EDISI JANUARI 2018

Jumlah Pengunjung

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati


Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drh Abadi Soetisna MSi
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119


Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Followers

KEBIJAKAN vs KONDISI LAPANGAN

On 3:29:00 AM

Sampai detik ini sasaran utama pemerintah dalam penanggulangan Avian Influinza adalah peternakan sektor 4. Kompensasi yang dijanjikan pun mengalir dgn lancar sesuai prosedur yang diharapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan No. 17/Kpts?PD.640/F/02.04 tentang pedoman pelaksanaan pemberian kompensasi akibat wabah avian influenza.
Seiring dengan berjalannya waktu pada bulan Maret terbit peraturan baru yaitu Peraturan Direktur Jenderal Peternakan No. 31/PD.610/F/03/2007dimana kompensasi yang diberikan dari pemerintah pusat untuk pemusnahan unggas dibatasi maksimal 500 ekor, dengan demikian jelas sasaran kompensasi adalah peternakan sektor 4. Apa yang terjadi?
Muncul tren baru di kalangan masyarakat peternak. Sebagian besar peternak yang ada adalah sektor 3,5 dengan rata-rata populasi 500-5000 ekor. Sudah sewajarnya petugas akan menganjurkan pemusnahan terhadap unggas yang sekandang jika ada kematian unggas dan positif Flu Burung.
Kalau sudah demikian biasanya peternak akan menanyakan kompensasi yang akan diperoleh jika dilakukan pemusnahan. ketika peternak tahu bahwa mulai sekarang jumlah kompensasi yang diterima maksimal 500 ekor, maka mereka akan berpikir 2 kali untuk melakukan pemusnahan.
Yang terjadi di lapangan adalah pemusnahan tetap dilaksanakan tetapi ya hanya sejumlah 500 ekor saja untuk sisanya diafkir, apa yang dapat kita perbuat? Hal ini saya sebut pemusnahan basa-basi dan inilah tren baru tersebut. Mengapa harus dilakukan pemusnahan dan pemberian kompensasi jika apa yang terjadi jauh dari yang kita harapkan.
Sama saja ada pemusnahan atau tidak Spread of the virus tetap saja terjadi. Tujuan utama kita adalah membersihkan wilayah kita dari virus Flu Burung, tetapi bila kondisi ini masih terus berlanjut mungkin perlu pemikiran lain untuk mengatasinya, mungkin pemusnahan bukan jalan keluar.
Masalah kita ada pada kebiasaan masyarakat yang kurang sehat. Kita perlu mengubah budaya masyarakat kita, misalnya dari memelihara ayam yang semula diliarkan/diumbar menjadi dikandangkan, membuang bangkai sembarangan menjadi menggunakan tatacara yang benar, dari semula sembrono terhadap kebersihan menjadi peka dan menjaga kebersihan dan lain-lain.
Mungkin memang susah membangun kesadaran masyarakat, butuh waktu cukup lama 5-10 tahun dan butuh ketelatenan petugas yang mendampingi.
Akan lebih baik jika dana untuk kompensasi ini diperuntukkan sebagai kredit atau pinjaman lunak bagi peternak-peternak yang terkena wabah atau untuk kegiatan masal pengandangan unggas umbaran. Bukankah tangan di atas lebih baik dari pada tangan dibawah, jadi jangan dibiasakan peternak kita selalu menjadi tangan dibawah.

Drh. Ely Susanti
Pos Keswan Karangnongko, Klaten

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer