahun 2003 dan tahun 2006 > 95%.

Saat ini sebagian besar gejala klinis dan kerusakan alat tubuh yang disebabkan Avian Influenza berbeda dengan yang ditemukan pada awal wabah penyakit ini pada tahun 2003. Menurut pengamatan para ahli, ada dua bentuk klinis Avian Influenza; HPAI ganas dengan kematian tinggi (sulit dibedakan dengan ND) dan HPAI ringan dengan kematian rendah. Kedua bentuk klinis tersebut masih disebabkan oleh HPAI.

Gejala HPAI ganas ditandai dengan ayam terlihat lesu, kadang terlihat warna kebiruan pada jengger, pial, sekitar muka, dada, tungkai atau telapak kaki. Dapat terlihat gangguan pencernaan, produksi dan saraf. Peningkatan angka kematian (20-40% atau lebih), Pada ayam petelur, produksi telur terhenti atau sangat menurun:

Gejala klinis HPAI bentuk ringan, tersifat dengan adanya penurunan produksi telur yang drastis. Biasa ditemukan pada kelompok ayam dengan titer hasil antibodi yang rendah. Ayam mengalami depresi ringan atau tanpa gejala. Kadang terjadi gangguan pernafasan. Pada layer terjadi juga penurunan produksi telur, baik pada kuantitas, maupun kualitas.

Pengaruh HPAI bentuk ringan pada ayam petelur. Menyebabkan gangguan kualitas telur, (berat, ukuran, kerabang, yolk dan albumin. Gangguan tipe penyakit HPAI ringan, menyebabkan ayam mudah terkena berbagai penyakit, khususnya ND dan IB. Gangguan respon terhadap pengobatan menjadi rendah, terutama disebabkan karena hati sebagai organ metabolisme utama mengalami gangguan.

Faktor yang mempengaruhi Kejadian AI

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian AI pada suatu peternakan atau wilayah ; (1) Jenis unggas yang dipelihara (ayam, itik, buruh puyuh), (2) Tingkat kepadatan ternak ayam per-wilayah, (3) Manajemen Peternakan (SDM, perkandangan, pakan, air minum, budidaya, kesehatan umum), (4) Pelaksanaan biosekurity, (5) Vaksinasi Terhadap AI, kontak dengan burung liar, rodensia insekta, mamalia (anjing dan kucing). (6) Sistem pemasaran produk dan (7) Sistem penanganan kotoran dan limbah.

Faktor yang berperan dalam penularan virus AI antar wilayah ; Lalu lintas unggas dan produk asal unggas; Transportasi kotoran ayam,mobilitas orang, kendaraan, bahan, peralatan.

Problem pada Penanggulangan AI di Indonesia

Banyak permasalahan yang menjadi hambatan sehingga peanggulangan AI sulit mencapai hasil yang diinginkan. Isolasi peternakan/daerah “bebas AI” masih sulit dilakukan. Tingkat keberhasilan vaksinasi AI, saat ini sangat bervariasi. Biosekuriti cenderung diperlonggar karena memerlukan biaya yang tinggi. Kontrol lalu lintas unggas, produk asal unggas, produk sampingan (khususnya kotoran) sulit dilakukan. Kesadaran peternak untuk ikut mencegah perluasan kasus AI cenderung menurun.

Aspek kesehatan masyarakat, dampak ekonomik, sosial budaya, politik dan efek psikologik kasus AI sangat sangat menonjol, sehingga penanggulangan penyakit menjadi sangat kompleks.

Perwilayahan kasus AI sulit ditetapkan karena areal peternakan ayam tersebar secara acak diseluruh Indonesia. Kajian epidemiologik, monitoring hasil vaksinasi dan dinamika virus AI masih sangat terbatas. Pengembangan public awareness masih belum maksimal, karena masih terkendala terbatasnya biaya.

Aspek Penting Vaksinasi

Vaksinasi diperlukan dalam penanganan Avian Influenza karena akan melindungi gejala klinis dan mortalitas disebabkan virus HPAI. Dengan vaksinasi akan mengurangi populasi yang rentan, mengurangi pencemaran/shedding virus di lokasi peternakan dan tujuan utama vaksinasi adalah mencegah kerugian ekonomi.

Kualitas vaksin terutama ditentukan oleh pembuatan vaksin, distribusi dan penyimpanan, titer vaksin dan masa kedaluarsa. Cara pemberian vaksin juga mempengaruhi aspek vaksinasi. Selain itu metode vaksinasi, program vaksinasi, vaksinator dan peralatan vaksinasi beserta sarana/prasarana peternakan Ayam, meliputi umur/ variasi umur dan status kesehatan, kesemuanya memegang peranan dalam keberhasilan penanggulangan Avian Inffluenza.

Kunci keberhasilan vaksinasi ditentukan oleh penggunaan vaksin yang berkualitas tinggi yang harus didukung oleh manajemen optimal, terutama biosekuriti yang ketat. Vaksin harus diberikan terlebih dahulu sebelum terjadinya infeksi oleh agen infeksi lapang. Vaksin juga harus memberikan perlindungan kolektif pada semua ayam.

Vaksin AI

Prinsip dasar pemakaian vaksin Avian Influenza adalah virus vaksin (master seed) harus homolog dengan sub tipe H atau subtipe H dan N virus asal lapang. Menurut regulasi OIE, master sheed vaksin harus berasal dari isolat virus Avian Influenza low pathogenic (LPAI) yang telah dikarakterisasi (dimurnikan). Mempunyai komposisi genetik yang stabil. Proses inaktivasi sempurna (uji laboratorik). Bebas pencemaran agen infeksius lainnya. Mengandung konsentrasi antigen yang tinggi. Menggunakan adjuvant berkualitas tinggi. Mempunyai tingkat keamanan, potensi dan efektifitas yang tinggi (uji laboratorik dan uji lapang).

Karakteristik vaksin Avian Influenza yang ideal (menurut Suarez tahun 2000), vaksin dapat meransang respon kekebalan humoral (HMI-humoral mediate immunity) dan kekebalan seluler (CMI-cell mediate immunity), sehingga perlindungan terhadap ayam cepat terbentuk. Kriteria lain yang diharapkan pada vaksin Avian Influenza adalah harga relatif tidak mahal, mudah diberikan pada ayam, perlindungan efektif dan dapat dicapai dengan dosis tunggal (ayam semua umur). Respon antibodi yang timbul dapat dibedakan dengan respon akibat virus Avian Influenza asal lapang, subtipe H homolog, subtipe N heterolog dengan virus AI asal lapang.

Karakteristik lain yang diharapkan adalah aman untuk ayam/unggas dan aman untuk diproduksi, master seed berasal dari virus Avian Influenza Low pathogenic (LPAI), Waktu henti singkat (pada broiler), khusus vaksin vektor, dapat merangsang respon antibodi pada ayam yang telah kontak dengan vektor.

Gambar : Vaksin Gallimune Flu® vaksin Avian Influenza 0.3 dalam adjuvant emulsi khusus.

Ada tiga jenis vaksin Avian Influenza, (1) Konvensional, killed, oil emulsion. (2) Rekombinan – vektor vaksin. (3) Reverse Genetics (killed, oil emulsion)
Manfaat vaksinasi terhadap Avian Influenza. Menekan kerugian ekonomik akibat Avian Influenza, menekan mortalitas dan menekan gangguan produksi. Menekan penyebaran/shedding virus AI dan selanjutnya menekan jumlah ayam yang peka terhadap infeksi virus AI.

Beberapa informasi menyangkut vaksinasi Avian Influenza, vaksinasi biasanya tidak menghilangkan infeksi. Vaksinasi harus selalu disertai oleh biosekuriti yang ketat, merupakan bagian dari suatu sistem terpadu. Perlu monitoring dan evaluasi terus-menerus menyangkut : tingkat keamanan vaksin (sistem sentinel dan/atau uji DIVA, uji laboratorik lain). Tingkat perlindungan vaksin dan kemungkinan mutasi virus AI asal lapang.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun program vaksinasi Ai adalah prevalensi kasus Avian Influenza pada suatu daerah, Tingkat keberhasilan vaksinasi AI di lapangan, Status kesehatan ayam dalam flok, Umur ayam, struktur peternakan, Efek vaksinasi ulang terhadap AI.

Evaluasi hasil vaksinasi AI, Perlu dilakukan secara periodik, ada baiknya menggunakan ayam sentinel. Uji Selogik yang bisa digunakan untuk monitoring AI adalah uji HI, Elisa, DIVA.

Manfaat uji serologik terhadap hasil vaksinasi AI, dapat memberikan gambaran tentang kualitas vaksin, proses vaksin, program vaksinasi, kesehatan ayam waktu di vaksinasi, kemungkinan kontak dengan virus asal lapang. Khusus uji DIVA, membedakan respon hasil vaksinasi AI dan respon akibat kontak dengan virus asal lapang.

Permasalahan pada vaksinasi AI selama tahun 2005 sampai pertengahan 2006. Tingkat keberhasilan vaksinasi AI pada ayam sangat bervariasi sehubungan dengan kualitas vaksin, program vaksinasi, kondisi ayam waktu divaksinasi, jenis ayam unggas yang divaksinasi. Ayam pedaging, buras, puyuh hanya divaksinasi AI dalam skala terbatas dan itik sangat terbatas sehingga membuka peluang sebagai reservoir. Monitoring hasil vaksinasi dan dinamika virus AI di lapangan masih terbatas. Alokasi dana untuk vaksinasi masih terbatas. Pengawasan distribusi vaksin dan pelaksanaan vaksinasi belum optimal.

Gallimune Flu® H5N9

Gallimune Flu® H5N9 merupakan vaksin Avian Influenza 0.3 dalam adjuvant emulsi minyak khusus. Gallimune Flu® H5N9 mengandung strain Wisconsin H5N9 yang telah teruji di laboratorium independent USA dan Australia dan Gallimune Flu® H5N9 telah teruji melalui uji tantang dengan isolat Asia. Haemaglutinin (H5) homolog dengan strain yang ada di Indonesia, Neuramidase (N9) heterolog dengan strain yang ada di Indonesia. Gallimune Flu® H5N9 sangat aman karena berasal dari strain Avian Influenza low Pathogenic (LPAI) dan merupakan vaksin yang direkomendasikan OIE untuk digunakan dalam penanggulangan Avian Influenza. Gallimune Flu® H5N9 lebih aman dibandingkan dengan vaksin homolog/ autogenus vaksin yang berasal dari Avian Influenza Highly Pathogenic (HPAI).

Drh Nurvidia Machdum
Technical Department Manager
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 264
JAKARTA. Telp.021 8300300

Manajemen Broiler Moderen

Drh Heri Setiawan

Hari masih terhitung pagi, ketika saya memasuki kandang broiler milik bapak Alim. Bangunan kandangnya sederhana. Tiang-tiang penopangnya dari kayu dan bambu serta beratapkan genteng. Berdasarkan teknis perkandangan, sebenarnya kandang broiler tersebut kurang memenuhi persyaratan. Lebar kandangnya melebihi standar, yaitu sekitar 10 meter. Tidak ada monitor di bagian atapnya. Jarak antara satu kandang dengan kandang lainnya hanya berkisar 4 meter saja. Tinggi alas kandangnya 1,5 m.

Di dalam kandang tersebut berisi 6.000 ekor anak ayam umur 4 hari. Penempatan anak ayam sebanyak itu dibagi dalam 10 kandang indukan. Chick guard (pembatas kandang indukan) menggunakan seng. Pemanasnya dibuat dari tong atau drum bekas tempat minyak tanah. Dinding drum diberi satu lubang berdiameter sekitar 8 cm. Tujuannya sebagai pintu masuk oksigen untuk pembakaran. Bahan bakar pemanas adalah potongan-potongan kayu. Di atas drum, digantungkan seng sebagai penutup.

Saat itu saya perhatikan tirai-tirai plastik masih menutupi semua sisi kandang. Meski pun demikian, penyebaran anak ayam di masing-masing brooder merata. Nampaknya anak-anak ayam tersebut merasakan kenyamanan. Artinya, temperatur lingkungan dalam kandang indukan - ketika itu - memadai dan sesuai kebutuhan anak ayam. Saya ambil beberapa ekor anak ayam, kemudian saya raba tembolok dan telapak kakinya. Kesemua anak ayam yang saya ambil tadi, temboloknya terasa penuh berisi pakan campur air minum. Telapak kaki anak ayam yang saya raba, seluruhnya terasa hangat.

Begitu asyiknya berdiskusi dengan pak Alim, tanpa disadari hari semakin siang. Di dalam kandang itu, saya mulai merasa kegerahan. Anak-anak ayam membuka paruhnya (panting). Mereka sudah kepanasan dan gelisah. Melihat hal itu, saya sampaikan kepada pak Alim bahwa temperatur kandang telah meningkat dan mengakibatkan stres atau cekaman pada anak-anak ayam.

Tanpa menunggu lama, pak Alim memanggil dua operator (anak kandang). Setelah kedua operator tersebut berada di dalam kandang, pak Alim pun bertanya ”Apa yang kamu rasakan ketika berada di dalam kandang ini ?” Spontan keduanya menjawab ”Panas dan gerah, pak”

”Menurut kamu, apakah nyaman berada dalam kandang seperti itu dan dalam waktu lama ?”

”Wah..ya..nggak, pak !”

”Apakah kamu tega bila anak ayam yang kamu pelihara tidak nyaman karena kepanasan ?”

”Mboten, pak,” jawab kedua operator itu dalam bahasa Jawa yang artinya ”Tidak, pak”

”Bagus kalau begitu. Segera lakukan yang terbaik agar anak ayammu merasa nyaman kembali”

Mendengar instruksi ”halus” pak Alim, kedua operator itu pun berpencar. Seorang menuju keluar kandang dan membuka (dengan cara menggulung) bagian atas tirai yang menutupi dinding kandang. Sementara yang satu, dengan menggunakan batu bata menutup sebagian lubang di dinding drum pemanas. Dengan ditutup sebagian, oksigen berkurang dan nyala api pun mengecil sehingga panas yang dipancarkan menurun. Beberapa saat kemudian, temperatur dalam kandang berangsur-angsur normal. Hembusan angin segar masuk ke dalam kandang melalui bagian atas tirai yang terbuka. Anak ayam menyebar rata kembali. Mereka mematuk-matuk pakan dan menghirup air minum dengan nyamannya.

Broiler moderen memang tumbuh lebih cepat dengan konversi pakan yang lebih hemat. Namun, broiler moderen juga mempunyai konsekuensi-konsekuensi tersendiri. Antara lain, sangat peka terhadap pengaruh lingkungan dan mudah nervous. Oleh karenanya broiler moderen membutuhkan manajemen (tatalaksana pemeliharaan) yang spesifik. Harus diperlakukan dengan ekstra hati-hati dan penuh peduli.

Manajemen broiler moderen tidak selalu identik dengan peralatan dan perlengkapan moderen. Dalam artian harus canggih dan mahal. Teknologi canggih bisa berfungsi maksimal bila didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional serta Sistem-Prosedur yang handal. Apalah artinya pemanas berbahan bakar elpiji, misalnya, bila operator kandang selalu terlambat menyalakannya padahal temperatur kandang sudah dingin dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak ayam pada saat itu. Akibatnya, anak ayam kedinginan, bergerombol dan berdesak-desakan. Anak ayam tersebut didera cekaman (stres).

Dalam kasus di peternakan broiler pak Alim, saya melihat betapa pedulinya beliau kepada ayamnya. Begitu tanggap terhadap apa yang dirasakan ayamnya. Beliau begitu fokus dan penuh kasih memelihara ayamnya. Pak Alim tidak rela bila ayamnya menderita stres/cekaman yang berkepanjangan. Memang, inti manajemen broiler moderen adalah usahakan semaksimal mungkin untuk meminimalkan stres pada ayam. Bila peternak tidak ingin stres, maka janganlah membuat ayam stres ! Mudah, bukan ?

MENGINGAT VIRUS INFLUENZA


Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.

Virus influenza adalah virus dengan genom asam ribo-nukleat (RNA) serat tunggal dan berpolaritas negatif yang terpisah dalam 8 dari Familia. Virus-virus dari keiuarga ini dikelompokkan menjadi klas A, B dan C berdasarkan, perbedaan antigenik protein nukleoprotein dan matriks protein.

Semua Virus AI diklasifikasikan dalam tipe A. Pembagian sub-tipe lebih lanjut didasarkan pada struktur antigen dua glikoprotein permukaan virus, yaitu hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA).

Sampai saat ini 16 macam HA dan 9 NA telah diidentifikasi pada virus influenza A. Derajat homologi dari susunan asam amino HA antar subtipe adalah kurang dari 70 persen.

Struktur virus influenza A mirip sangat mirip satu dengan lainnya. Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament.

Dua protein yang menentukan patogenitas dan kekebalan suatu virus influenza, serta sangat mudah mengalami mutasi, yaitu HA dan NA, membentuk penjuluran khas di permukaan partikel virus dengan panjang sekitar 16 nm. Kedua protein ini adalah glikoprotein yang vital bagibiologi virus.

HA berperan dalam memulai infeksi pada sel dengan menempel pada reseptor sialiloligosakarida pada permukaan sel. HA juga menginduksi antibodi penetral yang penting dalam pencegahan infeksi. Derajat kemudahan pemecahan protein ini dan tersedianya enzim protease yang sesuai menentukan virulensi Virus AI dan tropisme jaringan.

Sedangkan NA adalah suatu enzim sialidase yang menghambat agrerasi virion dengan menghilangkan asam sialat sel. Antibodi terhadap NA juga berperan dalam perlindungan hewan terhadap infeksi berikutnya.

Protein virus influenza lain tampaknya juga sangat berperan dalam patogenitas strain. Protein-protein tersebut adalah M1, M2, IMP, tiga enzim polymerase RNA kompleks (PB1, PB2, dan PA) dan IMS2.

Protein IMS1 yang hanya terdapat pada sel terinfeksi dan tidak diintegrasikan dalam partikel virus yang berfungsi menekan fungsi interferon hewan/manusia. Fungsi ini juga vital dalam patogenesis virus.

Dalam hal menginduksi kekebalan yang protektif, protein-protein ini tampaknya juga tidak dapat diabaikan. Jika protein permukaan, yaitu HA dan NA berperan sebagai antigen penetralisai dengan menginduksi kekebalan humoral yang mencegah penetrasi virus pada jaringan, protein yang lain berperan dalam menginduksi kekebalan berperantara sel.

Protein yang banyak diulas dengan kapasitas seperti itu adalah nukleoprotein (NP) dan matriks (M1). Karena protein-protein ini secara genetik relatif stabil, maka, jika kekebalan humoral menginduksi kekebalan terhadap virus yang homolog, CMI protektif terhadap virus yang heterolog. Hal yang sama tampaknya berlaku untuk infeksi virus Al H5N.

Struktur antigen virus influenza berubah secara bertahap oleh karena mutasi dan rekombinasi atau secara drastis karena reassortment. Mutasi terjadi karena enzim RNA-polimerase virus tidak mempunyai kemampuan memperbaiki kesalahan.

Sedangkan dari inang, cekaman imunologis pada HA dan NA dikatakan sebagai "motor" penggerak terjadinya hanyutan antigenik. Kajian tentang HA pada strain virus influenza manusia H3 menunjukkan bahwa mutasi pada satu posisi saja dapat mengubah struktur glikoprotein tersebut yang menyebabkan terjadinya variasi antigenik yang signifikan. Mutasi ini merupakan proses yang berlangsung setiap saat.

Tercatat perubahan antigenik yang signifikan pada stud: tentang virus H9N2 yang diisolasi setiap tahunsejak 1997 sampai 2003 dan H5N1 sejak tahun yang sama sampai 2004.

Hanyutan antigenik dapat terjadi karena rekombinasi. Fenomena ini terjadi bila RNA virus influenza terpotong dan disisipipotongan RNAasing yang berasal dari sel. Meskipun peristiwa ini relatif jarang dilaporkan pada Virus AI, tetapi kecenderungannya meningkat akhir-akhir ini.

Lompatan antigenik terjadi karena transmisi langsung virus non-manusia ke manusia atau reassortment genetik dari dua virus influenza yang berbeda setelah menginfeksi satu sel yang sama. Secara teoritis, 256 kombinasi RNA dapat terbentuk dari tukar-menukar 8 segmen genom virus.

Reassortment genetik sudah sering dilaporkan di alam maupun laboratorium. Di samping itu, infeksi campuran sering terjadi di alam yang dapat menyebabkan terjadim reassortment genetik.

Dalam model reassortment klasil yang dikembangkan 200 babi berperan sebagai wahana pencampuran. Basis model tersebut adalah spesifisitas strain terhadap reseptor pada permukaan sel Virus influenza avian dapat menginfeksi sel yang mempunyai reseptor berbeda dengan influenza manusia.

Kedua macam reseptor ini terdapat pada trakeal babi. Jika dua virus influenza unggas dan manusia atau mamalia menginfeksi satu sel yang sama pada sel tersebut, maka progeni virus dapat merupakan kombinasi 8 segmen virus unggas dan 8 segmen virus manusia atau mamalia.

Mekanisme lain yang memungkinkan virus influenza unggas dapat bereplikasi secara efisien pada manusia adalah adaptasi untuk berikatan dengan reseptor dalam tubuh babi. Dengan kata lain, Virus AI asal unggas berevolusi sedemikian rupa sehingga dapat mengenali reseptor mamalia.

Fakta ini telah terbukti dengan meyakinkan dari studi tentang virus H5N1 dan H9N2 yang menyebabkan wabah di Hong Kong, masing-masing tahun 1997 dan 1999. Protein HA dari kedua virus tersebut dapat berikatan dengan reseptor unggas dan manusia.

Di masa depan, teori spesifisitas reseptor untuk virus avian dan mamalia tampaknya akan mengalami pergeseran yang signifikan. Juga berhasil dibuktikan kedua reseptor tersebut terdapat pada sel-sel epitel pernafasan manusia.

