Wednesday, October 31, 2007

Perunggasan 2007 di Mata Peternak “Meski Suram tetap Ada Harapan”

Kondisi perunggasan tahun 2007 ini masih tidak akan jauh berbeda dengan kondisi tahun 2006 yang lalu. Dapat dipastikan awal tahun 2007 situasinya masih berat dan bahkan bisa membawa korban peternak pada kebangkrutan.
Demikian Drh Zahrul Anam seorang praktisi perunggasan dari Yogyakarta mengungkapkan prediksinya. Indikator yang menjadi argumen Zahrul adalah kenaikan harga pakan yang terus menjadi faktor terbesar dalam menekan gerak laju perkembangan.
Meski kegagalan panen jagung dan beras tidak separah tahun 2005 namun hasil panen komoditi pertanian itu pada tahun 2006 belum mampu memberikan kontribusi nyata bahwa ada jaminan harga pakan tidak naik.
Jika beberapa waktu yang lalu ada faktor nilai tukar rupiah yang labil dan menjadi penyebab naiknya harga pakan, maka selama 3-4 tahun terakhir ini justru harga komoditi itu di pasaran internasional yang cenderung fluktuatif, naik turun.
Jika melihat perjalanan perunggasan domestik tahun 2006, dimana pada awal tahunnya juga kurang menggembirakan, namun syukurlah pada semester kedua tahun itu, justru telah mampu memberikan sinar terang kepada para peternak.
Sayang memang, menurut Zahrul kemudian menjelang akhir tahun badai kecil menghempaskan para peternak.
”Problema harga jual hasil produksi awal dan akhir tahun 2006 telah menggoyahkan sendi-sendi kemapanan pelaku usaha perunggasan. Kemudian pada akhir tahun 2006 diterpa kelangkaan dan menjulangnya harga DOC maupun pakan,” ujar Zahrul.
“Saya pribadi memperkirakan situasi berat ini masih akan terus berlanjut sampai pada kuartal pertama tahun 2007. Dan jika ada kondisi yang menggembirakan hampir pasti setelah kuartal pertama,” lanjutnya.
Sebenarnya pada tahun 2006 kemarin, situasi dan kondisi yang membuat peternak bisa bernafas lega berlangsung berlangsung cukup lama yaitu 6,5 bulan. Sebuah periode yang bisa membantu para peternak memperkuat struktur permodalan dan berekspansi.
Namun menurut Zahrul waktu yang relatif lama itu, di samping mampu mendorong ekspansi usaha juga memperkokoh. Hanya sayang hambatan kembali muncul dengan faktor internal perunggasan seperti diungkapkan dimuka yaitu kelangkaan DOC dan naiknya harga pakan.
Maka jika saja tahun 2007 ini masalah klasik itu bisa diatasi oleh semua pelaku usaha, sudah pasti akan membuat cerah dunia usaha perunggasan Indonesia.

Mirip dengan 2006
Menengok perjalanan dunia perunggasan Indonesia tahun 2006 yang lalu meski tidak begitu menggembirakan, namun juga tidak seburuk yang selama ini dikhawatirkan.
Kala itu, awal tahun 2006 memang terasa berat sekali situasi perunggasan. Bukan saja harga jual hasil produksi (telor maupun daging) yang nyaris menggerogoti kantong peternak alias hanya mendekati titik impas, akan tetapi juga faktor eksternal lain yang lebih memperparah kondisinya.
Di sisi internal perunggasan tahun lalu, harga DOC belum meroket seperti yang terjadi menjelang akhir tahun 2006. Namun, aspek kualitas DOC yang performansnya di bawah standar dan harga pakan yang nyaris bergejolak untuk terus naik, membuat ‘pening’ para peternak.
Panen ayam potong kurang berhasil meski sebenarnya harga jual sedikit diatas titik impas. Ternyata, hanya mampu membuat peternak dalam situasi bertahan. Baru menjelang pertengahan akhir tahun 2006 tepatnya awal bulan Mei, harga daging dan telor ayam mulai memperlihatkan tanda-tanda yang melegakan peternak.
Kala itu peternak bisa bernafas lepas oleh karena ada sisa keuntungan yang bisa digunakan untuk menguatkan modal dan juga dinvestasikan dalam bentuk lain. Namun sayang menjelang penghujung akhir tahun 2006, harga DOC langka lalu meroket dan diperberat dengan kenaikan harga pakan yang terjadi beberapa kali.
Bahkan kemudian diperparah dengan anjlognya harga daging dan telor. Sangat berbeda dengan tahun 2005 yang mana fakror eksternal berupa kenaikan harga BBM yang sangat memukul daya beli masayarakat, maka tahun 2006 justru faktor internal yang paling dominan menjadi lambannya gerak dunia usaha perunggasan.

Optimis
Tentang prospek dunia usaha perunggasan pada tahun 2007, ”Seorang pelaku usaha harus selalu optimistis dengan yang digelutinya. Rasa percaya diri itu perlu dipupuk untuk memperkuat semangat dan menaruh harapan,” ujar Ir Danang Purwantoro, yang juga seorang praktisi perunggasan di Yogyakarta mencoba optimis.
“Rasa Pesimis harus dibuang jauh-jauh dan setiap masalah bukanlah sebuah rintangan apalagi sebagai hambatan. Karena justru hal itu sebagai sebuah tantangan yang harus segera diupayakan solusinya,” jelas Danang dengan penuh semangat.
Danang mecoba melihat tahun 2007 ini sebagai harapan baru untuk maju dan terus berkembang. Keyakinan dan kepercayaan itu didasarkan oleh situasi makro ekonomi dan sosial politik domestik. Secara kasat nyata, sudah jelas bahwa saat ini roda perekonomian Indonesia sudah bergerak nyata, terutama jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.
Contoh nyata, bunga kredit perbankan sudah mulai turun dan pelaku usaha lain sangat antusias bergerak. Meski masih ada yang menghambat lanjut Danang yaitu ledakan angkatan kerja, syukurlah iklim sosial politik sudah sangat kondusif. Jika ada kendala dan penghambat bergeraknya dunia perunggasan menurut ayah 1 (satu) anak yang asli Wonogiri Jawa Tengah ini, adalah kebijakan perpajakan.
Rencana Pajak Pertambahan Nilai Rumah Potong Ayam (PPN RPA) adalah salah satu yang sempat merisaukan pelaku usaha perunggasan.
Jika saja rencana itu akan tetap diberlakukan secara efektif maka sudah pasti akan kembali memukul dunia perunggasan. Namun, ia yakin bahwa implementasi PPN itu pasti akan dipertimbangkan secara matang oleh pihak pemerintah dan DPR. Sebab kebijakan itu sangat kontraproduktif dan justru akan menganggu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
”Saya yakin esktensifikasi pajak oleh pemerintah di sektor perunggasan tidak akan diberlakukan, sebab dampak negatif lebih banyak dibanding manfaatnya. Namun yang lebih penting adalah kerja keras dan kesungguhan pelaku usaha perunggasan itu sendiri dalam memecahkan masalah internalnya seperti pasokan DOC yang memadai dan berkualitas serta harga pakan pada skala ekonomis yang pas,” ujarnya.
Lebih lanjut menurut Danang, jika harga pakan terus merangkak naik, maka sebenarnya tidak saja memukul para peternak, namun juga akan efeknya pada pihak produsen itu sendiri. Maka memang harga yang ideal dan pas dari sudut keekonomian pakan, akan mampu memacu berkembangnya perunggasan Indonesia.
Secara umum baik Danang maupun Zahrul berpendapat bahwa prospek dunia usaha perunggasan Indonesia tetap ada harapan. Bahkan akan mampu mencapai pertumbuhan spektakuler jika ada kebijakan pemerintah yang nyata dalam mendukung bergeraknya roda usaha perunggasan secara komprehensif. Kita tunggu dan lihat saja. (Untung Satriyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template