Wednesday, May 28, 2014

Obat dan Vaksin untuk Hantam CRD dan Kompleksnya.

Penanganan CRD nyaris tak bisa dilepaskan dari obat. Meski vaksin telah ada. Program menyeluruh menepis keraguan orang tentang obat dan cara pemberian serta khasiatnya. Hantaman balik terhadap CRD dan CRD Kompleks merupakan suatu keniscayaan
Gudang obat PT Romindo Primavetcom Cabang Surabaya
CRD tak bisa lepas dari obat. Itulah yang dapat Infovet simpulkan dari beberapa peliputan. Dan obat itu adalah antibiotika. Untuk itu Infovet langsung meng-cross-check- dengan pebisnis obat yang memasok obat-obat anti CRD untuk peternakan itu. Ternyata bukan hanya obat yang dibutuhkan, tapi juga vaksin.

Peternakan kemitraan Subur di Desa Kampung Baru Kecamatan Duduk Sampean Kabupaten Gresik Jawa Timur melalui penanggungjawabnya Wahib mengungkap bahwa begitu ada tanda CRD pilek dan suara ngorok “crik-crik cekrek-cekrek”, semua ayam dalam kandang langsung diobati dengan antibiotika Ciprofloksasin dan Sulfamono tanpa pilih-pilih.

Lalu simak kata-kata Hari Widodo kepada Infovet di peternakan ayam pedagingnya di Desa Wonosari Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. “Antibiotik untuk pencegahan (cleaning antibiotic) lebih ketat diberlakukan,” ujarnya setelah tahu perwujudan kehadiran CRD dengan adanya ngorok ayam disusul CRD Kompleks. Ya, dia tahu tanda gawat ini dengan bedah bangkai pada organ dalam ayam terdapat lendir selaput hati bahkan gangguan pernapasan dan usus berupa perdarahan, hidung keluar eksudat dan pembekakan sekitar mata.

Dari dua sampel peternak di wilayah Jawa Timur bagian utara dan wilayah selatan itu jelas tentang peranan antibiotika. Pihak perusahaan obat hewan pun memaparkan secara lebih gamblang tentang prinsip obat dan pengobatan CRD tersebut.

Dua Kelompok Obat
Kepada Infovet di kantor cabang Surabaya PT Romindo Primavetcom, Area Sales Manager Surabaya perusahaan ini, Drh Setya Bakti, mengatakan bahwa di pasar dikenal dua kelompok obat CRD yaitu yang khusus untuk kuman mikoplasma penyebab CRD-nya dan antibiotik spektrum luas alias broad spectrum.

Salah satu obat khusus (antibiotika) untuk mengatasi mikoplasma adalah berkandungan dpiramisin. Nama patennya Suanofil. Ini, “Spektrum khusus mikoplasma,” kata Drh Setya Bakti. Sedangkan salah satu antibiotika broad spectrum adalah berkandungan Enrofloksasin, bernama paten Enoquil.
Masing-masing ada kelebihannya. Dari segi harga, menurut alumnus FKH Unair ini obat yang khusus berharga lebih mahal. Sedangkan obat yang spektrum luas lebih murah. Dari segi penggunaan, yang spektrum luas banyak dipakai untuk flushing program rutin. Sedangkan untuk kasus yang butuh segera ditangani, obatnya harus lebih kuat. Maka dipakailah spektrum khusus.

Menurutnya, meski ada orang bilang yang dibutuhkan adalah pengobatan cepat tuntas, “Mau tidak mau harus dilakukan flushing.” Jelas, program rutin merupakan kewajiban. Tapi ya itu, pertimbangan dengan spektrum luas ini karena harganya murah.

Dua Jenis Vaksin
Soal murah, kalau mau lebih murah, “Pakai vaksin,” katanya. Dari sediaan vaksin Ms (Mycoplasma sinoviae) dan Mg (Mycoplasma gallisepticum), sesuai kondisi lapangan menurut Drh Setya Bakti cukup dibutuhkan vaksin Mg saja pada ayam petelur. Maka mengalirlah informasi tentang vaksin CRD. Drh Setya menyinggung nama Prof (Riset) Dr Drh Soeripto MVS tentang vaksin CRD ini. Maka Infovet pun mencari data tentang Prof Soeripto dan vaksin CRD.

Menurut Australian Awards Indonesia, pada tahun 2010 yang memberikan penghargaan kepada Prof Dr Soeripto lantaran jasanya menjamin ketahanan pangan melalui terobosan di bidang vaksin hewan. Terkait penghargaan itu dikatakan, salah satu buah hasil utama usaha miliknya adalah vaksin–unggas hidup pencegah CRD pada ayam yang dikembangkannya.

Secara intensif, Profesor Bakteriologi di Balai Besar Penelitian Veteriner Indonesia ini meneliti masalah penyakit pernafasan kronis CRD pada ayam yang mempengaruhi produksi ayam di Indonesia dan seluruh dunia. Masalah ini telah lama memacu penggunaan luas antibiotika pada unggas. Dia pun berhasil mengembangkan vaksin mutasi MGT–11, yang kini dikenal sebagai vaksin Vaxsafe® TS–11 dan diproduksi secara komersial oleh Bioproperties dari Australia dan berada di bawah sublisensi Merial dari Amerika Serikat. Lebih dari 100 juta dosis vaksin tersebut digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya.

Atas prestasi ini pada 2001, Prof Dr Soeripto memperoleh royalti internasional dari University of Melbourne, Australia. Dia merupakan satu dari hanya 65 profesor peneliti yang dilantik oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Pemerintah Indonesia (LIPI). Pada Desember 2009, dia dianugerahi penghargaan oleh Wakil Presiden Indonesia terkait sumbangsihnya bagi Ketahanan Pangan Nasional di Indonesia dan pada Juli 2010 dengan penghargaan IndoLivestock V oleh Menteri Pertanian Indonesia.

Program Menyeluruh
Program untuk mengatasi CRD secara menyeluruh, menurut Drh Setya Bakti mesti dilakukan flushing sebagai pengobatan rutin yang dilakukan setiap bulan. Lalu vaksinasi hanya sakali saat ayam berumur satu bulan. Otomatis kondisi harus dibersihkan dulu, “Dicegah dulu,” katanya. Jadi mau tidak mau harus secara ketat dilakukan ventilasi dan sanitasi. Yang lain-lain efek sekunder dari berbagai macam gangguan. Gangguan itu berupa penyakit, musim, jamur, amoniak, pakan yang mungkin komposisinya kurang baik. Kadang formulasi baik, jagung proteinnya tidak 8 persen tapi 6 persen sehingga hitungan salah.
Apabila sudah ke CRD Kompleks pengobatan harus plus Kolibasilosis. Menurut Drh Setya Bakti pengobatan CRD Kompleks dengan Flumequin paling bagus. “Paling jos,” katanya. Nama dagangnya adalah Imequil. Menurutnya perusahaan lain juga punya. Apapun perbedaannya, guna ketepatan pengobatan semua secara praktis dibantu dengan cara mendiagnosa dan lain-lain./yonathan

Selengkapnya baca di Infovet edisi JUNI 2014.
#artikel terkait 

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template