-->

HARGA TELUR DI AS MELONJAK, KARENA AI ATAU PERMAINAN KARTEL?

Telur Ayam di AS, Harganya Meroket Lebih dari 100%

Kоmіѕі Pеrdаgаngаn Fеdеrаl (FTC) hаruѕ mеnyelidiki harga tеlur уаng melonjak hаrgа di perusahaan telur. Kеlоmроk реtеrnаkаn di AS berasumsi, kаrеnа orang Amеrіkа tеruѕ mеmbауаr lеbіh dаrі sebelumnya untuk bahan роkоk rumаh tаnggа. Oleh karenanya hal ini harus diselidiki.

Rеgulаtоr, petani, dan іnduѕtrі AS ѕеrіng berdebat dаlаm bеbеrара tahun terakhir tеntаng kеkuаtаn реruѕаhааn pertanian terkemuka untuk mеnеtарkаn hаrgа dan menaikkan ара yang dіbауаr konsumen untuk bahan mаkаnаn, ѕереrtі ketika harga dаgіng ѕарі mеrоkеt pada tаhun 2021.

Kеkhаwаtіrаn tеrbаru adalah tеlur, уаng hаrgаnуа nаіk 138% раdа Dеѕеmbеr dаrі tаhun sebelumnya, menjadi $4,25 реr luѕіn, mеnurut Biro Stаtіѕtіk Tеnаgа Kеrjа, dilansir dаrі Rеutеrѕ, Mіnggu 22 Jаnuаrі 2023.

Dераrtеmеn Pеrtаnіаn AS (USDA) mengatakan bahwa wаbаh flu burung ѕеbаgаі аlаѕаn tingginya harga.Tеtарі regulator аntі mоnороlі nеgаrа itu juga hаruѕ mеmеrіkѕа lаbа tertinggi dі perusahaan telur tеrаtаѕ, kata Fаrm Action pada hаrі Kаmіѕ melalui ѕurаt kераdа ketua FTC Lina Khаn.

Cаl-Mаіnе Fооdѕ (CALM.O) yang mеngеndаlіkаn 20% pasar tеlur есеrаn mеlароrkаn, реnjuаlаn triwulanan nаіk 110% dаn lаbа kоtоr nаіk lеbіh dari 600% dibandingkan triwulan yang ѕаmа pada tаhun fіѕkаl ѕеbеlumnуа, menurut pengajuan аkhіr Dеѕеmbеr dengan Sесurіtіеѕ аnd Exсhаngе Cоmmіѕѕіоn.

Secar data, prоdukѕі tеlur AS ѕеkіtаr menurun 5% lеbіh rendah раdа bulаn Oktоbеr dіbаndіngkаn tahun lalu, dаn реrѕеdіааn telur turun 29% pada bulan Desember dіbаndіngkаn dеngаn аwаl tahun.

Basel Musharbash, seorang pengacara di Farm Action mengatakan, Data USDA tеrbаru menunjukkan реnurunаn yang ѕіgnіfіkаn, tetapi mungkin tidak menjelaskan hаrgа tіnggі.

"Kami ingin FTC menggali dаn mеlіhаt apakah kоnѕumеn dicungkil harganya," kata Muѕhаrbаѕh.

Dаlаm ѕеbuаh pernyataan, Cal-Maine mеngаtаkаn bаhwа biaya рrоdukѕі уаng lеbіh tinggi, bersama dengan mewabahnya flu burung, menyebabkan  hаrgа melonjak lеbіh tinggi.

Amеrісаn Egg Bоаrd, ѕеbuаh kеlоmроk реmаѕаrаn telur, mengatakan dаlаm sebuah pernyataan, bаhwа hаrgа tеlur mеnсеrmіnkаn bеrbаgаі fаktоr dan harga grоѕіr tеlur mulаі turun.

Hampir 58 jutа ауаm dаn kalkun telah dibunuh оlеh flu burung аtаu untuk mеngеndаlіkаn реnуеbаrаn vіruѕ sejak аwаl tahun 2022. Menurut USDA, sеbаgіаn bеѕаr pada bulan Mаrеt dan Aрrіl, wаbаh terbesar ѕеbеlumnуа, раdа tаhun 2015, mеmbunuh 50,5 jutа burung. Sаhаm Cаl-Mаіnе telah jаtuh dаlаm bеbеrара minggu terakhir ѕеtеlаh nаіk hampir 50% tahun lalu. (INF)

PHALOSARI UNGGUL JAYA SIAP PENUHI PASOKAN KARKAS BEBEK NASIONAL

Ragam Produk Phalosari Unggul Jaya Dalam Gelaran ILDEX 2022
(Dokumentasi : Ridwan)

Sudah sejak lama Indonesia menjadi salah satu produsen daging unggas di kawasan Asia Tenggara. Meskipun begitu, daging yang dihasilkan masih didominasi oleh ayam broiler. Selain ayam broiler, orang Indonesia juga menggemari sajian berbahan dasar bebek. Namun untuk mendapatkan karkas bebek dengan kualitas yang baik, nampaknya para penjaja menu bebek masih mendapatkan kesulitan. 

PT Phalosari Unggul Jaya selaku pemain di bidang Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) kini hadir dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Rumboko, National Sales & Marketing Manager PT Phalosari Unggul Jaya, kini para customer tidak usah khawatir akan ketersediaan stok karkas bebek. Hal ini dikarenakan perusahaannya siap menyediakan karkas yang berkualitas.

"Kami hadir ini di ILDEX sekaligus ingin menunjukkan bahwa kami ini eksis, untuk RPHU memang fasilitas kami masih didominasi untuk karkas ayam, tetapi kami sudah punya juga yang untuk karkas bebek tersendiri. Insya Allah ini juga akan terus ditingkatkan," kata dia kala ditemui di ILDEX 2022 (12/111) yang lalu.

Selain karkas Phalosari juga memiliki produk olahan berbasis ayam dan bebek seperti sosis, bakso, dan ayam bumbu yang juga dipamerkan dalam ILDEX 2022. Namun menurut Rumboko produk yang cukup digemari dalam pameran tersebut adalah karkas bebek.

"Sebagai info ini karkas bebek cukup laris penjualannya di pameran ini saja, tapi jangan khawatir kami dalam waktu dekat akan melakukan ekspansi ke seluruh Pulau Jawa. Customer kami juga bukan hanya pedagang kaki lima kok, beberapa retail dan supermarket berskala nasional juga sudah mendistribusikan produk kami, jadi customer nanti bisa beli di sana," kata Rumboko.

Permintaan karkas bebek sendiri menurut Rumboko cukup tinggi, misalnya saja di daerah Jawa Timur yang merupakan markas dari Phalosari. Hal ini menurut Rumboko dikarenakan masyarakat yang mulai bosan dengan olahan daging ayam dan mulai menggemari daging bebek. 

"Kita juga sekaligus perkenalkan bahwa daging bebek yang kami produksi berasal dari bebek hibrida, pemeliharaannya juga bagus, proses kami juga sudah terstandar, sertifikat halal, NKV, dan lainnya juga lengkap, jadi ya tidak usah khawatir. Intinya kami siap untuk terus tumbuh dan memenuhi permintaan dari seluruh Indonesia," tutup Rumboko. (CR)

CEGAH STUNTING, TINGKATKAN AWARNESS ORANG TUA KONSUMSI DAGING DAN TELUR AYAM PADA ANAK

Simbolis makan telur pada seminar stunting kerja sama BKKBN, Kowani dan ASOHI. (Foto: Dok. Infovet)

Stunting merupakan salah satu bagian dari Double Burden Malnutrition (DBM), mempunyai dampak yang sangat merugikan, baik dari sisi kesehatan maupun sisi produktivitas ekonomi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Prevalensi kasus stunting yang masih cukup tinggi pada 2022 sekitar 24,4% menjadi concern banyak pihak, mengingat target penurunan prevalensi kasus stunting pada 2024 mendatang adalah sebesar 14%.

Atas perhatian tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), bekerja sama menyelenggarakan Seminar Stunting "Meningkatkan Awarness Orang Tua untuk Mengonsumsi Daging Ayam dan Telur pada Anak", yang dilaksanakan di Hall Auditorium BKKBN, Selasa (8/11/2022).

"Kami sebagai asosiasi di bidang obat hewan ikut berkewajiban dalam memelihara dan menjaga kesehatan hewan, dimana itu bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hewan ternak agar protein hewani yang dihasilkan berkualitas sampai ke tangan konsumen," ujar Ketua ASOHI, Drh Irawati Fari dalam sambutannya.

Sebab, lanjut Ira, dengan mengonsumsi protein hewani yang berkualitas, khususnya telur dan daging ayam, memiliki manfaat yang sangat baik bagi tubuh maupun perkembangan anak.

"ASOHI sebagai mitra pemerintah terus berupaya mengampanyekan manfaat konsumsi ayam dan telur untuk mencegah dan menurunkan prevalensi kasus stunting. Karena kita ingin masyarakat dan anak-anak kita dapat tumbuh dengan sehat, cerdas, pintar, agar bisa menjadi penerus bangsa ini," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala BKKBN yang diwakili oleh Deputi Kepala Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Prof Drh M. Rizal Martua Damanik MRepSc PhD, bahwa konsumsi protein hewani salah satunya telur ayam sangat baik bagi tumbuh kembang pada anak.

Karena dalam satu butir telur terkandung 75 kalori, 7 gram protein kualitas tinggi, 5 gram lemak, kemudian 1,6  gram lemak jenuh, vitamin, mineral, carotenoids dan 30 mg DHA. Telur juga tinggi kolin yang dibutuhkan dalam pembelahan sel dan pertumbuhan.

"Tingginya kasus stunting salah satunya karena asupan gizi yang tidak adekuat. Oleh karena itu, melalui konsumsi telur ayam saja mampu mencegah stunting karena kandungan gizinya sangat baik dan juga penting untuk pertumbuhan sel otak pada anak," kata Prof Damanik.

Ia juga menambahkan, "Dalam literatur dijelaskan, dengan pemberian satu butir telur sehari pada bayi usia 6-9 bulan dapat mencegah stunting. Konsumsi telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi keluarga sehat, termasuk pada 1.000 hari pertama kehidupan karena itu merupakan masa-masa yang sangat krusial."

Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya kolaborasi antar stakeholder ini dapat memberikan dampak besar dan luas bagi masyarakat, khususnya pada percepatan penurunan stunting yang bertujuan menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan, hingga meningkatkan akses air minum dan sanitasi.

Pada kesempatan tersebut turut menghadiri pembicara diantaranya Ketua Kowani & Tenaga Ahli Set Wapres Dr Susianah Affandy MSi, Deputi Kepala Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN Prof Damanik, serta Praktisi Kesehatan Anak dr Triza Arif Santosa SpA, yang masing-masing membahas mengenai bagaimana pentingnya memperhatikan pola hidup, konsumsi sumber zat gizi yang baik salah satunya telur dan daging ayam untuk mencegah dan menurunkan kasus stunting. (RBS)

TAKUT MAKAN TELUR DAN AYAM KARENA PAKAN PABRIKAN

Daging dan telur ayam sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. (Foto: Istimewa)

Pakan pabrikan untuk ternak unggas bersumber dari bahan yang sehat dan sudah melalui proses sangat ketat serta terjamin keamanannya. Aman bagi unggas, aman pula bagi orang yang mengonsumsi telur dan daging ayam.

Masih rendahnya konsumsi telur dan daging ayam di Indonesia memang terkendala banyak persoalan. Yang selama ini masih menjadi “hantu” bagi sebagian masyarakat dalam mengonsumsi daging dan telur ayam adalah berkembangnya berbagai mitos. Mulai dari mitos bakal bisulan pada anak-anak, hingga mitos ibu hamil hindari makan telur karena dikhawatirkan kulit bayinya akan belang-belang semacam panu saat lahir.

Ternyata, bukan hanya mitos-mitos yang terus berhembus saja yang menjadikan sebagian orang enggan makan telur dan daging ayam. Pemahaman tentang ayam pedaging (broiler) dipenuhi dengan pakan pabrikan yang mengandung obat-obatan juga banyak terdengar di tengah masyarakat.

Memang aroma pakan ayam pabrikan menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang, bahwa pakan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat-obatan.

Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini makin membuat orang khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total makan produk asal unggas itu.

Lantas, seberapa aman sebenarnya pakan pabrikan yang diberikan kepada ayam, sehingga produk daging dan telurnya juga aman untuk dikonsumsi manusia?

“Pakan untuk ayam akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan ayam petelur maupun pedaging,” ujar Animal Protein Technical Consultant, U.S. Soybean Export Council, Yahya Munirudin, dalam webinar Healthy Family with Chicken Meat and Egg di Jakarta.

Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul dan lainnya.

Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman. “Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” jelas Yahya.

Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi. Industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk memastikan bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.

Aman dari Obat-obatan
Menurut Yahya, dalam proses pengolahan, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Sebagai contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. “Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat antinutrisi yang ada pada kedelai,” ujarnya.

Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih menggelayut di benak sebagian masyarakat. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.

Dijelaskan Yahya, dari sisi proses pembuatan pakan, pabrikan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018, pemerintah melarang penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) dalam pakan.

“Bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan,” papar Yahya.

Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Maka pada kemasan obat biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.

“Untuk penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah cukup ketat, jadi tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” ucap dia.

Nutrisi Hebat di Telur dan Daging Ayam
Menyimak dari proses dan sumber bahan pakan unggas di atas, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu khawatir tentang kandungan nutrisinya.

Sudah cukup banyak edukasi yang disampaikan melalui media maupun lewat beragam kegiatan offline tentang manfaat mengonsumsi telur dan daging ayam. Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang sumber protein tersebut.

Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. Dalam lembaran informasi gizi yang diterbitkan U.S. Soybean Export Council, ada data yang menarik untuk disimak.

Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Sementara daging ayam juga kaya akan Vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.

Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.

Sementara dalam 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg. Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging (unggas) dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini.

Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. Ini juga membantu dalam sintesis neurotransmiter dan penting dalam sintesis heme iron.

Lembaran informasi tersebut juga menyebutkan, vitamin B12 penting untuk sintesis asam deoksiribonukleat (DNA), yang merupakan komponen inti sel, penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia yang tepat. Vitamin B12 ditemukan secara alami dalam makanan yang berasal dari hewan.

Oleh karena itu, vegan mungkin perlu melengkapi diet mereka dengan vitamin ini atau mengonsumsi makanan yang diperkaya vitamin B12, atau makanan fermentasi yang merupakan sumber vitamin B12. Untuk non-vegan, individu didorong untuk memenuhi nilai RDA/RNI mereka (dari 1-4 g untuk negara regional) dari konsumsi sumber protein hewani seperti unggas (0,4 g/100 g) dan kuning telur (0,9 g/100 g).

Bagaimana dengan zat besi yang terkandung di dalam telur dan daging ayam? Zat besi adalah salah satu mineral kunci yang memainkan peran penting dalam kesehatan manusia. Kekurangan zat besi menyebabkan beberapa hambatan dalam fungsi normal tubuh. Secara khusus, kekurangan zat besi pada anak dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mental.

Ada dua jenis besi, non-heme dan heme. Besi non-heme yang hadir terutama dalam sayuran silangan, kacang-kacangan dan produk susu, memiliki daya serap dan bioavailabilitas lebih rendah berkisar antara 2-20%.

Terlebih lagi, penyerapan zat besi non-heme dari sumber nabati berpotensi lebih lanjut terhambat jika produk makanan sendiri mengandung fitat. Di sisi lain, zat besi heme, yang ditemukan dalam produk daging, memiliki kadar yang jauh lebih tinggi bioavailabilitas dan penyerapan oleh tubuh manusia. (AK)

PERAN PROTEIN HEWANI WUJUDKAN GENERASI EMAS INDONESIA

Webinar peran protein hewani mewujudkan generasi emas Indonesia. (Foto: Infovet/Ridwan)

Senin (1/31/2022), Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Askesmaveti) bekerja sama dengan Agrina menyelenggarakan webinar “Peran Protein Hewani Mewujudkan Generasi Emas Indonesia.”

Untuk mewujudkan generasi emas penerus bangsa, Indonesia mendapat bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan baik. “Salah satunya melalui terpenuhinya protein hewani,” ujar Ketua Askesmaveti, Drh Sri Hartati MSi.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, Drh Syamsul Ma’arif MSi, bahwa segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan produk hewani secara langsung atau tidak memengaruhi kesehatan manusia.

Kendati demikian, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang salah paham dengan konsumsi pangan asal hewani ini. Masih banyak penyalahgunaan bahan berbahaya, praktik pemalsuan daging, penyebaran informasi yang tidak benar, penerapan higiene dan sanitasi yang belum memadai, rendahnya pemahaman dan lain sebagainya menjadi tantangan berat keamanan pangan di Indonesia.

Padahal melalui konsumsi protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal, dapat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Hal itu seperti disampaikan Ahli Gizi Ibu dan Anak FKM UI, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH.

Ia menitikberatkan pada masalah stunting di Indonesia yang masih menjadi tantangan pengembangan SDM berkualitas. Dijelaskan, stunting akan menyebabkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar rendah, tinggi tidak optimal, kualitas kerja tidak kompetitif.

“Kemudian kekebalan tubuh menurun sehingga mudah sakit, berisiko tinggi munculnya PTM (diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah), serta berdampak pada produktivitas ekomoni rendah,” jelas Prof Sandra.

Hal yang sama juga disampaikan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Prof Drh M. Rizal M. Damanik Mrep Sc Phd, bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kondisi kekurangan gizi kronis. Data Survei Status Gizi Balita 2021, angka stunting nasional sebesar 24,20%.

Oleh karena itu, pada 1.000 pertama kehidupan yang merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak, penting untuk memberikan asupan gizi yang kuat, diantaranya zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin, mineral).

Asupan protein bisa didapat dari nabati (tahu, tempe, kacang) dan hewani (daging, susu, telur, ikan). “Protein hewani sangat penting karena memiliki asam amino esensial (AAE) yang lengkap dan banyak dibanding protein nabati. Pangan hewani juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang beragam dan berkualitas yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh,” pungkasnya. (RBS)

DUH! KONSUMSI ROKOK & PULSA LANGKAHI BELANJA TELUR DAN DAGING AYAM

Angka belanja rokok yang jauh lebih tinggi dari belanja makanan bergizi dapat memicu terjadinya kemiskinan dalam keluarga. (Foto: Dok. Infovet)

Data BPS menyebutkan, komoditi kedua belanja rumah tangga di Indonesia adalah rokok  sebanyak 12.2% di kota dan 10.9% di desa. Sedangkan belanja telur ayam di peringkat ketiga sebesar 4.3% di kota dan 3.7% di desa.

Tak ada yang membantah bahwa rokok adalah salah satu candu yang mengancam kesehatan manusia. Bahkan, tak sedikit lembaga kesehatan yang merilis fakta-fakta berbahaya tentang merokok. Organisasi tingkat dunia seperti World Health Organization (WHO) sudah menyatakan bahwa rokok adalah penyebab utama kematian dan penyakit di dunia.

Di 2021 WHO merilis, tiga juta orang mengalami kematian dini setiap tahunnya terkait konsumsi tembakau yang menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, penyebab kematian utama di dunia. Di dalam negeri, Kementerian Kesehatan juga merilis tentang data yang didukung data dari WHO. Kematian tersebut termasuk 890.000 kematian para perokok pasif.

Meskipun sudah diketahui dan dipahami bahwa merokok merusak kesehatan, toh nyatanya konsumsi “bakar-bakaran di mulut” tetap berlangsung. Ini menjadi salah satu bukti bahwa rokok adalah candu yang nyata dan dilegalkan.

Jumlah perokok di Indonesia dari tahun ke tahun tetap bertengger di atas persentase 25% dari jumlah usia produktif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, jumlah penduduk perokok umur 15 tahun ke atas 28,69%. Turun sedikit dibanding 2019 yang mencapai 29,03%.

Masih menyimak rilis BPS di 2020, laporan Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik 2020 menunjukkan bahwa konsumsi rokok menempati peringkat kedua dalam konsumsi rumah tangga di Indonesia pada Maret 2020. Data tersebut memperlihatkan komoditi utama belanja rumah tangga di Indonesia adalah beras sebanyak 20.2% di kota dan 25.3% di desa. Sedangkan rokok menempati peringkat kedua sebanyak 12.2% di kota dan 10.9% di desa.

Di peringkat ketiga ada telur ayam 4.3% di kota dan 3.7% di desa. Selanjutnya, daging ayam dengan angka 4.1% di kota dan 2.4% di desa. Peringkat kelima adalah mie instan dengan angka 2.3% di kota dan 2.1% di desa.

“Artinya kalau satu keluarga membelanjakan 100% uangnya, itu 12% untuk beli rokok. Beli telur dan daging hanya 4%, gimana mau satu keluarga sehat?” ujar Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, Dra Lenny Nurhayanti Rosalin MSc dalam webinar Kemen PPPA beberapa waktu lalu.

“Jadi satu orang yang membeli rokok di keluarga berarti egois, karena dia lebih memilih untuk beli rokok dibanding beli makanan bergizi.”

Rokok dan Pulsa 
Melihat angka belanja rokok yang jauh lebih tinggi dari belanja makanan bergizi dapat memicu terjadinya kemiskinan dalam keluarga. “Ya sudah pasti, orang uangnya untuk beli rokok bukan untuk beli gizi. Nanti anaknya kurang gizi, udah kurang gizi nanti sekolahnya terganggu. Kalau sekolahnya terganggu akhirnya pendidikannya tidak maksimal. Kalau pendidikannya tidak maksimal, ya dia pasti jadi SDM yang kurang berkualitas,” ucap Lenny.

“Kalau dia bukan SDM yang berkualitas, siapa yang mau menerima dia sebagai pekerja, berarti dia tidak produktif. Sementara itu, dia membutuhkan makan, minum dan lain sebagainya tapi dia tidak bisa bekerja, akhirnya muncullah kemiskinan.”

Itulah rangkaian pemaparan yang disampaikan Lenny dalam webinar tersebut. Miris memang. Data yang dirilis BPS adalah data yang terjadi saat masyarakat sudah memasuki masa pandemi COVID-19. Masa yang semestinya orang mementingkan asupan gizi untuk memperoleh kekebalan tubuh yang maksimal. Namun yang terjadi malah sebaliknya, menambah asupan nikotin ke dalam tubuh.

“Rokok kretek filter menjadi terbesar kedua terhadap garis kemiskinan,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. Persentase kontribusi rokok pada angka kemiskinan hanya kalah dari komponen makanan, dalam hal ini beras, yang berada di posisi pertama.

Persoalan konsumsi rokok mengalahkan konsumi telur dan daging ayam juga pernah terjadi pada pengeluaran untuk membeli pulsa handphone dengan konsumsi telur dan daging ayam, pada beberapa tahun sebelumnya.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas, BPS) 2016 menunjukkan, dalam enam tahun terakhir, biaya pengeluaran pulsa bulanan masyarakat Indonesia terus meningkat. Rata-ratanya mengalahkan jumlah pengeluaran pembelian buah dan daging (termasuk daging ayam).

Jumlah rata-rata pengeluaran pulsa secara nasional per bulan pada 2016 mencapai Rp 22.182/kapita. Sedangkan pengeluaran buah Rp 19.268 dan daging Rp 20.526/kapita. Meski begitu, nilai pengeluaran pembelian pulsa belum mengalahkan rata-rata pengeluaran bulanan untuk kebutuhan pokok seperti beras, sebanyak Rp 64.566.

Dengan selisih sedikit berbeda, biaya pengeluaran pulsa telepon bulanan ini lebih tinggi dari biaya rata-rata pengeluaran SPP bulanan anak sekolah yakni sebesar Rp 21.276/kapita pada 2016. Dengan pengeluaran sebesar itu, kini posisi pulsa dalam masyarakat Indonesia bukan lagi kebutuhan tersier, melainkan kebutuhan sekunder setelah terpenuhinya kebutuhan pokok.

Budaya Suka Ngobrol
Fenomena “konsumsi” pulsa handphone dan rokok jauh lebih besar dibandingkan dengan konsumsi daging ayam mendapat perhatian dari para pakar gizi. Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, menyebutkan, fenomena semacam ini sungguh miris. Kebutuhan asupan gizi dikalahkan kebutuhan pulsa hanya untuk gaya hidup.

“Dapat dibayangkan dengan Rp 20.000 bisa makan daging, berarti kalau diasumsikan sebagai daging ayam hanya sekitar 0,5 kg sebulan. Kalau diasumsikan dengan daging sapi malah prihatin lagi, hanya setara 200 gram/bulan/kapita,” ujar Erwanto.

Dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini berpendapat, perputaran uang untuk biaya komunikasi, dalam hal ini pulsa, hanya akan berputar pada kurang dari 10 perusahaan besar saja. Sementara untuk konsumsi daging perputaran uangnya sangat luas, mulai dari petani jagung dan bahan pakan lain, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha restoran, usaha pemotongan hewan beserta jalur pasar yang mereka lewati melibatkan banyak pelaku usaha.

“Artinya kalau semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk daging akan mempunyai daya ungkit bagi usaha yang terlibat dan akan membuka lapangan kerja yang jauh lebih besar dibandingkan dengan uang yang berputar untuk biaya pulsa,” ungkapnya.

Erwanto tak sependapat dengan anggapan peningkatan daya beli pulsa masyarakat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan. Sederhananya, masyarakat mau makan pulsa atau mau makan daging yang akan meningkatkan produktivitas? Jadi tidak ada hubungannya antara biaya pulsa yang tinggi dengan tingkat kesejahteraan.

Ia berargumen, kalangan yang menggunakan telepon atau data internet dalam rentang yang panjang dan kadang tidak terkontrol dapat terjadi pada semua segmen ekonomi. Bahkan, sampai yang tidak punya duit sekalipun, bila ada kesempatan mereka kadang akan menggunakan pulsa dan data tanpa kendali. “Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan budaya kita memang lebih suka ngobrol dan kurang produktif,” ucap dia.

Menurut pakar gizi ini, penyebab rendahnya konsumsi masyarakat terhadap daging ayam tidak sekadar karena faktor pengetahuan atau pemahaman. Kalau pengetahuan dan pemahaman lebih cenderung keseimbangan gizi yang sering tidak dipahami.

“Mungkin salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya konsumsi daging ayam adalah kekhawatiran kandungan antibiotik dan obat-obatan pada ayam broiler yang tinggi, namun sebenarnya tidak separah yang dikhawatirkan,” pungkasnya. (AK)

KONSUMSI PROTEIN HEWANI DAN NABATI HINDARI ANCAMAN STUNTING

Webinar nasional asupan protein hewani dan nabati kurangi kasus stunting yang dipandu oleh Alfred Kompudu (kiri), bersama narasumber Muhammad Yani (kanan) dan Ali Khomsan (bawah). (Foto: Infovet/Ridwan)

Asupan pangan bergizi merupakan kebutuhan esensial bagi tiap individu, khususnya bagi ibu hamil dan balita. Kekurangan pangan bergizi dari protein hewani dan nabati menjadi salah satu penyebab tingginya kasus stunting.

“Balita yang stunting kecerdasannya akan kurang maksimal, dampak lainnya turut meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Situasi ini dapat memengaruhi pertumbuhan Indonesia,” ujar Ricky Bangsaratoe, selaku panitia penyelenggara Webinar Nasional “Gizi Seimbang Protein Hewani dan Nabati untuk Mengurangi Kasus Stunting di Indonesia”, Kamis (22/7/2021).

Saat ini prevalensi kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Dari data yang ada pada 2020, kasus stunting berada diangka 24,1% dan menjadikan Indonesia urutan ketiga kasus stunting tertinggi di Asia. Ini juga berkaitan erat dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Karena itu, upaya pemerintah hingga 2024 mendatang, menargetkan penurunan stunting 2,5% per tahun, sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang mengharapkan prevalensi stunting turun 14% pada 2024.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Suprapto, yang hadir sebagai keynote speech, menyebut untuk mengupayakan penurunan kasus stunting yang termasuk kronis ini dibutuhkan intervensi secara spesifik, terpadu dan konsisten, salah satunya melalui konsumsi protein hewani dan nabati.

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Pangan dan Gizi IPB, Prof Dr Ir Ali Khomsan, yang menjadi narasumber. Menurutnya, intervensi gizi harus memprioritaskan pada keluarga yang memiliki anak stunting, juga pada keluarga miskin. Adapun tiga hal yang dapat dilakukan yakni subsidi pangan, perbaikan sanitasi dan pengentasan kemiskinan.

“Dari penelitian saya, keluarga miskin memiliki balita stunting 40%, sedangkan keluarga tidak miskin jumlah balita stunting-nya hanya 14,3%. Oleh karena itu, pemberian telur setiap hari sebagai makanan tambahan dapat mengentaskan stunting pada anak hingga 47% dan kasus anak kurus turun 74%,” ungkap dia.

Kendati demikian, realitas yang terjadi kebanyakan masyarakat Indonesia lebih gemar membeli rokok ketimbang sumber pangan bergizi bagi keluarga. Data dari BPS 2020, menyebutkan konsumsi rokok per tahun mencapai 1.300 batang dengan nilai mencapai Rp 2 juta/tahun. Sementara konsumsi daging ayam 15 kg dengan nilai Rp 525 ribu/tahun dan konsumsi telur hanya 9,5 kg dengan nilai Rp 235 ribu/tahun.

Hal itu salah satunya menjadi pemantik strategi nasional penurunan percepatan stunting di Indonesia. Beberapa strategi itu disebutkan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Dr dr Muhammad Yani MKes PKK, diantaranya menurunkan prevalensi kasus stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.

“Dampak stunting ini sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, kecerdasan, pertumbuhan dan gangguan metabolisme. Stunting juga menjadi penyakit penyebab kemiskinan, selain berpotensi menjadi ancaman bagi indeks pembangunan manusia di Indonesia,” pungkasnya. (RBS)

WEBINAR NASIONAL: GIZI AYAM DAN TELUR TINGKATKAN IMUNITAS DAN KESEHATAN TUBUH

Antusias peserta dalam Webinar Nasional Gizi Ayam dan Telur. (Foto: Infovet/Ridwan)

Selasa, 25 Mei 2021. “Gizi Ayam dan Telur untuk Meningkatkan Imunitas dan Kesehatan” menjadi tema yang diangkat dalam Webinar Nasional rangkaian kegiatan Edukasi Gizi Ayam dan Telur 2021 yang juga akan digelar di Bandung pada 29 Mei 2021.

Kegiatan webinar ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, yang merupakan istri dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Saya sangat apresiasi sekali kepada penyelenggara dan semua pihak terkait dalam kegiatan ini. Saya harap ibu-ibu PKK terus membantu menyebarkan pentingnya konsumsi ayam dan telur bagi keluarga untuk meningkatkan konsumsi protein hewani,” kata Atalia dalam sambutannya. Daging dan telur ayam merupakan protein hewani paling murah dibanding protein hewani lainnya.

Kendati demikian, saat ini masih banyak isu-isu negatif mengenai ayam dan telur yang beredar di masyarakat. Seperti isu pemberian hormon pada daging broiler, kolesterol pada telur, penyebab bisul, hingga alergi yang membuat masyarakat takut. Ketidaktahuan informasi akan manfaat ayam dan telur membuat konsumsinya di Indonesia rendah dibanding negara ASEAN lainnya.

Hal itu seperti disampaikan Dewan Penasehat Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, yang menjadi narasumber. Ia menjelaskan, konsumsi telur di Indonesia baru 150 butir/kapita/tahun dan konsumsi daging ayam hanya 15 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia sudah mencapai sekitar 300an butir/kapita/tahun dan daging ayam 33 kg/kapita/tahun.

