Tuesday, August 21, 2007

Flu Burung dan Penyakit Imunosupresif

Masalah kemunculan flu burung di mana-mana, secara diagnostik tidaklah lagi sama seperti gejala-gejela flu burung di awal kasus ini pada tahun 2003-2004. Maka, ketrampilan dan kehlian mendiagnosa dengan diagnosa perbandingan dengan penyakit lain sangatlah penting. Kalau dulu tortikolis selalu identik dengan ND, sekarang Avian Influenza pun bisa mempunyai gejala ini. Bila ada penyakit gumboro yang menyerang, kasus Avian Influenza pun lebih berbahaya!

Demikian terungkap pada diskusi Infovet, ASOHI dan UPPAI di Ruang Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian baru-baru ini.

Masalah diagnosa yang sangat terkait dengan pengetahuan kondisi tubuh ayam yang kekebalannya bisa turun ini tentu saja sangat perlu dipahami. Penyakit infeksius bursal (IBD) atau penyakit Gumboro merupakan penyakit viral akut pada ayam yang menyerang organ sistem kekebalan terutama bursa fabrisius sehingga bersifat imunosupresif.

Dr Drh Rahaju Ernawati dari Laboratorium Virologi FKH Unair Surabaya mengungkap bahwa Gumboro menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar karena angka morbiditas mendekati 100% dan angka mortalitas 20 - 30%. "Penyakit IBD pada dasa warga terakhir menular hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1991 penyakit mewabah hampir melumpuhkan seluruh peternakan ayam di Indonesia," katanya.

Sementara Dr Drh Lies Parede dari BBalitvet Bogor dan Drh Hernomoadi Huminto MS dari Laboratorium Patologi FKH IPB mengungkap, "Penyakit itu baru menjadi masalah buat peternak kalau menimbulkan kerugian ekonomi. Kalau tidak ya bisa diatasi sendiri diam-diam tidak usah ribut."

Langkah-langkah bila ada flok wabah ayam, menurut Dr Lies dan Drh Hernomoadi adalah: (1) Secara diagnosa harus dilihat bedah bangkai yang mengarahkan apakah organ yang dominan terserang.(2)Ditambah dengan pemeriksaan histopatologi, kerusakan menunjukan agen primer penyebab.(3)Ditambah serologi atau isolasi, mengarah pengobatan atau pencegahan. (4)Pencegahan diarahkan untuk ayam periode (siklus) berikut: misalnya biosekuriti, program vaksinasi, monitoring.

Menurut ahli penyakit viral dan pataolog itu, gejala ND berbeda dengan AI menurut kacamata patolog maupun virolog. Tortikolis milik ND ganas, Pial biru ungu milik AI ganas. Nah, "Kalau infeksi campuran: ikuti langkah-langkah tadi," saran mereka.

Sedikitnya 500 ekor ayam mati secara mendadak di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Kematian unggas di lokasi peternakan rakyat itu, diduga terkena penyakit gumboro atau flu burung. Akibatnya, puluhan peternak menjadi panik dalam dua hari terakhir, karena sebelumnya ayam mereka masih sehat, namun tiba-tiba mati.”Ayam yang mati itu terpaksa dikuburkan massal dalam satu lubang sementara yang masih sehat, ada yang segera disembelih,” ungkap Rusli Kadir, salah seorang warga Bontomarannu, Kamis (1/6 2006) siang.

Menurutnya, ayam yang mati tersebut umumnya ayam bukan ras (buras) alias ayam kampung. Karena itu, banyak peternak meyakini kalau ayamnya itu mati bukan karena flu burung, melainkan hanya penyakit unggas biasa yang menyerang ayamnya pada saat memasuki musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya.Untuk memastikan hal tersebut, lanjut Rusli, pihaknya bersama Dinas Peternakan setempat sudah mengirim sampel ayam yang mati ke laboratorium peternakan yang ada di Kabupaten Maros dan hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaannya.

”Kami sangat khawatir jangan sampai flu burung menyerang unggas di Bontomarannu. Tetapi bila diperhatikan gejalanya, kelihatannya sama dengan peristiwa di Bontonompo beberapa waktu lalu dan hasil laboratoriumnya ternyata positif penyakit gumboro,’’ ujar Rusli yang juga alumni Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin itu.

Kematian Unggas, Gumboro Dikira Flu Burung. Hasil pelaksanaan surveyland di seluruh lokasi peternakan Kalbar akhirnya terindikasi negatif. Kadis Peternakan dan Kehewanan KalbarKalbar, Ir Kasiono Kasdi melalui Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Vetereiner, drh Mugiono mengatakan Disnak telah membuka pelayanan gratis di laboratorium penelitian penyakit hewan, bagi seluruh peternak unggas yang ada.

Pelayanan juga terbuka bagi segala kalangan baik pedagang, peternak, maupun masyarakat umum. Pelayanan ini berlangsung selama masa pemberlakuan isolasi daerah.

Selama sepekan, kepanikan masyarakan mereda, namun hal ini tak berlangsung lama. Secara mengejutkan kabar pengaduan kematian sejumlah ayam di Pal terdengar lagi. Tidak seperti sebelumnya, jumlah kematian kali ini, cukup banyak. Dari populasi 5000 ekor ayam pedaging, 268 diantaranya ditemukan tewas.

Walaupun sempat teredam, isu ini akhirnya menyebar juga di kalangan peternak. Suasana pun kembali resah.

Berdasarkan keterangan Kepala Laboratorium Disnak, drh.Joko Srianto, yang memeriksa langsung sampel-sampel ayam, ditemukan indikasi berupa penyakit gumboro ayam.

Walaupun istilahnya agak aneh, gumboro dapat dideskripsikan sebagai virus pelemah daya tahan tubuh pada ayam, jadi bukan sejenis tetelo apalagi flu burung.

Dalam penelitiannya, Joko yang dibantu dua staf ahli masing drh Ida dan drh.Erwan ini mengambil sejumlah sampel yang bersal dari organ-organ ayam, seperti jantung, pankreas, usus, dan proventrikulus (lambung).

Organ-oragan ini dibedah untuk mengetahui apakah di dalamnya terkandung titter antibody yang cukup. Titter ini semacam zat kekebalan pada tubuh ayam/unggas yang membuat daya tahan tubuh ayam kebal terhadap penyakit. Maklum, virus gumboro ini menyerang dan melumpuhkan sistim kekebalan tubuh ayam.

Jika titter antibody ini diambil. Maka kadarnya akan terlihat dalam jumlah tertentu per satuannya.

Serum darah ayam yang diambil akan dipisahkan antara bagian serum dan plasmanya, kemudian ditambahkan dengan larytan buffer berupa Pbs dan NaCl. Untuk memperlihatkan hambatan komplek terhadap hasil uji yang ditest. Apabila antigen yang dihasilkan memiliki kadar titter lebih dari dua hingga 12 kali pengenceran maka ayam positif terkena gumboro. Sebaliknya bila kadarnya di bawah itu, kondisi ayam aman.

Hingga 7 Februari, periode penelitian di Laboratorium Disnak mengindikasikan sejumlah peternakan Sanggau positif tetelo, begitupun Ambawang . Namun yang terjadi di

peternakan PAL 31 Januari silam, murni penyakit Gumboro, bukan flu burung.

Kini, Kalbar tengah menunggu hasil penelitian serelogis dari Balai Penelitian di Bogor.

Konsumsi ayam atau telur tetap saja aman, tentu dengan memasak hingga matang. Kalau daging ayam panasnya 80 derajat selama, telur 60 derajat selama lima menit.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template