Lokasinya memang berbeda. Reseptor a2,6 terdapat pada sel-sel yang tidak bercilia, sementara reseptor a2,3 terdapat pada sel-sel yang bercilia. Temuan ini akan dapat menjelaskan kemungkinan penularan langsung dari unggas kepada manusia tanpa hewan perantara.

Dalam banyak kasus wabah, peran babi sering sulit ditelusuri. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa HPAI H5N1 merupakan produk reassortant virus-virus yang secara alarm bersirkulasi pada puyuh, angsa, dan itik liar dari Cina. Diduga reassortment terjadi pada burung puyuh di pasar burung atau pasar hewan hidup.

Berbagai jenis hewan dan burung diletakkan dalam kandang-kandang saling berdekatan atau bahkan bercampur di tempat tersebut, sehingga peluang untuk saling tukar menukar virus influenza terjadi dengan mudah. Juga berhasil ditunjukkan perubahan molekul HA sudah menyebabkan adaptasi dan peningkatan kemampuan suatu virus H9 asal itik untuk menginfeksi burung puyuh.

Dapat pula dibuktikan bahwa burung puyuh menyediakan lingkungan yang memungkinkan suatu virus asal mamatia, yaitu influenza babi H3N2, dapat mengalami reassortment dan menghasilkan vius influenza yang berpotensi menyebabkan pandemi.

Fenomena reassortment telah dapat dibuktikan di alam. Contoh yang paling baru adalah perbandingan susunan RNA semua gen virus influenza Hong Kong-H5N1/1997 dengan dalam kandang yang berdekatan turut membantu kesinambungan virus influenza. Manajemen seperti itu memungkinkan sebagai tempat evolusi virus influenza yang cepat dan lestari. Hal ini telah dibuktikan pada kasus virus Al H5NI.

Virus influenza dikeluarkan oleh unggas terinfeksi dalam jumlah yang besar bersama kotoran, leleran, dan udara pernafasan. Karena sifat-sifat virus yang labil dalam udara terbuka, penularan melalui udara pernafasan dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat. Penularan melalui kotoran dan leleran lebih besar peluangnya.

Virus influenza dapat bertahan lebih lama dalam material organik seperti dalam kotoran, darah ayam, atau leleran dan dapat menulari manusia atau hewan lain secara langsung dari kandang maupun secara tidak langsung melalui pakaian, kendaraan, atau peralatan yang tercemar.

Virus influenza dapat mencemari produk-produk hasil olahan unggas seperti daging, telur, dan pupuk kotoran ayam. Salah satu bukti kuat potensi ini adalah isolasi HPAI H5N1 dari daging itik asal Cina di Korea Selatan. Kerabang telur dapat mengandung virus influenza menular yang berasal dari kontaminasi kotoran.

Demikian disampaikan G Ngurah Mahardika dari Laboratorium Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Wayan I Wibawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kepada Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia dalam Media Unggas dan Aneka Ternak baru-baru ini.

Atas ijin khusus Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan MPH kepada Infovet, pembaca dapat menikmati untuk sebuah pencerahan bersama sekaligus untuk bahan kritis hal-ihwal terkait AI. (YR)

Thursday, August 30, 2007

Wonokoyo melakukan Road Show


Selama dua minggu, Wonokoyo berkeliling Jawa guna mengunjungi mitra kerjanya. Bermula dari Jawa Barat. Pada awal kunjungannya di Bogor, Wonokoyo mendatangi kandang ayam pedaging milik H. Makmur dan Ilman. Di dalam kandang kedua peternak itu, terjadi dialog akrab dan konstruktif. Usul dan saran saling diberikan. Pada hari kedua di Jawa Barat, dilaksanakan pertemuan dan diskusi teknis. Acara digelar di salah satu Cafe di daerah Bogor Timur dan dihadiri oleh peternak broiler dari Bogor, Serang dan Sukabumi. Pertemuan itu benar-benar menjadi ajang bertukar pengalaman.
Selang sehari kemudian, Wonokoyo sudah berada di Jawa Tengah. Tepatnya di Solo. Di hari pertama, berkunjung ke kandang broiler milik Bpk. Alim dan Bpk. Triyanto. Selanjutnya, mengunjungi Chandra PS dan bertemu dengan Bpk. Lilik dan ibu Yuni. Kedatangan Wonokoyo itu disambut hangat oleh ketiga mitra kerjanya. Hari kedua dilakukan pertemuan dengan para peternak mitra kerja di salah satu hotel berbintang di Solo. Pertemuan untuk membahas berbagai permasalahan teknis yang ada di lapangan.
Keesokan harinya, Wonokoyo hadir di kandang broiler Bpk. Erwin dan Bpk. Rinto. Lokasi kedua peternak itu di Godean, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Banyak masukan diberikan oleh kedua mitra kerja tersebut. Wonokoyo pun memberikan saran-saran teknis berkaitan dengan manajemen pemeliharaan broiler. Dan, sama dengan daerah lainnya, pada hari kedua di DIY juga dilaksanakan pertemuan di restoran taman yang menawan di kawasan Sleman.
Minggu berikutnya, Wonokoyo memulai lawatan di Jawa Timur dengan mengadakan diskusi teknis di salah satu restoran kota Malang. Hari berikutnya, dilangsungkan acara serupa di kota Lamongan. Sehari setelah itu, dilakukan pertemuan dengan para peternak broiler yang berada di kabupaten Lumajang.
Road show yang dilakukan tanggal 9 s/d 21 Juli itu bertujuan untuk lebih mengakrabkan jalinan kerja sama antara Wonokoyo dengan para mitra kerjanya, saling bertukar pengalaman dan juga sebagai sarana refreshing bagi para peternak broiler. Acara pertemuan di berbagai kota itu rata-rata dihadiri oleh sekitar 30 peternak. Agar pertemuan bisa lebih fokus, maka dipergunakan tema ”Bagaimana mengoptimalkan performa broiler ?” Dalam pertemuan itu, Wonokoyo memberikan solusi yang tepat guna bagi para mitra kerjanya. Tujuan akhirnya adalah demi keberhasilan dan kemajuan bersama. (HS)

Kompleksitas Permasalahan Peternakan Babi di Indonesia

ADALAH Drh Hadi Santosa, salah satu praktisi peternakan Solo yang selama ini cukup lantang dan selalu berjuang mempertahankan keberadaan peternakan babi khususnya di kawasan Surakarta dan sekitarnya. Memang harus diakui juga cukup banyak praktisi lain yang konsern dan peduli atas situasi perbabian yang semakin memprihatinkan dan seperti tidak bermasa depan itu. Namun keberanian Hadi memang pantas menjadi catatan tersendiri.
Kepada Infovet di sela-sela acara Seminar Nasional yang bertajuk “Lalu lintas Perdagangan Ternak Babi Masalah dan Solusinya”, ia mengungkapkan bahwa problema riil dan paling esensial, menurutnya bukanlah justru pada masalah lalu lintas. Ada hal lain yang patut dirembug bersama dan secepat mungkin ada aksi dan langkah nyata.
Acara yang digelar di Hotel Sahid Raya Solo, Rabu (27/6) atas kerja sama yang cukup baik antara Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) dan Gita Organizer itu berjalan diluar perkiraan panitia, karena peserta melebihi kapasitas ruangan dan kursi yang tersedia. “Ini bukti antusiasme dan semangat para praktisi ternak babi dalam upaya mencari solusi atas permasalahan yang sedang menggelayuti bidang usahanya,” kata Rachmawati.
Lebih lanjut Fajar mengungkapkan bahwa acara ini terselenggara atas dukungan yang kuat dari berbagai pihak seperti British Pig Association, PT Biotek Sarana Industri, PT Kalbe Farma Divisi Animal Health, Pfizer Indonesia, PT Romindo Primavetcom, ASOHI Jawa Tengah, Yayasan Bina Satwa Mandiri dan beberapa media bidang peternakan dan kesehatan hewan seperti Infovet, Poultry Indonesia, Trobos, dan Satwa Kesayangan.
Adapun peserta yang hadir antara lain para peternak babi Jawa dan Luar Jawa, Perusahaan sarana produksi peternakan, perguruan tinggi peternakan dan Dinas terkait, Anggota ASOHI, ISPI, dan PDHI se-Jawa Tengah.

Kepastian Hukum yang Belum Jelas
Hadi yang belum lama ini ikut berjuang menentang berbagai bentuk peraturan yang membelenggu usaha peternakan babi di salah satu Kabupaten di kawasan Surakarta itu lebih lanjut menyampaikan bahwa permasalahan riil dan sebenarnya yang menyelimuti dunia usaha peternakan babi, tidak lain adalah kepastian hukum.
“Salah satu yang patut mendapat perhatian para pemangku kepentingan (stake holder) adalah kepastian hukum dalam berusaha ternak babi,” tegasnya. Kasus lapangan itu, menurut Hadi terjadi tidak hanya monopoli di kawasan Surakarta saja, akan tetapi didaerah lain pasti ada hanya mungkin tidak terangkat ke permukaan. Cepat atau lambat juga akan terjadi dan memunculkan masalah.
Oleh karena itu menurutnya meski membicarakan masalah lalu lintas perdagangan babi juga sangat penting, terutama terkait dengan distribusi bibit dan bahkan juga penyakit, maka akan bijaksana jika substansi riil dicarikan solusinya terlebih dahulu.
Hal senada diungkapkan pula oleh Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jateng Ir Kusmaningsih MP dalam paparannya. Menurut Alumni S1 dan S2 Universitas Diponegoro ini bahwa masalah Sosio Religio menjadi kendala utama perkembangan peternakan babi di Jateng. Sosio Religio yang dimaksud adalah kawasan penduduk yang banyak penduduk muslimnya, menjadi resisten terhadap adanya peternakan babi.
“Pada umumnya memang lokasi peternakan (termasuk babi) sudah berada di kawasan yang jauh dari pemukiman penduduk, namun seiring dengan perkembangan kota yang cukup pesat, maka akhirnya tumbuh pemukiman penduduk baru yang akhirnya melahirkan masalah. Akhirnya lokasi peternakan itu justru yang terancam dan dikalahkan oleh pemukinan manusia,”ujar Kusmaningsih.
Kebijakan pembangunan terpadu, lanjut Kusumaningsih, memang gampang diucapkan namun dalam realisasi dan implementasi di lapangan menjadi sulit. Ia juga sepakat bahwa Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) adalah yang harus diperjuangkan lebih dahulu, oleh karena itu kepastian hukum di level daerah yang berupa Perda harus aspiratif. Akomodasi tidak hanya dari aspirasi masyarakat umum semata akan tetapi juga masyarakat peternak , termasuk peternak babi.
Robby Kusnadi seorang tokoh perbabian di Solo dalam berbagai kesempatan selalu berteriak memohon perlindungan keberadaan peternakan babi, terutama di kawasan Surakarta. Pada kesempatan itu, Robby yang juga Ketua Yayasan Bina Satwa Mandiri mengungkapkan bahwa instansi dan institusi yang bisa dimintai perlindungan pada umumnya justru kalah dengan aksi anarkis massa.
”Kalau demikian realitasnya, kepada siapa lagi para peternak babi yang nota bene juga mempunyai kontribusi penyerapan tenaga kerja dan ikut mendorong roda ekonomi daerah mencari naungan atas nasibnya,” ujarnya.

