Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi

Ir. Bambang Suharno

Wakil Pemimpin Umum/Usaha

Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA


Redaktur Pelaksana

Ir. Darmanung Siswantoro

Koordinator Peliputan

Ridwan Bayu Seto


Redaksi

Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)

Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)

Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)

Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)

Drh Heru Rachmadi (NTB)

Sadarman SPt (Riau)

Drh. Sry Deniati (Sulsel)

Drh. Joko Susilo (Lampung)

Drh Pututt Pantoyo (Sumatera Selatan)


Kontributor

Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,

Drh Dedy Kusmanagandi, MM,

Gani Haryanto,

Drh Ketut T. Sukata, MBA,

Drh Abadi Soetisna MSi

Drs Tony Unandar MS

Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Pemasaran :

Aliyus Maika Putra,


Staf Pemasaran

Mariyam Safitri.

Kabag Produksi & Sirkulasi

Yuliswar

Staf Produksi & Sirkulasi

M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi


Administrasi:

Nur Aidah,


Kabag Keuangan:

Eka Safitri


Staf Keuangan

Achmad Kohar


Alamat Redaksi:

Ruko Grand Pasar Minggu

Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A

Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520

Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408

e-mail:

Redaksi : majalah.infovet@gmail.com

Pemasaran : iklan.infovet@gmail.com


Rekening Bank a/n

PT Gallus Indonesia Utama

Bank MANDIRI Cab Ragunan,

No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I

No 733-0301681


Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan atau peternakan.

Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.

Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi. Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com


Followers

Edisi 158 September 2007 - HARI KEBANGKITAN KITA

On 10:50:00 AM

Kita, dalam menghadapi masalah flu burung yang belum kunjung berujung itu pasti memilih teori yang paling baik dan cocok, dengan dasar observasi yang melibatkan data-data.

Ahli-ahli riset Avian Influenza yang kita punya sanggup menemukan hal-hal baru dalam perkembangan virus AI sejak tahun 2003 dan kita punya sejarah perbedaan fakta yang kita temui terhadap identifikasi virus AI berdasar data-data tentang virus AI di lapangan, bahkan sampai hari ini dengan gejala penyakit yang konon juga tidak sama lagi seperti tahun 2003.

Fakta tentang virus AI, tergantung dari cara pembacaan para ahli itu. Sedangkan datanya: Tidak bisa dimanipulasi! Ciri khas manusia yang tidak mau mengakui kesalahan, dengan sains dapat dikoreksi berdasar data-data baru sekaligus dengan fakta yangberkembang.

Memang, sesuai kata filsuf ilmu pengetahuan terbesar abad 20 Karl Popper (1902-1994), sains adalah satu dari sedikit kegiatan manusia, mungkin satu-satunya yang memungkinkan kesalahan dikritik dan cukup sering, pada waktunya, diperbaiki.

Kita pun jadi mafhum ketika ilmuwan dari balai-balai penelitian kita sudah menemukan sebegitu jauh perkembangan dari penelitian terhadap virus Avian Influenza, apakah itu HPAI (Highly Pathogenic AI) ataukah sudah menyilih menjadi LPAI (Lowly Pathogenic AI), ataukah sudah menjadi lebih ganas, ataukah terjadi perubahan drift-drift yang lain, ternyata aplikasinya terhadap masyarakat di tingkat bawah atau penanganan AI secara keseluruhan masih terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ilmuwan Avian Influenza kita punya intuisi terhadap obyek penelitiannya, sehingga kebenaran yang mereka dapatkan setidak-tidaknya mendekati kebenaran itu sendiri, meski pun tidak mutlak.

Namun ternyata, cara pikir ilmu kedokteran hewan dan peternakan yang kita terapkan dalam penanganan masalah flu burung itu ternyata tidak dapat sepenuhnya kita aplikasikan kaku.

Hal ini menegaskan pertanyaan, betulkah sepenuhnya metode dengan pengujian-pengujian ilmiah itu sepenuhnya rasional tanpa punya emosi dan keindahan? Boleh jadi kaku ketika kita dengan disiplin menerapkan disiplin ilmu untuk menyelidiki kasus-kasus AI.

Namun kita mesti ingat bagaimana pun juga ilmuwan itu menemukan kebenaran tentang AI dengan penuh cucuran keringat, air mata, mungkin konflik dengan keluarga, konflik antar ilmuwan, institusi, masyarakat dan pemerintah sesuai dengan fakta dari sejarah AI di Indonesia. Ada sisi kemanusiaan, emosional di situ. Termaktub pula di dalamnya sisi tanggung jawab terhadap kemahslatan hidup umat sendiri. Di sini ilmuwan bertanggung jawab terhadap lingkungannya, baik secara etis, ideologis dan implikasi cara berpikir.

Untuk itu kita mesti memperkaya dengan ilmu-ilmu sosial dengan logika ilmu sosial atau humaniora yang berbeda dengan logika ilmu pasti alam, sebab sudah terbukti dalam penanganan flu burung itu permasalahannya sangat terkait dengan masyarakat kita, semua.

Maka benarlah teori yang dikemukakan oleh filsuf metafisik Immanuel Kant (1724-1804) bahwa sains sangat erat berhubungan dengan flsafat, dengan wilayah-wilayah pembagian tentang: 1. Ada, 2. Pengetahuan, dan 3. Nilai.

Dalam menangani Avian Influenza, kita tahu ada tidaknya kasus dengan perbagai persoalannya, sementara di lain pihak ada kekuatan yang sampai kini mungkin belum kita jangkau terhadap kasus-kasus itu sehingga kondisinya tidak mengalami perbaikan yang signifikan.

Para ilmuwan dari disiplin kedokteran hewan dan peternakan pun tidak kurang-kurang, bahkan dilengkapi dengan kerjasama dengan berbagai ilmuwan dari berbagai lintas disiplin ilmu, namun permasalahan masih terus berliku-liku.

Di sisi ketiga, Immanuel kant mengatakan ada ranah nilai, di mana di situ kita menjumpaui soal estetika dan etika yang patut kita ajukan untuk mengatasi berbagai kemelutnya yang kompleks.

Mungkin kita perlu mengevaluasi apakah kita ‘mengobati tanpa menyelesaikan masalah mekanisme namun hanya mengobati dengan penanganan gejala semata’.

Mungkin kita perlu menyadari pula bahwa kita masih dalam tahap proses untuk menemukan dari hari ke hari dengan pendekatan sains sekaligus tanggung jawabnya bagi kehidupan saat ini dan masa akan datang.

Di sisi lain ada estetika yang kita punya bahwa pasti kita akan menemukan jawabnya. Sejalan dengan nilai yang diangkat dalam Hari Peternakan dan Kesehatan hewan Nasional 26 Agustus 2007, yang berarti 171 tahun dari kelahirannya saat Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan plakat pelarangan pemotongan sapi betina produktif.

Atau, peringatan ke 5 setelah tahun 2003 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Peternakan dan Kesehatan Hewan. Hari kebangkitan kaum kita. (Yonathan Rahardjo)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »