Tuesday, January 20, 2009

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

((Apa yang harus dikerjakan oleh peternak menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti? ))
Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD yang dinobatkan sebagai Guru Besar Madya per 1 Mei 1998 ini menyarankan kepada peternak dalam menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti agar praktek manajemen peternakan yang lebih baik dan optimal, terutama dengan menjaga kualitas DOC, pakan dan mengembangkan sistem perkandangan dan peralatan kandang ke arah yang lebih baik dan higienis, lingkungan dan sumber air minum yang baik.
Namun itu semua tetap berpedoman pada penerapan biosekuriti di farm. Penerapan biosekuriti bukan hanya di dalam kandang tapi untuk luar kandang pun perlu diterapkan.
“Kata kunci dari semua kegiatan di usaha peternakan ayam adalah bagaimana caranya peternak meningkatkan efisiensi, disamping itu bagaimana caranya meningkatkan kualitas produk yang masuk ke dalam tubuh ayam untuk menghasilkan produk peternakan yang berkualitas pula,” pungkas Prof Charles.
Perubahan cuaca tak menentu ini juga mendapat apresiasi dari drh Joko Prastowo MSi dosen Penyakit Parasiter Ternak Departemen Parasitologi FKH UGM Yogyakarta. Menurutnya, penyakit parasiter pada ternak selalu ada pada setiap periode musim. Hubungannya dengan perubahan cuaca ini adalah musim panas dan hujan saat ini terjadi tidak menurut masanya.
Di samping itu, Indonesia termasuk negara beriklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan berbagai macam parasit. Artinya apapun cara yang dilakukan peternak untuk menghambat munculnya kasus penyakit parasiter pada ternak sangat minim keberhasilannya, termasuk penerapan biosekuriti.
Joko mencontohkan pada satu kasus parasiter pada ayam misalnya Koksidiosis dengan Koksidianya. Koksidia tersebut ditularkan melalui ookista yang mempunyai dinding yang tebal, sehingga ookista dari Koksidia ini diadaptasikan oleh induknya untuk dapat bertahan hidup dalam berbagai macam bentuk perubahan lingkungan tempat tinggalnya.
“Apapun jenis makhluk hidup selalu ingin survive, tidak satupun makhluk hidup yang ingin mati percuma, termasuk parasit yang selalu bertahan hidup untuk kelangsungan generasinya, maka apapun bentuk ancaman dari luar tubuhnya akan dilawan seperti perubahan cuaca, pengaruh biokimia dan lainnya,” papar Joko.
Joko memprediksikan semua penyakit parasiter akan tetap muncul di tahun 2009 nanti. “Ini merupakan konsekwensi hidup di negara tropis, semuanya tumbuh subur termasuk mikroorganisme penyebab penyakit,” ujar Joko dengan senyum sumringahnya.
Ditambahkannya bahwa pertahanan terdepan di farm memang biosekuriti, tapi sejauh mana peternak mampu menerapkan biosekuriti tersebut, apakah setiap menit, setiap jam, atau setiap hari dilakukan penyemprotan? Lalu terkait dengan manusia dan lalu lintasnya, apakah setiap orang yang masuk ke kandang harus mandi dulu, kemudian tersedianya zona-zona pembatas di setiap farm, bukankah ini semua akan menambah biaya?
“Inilah problem peternak yang juga harus dipikirkan oleh para pakar perunggasan negeri ini,” imbau Joko.
Satu lagi yang menjadi sorotannya adalah pemetaan wilayah untuk peternakan tidak sebagus negara-negara maju, dapat dibayangkan bahwa ada usaha peternakan yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota, di tengah-tengah pemukiman, nah bagaimana mungkin kontak antara manusia sakit dengan ternak sehat tidakkan terjadi?
Pada hal kita tahu bahwa sebagian penyakit penularannya ada yang melalui udara, mampu ngak kita berkata bahwa negeri ini bisa dibebaskan dari penyakit-penyakit ternak strategis dalam kondisi perwilayahan untuk usaha peternakan yang masih amburadul tersebut? Lantas, apa yang diperlukan terkait hal tersebut?
“Sumberdaya manusia yang handal dan tata ruang yang bagus untuk usaha peternakan,” tegas Joko dengan mantap.
Sumberdaya manusia termasuk perilaku, kebiasaan dan skill yang berhubungan langsung dengan dunia unggas, sementara itu tata ruang berhubungan dengan perwilayahan tadi, artinya ada wilayah-wilayah tertentu yang diplotkan hanya untuk usaha peternakan, tidak ada jenis usaha lainnya di wilayah tersebut, dan ini untuk jangka waktu panjang, misalnya 5, 10, 15 atau 20 tahun kedepan.
“Ini lebih baik dan akan membantu peternak untuk menciptakan usaha peternakan yang benar-benar dapat dinikmati hasilnya. Di samping itu, perwilayahan ini bukan saja mendatangkan untung bagi peternak tapi masyarakat pun akan menikmatinya, yakni terbebas dari polusi akibat usaha peternakan tersebut,” paparnya.
Terkait pengendalian dan pengobatan parasit Joko menyarankan untuk melakukan tindakan sanitasi harus secara benar dan ketat. Kemudian, buang secara periodik tumpukan feses yang disinyalir sebagai sumber perkembangbiakkan serangga dan kumbang, keduanya ini diyakini dapat menularkan penyakit pada ayam.
Lalu, jika memungkinkan, kandang bambu harus diganti dengan kandang kawat untuk mencegah infestasi tungau dan caplak, gangguan burung, tikus dan hewan liar lainnya harus diperkecil, hilangkan areal yang tergenang air di sekitar kandang, metoda manajemen pemeliharaan ayam yang efisien dan efektif akan membantu untuk memperkecil populasi parasit di farm.

Terkait Pangan Asal Ternak

Terkait keamanan pangan asal ternak salah satunya daging broiler misalnya daging ayam mati kemaren (tiren), daging busuk sampai pada daging ayam yang terkontaminasi residu antibiotika atau dari jenis obat lainnya masih tetap menjadi dilema di tahun 2009 nanti.
Kondisi ini harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Isyu-isyu yang tidak jelas sumber yang pasti jangan dibesar-besarkan, karena ini berhubungan dengan psikologis konsumen.
Demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Pada dasarnya konsumen produk bahan pangan asal ternak sangat mudah dipengaruhi. Ambil contoh ketika terjadi kasus AI di negeri ini.”
Pemberitaan seputar AI begitu santer, sehingga tidak menyisakan ruang pikir buat konsumen, hasilnya apa? Konsumen pada takut mengkonsumsi daging ayam, ketakutan mereka tidak beralasan, karena penyakit AI sendiri tidak ditularkan melalui daging ayam,” papar Nanung.
Di samping itu, daging ayam mati kemaren peredarannya sulit dideteksi. Hal ini terkait jejaring atau rantai penjualan yang begitu apik, sehingga masyarakt yang kurang paham dengan ilmu perdagingan akan terkecoh. Hanya satu yang dapat dijadikan batasan apakah itu daging tiren atau bukan, yakni dengan mengetahui harganya, bila harga yang ditawarkan jauh dari harga pasar yang sebenarnya, maka konsumen harus waspada, ada apa dengan daging tersebut.
Di samping keterbatasan ilmu tentang perdagingan, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk menghadirkan daging sebagai lauk-pauk dalam keluarga, mengharuskan sebagian kecil konsumen memaksakan diri membeli daging ayam tiren tersebut, alasannya cukup masuk akal, yakni harga murah.
Pada hal dari segi kesehatan, daging ayam tiren sama sekali tidak baik lagi untuk dikonsumsi, hal ini mengingat bahwa daging merupakan bahan pangan yang disukai oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembangbiak demi kelangsungan generasinya. Bila kondisi ini terjadi, lantas siapakah yang harus disalahkan, pembelikah atau penjual?
Penggunaan antibiotika untuk menggertak pertumbuhan juga masih menjadi bahan diskusi dibeberapa event terkait kesehatan unggas yang ada hubungannya dengan kesehatan konsumen produk asal ternak.
Sebenarnya, penggunaan antibiotika untuk growth promotor dibeberapa negara sudah sejak lama dihentikan, hal ini mengingat bahwa tingkat residu beberapa antibiotika dalam daging ayam dan daging ternak lainnya dapat merugikan konsumen.
Di negara maju seperti Jerman, Swedia, Denmark dan Swis telah mengeluarkan peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotika dalam pakan ternak ataupun antibiotika yang digunakan sebagai obat untuk tindakan preventif dan kuratif pada ternak.
Indonesia sendiri, larangan atau pembatasan penggunaan antibiotika untuk ternak masih dalam ranah abu-abu, sehingga wajar masih memunculkan kekuatiran bagi sekelompok konsumen untuk mengkonsumsi bahan pangan asal ternak tersebut. Lalu, apa solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut? ”Back to nature atau kembali ke alam,” ajak Nanung.
Dikatakannya bahwa mengembalikan ke alam memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi secara genetika ayam broiler dan layer diplot untuk berproduksi maksimal, artinya segala sesuatu yang akan diberikan ke ayam-ayam tersebut juga dari bahan-bahan yang maksimal pula kualitasnya.
Saat ini, alternatif penggunaan asam-asam organik dibeberapa farm mulai digalakkan. Asam-asam organik tersebut sebenarnya dapat diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi, hasilnya digunakan sebagai sumber energi.
Kemajuan dibidang biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.
Asam-asam organik sintetik tersebut ditambahkan ke dalam pakan ternak dengan tujuan untuk menigkatkan produktifitas ternak. Di samping itu, penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora dalam tubuh ternak dapat meningkatkan performance ternak, hal ini mendatangkan untung tersendiri bagi peternak.
Penciptaan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu melalui penurunan keasaman dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous, hal ini dapat meningkatkan absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi ternak.
Akankah penggunaan asam organik untuk imbuhan pakan ternak dapat menggantikan kedudukan antibiotik? Ini tergantung pada peternak dan pakar perunggasan negeri ini. (Daman Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template