Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi

Ir. Bambang Suharno

Wakil Pemimpin Umum/Usaha

Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA


Redaktur Pelaksana

Ir. Darmanung Siswantoro

Koordinator Peliputan

Ridwan Bayu Seto


Redaksi

Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)

Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)

Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)

Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)

Drh Heru Rachmadi (NTB)

Sadarman SPt (Riau)

Drh. Sry Deniati (Sulsel)

Drh. Joko Susilo (Lampung)

Drh Pututt Pantoyo (Sumatera Selatan)


Kontributor

Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,

Drh Dedy Kusmanagandi, MM,

Gani Haryanto,

Drh Ketut T. Sukata, MBA,

Drh Abadi Soetisna MSi

Drs Tony Unandar MS

Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Pemasaran :

Aliyus Maika Putra,


Staf Pemasaran

Mariyam Safitri.

Kabag Produksi & Sirkulasi

Yuliswar

Staf Produksi & Sirkulasi

M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi


Administrasi:

Nur Aidah,


Kabag Keuangan:

Eka Safitri


Staf Keuangan

Achmad Kohar


Alamat Redaksi:

Ruko Grand Pasar Minggu

Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A

Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520

Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408

e-mail:

Redaksi : majalah.infovet@gmail.com

Pemasaran : iklan.infovet@gmail.com


Rekening Bank a/n

PT Gallus Indonesia Utama

Bank MANDIRI Cab Ragunan,

No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I

No 733-0301681


Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan atau peternakan.

Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.

Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi. Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com


Followers

PRO KONTRA PEMAKAIAN PROBIOTIK

On 11:37:00 AM

SEBAGAI produk yang banyak memberikan janji menarik, memang harus dimaklumi jika melahirkan pro kontra. Probiotik yang pada umumnya mengandung sejumlah bakteri itu juga ada yang menyebut sebagai efektif microorganisme (EM), yaitu sejumlah mikroorganisme yang dapat didaya gunakan untuk kepentingan proses bio-produksi seperti pada tanaman dan ternak. Adapun kandungan mikroorganisme itu sangat beragam, mulai dari Lactobacillus sp, Azytobacter, Azospirillium, Actynomicetes, Strepmyces juga ada yang berisi bakteri Fotosintetik, Mycoryza, maupun ragi.

