Wednesday, October 31, 2007

Kilas Balik Perunggasan 2006 dan Prakiraan Situasi 2007

Dari sudut pandang penyakit ternak khususnya unggas, kejadian penyakit ayam pada tahun 2006 masih didominasi oleh kekhawatiran peternak akan merebaknya kembali kasus Avian Influenza (AI), walaupun secara umum penyakit Avian Influenza boleh dikatakan sudah lebih terkontrol. Problem yang cukup dominan terjadi pada peternakan ayam di tahun 2006, berupa gangguan produksi baik pada layer komersial maupun breeder. Dari beberapa kasus gangguan produksi pada ayam layer komersial, salah satu penyebabnya diduga karena penyakit Avian Influenza yang bersifat subklinis, disamping juga oleh karena masih lemahnya praktek manajemen dan perhatian peternak terhadap beberapa aspek penting dalam manajemen pemeliharaan ayamnya.
Masalah penting lain yang dihadapi oleh industri peternakan di Indonesia pada tahun 2006 adalah harga pakan yang cenderung tinggi sehubungan dengan meningkatnya harga bahan baku pakan asal import dan juga harga dedak/katul serta jagung yang juga relatif lebih mahal dibandingkan tahun 2005. Harga bahan baku/pakan yang tinggi, mempengaruhi berbagai aspek manajemen peternakan. Dimana menghadapi kondisi tersebut, peternak sering kali melakukan penghematan biaya vaksinasi dan program kesehatan, sehingga manajemen pengendalian penyakit menjadi suboptimal dan yang terjadi malah semakin meningkatnya kejadian infeksi penyakit dilapangan..
Disamping meningkatnya biaya produksi, tahun 2006 juga diwarnai adanya sedikit penurunan suplai DOC broiler, dimana harga DOCnya sempat dirasakan cukup memberatkan, hanya saja peternak masih cukup terbantu oleh harga pronak yang relatif baik sampai bulan Oktober 2006, walaupun harganya sempat cukup jatuh terutama diakhir tahun 2006, diduga karena faktor iklan waspada flu burung pada manusia dan juga karena menurunnya daya beli masyarakat, sebagai dampak kekeringan yang cukup panjang dan adanya gagal panen pada sejumlah daerah sentra penghasil padi.
Dari segi pelaksanaan biosekuriti pada peternakan ayam di tahun 2006, karena dirasakan oleh peternak bahwa penyakit AI sudah lebih terkontrol, biosekuritinya mulai melemah, kembali pada pola sebelum adanya wabah AI, terutama pada peternakan ayam komersial layer maupun broiler. Sehingga kejadian beberapa penyakit infeksius mengalami peningkatan, seperti ND, kebocoran vaksinasi Gumboro, Swollen Head Syndrome serta Coryza.

Penyakit dominan tahun 2006

Tidak berbeda jauh dengan pola dan kejadian penyakit pada tahun-tahun sebelumnya, penyakit yang masih cukup dominan dan selalu menjadi masalah di peternakan ayam pada tahun 2006, diantaranya ; CRD, Kolibasilosis, Coryza, Kholera, Koksidiosis, Gumboro, ND dan SHS dan gangguan produksi pada ayam petelur, yang disinyalir terkait dengan kualitas pakan dan beberapa dilaporkan adanya dugaan AI subklinis.
Dari pengamatan di lapangan, kejadian penyakit yang cukup dominan dan selalu menjadi masalah dipertanakan tersebut, sangat erat hubungannya dengan berbagai faktor manajemen, diantaranya :
1. Sistem perkandangan, seperti ; tingkat kepadatan ayam, kelembaban litter kandang dan kurang baiknya sirkulasi udara dalam kandang.

2. Kondisi iklim, dimana temperatur dan kelembaban yang cenderung berfluktuatif. Cuaca panas yang berkepanjangan, merupakan faktor pendukung timbulnya penyakit yang erat kaitannya dengan stres, seperti Coryza dan SHS serta penyakit pernafasan lainnya.

3. Umur ayam sangat bervariasi dalam satu lokasi, merupakan faktor pendukung tingginya tantangan agen penyakit. Seperti pada pemeliharaan ayam pedaging, dengan sistem banyak umur dalam satu lokasi peternakan,sangat mendukung pada meningkatnya tantangan virus Gumboro lapangan, sehingga dapat memicu terjadinya kasus kebocoran vaksinasi terhadap Gumboro.

4. Kualitas pakan yang bervariasi. Meningkatnya harga bahan baku pakan, dan sulitnya peternak mendapatkaan tepung ikan dan tepung daging yang berkualitas, membuat peternak menggunakan bahan baku lain, seperti bungkil kedele sebagai sumber protein alternatif, sehingga mempengaruhi kualitas nutrisi yang mampu dicerna dan diperoleh ayam, sehingga sedikit menyebabkan adanya gangguan produksi, terutama pada ayam layer komersial.

5. Kualitas air yang dibawah standar, terutama karena cemaran kuman pathogen yang cukup tinggi, merupakan sumber pendukung kejadian berbagai penyakit pencernaan, seperti kasus Kolibasilosis, baik pada broiler maupun layer komersial.

6. Kepadatan peternakan ayam yang cenderung tinggi pada satu kawasan, menyebabkaan resiko penularan penyakit dari satu lokasi ke lokasi lainnya, sulit lagi bisa dihindarkan.

7. Sistem pemasaran pronak (ayam dan telur), seperti pada sistem pemasaran ayam pedaging atau ayam afkir, dimana kendaraan dan keranjang pengangkut dari pedagang ayam yang langsung masuk ke lokasi peternakan tanpa perlakuan khusus (sanitasi dan disinfeksi), sangat beresiko pada terjadinya penularan penyakit dari satu lokasi ke lokasi peternakan lainnya.

8. Pencemaran mikotoksin pada bahan baku pakan, terutama jagung, cenderung masih cukup tinggi, akibat kurang baiknya penanganan pasca panen. Kandungan mikotoksin dalam pakan pada level yang cukup tinggi, salah satunya dapat menyebabkan kelainan fungsi sistem kekebalan, sehingga ayam menjadi lebih sensitif terhadap infeksi penyakit.

Prakiraan situasi perunggasan tahun 2007

Pada tahun 2007, usaha di bidang perunggasan akan semakin kompetitif dan kompleks, dengan tingkat pertumbuhan diperkirakan mencapai 9 - 10%, walaupun masih diwarnai oleh adanya issue flu burung pada manusia yang sudah mengglobal dan masih tingginya harga beberapa bahan baku pakan utama, sehingga masih diperkirakan dapat mempengaruhi harga pronak.
Kejadian penyakit diperkirakan akan banyak dipengaruhi oleh kejadian penyakit ayam pada tahun 2006, didukung juga oleh kondisi iklim, praktek manajemen peternakan, dan harga sarana produksi peternakan, seperti masih cukup tingginya harga pakan dan berfluktuasinya harga pronak selama tahun 2007.
Kasus penyakit bakterial seperti ; Kolibasilosis, CRD dan CRD Kompleks, Coryza dan Kholera, diperkirakan masih cukup dominan terjadi di lapangan. Kejadian mikotoksikosis cenderung tinggi pada saat musim hujan. Infeksi klostridium, terutama dalam bentuk enteritis nekrotikan (NE) cenderung tetap tinggi kejadiannya selama tahun 2007.
Penyakit viral yang masih cukup dominan dapat terjadi di lapangan, terutama pada ayam pedaging maupun layer, diantaranya ; Gumboro, ND dan SHS. Untuk Avian Influenza sendiri, diperkirakan masih menjadi ancaman tetap, hal ini dikarenakan beragamnya kualitas vaksin AI yang dipergunakan peternak serta beragamnya kualitas praktek manajemen dan biosekuriti yang diterapkan di lapangan.
Kejadian gangguan pertumbuhan, berupa kekerdilan dan lambat tumbuh masih ditemukan pada ayam pedaging maupun petelur, dengan frekuensi dan derajat keparahannya lebih tinggi terjadi pada ayam pedaging. Gangguan pertumbuhan tersebut masih sulit untuk ditanggulangi secara tuntas oleh karena penyebabnya bersifat kompleks dan multifaktorial, seperti dapat disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri, intoksikasi oleh mikotoksin (cemaran mikotoksin pada pakan), serta faktor manajemen pada tingkat breeding farm maupun peternakan komersial.
Pada tahun 2007, gangguan produksi pada ayam petelur, selain karena adanya infeksi penyakit, baik penyakit yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan kelainan pada organ reproduksi, juga gangguan oleh penyebab yang sulit untuk ditentukan secara pasti dan cenderung bersifat multifaktorial.

Mencegah kerugian karena wabah penyakit dan gangguan produksi

Masalah ancaman penyakit dan gangguan produksi karena penyebab yang bersifat komplek, dapat diantisipasi dan dicegah resiko kerugian yang dapat ditimbulkannya, dengan menerapkan praktek manajemen secara optimal pada semua aspek manajemen pemeliharaan ayam dan dibarengi dengan biosekuriti serta penerapan program kesehatan dan vaksinasi secara terpadu dan komprehensif. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dan dilakukan:

1. Membatasi dan mengontrol secara ketat lalu lintas orang yang keluar masuk farm atau kandang ayam, agar tidak menularkan penyakit dari satu lokasi peternakan/kandang ke lokasi peternakan/kandang yang lainnya.

2. Membatasi dan mengontrol dengan baik lalu lintas ternak dan sarana peternakan lainnya, serta kendaraan pengangkut hasil ternak/limbah tanpa perlakuan, sanitasi dan disinfeksi yang ketat diijinkan masuk dan keluar lokasi peternakan.

3. Mengupayakan senantiasa agar daya dukung lingkungan dalam kandang nyaman untuk ayam dan pekerja kandang, dengan secara rutin mengeluarkan kotoran ayam dari dalam kandang (untuk kandang battery), atau secara rutin mengganti litter kandang (untuk kandang postal). Karena pencemaran ammonia dan gas beracun lain yang bersumber dari kotoran ayam, berpotensial dapat memicu dan sekaligus menyebabkan gangguan pertumbuhan dan produksi pada ayam serta mengganggu kinerja dari pekerja kandang.

4. Melakukan biosekuriti, terutama praktek sanitasi yang baik dan disinfeksi secara ketat dengan jenis disinfektan yang punya efektifitas tinggi untuk membunuh agen penyakit, sangat membantu upaya kontrol tingkat keganasan berbagai agen penyakit di lapangan.

5. Menerapkan program kesehatan dan vaksinasi secara terpadu juga merupakan salah satu cara untuk mencegah timbulnya wabah penyakit yang disebabkan oleh agen infeksius pada ayam. Vaksinasi terhadap sebagian besar penyakit yang dapat disebabkan oleh infeksi viral, merupakan salah satu upaya kontrol yang cukup efektif dapat dilakukan. Seperti vaksinasi terhadap Gumboro yang bersifat infeksius, dan mempunyai dampak ekonomik tinggi, sangat penting untuk dilakukan. Pemilihan vaksin untuk Gumboro, disamping harus baik secara kualitas dan aman untuk ayam, juga akan sangat baik bila menggunakan vaksin Gumboro dengan kandungan strain virus yang secara antigenik sama dengan virus Gumboro asal lapang. Dengan demikian, dapat dihasilkan kekebalan yang lebih spesifik dan mempunyai kemampuan netralisasi tinggi terhadap paparan virus Gumboro asal lapang.

6. Menjaga dan mengupayakan secara konsisten pemberian air serta pakan yang berkualitas. Pakan yang diberikan pada ayam, disamping mengandung nutrisi yang lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhannya, juga harus dapat dicerna dengan baik oleh ayam serta harus diberikan dengan cara yang benar.


Drh. Wayan Wiryawan
HIPRA Laboratorios, S.A. – Spain
wayan@hipra.com

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template