Kualitas Bibit Menurun
Sedangkan ketua AMI, Ir Rachmawati Siswadi mengungkapkan bahwa problematika bibit pada saat ini juga menjadi masalah yang cukup serius. ”Saat ini kualitas bibit babi mengalami degradasi yang cukup memprihatinkan. ”darah biru” atau kualitas bibit yang baik telah anjlog dan berubah menjadi ”darah hitam” atau berkualitas buruk,” katanya seperti bergurau.
Angka depresi inbreeding pada babi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan sekali jika tidak ada upaya yang signifikan dan simultan sesegera mungkin. Oleh karena itu memang penting ada upaya terobosan seperti inseminasi buatan dengan bibit yang berkualitas dari luar. Namun ternyata kendala muncul oleh karena adanya perangkat aturan yang melarang adanya impor bibit /semen babi unggul. Memang ada langkah nakal yang ditempuh oleh segelintir praktisi, dan ini sudah pasti melanggar perundangan. Pihak seperti ini mencoba memasukkan semen unggul dari luar negeri meski itu bersifat ilegal. Larangan itu terkait dengan negara tertentu yang belum bebas penyakit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Akhirnya memang muncul benang merah dari Seminar Sehari itu yaitu bahwa perangkat perundangan menjadi solusi terbaik agar eksistensi peternakan babi terjaga dan membuahkan harapan baru. Baik itu perundangan di tingkat pusat maupun daerah. Namun sekali lagi, dari perangkat perundangan itu yang paling penting adalah penegakan aturannya. Sebab harus ada aturan yang jelas dan tegas dalam impor bibit babi termasuk semen dan negara-negara mana saja yang boleh diimpor bibitnya dan juga ketegasan dan kewibawaan RTRW di masing-masing daerah.
Dalam acara itu tampil juga sebagai pembicara antara lain Drh Bambang Erman, Dr Ir Maradoli Hutasuhut, Brian Edwards dengan pemandu Drh Mulyawan Sapardi (mantan Kepala BBPH IV Yogyakarta) Dr Ir Polung Siagian (Dosen Fapet IPB). (iyo)

Alltech Luncurkan Website Mikotoksin

Dunboyne, IRLANDIA – Website pertama di dunia mengenai informasi mikotoksin, yaitu www.KnowMycotoxins.com, diluncurkan pada tanggal 16 Juli 2007. Website yang bekerja sama dengan Alltech ini bertujuan untuk berbagi informasi kepada berbagai segmen pasar di dalam industri pakan hewan yang terus menerus ditantang untuk menyelesaikan beragam kendala yang disebabkan oleh mikotoksin di dalam pakan ternak dan tentu saja yang berhubungan dengan performa ternak.
Website www.KnowMycotoxins.com sangat interaktif sehingga memungkinkan pembaca untuk berpartisipasi di dalam forum diskusi dan melakukan web cast dengan para ahli di indusri ini. Website ini ditargetkan untuk semua level baik produsen produksi peternakan, nutrisionis, hingga dokter hewan. Website ini memungkinkan mereka memperoleh semua yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan menghadapi isu-isu mikotoksin yang semakin berkembang.
“Ini adalah suatu hal yang fantastis dimana ada satu pusat informasi yang khusus membahas mengenai beragam isu mikotoksin” komentar Prof. Trevor Smith, University Guelph, Kanada, yang hadir pada acara peluncuran website. “Ini adalah wilayah yang menjadi keprihatinan kita di industri agrikultur dan harus mulai disosialisasikan kepada masyarakat,” tambahnya lagi
Dr. Pearse Lyons, president Alltech menambahkan, “Tujuan kami adalah untuk menyampaikan informasi teknis dan praktis kepada mereka yang mencari cara terbaik untuk menjaga kesehatan ternaknya.”
25% biji-bijian di dunia telah terkontaminasi mikotoksin pada tahun 1985. Hal ini dapat menyebabkan dampak yang merusak kesehatan hewan dan menimbulkan biaya tambahan hingga jutaan rupiah setiap tahunnya. Dampak global yang disebabkan oleh mikotoksin telah disadari oleh institusi pemerintahan di seluruh dunia dan baru-baru ini Komisi Eropa untuk Uni Eropa mengeluarkan peraturan baru mengenai ‘Rekomendasi kadar mikotoksin pada produk-produk yang ditujukan untuk pakan ternak,’ dalam rangka membatasi tingkat kontaminasi mikotoksin di dalam biji-bijian.
Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.KnowMycotoxins.com atau hubungi kantor Alltech terdekat. (Infovet)

ASOHI Selenggarakan Pelatihan Registration Officer

Bertempat di Hotel Menara Peninsula, Selasa 26 Juni 2007 diselenggarakan pelatihan Registration Officer Obat Hewan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerjasama dengan Subdit Pengawasan Obat Hewan, Ditkeswan, Deptan. Acara ini diikuti puluhan peserta perwakilan dari berbagai perusahaan obat hewan di Indonesia.
Menurut Ketua Panitia Drh Ketut Satia Budi Dharma, pelatihan ini diadakan dengan tujuan untuk lebih meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan ruang lingkup registrasi di bidang obat hewan terutama bagi para aparatur yang menangani kegiatan dibidang pendaftaran obat hewan sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Peternakan Nomor: 02/Kpts/LB.450/F/03/06 tentang Prosedur Tetap Permohonan Pendaftaran Obat Hewan.
Pelatihan ini sangat diperlukan dan sangat penting karena dalam perjalanannya masih banyak hal yang perlu diperhatikan terutama dalam hal teknis dan kelengkapan data dalam proses pendaftaran obat hewan yang merupakan salah satu syarat agar obat hewan dapat beredar di lapangan.
”Kami harapkan agar melalui Pelatihan ini terjadi peningkatan kemampuan para petugas registrasi dalam mengisi dokumen pendaftaran sehingga proses registrasi dapat berjalan lebih lancar,” ujar Drh Ketut Satia.
Materi yang penting dari pelatihan ini diantaranya adalah Alur Registrasi Obat Hewan, Kelengkapan dokumen registrasi, Penjelasan Tiap Lembar Formulir Registrasi dari tiap kelompok sediaan (Biologik, Farmasetik, Premik dan Alami) dan disertai Simulasi Pengisian Formulir. Seluruh peserta mengikuti keseluruhan acara dengan antusias dan menyerap manfaat luar biasa dari pelatihan ini. (wan)

DEGUSSA KUNJUNGI PT SINTA PRIMA FEEDMILL

Pada 13 Juli 2007 lalu PT Sinta Prima Feedmill dengan gembira menerima wakil-wakil dari Degussa Feed Additivies untuk mengunjungi dan melihat langsung dari dekat proses produksi pabrik pakan PT Sinta Prima Feedmill di Cileungsi, Bogor yang merupakan produsen pakan unggas dan ikan terkemuka di Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelatihan internal Departemen Pemasaran Degussa Feed Additives di Jakarta dari tanggal 9-13 Juli 2007.
Degussa Feed Additives merupakan salah satu produsen asam amino sintetis yang terbesar di dunia dengan kantor cabang di lebih dari 100 negara. Delegasi Degussa yang berkunjung ke PT Sinta Prima Feedmill dipimpin oleh Clare Torralba selaku Regional Business Director di Asia beserta perwakilan dari berbagai negara seperti Jerman, Denmark, Jepang, Korea, Thailand, Filipina, Vietnam, India, Malaysia, Singapura dan Indonesia.
Dr Alfred Petri, Direktur Marketing Degussa Feed Additives dari Jerman menyatakan salut pada PT Sinta Prima Feedmill atas penataan lingkungan pabrik yang begitu baik serta sanitasi yang bersih hingga memenuhi standar kualitas dalam pembuatan pakan ternak. Komentar serupa juga dikemukakan oleh para delegasi dari Australia, Korea dan lainnya dimana lingkungan pabrik yang bersih merupakan hasil dari kontrol manajemen yang baik dan terarah.
Ibu Candra Yanuartin, selaku Direktur PT Sinta Prima Feedmill, mengatakan bahwa kunjungan dari Degussa memberikan masukan dan perbandingan feedmill dari berbagai negara sehingga dapat membuka wawasan bagi para manajer PT Sinta Prima Feedmill yang hadir dalam acara tersebut.
Kerjasama antara PT. Sinta Prima Feedmill dan Degussa Feed Additives telah berlangsung sangat baik sehingga diharapkan dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi kedua belah pihak. (wan)

FKH Unair Luncurkan Program Diploma Kesehatan Ternak Perunggasan

Seiring dengan perkembangan teknologi, industri perunggasan di era globalisasi ini perlu ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai agar diperoleh suatu hasil yang optimal. Untuk itu diperlukan tenaga ahli dan tenaga profesional yang terampil dan siap pakai di bidang perunggasan, khususnya pada lapisan tengah.
Hal itu disampaikan Dr Drh CA Nidom MS kepada Infovet usai peluncuran program studi diploma (D3) Kesehatan Ternak Terpadu Minat Perunggasan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Menurutnya tujuan dibukanya program studi ini untuk menghasilkan tenaga ahli madya yang cakap dan cekatan, tanggap dan trampil dalam menghadapi berbagai permasalahan perunggasan maupun perkembangan ilmu dan teknologi seperti dibidang usaha pembibitan, pakan ternak, budidaya, rumah potong unggas, obat-obatan, vaksin dan teknologi hasil ternak (pasca panen).
Ia juga menjelaskan bahwa sistem pendidikan program studi ini menganut Sistem Kredit Semester. Lama pendidikan 6 semester (3 tahun) dan jumlah SKS yang harus dicapai adalah 110 SKS, meliputi 40% teori dan 60% praktikum/praktek kerja lapangan dan setelah menyelesaikan perkuliahan berhak menyandang gelar Ahli Madya (A.Md).
Lebih lanjut, Staff Pengajar dan Sarana Pendidikannya adalah dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unair dan dosen tamu dari berbagai instansi dan industri yang terkait yang menjadi mitra Fakultas Kedokteran Hewan Unair. Semua sarana yang dimiliki oleh FKH Unair dapat digunakan oleh mahasiswa D3 Perunggasan.
Mengenai lapangan pekerjaan lulusan program studi ini dapat langsung bekerja pada institusi yang sudah mempunyai kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan atau sesuai dengan keinginan sendiri. Institusi yang dapat menerima lulusan D3 Perunggasan meliputi : breeding farm, farm komersial, karantina hewan, dinas peternakan atau yang terkait, rumah potong unggas, perusahaan) pakan ternak, obat-obatan, vaksin, makanan olahan) dan wirausaha.
Persyaratan dan Cara Pendaftarannya cukup mudah, minimal lulusan SLTA dan yang sederajat (Snakma, STM dll) dan calon harus datang sendiri dengan membawa satu lembar fotocopy ijazah dan dua lembar foto berwarna terbaru ukuran 4x6 cm. Pendaftaran dilaksanakan pada hari kerja tanggal: 06-10 Agustus 2007 Pukul : 08.00 s/d 16.00 WIB bertempat di Gedung Serbaguna Universitas Airlangga Jl. Airlangga No.6 Surabaya. Sementara Ujian masuk dilaksanakan pada 12 Agustus 2007 Pukul 08.00 WIB s/d selesai dan pengumunan hasil diujian pada tanggal 14 Agustus 2007.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Dr drh CA Nidom, MS (0811372683), Dr drh Lusia, SU (0817310284) dan Drh Retno Sri Wahyuni, M.Kes. (Adv)

