Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati


Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi (0815-9186-707)



Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119


Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

EDISI JULI 2018

Perlu Kiriman Artikel Via Email? Isi email Anda di bawah ini

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Potensi Sapi di Kebun Sawit Mempawah Provinsi Kalimantan Barat

On 10:36:00 PM

Gebrakan Dahlan Iskan Menteri Negara Urusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentang perlunya memanfaatkan potensi kawasaan perkebunan milik Negara (PTP) Sawit, Tehh, Kopi Karet dan Coklat untuk budidaya ternak Sapi, memang diacungi jempol oleh banyak fihak. Terkait dengan ide yang begitu cemerlang itu, bukan saja kemudian telah terjadi effek domino yaitu berbagai fihak baik itu instansi pemerintah maupun swasta seolah saling bersahut merespon dengan langkah nyata.
 
Bukan lagi wacana atau hanya sekedar gagasan mulia, namun  kini nyaris banyak yang langsung mengimplementasikan ide itu. Sebut saja PTP di Beng­kulu yang menjadi pionir awal dan kemudian bahkan pada awal Desember 2012 sudah melakukan panen hasil budidaya sapi di dalam kawasan Perusahaan Perkebunan milik Negara itu. tidak tanggung-tanggung, tidak tanggung-tanggung Meneg BUMN , Dahlan Iskan kala itu justru memilih mengikuti panen dan proses penjualan sapi hasil PTP itu, dari pada memenuhi Undangan dari Komisi VII DPR untuk Acara Rapat De­ngar Pendapat (RDP).
 
Akhirnya beberapa PTP Provinsi di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat pun langsung tancap gas mengikuti langkah yang telah diambil oleh PTP di Bengkulu itu. Bahkan beberapa perusahaan perkebunan sawit milik swasta juga tergiur dengan kegiatan usaha sampingan itu.
 
Efek domino nyata dari gagasan itu adalah terjadinya permintaan pasar akan ternak sapi dari sentra sentra ternak sapi di Jawa, NTB dan NTT. Jika saja Provinsi Bali juga merupakan sentra ternak sapi itu, memberikan izin untuk dapat dikeluarkan ternak sapi dari pula Bali, maka sudah pasti juga akan terjadi lonjakan harga yang tinggi di pulau dewata itu. Sehingga wajar, jika pada periode pertengahan tahun 2012 sampai memasuki awal tahun 2013 ini harga ternak sapi di 3(tiga) sentra pemasok ternak sapi, masih saja cukup tinggi.
 
Di satu sisi membuat para peternak sapi mendapatkan keuntungan, oleh karena adanya kenaikan harga yang fantatstis. Namun di lain fihak banyak pemerintah daerah di 3 (tiga) provinsi itu khawatir sekali dengan laju pengiriman ternak yang begitu banyak dari waktu ke waktu. Kecemasan aparat teknis di daerah sentra ternak sapi potong itu, oleh karena akan semakin menggerus populasi, terutama jika tidak dapat lagi dikendalikan laju pengiriman keluar daerah.
 
Salah satu pejabat teknis bidang peternakan di Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat, Drh Buntaran kepada Infovet mengungkapkan bahwa proses berdatangannya ternak sapi dari jawa , NTT dan NTB, telah membuat populasi ternak sapi melonjak drastiss. Di satu sisi telah membuat gairah para pedagang sapi antar pulau, namun disi yang lain juga menyebabkan membuat kecemasan baru para peternak yang lebih dahulu berbudidaya, jika akhirnya berujung harga ternak sapi potong akan melorot jatuh.
 
Untuk mengantisipasi hal itu, maka sebagai salah satu daerah yang sedang giat mendorong pemanfaatan lahan perkebunan untuk dioptimalkan menjadi kawasan usaha budidaya peternakan, maka pemerintah kabupaten Mempawah memberikan dukungan dan support penuh kepada fihak fihak yang berniat menginvestasikan dalam bidang peternakan pada umumnya. Dukungan itu antara lain berupa kemudahan perizinan, dan bahkan bantuan teknis dari aparatnya untuk memberikan  bimbi­ngan teknis.
 
Dengan dukungan itu, maka akan semakin mendorong para pemilik modal untuk terstimuli membenamkan modalnya di daerah ini. Selain itu juga dalam rangka mencegah keresahan social dan kemungkinan potensi friksi antara peternak lama dengan para pelaku usaha budidaya ternak sapi yang baru, direkomendasikan pola kemitraan yang setara. Ini penting agar jaminan harga jual dan potensi memburuknya harga akibat kelebihan pasokan dapat dicegah atau ditekan sekecil mungkin.
 
Potensi yang demikian besar dari adanya perkebunan Sawit di Kabupaten Mempawah dan juga luas wilayah lahan bekas kawasan hutan industry yang terbengkelai, merupakan jaminan prospek usaha budidaya ternak sapi. Tersedianya lahan yang luas, dengan hijauan tanaman rumput liar, merupakan asset yang sangat besar namun belum termanfaatkan.
 
“Luas satu Kecamatan Di Mempawah mungkin dapat jauh lebih luas daripada sebuah kabupaten di Pulau Jawa. Maka dapat dibayangkan jika begitu masih luasnya lahan bekas  kawasan hutan industri itu, dimana saat ini tidak ada yang memanfatkannya. Karena tingkat kesuburan tanah yang rendah, maka jika dilepas sapi, akan melahirkan simbiose mutualisme” ujar Buntaran, yang juga Kepala Bidang Urusan Kesehatan Hewan .
 
Sedangkan potensi di kawasan perkebunan sawit milik perusahaan swasta maupun perseorangan, selama ini juga tidak dan belum dimanfatkan untuk menghasilkan yang produktif. Dengan hasil nyata dari PTP di Bengkulu, tutur Buntaran, maka seolah semakin menguatkan niat para pemilik perkebunan Sawit untuk juga beternak sapi potong di dalam kawasan lahan miliknya.
 
Menurut Buntaran, sampai saat ini data tentang jumlah ternak sapi yang masuk ke dalam wilayah kabupaten Mempawah masih dalam proses verifikasi ulang. Sebab begitu bersemangatnya para pelaku usaha perkebunan sawit untuk melakukan budidaya ternak sapi potong, sehingga agar validitas data akurat, terus dilakukan verifikasi dan update secara terus menerus tiap hari. Namun yang jelas nyata, kini di daerah itu kawasan perkebunan sawit sudah banyak ditemukan sapi. Sangat berbeda jika dibandingkan tahun tahun yang lalu, sama sekali tidak dijumpai ternak sapi berada di dalam kawasan perkebunan.
 
Bahkan Buntaran, memperkirakan Kabupaten Mempawah dalam waktu tidak terlalu lama akan menjadi salah satu lumbung atau sentra penghasil sapi potong untuk Propinsi Kalimantan Barfat, bahkan mampu memenuhi untuk pulau Kalimantan.
 
“Jika saja dukungan banyak fihak, lintas sektoral  dalam cakupan Kabupaten ataupun Provinsi dan juga dipermudah urusan pengangkutan ternak sapi antar pulau, maka Kabupaten Mempawah akan mampu menjadi Gudang Ternak Sapi bagi provinsi Kalimantan Barat, bahkan untuk seluruh Pulau Kalimantan” ujar Buntaran yang pernah mengenyam pendidikan bidang peternakan di Philiphina ini.
 
Keyakinan Buntaran itu, memang tidak berlebihan mengingat begitu besar potensi sumber daya alam dan manusia untuk menunjang peternakan sapi potong. Sebagaimana dia ungkapkan bahwa luas lahan di daerahnya yang sama sekali belum termanfaatkan, dan aspek kultural yang berupa adanya jiwa dan semangat bekerja keras para petani di kabupaten ini. Jika saja ternak sapi dilepas begitu saja, lanjut Buntaran, bahkan tanpa diberi makan tambahan lagi, maka sapi akan tumbuh jauh lebih cepat dan jauh lebih besar daripada sapi yang saat ini berada di Jawa.
 
Oleh karena itu optimisme untuk mendukung lahirnya sentra ternak sapi potong, memang sudah layak mendapatkan dukungan dari manapun. Namun yang jauh lebih penting nampaknya adalah tetap harus memperhatikan aspek kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.
 (iyo)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer