BIOSECURITY HARUS MENYELURUH

Pengetahuan tentang pola penularan penyakit pada peternakan ayam meliputi asal, jenis bibit penyakit dan metode pencegahan dan pengobatannya, merupakan langkah awal dalam upaya pelaksanaan biosecurity secara menyeluruh di lokasi peternakan. Demikian disampaikan Drh Agus Syafiq Riyadi kepada kru Infovet Riau.
Biosecurity merupakan tindakan pengamanan terhadap ternak, melalui pengamanan terhadap lingkungannya dan orang atau person yang terlibat dalam siklus pemeliharaan dimaksud. “Bisa jadi kegagalan peternak dalam memproduksi ayam dengan berat badan maksimal dan atau produksi telur dengan Hen Day Production (HDP) yang optimum salah satunya adalah atas keteledoran dalam penerapan biosecurity”, tegas alumnus FKH Unsyiah Nangroe Aceh Darussalam ini.
Bila dikaji ke belakang, jauh sebelum gaung Avian Influenza (AI) didegungkan, tindakan bersih-bersih juga telah dijadikan sebagai faktor penentu keberhasilan usaha peternakan ayam, yang terkenal dengan istilah sanitasi, yaitu kebersihan dan atau penjagaan kesehatan melalui kebersihan.
Sanitasi juga diarahkan pada ternak yang dipelihara, lingkungan tempat ternak itu dipelihara, dan sipemelihara ternak tersebut. Namun, menurut Drh Muhammad Firdaus MSi alumnus pasca sarjana Universitas Riau tetap membedakan penggunaan kata sanitasi dan biosecurity.
Menurutnya, sanitasi lebih diarahkan pada penjagaan kesehatan sedang untuk biosecurity lebih distressingkan pada pengamanan hidup. Namun, bila dilihat dari makna otentik kedua istilah tersebut, tetap setali tiga uang yakni sama-sama mengandung arti preventive action untuk pencapaian hasil usaha pemeliharaan ternak yang mumpuni menopang sendi-sendi kehidupan peternak.

Sejarah Makna Biosecurity
Ditilik dari segi etimologi (asal-usul kata), biosecurity yaitu bio artinya hidup dan security artinya perlindungan atau pengamanan. Secara keseluruhan berarti suatu program yang dirancang sedemikian rupa dengan tujuan untuk melindungi kehidupan makluk hidup termasuk ternak yang kontribusinya sangat besar bagi kehidupan manusia yakni sebagai pemasok ketersediaan daging, telur dan susu yang notabenenya sebagai sumber protein hewani bagi manusia yang mengkonsumsinya.
Artinya, biosecurity bukan saja diarahkan pada tindakan kebersihan semata, namun lebih luas lagi bagaimana cara memberikan jaminan keamanan pada ternak agar ternak yang dipelihara mampu hidup lebih nyaman untuk dapat memberikan hasil optimal pada peternak.
Disamping itu, biosecurity awal ini diasumsikan dapat pula menghasilkan produk ternak yang aman pula bagi konsumen, sehingga konsumen tidak lagi apatis terhadap produk yang dihasilkan ternak, malahan akan menetapkan pilihan akhirnya hanya produk ternaklah yang capable dalam memberikan jaminan ketersedian protein hewani bagi tubuh.
Berdasarkan ini, maka pilihan yang tepat dalam usaha budidaya ayam adalah penerapan biosecurity secara menyeluruh dengan memadukan semua kegiatan manajemen yang ada untuk menghandle bibit penyakit yang masuk, tinggal, dan menginfeksi suatu usaha peternakan ayam.

Biosecurity Sektor 1-3
Semula penerapan biosecurity lebih diintenskan pada farm-farm besar, namun mengingat pentingnya pengamanan ternak ini, apakah lingkungannya atau anak kandang dan tamu kandang, maka penerapan biosecurity dianjurkan untuk dapat diterapkan pada farm-farm yang masuk pada kategori sektor dua dan sektor tiga.

Biosecurity Sektor 4
Demikian juga untuk ternak yang berada pada sektor empat yaitu ayam buras atau ayam kampung yang dipelihara warga, baik secara ekstensif ataupun intensif. Masih dengan Drh Muhammad Firdaus MSi, penerapan biosecurity ditingkat peternak yang hanya memelihara ayamnya sebagai usaha sambilan bukan sebagai usaha pokok merupakan hal yang menghambat program biosecurity itu sendiri.
Padahal untuk level ini, peranan biosecurity sangat mumpuni dalam hal memberikan jaminan pengamanan hidup bagi peternak, warga sekitar dan juga bagi ternak yang ada disekitar lokasi dimaksud.

Jangan Runyam
Dikatakannya lagi, persoalan ini akan lebih runyam bila saja keberpihakan pemerintah sama sekali tidak ada seperti memberikan informasi terkait atau hubungan sebab akibat bila peternak tidak mengindahkan apa yang disampaikan petugas menyoal penerapan biosecurity dalam hal pemeliharaan ayam disekitar lokasi peternakannya.
Padahal kelalaian peternak berakibat fatal yang secara langsung atau tak langsung memberikan kesempatan pada bibit penyakit untuk masuk, tinggal, dan menginfeksi suatu usaha peternakan ayam dan bahkan dapat membahayakan kehidupan warga sekitar bila penyakit tersebut bersifat zoonosis.
Untuk itulah, sejak virus AI mendera yang menyebabkan suasana brubuh (red: kacau-balau) di dunia peternakan Indonesia bahkan dunia, Drh Muhammad Firdaus MSi yang menjabat Kasi Kesehatan Hewan dan Kepala Rumah Potong Hewan Dinas Pertanian kota Pekanbaru dengan cukat trengginas (red: lincah dan terampil) memberangus keberadaan sikecil H5N1 di kota Bertuah Pekanbaru.
Usaha yang dilakukan berupa memberikan penyuluhan tentang bagaimana cara yang baik memelihara ayam di sekitar lokasi perumahan dengan keterbatasan lahan dengan cara menjauhi mikro organisme dari ayam dan menjauhi ayam dari mikroorganisme dengan cara mengandangkan ayam, membunuh ayam yang diduga dan atau positif AI berdasar pada rapid test, dan melakukan vaksinasi AI untuk lokasi yang belum terjangkit AI, dan ini cukup memberikan hasil positif dalam memberantas AI khususnya di kota Pekanbaru.

Biosecurity Dini
Di lain pihak, Ir Hj Elfawati MSi dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau memandang perlu penerapan biosecurity di tingkat peternak. Menurutnya, penerapan biosecurity lebih awal di farm peternakan broiler dan layer, memberikan jaminan keberhasilan yang bila dikalkulasikan tingkat keberhasilannya sudah mencapai 75 % dari total pemeliharaan broiler yang hanya membutuhkan waktu lebih kurang 28 hari atau empat minggu.
Lebih lanjut dikatakannya, peternak yang handal biasanya lebih memanfaatkan waktu awal ketimbang waktu akhir pemeliharaan. Artinya, sebelum memulai usaha peternakan, peternak perlu melakukan biosecurity terutama untuk lokasi kandang bibit day old chick (DOC).

Praktek Biosecurity di Kandang
Senada dengan Ir Hj Elfawati MSi alumnus pasca sarjana IPB Bogor, Dewi Febrina SPt MP alumnus pasca sarjana Unand Padang mengatakan bahwa usaha yang dapat dilakukan peternak seperti membersihkan lokasi kandang, baik dalam ataupun luar kandang yang disinyalir sebagai tempat bersarangnya kuman-kuman penyakit seperti bakteri dan tunggak kemaduh (red: parasit) dengan paran jujugan (red; sasaran langganan) nya anak ayam yang minim sekali antibodinya.
Pencucian kandang ayam bisa dilakukan secara total dan menyeluruh. Pembersihan secara total dilakukan terhadap seluruh kandang secara lengkap dari bagian atas sampai bagian bawah dengan frekwensi pembersihannya sekali setahun, sedang pembersihan menyeluruh diartikan sebagai pembersihan dengan menitikberatkan pada litter dan kotoran ayam yang berceceran dilantai kandang dan atau yang menempel pada dinding-dinding kandang maupun pada peralatan makan dan minum yang digunakan.
Kemudian, lantai kandang dibersihkan dengan cara disapu, termasuk semua rangkaian listrik, bola-bola lampu yang digunakan, dilihat masih hidupkah atau sudah putus, sehingga pada saat pemeliharaan tidak terjadi lampus (red: mati) DOC akibat kedinginan.
Selanjutnya, gosok, sikat dan bersihkan semua instalasi air, tempat pakan, tempat minum, brooder guard dan peralatan lainnya, kemudian lakukan desinfeksi sebelum dipakai lagi untuk flok ayam berikutnya. Pada pemeliharaan broiler, tirai-tirai yang digunakan pada pemeliharaan awal perlu juga diperhatikan kebersihannya, agar tidak menjadi sumber bibit penyakit yang akan menggeranyangi kehidupan broiler selama kurun waktu pemeliharaannya.
Setelah semua itu dilakukan, tutuplah kandang dengan rapat selama dua hari. Setelah kering merata, sebarlah alas kandang atau litter dengan ketebalan 7-8 cm, kemudian lakukan desinfeksi ulang pada litter yang baru dengan tujuan untuk menekan keberadaan bibit penyakit, dan kemudian DOC siap dipelihara.

Biosecurity Anak Kandang
Sementara itu Purwanto, anak kandang sekaligus sebagai Petugas Pelaksana Harian (PPH) peternakan broiler Danau Farm di desa Koto Perambahan kecamatan Kampar kabupaten Kampar Riau menyatakan kebersihan merupakan hal utama yang harus diterapkan di lokasi peternakan apalagi itu menyangkut ayam broiler yang rentanitasnya terhadap lingkungan yang jelek sangat labil sekali.
Menurutnya, kebersihan tidak hanya diterapkan pada lingkungan pemeliharaan ayam semata namun lebih dari itu, kebersihan juga perlu diterapkan disemua lini produksi yang menunjang dan potensial sebagai tempat awal kuman melakukan gebrakannya menimbulkan penyakit pada ayam yang bermuara pada kerugian pada sipeternak.
“Sejauh ini, saya belum mengenal adanya istilah biosecurity itu, tapi saya hanya tahu dengan penjagaan kebersihan untuk menjaga agar pitik (red: ayam) tetap sehat,” ujar Purwanto dengan penuh semangat.
Anak kandang keturunan Jawa-Lampung ini menegaskan, pelaksanaan kebersihan dimulai dari sejak panen dengan cara membersihkan seluruh kandang luar dan dalam dengan Septocid preparatnya povidone 2 % dan excipient, semua peralatan kandang yang telah digunakan, dan mengecek kondisi lantai kandang yang tak layak lagi digunakan, ini bila kandang yang dipakai dengan sistem panggung.
Setelah itu, dibiarkan satu atau dua minggu, lalu dilakukan pembersihan ulang dengan Septocid kembali, baru anak ayam siap dimasukkan. Penjagaan kebersihan terus dilakukan sejak anak ayam dipelihara sampai saat panen tiba. Pada rentang waktu ini, menurut Bapak satu putri ini lebih distressingkan pada penjagaan kebersihan pakan dan medianya, kebersihan air minum dan medianya, lingkungan kandang dan alas lantai yang disinyalir sebagai sumber bibit penyakit bila dibiarkan dalam keadaan lembab tanpa ada perlakuan seperti membolak-balik dan atau bila diperlukan adanya penggantian alas lantai, tentu ini jarang dilakukan karena pertimbangan biaya.

Biosecurity Pra Produksi
Sedang Drh Jully Handoko akademisi Fakultas Pertanian dan Peternakan sepakat dengan adanya upaya penerapan biosecurity di farm-farm peternakan apalagi bila penerapannya pada pra produksi. Artinya, biosecurity tidak hanya dititikberatkan pada penjagaan kebersihan untuk pengamanan hidup ayam semata, tapi terapkanlah biosecurity tersebut secara menyeluruh yang menyatu dengan pola pemeliharaan ayam.
“Bisa saja biosecurity dikaitkan dengan penggunaan vaksin, obat-obatan yang sesuai dengan kaidahnya, dan penggunaan pakan yang benar-benar aman dari kemungkinan adanya imbuhan lain yang akan menimbulkan masalah pada ayam dan konsumen yang mengkonsumsi produk ayam itu sendriri,” tegas Jully yang tahun ini akan melanjutkan studi di pasca sarjana IPB Bogor pada program studi Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Dilanjutkannya, bila ini bisa dilaksanakan, maka kemungkinan adanya pangan asal ternak yang mengandung residu antibiotika semakin kecil, dan ini dapat memberikan jaminan keamanan pangan bagi konsumen yang mengkonsumsi pangan asal ternak dimaksud.

Berdayakan Penyuluh Pertanian Lapangan
Adalah Yusfaleni, Sarjana Komunikasi Penyuluhan (SKP) Universitas Terbuka kelas jauh Riau mengatakan bahwa pemanfaatan jasa penyuluh pertanian diperlukan untuk membantu pemerintah dalam pencapaian program biosecurity terutama untuk peternakan disektor empat, hanya saja sejauh ini peran ini sedikit terabaikan, padahal potensi penyuluh pertanian cukup besar untuk melaksanakan tugas ini.
Penyuluhan pertanian secara umum merupakan proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Artinya, biosecurity dengan tujuan untuk memberikan pengamanan hidup bagi ternak dan manusia dengan cara meningkatkan kebersihan disemua lini produksi, mendukung makna penyuluhan pertanian itu sendiri. Disamping itu, dalam tugas keseharian bisa saja biosecurity dijadikan materi penyuluhan, terutama untuk warga kota dengan segenap kesibukannya.
Namun, sejauh ini pemerintah kurang respon, dan ini bermuara pada gagalnya usaha pemberantasan penyakit tertentu, seperti flu burung yang masih menjadi hot issue di negara ini. Kedepan, dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 12 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan akan memberikan tatanan baru di dunia penyuluhan dengan harapan dapat mengembalikan citra pertanian Indonesia seperti yang pernah dicapai dimasa orde baru. (Daman Suska)

0 komentar:

Post a Comment

 

Referensi Website

Followers

Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template