Thursday, June 21, 2007

BERBAGI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH

Kembali ke Infovet

Ruang Redaksi Edisi 156 Juli 2007

Peternak umumnya selalu memilih harga obat dan vaksin yang terjangkau keuangannya. Ketika peternakannya tidak ada masalah apapun merek obat dan vaksin asal sesuai dengan kebutuhan akan digunakan. Baru ketika ada masalah ia mau memikirkan obat yang lebih berkualitas bahkan paling berkualitas.

Bagaimana bila produk yang ditawarkan petugas pelayan teknis obat hewan sama-sama berkualitas? Ada kisah, seorang petugas pelayanan teknis obat hewan punya produk yang biasanya selalu digunakan oleh peternakan tertentu karena berkualitas, meski harganya tergolong mahal.

Pada suatu saat peternak itu didatangi oleh petugas pelayanan teknis dari perusahaan lain yang membawa vaksin dengan merek sama, karena memang vaksinnya dari prinsipal di luar negeri yang sama namun didistribusikan oleh perusahaan lokal berbeda.

Petugas pelayanan teknis perusahaan kedua ini menanyakan harga vaksin yang dibawa perusahaan pertama. Begitu peternak menjawab satu angka, petugas pelayanan teknis kedua ini lalu memberi harga lebih murah.

Tentu saja peternak tergiur, apalagi dengan iming-iming bonus ini-itu. Jadilah peternak yang semula setia memakai vaksin dari perusahaan pertama pindah ke vaksin perusahaan kedua. Vaksinnya sama, mereknya sama, prinsipalnya sama, tapi peternak memilih distributor kedua karena harganya lebih murah.

Bagi perusahaan pertama hal itu sudah tentu merugikan. Dengan harga vaksin yang ia tawarkan saja, keuntungan bagi perusahaannya tidak seberapa. Bagaimana dengan keuntungan bagi perusahaan kedua yang menjual vaksin dengan selisih harga begitu ‘besar’, dengan harga jauh lebih rendah dari harga jual perusahaannya.

Rupanya, kemudian petugas pelayanan teknis yang pertama ini menyadari, produk vaksin yang dibawa perusahaannya hanya satu merek atau satu jenis saja. Sedang perusahaan kompetitor tadi punya beberapa merek atau produk. Terjadi subsidi silang untuk keuntungan produk mereka.

Yang telah dilakukan perusahaan kompetitor, adalah bernilai strategis dalam perang dagang, yaitu sudah merebut pelanggan. Merebut pasar. Merebut uang!
Ketika tulisan ini dibuat awal Juni 2007 harga telur sedang terjun bebas, menjadi seharga Rp 6500 dari minggu sebelumnya Rp 6800 bahkan di Malang ada yang Rp 8000 setiap kilogramnya. Harga yang meluncur begitu cepat itu membuat orang kaget. Ada apa sebenarnya?

Diperkirakan harga itu akan tetap bertahan hingga Juli dan beranjak naik lagi pada Agustus. Maka terbayanglah dalam imajinasi kita, ditambah berdasar pengalaman dari tahun ke tahun: hal ini terkait dengan kebutuhan masyarakat yang mempengaruhi daya beli produk peternakan telur dan daging.

Saat tulisan ini dibuat masyarakat sedang ditekan oleh kebutuhan keuangan menyekolahkan anak-anaknya. Penerimaan siswa baru menuntut mereka menyediakan dana untuk biaya sekolah. Belum lagi kondisi keuangan untuk memenuhi kebutuhan pokok lain yang harganya tak kunjung turun, minyak goreng melambung, harganya ‘menggoreng hati’ karena masyarakat kecil tak mampu membeli dengan harga murah.

Peternak kena imbas, telur dan dagaing yang mereka jual tak menarik perhatian masyarakat. Bahkan rakyat kecil pekerja kasar yang biasanya makan mi rebus lengkap dengan telur sekarang telurnya didiskon! Artinya hanya makan mi tanpa telor.

Menurut pengalaman tiap tahun, harga telur dan daging kembali terdongkrak pada bulan Agustus, itu karena ada Peringatan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah tentu untuk merayakan kemerdekaan kita, kue dan makanan dihidang di mana-mana, dan butuh telur dan daging untuk bahan hidangan.

Yah, semua selalu terkait dengan dana, biaya, ongkos, uang! Apakah memang sekarang semua alat pembayaran harus selalu menggunakan uang? Tidak adakah alat pembayaran lain yang juga sah seperti uang?

Sementara kita memang harus menerima kenyataan, bahwa di sini uang berperan. Namun kita pasti merasakan, ada sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan uang. Apa itu?

Kita pasti sudah berpikir dan merenungkan. Nilai kemanusiaan sisi lain dari uang itu menyentuh kalbu, seperti ketika kita melihat anak ayam umur sehari yang baru menetas sebagai makhluk hidup yang lucu, lemah, dan butuh kasih sayang.

Padahal sudah terlalu teknis kita nilai harganya sebagai bibit DOC dengan perhitungan uang. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template