Saturday, September 1, 2007

PARADIGMA BARU SETELAH 4 TAHUN BERSAMA AI


Pendekatan dalam penanggulangan AI/Flu Burung selama ini masih melakukan pendekatan peternakan (farm based), mestinya harus diubah dengan pendekatan pada unsur kemasyarakatan (community based) mengingat kasus flu burung sudah masuk pada sektor 4 di mana di sini terdapat pada rumah pemukiman penduduk.

Pada prinsipnya laporan tentang penyakit AI pada edisi ini adalah kelanjutan dari laporan terdahulu di Majalah Infovet edisi bulan Juli 2007 yang menampilkan berbagai tokoh dalam dan luar negeri, dan kini pun dilanjutkan dengan pendapat para narasumber yang lain untuk mendapatkan bagaimana gambaran AI setelah 4 tahun bersama kita.

Pada artikel bertajuk “Status Paling Mutakhir Penyakit Pernafasan Avian Influenza” itu Menteri Pertanian Dr Ir Anton Apriyantono MS di antaranya menyatakan Wabah HPAI yang merebak di Indonesia mulai pertengahan tahun 2003 telah menyebar cepat ke berbagai daerah di Indonesia. Sejak tahun 2006 vaksinasi ditargetkan hanya dilaksanakan di daerah yang berisiko tinggi di 11 propinsi (seluruh propinsi di P. Jawa, Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan).”

Direktur Jenderal Peternakan Ir Mathur Riady MA di antaranya menyatakan Program pengendalian AI harus dikoordinasikan dengan Campaign Management Unit (CMU) atau Unit Pengendalian dan Penanggulangan Avian Influenza (UPPAI-Deptan) untuk menentukan wilayah, tata laksana, monitoring, program restocking, dan tindakan sanitasi untuk flok yang terinfeksi.

Adapun Direktur Jenderal Peternakan Periode 1999-2005 Dr Drh Sofjan Sudardjat MS di antaranya tetap berpendapat satu-satunya jalan untuk menanggulangi penyakit AI adalah dengan vaksinasi dan biosekuriti. Pembunuhan atau pemberantasan ayam bukanlah tindakan yang utama, namun merupakan tindakan pelengkap.

Lalu Direktur Kesehatan Hewan Ditjennak Drh Musny Suatmodjo menyatakan saat ini Indonesia menggunakan 3 jenis strain vaksin yaitu H5N1, H5N9, dan H5N2. Latar belakang dipilih ketiga jenis vaksin itu karena vaksin H5N9 dan H5N2 telah digunakan untuk sektor 1 hingga 3 untuk mengendalikan AI sejak tahun 2004, sementara sektor 4 menggunakan vaksin H5N1 karena harganya murah, cepat dan mudah didapat.

Penggunaan vaksin H5N1 sendiri akan mulai dihentikan sejak Oktober 2007 nanti sesuai dengan rekomendasi OIE. Sampai saat ini, ketentuan ini belumlah dicabut.
Sementara itu Komnas FBPI melalui Bayu Krishnamurti menyatakan di Indonesia vaksinasi adalah kebijakan paling realistis untuk menangani AI H5N1 Indonesia. Kebijakan vaksinasi ini dahulu sempat ditentang oleh hampir seluruh negara di dunia, namun keadaannya kini terbalik justru dunia mendukung upaya vaksinasi yang dipilih Indonesia.

Selanjutnya FAO melalui Dr John Weaver menyatakan telah terjadi kegagalan vaksinasi yang penyebabnya harus diselidiki lebih lanjut. Sedangkan OIE (Office Internationale de Epizootica) melalui Dr Christianne JM Bruschke menyatakan sebagai satu-satunya badan dunia yang berwenang mengurusi kesehatan hewan, OIE menerima banyak permintaan dari negara-negara anggotanya untuk memberi masukan dalam menentukan kebijakan penanggulangan AI.

Berikutnya, Laboratorium Riset AI USDA melalui Dr David E Swayne menyatakan virus flu burung atau H5N1 bukan virus tunggal, melainkan keluarga yang terdiri atas tiga keturunan dan sejumlah subketurunan. Virus AI beranak pinak dengan jenis berbeda karena mengalami mutasi akibat kekebalan alami unggas serta tekanan vaksin. Vaksinasi sendiri dipilih karena terbukti mampu menurunkan gejala klinis dan mengurangi kerugian ekonomis yang lebih besar.

Adapun Prof Charles Rangga Tabbu dari Dekan FKH UGM menyatakan dalam pelaksanaan vaksinasi untuk mengatasi AI, vaksinasi terkadang tidak melindungi sepenuhnya dari infeksi. Terlebih shedding virus dari hasil vaksinasi bisa menimbulkan wabah kedua yang tidak terlihat berupa penurunan produktivitas bila tingkat biosekuriti yang diterapkan lemah. Oleh karena itu, vaksin yang digunakan sebaiknya yang berkualitas tinggi, memiliki homologi antigen yang baik dan diberikan secara benar.

Lalu Dr Drh Wayan Teguh Wibawan Wakil Dekan FKH IPB menyatakan sebagian pakar dari Indonesia tak sependapat dengan Dr Swayne yang menyatakan dari penelitiannya bahwa 11 vaksin yang digunakan di Indonesia tidak ada yang memberikan kekebalan cukup baik terhadap virus AI asal Jawa Barat.

Sementara penelitian itu hanya menggunakan satu virus untuk menantangnya dan kita tahu di Indonesia terdapat lebih satu famili virus AI H5N1, sehingga hasilnya dirasa kurang representatif disamping berarti upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah selama dinilai gagal dan percuma.”

Beberapa tokoh lain juga berbicara seperti Gani Haryanto Ketua Umum ASOHI, Don P Utoyo Ketua Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI), Yance dari Sido Agung Farm Krian Sidoarjo, Dharmawan dari Bambu Kuning Farm, Askam Sudin dari Charoen Pokphand Indonesia, Dr Teguh Prayitno Vice President PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Dr Dedi Rifuliadi dari PT Vaksindo Satwa Nusantara, dan H Nur Asyikin SH MH dari PT Paeco Agung Surabaya.

Kini giliran tokoh berbeda sebagai narasumber yang berbeda, untuk mendapatkan bagaimana langkah berikut dari penanggulangan kasus AI yang sudah masuk tahun ke 4 (empat) pada Agustus 2007 ini.

Dengan tema “UBAH PARADIGMA PENANGANAN AI” pada laporan ini, akan terasa bahwa pendekatan untuk penanggulangan penyakit AI ternyata sudah dan harus masuk pada jalan yang lebih luas bagi masyarakat peternakan Indonesia seperti diungkap oleh Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Ditjen Peternakan Deptan Drh Djajadi Gunawan MPH disusul dengan pendepat-penadapat narasumber yang lain.

“Pendekatan dalam penanggulangan AI/Flu Burung selama ini masih melakukan pendekatan peternakan (farm based), mestinya harus diubah dengan pendekatan pada unsur kemasyarakatan (community based) mengingat kasus flu burung sudah masuk pada sektor 4 di mana di sini terdapat pada rumah pemukiman penduduk.

Penanggulangan Flu Burung yang selama ini penuh dengan saling menyalahkan antara pihak-pihak yang berkepentingan, semestinya segera dihentikan, diganti dengan sikap saling mendukung.

Bilamana jalan yang ditempuh adalah vaksinasi, lakukanlah vaksinasi itu sampai tuntas. Bila yang dilakukan adalah pemusnahan bibit penyakitnya, lakukanlah dengan sempurna. Adapun sebetulnya yang dimaksud dengan pemusnahan bukanlah pemusnahan terhadap ternaknya, namun pemusnahan terhadap bibit penyakitnya.

Tidak perlu saling menjegal pada saat suatu kebijaksanaan dilakukan. Bahkan dengan komentar yang menghambat pun sudah berarti tidak saling mendukung. Perlu pelibatan teman-teman peternakan soal Flu Burung yang dirasa masih kurang, sebab banyak yang berpendapat bahwa masalah ini adalah masalah kesehatan hewan bukan masalah peternakan.

Juga perlu perubahan paradigma pendekatan dari penyakit hewan ke kesehatan hewan. Pendekatan tiap daerah pun berbeda-beda sesuai dengan perda masing-masing daerah. Tiap daerah yang punya kisah sukses patut ditiru oleh daerah yang lain.
Adapun ke depannya, sepertinya kita harus terbiasa hidup bersama AI seperti halnya sekarang kita sudah terbiasa hidup bersama ND, dengan prinsip sehari-hari janganlah pengelolaan ternak ini melebihi kodrat selayaknya.”

“Unit Penanganan dan Penanggulangan Avian Influenza (UPPAI) dibentuk oleh FAO (Badan Pangan Sedunia) untuk membantu pemerintah Republik Indonesia (Direktorat kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian) dalam menangani dan menanggulangi AI hingga ke daerah-daerah.

Rencana strategis pengendalian AI tidak hanya dilakukan di pusat tapi juga regional, serta di propinsi maupun kabupaten-kabupaten. Di daerah-daerah inilah dilakukan berbagai tindakan untuk pengendalian AI secara terkontrol dan teorganisir secara rapi, melibatkan berbagai pihak petugas teknis di lapangan, dokter hewan. Juga berencana bekerja sama dengan ASOHI untuk memanfaatkan Technical Service (TS) dalam pengendalian AI di berbagai daerah.

Laporan kondisi AI di lapangan tetap jalan terus. Dari pemantauan itu diketahui pola kejadian AI setiap tahun adalah sama. Pada saat musim penghujan kondisinya selalu naik, sedangkan pada tahun ini musim penghujan ternyata lebih lama. Dengan demikian kita terus melakukan kegiatan terus-menerus, bahkan ada kontak langsung dengan petugas kesehatan manusia di Depkes.”

“Pada prinsipnya pengaturan pengendalian pemeliharaan dan peredaran unggas yang dilakukan di DKI Jakarta adalah untuk mencegah semakin berkembangnya dan memutus mata rantai penyebaran penyakit flu burung. Keadaan peternakan di perkotaan sudah tidak layak lagi di pemukiman dan tidak sesuai dengan standar ibukota, di mana masyarakat hidup tidak berdampingan dengan unggas. Penataan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yangsehat.

Relokasi juga dilakukan untuk menjaga jarak antara peternakan unggas dengan orang yang tidak berkepentingan dengan unggas. Namun demikian pemeliharan di pemukiman tidak dilarang sepanjang dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu dengan jarak 25 meter dari pemukiman.

Pengaturan PERDA ada dua pendekatan yaitu: Unggas pangan, diatur dengan peraturan perizinan dan Unggas non pangan, diatur dengan sertifikasi.

Pengaturan untuk unggas pangan ada dua yaitu kegiatan budidaya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu berjarak 25 m dari pemukiman sedang untuk pemotongan sesuai dengan relokasi yang sudah ditetapkan Gubernur.

Sertifikasi hanya berlaku selama 6 bulan dan untuk selanjutnya harus diperbaharui. Sertifikasi diberikan kepada pemilik unggas kesayangan apabila pemiliknya memenuhi persyaratan antara lain: Setiap unggas kesayangan dikandangkan, kandang dibersihkan setiap hari, kandang didesinfeksi setiap (tiga) hari, vakinasi, disarankan agar diberi pakan yang baikdan vitamin secara rutin.”

“Sudah sepantasnya kita semua membuka mata terhadap pelaksanaan penanggulangan kasus AI ini. Pelaksanaan penanggulangan AI masih belum tuntas, baik di Riau maupun di kawasan Indonesia lainnya. Artinya pemerintah bisa dikatakan gagal dalam pemberantasan kasus ini.

Mari belajar ke Thailand dalam hal penanggulangan AI. Di negara ini, pemberantasan kasus AI dilakukan secara menyeluruh, mulai dari industri hulu peternakan sampai ke industri hilirnya. Artinya semua lini usaha yang berhubungan dengan peternakan menjadi sasaran dalam pemberantasan AI.”

“Sebagai warga tempatan, kejadian AI memberi kesan spesial bagi saya. AI telah memporakporandakan perekonomian ummat berbasis peternakan. Sayangnya, tindakan penanggulangannya belum memberikan arti yang sesuai dengan harapan masyarakat.

Saya melihat pada tindakan pemusnahan massal atau depopulasi dimana ayam warga yang terpapar atau yang berada pada radius 1 Km dengan pusat kejadian harus dimusnahkan. Jelas ini tidak memberikan dampak postif bagi warga. Artinya, kerugian warga akibat ayamnya dimusnahkan tidak diperhitungkan.

Memang dijanjikan adanya ganti rugi, tapi nyatanya sampai saat ini masih belum dipenuhi. Ini benar loh, kejadiannya ngak usah jauh-jauh, di Kota Pekanbaru ini saja, masih ada warga yang belum menerima ganti rugi akibat aksi pemusnahan massal tersebut. Secara psikologis, siapa sih yang mau rugi?

Harusnya pemerintah menganggarkan ganti rugi terlebih dahulu, kemudian diperhitungkan berapa nilai nominal per ekor ayam yang akan dimusnahkan, berikan ganti rugi tersebut tepat pada sasaran, baru lakukan pemusnahan massal tersebut. Dengan cara ini, saya yakin, pemerintah akan menuai sukses dalam programnya membumihanguskan AI di Bumi Lancang Kuning ini”.