Lansia Vet Jakarta Rayakan HUT ke-11

Paguyuban Lansia Veteriner (Lansia Vet) Jakarta merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-11. Bertempat di kediaman Drs H Mashud Wisnusaputra di Taman Kebun Jeruk, Jakarta (7/7)
Acara yang diawali dengan kata sambutan dari tuan rumah dan beberapa tokoh ini cukup sukses dan meriah. Hal ini terlihat dari antusiasme para peserta yang sangat besar ketika berlangsungnya acara. Bahkan suasana keakraban, kekeluargaan dan kebahagiaan jelas terlihat dalam acara tersebut.
Setelah kata sambutan, acara dilanjutkan dengan nyanyi bersama, doa dan potong tumpeng. Adapun potongan tumpeng pertama kali secara simbolis diserahkan kepada Iwan Berri Prima selaku Ketua Umum IMAKAHI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia) sebagai generasi penerus veteriner Indonesia di masa yang akan datang.
Dalam sambutannya Drh Sukobagyo Poedjomartono selaku ketua paguyuban, mengatakan bahwa dengan semakin bertambahnya usia Lansia Vet Jakarta diharapkan paguyuban Lansia Vet semakin bermakna sebagai tempat untuk berkumpul, bernostalgia dan bermanfaat bagi keluarga besar veteriner Indonesia sesuai dengan mottonya ‘tua bermakna’.
Hadir dalam acara tersebut selain keluarga Lansia Veteriner dan sesepuh dokter hewan seperti Drh.H Tjiptardjo SE, Ibu Tiominar Maria Br Marpaung Hutasoit (Istri Alm. Prof Drh JH Hutasoit) dan masih banyak lagi yang lainnya, juga dihadiri perwakilan Pengurus Besar IMAKAHI, Pengurus Cabang IMAKAHI FKH IPB (Bogor) dan Pengurus Cabang IMAKAHI FKH UGM (Yogyakarta) yang diundang dalam acara tersebut● (PB_IMAKAHI)


Schering Plough Intestinal Health Tour

Schering Plough Indonesia bekerjasama dengan PT Pimaimas Citra menyelenggarakan seminar Intestinal Health Tour ke-2 di Jakarta. Bertempat di H Santika Jakarta, seminar ini dihadiri puluhan peternak layer dan broiler yang mengikuti seminar dengan antusias hingga akhir acara.
Seminar yang diselenggarakan Kamis, 19 Juli 2007 itu dimoderatori oleh Prof Budi Tangendjaja peneliti bidang pakan ternak dari Balai Penelitian Ternak Ciawi. Seminar ini menghadirkan pembicara Dr John McCarthy (USA) yang menjelaskan tentang konsep pengendalian Koksidiosis dan dibagi kedalam 4 kuadran. Selain itu John juga memaparkan tentang kondisi terkini penyakit Necrotic Enteritis yang juga bisa muncul akibat dipicu kasus Koksidiosi pada industri perunggasan beserta solusi dan saran untuk mengantisipasinya.
Lebih lanjut Dr Preecha Sapkitjakarn (Thailand) menguraikan manfaat yang didapat dengan melakukan pengendalian bakteri Clostridium perfringens penyebab kasus Necrotic Enteritis (NE) dengan penambahan enzim Enramycine pada ransum unggas. Hal ini patut menjadi perhatian peternak Tanah Air karena menurut Dr Chuck Hofacre seperti dikutip dari Poultry Digest Online Vol. 3 no. 1 setiap tahunnya industri perunggasan Amerika menghabiskan 2 milyar dollar US untuk mengendalikan NE. Sementara total untuk seluruh dunia menghabiskan 40 milyar dollar US, terlebih setelah diketahui munculnya NE subklinis.
Sementara itu Dr Naiyana Nakhata (Thailand) menjelaskan konsep IDEA untuk menyusun ransum unggas yang ekonomis sesuai dengan ketersediaan bahan baku yang ada dan sekaligus berfungsi untuk memaksimalkan performa dan kerja saluran pencernaan. (wan)

Tarik-Menarik Pasar MBM Indonesia

Kebijakan persetujuan impor bahan baku pakan ternak yang dilakukan Departemen Pertanian dianggap tidak mendorong produksi daging dan telur sebagai sumber protein yang murah. Demikian disampaikan Ir Budiarto Soebijanto Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pakan Ternak (GPMT) di Deptan saat ditemui Infovet usai rapat dengan Dirjen peternakan membahas masalah rencana dibukanya keran impor tepung tulang dan tepung daging (meat and bone meal/MBM) dari negara selain AS, Senin (23/7).
Hal itu mencuat menyusul melejitnya harga MBM untuk pakan ternak yang naik menjadi sekitar 400 US$/MT dari yang seharusnya bisa jauh lebih murah 50-75 US$/MT bila ada persaingan atau tidak dimonopoli oleh pengimpor tunggal.
Harga MBM di AS berkisar antara 215 US$ – 225 US$ per ton yang setelah sampai di Indonesia (setelah ditambah ongkos pengapalan/CNF) harga yang wajar seharusnya maksimal 300 US per ton. Namun karena dimonopoli oleh satu perusahaan pengimpor yaitu Baker Commoditie Inc. harganya didongkrak hingga sekitar 400 US$ per ton.
Sementara untuk mencari alternatif pengganti MBM seperti Poultry Meat Meal (PMM) selain harganya yang juga naik barangnya pun sedikit sekali pemasoknya. Begitu juga dengan Soy Bean Meal (SBM) dan Corn Gluten Meal (CGM) yang harganya naik akibat imbas naiknya harga jagung dunia.

Mentan Bantah Ada Monopoli
Sementara Menteri Pertanian Anton Apriyantono menepis tudingan monopoli impor bahan baku pakan ternak dalam bentuk MBM. Dengan adanya importir MBM asal Amerika Serikat justru membuktikan kebijakan monopoli sudah dihapuskan.
Menurut Mentan, selama ini impor MBM justru dimonopoli oleh dua negara, yaitu Australia dan Selandia Baru. Karena itu, harga MBM di kedua negara tersebut terus naik. Untuk mencegahnya pemerintah memutuskan membuka impor MBM berdasarkan zonase dari Amerika Serikat (AS).
Namun, tanggapan Menteri Pertanian (Mentan) oleh Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Don Utoyo, Kamis (19/7), dinilai lari dari masalah yang sebenarnya. Menurut Don Utoyo, yang dimaksud adanya dugaan monopoli itu bukan berdasarkan negara produsen MBM. “Monopoli yang dimaksudkan karena MBM dari AS didatangkan hanya oleh satu perusahaan saja,” kata Don Utoyo.
Mentan menambahkan, meski impor MBM terbuka dari Australia, Selandia Baru, dan AS tetap saja MBM itu harus dari negara yang bebas penyakit sapi gila. Berdasarkan data dari Ditjen Peternakan, volume impor MBM mencapai 15.000-20.000 ton per bulan. Dari jumlah itu, 50 persen berasal dari Australia, 35 persen Selandia Baru, dan hanya 15 persen dari AS. “Jadi tidak benar kalau dikatakan impor MBM dari AS melalui Baker (Baker Commodities Inc) menyebabkan kenaikan harga pakan karena porsinya cuma kecil,” ujar Mentan.
Soal keputusan Baker Commodities Inc. yang boleh memasok MBM produksi AS, karena pada saat impor dari AS dibuka Baker Commodities Inc adalah perusahaan pertama yang mengajukan dan memenuhi persyaratan. “Ini bentuk persaingan dagang yang harus disikapi dengan arif. Impor MBM dari AS terbuka untuk semuanya sepanjang memenuhi persyaratan,” kata Anton.
Sebelumnya, para peternak, perusahaan pembibitan unggas, dan industri pakan ternak memprotes kebijakan Deptan yang hanya mengizinkan Baker Commodities Inc memasok MBM dari AS ke Indonesia. Akibat tidak ada persaingan harga, MBM menjadi lebih mahal 50 US$ sampai 75 US$ per ton.

MBM Australia dan Selandia Baru Menipis
Menurut Don Utoyo, melihat menipisnya produksi MBM di Australia dan Selandia Baru sebagai dampak pemanasan global mendorong peningkatan harga MBM di dua negara tersebut hingga 415 dollar AS per ton sampai di Indonesia.
Di AS sendiri, harga MBM sekarang hanya sebesar 215 dollar AS per ton, atau paling mahal mencapai 250 dollar AS. Katakan ada tambahan biaya pengangkutan dan lain-lain sebesar 100 dollar AS per ton, harga MBM dari AS tetap saja lebih murah.
“AS saat ini merupakan produsen MBM terbesar. Produksi besar dengan harga lebih murah ini tentu harus dimanfaatkan agar industri pakan ternak, pembibitan unggas, dan para peternak lokal diuntungkan,” katanya.
Apabila tidak ada persaingan antarprosesor dan terjadi monopoli, maka harga pasti akan menjadi tinggi. Karena itu, persaingan harus dibuka lebar. Don Utoyo menambahkan, ketika keran impor MBM dari AS dibuka pemerintah berjanji akan melakukan uji coba selama lebih kurang enam bulan. Namun, setelah lebih dari enam bulan dan impor MBM dilanjutkan, tetap hanya ada satu perusahaan yang diberi izin impor.
MBM merupakan bahan baku pakan ternak pengganti fish meal. Ini terjadi karena harga fish meal mahal, yakni di atas 1.000 dollar AS per ton. Naiknya harga MBM di Indonesia hingga 415 dollar AS per ton sebetulnya bisa diatasi dengan penggunaan soybean meal. Namun, harga soybean meal juga tinggi, yakni mencapai 350 dollar AS per ton.
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Pakan Ternak Fenni Firman Gunadi (GPMT) mengatakan, rendahnya harga MBM dari AS tidak memberikan nilai tambah bagi industri pakan ternak. Meskipun harga MBM asal AS jauh lebih rendah dari Australia dan Selandia Baru, ketika sampai di Indonesia harganya tetap tinggi.
“Kita sudah mengingatkan berkali-kali, dan sudah mengajukan tim teknis untuk dikirim ke AS supaya ada persaingan bebas dalam impor MBM. Namun belum ditanggapi,” katanya.

Deptan akan hapus monopoli itu
Perkembangan terakhir yang diikuti Infovet diketahui bahwa Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Mathur Riady akan membuka peluang produsen MBM lain di luar Baker Commodities Inc untuk melakukan ekspor ke Indonesia setelah ditandatanganinya surat keputusan penunjukan tim verifikasi ke Amerika Serikat.
Mathur Riady mengungkapkan, tim akan bekerja memeriksa kelengkapan dokumen milik lima perusahaan dan mencocokkannya dengan kenyataan di lapangan. Cepat atau tidaknya proses verifikasi tergantung pada komitmen perusahaan yang mengajukan izin itu.
“Ada lima perusahaan yang akan di-review. Mereka ini yang telah mengajukan permohonan izin pengiriman MBM asal AS,” katanya. Tiga dari lima perusahaan yang telah mengajukan izin adalah Darling Internat Inc, Exel Corp, dan ConAgra Foods Inc.
Menurut Mathur, pengiriman tim verifikasi merupakan tindak lanjut komitmen Deptan menghilangkan monopoli impor MBM. Hal itu untuk menciptakan harga yang kompetitif sehingga tidak memberatkan beban peternak.
Menanggapi langkah maju Deptan, Ketua Umum GPMT Budiarto Soebijanto mengatakan, kalangan industri pakan ternak menyambut gembira putusan itu. Setidaknya sudah ada langkah maju yang diperlihatkan Deptan.
Pihaknya berharap agar apa yang sudah disepakati kemarin dijalankan sesuai komitmen. Impor MBM asal AS oleh perusahaan lain supaya segera direalisasikan, tentunya setelah melewati serangkaian verifikasi dokumen maupun lapangan.
“Dari hasil pertemuan kami dengan Deptan diharapkan tim bisa berangkat ke AS Agustus- September mendatang dan diharapkan akhir tahun bisa mulai membuka impor MBM,” kata Budiarto.

Naiknya harga bahan picu naiknya harga produk akhir
Harga jagung dunia merangkak naik sejak AS dan beberapa negara produsen jagung lainnya mengumumkan penggunaan jagung produksinya untuk bahan baku pembuatan biofuel yaitu bahan bakar asal nabati yang konon lebih ramah lingkungan. Sebagai perbandingan harga jagung asal AS tahun 2006 dipatok 130 US$/MT namun kini dilepas tak kurang dari 220 US$/MT yang kenaikannya hingga 70 persen. Demikian dijelaskan Don P Utoyo dari Forum Masyarakat Unggas Indonesia (FMPI) ketika dikonfirmasi Infovet.
Naiknya harga jagung dunia memberi angin segar bagi petani lokal karena berimbas pula pada naiknya harga jagung lokal dari sebelumnya berkisar antara Rp 1200/kg menjadi Rp 1800/kg.
“Meskipun pemerintah melalui Departemen Pertanian menargetkan untuk swasembada jagung, namun kenyataannya bagi industri pakan ternak selalu mengalami kekurangan untuk menutupi kebutuhan produksi kami yang hanya 3,5 sampai 4 juta ton. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan data yang disajikan BPS,” ujar Fenni Firman Gunadi Sekjen Gabungan Perusahaan Pakan ternak (GPMT).
Untuk pihaknya, kata Fenni, sebaiknya impor jagung untuk pakan ternak dibebaskan dari bea masuk impor sebesar 5%, karena dengan pembebasan ini tetap tidak akan mengganggu produksi dalam negeri.
“Sebenarnya pabrikan pakan ternak lebih menyukai jagung dalam negeri karena lebih segar. Hanya saja kualitas dan kontinyuitasnya yang tidak bisa dipertahankan sehingga pabrikan terkadang memang harus impor untuk menutupi kebutuhan tersebut,” jelas Fenni.
Kenaikan berbagai bahan baku ini tentu menyebabkan harga pakan dan harga DOC naik yang menggiring naiknya biaya produksi peternak. Bila peternak yang menanggung beban ini sungguh berat sehingga tiada kata lain harga produk telur dan daging ayam harus dinaikkan. Pada akhirnya konsumen pula yang harus memikul semuanya.
Hal ini patut disayangkan karena masyarakat akan membeli produk unggas daging dan telur ayam jauh lebih tinggi dari harga sebelumnya menyusul naiknya harga susu. (wan)

Wednesday, August 29, 2007

CEGAH HUJAN SEBABKAN KERDIL

Kejadian penyakit ayam kerdil kali ini yang dijumpai dimulai sejak akhir 2005 di beberapa tempat, sudah muncul secara sporadis, tidak semua daerah terserang, berarti muncul ketika hujan sedang rajin turun ke muka bumi. Pada bulan Januari misalnya, suhu di kota pegunungan Banyumas Jawa Tengah sungguh dingin, lingkungan penuh kabut.

Lingkungan dengan turun hujan secara terus-menerus, menyebabkan kadar Oksigen turun drastis, terutama di daerah pegunungan, dan kurangnya pemanas. Demikian Drh Suhardi dari PT Sanbe Farma yang berkantor besar di Bandung Jawa Barat.

Hal ini pun bisa terjadi pada hacthery (penetasan) yang juga dapat ikut ambil bagian. Ketika cuaca sungguh tidak beraturan, hujan dan panas, kondisi ini menyebabkan kelembaban, suhu, level oksigen dan CO2 menjadi sangat sulit untuk diatur dan dikendalikan di dalam hatchery. “Padahal kita ketahui embrio modern sangat rentan dalam hal kebutuhan oksigen” kata Drh Hany Widjaja dari Alltech Indonesia.

“Brooding” dan Tirai

Sedangkan dari sisi manajemen ayam pedaging atau broiler, “Kembali masalah brooding menjadi sangat penting,” tegas Hany Widjaja.

Pada persiapan kedatangan DOC, persiapan brooding harus sudah siap meliputi chick guard (dimater 3 m untuk 750 ekor), pemanas (dinyalakan 2 jam sebelum DOC datang), tirai dalam, tirai luar, tempat pakan, tempat minum, bila kandang panggung maka seluruh lantai harus ditutup. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia.

Perhatikan suhu brooding setiap saat terutama pada dini hari saat suhu terdingin yaitu sekitar jam 2 malam/pagi, dan pada siang hari saat suhu terpanas yaitu antara jam 11-14. Bila kontrol suhu dapat dilakukan dengan baik maka anak ayam akan merasa nyaman. Tidak terlalu panas atau dingin sehingga dapat makan dan minum dengan baik. Demikian Praba.

Untuk mengatasi permasalahan kekerdilan pada ayam dengan kondisi lingkungan sangat dingin, pemanas harus kuat betul. Pada dua minggu pertama suhu brooding paling rendah 29 derajad Celsius, paling tinggi 35 derajad Celsius. Itu pada minggu 1, 2, dan 3. Sedangkan pada minggu ke 4, 5 dan 6 suhu sebesar 33 derajad Celsius. Hal tersebut dengan catatan tidak ada fluktuasi suhu yang terlalu tinggi. Demikian anjuran Drh Suhardi, dari PT Sanbe Farma. Sama dengan anjuran Drh Supandi juga dari PT Sanbe Farma agar pemberian pemanasan cukup rata, dengan rataan 29-33 derajad Celsius.

Yang penting adalah kepekaan terhadap suhu. Usahakan ada termometer untuk setiap kandang. Kalau tidak ada, dapat gunakan tubuh peternak sebagai patokan dan atau melihat pola penyebaran anak ayam yang merata saat itu. Peternak harus tahu kapan mengatur suhu brooding dan kandang. Jangan sampai seperti contoh di suatu peternakan brooding dipanaskan terus padahal suhu lingkungan sudah meningkat. Demikian Praba.

Atau, tirai kandang ditutup terus, kala kandang sudah tidak lagi dingin. Sebaliknya, penyesuaian tirai pun perlu dilakukan dengan rajin. Ada saatnya membuka, ada saatnya menutup, bahkan menutup rangkap. Dalam kondisi penuh hujan dan kabut dingin itu, untuk melindungi ayam di kandang-kadangnya, kandang butuh tirai tambahan. Sayangnya, pada daerah-daerah yang dingin ini, biasanya tirai tidak dirangkap. Tirai rangkap sangat dibutuhkan pada kondisi ini. Masih menurut Praba.

Kasus pun bisa terjadi pada peternak lama yang telah lama jam terbangnya dan merasa lebih berpengalaman. Kebiasaan yang sudah diterapkan selama bertahun-tahun hingga belasan sampai puluhan tahun membuatnya terpatok pada pola lama. Di Pekalongan misalnya, peternak Robert (bukan nama sebenarnya). Banyak kasus asites, secara tidak langsung ternyata karena tirai tidak pernah dibuka. Karena panas terlalu tinggi, secara tidak langsung memunculkan pun muncul kasus perikarditis.

Tentang tirai yang tidak pernah dibuka ini pun solusinya mudah, Tim Drh Praba: Nasruddin, Heriyanto Putro dan Gayor Manusama yang dalam waktu tulisan ini dibuat bertugas Purbalingga, Magelang dan Jambi lantas menyarankan merubah kekolotan kebiasaan peternak, tirai dibuka semua, selanjutnya disesuaikan dengan kebutuhan. Jangan sampai ayam selalu kepanasan, sehari kepanasan tidak masalah. Namun kalau panas sudah sampai 30 hari, dapat mendorong muncul berbagai penyakit.

Keteledoran mengatur pemanas dan suhu itu merupakan kelemahan dari operator. Sementara banyak peternak yang lebih mengutamakan pemanas yang murah. Sedangkan untuk membantu kelemahan kedisiplinan ini ada solusi alternatif, yaitu pemanas atau brooder yang otomatis, yang dapat menyesuaikan dengan suhu yang ada dengan lampu yang kecil. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah pada pemanasan yang tidak otomatis, di mana pemanasan tidak mencukupi bila malam dingin, dan siang menjadi kepanasan. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH dari PT Paeco Agung Cabang Jawa Timur.

Efek pemanasan yang tidak tepat ini berpengaruh terhadap tidak berhasilnya berat badan mencapai yang diinginkan. Demikian pula tentang pencahayaan, berpengaruh dalam jangka panjang secara nyata. Demikian Asyikin.

Kondisi brooding juga mempengaruhi penyerapan kuning telur. Bila suhu terlalu panas, kuning telur akan menjadi kering. Sebaliknya bila terlalu panas, saluran kuning telur akan menyempit. Keduanya akan menyebabkan kuning telur menjadi tidak sempurna. Dalam kuning telur selain terdapat cadangan makanan, vitamin, hormon, juga sumber kekebalan yang diturunkan dari induk. Bila kuning telur tidak terserap sempurna akan ada masalah kesehatan anak ayam. “Hal itu penting untuk menjaga kekebalan anak, sebab apabila kekebalan yang diwariskan dari induk lemah, bisa menyebabkan ayam mengalami gagal pertumbuhan dan rentan sakit,” papar Praba.

“Chicken Guard” dan “Litter”

Selanjutnya oksigenasi brooding jangan terlalu pengap. Kalau perlu dibantu dengan kipas angin. Syukur bisa diberikan suplai oksigen ke air minum walau belum diketahui betul pengaruhnya karena hal ini diambil pengalaman penerapannya untuk ikan, dan sekarang dicoba diterapkan pada ayam. Demikian Suhardi.

Artinya, jangan lupa memperhatikan kepentingan ventilasi ayam. Dengan melebarkan chicken guard, lebih cepat melebar hasilnya ventilasi lebih bagus. Pelebaran ini dilakukan mulai hari ke 5 sesuai pertumbuhan dan kepadatan kandang. Demikian Praba.

Adapun, sekam atau serutan yang akan digunakan sebagai litter sebelum digunakan dilakukan desinfeksi lebih dulu. Penggunaan alas koran minggu pertama agar pakan dapat disajikan sedikit demi sedikit dan selalu dalam keadaan sedar. Pastikan litter atau alas kandang dalam kondisi yang baik. Litter yang basah, lembab dan menggumpal dapat meningkatkan resiko penyakit. Penggantian litter ini jangan dilakukan secara total, tetapi bertahap, litter yang basah dan menggumpal segera dikeluarkan dan diganti dengan yang baru. Pada kandang panggung, sekam dikeringkan. Demikian Praba, senada dengan ungkap Suhardi, “Litter setidaknya selama 2 minggu pertama harus kering dan steril, jangan sampai basah.”

Soal litter ini sangat vital, apalagi pada musim penghujan, jangan sampai litter itu menjadi sarang Reo. Pernah dijumpai litter ayam yang sangat kotor seperti lantai kandang bebek. Jangan litter yang seperti itu, litter setebal 20 cm pun, apalagi basah, tetap dapat menjadi tempat berbiaknya Reo, apalagi di daerah endemis yang selalu ada infeksi Reovirus, bila pelakuan terhadapnya tidak diterapkan secara ketat.

Pakan dan Musim Penghujan

Lalu jangan lupa, Musim penghujan selalu sangat erat kaitannya dengan kualitas pakan. Jamur pada musim penghujan begitu mudah tumbuh dan berbiak di mana-mana, termasuk pada pakan, bisa menyebabkan mikotoksikosis yang ujung-ujungnya juga mampu menyebabkan kekerdilan.

Adanya kandida, jamur, khamir, pada tembolok bisa menyebabkan malaborpsi. Dulu terjadi pada broiler, kini pun terjadi pada layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhan terhambat, masa produksi lambat umur. Secara patologi anatomi ada, terjadi malabsorpsi, rusaknya usus, pakreas, terjadinya proventrikulus. Demikian Drh Hernomoadi Huminto MS dari FKH IPB.

Olesi Pusar

Cara lain menghadapi hujan yang membasahkan adalah perhatian langsung pada ayamnya sendiri. Air basah dan litter lembab pada litter dapat langsung menyerang individu anak ayam. Seperti anak manusia yang bisa tersarang masuk angin, apalagi anak ayam yang lemah. Ingat bagaimana kala anak-anak terserang masuk angin? Olesi pusar dengan minyak kayu putih. Kalau anak ayam? Olesi pusar dengan desinfektan.

Bila diketahui 5-10 persen dari jumlah anak ayam itu terdapat pusar basah, segeralah olesi dengan desinfektan, yang aman adalah dengan Iodine, untuk mencegah terjadinya ascites yang mendorong terjadinya kekerdilan. Pada saat anak ayam umur sehari ini dilepaskan sebelumnya oleskan Iodine satu demi satu pada anak-anak ayam itu, baru dilepaskan satu per satu. Demikian Drh Suhardi dari PT Sanbe Farma.


“Hal-hal begini peternak tidak melakukan, mengakibatkan hambatan pertumbuhan ayam sehingga terjadi kegagalan pertumbuhan. Sebaliknya kalau persyaratan dipenuhi kasus lambat tumbuh bisa diminimalisir. Persentase kejadian bisa dikurangi lebih kecil dari 5 persen,” urai Drh Praba seraya menambahkan: “Tindakan itu sangat bermanfaat dan bisa untuk mengurangi kasus, meski kalau meng-nol-kan tidak bisa.”

Meski kasus tidak bisa sirna, turunnya kasus merupakan hal sangat berharga. (YR)

PAKAN UNTUK YANG KERDIL

Sementara kalangan menganggap kekerdilan sudah jarang dijumpai lantaran perlakuan sudah cukup baik. Tapi, ternyata masih ada juga. Peternak dapat mengamati keterkaitan dengan pihak bibit ini pada kondisi di lapangan. Apakah kala bibit ayam masuk kandang komersial pada tiga bulan tidak kena kekerdilan, selanjutnya apakah tiga bulan berikutnya lagi tidak kena kekerdilan atau menjadi kena. “Dengan demikian bisa ketahuan, mungkin itu karena faktor pakan, atau yang lainnya,” kata seorang praktisi.

Karena penyebab kekerdilan memang berbeda-beda, jangan heran bila muncul pengalaman aneh, perlakuan pemberian pakan oleh peternak terhadap ayam yang terganggu/terhambat pertumbuhannya ini ternyata tidak berbeda, sehingga tidak ada perlakuan khusus soal pakan ini. Namun ada peternak yang memisahkan antara ayam kerdil, sedang, dan normal, karena konsumsi pakan sama ternyata hasilnya berbeda, sehingga tidak efektif untuk pemeliharaan dan pertumbuhan.

Bandingkan bedanya, pada kasus malabsorbsi sindrom, pola makan ayam tetaplah normal, tetap makan banyak seperti halnya ayam normal, akan tetapi ayam tidaklah tumbuh dan berkembang. Hal ini karena penyerapan kurang baik. Sedang kasus Runting dan Stunting tidak tumbuh dan berkembang. Demikian Drh Andi Widjanarko dari PT Pimaimas Citra.

Pakan Bagus?

Oleh sebab itu, “Jangan lupa, pakan haruslah yang bagus,” tutur Drh Suhardi dari PT Sanbe Farma. Bila pada 1-2 minggu pertama muncul gejala kekerdilan yang bakal terjadi, berikan pakan untuk strater, bukan untuk grower. Soal pakan ini, Drh Supandi juga dari PT Sanbe Farma melengkapi, konsumsi pakan harus cukup baik, ditambah dengan vitamin dan elektrolit.

Sediaan vitamin yang dianjurkan mengandung vitamin-vitamin A, D, E, K, demikian juga vitamin yang mengandung asam amino di mana protein ini sangat penting untung pertumbuhan ayam. “Harapannya gejala-gejala yang bisa muncul dapat dicegah, dan ayam menjadi lebih baik pertumbuhannya, efek dari Runting dan Stunting Syndrome dapat diminimalisir,” kata Supandi.

Dari sisi pakan diakibatkan oleh fluktuasi kualitas dari bahan baku pakan, seperti level mikotoksin, level mineral dan vitamin. Demikian Drh Hany Widjaja dari Alltech Indonesia.

Pakan Saat DOC Datang?

Bagaimana teknisnya? Saat DOC tiba segera hitung, tebar, dan beri minum air gula. Teruskan dengan antibiotik spektrum luas dan vitamin elektrolit. Untuk DOC yang lemah beri cekok larutan infus. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia..

Amati di peternakan-peternakan kita. Frekuensi pemberian pakan dengan cara lama, dulu sampai 1-2 hari hanya dengan jagung kering. Dan ini diberikan sampai beberapa hari. Setelah ayam selesai diberi minum dalam rentang waktu ini, baru diberi pakan. Jelasnya, kondisi di lapangan, pemberian pakan starter biasanya ditunda sampai beberapa hari dulu. Demikian pengamatan Praba.

Apakah hal ini masih berlaku sampai sekarang? Bagaimana yang lebih baik? Terkait dengan pertumbuhan fili-fili usus yang tumbuh pada 4-5 jam, ternyata hal ini bukan hal terbaik. Yang lebih pantas diterapkan seiring pertumbuhan fili usus untuk pencernaan ini adalah pakan diberikan tanpa menunggu beberapa hari. Sesaat setelah DOC minum, segera beri pakan, karena semakin cepat fili-fili usus lontak dengan makanan akan semakin baik perkembangannya. Demikian Praba.

Setelah 8 jam kedatangan, tembolok anak ayam perlu diperiksa. Harus sudah terisi pakan 80 persen. Bila kurang dari 80 persen akan memungkinkan terjadi gangguan pertumbuhan. Cara pemberian pakan metode lama, peternak sendiri yang menyaring pakan, memungkinkan mikotoksikosis. Kerugiannya lambat tumbuh. Pertumbuhan yang biasanya cukup pada umur seminggu untuk mencapai berat tertentu, sekarang membutuhkan waktu lebih lama, bisa mencapai umur 10 untuk mencapai berat yang sama. Demikian Praba.

Tempat Pakan

Pemberian pakan pada minggu pertama dapat dengan cara ditebar di atas koran sedikit demi sedikit tetapi lebih sering. Agar, anak ayam dapat mengenal bentuk pakan. Dan, juga ditaruh pada tempat pakan. Seringkali anak ayam memakan sekam apabila tidak diberi alas koran. Demikian Praba mengutarakan pengamatannya di banyak peternakan.

Jumlah tempat pakan/minum 100 ekor antara 3-4 buah. Bila menggunakan box DOC sebagai tempat pakan maka 1 box untuk sekitar 75 ekor. Tetapi perlu diperhatikan bahwa penggunaan box DOC sebagai tempat pakan jangan lebih dari 3 hari. Karena, box akan menjadi lebih lembab dan dapat menjadi media pertumbuhan jamur yang dapat menyebabkan mikotoksikosis yang ujung-ujungnya juga mampu menyebabkan kekerdilan. Pengenalan dengan tempat pakan dalam bentuk tabung gantung dimulai pada usia 7-10 hari. Setelah usia 15 hari hanya digunakan tempat pakan bentuk tabung tersebut. Penggantian secara bertahap. Demikian Praba

Langkah-langkah soal pakan ini ada yang bersifat umum dan ada yang spesifik sesuai dengan kondisi masing-masing peternakan dan berdasar pilihan terbaik bagi para narasumber. Barangkali masih banyak pengalaman lain dari narasumber yang berbeda guna mengatasi permasalahan ayam kerdil.

Sudah tentu yang diinginkan peternak dan praktisi tak akan ada hambatan pertumbuhan. Maka soal pakan, pilihlah mutu dan cara pemberian yang terbaik. Jangan lupa: Ayo! Cari yang terbaik. (YR)

TEMPAT DAN AIR MASAK

Marilah mengamati kondisi di lapangan soal air minum ayam.

Tempat Minum

Rata-rata peternak kurang memperhatikan masalah tempat air minum. Coba masuk dalam kandang ayam dan amati besar kecilnya tempat ar itu. Rata-rata tempat air ini besar-besar. Apa akibat dari besarnya tempat air minum ini? DOC (anak ayam umur sehari) menjadi mudah ‘nyemplung’. Demikian pengamatan Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia.

Menghadapi hal ini Drh Praba menyarankan ukuran tempat air minum ini lebih kecil, setidaknya yang berisisi 1 liter. “Jangan yang 4 liter, karena ini kebesaran,” katanya. Sehingga dapat dihitung: Jumlah tempat minum untuk 100 ekor antara 3-4 buah. Menurutnya soal besaran yang pas buat tempat air minum ini kelihatannya merupakan hal sepele sehingga kekeliruan merupakan merupakan kesalahan sepele. Tapi, sangat penting artinya.

Air Masak

Air sangat rentan untuk menjadi tempat berbiaknya kuman bila perlakuannya keliru. Untuk mencegah masuknya kuman ini pada air minum, Drh Praba menyarankan hendaknya air minum juga dimasak pada 4 hari pertama. “Supaya bakteri yang masuk tidak ada,” katanya seraya menunjukkan hasil perlakuan ini yang sungguh sangat berbeda nyata. Alhasil, kematian pada awal pertumbuhan karena penyakit seperti ompalitis menjadi jarang terjadi.

Apakah pemberian air masak untuk minumnya ayam ini tidak memberatkan? Kaitannya dengan kebutuhan minum ayam yang ternyata termasuk kecil sekali, artinya minumnya pun jarang. Dan, pada kenyataannya rata-rata peternak tidak keberatan bila memperlakukan pemasakan air minum untuk ayam ini. (YR)

SIAPA YANG TERSERANG KERDIL?

Jenis ayam apa yang terserang kerdil? Bangsa atau strain apa? Bagaimana mengakomodasi kepentingan peternak dan pembibibitan dalam menyikapi kekerdilan yang nyata-nyata terbukti ada?

Inilah kenyataannya, penyakit ayam kerdil dijumpai terjadi pada ayam petelur (layer) dan (broiler). Demikian Drh Andi Wijanarko dari PT Pimaimas Citra.

Adapun, di wilayah Bandung dan Subang setidaknya, pada broiler (ayam pedaging) dan pada ayam layer (petelur). Demikian Drh Supandi dari PT Sanbe Farma tentang kondisi di wilayah kerjanya.

Dulu kekerdilan terjadi pada broiler, kini pun terjadi pada layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhan terhambat, masa produksi lambat umur. Secara patologi anatomi ada, terjadi malabsorpsi, rusaknya usus, pakreas, terjadinya proventrikulus. Pada layer dara tidak mencapai berat yang seharusnya. Alat reproduksi pun tidak berkembang, menjadi kecil dan atau belum besar seperti normalnya. Yang mestinya sudah belajar bertelur pada umur 16-17 minggu, mundur sampai umur 19-20 minggu baru belajar bertelur. Terjadi kerusakan digesti yang menganggu asupan pakan. Demikian Demikian Drh Lies Parede Hernomoadi MSc PhD dari Balitvet dan Drh Hernomoadi Huminto MS dari FKH IPB.

Menurut bangsa atau strain ayamnya, kasus ayam kerdil pun terjadi hampir di semua wilayah peternakan. Bukan bangsa ayam tertentu, tapi semua strain ayam. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia.

Relatif didapati pada rata-rata strain atau bangsa ayam yang ada, waktu kejadiannya tidak sama atau terus-menerus pada saat kedatangan anak ayam ke peternakannya. Kadang-kadang pada satu kali masa kedatangan DOC ada kasus kekerdilan pada suatu bangsa ayam, pada masa berikutnya belum tentu atau tidak ada. Demikian juga pada kasus pada bangsa ayam yang lain. Dengan demikian kasus kekerdilan praktis berasal dari pembibitan. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH dari PT Paeco Agung Cabang Jawa Timur.

Penyebaran kekerdilan ini secara vertikal, dari induk. Jadi yang harus diperbaiki dari induknya. Karena saat DOC datang sampai lima hari datang itu sudah kelihatan di awal, tidak mungkin itu dari penularan dari luar. Dan itu makin kelihatan kalau berumur menjelang 3 minggu. Demikian Drh Anas Sudjatmiko dari PPUN.

Umur kecil belum kelihatan sebagai DOC berubah. Dulu ayam umur 5 minggu mempunyai berat 1,8 kg; sekarang umur 5 minggu berat badannya 2 kg. Pada induk ayam, dengan kemajuan teknologi dan penerapan rekayasa genetika, semakin tampak kelemahan-kelemahan yang makin terbuka untuk bisa muncul dan terjadi. Faktor-faktor kelemahan kekebalan tubuh muncul, ayam menjadi rentan penyakit, dan lain sebagainya. Demikian Drh Prabadasanto.

Secara Genetik Terbukti

Yang pasti dari hasil penelitian, ada jenis strain ayam yang peka infeksi Reovirus, ada pula yang tidak peka. Infeksi menyebabkan diare hebat, pertumbuhan broiler kelihatan terganggu pada pertumbuhan akhir. Seharusnya mencapai 1,6 kg, pertumbuhan akhirnya hanya 1,3 atau 1,4 kg. Demikian Dr Lies Parede Hernomoadi.

Anak ayam yang berumur 1-2 hari sangat peka terhadap uji Reovirus ini. Infeksi dini berakibat buruk. Infeksi pada anak ayam umur 1 minggu menyebabkan berat ayam 100-200 ngram. Infeksi lebih dari 10 hari beratnya bisa 1,3 kg padahal semestinya 1,6 kg. Infeksi pada umur 2-3 minggu bisa berakibat ringan di mana berat badan tidak tercapai. Demikian Dr Lies seraya memastikan tentang pentingnya seleksi genetik.

Akibat kepentingan untuk menghasilkan bibit ayam unggul yang begitu baik, konversi pakan baik, daging gemuk untuk broiler, produksi telur banyak untuk layer, dan sifat-sifat unggul lainnya, perbaikan genetik ayam indukan bibit dipacu begitu ’hebat’. Namun kadang, kondisi peternakan Indonesia ternyata relatif belum cocok dan terbaik untuk pemeliharaan ayam yang menjadi demikian rentan berbagai hal karena upaya perbaikan genetik itu. Biosekuritas, lingkungan, perkandangan, kedisiplinan, tidak mendukung, memudahkan Reo menyerang, dan terjadi kekerdilan. Demikian Dr Lies.

Maka kuncinya pada pembibitan saat ’mencipta’ ayam unggul itu, jangan peka terhadap Reovirus. Secara mikro, seleksi genetik pun dapat dilakukan. Begitu dilihat, dapat ditentukan kualitas genetik ayam bersangkutan, peka atau tidak terhadap Reovirus. Hal ini penyebab munculnya kekerdilan pada ayam ras tertentu pada kelompok kedatangan tertentu. Demikian Dr Lies.

Soal kepekaan berdasar genetik ayam itu dibuktikan peternak, Ahmad (bukan nama sebenarnya) yang memberikan perlakuan pemberian pakan terhadap ayam yang terganggu/ terhambat pertumbuhannya tidak berbeda, tidak ada perlakuan khusus. Dan kebetulan ayamnya berasal dari satu bangsa (strain) ayam, di mana perbedaan dengan strain lain meski perlakuan pemberian pakan sama tetapi hasilnya bisa berbeda. Belum dievaluasi secara menyeluruh sejarah kekerdilan di Legok Tangerang Provinsi Banten.

Peran Pemerintah Tugas Peternak

Terkait dengan asal penyebaran dari induk ayam yang berarti terkait dengan pembibitan, peternak melihat pemerintah dalam menangani kasus kekerdilan ini belum serius, ini dianggap sebagai kematian dari populasi tertentu. Padahal ini harus ditangani secara serius. Menurut peternak, pemerintah seharusnya aktif memeriksa di breeding-breeding farm (peternakan pembibitan) sehingga nantinya hasil kualitasnya lebih bagus. Namun sayang, ”Kontrol dari pemerintah dalam hal ini sangat kurang,” Drh Anas dari PPUN membuka kenyataan.

Peternak harus aktif melakukan pelaporan-pelaporan masalah kekerdilan ini kepada lembaga-lembaga peneliti, katakanlah ke Balivet, IPB. Peternak harus aktif melakukan itu dan chek and rechek supaya ada balance dari keadaan ini. Demikian Ketua Persatuan Peternak Unggas Nusantara ini.

Sehingga, ”Kita bisa mengklasifikasi breeding-breeding mana yang kualitasnya baik,” ucap Anas. Tentang upaya yang dilakukan oleh PPUN ia mengungkap, tiap bulan akan mengeluarkan informasi kepada anggota tentang pakan atau DOC berdasarkan urutan prioritasnya. Sehingga membuat pabrikan mau intropeksi.

Tangan Pembibitan

”Kemungkinan penyakit ini juga diakibatkan masalah vaksinasi,” ujar peternak ini. Apakah breeding sempat melakukan vaksinasi? ”Saya tidak tahu,” tukasnya. Yang dimaksud Anas adalah vaksinasi kekerdilan yang lazim dikenal sebagai vaksinasi Reo, virus salah satu biang kekerdilan. Lazimnya memang dilakukan di peternakan pembibitan, bukan peternakan komersial. Wajar bila vaksin Reo tidak dijumpai pada ayam komersial, seperti kata Drh Anwar (bukan nama sebenarnya) setidaknya pada lingkup wilayah kerjanya.

Di Jawa Timur, dilaporkan, Vaksinasi Reo tidak ada pada peternakan komersial. Tentu pada pembibitan pelaksanaan vaksinasi Reo sudah bagus diupayakan. Demikian Asyikin.

Anwar membenarkan, pemberian vaksinasi Reo ini diberikan pada peternakan pembibitan. Namun, disinyalir untuk penghematan biaya, di mana kasus AI begitu makan banyak biaya vaksinasi dan harganya mahal, vaksinasi cacar (Pox) dan Reo dikurangi, sehingga hal ini menggertak munculnya anak ayam yang mengalami kekerdilan pertumbuhan.

Yang paling merasakan dampaknya, peternak, yang menerima bibit ayam yang ternyata bibitnya berkasus kekerdilan. Halnya pihak pembibitan sendiri, menurut Anas, selama ini pihak pembibitan lebih bersikap pasif akhirnya menunggu laporan atau claim dari peternak. Sehingga peternak banyak dirugikan. Karena garansi atau jaminan tidak ada.

Ada yang disayangkan. ”Bonus pembelian dua ekor per box itu belum tentu jaminan. Mungkin mereka (pembibitan) tidak mau jujur. Mereka selama ini hanya mengejar keuntungan tanpa melihat kualitasnya. Yang baik adalah langkah seperti yang dilakukan teman saya, saat membeli begitu ada tanda-tanda kekerdilan langsung dikembalikan ke pabrikan,” protes Anas.

Menanggapi pernyataan tentang kejujuran ini, “Pihak pembibitan (breeding) haruslah jujur tentang kondisi bibit,” tegas Drh Yasin (bukan nama sebenarnya), seorang praktisi kepada Infovet. Menurutnya, peternak sendiri dapat mengamati keterkaitan dengan pihak bibit ini pada kondisi di lapangan. Apakah kala bibit ayam masuk kandang komersial pada tiga bulan tidak kena, selanjutnya apakah tiga bulan berikutnya lagi tidak kena kekerdilan atau menjadi kena. Sehingga ketahuan, mungkin itu karena faktor pakan, atau yang lainnya.

Respon terhadap claim peternak kepada pihak pembibitan ini, ada yang diganti dengan DOC untuk yang jumlahnya kecil. Sedangkan yang jumlahnya besar diganti dengan pakan. Ini diberikan oleh breeding-breeding tertentu. Breeder besar juga mau. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH.

Sedangkan dari sisi breeder tentunya berhubungan dengan telur yang berasal dari flok muda, flok tua atau induk yang sakit. Demikian Drh Hany Widjaja, Technical Service Manager Alltech Indonesia.

Artinya, mari kita letakkan masalah kekerdilan dan pembibitan ini secara seimbang dan pada tempatnya. (AW, YR)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template