Friday, September 28, 2007

VAKSINASI terus atau PEMBELAJARAN dahulu

Tampaknya kisah flu burung (Avian Influenza) di Indonesia masih akan panjang. Kita sangat prihatin korban manusia masih saja berjatuhan (Jembrana, Agustus 2007), belum lagi korban ternak unggas yang tak terhitung nilainya. Sampai saat ini iklan layanan masyarakat diberbagai media semua mengkampanyekan Tumpas Flu Burung sangat gencar. Kapan flu burung akan berakhir di negeri kita tercinta ini kita tidak tahu

Kembali lagi sasaran pemberantasan flu Burung pada peternakan sektor 4. Hampir setiap pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk kegiatan pemberantasan flu burung. Kegiatan yang sering diadakan adalah vaksinasi dan desinfeksi pada peternakan sektor 4. Desinfeksi biasanya dijalankan oleh masyarakat sendiri karena cukup mudah dan mengajak masyarakat mandiri. Pemerintah cukup membagikan desinfektan saja. Desinfeksi dan vaksinasi biasanya sudah merupakan kegiatan rutin 4x setahun atau 3x setahun, atau 2x setahun ada pula yang 1x setahun. Sampai saat ini efektifitas vaksinasi disektor4 masih dipertanyakan. Kegiatan vaksinasi disektor 4 sering belum terkoordinasi dengan baik. Ayam atau unggas yang sudah terlanjur dilepas/umbar tidak mungkin kita kejar-kejar saat itu juga untuk divaksin, kedatangan petugas vaksinasi yang terlambat juga menjadi kendala karena membuat masyarakat meragukan kedatangan petugas dan ayam-ayampun dilepas. Sifat kegiatan yang rutin kadang menjadi tidak mengacuhkan kondisi cuaca. Kondisi cuaca yang kurang baikpun vaksinasi tetap dilakukan dan efek sampingnya dapat kita tebak banyak ayam yang mati setelah divaksin.

Kegiatan disektor 4 biasanya bersifat gratis, semua kegiatan dari pengadaan vaksin, operasional petugas, peralatan, desinfektan dan lain-lain ditanggung pemerintah. Jika dinilai dalam bentuk rupiah akan sangat besar sekali, tetapi apakah hasilnya sepadan dengan biaya yang kita keluarkan? Kenapa demikian? karena masalah kita sebenarnya disektor 4 adalah pada pola hidup dan cara beternak masyarakat. Walaupun kegiatan vaksinasi terus dilaksanakan tetapi apabila kesadaran masyarakat belum ada kita hanya akan menghabis-habiskan energi dan biaya. Sektor 4 adalah masyarakat yang sangat tradisional, berpikir sangat sederhana dan naluri turun-menurun yang kental dan sangat susah untuk ditinggalkan. Wilayah kita sudah merupakan daerah endemis penyakit Flu Burung. Pola beternak umbaran tanpa kandang yang jelas sangat rentan untuk dapat terjangkit penyakit Flu Burung lagi, masih ditambah kebiasaan hidup serumah dengan ternak seperti di dapur atau jadi satu dengan ternak lainnya. Satu kandang dapat terdiri atas ayam kampung, entog, itik, angsa bahkan kalkun atau unggas liar lainnya.

Mengenalkan cara hidup sehat dimasyarakat adalah hal yang perlu kita perjuangkan dengan keras, terus menerus tanpa kenal lelah. Kita butuh petugas-petugas dengan ketelatenan tinggi dan dapat dekat dengan masyarakat. Kesuksesan kegiatan Posyandu tahun '90an dapat kita contoh. Bagaimana dahulu pemerintah mengenalkan imunisasi, makanan bergizi, penimbangan berat badan dan lain-lain pada bayi dan balita serta ibu hamil, dan hasilnya cukup bagus. Tidak kurang informasi tentang Flu Burung/AI dari pemerintah pusat ataupun daerah yang telah disampaikan pada warga masyarakat, tetapi biasanya transfer informasi tersebut berhenti pada forum penyuluhan ditingkat kelurahan. Harapan pemerintah warga yang hadir di kelurahan dapat menyebarluaskan ke warga yang lain, namun kenyataannya informasi tidak sampai ke masyarakat luas.

Ternyata kita perlu masuk langsung ke forum-forum warga. Masyarakat akan sangat senang merasa dihargai keberadaannya jika kita langsung masuk ke dunia mereka. Jika sudah merasa dihargai, diakui (jawa: diuwongke) masyarakat akan dengan senang hati membuka diri terhadap masukan-masukan atau ide-ide baru. Kita dapat memanfaatkan forum-forum pertemuan warga yang sudah ada sebagai tempat transfer informasi atau memperkenalkan ide-ide baru. Ide yang kita usung jangan terlalu muluk-muluk. Kenalkan pola-pola yang sederhana, misalnya menyediakan kandang sederhana tempat berteduh unggas, pemanfaatan limbah sabun sebagai desinfektan kandang, atau membatasi lokasi berkeliarannya unggas. Dari ide sederhana itu akan muncul berbagai permasalahan, seperti membuat kandang atau sekedar pagar membutuhkan biaya, siapa yang mau menanggung? dan kita tidak bisa memaksakan kehendak. Untuk itulah perlunya ketelatenan dan kesabaran petugas pendamping membuka pikiran masyarakat akan pentingnya tatacara beternak yang baik. Apabila kita berhasil membawa pola hidup dan cara beternak masyarakat yang baik (peternakan sektor 4) akan sangat mudah kita menjadikan kegiatan vaksinasi menjadi efektif sebagai sarana pencegahan flu burung.

Tidak salah kegiatan vaksinasi dilakukan tetapi akan lebih baik jika didahului dengan penyadaran dan pembelajaran pada masyarakat. Butuh waktu yang cukup lama untuk memasukkan ide baru dan perlu ketelatenan serta kesabaran petugas pendamping. Mestinya buang-buang energi dan biaya untuk kegiatan vaksinasi Flu Burung tidak akan berulang jika kehadiran vaksinasi sudah dirasakan sebagai kebutuhan bagi masyarakat. Mari kita membangun bangsa melalui pembelajaran. Indonesia akan bebas Flu Burung jika kita berhasil menghadirkan pola beternak unggas yang baru dan baik dalam masyarakat. Hadirkan petugas peternakan yang tangguh menemani peternak (red: sektor 4). Kita tidak akan pernah menginginkan ayam atau unggas menjadi hewan langka bagi anak cucu kita. Selamat berjuang membangun bangsa.......


Dh Ely Susanti
Poskeswan Karangnongko, Klaten
Tm PDR 1 Kab. Klaten, LDCC Semarang

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template