Thursday, June 21, 2007

BERBAGI ALAT PEMBAYARAN YANG SAH

Kembali ke Infovet

Ruang Redaksi Edisi 156 Juli 2007

Peternak umumnya selalu memilih harga obat dan vaksin yang terjangkau keuangannya. Ketika peternakannya tidak ada masalah apapun merek obat dan vaksin asal sesuai dengan kebutuhan akan digunakan. Baru ketika ada masalah ia mau memikirkan obat yang lebih berkualitas bahkan paling berkualitas.

Bagaimana bila produk yang ditawarkan petugas pelayan teknis obat hewan sama-sama berkualitas? Ada kisah, seorang petugas pelayanan teknis obat hewan punya produk yang biasanya selalu digunakan oleh peternakan tertentu karena berkualitas, meski harganya tergolong mahal.

Pada suatu saat peternak itu didatangi oleh petugas pelayanan teknis dari perusahaan lain yang membawa vaksin dengan merek sama, karena memang vaksinnya dari prinsipal di luar negeri yang sama namun didistribusikan oleh perusahaan lokal berbeda.

Petugas pelayanan teknis perusahaan kedua ini menanyakan harga vaksin yang dibawa perusahaan pertama. Begitu peternak menjawab satu angka, petugas pelayanan teknis kedua ini lalu memberi harga lebih murah.

Tentu saja peternak tergiur, apalagi dengan iming-iming bonus ini-itu. Jadilah peternak yang semula setia memakai vaksin dari perusahaan pertama pindah ke vaksin perusahaan kedua. Vaksinnya sama, mereknya sama, prinsipalnya sama, tapi peternak memilih distributor kedua karena harganya lebih murah.

Bagi perusahaan pertama hal itu sudah tentu merugikan. Dengan harga vaksin yang ia tawarkan saja, keuntungan bagi perusahaannya tidak seberapa. Bagaimana dengan keuntungan bagi perusahaan kedua yang menjual vaksin dengan selisih harga begitu ‘besar’, dengan harga jauh lebih rendah dari harga jual perusahaannya.

Rupanya, kemudian petugas pelayanan teknis yang pertama ini menyadari, produk vaksin yang dibawa perusahaannya hanya satu merek atau satu jenis saja. Sedang perusahaan kompetitor tadi punya beberapa merek atau produk. Terjadi subsidi silang untuk keuntungan produk mereka.

Yang telah dilakukan perusahaan kompetitor, adalah bernilai strategis dalam perang dagang, yaitu sudah merebut pelanggan. Merebut pasar. Merebut uang!
Ketika tulisan ini dibuat awal Juni 2007 harga telur sedang terjun bebas, menjadi seharga Rp 6500 dari minggu sebelumnya Rp 6800 bahkan di Malang ada yang Rp 8000 setiap kilogramnya. Harga yang meluncur begitu cepat itu membuat orang kaget. Ada apa sebenarnya?

Diperkirakan harga itu akan tetap bertahan hingga Juli dan beranjak naik lagi pada Agustus. Maka terbayanglah dalam imajinasi kita, ditambah berdasar pengalaman dari tahun ke tahun: hal ini terkait dengan kebutuhan masyarakat yang mempengaruhi daya beli produk peternakan telur dan daging.

Saat tulisan ini dibuat masyarakat sedang ditekan oleh kebutuhan keuangan menyekolahkan anak-anaknya. Penerimaan siswa baru menuntut mereka menyediakan dana untuk biaya sekolah. Belum lagi kondisi keuangan untuk memenuhi kebutuhan pokok lain yang harganya tak kunjung turun, minyak goreng melambung, harganya ‘menggoreng hati’ karena masyarakat kecil tak mampu membeli dengan harga murah.

Peternak kena imbas, telur dan dagaing yang mereka jual tak menarik perhatian masyarakat. Bahkan rakyat kecil pekerja kasar yang biasanya makan mi rebus lengkap dengan telur sekarang telurnya didiskon! Artinya hanya makan mi tanpa telor.

Menurut pengalaman tiap tahun, harga telur dan daging kembali terdongkrak pada bulan Agustus, itu karena ada Peringatan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah tentu untuk merayakan kemerdekaan kita, kue dan makanan dihidang di mana-mana, dan butuh telur dan daging untuk bahan hidangan.

Yah, semua selalu terkait dengan dana, biaya, ongkos, uang! Apakah memang sekarang semua alat pembayaran harus selalu menggunakan uang? Tidak adakah alat pembayaran lain yang juga sah seperti uang?

Sementara kita memang harus menerima kenyataan, bahwa di sini uang berperan. Namun kita pasti merasakan, ada sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan uang. Apa itu?

Kita pasti sudah berpikir dan merenungkan. Nilai kemanusiaan sisi lain dari uang itu menyentuh kalbu, seperti ketika kita melihat anak ayam umur sehari yang baru menetas sebagai makhluk hidup yang lucu, lemah, dan butuh kasih sayang.

Padahal sudah terlalu teknis kita nilai harganya sebagai bibit DOC dengan perhitungan uang. (Yonathan Rahardjo)

Tuesday, June 19, 2007

BETAPA KAMI BERSAMA ANDA


kembali ke Infovet

Infovet 131 Juni 2005 - BETAPA KAMI BERSAMA ANDA


Bulan Mei 2005 adalah bulan yang padat kegiatan bagi Infovet. Keluarga besar dan ibu kandung Infovet menyelenggarakan hajat yang begitu besar bagi seluruh warganya yang tersebar dari seluruh wilayah Indonesia. Pengurus dan perwakilan daerah ASOHI menyemarakkan perhelatan Musyawarah Nasional yang ke lima di Hotel Menara Peninsula Jakarta 20-21 Mei 2005. Bahu-membahu dengan saudara-saudara kandung Infovet yaitu rekan-rekan Divisi Satwa Kesayangan, Gita Pustaka dan Event Organizer, energi Tim Infovet dan penyediaan kolom-kolom di Infovet dipenuhi dengan agenda-agenda dan laporan peliputan kegiatan ini.

Pada saat bersamaan Infovet membuka stand pada Agro & Food Expo 2005 berskala nasional di Semanggi Expo Jakarta pada 19-22 Mei, dan stand langsung dikunjungi oleh Menteri. Yang paling mengesankan majalah-majalah Infovet laris manis di tangan minat pengunjung! Yang bermakna juga bahwa produk-produk yang Anda publikasikan di Infovet dibaca dan disimak oleh para pembeli sekaligus pembaca Infovet. Pelanggan-pelanggan baru pun berduyun mendaftarkan diri. Amboi! Betapa Manisnya suasana ini.


Kesibukan Infovet diakomodir dan diorganisir secara cantik dalam melayani para pembaca dan mitra-mitra setia Infovet yang telah saling bekerjasama bisa mewujudkan suatu warna cerah bagi dunia peternakan. Pada 10 Mei Infovet bersama PT Sierad Produce menyelenggarakan kerjasama dalam peliputan pakan ternak yang maha penting dalam proses produksi peternakan.


Kunjungan Infovet di Kantor Pusat PT Sierad Produce diterima dengan tangan terbuka dan kehangatan jajaran pimpinan perusahaan besar dan bergengsi ini. Bahkan diantar langsung menuju pabrik besar yang ketat dengan aktivitas di Balaraja, Provinsi Banten, pada jalan lurus ke ujung barat laut Pulau Jawa.


Jalinan komunikasi adalah hal penting dalam menyelenggarakan kerjasama dengan para mitra Infovet. Infovet bahkan menjadi tuan rumah pertemuan Forum Kajian Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengakomodir 3 Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama 2 Ikatan Mahasiswa Peternakan dan Kesehatan Hewan yang berskala Nasional. Pertemuan di Infovet 25 Mei itu menghadirkan pembicara Ahli Gizi IPB dan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang punya nilai tinggi dalam pemberdayaan konsumen di tanah air Indonesia Raya.


Di PT Kalbe Farma di bilangan Cempaka Mas Jakarta Pusat pada 26 Mei, Tim Infovet bersama Satwa Kesayangan diterima dengan ramah oleh jajaran manajerial perusahaan bergengsi di bidang perobatan ini. Adalah suatu pengorganisasian dan peletakan dasar sistem yang secara simultan telah diletakkan oleh para pendiri, pengelola awal, hingga pengelola generasi ketiga yang penuh dengan energi-enegri baru dan wajah muda penuh semangat yang membuat semua kegiatan yang tampak begitu sibuk hilir mudik itu bisa tertangani secara baik.


Para mahasiswa dari fakultas kedokteran hewan dan peternakan tak jemu berkunjung di kantor Infovet, Infovet pun tak jengah untuk langsung meliput dan mengamati setiap kegiatan di banyak tempat, termasuk di FKH IPB Bogor dalam kampanye gizi bulan ini. Sementara Tim Infovet dikejar tugas harus menyelesaikan dan mengejar dead-line agar majalah kesayangan bersama ini tepat waktu tersaji di hadapan Anda, pembaca dan sahabat, kerabat yang begitu hebat di mata kami. Anda semualah nafas dan jantung pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di negeri dewa-dewi ini. (Yonathan Rahardjo)

13 TAHUN BERSAMA KITA MELANGKAH SEMAKIN MAJU


kembali ke Infovet


Infovet 130, Mei 2005 - 13 TAHUN BERSAMA KITA MELANGKAH SEMAKIN MAJU

Infovet 130, Mei 2005 - 13 TAHUN BERSAMA KITA MELANGKAH SEMAKIN MAJUTerimakasih atas kesetiaan pembaca dalam saling berbagi dengan Majalah Infovet, terimakasih atas kerjasama yang baik dan kita yakin akan semakin baik dan lebih baik di masa-masa selanjutnya. Terbukti kerjasama yang baik antar kita selama 13 tahun usia sangatlah bermanfaat bagi pembangunan peternakan dan kesehatan kita, terbukti bermanfaat bagi usaha, bisnis, wawasan serta arti kebersamaan kita semua.

Kesuksesan pembaca adalah doa dan harapan kami, maka tidak ada kata lain selain kami berusaha selalu meningkatkan pelayanan kami. Hal penting dalam kinerja kami, diantaranya selalu menggenjot koordinasi. Dan, dalam konteks ini, koordinasi pun menjadi panglima. Maka semua awak Infovet serempak menempati pos-pos dalam kondisi-kondisi yang membutuhkan kehadiran Infovet, di tempat-tempat yang pasti.

Lihatlah menjelang HUT Infovet yang ke 13 pada Mei 2005 ini, pada bulan April Wawan Kurniawan SPt sebagai Redaktur Infovet dengan segenap perlengkapannya meliput acara-acara penting di berbagai tempat dan kesempatan, di antaranya Rapat Rencana Strategis Peternakan Nasional di Jakarta. Penulispun berbagi momen, di tempat lain meliput acara yang lain, yang kebetulan butuh bagi peran dalam peliputan, sebutlah Seminar Flu Burung di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Jakarta.

Jumat 15 April 2005 Drh Iswahyudi MAgr selaku Koresponden Infovet Wilayah Jawa Timur dengan segenap kesungguhan meliput Seminar dalam rangka Lustrum FKH Universitas Airlangga di Surabaya. Koresponden-Koresponden lain, Dr Ir Yan Heryandi MP di Sumatera Barat, Drh Mas Djoko Rudyanto MS di Bali, dan Drh Heru Rahmadi di Nusa Tenggara Barat dengan gigih menjalankan peliputan sesuai dengan karakter dan agenda lokal setempat.
Rabu 20 April 2005, Drh Untung Satriyo melesat dari Kantor Perwakilan Infovet Wilayah Yogyakarta-Jawa Tengah di Yogyakarta ke Purwokerto guna meliput Seminar oleh PT Sumber Multivita. Di sela hari-hari padatnya melayani para mitra Infovet, pada 27 April 2004, Departemen Iklan Drh Saptono Adi Muryanto meliput sekaligus menjadi wakil Infovet dalam kepanitiaan Seminar Internasional Manajemen Babi oleh Asosiasi Monogastrik Indonesia, di Banyumas, sekaligus menjalin komunikasi lanjutan dengan Posko Ayam Indonesia.

Pada hari-hari padat M Ari Wirawan SPt di Departemen Distribusi rajin menghubungi para pembaca Infovet untuk selalu setia berlangganan Majalah kecintaan kita bersama ini. Sementara Rini Susanti di Bagian Keuangan, Neneng Nur Aidah di Bagian Administrasi dan Indra Setiawan dengan dikoordinasi oleh M Sofyan pada Supporting Team PT Gallus Indonesia Utama melayani klien perusahaan yang sudah membengkak menjadi beberapa Divisi di samping Infovet sendiri. Divisi Gita Pustaka dipimpin Ir Darmanung Siswantoro menerbitkan buku, Divisi Satwa Kesayangan dipimpin Ir Tatang Eko Priambodo menerbitkan Majalah Satwa Kesayangan, dan divisi EO dipimpin Fajar Adi Purnama mengelola acara-acara penting, seminar dan lain-lain.

Itulah bukti pertumbuhan dinamis dari perusahaan yang sehat, berbasis pada upaya melayani kepuasan pelanggan dengan karya terbaik. Dan itulah yang menjadi semangat Infovet Group yang dipelihara sejak kelahirannya dari Ibu Kandung ASOHI pada tahun 1992 di Jakarta dengan bidan Dr HA Karim Mahanan (alm) dan lantas dikelola dipimpin Drh Tjiptardjo Pronohartono SE, Ir Bambang Suharno dan Drh Heri Setiawan hingga generasi terbaru tadi.


Maka tetap menjaga koordinasi dan komunikasi untuk kepentingan bersama menghadapi dan menikmati hari-hari bersama yang makin maju, melesat menghadapi komunikasi global, adalah bagian erat bagi ucapan tulus kami untuk menyampaikan rasa terimakasih atas kepercayaan para pembaca untuk bersama kita melangkah semakin maju. (Yonathan Rahardjo)

KOLI SERANG MANUSIA DAN TERNAK


Kembali ke Infovet

KOLI SERANG MANUSIA DAN TERNAK

Kasus Koli, yang dikenal dengan istilah Kolibasilosis secara umum bisa terjadi sepanjang tahun, meskipun kejadian kasus Koli dapat terjadi justeru pada musim kemarau dan juga pada musim hujan. Demikian Dr Drh I Wayan Teguh Wibawan MS Wakil Dekan FKH IPB menjawab pertanyaan Infovet soal Koli pada ternak, yang kebetulan pada saat bersamaan di berbagai tempat di tanah air muncul kasus Kolibasilosis yang makan korban manusia dan media-media gencar memberitakan.

”Idealnya, jumlah koli harus nol dalam air minum baik untuk manusia maupun unggas,” kata ahli perunggasan itu. Bagaimana terjadinya serangan Koli pada unggas, pakar ioni menjelaskan, Kolibasilosis disebabkan oleh bakteri Escherichia Koli patogen (EPEC= entero pathogenic E coli). Bakteri ini didapat dari air yang mengandung koli, saat di cabang tenggorok-kerongkongan sebagian akan masuk ke dalam paru-paru dan kantung hawa dan kemudian berbiak disana.Tutur ahli itu kepada Infovet, bakteri Koli dapat menyebar di permukaan organ viseral seperti hati, jantung, dan lain-lain menimbulkan peritonoitis, perihepatitis, epikarditis. Komplikasi bakteri lain (mikoplasma) dan virus sering terjadi, dalam kondisi ini sering terjadi manifestasi infeksi campuran.

“Karena tempat berkembang biak di kantung hawa, di mana daerah ini sangat sedikit dialiri darah (vaskularisasi sangat sedikit) membuat obat-obatan tidak efektif mencapai bakteri ini, karena obat diedarkan ke seluruh organ tubuh lewat darah,” katanya.

“Hal ini membuat seolah-olah kolibasilosis sulit diobati. Bukan karena obatnya tidak manjur, tetapi karena obat tidak dapat mencapai tempat bakteri berada,” tambah Wayan dengan makna tersirat mari mengenali kembali penyakit yang penting artinya baik bagi manusia maupun hewan ini.

Kejadian Pada Unggas

Kolibasilosis dapat menyerang unggas pada berbagai tingkatan umur. “Infestasi Eschericia coli menyebabkan kematian embrio sebelum telur menetas yang terjadi pada periode akhir pengeraman,” kata drh Faralinda Sari Sari staf BLKH dinas Peternakan Riau. Menurutnya, kematian pada pitik (anak ayam) dapat terjadi sampai umur 3 minggu dengan gejala septikemia, respirasi kronik, sinovitis, perikarditis, dan salpingitis.
Di samping itu juga ditemui adanya gejala omphalitis, oedema, dan jaringan sekitar pusar lembek seperti bubur (mushy). Sedang pada broiler, menurut alumnus FKH UGM, kasus ditemui pada umur 6-10 minggu, yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan disertai bersin, anemia, dan kekurusan yang berakhir pada kematian.

Namun,lanjutnya, perlu dilihat gejala serupa pada kasus Salmonellosis, diare akibat makanan, pada unggas Kolibasilosis dikelirukan dengan penyakit sepsis akut seperti Salmonellosis, pasteurellosis, dan streptoccosis, sedang pada babi diare akibat defisiensi zat besi pada pakan dapat mengkelirukan Kolibasilosis.

Koli Pada Manusia

Merujuk pada muasal Kolibasilosis, disinyalir manusia berpotensi besar terpapar Eschericia coli. Demikian dr Medrison mengawali obrolannya dengan kru Infovet. Menurut pemilik Balai Pengobatan Mulya Rokan yang beralamat di jalan Harapan Raya kota Pekanbaru Riau, dalam setiap aktifitas, manusia selalu bersentuhan dengan penyebab Koli. Misalkan saja saat minum, makan dan aktifitas lainnya, kuman Eschericia coli terikut dengan media-media tersebut, namun jarang menimbulkan kesakitan karena jumlah Eschericia coli masih dibawah ambang batas.Lebih lanjut alumnus Fakultas Kedokteran Yarsi Jakarta ini menjelaskan, dalam tubuh manusiapun terdapat bakteri Eschericia coli tapi dalam batas yang wajar, dengan fungsi untuk membantu proses pencernaan. Pada saat akumulasi bakteri Koli meningkat, maka tubuh menimbulkan reaksi penolakan, sehingga terjadilah kesakitan pada manusia yang dicirikan dengan mual, muntah dan diare.

Kasus Koli terbesar pada manusia dapat ditemukan di pemukiman penduduk dengan drainase yang kurang terawat, unhygienitas, dan kondisi pemukiman penduduk yang padat. Pencegahan dapat dilakukan dengan perbaikan saluran air, meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan serta penataan lingkungan pemukiman sesuai dengan kondisi wilayah setempat.

Sedang untuk tindakan pengobatan dapat dilakukan dengan terapi elektrolit misalnya pemberian air minum, pemberian oralit, air tajin, dan dapat juga diberikan pocari sweet sebagai pengganti ion tubuh. Disamping itu pemberian antibiotika dianjurkan pada golongan antibiotika berspektrum luas atau dapat menggunakan preparat Trimetropim dan Cotrimoxazole.

Namun, menurut dr Zaitul Wardana RK DTM&H SpPD pemerhati antibiotika alumnus FK Unand Padang, ”Penggunaan antibiotika gram negatif lebih tepat sasaran, mengingat Eschericia coli adalah bakteri gram negatif.” Dikatakannya lagi, agar tindakan pengobatan tidak sia-sia dengan biaya yang besar, pemilihan antibiotika yang tepat dengan harga yang terjangkau perlu diperhatikan.

”Kematian akibat Kolibasilosis pada manusia jarang, tapi perlu antisipasi untuk penyakit ikutan yang disinyalir sebagai penyebab kematian pada pasien dehidrasi akibat Koli,” tutur ketua Komite Medik Rumah Sakit Pekanbaru Medical Centre ini.
Musim Kejadian Koli

Kembali ke DR Wayan Teguh Wibawan, Koli bisa terjadi pada berbagai musim. Sepanjang tahun bisa terjadi, terutama pada saat kemarau dan hujan. Ditunjang oleh kondisi stres atau saat terjadi imunosupresif (Gumboro, mikotoksin, Myeloid Leukosis, dll).
“Pada musim kemarau terjadi keterbatasan air minum yang berkualitas pada peternakan kita. Di saat ini peternak sering menggunakan sumber air apa saja untuk ternaknya.
Kecuali mereka punya sumber air yang mencukupi. Sebaliknya pada musim hujan, air permukaan yang mengandung bakteri Koli mudah mengkontaminasi sumber air minum.Kejadian Koli sangat berkaitan dengan kualitas air minum,” papar Konsultan dan Praktisi Perunggasan ini.

Pernahkan di Indonesia terjadi kasus Koli yang sangat parah? Jawab Wayan, sering sekali hingga saat ini, ini berkaitan dengan manajemen secara keseluruhan. Kolibasilosis adalah penyakit manajemen, dapat digunakan sebagai ukuran atau indikator apakah manajemen di suatu peternakan baik atau buruk, lihat aja kasus Kolinya.

Maka, mari mengikuti pembahasan masalah dan penanggulangannya pada ternak secara lebih lanjut. (Ardi Winangun, Daman Suska)

AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU

Kembali ke Infovet
AI TERBARU TERUS MEMBURU DAN DIBURU

Muncul AI gejala baru? Infovet melakukan investigasi serentah pada peternak, praktisi dan ahli di berbagai wilayah di Indonesia. Hasilnya? Anda akan dibawa pada suatu fenomena baru kasus AI tahun 2007, yang punya gambaran realitas berbeda (baca: ada perkembangan) dengan kasus AI tahun 2003-2004.

Ayam Potong Tidak Terbebas

Awalnya para pedagang ayam potong tidak tahu apa yang terjadi dibalik kematian lebih dari 80% jumlah ayam yang baru diangkut dari kandang milik peternak. Namun oleh karena kejadian itu terus berulang maka, akhirnya terkuak juga tabir itu. Tidak lain kasus itu adalah manifestasi semakin nyata kasus wabah penyakit Avian Influenza (AI) pada ayam potong.

Seperti diketahui bahwa kasus penyakit yang sempat menggegerkan industri perunggasan domestik itu meski sudah memasuki tahun ke lima, selama ini lebih banyak menerjang ayam petelur. Sangat sedikit kejadiannya bahkan tidak setiap daerah dijumpai kasus penyakit itu pada ayam potong.

Pada beberapa waktu yang lalu para peternak ayam potong masih bisa membusungkan dada bahwa AI hanya menyerang ayam yang umur produksinya tua seperti ayam petelur contohnya. Dan ayam potong diasumsikan terbebas dari sergapan penyakit itu.

Dan kini dengan semakin merebaknya kasus AI pada ayam potong, seolah menjadi lengkaplah sudah penderitaan pelaku dunia perunggasan nasional. Hantaman bertalu-talu seperti rendahnya harga jual hasil produksi yang berlangusung cukup lama itu, bahkan menurut catatan Infovet selama lebih ari 6 minggu di mana harga jual ayam besar sempat menyentuh setengahnya dari biaya titik impas. Selain itu di pihak lain juga terjadi daya serap pasar yang terus melemah.

Adalah Drh Wakhid N dari PT Vaksindo Satwa Nusantara yang memberikan informasi tentang merebaknya penyakit AI pada ayam potong kepada Infovet. Informasi yang sama juga disampaikan oleh Ir Danang Purwantoro dari PT Biotek Jogja.

Khusus kepada Infovet Wakhid mengungkapkan bahwa kasus ini menjadi masalah serius yang harus diupayakan pemecahannya secara bersama seluruh stake holder, seperti peternak, pemerintah ataupun produsen vaksin dan obat-obatan hewan.

Upaya ini sangat mendesak dan penting agar kasus itu tidak semakin meluluh-lantakan industri perunggasan nasional yang saat ini mendekati jurang kehancuran. Hal ini akan diperparah dengan ancaman akan masuknya produk unggas dari negeri manca yang seolah sudah tancap gas siap start masuk ke bumi Indonesia.

Respon Peternak

Lebih lanjut diceritakan oleh Wakhid bahwa banyak peternak juga pedagang ayam potong mengeluhkan wabah penyakit itu, yang nota bene selama ini disikapi oleh peternak ayam potong dengan dingin. Di Jogjakarta dan Jawa Tengah sendiri kasus penyakit itu pada ayam potong relatif belum menjadi masalah, namun di daerah lain sudah menjadi teror yang sangat menakutkan.

Teror yang menakutkan itu dapat diambil contoh kasus yang faktual terjadi belum lama ini di kawasan Botabek. Seperti diutarakan oleh Danang pernah terjadi peternak ayam potong dengan populasi 60.000 ekor yang berumur 11 hari nekad mengambil keputusan menumpas total populasi oleh karena kandang-kandang di sekitarnya sudah terserang penyakit AI.

Argumen pemilik dari pada menderita kerugian yang lebih besar, di kemudian hari alias pada saat bertambah umur, maka langkah yang sengaja merugikan diri sendiri itu jauh lebih ringan. Memang langkah itu menurut pandangan pada umumnya adalah sebuah langkah ”gila” tetapi justru rasional menurut si pelaku.

Kasus tersebut memang membuat jantung pelaku usaha budidaya perunggasan berdetak tak karuan. Oleh karena itu kebersamaan antar pemangku usaha itu menjadi sangat penting sekali.Investigasi Infovet ke lapangan di Jogjakarta kasus penyakit itu sampai saat tulisan ini dibuat memang belum ditemukan. Namun ternyata di Jawa Tengah, khususnya di Purwokerto kasus itu sudah pernah ditemukan meski frekuensinya baru 4 kali dengan populasi yang relatif sangat kecil yaitu total populasi 4.500 ekor.

Ir Agus W alias “Suwingi” seorang petugas lapangan yang banyak membimbing para peternak mengungkapkan hal itu. Memang umumnya kasus itu banyak terjadi di kawasan pantai selatan sekitar Gombong dan terjadi pada peternak mikro dengan populasi 1500 ekor per periode.

Berbeda dengan yang di Botabek yang terkuak karena komplain dari pedagang ayam, justru peternak dan Agus yang pertama kali menduga hal itu oleh karena penyakit AI.

“Wong ayam-ayam itu seminggu saat mau dipanen masih segar bugar dan nafsu makan biasa saja koq 2 hari kemudian langsung mati mendadak dengan total kematian mencapai 60% dari total populasi 1000-1500 ekor. Lha saya menduga hal itu mungkin karena ND saja. Namun kemudian ada sejawat Dokter Hewan yang ternyata mendiagnosa kasus penyakit itu tidak lain adalah AI,” ujarnya Agus dengan logat medok Banyumas kepada Infovet.

Dengan informasi yang demikian memang semua pihak patut waspada sekaligus prihatin

Gejala Klinik Berbeda

Pada Pebruari 2007, tim Drh Agus Damar Kristiyanto Kepala Seksi Penjualan PT Romindo Primavetcom di Tangerang menjumpai kasus AI pada ayam broiler di Baleraja, dengan kematian 70 persen, dijumpai pada ayam umur 15 hari, 23 hari, dan saat panen.

Kondisi biosecurity peternakan di tempat itu cenderung ketat, namun ayam tidak divaksin. Khawatir kondisi itu terulang, peternak beramai-ramai menjual dan membagi-bagi ayamnya. Namun kondisi masing-masing peternakan, tidaklah sama.

Hikmahnya, peternak yang tidak pernah memakai vaksin AI pada ayam pegading mau mencobanya. Pada anak ayam umur 1 atau 4 hari, dosis yang dipakai adalah ½ dosis untuk ayam petelur. Kemudian setelah ditest antibodinya pada umur 27 tahun, tidak menunjukkan kena AI.

Menurut Drh Damar, kasus AI semacam itu saat itu belum muncul di Jakarta, diketahui tidak ada antibodinya. Namun perlu terus untuk dipantau.
Sedangkan di Jawa Timur, Drh Prabadasanta Hudyono dari PT Multibreeder Adirama Indonesia menuturkan menemui AI yang tergolong baru dengan kecenderungan berbeda dengan AI yang telah dikenal.

Pada kasus AI yang ditemui Maret 2007 suhu tubuh ayam rata-rata sangat tinggi.Panasnya tubuh ayam dapat dibandingkan dengan kasus gumboro di mana suhu tubuh panas panas. Kasus AI di Madiun dan Magetan Jawa Timur ini juga menyerang 2500 milik seorang peternak yang membuatnya sangat kehilangan.

“Kelihatannya AI pun punya generasi baru, tidak kalah sama Nissan (merek mobil) yang punya generasi baru,” Drh Praba mengambil perumpamaan. Menurutnya, tampaknya virus sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh, sehingga suhu tubuh panas sekali.

Ketika jari tangan dimasukkan kloaka hingga tuba fallopii untuk memeriksa telur, nyenggol daging di sekitar ginjal, jari tangan seperti dislomot (terkena bara panas) api. Telur. Daerah tuba fallopii sangat panas.

Ayam demam bersuhu lebih panas dari kasus-kasus terdahulu. Jenis antigennya membuat orang penasaran untuk mengetahui secara pasti.

Masih H5N1

Akibat serangannya, ayam kampung banyak yang mati. Pertama kali menemukan kasusnya, tim Drh Praba melakukan kroscek, hasilnya memang cenderung ada ciri baru, tapi tipe virusnya masih H5N1.

Namun virus H5 N1 ini menyerang ke organ tubuh yang beda. Sifatnya pun masih HPAI (tipe ganas/Highly Phatogenic Avian Influenza) bukan LPAI (Lowly hatogenic Avian Influenza/ AI tipe tidak ganas).

Kasus ini mulai kelihatan di beberapa tempat. Pada kasus yang terjadi di Magetan, pada kandang yang terserang, ternyata dalam satu kandang terdapat ayam yang campur-campur jenisnya, ada ayam ras yang bercampur ayam kampung dan lain-lain. Belum ada kasus pada orang.

Panas tubuh yang sangat tinggi pada ayam ini, menurut Drh Praba merupakan manifestasi dari atresia ovari. Ayam yang dulu belum pernah divaksin, belum nampak gejala. Namun setelah ayam divaksin, ada serangan baru, maka terjadi tarik-menarik kekuatan antara antigen dan antibodi secara luar biasa sehingga suhu tubuh meningkat drastis lantaran syaraf pusat di hipofisa terganggu. Akibatnya pengontrol suhu tubuh pun turun.

Menurut Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, gejala itu muncul seiring perkembangan AI di mana ayam yang sudah vaksin AI dan diberlakukan biosecurity secara ketat. Dalam tubuh ayam antibodi virus ditekan terus, sehingga antibodi membentuk sistem perlawanan baru.

Dekan FKH UGM ini mengungkapkan, kasus ini berbeda dengan kasus tahun 2003-2004 yang kondisinya sama. Variasi. Pada kasus yang sekarang, mungkin terjadi variasi susunan genetik virus. Misalnya susunan asam amino 1-3, walau tipe virus ini masih HPAI. Akibatnya gejala klinis dan patologi klinis berbeda dengan yang terjadi pada kasus 2003-2004.

Kasus 2003-2004 gejalanya khas, dan tidak terjadi pada ayam broiler. Kasus pada ayam layer fase pertumbuhan dan remaja (pullet) pun tidak ada. Namun terjadi kematian tingan pada ayam layer yang menyebabkan penurunan produksi.

Kasus yang sekarang, secara patologi memang tidak ada gejala. Namun gejala klinis pada ayam petelur terjadi perdarahan di ovarium. Adapun pemeriksaan secara klinis dan patologi klinis, serologis titer AB tidak seragam. Umumnya broiler yang tidak divaksinasi, begitu ada kontak dengan virus lapang, serangan susah dielakkan. Kematian pun tak dapat dihindari.

Sementara itu, gejala perdarahan yang ekstensif tidak dijumpai pada ayam petelur dan ayam pedaging. Biosecurity mulai kendor.

Kasus AI pada ayam layer peternakan komersial, membuat peternak sangat tegang. Kematianayam meningkat. Antigen virus itu diperiksa di laboratorium FKH UGM, tipe virusnya masih HPAI H5N1.

Kasusnya ternyata tidak hanya terjadi pada ayam layer, tapi juga pada ayam broiler dan ayam buras pada peternakan rakyat. Walaupun tipe virus juga H5N1, susahnya gejala klinis dan patologi klinisnya tidak spesifik seperti kasus AI pada tahun 2003 dan 2004.

Perubahan Molekular Serang Otak

Terjadinya variasi gejala dan patologi ayam pada kasus 2007 ini, menurut Prof Charles karena ada pergerakan dinamika molekularnya. Ada perubahan variasi 1-2 asam amino. 1-2 isolat dicurigai telah mengalami perubahan ini. Untuk penelitian ini diperlukan standar emasnya, standar penelitian terbaik.

Menurut Prof Charles, penelitian terhadap kasus demi kasus, terutama tererhadap faktor selular dan bioselular virus, tidak bisa dengan pola dan cara seperti yang telah dilakukan, begitu sajak terus-menerus. Perlu diteliti lebih dalam terhadap gen H dan N-nya, protein-protein lain, reseptor-reseptornya dan lain-lain yang sejauh ini belum dilakukan mengingat terbatasnya dana.

Untuk penelitian lebih canggih memang diperlukan kerjasama dengan berbagai institusi yang lebih maju, misalnya Biologi Molekular Balitbangkes dan dibutuhkan praklarsa ahli-ahli biologi. Juga dibutuhkan program yang lebih maju dan penelitian-penelitian canggih lain mengingat isolat-isolat bahan hewan di Indonesia jumlahnya banyak sekali. Kita pun tidak bisa menekuni dan mengelola bidang ini secara sepotong-sepotong seperti yang terjadi saat ini.

Dr Drh CA Nidom MS dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya menuturkan kasus AI bergaya baru itu dalam analisanya sudah menyerang otak. Toksin atau racun dari virus itu sudah mengganggu termoregulator sekitar otak. Akibatnya suhu tubuh yang ditimbulkan sangat tinggi dan dengan sendirinya mengganggu metabolisme.

Menurut Dr Nidom, ada dua kemungkinan yang terjadi pada kondisi ayam, yaitu ayam itu dapat bertahan atau tidak dapat bertahan. Bila ayam dapat bertahan, produksinya akan turun. Sedangkan ayam yang tidak bertahan akan mati.

Dr Nidom saat ini sedang meneliti biomulekular dari virus tersebut, sesuai dengan kepakarannya di FKH Unair. Sementara ini mendeteksi ada hal aneh dengan perubahan itu. Saat ini tahap penelitian di laboratoriumnya, preparat virus masih ditanam pada telur, dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk mendapatkan hasilnya.

Jadi sementara kita tunggu penelitian pakar bimolekular yang kini menjabat Wakil Dekan III FKH Unair ini. Untuk kali ini kita tahu kecurigaannya, dengan menyerangnya virus ke otak/susunan syaraf pusat, kemungkinan dapat terjadi perubahan protein dan DNA dari virus sehingga dapat menembus barier syaraf di otak, menganggu termoregulator dan muncullah panas tinggi itu!

Sedangkan menurut Drh Lies Parede MSc PhD, untuk pemeriksaan laboratorium itu, yang pertama kali dibutuhkan adalah data klinis dan histori-nya dari peternakan yang bersangkutan. Pihaknya (Balai Besar Penelitian Veteriner/Bbalitvet Bogor) juga mencari informasi dari daerah Jawa Barat.

Bila AI Gaya Baru itu terjadi, katanya, “Wah, bencana apa lagi yang menimpa Indonesia yah?” Ini hanya peringatan agar kita lebih waspada dan terus waspada!

Kembali ke Biosecurity

Munculnya kasus-kasus yang mengejutkan itu, menurut Prof Charles Ranggatabbu karena biosecurity mulai kendor. Terjadi perbedaan yang nyata antara layer yang divaksinasi dan biosecurity ketat dengan biosecurity yang jebol sekaligus tidak dilakukan vaksinasi. Pada kondisi yang terakhir, kematian meningkat sangat tinggi.

Pada kasus dengan tipe virus yang sama-sama HPAI ini, Prof Charles menekankan penanggulangan dan pengendaliannya dengan 9 Strategi Pengendalian AI yang sudah dikenal dan ditetapkan oleh pemerintah. “Tetap kerjakan 9 strategi pendendalian AI itu,” tegasnya.

Untuk membuka ingatan, 9 strategi itu adalah:1. Peningkatan Biosecurity2. Vaksinasi3. Depopulasi (pemusnahan terbatas) di daerah tertular4.

Pengendalian lalulintas unggas,produkunggas dan limbah peternakan unggas5. Surveilans dan penelusuran6. Pengisian kandang kembali7. Stamping-out (pemusnahan menyeluruh) di daerah tertular baru8. Peningkatan kesadaran masyarakat9. Monitoring dan evaluasi

Prof Charles mengingatkan bila ada kasus janganlah gegabah. Lalu jangan menjual hidup-hidup yang ayam terserang AI. Kotoran ayam yang sudah disimpan 1 minggu, harus dikeluarkan. Juga ketatkan kontrol lalu lintas. “Biosecurity adalah andalan. Tanpa itu ayam akan kena AI lagi,” tekan Charles. (Untung Satriyo, Yonathan Rahardjo)

Abstract Infovet Edisi 154 Mei 2007


Kembali ke Infovet


Avian Influenza on Broiler

The spread of Avian Influenza (AI) is mainly recognized in layer beside on native chicken, cases of AI on broiler is also currently reported. The cases of AI in several broiler chicken farms are confirmed by various resource persons from animal health industries as well as scientist of universities and research institutes.
To prevent further spread of the diseases in a certain farm 60.000 head of 11 days of age broiler chicken had been stamped out. The whole stake holders such as farmers, government institutions and veterinary drug industries should overcome this problem, the effort is really urgent to prevent the worse impact for poultry community.


The Role of Biosecurity

Sanitation on farm environment to control the spread of Avian Influenza (AI) virus is really able to save several poultry farms against the outbreak of AI.

Vaccination program is also needed but it is not absolutely should be done for safety area that able to implement tight biosecurity.In line with sanitation program, restructure of poultry farming and reducing density of chicken is also an important factor to minimize the spread of AI virus. Treatment and proper handling of poultry manure could not be neglected in sanitation measure.

Mobility and entering people as well as vehicles from outside farm area should be minimized and application of disinfectant is a must. Biosecurity should be implemented in the whole chain of production activity as well as post harvest process.


Corn supply of Local Products

Corn is very important commodity in feed industry, since the main component of raw materials on poultry feed (40%-50%) consist of corn. The availability on raw materials of all areas in Indonesia are not similar, as certain regions are able to supply corn in high quantity and the others are abundant with rice bran, the potency in supplying fish meals are also high in coastal areas. Corn production in 2007, is predicted by Statistic Center Agency (BPS) to reach 12,38 million ton of dry corn grain, 913,25 thousand ton (7,29%) increased, compared with in the year 2006.
According to Mr. JC Filippi, Group Chief Executive Officer Gold Coin Group, his feed mill always use first class quality of imported products since the difficulty to get continuous supply of local products with required quality and stable price.
The problem should be faced by farmers is availability facilities for post harvest processing, since the corn need to be properly stored to prevent of the decreased of quality. The continuous supply of quality local products could reduced dependency of imported of corn.


Application of Nuclear Technology

The cooperation between Faculty of Animal Husbandry, Gadjah Mada University and Center for Application of Isotope Technology, National Atomic Energy Agency (PATIR-BATAN) had been conducted through official signing on Minutes of Understanding (MOU) on March 30th, 2007 in Yogyakarta. The objective of this cooperation is the application of nuclear technology to increase farmers welfare in the rural areas.
According to Prof Tri Yuwanto, the Dean of Animal Husbandry Faculty that the cooperation with International Atomic Energy Agency (IAEA) on application of nuclear technology for post graduate students in animal husbandry in the last 5 years had contributed the development of livestock production in the villages.
Mrs. Retraningsih Setjo MSc., Head of PATIR BATAN hoping that implementation of this MOU would be beneficial for both side since lack of human resources is the problem in her institution. In agriculture sector, application of nuclear technology successfully able to produce superior breed such as several varieties of paddy and other plants.

Editorial Infovet Edisi 154 Mei 2007

Kembali ke Infovet


Dalam perjalanan panjang suatu masyarakat yang sedang berkembang, peranan informasi sangat strategis untuk mampu menyampaikan pesan bagi peningkatan wawasan dan kesadaran sehingga dapat menyikapi dinamika perubahan secara rasional dan arif. Di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang terus berkembang seiring dengan perubahan di berbagai aspek kehidupan baik dibidang politik maupun sosial ekonomi, peranan media informasi akan selalu diperlukan.


Dalam konteks inilah majalah Infovet telah setia memberikan pelayanan informasi selama 15 tahun, dan akan selalu hadir pada waktu-waktu mendatang. Untuk itu kami seluruh jajaran redaksi beserta koresponden di daerah menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala dukungan yang telah diberikan kepada kami sehingga dapat memberikan pelayanan bagi masyarakat.


Kami sadari bahwa bahwa ditengah keterbatasan sarana dan kendala dalam melaksanakan tugas peliputan serta komunikasi, kami selalu berupaya agar dapat meningkatkan mutu penyajian informasi. Semoga dalam menyongsong hari depan yang lebih menjanjikan, kami dapat memberikan pelayanan informasi sesuai dengan harapan kita semua.

Infovet Hidangan Lezat Penawar Rindu


Kembali ke Infovet


Infovet Hidangan Lezat Penawar Rindu

Infovet 132, Juli 2005 - Untuk menyajikan hidangan yang paling lezat di hadapan pembaca, lihatlah betapa eloknya upaya Infovet untuk mengejar setiap perkembangan terbaru di seputar informasi peternakan dan kesehatan hewan. Paling gres! Paling akurat! Dan paling representatif! Infovet meramunya dalam sajian tersedap buat pembaca. Ya! Laksana lezatnya masakan-masakan dan makanan-makanan yang mengandung produk-produk yang berasal dari ternak, telur, susu dan daging olahan!

Maka terkuaklah liku-liku penyakit tradisional, Gumboro di sela-sela Flu Burung yang jahat. Maka pagi-pagi begitu mendengar bahwa Dirjen Peternakan kita diganti, Infovet pun mengejar sampai pusat arus berita, dan dapatlah disajikan cerita hangat itu! Berlatarkan suasana sedih bangsa kita yang ternyata jelas-jelas masih compang-camping dengan ditemukannya busung lapar! Yang, ironis, paradoks dengan kehidupan sebagian kaum kita yang bergaya hidup begitu berlebihan. Secara proporsional hal ini diolah dalam laporan memikat.

Soal usaha menembus relung jantung sumber berita, memang jadi obsesi Infovet sehingga setiap waktu menjadi begitu berharga untuk tidak memanfaatkannya guna menyajikan informasi terdepan dan terkini buat pembaca. Tidak berlebihan, tenaga-tenaga muda Infovet ditempa untuk selalu siap melayani.

Begitu mendapat undangan dari Balai Karantina di Bandara Soekarno-Hatta, meluncurlah Infovet bersama adik Infovet Satwa Kesayangan dan Staf Sekretariat PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) ke sana dari atas). Begitu mendapat undangan dari rumah potong hewan, siaplah Infovet melesat dan meliputnya.Dibarengi dengan upaya-upaya proaktif bekerjasama dengan narasumber, sebutlah contoh PT Japfa Comfeed, untuk mendialogkan tentang breeding farm penghasil bibit-bibit unggul peternakan. Tentu saja juga dengan perusahaan obat hewan yang tidak bisa dipisahkan dengan dunia kesehatan hewan yang bersama soal peternakan menjadi bahasan kuat di majalah kesayangan ini.

Lihatlah contohnya, dengan mesra segenap kru Infovet dan PT Gallus Indonesia Utama bersama Drh Haris Priyadi yang memegang perusahaan internasional Kemin. Kemesraan yang sudah merupakan cerita dari ‘sono’nya, Infovet terbitan ASOHI dan kini terbitan PT Gallus Indonesia Utama yang dimiliki oleh ASOHI dan sekaligus dipercaya oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia ini, untuk mengangani hal-hal praktis dari ‘kerja’ ASOHI yang besar keanggotaannya, hingga masuk pada kepengurusan masa bakti 2005-2010.

