Alltech

Alltech

Boehringer Ingelheim

Boehringer Ingelheim

Amlan

Amlan

SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI AGUSTUS

EDISI  AGUSTUS

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

INDONESIA SIAP TEMPUR HADAPI FALL ARMYWORM

On July 22, 2019

Jagung merupakan salah satu bahan baku pakan sumber energi dalam formulasi pakan unggas. Hingga kini Indonesia masih berusaha meningkatkan produksi jagung dalam negeri dengan berbagai cara, termasuk memberantas hama perusak jagung.

Salah satu hama perusak tanaman jagung yakni Fall Armyworm (Ulat Grayak Jagung). Serangga hama ini menyerang, merusak bahkan menghancurkan tanaman seperti jagung dan tanaman lainnya hanya dalam semalam. Ulat Grayak Jagung mampu bermigrasi (menyebar) ratusan kilometer dan menjadi peringatan bagi petani kecil bahwa mata pencahariannya terancam. Namun demikian Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menegaskan bahwa kerusakan yang diakibatkan oleh Ulat Grayak Jagung dapat dikurangi.

Fall Armyworm pertama kali terdeteksi di Indonesia pada bulan Maret 2019 di Provinsi Sumatra Barat. Dalam waktu 4 bulan, mereka telah menyebar ke dua belas provinsi di Indonesia yaitu di Pulau Sumatra, Jawa dan beberapa wilayah Kalimantan. Kementerian Pertanian telah menghimpun informasi tentang kerugian dari tanaman yang terinfeksi oleh hama tersebut.

Direktorat Perlindungan Tanaman di Kementerian Pertanian menghimbau semua provinsi untuk mewaspadai serangan Ulat Grayak jenis baru dari spesies Spodoptera frugiperda. Di lapangan, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) berupaya meningkatkan kesadaran petani di daerah yang terkena dampak, dan bersama-sama mereka memantau perkebunan yang dirserang.

“Kami memantau dengan seksama pergerakan Fall Armyworm di Indonesia. Petugas POPT, dan kami telah bekerja di lapangan bersama para penyuluh untuk memberi edukasi, saran dan solusi kepada petani tentang cara melindungi tanaman serta mengurangi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan ini. Kami mengantisipasi bahwa serangan Ulat Grayak ini akan menginfeksi pertanaman jagung di seluruh Indonesia dalam beberapa bulan mendatang”, kata Edy Purnawan, Direktur Perlindungan Tanaman.

Ulat Grayak Menyerang Jagung


Invasif, Ganas dan Terus Berkembang Biak.

Aslinya, Fall Armyworm adalah hama tanaman dari Amerika. Namun, sejak 2016 mereka telah bergerak agresif ke arah timur, menyapu Afrika, dan mendarat pertama kali di Asia pada pertengahan 2018 di India. Sejak itu mereka menyebar ke Bangladesh, Cina, Myanmar, Sri Lanka, Thailand sebelum tiba di Indonesia. Dalam kasus serangan yang terjadi di Sri Lanka, ada laporan bahwa hingga 40.000 hektar perkebunan telah diserang, merusak sekitar 20% tanamannya. Cina yang juga produsen jagung terbesar di Asia, dan produsen terbesar kedua di dunia juga dibuat ketar – ketir dengan serangan Ulat Grayak tersebut.

Sementara itu kerugian ekonomi di belahan bumi lainnya termasuk negara-negara Asia belum dihitung, diperkirakan kerusakan ekonomi akibat serangan hama tersebut di Afrika berkisar antara US $ 1-3 miliar. Menanggapi serangan Fall Armyworm yang datang tiba-tiba di Asia, FAO telah mengadakan pertemuan dengan para pejabat dari berbagai Negara di seluruh wilayah pada bulan Maret, dan membawa para pakar yang telah menangani hama di Afrika dan Amerika Latin dan mempelajari cara-cara untuk membatasi kerusakannya.

Di Indonesia, FAO mendukung Pemerintah untuk menanggapi wabah dan mencari strategi tepat untuk merespons serangan dengan mengerahkan sumber daya secara optimal. “Pemerintah akan mengorganisir lokakarya nasional bekerjasama dengan FAO pada akhir Juli untuk menyepakati tindakan lintas stakeholder paling efektif untuk menanggapi serangan ini. Kami memanfaatkan pelajaran dari negara-negara lain ketika menanggapi serangan di negara mereka sendiri  sebagai praktik terbaik untuk memperlambat penyebaran dan membatasi kerusakan" kata Stephen Rudgard, Perwakilan FAO di Indonesia.

Setelah serangan hama terverifikasi dengan baik, pemerintah akan memperkuat upaya untuk terus meningkatkan kesadaran dan memantau keberadaan dan penyebaran Fall Armyworm pada jagung dan tanaman lainnya.

Praktik Terbaik untuk Mengurangi Kerusakan

Hingga kini, FAO telah bekerja dengan otoritas terkait untuk memprakarsai program kesadaran yang menginformasikan dan melatih petani tentang teknik pengelolaan hama terpadu yang akan sangat bermanfaat untuk mengendalikan Ulat Grayak jenis baru. Terrmasuk di dalamnya mengidentifikasi musuh alami dari Fall Armyworm, meningkatkan kontrol biologis alami dan kontrol mekanis, seperti menghancurkan massa telur dan menggunakan penggunaan biopestisida.

Untungnya Indonesia memiliki banyak musuh alami hama ini dalam mengurangi infestasi lebih lanjut. Satu studi dari Ethiopia menemukan bahwa ada satu parasit tawon yang dapat membunuh hampir setengah dari populasi Ulat Grayak dalam waktu dua tahun sejak kedatangannya di negara tersebut. Tentunya ini akan coba dimaksimalkan dalam teknink pengendalian hama Ulat Grayak.

Penggunaan pestisida kimia perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, mengingat bahwa ulat terlindung dari semprotan karena mereka bersembunyi jauh di dalam dedaunan tanaman. Selain itu perlu dipikirkan bahwa pestisida kimia apapun itu dapat memiliki efek negatif pada musuh alami dan bahkan kesehatan manusia serta hewan lainnya.

Jika langkah-langkah efektif diberlakukan, efek negatif dari serangan Fall Armyworm dapat dikurangi dengan jumlah populasi dipertahankan pada level yang cukup rendah untuk membatasi kerusakan ekonomi dan mata pencaharian petani. (FAO/CR)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer