Tuesday, October 16, 2007

KLAIM PEMAKAIAN PROBIOTIK

Probiotik itulah nama yang sangat lekat sekali dengan banyak peternak ayam komersial. Di kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sampai tahun 2007 ini menurut catatan Infovet, ada sekitar 25 merk yang beredar di pasar. Memang sebuah jumlah yang sangat fantastis jika dikaitkan dengan area yang tidak terlalu banyak populasi ayam komersialnya, terutama jika dibandingkan dengan Jabar atau Jatim, namun kenyataannya semua merk itu masih eksis sampai saat ini. Lepas apakah produk probiotik itu telah beregister dan mendaftarkan di Departemen Pertanian atau belum, namun memang itu sebuah fenomena keberadaan dan pemasaran produk biologik yang paling banyak mengajukan klaim sebagai produk hebat.
Apakah benar produk itu benar-benar berpotensi hebat dan secara signifikan meningkatkan dan memperbaiki performans produksi ayam komersial, memang butuh pengujian laboratoris oleh pihak yang kompeten. Hanya yang jelas, seperti telah diuraikan di atas produk itu telah menarik minat banyak peternak untuk mengaplikasikannya. Bukti empiris dari para peternak selalu menjadi testimoni atau kesaksian yang semakin mengharu-birukan pemasaran produk “hebat” itu dan meski tidak menggeser produk farmasetik dan berbahan baku dasar kemikalia secara nyata.
Lalu jika demikian, apakah tidak menjadi lebih mahal atau mendongkrak ongkos produksi dalam sebuah budidaya perunggasan? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk ditemukan jawabannya, karena sekali lagi fakta produk itu masih begitu digandrungi oleh para peternak. Oleh karena itu memang harus ada langkah dari pihak berwenang untuk lebih tegas menata ulang pemasaran produk yang dikhawatirkan akan merugikan peternakan secara umum, karena aplikasinya tidak terbatas di perunggasan saja akan tetapi juga di ruminansia.
Pada umumnya selalu produk itu mengklaim sebagai produk yang mencoba kembali ke alam (back to nature), aman bagi hewan maupun manusia dan ramah lingkungan serta mampu menggenjot produktifitas dan efisiensi. Kata Produktifitas dan Efisiensi memang sangat dikejar oleh semua peternak apapun, khususnya peternak unggas komersial yang terus dihimpit lonjakan biaya produksi dan tekanan harga jual hasil produksi.

Berikut ini rangkuman klaim dari berbagai merk produk probiotik yang memang menggiurkan dan mampu menarik perhatian para peternak unggas untuk mencoba dan mencoba.
1. Menggenjot produktiftas 20 - 35% jika memakai probiotik. Menurut leaflet dan informasi pada labelnya, bahwa dengan pemakaian probiotik akan meningkatkan daya cerna dan efisiensi penyerapan nutrien pakan dalam sistem pencernaan ternak. Sehingga nyaris tidak ada dari volume pakan yang masuk dibuang percuma, alias diperas sampai habis hanya tertinggal ampas saja, dengan bantuan asupan probiotik itu. Dengan demikian maka tentu saja konversi pakan akan selalu baik dan logikanya produktifitas akan terdongkrak. Benarkah hal itu..?? Namun yang jelas, hampir semua peternak pernah mencoba menerapkannya, karena sifat para peternak Indonesia yang sangat lekat dengan coba-coba. Sifat dan karakter itu muncul oleh karena seperti diuraikan di atas yaitu lonjakan biaya produksi yang terus terjadi dan di lain pihak harga jual hasil produksi yang fluktuatif dengan kecenderungan terus merosot. Lepas apakah kemudian, para peternak itu selanjutnya memakai lagi, memang sangat sulit dimonitor.
2. Sehat. Karena hampir semua peternak mendambakan perolehan selisih alias keuntungan, maka sehat menjadi dambaan sekali. Meski program kesehatan yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan obat hewan dengan disiplin sudah diterapkan namun memang pada kenyataannya masih saja sergapan penyakit sering datang. Seolah muncul ketidak percayaan diri dari program itu. Keraguan itu menjadi sebuah kebimbangan besar dan akhirnya begitu ada tawaran iming-iming dari produsen probiotik secepat kilat disambar untuk menerapkan program kesehatan tawaran yang baru itu. Memang problema di perunggasan sangat kompleks, termasuk aspek kesehatannya, sehingga tidak bisa disalahkan jika para peternak yang kurang cerdas gampang sekali terombang ambing. Adapun klaim produsen, bahwa aplikasi probiotik dapat membuat program vaksinasi mencapai cakupan lebih dari 90%. Sebab menurutnya pada saat divaksinasi ayam kesehatannya sudah prima. Probiotik diklaim mampu mengaktifkan dan merangsang seluruh sistem kekebalan, sehingga mampu merespon secara optimal saat vaksinasi dilakukan. Selain itu seluruh sistem kekebalan dan pertahanan tubuh diaktifkan, menurut klaimnya infeksi apapun akan direspon dengan segera oleh tubuh berkat aplikasi probiotik itu.
3. Aman , begitulah klaimnya. Tidak memberikan efek samping apapun jika digunakan dengan dosis tinggi sekalipun. Konon, karena produknya berasal dari alam yang tidak menggunakan bahan kimia sedikitpun, maka tidak melahirkan dampak buruk bagi ayam, manusia yang mengkonsumsi dan alam/lingkungan. Bahkan ada yang memberikan sebuah kesaksian dari peternak yang produknya bisa menembus ekspor, karena tiadanya kandungan residu antibiotik karena secara penuh memakai probiotik Padahal seperti kita ketahui apakah ada peternak yang melakukan ekspor langsung tanpa melalui eksportir....? Juga ada klaim bahwa aplikasi probiotik mampu mengecilkan ukuran sel otot dan melebarkan ruang antar sel, sehingga daging menjadi lebih empuk dan rendah lemak yang jahat juga kolesterol. Khusus klaim ini disertai foto berwarna histologi pada brosurnya dari pemeriksaan Laboratorium Histologi FKH UGM Yogyakarta. Sebuah klaim yang mencengangkan tetapi patut diragukan.
4. Kotoran tidak bau. Inilah salah satu klaim yang juga mencuri perhatian peternak. Sebab sejak dahulu, problema bau kotoran ini sering memicu ketidakserasian dengan lingkungan sekitar. Terlebih pada saat sekarang ini, masalah bau dari kandang peternakan komersial menjadi masalah yang sangat sensitif sekali. Di Solo dan Yogyakarta contohnya, Bupati harus turun tangan untuk menenangkan massa yang akan membakar kandang ayam. Menurut klaim produk probiotik ini, mampu menghilangkan timbulnya bau sampai 0%. Dasar argumen yang dipaparkan adalah optimalisasi pencernaan makanan di dalam tubuh ayam sehingga kotoran yang dihasilkan tidak mengandung bahan-bahan yang sering menjadi sumber bau seperti protein, lemak. Probiotik, konon mampu mengefisienkan proses pencernaan sehingga kotoran yang keluar tinggal ampas saja dan kering yang nyaris tidak melahirkan bau.
5. Mampu mengendalikan lalat. Sebuah klaim yang terkait erat dengan hilangnya bau. Menurut klaimnya bahwa dengan rendahnya kandungan nutrien yang akan memicu bau dan juga kotoran yang kering, maka lalat tidak akan mampu berbiak secara cepat dan banyak di kotoran itu. Harus diakui dan Infovet menyaksikan sendiri bahwa aplikasi probiotik memang mampu menurunkan kandungan air dalam kotoran, sehingga logis jika populasi lalat menjadi berkurang.
6. Menjaga pH di dalam sistem pencernaan. Klaim produk ini bahwa potensi menjaga pH dalam sistem pencernaan, disamping akan mendongkrak konversi pakan juga akan merangsang berfungsinya beberepa enzim pencernaan sehingga akan menekan kasus penyakit Koli, Salmonella sp dan Pasteurella sp.
7. Menekan bakteri patogen dalam air minum. Klaim produk ini adalah mampu menekan bakteri patogen dalam air minum yaitu dengan menciptakan lingkungan dalam air minum menjadi kurang kondusif untuk berkembangnya bakteri patogen.

Beberapa klaim diatas memang patut di tindak lanjuti oleh pihak yang kompeten karena, umumnya produk Probiotik yang sudah beregister dalam brosur dan labelnya tidak pernah mengklaim seperti itu. Sedangkan lebih banyak produk yang tidak register dengan gagah berani mengklaim dan mempublikasikan kehebatan dan khasiatnya. Memang terlalu banyak pekerjaan rumah dalam industri peternakan ayam di Indonesia. (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template