Wednesday, October 31, 2007

Siaga Satu Serangan Coryza, Kolera dan Kolibasilosis

Seakan tak pernah ada habisnya Infovet mengorek informasi dari Drh Hadi Wibowo praktisi perunggasan yang syarat pengalaman di industri perunggasan selama lebih dari 15 tahun. Sehingga bisa dibilang wajahnya tak pernah absen muncul di Infovet setiap bulan. Begitulah memang, ditengah kesehariannya sebagai product manager PT Sumber Multivita ia memang dituntut keliling Indonesia menyambangi peternak.
Berkenaan topik fokus yang diangkat berkaitan dengan penyakit bakterial dan penggunaan antibiotik yang ideal, Hadi menyoroti kini sudah tidak ada lagi yang namanya obat dewa artinya tidak ada lagi satu jenis obat untuk mengatasi semua jenis penyakit seperti yang terjadi pada antibiotik. Kunci dalam pengobatan lebih kepada ketepatan diagnosa penyakit yang berdampak pada penggunaan obat antibiotik yang tepat dengan dosis yang wajar.
Ia menambahkan fungsi imunomodulator yang meningkatkan jumlah sel, mengaktifkan dan mematangkan sel-sel yang berfungsi untuk pertahanan tubuh bila aplikasinya dikombinasi dengan antibiotik maka efek kesembuhannya akan lebih cepat 3 kali lipat dari biasanya.
Kenyataan dilapangan peternak sering salah mendiagnosa penyakit yang buntutnya menyebabkan ketidaktepatan antibiotik yang digunakan. Namun begitu, setelah merasa obatnya kurang manjur peternak terus menambah dosis hingga akhirnya begitu tertular penyakit bakteri lain malah menjadi resisten. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa peternak pembibit atau layer telah terikat kontrak dengan suplier obat hewan untuk menggunakan satu jenis obat tertentu guna melawan berbagai penyakit yang belum tentu cocok dengan penyakit yang menginfeksi ternaknya. Mereka terus menggunakan obat tersebut meskipun kemanjurannya tak seperti yang diharapkan. Hal ini dilakukan lebih karena ikatan emosional, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa ada segelintir perusahaan obat hewan di tanah air yang biasa memberikan hadiah dan bonus menarik kepada peternak asalkan bisa menyerap sejumlah tertentu obat hewan yang ditawarkan suplier.
“Namun perlu ditekankan disini bahwa hanya sedikit suplier obat hewan yang melakukan praktik semacam itu. Sehingga disarankan peternak memiliki tenaga ahli kesehatan hewan yang berpengalaman untuk mendiagnosa penyakit dengan tepat,” ujar Hadi.

Waspada 3 Penyakit Bakterial
Untuk penyakit bakterial yang kini sedang hot-hotnya mengintai di peternakan layer maupun broiler, Hadi mengungkapkan bahwa Coryza, Kolera dan Kolibasilosis masih potensial muncul diwaktu-waktu seperti saat ini. Penyakit coryza atau snot yang disebabkan bakteri Haemophilus paragallinarum mempunyai arti ekonomis yang penting dalam industri peternakan, karena angka penularannya mencapai 70-90%. Sementara angka kematian mencapai 20% bahkan bisa 50% bila disertai infeksi gabungan. Kerugian lain adalah terganggunya pencapaian berat badan, penurunan produksi telur (10-40%) dan peningkatan biaya pengobatan.
Gejala khas adalah muka bengkak, diam dan tidak mau makan karena bengkak dimuka akibat infeksi saluran pernapasan atas. Meskipun kematian yang disebabkan infeksi Coryza rendah tapi infeksi penyakit ini menurunkan aktivitas makan ayam yang menyebabkan meningkatnya angka morbiditas. Hadi menekankan, antisipasi paling awal adalah dengan vaksinasi Coryza dan penggunaan antibiotik tidak selamanya efektif sehinga diperlukan bantuan imunomodulator. Tak cukup hanya itu medikasi perlu juga diperlengkapi dengan pemberian multivitamin guna membantu pemulihan pasca sakit. Untuk itu Hadi memberikan konsep solusi 3-Si yaitu Sanitasi, Seleksi dan Medikasi.

Waspada Koli
Lain lagi dengan Kolibasilosis yang dikenal sebagai penyakit oportunis disebabkan oleh bakteri Escherechia coli galur patogen. Biasanya timbul akibat dari infeksi sekunder, karena ayam mengalami cekaman atau infeksi lain. Timbulnya kolibasilosis erat kaitannya dengan lingkungan kandang yang jorok. Selain itu patut dicermati bila satu kandang pernah terjangkit koli maka pada periode pemeliharaannya berikut harus diwaspadai munculnya infeksi ulangan meskipun kandang sudah disanitasi dan didesinfeksi total.
Bakteri jenis ini dapat menyebabkan penyakit primer pada ayam, tetapi dapat juga sekunder mengikuti penyakit lainnya, misalnya penyakit pernapasan dan pencernaan. Kolibasilosis di lapangan umumnya timbul akibat pengaruh imunosupresif dari Gumboro. Sementara sebagai penyakit ikutan (sekunder) Koli biasanya menyertai terjadinya kasus CRD (chronic respiratory disease), Coryza, SHS (swollen head syndrome), ILT (infectious laryngotracheitis) dan koksidiosis.
Ventilasi yang baik seperti lancarnya pertukaran oksigen keluar masuk kandang mampu meminimalisasi timbulnya kasus kolibasilosis. Kuman ini dapat ditemukan di dalam litter, pakan, debu, udara dan air. Penyemprotan kandang dengan desinfektan secara rutin mampu mengurangi jumlah E. coli.
Kualitas air harus dijaga “bersihnya” sejak mulai DOC masuk dalam kandang. Bisa dengan cara dimasak, dengan infra-red atau Chlorinasi rutin secara bertahap dan terprogram pada pullet dan ayam dewasa. Kualitas air penting karena kecuali air sehat memang dibutuhkan ayam, juga merupakan jalur utama yang potensial untuk terjadi infeksi E. coli. Jika kontrol kualitas air optimal, harusnya tidak ada lagi asumsi E. coli datang berkali-kali di tiap kandang.
Lebih jauh, untuk menyiasati kuman koli yang ada di pakan ternak paling tidak saluran pencernaan ayam itu harus dibersihkan selama 5-7 hari setiap bulan dengan pemberian antibiotik. Koli merupakan kuman normal dalam saluran pencernaan, namun begitu populasinya melampaui batas normal bisa menimbulkan patogen. Tidak ada jalan lain untuk mencegah munculnya koli perlu terus diupayakan kebersihan kandang sekaligus diperkuat dengan pemberian imunomodulator.

Jangan Lupakan Kolera
Terakhir adalah penyakit Kolera yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe A Carter atau tipe O grup 5 Namioka atau tipe 2 dan 4 Rober yang bersifat ganas atau kronis. Gejala kronis penyakit dengan nama keren Fowl Cholera itu adalah diare berair berwarna kuning coklat kehijauan, ayam sukar bernapas, jengger kebiruan dan leher sering dimasukkan ke badan. Angka kesakitan penularan sampai 50% dan kematian sampai 20%.
Kejadian Kolera sangat erat kaitannya dengan berbagai faktor stres, misalnya pergantian cuaca yangmendadak, fluktuasi temperatur dan kelembaban yang ekstrim, pindah kandang, potong paruh, perlakuan vaksinasi yang berlebihan pergantian pakan yang mendadak, dan serangan penyakit imunosupresif ataupun penyakit parasi. Di wilayah padat populasi Kolera biasa muncul saat musim kemarau panjang dan saat pergantian musim.
Pesan Hadi sebagai praktisi unggas berpengalaman dalam menghadapi tiga penyakit ini ayam harus selalu PRIMA dan SEHAT, artinya hasil vaksinasi dalam tubuh ayam harus optimal apakah vaksin oleh viral (ND, IB, AI, EDS) maupun vaksin oleh bakterial (Snot Coryza, Kolera). Penggunaan jenis vaksin harus tepat dan mengingat banyaknya program vaksin dan banyaknya penyakit yang menghambat pembentukan kekebalan, maka diperlukan bala bantuan Imunomodulator. Selalu dilaksanakan perlakuan seleksi ayam yang sakit dan tidak produktif dan jangan biosekuriti jangan ditinggalkan.
Sekali lagi Hadi mengingatkan agar peternak dalam penanganan penyakit mengutamakan 3-Si yaitu Sanitasi, Seleksi dan Medikasi. Lebih lanjut, “Sebaiknya peternak juga mendampingi dirinya dengan konsultan kesehatan ternak yang berpengalaman guna mendapatkan diagnosis yang tepat agar tidak salah dalam proses medikasi,” ujar Hadi. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template