AVIAN INFLUENZA Perkembangan Kasus Avian Influenza


Hasil kajian lapangan menurut sebagian besar sumber, penyebab Avian Influenza di Indonesia masih disebabkan oleh virus Avian Influenza tipe A, sub tipe H5N1, dan HPAI. Tingkat homologi (susunan asam amino) antara isolat virus AI dari ayam tahun 2003 dan tahun 2006 > 95%.

Saat ini sebagian besar gejala klinis dan kerusakan alat tubuh yang disebabkan Avian Influenza berbeda dengan yang ditemukan pada awal wabah penyakit ini pada tahun 2003. Menurut pengamatan para ahli, ada dua bentuk klinis Avian Influenza; HPAI ganas dengan kematian tinggi (sulit dibedakan dengan ND) dan HPAI ringan dengan kematian rendah. Kedua bentuk klinis tersebut masih disebabkan oleh HPAI.

Gejala HPAI ganas ditandai dengan ayam terlihat lesu, kadang terlihat warna kebiruan pada jengger, pial, sekitar muka, dada, tungkai atau telapak kaki. Dapat terlihat gangguan pencernaan, produksi dan saraf. Peningkatan angka kematian (20-40% atau lebih), Pada ayam petelur, produksi telur terhenti atau sangat menurun:

Gejala klinis HPAI bentuk ringan, tersifat dengan adanya penurunan produksi telur yang drastis. Biasa ditemukan pada kelompok ayam dengan titer hasil antibodi yang rendah. Ayam mengalami depresi ringan atau tanpa gejala. Kadang terjadi gangguan pernafasan. Pada layer terjadi juga penurunan produksi telur, baik pada kuantitas, maupun kualitas.

Pengaruh HPAI bentuk ringan pada ayam petelur. Menyebabkan gangguan kualitas telur, (berat, ukuran, kerabang, yolk dan albumin. Gangguan tipe penyakit HPAI ringan, menyebabkan ayam mudah terkena berbagai penyakit, khususnya ND dan IB. Gangguan respon terhadap pengobatan menjadi rendah, terutama disebabkan karena hati sebagai organ metabolisme utama mengalami gangguan.

Faktor yang mempengaruhi Kejadian AI

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian AI pada suatu peternakan atau wilayah ; (1) Jenis unggas yang dipelihara (ayam, itik, buruh puyuh), (2) Tingkat kepadatan ternak ayam per-wilayah, (3) Manajemen Peternakan (SDM, perkandangan, pakan, air minum, budidaya, kesehatan umum), (4) Pelaksanaan biosekurity, (5) Vaksinasi Terhadap AI, kontak dengan burung liar, rodensia insekta, mamalia (anjing dan kucing). (6) Sistem pemasaran produk dan (7) Sistem penanganan kotoran dan limbah.

Faktor yang berperan dalam penularan virus AI antar wilayah ; Lalu lintas unggas dan produk asal unggas; Transportasi kotoran ayam,mobilitas orang, kendaraan, bahan, peralatan.

Problem pada Penanggulangan AI di Indonesia

Banyak permasalahan yang menjadi hambatan sehingga peanggulangan AI sulit mencapai hasil yang diinginkan. Isolasi peternakan/daerah “bebas AI” masih sulit dilakukan. Tingkat keberhasilan vaksinasi AI, saat ini sangat bervariasi. Biosekuriti cenderung diperlonggar karena memerlukan biaya yang tinggi. Kontrol lalu lintas unggas, produk asal unggas, produk sampingan (khususnya kotoran) sulit dilakukan. Kesadaran peternak untuk ikut mencegah perluasan kasus AI cenderung menurun.

Aspek kesehatan masyarakat, dampak ekonomik, sosial budaya, politik dan efek psikologik kasus AI sangat sangat menonjol, sehingga penanggulangan penyakit menjadi sangat kompleks.

Perwilayahan kasus AI sulit ditetapkan karena areal peternakan ayam tersebar secara acak diseluruh Indonesia. Kajian epidemiologik, monitoring hasil vaksinasi dan dinamika virus AI masih sangat terbatas. Pengembangan public awareness masih belum maksimal, karena masih terkendala terbatasnya biaya.

Aspek Penting Vaksinasi

Vaksinasi diperlukan dalam penanganan Avian Influenza karena akan melindungi gejala klinis dan mortalitas disebabkan virus HPAI. Dengan vaksinasi akan mengurangi populasi yang rentan, mengurangi pencemaran/shedding virus di lokasi peternakan dan tujuan utama vaksinasi adalah mencegah kerugian ekonomi.

Kualitas vaksin terutama ditentukan oleh pembuatan vaksin, distribusi dan penyimpanan, titer vaksin dan masa kedaluarsa. Cara pemberian vaksin juga mempengaruhi aspek vaksinasi. Selain itu metode vaksinasi, program vaksinasi, vaksinator dan peralatan vaksinasi beserta sarana/prasarana peternakan Ayam, meliputi umur/ variasi umur dan status kesehatan, kesemuanya memegang peranan dalam keberhasilan penanggulangan Avian Inffluenza.

Kunci keberhasilan vaksinasi ditentukan oleh penggunaan vaksin yang berkualitas tinggi yang harus didukung oleh manajemen optimal, terutama biosekuriti yang ketat. Vaksin harus diberikan terlebih dahulu sebelum terjadinya infeksi oleh agen infeksi lapang. Vaksin juga harus memberikan perlindungan kolektif pada semua ayam.

Vaksin AI

Prinsip dasar pemakaian vaksin Avian Influenza adalah virus vaksin (master seed) harus homolog dengan sub tipe H atau subtipe H dan N virus asal lapang. Menurut regulasi OIE, master sheed vaksin harus berasal dari isolat virus Avian Influenza low pathogenic (LPAI) yang telah dikarakterisasi (dimurnikan). Mempunyai komposisi genetik yang stabil. Proses inaktivasi sempurna (uji laboratorik). Bebas pencemaran agen infeksius lainnya. Mengandung konsentrasi antigen yang tinggi. Menggunakan adjuvant berkualitas tinggi. Mempunyai tingkat keamanan, potensi dan efektifitas yang tinggi (uji laboratorik dan uji lapang).

Karakteristik vaksin Avian Influenza yang ideal (menurut Suarez tahun 2000), vaksin dapat meransang respon kekebalan humoral (HMI-humoral mediate immunity) dan kekebalan seluler (CMI-cell mediate immunity), sehingga perlindungan terhadap ayam cepat terbentuk. Kriteria lain yang diharapkan pada vaksin Avian Influenza adalah harga relatif tidak mahal, mudah diberikan pada ayam, perlindungan efektif dan dapat dicapai dengan dosis tunggal (ayam semua umur). Respon antibodi yang timbul dapat dibedakan dengan respon akibat virus Avian Influenza asal lapang, subtipe H homolog, subtipe N heterolog dengan virus AI asal lapang.

Karakteristik lain yang diharapkan adalah aman untuk ayam/unggas dan aman untuk diproduksi, master seed berasal dari virus Avian Influenza Low pathogenic (LPAI), Waktu henti singkat (pada broiler), khusus vaksin vektor, dapat merangsang respon antibodi pada ayam yang telah kontak dengan vektor.

Gambar : Vaksin Gallimune Flu® vaksin Avian Influenza 0.3 dalam adjuvant emulsi khusus.

Ada tiga jenis vaksin Avian Influenza, (1) Konvensional, killed, oil emulsion. (2) Rekombinan – vektor vaksin. (3) Reverse Genetics (killed, oil emulsion)
Manfaat vaksinasi terhadap Avian Influenza. Menekan kerugian ekonomik akibat Avian Influenza, menekan mortalitas dan menekan gangguan produksi. Menekan penyebaran/shedding virus AI dan selanjutnya menekan jumlah ayam yang peka terhadap infeksi virus AI.

Beberapa informasi menyangkut vaksinasi Avian Influenza, vaksinasi biasanya tidak menghilangkan infeksi. Vaksinasi harus selalu disertai oleh biosekuriti yang ketat, merupakan bagian dari suatu sistem terpadu. Perlu monitoring dan evaluasi terus-menerus menyangkut : tingkat keamanan vaksin (sistem sentinel dan/atau uji DIVA, uji laboratorik lain). Tingkat perlindungan vaksin dan kemungkinan mutasi virus AI asal lapang.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun program vaksinasi Ai adalah prevalensi kasus Avian Influenza pada suatu daerah, Tingkat keberhasilan vaksinasi AI di lapangan, Status kesehatan ayam dalam flok, Umur ayam, struktur peternakan, Efek vaksinasi ulang terhadap AI.

Evaluasi hasil vaksinasi AI, Perlu dilakukan secara periodik, ada baiknya menggunakan ayam sentinel. Uji Selogik yang bisa digunakan untuk monitoring AI adalah uji HI, Elisa, DIVA.

Manfaat uji serologik terhadap hasil vaksinasi AI, dapat memberikan gambaran tentang kualitas vaksin, proses vaksin, program vaksinasi, kesehatan ayam waktu di vaksinasi, kemungkinan kontak dengan virus asal lapang. Khusus uji DIVA, membedakan respon hasil vaksinasi AI dan respon akibat kontak dengan virus asal lapang.

Permasalahan pada vaksinasi AI selama tahun 2005 sampai pertengahan 2006. Tingkat keberhasilan vaksinasi AI pada ayam sangat bervariasi sehubungan dengan kualitas vaksin, program vaksinasi, kondisi ayam waktu divaksinasi, jenis ayam unggas yang divaksinasi. Ayam pedaging, buras, puyuh hanya divaksinasi AI dalam skala terbatas dan itik sangat terbatas sehingga membuka peluang sebagai reservoir. Monitoring hasil vaksinasi dan dinamika virus AI di lapangan masih terbatas. Alokasi dana untuk vaksinasi masih terbatas. Pengawasan distribusi vaksin dan pelaksanaan vaksinasi belum optimal.

Gallimune Flu® H5N9

Gallimune Flu® H5N9 merupakan vaksin Avian Influenza 0.3 dalam adjuvant emulsi minyak khusus. Gallimune Flu® H5N9 mengandung strain Wisconsin H5N9 yang telah teruji di laboratorium independent USA dan Australia dan Gallimune Flu® H5N9 telah teruji melalui uji tantang dengan isolat Asia. Haemaglutinin (H5) homolog dengan strain yang ada di Indonesia, Neuramidase (N9) heterolog dengan strain yang ada di Indonesia. Gallimune Flu® H5N9 sangat aman karena berasal dari strain Avian Influenza low Pathogenic (LPAI) dan merupakan vaksin yang direkomendasikan OIE untuk digunakan dalam penanggulangan Avian Influenza. Gallimune Flu® H5N9 lebih aman dibandingkan dengan vaksin homolog/ autogenus vaksin yang berasal dari Avian Influenza Highly Pathogenic (HPAI).

Drh Nurvidia Machdum
Technical Department Manager
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 264
JAKARTA. Telp.021 8300300

0 komentar:

Post a Comment

Info Lowongan

Info Lowongan
 

Arsip Artikel

Followers

Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template