Friday, October 19, 2007

BUKAN SEMATA UNTUK KEPENTINGAN MANUSIA

Salah satu alasan manusia membudidayakan ternak sebagai hewan yang didomestikasi, adalah kesadaran manusia sebagai khalifah pemegang mandat alam (dan pencipta alam), sebagai makhluk paling sempurna, menguasai, menaklukkan, mengelola alam seisinya, termasuk hewan.

Konsep ini diserang oleh Lynn White dalam artikelnya The Historical Roots of Our Ecological Crisis, pada Science, 1967, sebagai penyebab berbagai kerusakan lingkungan alam semesta, hingga memuncak pada pemanasan global yang isunya justru mengantar mantan Wakil Presiden AS Al Gore menerima Nobel Perdamaian Dunia 2007.

Lynn White menyerang terutama iman Yahudi Kristiani dalam kitab Kejadian pasal 1 tentang penciptaan dunia, yang secara langsung bertanggungjawab atas pemikiran banyak umat di dunia untuk mengeksplotasi dan merusak alam.

Dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan kita mendapatkan banyak kasus terkait budidaya ternak yang penuh kontroversial, seperti masalah penggunaan obat tak sesuai kaidah, obat ilegal, hormon pertumbuhan, produk rekayasa genetika, bahkan bahaya penyakit sapi gila akibat menimpor MDM dan MBM dari Kanada dan AS yang merupakan negeri basis kasus Mad Cow Disease ini.

Serangan White tentang konsep penguasaan dunia dalam penciptaan pada Kitab Kejadian itu, memaksa para teolog berpikir tentang lingkungan. Setidaknya ada tiga konsep besar menyanggap serangan itu.

Sanggahan pertama menganggap tafsir White itu dianggap timpang atau kurang seimbang. Konsep ini mengatakan penciptaan harus dilihat dalam keseluruhan kontkes, adanya konsep berkat di mana manusia dan hewan tidak bunuh membunuh. Kata berkuasa dilihat sebagai untuk memelihara, mengurus, menggembala. Manusia dianggap sebagai khalifah.

Konsep kedua, muncul tafsiran yang lebih seimbang, dibanding memelihara juga menaklukkan. Konteks di Timur Tengah, manusia juga harus menaklukkan, bukan hanya memelihara, yang indah nuansa bahasanya. Di sini kekacauan harus dilawan, di mana manusia mengendalikan agar kekacauan tidak menyengsarakan. Ada sisi kerasnya, yaitu berkuasa atau menaklukkan!

Adapun Jurgen Moltmann (lahir 1926) menganggap dua konsep penyanggah Lynn White tadi masih bersifat antroposentris alias berpusat pada manusia, sehingga menimbulkan kesombongan manusia. Menurutnya puncak penciptaan alam semesta bukanlah pada manusia yang menjadi pusat dari penguasaan alam baik sebagai khalifah maupun sebagai penakluk.

Menurut Moltmann, pusat penciptaan yang dianggap Lynn White pada manusia sehingga mendorongnya menguasai dunia seisinya itu, tidaklah benar. Bagi Moltmann, Pusat penciptaan adalah pada kehadiran Sang Pencipta dalam karya-karyanya setelah semua ciptaan itu dibuat dalam bentuk yang paling indah.

Moltmann tidak menyamakan konsep ini dengan aliran Deisme yang mengatakan Sang Pencipta laksana pembuat jam yang meninggalkan jam ciptaannya begitu saja tanpa peduli lagi bagaimana jamnya berputar karena tugasnya sudah selesai dalam mencipta.

Menurut Moltmann, Sang Pencipta tetap peduli pada ciptaannya dan berkatnya bersifat universal kepada seluruh ciptaan. Sehingga, manusia perlu mengakui eksitensi dan kehadiran Sang pencipta dalam seluruh ciptaannya. Dalam konteks dunia peternakan dan kesehatan hewan, dengan kehadiran hewan dan ternak yang didomestikasi itulah manusia dapat merasakan kehadiran Sang Pencipta, selain dalam ciptaan yang lain. Berkat ada pada semua ciptaan itu, juga pada hewan dan ternak.

Namun meski pada hewan dan ternak juga ada berkat, manusia tetap jangan ditempatkan sama atau lebih rendah dibandingnya. Jangan sampai seperti ketika pergerakan dunia kesejahteraan hewan (animal welfare) makin marak mengikuti gerakan-gerakan di negara dengan berbagai rambu untuk kesejahteraan hewan, aborsi janin manusia malah dilegalkan. Jadi tumpang tindih antara kepedulian kita sebetulnya terhadap siapa, manusia ataukah hewan!

Di sini dituntut, manusia tetap mempedulikan hewan dalam tetap dalam proporsi yang tepat, di mana manusia diciptakan sebagai makhluk paling mulia dibanding makhluk lain. Namun, dalam mengelola alam semesta, memelihara hewan dan ternak, pun bukan semata bersikap sebagai khalifah maupun penguasa atau penakluk semata hanya lantaran manusia dicipta paling sempurna.

Konsep ini secara tidak langsung mengoreksi konsep dokter hewan dalam Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia yang mengusung slogan Manusya Mriga Satwa Sewaka, di mana dokter hewan menyehatkan hewan untuk kesejahteraan manusia. Moltmann mengingatkan: bukan semata untuk kesejahteraan manusia! Mengingat, kehadiran Sang Pencipta juga dalam ciptaan-ciptaan yang lain termasuk dalam hewan dan ternak ini.

Aplikasinya, dengan melakukan segala sesuatu pemeliharaan ternak dan segala bisnis terkait (bisnis sarana produksi peternakan, pakan, bibit, obat, alat-alat peternakan, bidang penelitian, dan lain-lain) serta bisnis-bisnis produk asal ternak (daging, telur, susu, kulit dan lain-lain, kita tetap harus melihat dalam suatu upaya ibadah kepada sang pencipta.

Dan, mempertanggungjawabkan semua untuk memelihara keberlanjutan hidup semua makhluk dan alam ciptaan. Bukan semata kepentingan kita, manusia, dan menganggap manusia adalah segala-galanya sehingga memenuhi nafsu berbuat apa saja. Selamat berkarya... (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template