“Saat ini penanganan AI di Indonesia lebih bagus dari yang dulu. Meski berstatus kejadian AI masih tinggi, pengaruhnya tidak sebesar pada masa sebelumnya.
Sementara penanganan AI di Indonesia dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand dan Vietnam, di negara tetangga ini penanganannya lebih sistematis, rapi dan tuntas dibandingkan di Indonesia.”

“Masyarakat peternakan dalam penanganan AI saat ini tidak sepanik pada masa awal kejadian. Itu yang membuat kondisi kejadian AI dan pengaruhnya tidak sebesar pada masa-masa sebelumnya.”

“Penyakit AI/Flu Burung memang kurang populer di masyarakat awam, kecuali pada masyarakat yang langsung bersinggungan dengan bidang ini. Hal ini terlihat dari kondisi masyarakat tidak terlalu peduli, tetap makan daging dan telur, dan berdampak positif pada konsumsi produk-produk peternakan ini.

Masyarakat memang lebih mempunyai masalah pada ekonomi masing-masing, konsumsi produk peternakan masih seperti biasa, meski pada kalangan peternakan mereka sepertinya masalah ini begitu besar dan berdampak kepedulian lebih besar yang berarti positif bagi upaya pengembangan peternakan selanjutnya.”

“Kasus Flu Burung di Kota Bertuah Pekanbaru ini bisa dienyahkan, bila semua pihak saling bahu-membahu dengan kebulatan tekad untuk memberantasnya. Sayangnya, masih ada pihak-pihak tertentu yang kurang proaktif dalam menyikapi kasus ini.

Pada hal Flu Burung menyangkut kehidupan masyarakat. Hal yang dapat dilakukan pemerintah adalah sosialisasi bahaya Flu Burung ke masyarakat dimulai dari anak-anak sekolahan, kemudian yang paling simpel adalah memperbanyak iklan layanan masyarakat di media masa dan media elektronik.

Budaya hidup bersih juga memberikan safety baik secara individual ataupun kelompok. Artinya semua orang harus memulainya dari kebersihan diri pribadi dengan menerapkan selalu cuci tangan diawal dan diakhir aktivitas, kemudian mencontohkan prilaku tersebut kepada orang lain, mungkin seperti jenjang Multi Level Marketing pada net bussines, dengan cara ini takkan ada kasus Flu Burung lagi pada manusia di Bumi Lancang Kuning ini”.

“Masyarakat kita masih banyak yang tidak kenal atau peduli dengan flu burung atau Avian Influenza. Penyakit ini tidak lah populer di telinga masyarakat awam, kecuali pada masyarakat yang langsung bersinggungan dengannya.

Mengapa demikian, karena pemasyarakatan penyakit ini sekaligus penanggulangannya pun hanya terasa terbatas. Sedangkan masyarakat kita lebih berbelit masalah pada problem ekonomi.

Kematian orang karena flu burung pun tidak terlalu menjadi perhatian masyarakat yang tidak langsung berkaitan dengan bidang ini. Ada yang menganggap kematian sebetulnya karena masalah ekonomi, dan punya pengaruh tertentu pada jalan keluar mengatasi problem ekonomi masyarakat sendiri.

Sementara dana dari luar negeri begitu bertumpuk-tumpuk dan sangat banyak untuk penanggulangan AI di tanah air. Tentu saja dengan pemerataan informasi kasus AI/Flu Burung di kurang populer di kalangan awam, kita mesti mensiasati bagaimana memanfaatkan melimpahnya dana luar negeri yang tercurah dari berbagai institusi atau lembaga internasional.

Maka ada pihak dari kementerian pemuda dan olah raga yang tugasnya memberi masukan untuk peningkatan perkehidupan pemuda yang lebih baik di negeri ini, menganggap bahwa ini masihlah peluang untuk meningkatkan bidang wirausaha di kalangan pemuda guna peningkatan derajad hidup dengan pembangunan bidang peternakan.
Biarlah dana luar negeri itu termasuk, dan kita meningkatkan bidang peternakan dengan wirausaha di kalangan pemuda kita. Aplikasi kami terus memberikan masukan positif tentang peternakan kepada Menteri Pemuda dan Olah Raga.”

Dengan demikian sangat terasa dan dapat dimaknai thema “SEBUAH LANGKAH MENGUBAH PARADIGMA PENANGANAN AI”. Sukses untuk kita. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template