Wednesday, October 31, 2007

PETERNAK GUSAR DENGAN PILEK MENULAR

Dibandingkan dengan ND,CRD dan ILT memang Penyakit Pilek Menular (PPM) pada ayam ( Infectious Coryza) lebih menghantui para peternak. Dasar alasan mereka,oleh karena, selama ini program vaksinasi atau paling tepat disebut bacterinasi, lebih cenderung kurang sukses atau banyak mengalami kegagalannya dibandingkan tingkat keberhasilannya. Adalah Fajar Saelan seorang peternak layer yang berada di Krapyak Ngaglik Sleman mengungkapkan tentang hal itu.
”Kalau IB,ILT bahkan ND dan CRD kompleks menurut pengalaman saya PPM atau Snot justru lebih potensial menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Pada awal Juli yang lalu ayam kami kena. Selama hampir 1,5 minggu produksi langsung melorot dan pulihnya membutuhkan waktu tidak kurang dari 1,5 bulan. Padahal harga telur saat itu sedang baik” ujarnya kepada Infovet di kandangnya.
Memang tingkat kematian tidak sebanyak ND atau Gumboro, namun justru dengan cepatnya penyakit itu menjalar ke flok yang lain itu dan juga kemerosotan produksi secara pelahan, maka jauh lebih merugikan. Menurut Fajar, yang jebolan dari sebuah Akademi Komputer itu, bahwa ia tidak membayangkan jika populasi yang ada mencapai ratusan ribu ekor itu terserang PPM, maka tentu akan memukul telak nasib peternak.
Sudah terlalu sering dia melakukan protes dan komplain ke TS pemasar vaksin, namun sayang jawabannya menurut Fajar sangat normatif sekali. Umumnya jawaban dari sang petugas kesehatan lapangan, bahwa kemampuan memberikan proteksi dengan vaksinasi pada PPM tidak pernah bisa mencapai tingkat optimum. Jika jawabannya begitu, maka ia mencoba menyanggah bagaimana jika tidak usah di vaksin saja? Namun akhirnya ia sendiri menjadi ragu dan ketakutan sendiri jika tidak melakukan vaksinasi terhadap PPM.
Menurut penuturannya, bahwa selama lebih dari 8 tahun menjadi peternak ayam petelur, memang relatif sangat jarang penyakit itu datang menyerang. Paling sering adalah ND, Gumboro, CRD kompleks, Koli. Meski demikian, menurutnya PPM adalah yang sangat sulit diatasi jika sudah menyerang dalam sebuah kandang. Tingkat keberhasilan penyembuhan secara cepat, relatif lebih jarang terjadi. Jika kondisinya demikian, maka tentu saja sangat merugikan, terlebih ketika harga telur sedang baik.
Untuk itu ia mencoba berupaya dengan caranya sendiri agar penyakit pilek menular tidak sesering merecoki ayamnya. Saran dan rekomendasi akan kebersihan dan sanitasi kandang maupun lingkungan selalu ia jalankan secara ketat dan terjadwal. Tidak lupa juga berbagai aneka vitamin yang bertujuan untuk mendongkrak produksi maupun untuk menjaga dan mempertahankan kondisi kesehatan ayam selalu ia berikan. Bahkan ketika kondisi seperti saat ini, dimana suhu lingkungan yang sangat tinggi atau panas sekali, maka frekuensi pemberian lebih sering dan tidak sampai lupa. ”Kawasan kandang kami khan sebenarnya berada di daerah yang tinggi dan cukup sejuk, namun dalam beberapa bulan terakhir ini (maksudnya Juni-Nopember 2006) suhu lingkungan tinggi dan terasa gerah sekali. Sehingga saya tidak akan melalaikan pemberian vitamin agar ayam sehat. Namun toh kenyataannya penyakit yang menjadi momok itu datang juga” ujarnya panjang lebar. ”Itu namanya memang nasib dan belum menjadi rejeki saya” tambah Fajar.
Ketika ditanyakan, bagaimana jika kemudian datang penyakit lain yang nimbrung pada saat sedang terserang penyakit. Menurutnya, memang hal itu pernah dialami, namun beruntung pada saat itu justru keadaan tidak menjadi parah dan malah cepat bisa diatasi. Saat itu disamping pemberian obat untuk terapi atas penyakit yang pertama datang, maka ia juga tidak lupa terus memberikan multivitamin dengan dosis dan frekuensi yang meningkat. Atas info dan saran dari para peternak yang lain, bahwa masalah pemberian multivitamin untuk menjaga kondisi kesehatan ayam harus mutlak diperhatikan, disamping penyemprotan dengan desinfectans yang dilakukan setiap 4-5 hari sekali. Ketika wabah flu burung datang, dan banyak peternak yang mengeluhkan kemerosotan produksi pasca vaksinasi, kandangnya juga mengalami hal serupa, namun syukurlah menurut Fajar tingkat penurunan itu relatif tidak berarti. Ia mendengar kabar dari peternak lain bahwa ada yang mengalami kemerosotan sampai 30-40%.
Mengenai upaya apa saja selain kebersihan kandang dan pemberian multivitamin, Fajar menjelaskan bahwa program vaksinasi sejak ayam kecil sampai sedang produksi selalu ia perhatikan dan tidak pernah dilewatkan. Menurutnya memang ada banyak peternak yang berani melanggar prgram baku vaksinasi, namun toh yang selamat jauh lebih sedikti dibanding yang akhirnya bermasalah. ” Saya dengan latar belakang pendidikan bukan dari disiplin ilmu peternakan, mencoba lebih percaya dengan program baku yang direkomendasikan para TS. Oleh karena itu saya tidak berani main-main. Terlebih usaha ini menjadi sandaran hidup kami sekeluarga. Juga yang lebih penting adalah bahwa modal untuk usaha ini menurut pribadi saya tidak kecil, jadi saya tidak mau berjudi” tuturnya dengan mantap.
Seberapa pentingnya aneka program vaksinasi bagi ayamnya, menurut Fajar sangat-sangat penting dan sebuah keharusan. Usaha yang baik adalah jika menuruti aturan baku dan taat penuh serta selalu mencari upaya lain yang baru serta mencari informasi dari sesama peternak. Menurutnya vaksinasi pada usaha ayam adalah sebuah kebutuhan, maka jika ingin meraih selamat dan keberhasilan hal itu harus diperhatikan(iyo).

Drh Anom Muntilana, Kepala Bagian Produksi Metaram PS Yogyakarta mengutarakan bahwa ada beberapa penyakit pernafasan pada ayam potong yang harus diperhatikan oleh para peternak yaitu CRD, Gumboro, ND dan Snot/PPM. Dari keempat jenis penyakit itu, menurut Anom memang PPM termasuk jenis penyakit yang paling menjengkelkan. Hal itu oleh karena sifat serangannya yang sangat cepat sekali menjalar ke ayam lain meski tidak banyak membawa dampak kematian. Justru dengan banyaknya ayam yang sakit itulah yang membuat repot peternak. ”Sebagai orang yang lebih banyak terjun di lapangan, maka ketika dalam satu kandang banyak ayam yang sakit, membuat lelah pikiran, loyo dan mengurangi semangat kerja. Beban moral langsung dihadapan peternak akhirnya telah membuat saya menjadi kehabisan kata-kata lagi untuk menjelaskan sebab dan akibat serangan PPM iu” ujarnya dengan polos.
Serangan PPM menurut Anom, umumnya datang pada sekitar umur 20 hari keatas. Namun jika menyerang yang sudah mendekati usia panen, maka hal itulah yang telah membuat loyo dan seolah mematahkan semangat kerja. Bagaimana tidak loyo jika sebentar lagi akan dipanen tetapi ayam-ayamnya sakit, maka tentu membuat bagian pemasaran semakin pusing. Bukan saja karena menjadi tingginya angka kematian saat pengangkutan, akan tetapi dari aspek harga menjadi lebih rendah daripada harga pasar, karena harus diprioritaskan dilempar ke pasar terlebih dahulu.
Hasil pengamatannya di lapangan selama ini bahwa kasus PPM terjadi oleh karena banyak faktor yang melingkupinya. Jika type peternak yang sangat perhatian akan kesehatan dan kebersihan lingkungan maka relatif jarang mengalami gangguan kasus penyakit itu. Dalam satu siklus pemeliharaan ayam petelur bisa lolos alias tidak terganggu penyakit itu. Namun jika type peternaknya kurang begitu memperhatikan, maka dalam satu siklus sampai afkir bisa terjadi 2-4 kali serangan penyakit itu. Sedangkan pada ayam potong, disamping type peternak juga oleh karena faktor musim serta kualitas DOC. Pada peternak ayam potong yang intens memelihara maka dapat lolos dari sergapan penyakit itu meski dalam jangka waktu pemeliharaan 1 tahun (3-4 periode). Namun jika kualitas DOC yang kurang baik, paling-paling hanya sekali muncul gangguan penyakit itu. Sedangkan pada peternak yang serampangan, dalam 1 tahun bisa 2-3 kali direcoki PPM.
Faktor musim, menurut Anom juga sangat besar peranannya untuk munculnya gangguan kesehatan karena PPM. Jika pada pergantian musim yang tidak bersahabat seperti sekarang ini yang sangat panas sekali, sudah dalam jangka waktu hampir 3-4 bulan terakhir ini (september-nopember 2006), maka prevalensinya juga meningkat. Namun atas dasar pengalamannya kejadian serangan PPM meningkat sangat signifikan saat musim penghujan. Barangkali saja karena angka kelembabaan yang tinggi dan kebersihan kandang kurang terjaga. ”Ini hanya atas dasar pengalaman saya, bahwa kasus PPM meningkat secara siginifikan pada saat musim penghujan. Saya menduga barangkali kebersihan kandang menjadi terabaikan meski itu pada type peternak yang intens memperhatikan kebersihan. Atau barangkali kadar amoniak yang meningkat dengan tajam oleh karena sirkulasi udara yang kurang lancar saat musim penghujan itu. Itu hanya sebuah perkiraan saya semata”ujar Anom.
Menurut Anom, disamping aspek kebersihan kandang dan lingkungan, maka tuntutan kualitas DOC pada ayam potong memang harus diperhatikan sekali. Beberapa waktu terakhir ini kualitas DOC yang beredar di pasar memang sangat memprihatinkan sekali. Oleh karena itu, tidak ada upaya lain selain para peternak harus meningkatkan keseriusannya agar tidak menyesal. Pemberian multivitamin memang perlu, namun menurutnya yang jauh lebih perlu adalah tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dan langkah penyemprotan desinfectan yang terjadwal harus dilakukan (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template