Wednesday, August 29, 2007

SIAPA YANG TERSERANG KERDIL?

Jenis ayam apa yang terserang kerdil? Bangsa atau strain apa? Bagaimana mengakomodasi kepentingan peternak dan pembibibitan dalam menyikapi kekerdilan yang nyata-nyata terbukti ada?

Inilah kenyataannya, penyakit ayam kerdil dijumpai terjadi pada ayam petelur (layer) dan (broiler). Demikian Drh Andi Wijanarko dari PT Pimaimas Citra.

Adapun, di wilayah Bandung dan Subang setidaknya, pada broiler (ayam pedaging) dan pada ayam layer (petelur). Demikian Drh Supandi dari PT Sanbe Farma tentang kondisi di wilayah kerjanya.

Dulu kekerdilan terjadi pada broiler, kini pun terjadi pada layer pada masa pemeliharaan dara. Pertumbuhan terhambat, masa produksi lambat umur. Secara patologi anatomi ada, terjadi malabsorpsi, rusaknya usus, pakreas, terjadinya proventrikulus. Pada layer dara tidak mencapai berat yang seharusnya. Alat reproduksi pun tidak berkembang, menjadi kecil dan atau belum besar seperti normalnya. Yang mestinya sudah belajar bertelur pada umur 16-17 minggu, mundur sampai umur 19-20 minggu baru belajar bertelur. Terjadi kerusakan digesti yang menganggu asupan pakan. Demikian Demikian Drh Lies Parede Hernomoadi MSc PhD dari Balitvet dan Drh Hernomoadi Huminto MS dari FKH IPB.

Menurut bangsa atau strain ayamnya, kasus ayam kerdil pun terjadi hampir di semua wilayah peternakan. Bukan bangsa ayam tertentu, tapi semua strain ayam. Demikian Drh Prabadasanto Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia.

Relatif didapati pada rata-rata strain atau bangsa ayam yang ada, waktu kejadiannya tidak sama atau terus-menerus pada saat kedatangan anak ayam ke peternakannya. Kadang-kadang pada satu kali masa kedatangan DOC ada kasus kekerdilan pada suatu bangsa ayam, pada masa berikutnya belum tentu atau tidak ada. Demikian juga pada kasus pada bangsa ayam yang lain. Dengan demikian kasus kekerdilan praktis berasal dari pembibitan. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH dari PT Paeco Agung Cabang Jawa Timur.

Penyebaran kekerdilan ini secara vertikal, dari induk. Jadi yang harus diperbaiki dari induknya. Karena saat DOC datang sampai lima hari datang itu sudah kelihatan di awal, tidak mungkin itu dari penularan dari luar. Dan itu makin kelihatan kalau berumur menjelang 3 minggu. Demikian Drh Anas Sudjatmiko dari PPUN.

Umur kecil belum kelihatan sebagai DOC berubah. Dulu ayam umur 5 minggu mempunyai berat 1,8 kg; sekarang umur 5 minggu berat badannya 2 kg. Pada induk ayam, dengan kemajuan teknologi dan penerapan rekayasa genetika, semakin tampak kelemahan-kelemahan yang makin terbuka untuk bisa muncul dan terjadi. Faktor-faktor kelemahan kekebalan tubuh muncul, ayam menjadi rentan penyakit, dan lain sebagainya. Demikian Drh Prabadasanto.

Secara Genetik Terbukti

Yang pasti dari hasil penelitian, ada jenis strain ayam yang peka infeksi Reovirus, ada pula yang tidak peka. Infeksi menyebabkan diare hebat, pertumbuhan broiler kelihatan terganggu pada pertumbuhan akhir. Seharusnya mencapai 1,6 kg, pertumbuhan akhirnya hanya 1,3 atau 1,4 kg. Demikian Dr Lies Parede Hernomoadi.

Anak ayam yang berumur 1-2 hari sangat peka terhadap uji Reovirus ini. Infeksi dini berakibat buruk. Infeksi pada anak ayam umur 1 minggu menyebabkan berat ayam 100-200 ngram. Infeksi lebih dari 10 hari beratnya bisa 1,3 kg padahal semestinya 1,6 kg. Infeksi pada umur 2-3 minggu bisa berakibat ringan di mana berat badan tidak tercapai. Demikian Dr Lies seraya memastikan tentang pentingnya seleksi genetik.

Akibat kepentingan untuk menghasilkan bibit ayam unggul yang begitu baik, konversi pakan baik, daging gemuk untuk broiler, produksi telur banyak untuk layer, dan sifat-sifat unggul lainnya, perbaikan genetik ayam indukan bibit dipacu begitu ’hebat’. Namun kadang, kondisi peternakan Indonesia ternyata relatif belum cocok dan terbaik untuk pemeliharaan ayam yang menjadi demikian rentan berbagai hal karena upaya perbaikan genetik itu. Biosekuritas, lingkungan, perkandangan, kedisiplinan, tidak mendukung, memudahkan Reo menyerang, dan terjadi kekerdilan. Demikian Dr Lies.

Maka kuncinya pada pembibitan saat ’mencipta’ ayam unggul itu, jangan peka terhadap Reovirus. Secara mikro, seleksi genetik pun dapat dilakukan. Begitu dilihat, dapat ditentukan kualitas genetik ayam bersangkutan, peka atau tidak terhadap Reovirus. Hal ini penyebab munculnya kekerdilan pada ayam ras tertentu pada kelompok kedatangan tertentu. Demikian Dr Lies.

Soal kepekaan berdasar genetik ayam itu dibuktikan peternak, Ahmad (bukan nama sebenarnya) yang memberikan perlakuan pemberian pakan terhadap ayam yang terganggu/ terhambat pertumbuhannya tidak berbeda, tidak ada perlakuan khusus. Dan kebetulan ayamnya berasal dari satu bangsa (strain) ayam, di mana perbedaan dengan strain lain meski perlakuan pemberian pakan sama tetapi hasilnya bisa berbeda. Belum dievaluasi secara menyeluruh sejarah kekerdilan di Legok Tangerang Provinsi Banten.

Peran Pemerintah Tugas Peternak

Terkait dengan asal penyebaran dari induk ayam yang berarti terkait dengan pembibitan, peternak melihat pemerintah dalam menangani kasus kekerdilan ini belum serius, ini dianggap sebagai kematian dari populasi tertentu. Padahal ini harus ditangani secara serius. Menurut peternak, pemerintah seharusnya aktif memeriksa di breeding-breeding farm (peternakan pembibitan) sehingga nantinya hasil kualitasnya lebih bagus. Namun sayang, ”Kontrol dari pemerintah dalam hal ini sangat kurang,” Drh Anas dari PPUN membuka kenyataan.

Peternak harus aktif melakukan pelaporan-pelaporan masalah kekerdilan ini kepada lembaga-lembaga peneliti, katakanlah ke Balivet, IPB. Peternak harus aktif melakukan itu dan chek and rechek supaya ada balance dari keadaan ini. Demikian Ketua Persatuan Peternak Unggas Nusantara ini.

Sehingga, ”Kita bisa mengklasifikasi breeding-breeding mana yang kualitasnya baik,” ucap Anas. Tentang upaya yang dilakukan oleh PPUN ia mengungkap, tiap bulan akan mengeluarkan informasi kepada anggota tentang pakan atau DOC berdasarkan urutan prioritasnya. Sehingga membuat pabrikan mau intropeksi.

Tangan Pembibitan

”Kemungkinan penyakit ini juga diakibatkan masalah vaksinasi,” ujar peternak ini. Apakah breeding sempat melakukan vaksinasi? ”Saya tidak tahu,” tukasnya. Yang dimaksud Anas adalah vaksinasi kekerdilan yang lazim dikenal sebagai vaksinasi Reo, virus salah satu biang kekerdilan. Lazimnya memang dilakukan di peternakan pembibitan, bukan peternakan komersial. Wajar bila vaksin Reo tidak dijumpai pada ayam komersial, seperti kata Drh Anwar (bukan nama sebenarnya) setidaknya pada lingkup wilayah kerjanya.

Di Jawa Timur, dilaporkan, Vaksinasi Reo tidak ada pada peternakan komersial. Tentu pada pembibitan pelaksanaan vaksinasi Reo sudah bagus diupayakan. Demikian Asyikin.

Anwar membenarkan, pemberian vaksinasi Reo ini diberikan pada peternakan pembibitan. Namun, disinyalir untuk penghematan biaya, di mana kasus AI begitu makan banyak biaya vaksinasi dan harganya mahal, vaksinasi cacar (Pox) dan Reo dikurangi, sehingga hal ini menggertak munculnya anak ayam yang mengalami kekerdilan pertumbuhan.

Yang paling merasakan dampaknya, peternak, yang menerima bibit ayam yang ternyata bibitnya berkasus kekerdilan. Halnya pihak pembibitan sendiri, menurut Anas, selama ini pihak pembibitan lebih bersikap pasif akhirnya menunggu laporan atau claim dari peternak. Sehingga peternak banyak dirugikan. Karena garansi atau jaminan tidak ada.

Ada yang disayangkan. ”Bonus pembelian dua ekor per box itu belum tentu jaminan. Mungkin mereka (pembibitan) tidak mau jujur. Mereka selama ini hanya mengejar keuntungan tanpa melihat kualitasnya. Yang baik adalah langkah seperti yang dilakukan teman saya, saat membeli begitu ada tanda-tanda kekerdilan langsung dikembalikan ke pabrikan,” protes Anas.

Menanggapi pernyataan tentang kejujuran ini, “Pihak pembibitan (breeding) haruslah jujur tentang kondisi bibit,” tegas Drh Yasin (bukan nama sebenarnya), seorang praktisi kepada Infovet. Menurutnya, peternak sendiri dapat mengamati keterkaitan dengan pihak bibit ini pada kondisi di lapangan. Apakah kala bibit ayam masuk kandang komersial pada tiga bulan tidak kena, selanjutnya apakah tiga bulan berikutnya lagi tidak kena kekerdilan atau menjadi kena. Sehingga ketahuan, mungkin itu karena faktor pakan, atau yang lainnya.

Respon terhadap claim peternak kepada pihak pembibitan ini, ada yang diganti dengan DOC untuk yang jumlahnya kecil. Sedangkan yang jumlahnya besar diganti dengan pakan. Ini diberikan oleh breeding-breeding tertentu. Breeder besar juga mau. Demikian H Nur ’Asyikin SH MH.

Sedangkan dari sisi breeder tentunya berhubungan dengan telur yang berasal dari flok muda, flok tua atau induk yang sakit. Demikian Drh Hany Widjaja, Technical Service Manager Alltech Indonesia.

Artinya, mari kita letakkan masalah kekerdilan dan pembibitan ini secara seimbang dan pada tempatnya. (AW, YR)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template