Thursday, July 24, 2008

CACINGAN

Edisi 167 Juni 2008

(( Infestasi cacing tidak akan pernah lepas dari layer, dan ini sangat mengganggu produksi. ))

100 tahun kebangkitan nasional, sebuah perjalanan panjang yang telah menghantarkan penduduk negeri ini ke ranah yang berbudaya yang dikenal bangsa-bangsa lainnya di dunia. 100 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunjukkan eksistensi diri, sebagai bangsa yang beradab, berbudi luhur dan santun dalam bersikap.
100 tahun merupakan awal sejarah kembalinya bangsa ini ke titik awal untuk bangun dan bangkit dari keterpurukan sosial dan jati diri, saatnya mengkaji, apa yang menjadi penyebab kegagalan-kegagalan dalam mencapai tujuan mulya bangsa ini?
Di bidang usaha peternakan, kajian yang berkelanjutan tentang upaya melenyapkan infestasi cacing terus dilakukan. Berbagai usaha diuji coba, namun tetap tidak membuahkan hasil, artinya upaya untuk menzerokan usaha peternakan dari gangguan cacing tetap tidak tercapai.
Hal ini terkait dengan keberadaan cacing sebagai organisme hidup, di mana selagi ada hospes maka cacing tetap dijumpai.
Cacing adalah penyebab penyakit pada ternak yang sering dilupakan, terutama pada usaha peternakan unggas modern. Hal ini sesuai dengan komentar yang disampaikan Hanggono SPt bahwa infestasi cacing tidak akan pernah lepas dari layer, dan ini sangat mengganggu produksi layer tersebut.
Infestasi cacing yang sering menggerogoti usaha peternakan layer adalah cacing pita atau cestoda. Cacing ini dapat dijumpai di berbagai spesies dan tidak terpaku pada jenis induk semang yang spesifik.
Cacing pita berbentuk pipih, putih dan panjang seperti pita (tape worm) dan bersegmen. Cacing pita terdiri dari kepala atau scolex dan zona pertumbuhan atau leher, bersegmen yang disebut strobila dan tiap-tiap segmen disebut proglottid. Cacing pita pada unggas dijumpai pada saluran pencernaan.
Hewan perantara (intermediate) yakni invertebrata seperti kumbang atau lalat yang dibutuhkan untuk menyempurnakan siklus hidupnya. Hewan perantara ini akan memakan telur cacing dari unggas yang terinfestasi cacing tersebut. Telur di dalam saluran pencernaannya akan menetas.
Larvanya akan menembus dinding usus dan masuk ke dalam rongga badan kemudian akan berubah menjadi cysticercoids dalam waktu 3 minggu. Unggas terinfestasi cacing pita karena memakan hewan perantara tersebut.
Cysticercoids akan dilepaskan oleh cairan pencernaan dari induk semang kemudian akan terkait pada dinding usus induk semang, lalu proglottids yang baru mulai membentuk segera dan dalam waktu 3 minggu cacing pita dewasa sudah terbentuk.
Layer dengan infestasi cacing pita menampakkan perubahan seperti mendadak lesu, diare, jika cacing pitanya banyak dapat menyebabkan radang usus disertai diare yang meluas, sehingga menyebabkan produksi menurun dibawah rata-rata, Infestasi cacing pita mengakibatkan penurunan bobot badan, mengganggu laju pertumbuhan, menurunkan produksi daging dan telur.
Cacing pita dalam jumlah besar mengambil sari-sari makanan dari tubuh inang, ini berakibat terjadinya hipoglikemia yang menyebabkan kematian ayam secara mendadak dalam jumlah yang besar. Terkait dengan siklus hidup cacing pita tersebut, apa yang harus dilakukan peternak?
Adalah drh Zalpidal Ketua PDHI Cabang Riau menyatakan bahwa usaha yang perlu dilakukan peternak adalah memutus siklus hidup cacing tersebut, artinya peternak harus mampu menekan sedemikian mungkin keberadaan hewan perantara di lokasi peternakannya.
Dikatakannya bahwa kumbang dan lalat sebagai vektor sedapat mungkin ditiadakan di lokasi peternakan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kebersihan kandang.
Senada dengan Ketua PDHI Cabang Riau tersebut, Hanggono SPt Technical Service PT Medion Cabang SUMSEL menyatakan bahwa usaha pengendalian vektor adalah peringkat utama yang harus dilakukan, ini dapat dilakukan dengan cara menjaga sanitasi kandang dan lingkungannya. Lalu bagaimana perlakuannya untuk ayam dengan infestasi cacing pita?
Biasanya dapat dikontrol dengan pemberian obat cacing, namun perlu diingat oleh peternak bahwa pengobatan tidak cukup dilakukan sekali, ini tergantung pada tingkat serangannya.
Banyak obat yang telah direkomendasikan oleh medis veteriner atau Technical Service di lapangan, dalam hal penanganan kasus cacing pita, peternak tinggal pilih, merek dan jenis preparat anthelmentika mana yang akan digunakan untuk menanggulangi kasus tersebut.
Menurut Hanggono SPt, program penanggulangan cacing pita dapat dilakukan dengan cara pemberian obat cacing setiap 6 minggu, dan ini rutin dilakukan, hal ini mengingat siklus hidup cacing pita yang terus ada sepanjang musim pemeliharaan layer.
Peternak dapat menggunakan preparat levamisol dan niclosamid untuk pengobatan sekaligus mencegah keberadaan endo parasit pada layer.
Di samping itu, drh Zalpidal Ketua PDHI Cabang Riau dan TS senior PT Romindo Primavetcom Cabang Riau menganjurkan untuk menggunakan preparat piperazine citrate 40% untuk tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan di usaha peternakan layer.
Pemberian preparat ini dapat dilakukan melalui air minum dengan cara melarutkan 30 ml piperazine citrate 40% dalam 3 liter air untuk 100 ekor layer umur 4-6 minggu, sedang untuk layer di atas 6 minggu, dosis dinaikan 60 ml dalam 6-10 liter air.
Perlu diingat oleh peternak bahwa selama program pencegahan dan pengobatan cacingan pada layer dengan aplikasi air minum, usahakan ayam untuk tidak minum yang lainnya selain air yang telah dicampur dengan preparat anti cacing yang dipilih oleh peternak. (Daman Suska).

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template