Semua kepercayaan pembaca dan pemegang saham tersebut, adalah amanah yang patut Infovet jaga dengan dedikasi dan loyalitas dengan etos kerja tinggi. Maka waktu istirahat bagi staf-staf Infovet bukanlah penghalang untuk tetap siap melayani masyarakat peternakan dan kesehatan hewan. Termasuk masa libur di kampung halaman, staf Infovet pun meluangkan waktu untuk meliput kegiatan peternakan dan kesehatan hewan, seperti beranjang sana ke peternak setempat.

Hasilnya, pembaca bisa mengukur sendiri, setiap sajian di Infovet merupakan sajian yang terhidang secara memuaskan dan selalu membuat rindu.ΕΎ (Yonathan Rahardjo)

Monday, June 18, 2007

Penyakit Pernafasan Ternak Ada Apa?

Kembali ke Infovet
Fokus Edisi 156 Juli 2007

AI masih merajalela? Menyilih bentuk menjadi berbagai model? Ada apa sebenarnya? Bagaimana dengan penyakit pernafasan? Bukankah AI juga penyakit pernafasan?

Peternak punya beberapa sikap yang tampak dari investigasi di lapangan. Ada yang tenang-tenang saja karena tahu perbedaan jelas antara AI dengan penyakit-penyakit pernafasan yang lain. Ada yang khawatir itu benar-benarAI!
Yance Peternak ayam petelur di Krian Sidoarjo berpendapat sebetulnya mungkin sudah sedari dulu penyakit AI itu ada, namun karena terbatasnya pengetahuan, maka baru ketahuan keberadaannya.

Ia pun mengaku peternakannya tidak pernah dijamah AI ini. Keyakinannya bahwa itu bukan AI sangat mudah dipahami, ternyata peternak ini mempunyai pengalaman panjang semenjak ia beternak sejak 1970-an yang merupakan bisnis melanjutkan yang telah dikerjakan orang tuanya yang semula adalah slep padi pada tahun 1963.

Sejalan dengan pengetahuannya akan berbagai penyakit ternak yang tentu sebagian besar didapat dari para petugas teknis kesehatan hewan yang melayani peternakannya, ia tetap waspada terhadap penyakit AI dengan melakukan vaksinasi secara teratur. Hal ini merupakan kewaspadaan yang sama terhadap penyakit-penyakit lain.

Untuk menyatakan bahwa penyakitnya merupakan penyakit pernafasan, bila penyebabnya karena virus, Yance mengatakan tidak ada tanda yang khas seperti ngiler atau ngorok.

Namun bila penyebabnya bakteri, ia mengatakan ada tanda hidung meler, juga bisa ada darah.
Pada saat pergantian musim seperti sekarang, ketrampilan mengamati kelainan penyakit pada ayam sangat penting. Umumnya ayam menderita ngorok. Kebanyakan penyakit tanda pertama kali memang mengorok ini.

Selanjutnya, manifestasi dari gangguan pada tubuh ayam dengan gejala ngorok itu, bila gangguannya pada pernafasan, muncul penyakit karena bakteri seperti CRD, pada pencernaan muncul Kolera juga karena bakteri.

Karena air yang tidak sesuai kaidah kesehatan, bisa memunculkan penyakit bakteri Kolibasilosis yang selanjutnya bisa mengarah kalau pencernaan terjadi Kolera, kalau manifestasinya pernafasan timbul CRD tadi.

Deret Ukur dan Deret Hitung
Mengamati tipe kematian ayam juga sangat penting. Menurut Yance, bila kematiannya merupakan deret ukur, dengan kematian cepat dan sangat banyak, itu pertanda penyebab penyakitnya adalah virus.

Sedangkan bila penyebabnya bakteri, tipe kematian merupakan deret hitung, tidak sebanyak dan secepat kematian karena virus!

Sesudah itu, untuk memastikan penyakit yang menyerang, perlu dilakukan bedah bangkai.
Misalnya setelah tahu kematian karena virus ND ganas yang sangat cepat sekali kematiannya, yang hampir sama dengan kematian karena AI, keduanya dapat dibedakan dengan mengamati kelainan pada ayam.

Berdasar pengalaman Yance, kelainan tubuh ayam karena AI sangat spesifik, yaitu kulit bercak-bercak kebiruan, kaki ada perdarahan seperti orang kerikan karena masuk angin. Badannya gosong kebiru-biruan, sedangkan tulang kering seperti tergores.

Yance mengungkap perbandingan, "Pada beberapa penyakit ada perdarahan dada."

Dengan pengalamannya, begitu tubuh ayam dibuka, Yance mengaku peternak bisa langsung melihat keainan penyakitnya. Bila dengan bedah bangkai ini masih membingungkan, baru diperiksa di laboratorium.

Dari Gumboro ke AI

Sementara itu H Asikin SH MH dari PT Paeco Agung Surabaya mempunyai pengalaman di daerah Jawa Timur, ia menjumpai peternakan-peternakan di Blitar dan Tulungagung, yang semula ayamnya terserang Gumboro dan Coriza, selanjutnya terjadi komplikasi dan mengakibatkan kematian bertambah.

Semula peternak beranggapan itu adalah penyakit Gumboro dengan kematian 50 persen. "Sebetulnya bukan Gumboro saja, tapi juga disertai dengan masuknya Coriza, dan selanjutnya juga muncul gejala-gejala AI," katanya.

Yang diserang adalah ayam petelur umur 28-35 hari. Saat itu peternak bingung, program yang baik di satu peternakan dilanjutkan dengan program-program yang terus berkembang ternyata tidak dapat menghambat kasus yang sering muncul.

Pada saat itulah ditanyakan vaksinasi Gumboro tiga kali atau lebih? Menggunakan vaksin strain hot/ ganas? Menurut Asikin, selama ini ada pakar yang menyatakan strain hot cukup beresiko diberikan, tapi distributor vaksin menegaskan selama cara vaksinasi benar, menggunakan vaksin hot tidaklah menjadi masalah dan tidak bermasalah.
Diceritakan, umumnya yang terserang Gumboro masih menggunakan dua kali vaksinasi. "Kasus-kasus baru yang ditemui di beberapa tempat seperti itu," tegas Asikin. Dengan demikian terdapat gambaran antara berbagai penyakit yang ada dan penyakit pernafasan yang menjadi sorotan kali ini. (Yonathan Rahardjo)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template