Wednesday, August 15, 2007

PENYEBAB DAN DAMPAK IMUNOSUPRESI PADA AYAM

PENYEBAB DAN DAMPAK IMUNOSUPRESI PADA AYAM

Ayam yang sehat akan menghasilkan performan produksi yang baik dan hal ini dapat dicapai apabila beberapa faktor seperti : tatalaksana peternakan, nutrisi dan program vaksinasi dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketiga faktor tersebut akan mendukung perkembangan optimal sistem kekebalan ayam. Dengan sistem kekebalan yang berkembang optimal maka kesehatan ayam akan lebih terjaga.
Secara garis besar terdapat empat hal yang dapat mempengaruhi perkembangan sistem kekebalan tubuh ayam, yaitu (1) Rusaknya organ limfoid primer ataupun sekunder karena infeksi virus dan mikotoksin dan (2) Rusaknya organ limfoid sekunder karena infeksi bakterial, (3) stress yang mempengaruhi fungsi organ limfoid primer, dan (4) Suboptimalnya nutrisi dan manajemen yang mempengaruhi perkembangan organ limfoid primer maupun sekunder. Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan sistem pertahanan tubuh maka organ limfoid penghasil sistem kekebalan tubuh harus dijaga.
Perkembangan organ limfoid yang subobtimal akan menyebabkan terjadinya imunosupresi. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dalam tubuh ayam dan terjadilah infeksi. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi.
Oleh sebab itu, mengendalikan keberadaan agen penyebab imunosupresi dan memonitor perkembangan sistem kekebalan ayam merupakan usaha yang harus dilakukan agar target performan produksi ayam komersial dapat tercapai.

Mengenali Gejala Imunosupresi
Memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui dan mengenali gejala terjadinya imunosupresi akan sangat bermanfaat. Dengan mengetahui gejala-gejala imunosupresi, maka penanganan kegagalan dalam mencapai target produksi dikarenakan terjadinya imunosupresi akan menjadi efektif karena tepat pada sasaran.
Terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi apakah sistem kekebalan ayam telah berfungsi normal. Langkah awal adalah dengan menganalisa situasi peternakan ayam. Situasi yang dimaksud adalah apakah tatalaksana sudah berjalan dengan ideal dan biosekuriti sudah dilaksanakan dengan optimal. Adanya kematian yang sangat tinggi, pencapaian berat badan dan keseragaman pertumbuhan berat badan ayam yang rendah serta konversi pakan yang tinggi merupakan gejala umum terjadinya imunosupresi.
Gejala lain kasus imunosupresi adalah meningkatnya reaksi pernafasan pasca vaksinasi yang berlangsung cukup lama dan terjadinya komplikasi dengan penyakit lain. Hal ini dapat menyebabkan hasil vaksinasi menjadi suboptimal sehingga dapat mengakibatkan terjadi outbreak penyakit pada suatu peternakan.

Organ Pertahanan Tubuh.
Organ tubuh ayam yang memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh ayam adalah bursa fabricius dan thymus. Kedua organ ini merupakan organ primer atau utama dalam sistem kekebalan. Bursa fabricius akan tumbuh cepat dalam 3 minggu pertama umur ayam. Ukuran bursa akan lebih besar dari lien kurang lebih 5 minggu pertama kehidupan ayam dengan rasio ukuran bursa sebanding dengan ukuran berat badan tubuh. Bursa akan mengalami regresi dimulai pada umur 8 minggu.
Gejala Imunosupresi dapat dilihat melalui perubahan patologi anatomi pada bursa fabricius yaitu terjadi atrofi pada bursa fabricius dan rasio perbandingan ukuran antara bursa fabricius dengan limpa. Bila ukuran bursa fabricius sama atau lebih kecil dari limpa pada 5 minggu pertama umur ayam, dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi kasus imunosupresi.
Organ lain yang berperan dalam sistem kekebalan adalah limfa, lempeng peyer pada mukosa usus, tonsil sekalis, struktur limfoid sepanjang saluran pernafasan, kelenjar harder dan konjungtiva mata.



Penyakit Penyebab Imunosupresi
Kejadian imunosupresi disebabkan oleh kerusakan dan terjadinya gangguan fungsi organ limfoid. Penyakit yang merusak struktur dan fungsi organ limfoid primer adalah gumboro, mareks, mikotoksikosis, infeksi reovirus, infeksi chicken anemia dan infeksi ALVJ. Sedangkan penyakit yang dapat merusak struktur dan fungsi organ limfoid sekunder adalah Newcastle disease, Avian Influenza, Swollen Head Syndrome, Infeksius bronchitis, Infeksius Laryngotracheitis, pox bentuk basah, aspergillosis, koksidiosis, mikoplasmosis, snot, kolibasilosis, kolera unggas, salmonellosis dan helmintiasis.

Mikotoksikosis, Penyakit Penyebab Imunosupresi
Mikotoksikosis merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh mikotoksin, dan penyakit tersebut timbul jika unggas mengkonsumsi pakan atau bahan yang mengandung mikotoksin. Mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan jamur dan terdapat pada hampir semua jenis komoditi hasil pertanian di seluruh dunia. Saat ini, lebih dari 300 jenis mikotoksin telah teridentifikasi yang berasal lebih dari 100.000 spesies jamur.
Mikotoksin di sintesis dan dikeluarkan selama proses pertumbuhan jamur tertentu. Dan jika jamur mati, maka produksi mikotoksin akan berhenti, tetapi mikotoksin yang sudah terbentuk tidak akan hilang. Hal tersebut karena mikotoksin memiliki struktur kimiawi yang stabil pada berbagai kondisi lingkungan, sehingga tahan terhadap suhu panas yang ekstrim dan tahan lama pada proses penyimpanan bahan baku serta tahan terhadap berbagai proses pengolahan dalam pembuatan pakan ternak. Yang menjadikan mikotoksin menjadi ancaman yang merugikan adalah kemampuannya mengganggu dan merusak organ sistem kekebalan tubuh ayam, meskipun mikotoksin tersebut terdapat dalam jumlah yang sangat rendah (nanogram sampai mikrogram per gram bahan pakan).
Berdasarkan tempat/lokasi proses pertumbuhan, jamur yang memproduksi toksin dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu Field Fungi, yaitu jamur yang tumbuh pada masa tanam di ladang pertanian (contoh : fusarium) dan Storage Fungi ,yaitu jamur yang tumbuh pada masa penyimpanan di gudang (contoh : Aspergillus sp. dan Penicillium sp.). Bila tidak dikendalikan, kandungan mikotoksin pada bahan baku pakan akan semakin meningkat karena mikotoksin dapat dihasilkan jamur sejak dari masa tanam sampai masa penyimpanan dan didukung sifat mikotoksin yang stabil terhadap lingkungan.
Pada masa tanam, produksi mikotoksin didukung oleh berbagai faktor, antara lain : kondisi iklim (temperatur >30°, dan kelembaban relatif sekitar 80% - 85%), adanya manifestasi serangga, kualitas bibit yang bervariasi dan kepadatan tanaman yang tinggi. Proses panen dapat mempengaruhi jumlah pembentukan mikotoksin, yaitu tingkat kematangan tanaman dan kadar air biji tanaman. Kemudian, pada saat penyimpanan, produksi mikotoksin dipengaruhi oleh kandungan air biji tanaman yang disimpan, efektifitas pengendalian serangga, dan efektifitas bahan pengawet yang ditambahkan. Distribusi bahan baku pakan juga berpengaruh terhadap pembentukan mikotoksin, seperti kondisi pada saat pengapalan.
Upaya untuk penanggulangan dan pengendalian mikotoksinpun telah dilakukan berbagai pihak, baik petani jagung maupun peternak. Namun terdapat berbagai hambatan dalam proses penanggulangannya, yaitu kondisi iklim saat ini yang berfluktuatif, penanganan pasca panen yang belum optimal, penyimpanan bahan baku yang belum optimal, adanya impor bahan baku pakan sehingga fungi dan mikotoksin dapat ditransfer dari negara lain, adanya pencemaran toksin yang bersifat ganda, struktur kimia mikotoksin yang sangat stabil dan kurang memadainya fasilitas pengeringan, penyimpanan dan mesin giling. Yang paling mendukung pencemaran mikotoksin adalah mikotoksin dapat ditemukan dan tumbuh secara alami pada bahan baku biji-bijian pakan.
Menurut Hamilton (1984), tidak terdapat batas kandungan yang aman untuk mikotoksin. Asupan mikotoksin sekecil apapun, akan terakumulasi. Efek yang ditimbulkan mikotoksin akan berpengaruh secara bertahap sesuai jumlah asupan mikotoksin. Mikotoksi pertama-tama akan menyebabkan penurunan daya tanggap kekebalan tubuh atau imunosupresi, kemudian gangguan metabolisme, berlanjut menimbulkan gejala klinis dan berakhir dengan kematian.
Mekanisme kerusakan jaringan akibat mikotoksikosis belum diketahui secara pasti, akan tetapi diketahui mengganggu proses sintesa protein sehingga dapat menyebabkan gangguan metabolisme. Gejala klinis mikotoksikosis biasanya tergantung dari jenis dan kadar mikotoksin. Variasi gejala klinis tersebut dapat berupa gangguan pertumbuhan ayam, gangguan produksi telur, gangguan daya tetas telur, gangguan pencernaan, perdarahan pada kulit, kerusakan jaringan pada paruh, rongga mulut dan gangguan akibat efek imunosupresi. Konsekuensi terjadinya penurunan daya tanggap kebal atau imunosupresi akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit, meningkatkan derajat keparahan penyakit, meningkatkan tingkat kesulitan pengobatan, respon imun yang buruk, dan mengaktivasi pembentukan tumor.
Sulit mendeteksi keberadaan mikotoksin pada bahan baku pakan karena sifat mikotoksin yang tidak terlihat, tidak berbau dan tidak berasa. Toxin seperti zearalenone, akan berikatan dengan komponen nutrisi yang berbeda-beda, seperti glycosides, glocuronides, atau fatty acid esters. Bila terjadi ikatan zearalenone-glycoside, akan sulit dideteksi dengan metode konvensional, akibatnya bahan baku atau pakan dianggap tidak terkontaminasi . Kemudian ikatan zearalenone-glycoside akan terurai setelah tercampur dengan empedu pada duodenum. Zearalenone tersebut kemudian akan menjadi toksik kembali. Proses ikatan antara toksin dan komponen nutrisi disebut masked mycotoxins. Contoh masked mycotoxins yang lain adalah deoxynivalenol-glycoside (pada bijian – Sewald 1992), Hydroxylation dan glucosylation dari Ochratoxin (pada gandum – Ruhland 1994) dan fuminosin yang berikatan sebagian dengan protein nutrisi.



Gambar 1. Tingkat kejadian mikotoksin pada Bahan baku pakan – data berasal dari Biomin® Mycotoxin Survey Programme pada tahun 2005 - 2006

Beberapa tindakan pencegahan telah dilakukan petani jagung agar jagung yang dihasilkan berkualitas dan tidak berjamur. Tindakan yang telah dilakukan antara lain dengan memilih biji-bijian yang tahan jamur, mengontrol jumlah serangga, manajemen residu hasil panen dan optimalisasi kepadatan tanaman jagung. Tindakan pencegahan di ladang jagung kemudian diikuti dengan tindakan pencegahan pada proses panen, seperti : memilih waktu yang tepat dan ideal, melakukan prosedur panen yang baik, memilih peralatan yang tepat guna, membuang biji jagung yang rusak dan yang memiliki kandungan air yang tinggi.
Ternyata tindakan pencegahan pada proses tanam dan proses panen tidak cukup untuk menghilangkan tumbuhnya jamur. Proses pencegahanpun berlanjut pada proses penyimpanan, seperti : Penyimpanan tepat waktu, meningkatkan kualitas tempat penyimpanan, kontrol kadar air dan kelembaban, kontrol suhu dan serangga, penggunaan bahan pengawet dan penggunaan bahan anti jamur.
Dengan penggunaan bahan anti jamur pada proses penyimpanan disertai dengan prosedur penyimpanan yang baik ternyata dapat menurunkan kandungan jamur secara signifikan. Biotronic®Cleangrain liquid mengandung asam propionat dan sodium benzoat yang efektif untuk mencegah tumbuhnya jamur pada bahan baku pakan asal biji-bijian pada proses penyimpanan. Penggunaan Biotronic®Cleangrain liquid akan menjaga kadar nutrisi bahan baku pakan dengan cara mencegah tumbuhnya jamur dan meminimalisasi potensi merugikan yang dapat ditimbulkan oleh mikotoksin. Tidak terdapat efek samping dari penggunaan Biotronic®Cleangrain liquid yang biasa digunakan dengan dosis 1.5-7.5 liter per ton bahan baku pakan.
Namun, hal tersebut belum cukup, karena kandungan mikotoksin masih tetap ada, bahkan akan semakin meningkat apabila tidak dilakukan kontrol pertumbuhan jamur. Tindakan dekontaminasi mikotoksin harus dilakukan untuk menghilangkan pengaruh mikotoksin. Ada dua jenis dekontaminasi, yaitu dengan perlakuan fisik dan perlakuan penambahan zat kimia.
Perlakuan fisik misalnya dengan pencampuran bahan baku terkontaminasi mikotoksin dengan bahan baku yang baik. Sehingga efek yang ditimbulkan diperkirakan akan berkurang. Tindakan lain dengan pencucian, penggilingan ulang, pemisahan (dengan ayakan atau kipas), pemanasan (autoclave, panggang, microwave), dan radiasi sinar UV. Kekurangan perlakuan secara fisik adalah mahal, hasil tidak pasti dan hilangnya kandungan nutrien pakan.
Perlakuan penambahan zat kimia, misalnya dengan penambahan ozon, ammonia, ammonium hydroxide, hydrogen peroxide, calcium hydroxide dan sodium bisulfite. Namun perlakuan secara kimiawi selain mahal dan memerlukan waktu yang lama, dapat merubah palatabilitas dan kandungan nutriennya, sehingga praktek ini tidak dilakukan.

Mycofix® Plus 3.0 Solusi Mikotoksikosis
Masalah mikotoksin yang mencemari pakan harus diatasi secara serius karena sangat merugikan secara ekonomi. Alasan mengapa deaktivasi mikotoksin harus dilakukan dengan suatu sistem yang terpadu adalah adanya keanekaragam struktur dan sifat kimia mikotoksin, serta adanya kerusakan metabolisme maupun jaringan tubuh akibat efek yang ditimbulkan oleh mikotoksin.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung synergistic blend of minerals, berupa bola mikro berpori yang diproses dan diaktivasi untuk adsorpsi selektif mikotoksin. Aflatoksin yang memiliki struktur kimia berpolar akan dideaktivasi karena ikatan spesifik yang kuat dan stabil. Hal ini tidak akan terjadi apabila menggunakan adsorben biasa seperti alumunium silikat, dimana alumunium silikat akan terurai dan mengembang apabila bercampur dengar air. Sedangkan pada penggunaan zeolit, efektifitas sifat adsorbennya akan hilang pada pH 3.
Beberapa mikotoksin tidak dapat terikat kuat oleh adsorben mikotoksin, seperti zearalenone. Namun kendala tersebut dapat diatasi dengan penggunaan Mycofix®Plus 3.0, karena mengandung Biological constituent, yang berfungsi sebagai dekomposisi ensimatik. Proses ensimatik ini, mampu mendegradasikan mikotoksin asal fusarium sp. (zearalenone) dengan menghidrolisis ikatan ester 12,13-epoxy pada kelompok fusarium menjadi non toksik dan menjadi metabolit non toksik.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung BBSH 797, yang merupakan mikroorganisme yang dikembangkan dan dipatenkan oleh Biomin® yang berproliferasi secara cepat di saluran pencernaan. Selama pertumbuhan, mikroorganisme BBSH 797 memproduksi ensim spesifikyang mampu mendeaktivasi mikotoksin asal trichothecenes (DON, T2 toxin, DAS) dengan cara biotransformasi struktur kimia menjadi metabolit non toksik.
Mycofix®Plus 3.0 mengandung phytogenic substances, yang merupakan campuran unik ekstrak tumbuhan untuk mengatasi kondisi akibat mikotoksin, hepatotoksik dan zat penyebab radang. Efek hepato-protektive terjadi karena flavolignan menempati sel reseptor pada hati sehingga menghalangi toksin memasuki membran sel hati.
Mycofix® Plus 3.0 mengandung phycophytic substances, yang dapat memperkuat respon tanggap kebal alami dan mengkompensasi efek imunosupresi dari mikotoksin. Hal ini terjadi karena terpacunya proses sintesa asam nukleat dan katabolisme asam amino yang merupakan factor penting dalam pembelahan sel.
Berdasarkan mekanisme kerja terpadu bahan yang terkandung di dalamnya, maka Mycofix® Plus 3.0 mampu mengatasi dan mendeaktivasi mikotoksin dan mampu memperkuat dan memperbaiki fungsi hati dan meningkatkan daya tahan tubuh. Maka dengan pemberian Mycofix® Plus 3.0 masalah mikotoksin dapat teratasi.
Cara pemberian Mycofix® Plus 3.0 dicampurkan langsung pada pakan ternak pada saat pencampuran. Dosis untuk unggas dan babi 0,5 kg – 1,5 kg per ton pakan, untuk sapi perah 15 – 30 gram per sapi per hari. Variasi dosis tergantung kontaminasi mikotoksin.


Lisovit, Optimalkan Fungsi Kekebalan
Kondisi imunosupresi harus dapat diatasi dengan tuntas, karena dapat mengganggu status kesehatan ayam sehingga mengganggu pencapaian sasaran performan produksi. Selain dengan menghilangkan penyebab utama dan mengurangi faktor pendukung timbulnya kasus imunosupresi, perlu suatu upaya untuk memperkuat status kekebalan ayam, atau mempercepat status perbaikan kekebalan ayam.
Penggunaan berbagai jenis vaksin sebagai pencegahan terhadap penyakit viral yang bersifat imunosupresif yang didukung biosekuriti yang ketat dan pemberian antibiotika untuk penyebab imunosupresi asal bakteri perlu didukung dengan pemakaian Lisovit® untuk memperkuat status kekebalan ayam atau mempercepat status perbaikan kekebalan ayam.
Lisovit® memiliki kandungan ensim muramidase yang memiliki dua efek yaitu efek anti bakterial dan efek anti viral. Efek anti bakterial karena ensim muramidase mampu memecah dinding sel bakteri di saluran pencernaan ayam dan efek anti viral karena ensim muramidase mampu menstimulasi kekebalan tubuh ayam dan mampu memproduksi fragmen peptidoglikan, sehingga meningkatkan aktivitas makrofag dan menstimulasi pembentukan limfosit.
Lisovit® memiliki kandungan ensim peroksidase yang memiliki efek katalisa oksidasi dari donor hidrogen untuk mendukung proses generasi molekul oksigen reaktif yang dapat menginaktivasi substansi asing.
Lisovit® mengandung ekstrak tanaman berkhasiat (Echinaecea) yang berperan menstimulir kekebalan seluler dengan meningkatkan aktifitas phagositik dari makrofag dan kecepatan pembentukan limfosit, serta meningkatkan aktifitas Sel T sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
Lisovit® juga mengandung dua macam vitamin, yaitu : vitamin E sebagai antioksidan yang mampu mempengaruhi berbagai sel dari sistem kekebalan seperti limfosit dan makrofag untuk menghasilkan interferon yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Yang kedua, vitamin C yang berperan dalam proses reduksi oksidasi di dalam tubuh yang mentransfer hidrogen dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan berbagai keadaan stress.
Berdasarkan mekanisme kerja yang terdapat di dalamnya, maka Lisovit® mampu mengoptimalkan vaksinasi, meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap stress dan serangan penyakit, serta tidak kalah penting dapat meningkatkan daya kerja antibiotika golongan betalactam (amoxicillin, ampicillin, dll). Maka dengan pemberian Lisovit®, kasus-kasus imunosupresi dapat segera dipercepat pemulihannya dan dapat menstimulir timbulnya respon kekebalan sehingga konsep pengebalan ayam dan konsep optimalisasi kesehatan ayam dapat berjalan dengan baik.
Cara pemberian Lisovit® pada ayam pedaging, ayam petelur dan ayam bibit diberikan selama 3 hari berturut-turut dengan selang waktu 1 hari, pada saat vaksinasi atau kejadian stress. Dosis untuk ayam pedaging di minggu pertama 30 gram/1000 ekor, minggu kedua 50 gram/1000 ekor dan di minggu ketiga 100 gram/1000 ekor. Dosis untuk ayam petelur dan ayam bibit 100 gram/1000 ekor.



Drh Nurvidia Machdum
Technical Department Manager
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 264
JAKARTA. Telp.021 8300300

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template