Thursday, August 23, 2007

Peternakan yang Bebas AI

Tak ingin kecolongan virus avian influenza (AI) seperti "tetangganya", Dinas Peternakan Kabupaten Blitar melakukan pengamanan. Caranya, memberikan vaksin (antibodi untuk unggas) dan desinfektan (cairan pembunuh kuman) ke unggas.

Ini diungkapkan Wasis Gunawan, Kasi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Blitar. Katanya pada wartawan April 2007, meski saat ini di Kabupaten Blitar belum ditemukan ayam yang mati karena AI, pihaknya terus meningkatkan sosialisasi pola hidup bersih kepada pemilik ternak di seluruh kecamatan. Caranya, memberikan vaksinasi dan desinfektan kepada semua unggas.

"Mengingat Kabupaten Blitar merupakan daerah yang rawan serangan flu burung. Ya, hampir di setiap kecamatan terdapat peternak unggas," katanya.

Diucapkan Wasis, pada 2007 ini Pemkab Blitar mengalokasikan 3.500 ribu vaksin yang cukup untuk setahun. Untuk pengadaan vaksin, diambilkan dana daro ABPN, APBD Jatim dan APBD Kabupaten Blitar.

Saat ini, ungkapnya, di Kabupaten Blitar terdapat sekitar 3.000 ribu peternakan besar maupun kecil. Bantuan vaksin hanya diberikan kepada peternak kecil dengan jumlah populasi maksimal 2000 ekor. Sedangkan populasi ternak 2000 ekor ke atas dilakukan secara swadaya oleh masing-masing pemilik peternakan.

Menurut narasumber Infovet, memang ada peternakan di Blitar tidak pernah divaksin AI, namun tidak terserang penyakit Avian Influenza ini. Biosecurity-nya pun tidaklah memadai, masuk katagori biasa-biasa saja.

Namun pengalaman masa lalu menunjukkan Blitar pun mempunyai pengalaman buruk akhir 2003. Saat itu akibat flu burung, empat juta ternak ayam mati di Blitar. Bahkan pada tahun 2006 Peneliti Avian Influenza (AI) atau Flu Burung dari Surabaya Dr drh Chairil Anwar (CA) Nidom MS menengarai seluruh kawasan/ kantong-kantong peternakan di Jawa Timur sudah positif terserang Flu Burung. Dosen pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Surabaya itu menjelaskan kantong-kantong peternakan di Jatim yang ditengarai positif Flu Burung antara lain Malang, Blitar, Pare (Kediri), dan banyak lagi.

Sementara biosekuriti sendiri, seperti yang dikenal umum, dapat berarti sebagai prosedur-prosedur manajemen yang dapat mencegah, menjaga, dan mengurangi risiko penyebaran dan perluasan penyakit. Biosekuriti dapat diterapkan dalam dunia peternakan unggas sebagai suatu program yang saling mengikat satu sama lain dengan didukung semua pihak yang berkepentingan dalam peternakan unggas itu. Program-program biosekuriti ini dapat berbeda-beda.

Program biosekuriti dapat dibuat tergantung pada kondisi yang ada pada suatu daerah tertentu dan juga tergantung pada penyakit yang timbul di daerah tersebut. Intinya biosekuriti meliputi program sanitasi atau kebersihan dalam kandang dan pemeliharaan serta program pencegahan penyakit.

Di Blitar pun, sesuai catatan tahun 2005, langkah antisipasi terus dilakukan para petugas Dinas Peternakan di sejumlah daerah. Dinas Peternakan setempat, selain memberikan penyuluhan tentang serangan flu burung, mereka juga telah mengambil sampel darah babi untuk diperiksa di laboratorium di Yogyakarta.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template