Menurut salah satu penggiat pemakaian probiotik dalam pertanian Prof Dr Teuro Higa dari Universitas Ryukyus Okinawa Jepang, pemakaian dalam industri pertanian makro akan mendorong efisiensi dan konservasi lingkungan. Sebagai kultur yang berisi campuran antara berbagai mikroorganisme, bekerja mendorong terciptanya lebih banyak lagi mikroorganisme dalam suatu medium. Jika itu tanaman, maka tanah akan kaya dengan mikroorganisme, sedangkan jika pada tambak akan merangsang plankton dan pada ternak akan membuat kaya mikroorganisme dalam sistem pencernaan.
Lepas dari uraian teoritis ilmiah, dalam aplikasi lapangan sejak awal di perunggasan Indonesia, telah melahirkan sikap dan pendapat yang berbeda. Dari kubu yang menyambut positip aplikasi produk itu, mengungkapkan bahwa hasil nyata telah diperoleh para peternak unggas. Justru menekan ongkos produksi dan mendongkrak produktivitas. Sedangkan dari kubu yang tidak sepaham, berdalih bahwa aplikasi probiotik hanya bersifat pemborosan dan sangat merugikan peternak, oleh karena itu sebaiknya pemerintah melalui instansi yang berwenang untuk segera menertibkan.
Adalah Drh Hari Wibowo sebagai peternak dan sekaligus Ketua APAYO berargumen bahwa dirinya sudah lebih dari 10 tahun menggunakan probiotik untuk ternaknya. Hasil nyata jelas, produktivitas naik dan ongkos produksi justru bisa ditekan. Dalam program pemeliharaan ayam-ayamnya, selalu harus memakai probiotik. Digunakan sebagai campuran air minum dan sesekali pernah diaplikasikan semprot pada pakan sebelum diberikan ke ayam.
“Selama lebih dari 10 tahun menggunakan probiotik, tidak pernah ada masalah dengan ayam peliharaannya. Masalah produktivitas memang relatif, namun yang jelas dari pengamatan saya hasil konversi pakan dan aspek kesehatan tetap lebih baik. Juga bau kotoran dapat ditekan, meski tidak bisa hilang sama sekali. Juga populasi perkembangbiakan lalat relatif terkendali,” ujarnya kepada Infovet di rumahnya. Pro kontra menurutnya adalah biasa, namun yang jelas selalu ia aplikasikan probiotik untuk ayam yang dikelolanya.
Sedangkan Drh Yusuf Emje Peef dan Drh Ardi Achmad Solikhin punya pendapat yang berbeda dengan Hari. Menurut Ardi, aplikasi probiotik pada peternakan ayam hanya buang-buang uang. “Logika apa yang bisa menjelaskan bahwa produk itu mampu mendongkrak produksi dan menekan efisiensi?,“ ujarnya dengan tegas dan yakin.
Sebab masih menurut Ardi, bahwa dasar logika sederhana jika aplikasi itu bisa menggenjot produktivitas, mengapa pihak feedmill atau industri pabrik pakan ternak tidak menerapkannya. Mestinya jika memang bisa menekan konsumsi pakan atau konversi pakan menjadi lebih baik, maka yang pertama berminat menerapkan adalah pihak feedmill. Selain itu probiotik hanya menambah ongkos produksi karena dengan program pemeilharaan ayam yang direkomendasikan pihak feedmill atau produsen obat hewan sudah menghasilkan produktivitas yang seperti diharapkan. Menggenjot produktivitas tidak bisa terlepas dari aspek tata laksana pemeliharaan atau manajemennya. Untuk itu sebagian besar peternak sudah paham bahwa hanya disiplin pemeliharaan akan menggenjot produktivitas dan efisiensi.
Sedangkan Yusuf yang bertahun tahun menggeluti manajemen pemeliharan kandang di kawasan Jabodetabek mengungkapkan hal yang senada dengan Ardi. Prinsipnya alokasi biaya produksi untuk probiotik hanya pemborosan, semestinya lebih tepat dialokasikan untuk kesejahteraan pekerja kandang agar lebih cermat dan tekun melakukan tugas pekerjaannya. Jika saja ongkos untuk probiotik sejak pemeliharaan sampai panen Rp 10/ekor, maka jika populasi 100.000 sudah terkumpul Rp 1 juta. Bagaimana jika populasi sampai 10 juta ekor maka nominal dana yang terkumpul untuk probiotik sangat fantastis.
Maka, menurutnya memang sudah sepantasnya pihak yang kompeten untuk turun tangan membenahi peredaran prduk itu agar tidak semakin merongrong keuntungan peternak.
Perihal klaim produsen probiotik yang mampu menyehatkan ayam, baik Ardi maupun Yusuf tidak bisa menerima jalan pikiran seperti itu. Oleh karena itu jika memang benar mampu menyehatkan ayam, sebenarnya tetap kuncinya pada aspek manajemen. Sehat ataupun sakit sebenarnya kombinasi antara manajemen dan interaksi lingkungan. Jika lingkungan menjadi buruk dan tidak kondusif untuk ayam, maka tidak ada upaya lain yang jitu kecuali menata manajemen pemeliharaan seperti yang disyaratkan.
Harus diakui dan tidak bisa dibantah, jelas Ardi, umumnya peternak mencari enaknya saja. Kurang memperhatikan dengan teliti manajemen, begitu ada sergapan penyakit kalang kabut dan mencari solusi sesaat. Namun sebenarnya tidak sedikit juga ada peternak yang cermat dan tekun serta disiplin dengan program pemeliharaan termasuk program kesehatannya. Kategori peternak demikian umumnya mampu berhasil dengan produktivitas dan efisiensi meski tanpa probiotik.
Oleh karena itu, dari pada membuang ongkos untuk probiotik menurut Ardi lebih baik menerapkan manajemen pemeliharaan dengan baik dan benar. Yusuf pun mengungkapkan hal serupa bahwa kuncinya di manajemen. Mencoba dan mencoba itu tugas para peneliti, maka jika peternak melakukan coba-coba berarti itu berhadapan dengan resiko. (iyo)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »