Thursday, August 16, 2007

Infovet 150, Januari 2007 - KERJA KERAS. DOA KERAS

Terpilihnya calon independen sebagai Gubernur Nangroe Aceh Darusallam Drh Irwandi Yusuf MSc, bagi kalangan kesehatan hewan dan peternakan adalah suatu sinar terang yang berbeda dengan dunia politik. Karena, yang bersangkutan adalah dokter hewan alumnus FKH Universitas Negeri Syah Kuala. Bahkan MSc nya pun di bidang penyakit dalam hewan besar, klinik dan bedah.

Sebelumnya di Propinsi Papua, Drh Konstan Karma Alumnus FKH UGM, sudah menjadi Wakil Gubernur. Menambah deret nama-nama dokter hewan yang bercokol di pemerintahan (baca: politik, kekuasaan) dengan seribu malam harapan agar yang bersangkutan turut memperjuangkan kepentingan kedokteran hewan (dan peternakan).

Maklum, kalangan kedokteran hewan merasa tersisihkan kiprahnya spanjang 32 tahun pemerintahan orde baru dengan dibonsainya dunia kehewanan menjadi bagian kecil dari dunia peternakan.

Lebih-lebih pada masa otonomi daerah yang memberi kebebasan tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk memodeli kepengurusan bidang kehewanan dan peternakan dalam bentuk apapun. Bahkan, afiliasi dengan bidang lain, dengan penempatan kepala bidang ini bahkan oleh orang yang tak punya ‘bau’ pendidikan kesehatan hewan sama sekali!

Semangat berlomba agaknya dihembuskan dengan terpilihnya Irwandi yang tidak mewakili partai politik apapun yang diharap juga lebih perhatian pada bidang kesehatan hewan di Serambi Mekah ini. Semoga daerah lain juga akan menyusul, begitu kata dokter hewan dari berbagai tempat.

Hembusan segar pun ditemui di pusat pemerintahan Departemen Pertanian di mana Menteri Ir Anton Apriyantono MS memberi lampu hijau untuk munculnya Direktorat Jenderal Kesehatan hewan (atau Veteriner) sejajar dengan Direktorat Jenderal Peternakan, meski hari cerah bagi insan veteriner hal ini belum pasti tanggalnya, namun konon di tahun ini, 2007, juga.

Sebagian insan veteriner, mulai merasakan hasil dari jerih lelah memperjuangkan otoritas veteriner yang mulai bangkit menyusul bertubi-tubinya kasus demi kasus penyakit zoonosis Flu Burung dan lain-lain mendera dan menampar harkat profesi veteriner.

Pada dasarnya, segala sesuatu pastilah ada pemegang otoritasnya. Bahkan bumi dan langit seisinya ini hanya punya satu pemegang otoritas: Penciptanya. Dan, kita umatNya sungguh beruntung diberi kepercayaan untuk mengelola planet yang konon terindah di jagad raya.

Belajar dari kesalahan nenek moyang kita yang membuat planet ini menjadi compang-camping, kita pun punya harapan kuat pada semua orang yang punya otoritas di bidangnya untuk mengemban amanat dalam mengendalikan bidang garap untuk kemahslatan umat.

Kebanggaan terhadap kesuksesan dokter hewan menjadi pemimpin pemerintahan, kebanggaan terhadap kesuksesan para eksekutif memimpin perusahaan, kebanggaan para aktivis memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, kebanggaan keberhasilan para pemimpin spiritual mendampingi dan memimpin umat: semua adalah satu berkat yang tak akan pernah berhenti di satu titik puncak.

Berkat-berkat itu akan selalu bergulir sebagaimana bola salju yang akan menggelinding. Puncaknya kadang di bawah, kadang di atas. Dan sayangnya gaya tarik bumi membuat bola selalu menggelinding ke bawah, bahkan mencari tempat yang paling rendah, lalu berhenti bahkan pecah dan mencair.

Namun kita tak ingin perputaran kehidupan kita laksana bola salju. Kita lebih suka punya sayap yang akan terbang naik-naik-naik-dan naik, semakin tinggi dan lebih tinggi, tak pernah turun, selalu menjadi kepala, selalu berhasil dan tidak pernah menjadi ekor.

Hanya orang yang punya iman demikian yang akan membawa masyarakat, bangsa dan umat menuju mentari cerah, sorga di bumi seperti di sorga sesungguhnya. Membawa kita ke kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kita butuh pemimpin yang mampu membawa kita lebih sempurna, seperti fitrah manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Dan sesungguhnya di depan kesempurnaan itu ada suatu tabir yang mesti kita buka dengan: kerja keras.

Oleh karena itu, mari kita bekerja keras. Juga: berdoa dengan keras. Agar sukses dan bahagia tak berhenti sebagai sekedar harapan. Meski, pengharapan itu juga senjata utama walau bukan yang terutama. Karena yang terutama adalah: Kasih. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template