Thursday, November 25, 2010

Bisnis Unggas Pasca Lebaran SAMPAI KAPAN HARGA BERTAHAN DI ATAS LANGIT ?

oleh: Samhadi (Penulis adalah pengamat perunggasan)

Seorang pemilik warung makan ayam bakar mengeluh lantaran harga ayam di pasar terasa sangat mencekik leher kaum usaha warung makan. ”Baru kali ini saya mengalami situasi yang sangat sulit,” ujarnya.

Ya, dalam beberapa bulan terakhir para ibu rumah tangga dan juga pengusaha kuliner harus pandai-pandai menyiasati melambungnya harga ayam di pasaran. Di Jakarta dan sekitarnya harga ayam bisa lebih dari 23 ribu/ekor ayam ukuran 0,7 kg. Katakanlah harga Rp 20.000/ekor, dipotong menjadi 4 bagian, maka modal satu potong sudah Rp 5.000, padahal ia harus menjual paling mahal Rp

7.0

00/potong. Ada selisih 2 ribu untuk beli bumbu, minyak, gas, listrik, dan tenaga kerja, yan

g secara

hitung-hitungan kasar sudah pasti warung tersebut menanggung kerugian. Bagi warung makan, bahan baku utama wajarnya adalah 50% dari harga jual, jadi kalau harga jual Rp 7.000 berarti harga ayam maksimal Rp 3.500/potong.



Mungkin itulah resiko bisnis. Pergerakan harga ayam di tingkat peternak beberapa bulan terakhir memang mencengangkan. Sumber di Pusat Informasi Pasar (Pinsar Unggas) mencatat rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.



Persisnya sejak bulan Juni 2010 lalu, harga broiler dan telur menunjukkan angka ”biru” yang berarti peternak bisa menikmati hasil usahanya berupa keuntungan yang fantastik. Di pasar Jabodetabek, pada minggu kedua bulan Agustus 2010 harga broiler hidup (> 1,6 kg) mencapai Rp 17.000/kg, di Medan Rp 18000/kg, dan Surabaya Rp 16.800/kg. Demikian juga harga telur, utamanya di Jabodetabek, rekor baru harga telur di tingkat peternak terpecahkan hingga Rp 14.000/kg, yang dicapai pada lima hari menjelang lebaran.



Catatan perkembangan harga jual komoditas unggas nasional tersebut bukan begitu saja tanpa tekanan. Tingginya harga di tingkat peternak tentu berimbas pada harga di tingkat konsumen. Harga daging broiler yang saat itu mencapai Rp 35.000/kg dari biasanya hanya Rp 23.000/kg, sempat menjadi bulan-bulanan pemberitaan media umum sebagai salah satu biang tingginya inflasi nasional. Situasi ini mengarahkan pemerintah untuk mempertanyakan hal ini kepada peternak sebagai produsen. Yang secara implisit, pemerintah menekan secara psikologis, agar peternak segera menurunkan harga broiler.



Efek tekanan dari pemerintah ini, sempat menjadi polemik di antara peternak. Ada yang menyetujui untuk menurunkan harga dengan alasan berisiko kran impor bisa dibuka. Sedang yang menentang cukup dengan logika : ”Bukankah enam bulan ini, kita rugi. Apa salahnya saat ini untuk mengembalikan modal?” seloroh salah satu peternak di Tangerang.



Mengungkap apa sesungguhnya penyebab meroketnya harga broiler dan telur beberapa bulan terakhir, cukup banyak variabel yang menyebabkannya. Hasil penelusuran penulis menunjukkan, menguatnya harga broiler dan telur mulai berlangsung pasca ajang Sarasehan Pelaku Bisnis Unggas Nasional di Bogor Mei 2010. Dimana salah satu isu panas yang dibahas adalah soal produksi DOC atau bibit yang dianggap jumlahnya sudah melebihi daya serap di pasar broiler dan telur. Pertemuan tersebut meski dominan diikuti peternak broiler merupakan puncak ”emosi” peternak terhadap situasi pasar yang terus mengurung mereka dalam kerugian.



Kembali ke masa pasca lebaran tahun 2009 lalu, tentu hampir semua peternak unggas di Tanah Air masih ingat betul betapa harga komoditas unggas baik broiler dan telur saat itu begitu terpuruk. Klimaksnya harga broiler pada Januari 2010 sempat terjungkal di level Rp 7.000/kg, sementara telur pernah beberapa kali meluncur di harga Rp 8.900/kg. Menjadi ironi yang menyesakkan, kondisi tersebut terjadi di tengah prestasi makroekonomi nasional tahun 2009 yang dinilai mengagumkan : lolos dari krisis keuangan, inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dan cadangan devisa yang terus melewati angka 70 milyar dolar US. Dan inilah yang menjebak kalangan industri perunggasan yang terus melakukan ekspansi di tahun 2010.



Didorong rekomendasi dari hasil sarasehan tersebut, agaknya kalangan pembibit merespon untuk mengurangi produksi bibit. Walaupun dari sisi mereka, harga bibit juga ikut terpuruk selama masa krisis harga ayam dan telur. Nampak jelas, di bulan Juni 2010 harga broiler dan telur mulai terangkat pada level yang menggembirakan peternak.



Uraian Performa Harga Broiler maupun Telur Pra-Lebaran dan Pasca Lebaran selengkapnya baca majalah Infovet edisi Oktober 2010, pemesanan dan berlanggananan klik disini

1 komentar:

tyo on July 28, 2011 at 10:42 PM said...

wah... info menarik....
tapi anehnya untuk daerah kal-sel khusunya wilayah banjarmasin justru harga ayam broiler sudah menurun... sudah 5 hari hari harga broiler menurun dari 16rb/kg menjadi 12.5rb/kg.. sebagai peternak saya tidak berharap lebih, hanya mengandalkan harga kontrak 14rb/kg dari perusahaan kemitraan... salam kenal www.tyo-web.faa.im

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template