Friday, September 28, 2007

PENGEBALAN TERHADAP GUMBORO DENGAN VAKSIN YANG TIDAK MENIMBULKAN DAMPAK IMMUNOSUPRESI

Industri peternakan ayam ras yang cukup pesat perkembangannya di Indonesia, baik peternakan ayam petelur maupun pedaging, sampai saat ini masing cukup sulit untuk keluar dari masalah yang ditimbulkan oleh gangguan penyakit Gumboro, dimana penyakit tersebut secara ekonomis sangat merugikan, oleh karena gangguan pertumbuhan, inefesiensi pakan dan sejumlah besar kematian yang dapat ditimbulkan pada kelompok ayam yang terserang penyakit tersebut, serta meningkatnya biaya pemakaian obat-obatan dan disinfektan . Dampak lain yang tidak kalah pentingnya dari ayam yang pernah terserang Gumboro atau oleh karena pemakaian vaksin Gumboro yang cukup keras (intermediate plus atau hot strain) berupa immunosupresi jangka panjang oleh karena terjadinya “deplesi” (kelainan) pada sel-sel limfoid dari Bursa Fabrisiusnya.

Terjadinya dampak immunosupresi yang ditimbulkan oleh infeksi virus penyebab Gumboro atau oleh karena pemakaian vaksin Gumboro yang cukup keras (intermediate plus atau hot strain), erat kaitannya dengan kelainan dan atau gangguan fungsi dari Bursa Fabrisius sebagai penghasil zat kebal tubuh. Adanya kelainan dan atau gangguan fungsi pada Bursa Fabrisius, menyebabkan kekebalan dari perlakuan vaksinasi yang diberikan pada tahap selanjutnya menjadi kurang optimal dan ayam relatif rentan terhadap infeksi penyakit lainnya.

Penyakit Gumboro dan Dampak Immunosupresinya.

Bila virus Gumboro ganas (vv-IBD) asal lapangan menyerang ayam umur dibawah 3 (tiga) minggu, lebih banyak kecenderungannya akan timbul Gumboro bersifat subklinis, walaupun pada kasus tertentu dapat muncul dan diamati bentuk klinisnya. Pada kelompok ayam yang terinfeksi walaupun tidak menunjukkan gejala klinis, tetap berpotensi menimbulkan dampak immunosupresi, berupa kelainan dan atau gangguan fungsi dari organ limfoid primer seperti Bursa Fabrisius dan sel Thymus.

Kasus infeksi virus Gumboro ganas (vv-IBD) asal lapangan yang menyerang ayam umur diatas 3 (tiga) minggu kecenderungannya menampakkan gejala klinis yang sangat jelas, mulai dari adanya kelesuan dan ayam nampak menggigil, bulu berdiri dan cenderung bergerombol serta disertai adanya diare warna keputihan. Akibat diare, ayam menjadi dehidrasi, ayam nampak tremor dan sangat lemah sehingga berakhir dengan kematian.

Efek immunosupresi yang ditimbulkan, diawali dengan adanya infeksi virus vv-IBD yang secara langsung menginfeksi dan melakukan perbanyakan diri (depopulasi atau replikasi) pada Bursa Fabrisius dan Thymus sebagai organ target utamanya. Mekanisme terjadinya immunosupresi oleh karena infeksi virus Gumboro, kemungkinan besar terkait dengan adanya kematian sel-sel penghasil limfosit B, terutama yang terdapat pada Bursa Fabrisius.

Sel limfosit B merupakan salah satu calon pembentuk zat kebal tubuh. Adanya kerusakan sel-sel limfoid dari Bursa Fabrisius sebagai akibat infeksi virus penyebab Gumboro, mengakibatkan adanya penurunan jumlah produksi sel B oleh Bursa Fabrisius, yang selanjutnya akan berakibat pada terjadinya penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh dari perlakuan vaksinasi yang diberikan pada tahap selanjutnya. Atau karena adanya kerusakan folikel dari Bursa Fabrisius, menyebabkan kemampuan organ tersebut dalam menghasilkan zat kebal tubuh untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen lainnya menjadi kurang optimal, sehingga ayam menjadi peka dan mudah terserang berbagai macam penyakit.

Vaksinasi Gumboro dan Dampak Immunosupresinya

Pemakaian auto vaksin atau vaksin Gumboro dengan kandungan strain virus yang cukup keras (intermediate plus atau hot strain) seringkali dapat menimbulkan terjadinya deplesi (kelainan) pada Bursa Fabrisius, sehingga berdampak pada berkurangnya kemampuan Bursa Fabrisius untuk memproduksi zat kebal tubuh. Bursa Fabrisius yang mengalami kelainan karena dampak dari pemakaian vaksin intermediate plus atau hot strain, menyebabkan ayam menjadi sensitif terhadap berbagai perlakuan manajemen dan stress serta infeksi agen penyakit lainnya. Adanya kelainan pada Bursa Fabrisius akan berdampak pada keberhasilan program vaksinasi terhadap penyakit yang lainnya (seperti terhadap ND, IB dll). Sehingga dapat berpengaruh pada performance ayam secara keseluruhan.

Pada ayam petelur dan breeder kurang dianjurkan pemakaian vaksin intermediate plus terlebih yang hot strain. Karena pemakaian vaksin Gumboro dengan kandungan virus vaksin jenis intermediate plus atau hot strain, dapat merusak sel-sel limfoid dari Bursa Fabrisius yang sedang pesat-pesatnya mengalami perkembangan untuk menghasilkan zat kebal tubuh (limfoblas  limfosit B  sel antibodi). Rusaknya sel-sel limfoid dari Bursa Fabrisius oleh virus vaksin yang cukup keras tersebut, akan menyebabkan berkurangnya kemampuan Bursa Fabrisius dalam menghasilkan zat kebal tubuh, sehingga respon terhadap jenis vaksinasi lainnya tidak bisa optimal dalam menghasilkan zat kebal tubuh (antibodi).

Pada ayam tipe petelur karena masa pemeliharaannya yang lebih lama dibandingkan dengan ayam pedaging, faktor dari Bursa Fabrisius sebagai organ limfoid primer memegang peranan sangat penting untuk menghasilkan zat kebal tubuh pada umur-umur awal dari perkembangan ayam, sampai pada akhirnya (umur 6 minggu keatas) peranan dari Bursa Fabrisius dalam menghasilkan zat kebal tubuh, diambil alih oleh organ limfoid sekunder (limpa, proventrikulus, sel-sel thymus, seca tonsil, sum-sum tulang) yang kian pesat perkembangannya.

Tanda – Tanda Immunosupresi Pada Ayam

1. Reaksi post vaksinasi meningkat, seperti setelah diberikan vaksinasi ND golongan La-Sota, nampak ayam bersin-bersin dan gejala gangguan sistem pernafasan lainnya.

2. Pada ayam yang mati bila dilakukan pembedahan, terlihat Atropi pada Bursa Fabrisius dan kebengkakan pada organ limfoid lainnya.

3. Ayam jadi mudah terserang penyakit, terutama penyakit yang menyebabkan gangguan produksi dan kematian yang tinggi.

4. Performance ayam secara keseluruhan menjadi suboptimal, seperti :

 Berat badan rendah dan pertumbuhan tidak merata

 Produksi telur cenderung berpluktuasi dan sulit mencapai puncak produksi

 Mortalitas cenderung tinggi bila terjadi infeksi penyakit

 Feed konversinya mengalami peningkatan


Kontrol dan Pencegahan Terhadap Gumboro

Sebagaimana halnya dengan kontrol dan pencegahanan terhadap penyakit lainnya pada peternakan ayam, kontrol dan pencegahan terhadap penyakit Gumboro juga harus dilakukan secara komprehensif, yang meliputi perbaikan semua aspek manajemen pemeliharaan ayam yang saling terkait satu sama lainnya.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dan dilakukan guna mencegah dan melakukan kontrol serta meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap serangan virus penyebab penyakit immunosupresi tersebut, diantaranya:

1. Menerapkan praktek manajemen yang baik, mulai dari pemenuhan kebutuhan pokok ayam seperti udara yang kaya akan kandungan oksigennya, air yang berkualitas (bebas pencemaran logam berat dan mikroorganisme patogen serta pH-nya normal ; 6,5 – 7,2) dan Pakan yang berkualitas, dengan nilai gizi yang berimbang sesuai kebutuhan masing-masing tipe dan umur ayam.

2. Meningkatkan praktek sanitasi dan desinfeksi untuk menekan populasi dan keganasan virus penyebab Gumboro di lapangan.

3. Upayakan pemeliharaan ayam dengan system “ all in all out “ khususnya pada pemeliharaan ayam pedaging dan pada ayam petelur, sedapat mungkin pemeliharaanya dipisahkan dengan ayam remaja dengan jarak lokasi yang terpisah cukup jauh. Hal ini bertujuan mencegah penularan kedua penyakit tersebut dari ayam dewasa kepada ayam yang lebih muda.

4. Vaksinasi terhadap Gumboro dengan HIPRAGUMBORO-BPL2 atau HIPRAGUMBORO-I2 pada ayam induk, agar DOC yang dihasilkannya mempunyai kekebalan asal induk yang baik terhadap Gumboro. Tujuannya untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi virus Gumboro asal lapangan pada 2 (dua) minggu pertama hidup anak ayam.

5. Vaksinasi dengan vaksin HIPRAGUMBORO-GM97 merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap infeski virus penyebab Gumboro ganas (vv-IBD).

Air minum
Diprogramkan pada daerah resiko tinggi terhadap vv-IBD.

Sesuaikan dengan level dan keseragaman maternal antibodi terhadap Gumboro yang dimiliki oleh anak ayam.



Adanya reaksi post vaksinasi yang dapat ditimbulkan dari pemakaian auto vaksin atau vaksin Gumboro dengan kandungan strain virus yang cukup keras (intermediate plus atau hot strain), sudah tentu perlu dijadikan dasar pertimbangan dalam pelaksanaan dan pemilihan jenis vaksin Gumboro yang digunakan. Sebagai contohnya, vaksin Gumboro jenis “intermediate plus/hot strain” yang diberikan pada ayam umur muda (umur dibawah 12 hari), dapat menimbulkan deplesi pada sel-sel limfoid dari Bursa Fabrisius dan bersifat immunosupresi sebagai bentuk reaksi post vaksinasinya. Oleh karena itu dianjurkan pemakaian vaksin Gumboro, seperti HIPRAGUMBORO-GM97 yang aman terhadap Bursa Fabrisius dan organ limfoid lainnya, serta mampu menghasilkan kekebalan yang bersifat spesifik terhadap vv-IBD virus maupun virus IBD klasik.


Drh. Wayan Wiryawan
HIPRA –Spain
wayan@hipra.com

1 komentar:

Arthur on April 21, 2015 at 1:47 PM said...

sangat membantu.. apa vaksin Hipra ini byk di pasaran ?

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template