“Produksi ayam dan telur itu tanpa penyuntikan hormon, tidak ada penelitian/rekomendasi penggunaan hormon pada ayam, pemerintah Indonesia juga melarang penggunaan hormon pertumbuhan. Ayam cepat besar itu karena dilakukan seleksi genetik, perbaikan teknologi pakan, pemeliharaan dan obat,” jelas Rakhmat.

Sementara untuk alergi, lanjut Rakhmat, hanya 1,5% orang dewasa dan 6% anak-anak alergi terhadap satu/berbagai bahan makanan. Untuk kejadian alergi pada telur memang ada, namun sedikit sekali, sementara alergi pada daging ayam sama sekali tidak ada.

“Beberapa isu-isu itulah yang sering disalahpahami oleh masyarakat. Padahal kedua pangan hewani tersebut masih menjadi pedoman gizi seimbang di banyak negara. Negara-negara yang konsumsi protein hewaninya tinggi memiliki angka usia harapan hidup yang lebih baik,” ungkap dia.

Mengenai gizi ayam dan telur juga disampaikan oleh Praktisi Kesehatan Anak, dr Triza Arif Santosa SpA. Ia memaparkan zat gizi dan mikronutrien yang terkandung dalam ayam dan telur, diantaranya Lutein, Xantin pada telur (fungsi pengelihatan, mencegah katarak dan kebutaan), Kolin, asam lemak Omega 3 pada telur (fungsi kecerdasan, mencegah demensia), kandungan vitamin A, D dan E, kemudian vitamin B komplek, zat besi dan zink pada daging ayam, memiliki komponen bioaktif/peptida protein (pada unggas) diantaranya Karnosin, Anserin, L-Karnitin, sebagai antioksidan melawan radikal bebas dan anti-stres/kelelahan, serta mengandung selenium antioksidan.

“Kalau kita bicara ayam dan telur ini merupakan protein dengan asam amino lengkap dan paling murah dibanding protein hewani lainnya. Untuk ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan sekali guna menunjang kesehatan bayinya,” kata Triza.

Lebih lanjut dijelaskan, kandungan lemak dan protein dalam 100 gram daging ayam memiliki lemak total (14 gram), lemak jenuh (3,8 gram), protein (27 gram), sedangkan per 100 gram telur memiliki lemak total (11 gram), lemak jenuh (3,3 gram) dan protein (13 gram).

“Yang sering dikhawatirkan adalah kandungan lemaknya, penyebab kolesterol, padahal lemak ini kan ada yang baik dan buruk bagi tubuh. Jadi tak usah khawatir konsumsi daging dan telur ayam, kandungan lemak jenuhnya sedikit. Oleh karena itu, konsumsi dua butir telur sehari masih sangat dianjurkan,” ucap dia. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah proses pengolahan/pencampuran/pemasakan daging dan telur ayam agar kandungan lemaknya tidak meningkat dan proteinnya tetap tinggi.

Pembicara (dari atas kiri): Rakhmat Nuriyanto, Triza Arif Santosa dan Jafar Ismail. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kegiatan yang dihadiri sebanyak 500 orang peserta ini juga menghadirkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Ir H. Jafar Ismail MM, yang membahas mengenai penyediaan protein hewani asal unggas di Jawa Barat. (RBS)

ILC KE-13: PENTINGNYA MENJAGA KEAMANAN PANGAN PROTEIN HEWANI

ILC edisi 13 dengan tema “Menjaga Keamanan Pangan Protein Hewani”. (Foto: Istimewa)

Di setiap mata rantai sistem pasok produk hasil ternak, masing-masing memiliki tanggung jawab dalam upaya mencegah terjadinya kontaminasi atau pencemaran produk hasil ternak yang mengakibatkannya menjadi berbahaya bagi kesehatan konsumen. Persyaratan akan produk pangan yang aman dikonsumsi inilah yang dikenal dengan istilah keamanan pangan.

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) #Edisi13 yang mengangkat topik “Menjaga Keamanan Pangan Protein Hewani” pada Sabtu (31/10/2020) melalui aplikasi daring. ILC yang diselenggarakan ke-13 kalinya tersebut diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), bekerja sama dengan Majalah Poultry Indonesia.

Hadir sebagai narasumber utama pada ILC yang diikuti sekitar 200 peserta yakni Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), DIrektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Syamsul Ma’arif, yang membahas seputar regulasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk penjaminan keamanan pangan protein hewani. Hadir pula Staf Pengajar pada Departemen Kesmavet FKH Universitas Airlangga, A.T. Soelih Estoepangestie, yang menyampaikan materi strategi menjaga keamanan pangan produk protein hewani sejak dari awal, serta narasumber dari kalangan praktisi, yakni Vice President Head of Marketing & Sales PT Ciomas Adisatwa, M. Zunaiydi, yang memaparkan pengalaman industri pengolahan produk hasil unggas dalam menjaga keamanan pangan.

Salah satu regulasi penting dalam upaya penjaminan keamanan pangan protein hewani adalah adanya Peratutan Menteri Pertanian No. 11/2020 tentang sertifikasi nomor kontrol veteriner unit usaha produk hewan. Syamsul menjelaskan, sertifikat NKV adalah bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan higiene dan sanitasi sebagai jaminan keamanan pangan produk hewan pada unit usaha produk hewan. NKV dalam bentuk sertifikat tersebut diberikan oleh pejabat otoritas veteriner provinsi.

Adapun jenis usaha peternakan dan olahannya yang wajib memiliki NKV yakni rumah pemotongan hewan, budi daya (unggas petelur dan sapi perah), distribusi (cold storage, kios daging, ritel, gudang kering, pengumpulan, pengemasan, pelabelan telur konsumsi, penampung susu), sarang burung walet (rumah, pencucian, pengumpulan dan pengolahan), pengolahan produn pangan asal ternak, serta pengolahan hewan non-pangan.

“Pengawasan keamanan dan mutu produk hewan dilakukan dengan pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan, monitoring dan surveilan produk hewan, serta pengawasan keamanan produk hewan,” tutur Syamsul.

Keamanan pangan juga menjadi isu penting dalam menghindari penyebaran COVID-19, terutama dalam alur proses rantai pasok mulai dari peternak, rumah pemotongan, pabrik pengolah, pengemas, hingga ke distribusi dan konsumen. Oleh karena itu, penerapan keamanan pangan dalam setiap mata rantai sistem pasok pangan mutlak harus diintegrasikan dengan protokol penanganan COVID-19, seperti cuci tangan, jaga jarak dan menggunakan masker.

Sementara ditambahkan M. Zunaiydi, keamanan pangan harus dijaga sejak awal, mulai dari budi daya dengan menerapkan tata cara produksi ternak yang baik, sehingga dihasilkan produk yang sehat dan berkualitas.

“Dengan demikian proses selanjutnya, yakni proses pengolahan produk pun diharapkan dapat terjaga kualitas dan keamanan pangannya. Hal itu sejalan dengan seruan dari World Health Organization (WHO) yang mendeklarasikan bahwa keamanan pangan adalah kewajiban semua pihak. (IN)

RAYAKAN HPS KE-40, ILC BAHAS PROTEIN HEWANI YANG AMAN, HALAL DAN BERGIZI

ILC ke-12 bahas protein hewani yang aman, halal dan bergizi. (Foto: Istimewa)

Dalam menghasilkan generasi emas 2045 yang sehat, cerdas dan berdaya saing tinggi di tingkat global, sangat penting dalam menjamin ketersediaan pangan sumber protein hewani yang aman, halal dan bergizi.

Protein hewani juga berperan penting dalam pemberantasan stunting atau gagal tumbuh di Indonesia yang saat ini menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan lebih dari 20%. 

Hal itu menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia akibat kurangnya asupan protein hewani. Protein hewani merupakan makronutrien penting bagi tumbuh kembang anak. Beberapa fungsi protein hewani yang banyak terkandung asam amino esensial (tak tergantikan) yaitu membentuk jaringan baru dalam tubuh, memelihara jaringan tubuh, memperbaiki dan mengganti jaringan yang rusak atau mati, serta menyediakan asam amino yang diperlukan tubuh untuk membentuk enzim dan metabolisme. 

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) pada Sabtu (17/10/2020) dalam sebuah webinar yang diselenggarakan Indonesia Livestock Alliance (ILA), Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), Pinsar Indonesia, Pergizi Pangan Indonesia dan Majalah Poultry Indonesia, sekaligus menyambut perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-40.

ILC ke-12 kalinya tersebut menghadirkan narasumber penting, yakni Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha BPOM, Dra Dewi Prawitasari Apt MKes yang membahas tentang “Regulasi Seputar Produk Pangan Risiko Sedang pada Produk Hasil Ternak”, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia Prof Dr Hardinsyah yang membahas “Strategi Menjaga Manfaat & Nilai Gizi produk Pangan Hasil Ternak”, Wakil Ketua Umum Pinsar Indonesia Ir H. Eddy Wahyudin MBA membahas “Kiat Peternak dalam Menghasilkan Produk Hasil Ternak yang Aman, Halal dan Bergizi”, serta Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia Drh Agus Prastowo yang membawakan materi “Pengendalian Salmomella Sejak dari Budi Daya untuk Hasilkan Produk Unggas yang aman dan Sehat”.

Dalam menghasilkan produk protein hewani baik telur maupun daging ayam, pihak produsen sejak di tingkat kandang, transprotasi, rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) hingga penyimpanan dan pengiriman ke konsumen, harus senantiasa menerapkan prinsip keamanan pangan dan kehalalan. Apalagi produk hasil ternak merupakan bahan baku pangan yang mudah rusak (perishable), sehingga penanganannya harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, agar dihasilkan produk olahan hasil ternak yang aman, halal dan terjaga status gizinya. (IN)

KEMENTAN: KONTRIBUSI MASYARAKAT DALAM KEAMANAN PANGAN PERLU

Pangan segar khususnya pangan asal hewan memiliki nilai dan kualitas yang tinggi bagi kemaslahatan manusia. (Foto: Ist)

Menyambut perayaan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) kedua yang jatuh pada 7 Juni 2020, pemerintah mengajak semua pihak termasuk masyarakat luas untuk berkontribusi dan mengambil sikap dalam menjamin ketersediaan pangan yang aman, sehat dan bergizi.

“Saat ini kita sedang dihadapkan pada upaya pemulihan pasca pandemi COVID-19 dan potensi kerawanan ketersediaan pangan yang sangat mungkin terjadi, seiring dengan kondisi yang menekan penurunan produktivitas usaha penyediaan pangan. Oleh karena itu, kami mengajak agar semua pihak dapat ikut bertindak, karena urusan pangan adalah urusan bersama dan semua bisa berkontribusi,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita dalam siaran persnya, Minggu (7/6).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pangan segar khususnya pangan asal hewan memiliki nilai dan kualitas yang tinggi bagi kemaslahatan manusia, karena mengandung protein hewani dibutuhkan dan bermanfaat bagi tubuh, serta berperan mencerdaskan anak bangsa.

Akan tetapi, disisi lain pangan segar asal hewan memiliki karakteristik mudah rusak (perishable food) dan berpotensi membahayakan (potentially hazardous). Untuk itu, Undang-undang mengatur aspek mulai dari pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi dan registrasi produk dan unit usaha sejak produk pangan asal hewan diproduksi sampai siap dikonsumsi. Selain itu, juga memastikan produk pangan asal hewan memenuhi kriteria aman, sehat, utuh dan Halal (ASUH).

Dalam kesempatan ini, Ketut menghimbau agar masyarakat lebih cerdas dan bijak dalam memilih pangan asal hewan, tidak tergiur dengan produk murah dan membeli ditempat resmi dan terdaftar sesuai aturan, serta tidak mudah percaya dan meyakini informasi hoaks.

Sementara Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, turut menyampaikan, “Pemerintah berperan memastikan pangan yang aman dan berkualitas. Petani dan peternak memastikan penerapan cara bertani/beternak yang baik, pelaku usaha pengolahan pangan menjamin proses secara aman dan masyarakat memastikan terpenuhi haknya dalam memperoleh pangan yang aman, sehat dan bergizi, dengan perannya dalam memilih, menangani dan mengolah pangan dengan benar.”

Sedangkan Direktur Kesmavet, Ditjen PKH, Syamsul Maarif, menjelaskan bahwa pihaknya bersama pemerintah daerah telah mensertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terhadap unit usaha produk hewan sebanyak 2.634 unit, serta melakukan monitoring dan pengawasan. Hasilnya memperlihatkan tren penurunan tingkat produk hewan yang sub-standar dalam lima tahun terakhir (angka rata-rata di 2019 sekitar 20% produk hewan yang sub-standar masih beredar).

“Laporan tingkat keamanan produk hewan tersebut sejalan dengan target yang ditetapkan secara Nasional yang tertuang dalam Rencana Kerja Jangka Menengah Presiden yang menetapkan angka pemenuhan persyaratan pangan segar tidak boleh kurang dari 85%,” jelas Syamsul. (INF)

ASPEK KEAMANAN DAN KELAYAKAN DALAM TELUR TETAS INFERTIL

Telur, sumber protein hewani paling ekonomis yang dapat dikonsumsi sehari-hari

Beberapa hari belakangan harga telur ayam ras kembali anjlok. Harga terendah sempat menyentuh angka Rp. 19.000 perkilogramnya di tingkat pasar atau eceran. Salah satu penyebab yang menjadi kambing hitam turunnya harga telur adalah beredarnya telur tetas (HE) infertil hasil afkir.

Beragam pro dan kontra mewarnai beredarnya telur HE ini. Ada satu komentar menarik di pemberitaan media mainstream terkait telur HE, yakni layakkah telur HE ini untuk dikonsumsi?. Bahkan sebuah portal berita online mengatakan bahwa telur HE tidak layak dikonsumsi karena ditengarai lebih cepat busuk dan mengandung lebih banyak bakteri Salmonella.

Beragam infografis terkait perbedaan antara telur tetas dengan telur ayam konsumsi. Bahkan bisa dibilang infografis tersebut terkesan timpang sebelah, menyudutkan telur tetas tetapi tidak sesuai dengan kaidah ilmiah, terutama dari segi kelayakan konsumsi.

Menanggapi hal tersebut, pakar sekaligus staff pengajar Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB, Dr. Drh Denny Widaya Lukman ikut berkomentar. Menurutnya telur tetas (HE) masih aman dan layak dikonsumsi oleh manusia dan tidak membahayakan kesehatan konsumennya.

"Kita kan semua tahu kalau pangan asal hewan itu harus aman (safe) dan layak (suitable). Aman maksudnya tidak mengandung bahaya baik secara fisik, kimiawi, dan biologis. Layak artinya memiliki mutu yang baik, tidak bertentangan dengan kaidah agama, adat, dan budaya, serta memenuhi peraturan perundangan," tuturnya.

Untuk itu Denny mengatakan bahwa tidak benar kalau telur HE berbahaya dikonsumsi oleh manusia karena lebih banyak mengandung bakteri atau lebih cepat busuk. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan biosecurity di breeding farm yang pastinya lebih ketat ketimbang peternakan komersil.

Namun begitu jika merujuk aspek kelayakan, telur HE tidak layak untuk dikonsumsi. Ia menyebutkan bahwa ada peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait telur HE. 

"Kalau tidak salah di Permentan No. 32 tahun 2017 pasal 13 ayat (4) menyebutkan bahwa telur HE GPS dan PS tidak boleh diperjualbelikan. Artinya, jika ada aktivitas jual - beli telur HE, itu adalah peraturan melanggar hukum. Bukan telurnya yang salah, tetapi si oknum penjuanya," tukas Denny.

Ia juga membandingkan telur HE dan telur ayam kampung. Dimana telur ayam kampung yang dikonsumsi oleh masyarakat kebanyakan juga merupakan telur yang fertil.

"Kan banyak masyarakat yang pelihara ayam kampung, terus ketika sudah bertelur lalu dikerami sama induk betinanya, kadang telurnya diambil terus dikonsumsi. Itu juga telur angkrem kan telur yang fertil, tidak masalah toh?," kata dia.

Terkait selebaran, infografis, atau data apapun yang dirasa berat sebelah ia menyarankan kepada pihak yang membuatnya agar melakukan klarifikasi terutama pada aspek mengandung bakteri lebih banyak, memiliki daya simpan lebih pendek, dan membahayakan konsumen.

Namun ia juga tidak mendukung agar masyarakat dibiarkan mengkonsumsi telur HE yang beredar di pasaran. Karena telur - telur tersebut sejatinya ilegal dan tidak boleh diperjualbelikan, bukan karena aspek kemanannya tetapi karena aspek kelayakannya. (CR)





PASOKAN SUMBER PROTEIN HEWANI DUKUNG WUJUDKAN INDONESIA EMAS 2045

Daging sebagai sumber protein hewani. (Foto: Istimewa)

Bonus demografi berupa angka tenaga kerja produktif di usia muda merupakan karunia tak ternilai yang harus dikelola dengan baik, terutama melalui investasi pendidikan dan pembekalan keterampilan siap kerja yang efektif. Jika hal itu bisa dilakukan, maka Indonesia bakal menuai keuntungan dari berbagai bidang, yakni ekonomi, sosial dan kualitas sumber daya manusianya.

Produktivitas negara dan pertumbuhan ekonomi pun akan meningkat dengan limpahan sumber daya manusia yang terserap di berbagai sektor, termasuk sektor peternakan. Di sisi lain, kesejahteraan masyarakat pun membaik karena melimpahnya penduduk usia kerja yang produktif.

Hal itu mengemuka dalam diskusi online dengan tema “Menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Peternakan Unggul dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045" pada Sabtu (9/5/2020). Acara diselenggarakan oleh Yayasan CBC Indonesia (YCI) dan Indonesia Livestock Alliance (ILA), berkolaborasi dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Kadin Indonesia dan Pisagro.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Umum Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Kadin Indonesia Anton J. Supit, dengan menghadirkan narasumber Kepala BPPSDMP Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr, Dekan Sekolah Vokasi IPB Dr Arif Daryanto MEc, Kepala Pusat Pendidikan Polbangtan Dr Idha Widi Arsanti SP MP, Sampoerna Entrepreneur Training Center Sri Hastuti Widowati, serta Direktur Nutricell Pacific Suaedi Sunanto. Adapun pembahas diskusi adalah Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus dan Wakil Ketua Komtap Pelatihan dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia Dasril Rangkuti.

Bonus demografi akan menjadi berkah jika semua pihak secara strategis dapat menyiapkan pembekalan pada para generasi muda milenial. Pembekalan pendidikan, ketrampilan dan tata kerama yang berkualitas baik, merata dan terjangkau oleh para generasi muda, akan menghasilkan SDM Indonesia yang terampil, kompeten, berkualitas dan mampu memanfaatkan peluang di depan mata dengan baik.

Namun sebaliknya, jika Indonesia dengan setengah hati mempersiapkannya, justru akan terjadi musibah dari bonus demografi, yakni SDM yang berlimpah dengan kompetensi rendah justru menambah angka pengangguran, sehingga menimbulkan problem sosial tersendiri.

Peningkatan kualitas SDM diyakini menjadi kunci untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dengan pertumbuhan ekonomi pada periode 2016-2045 rata-rata 5,7% per tahun, diperkirakan pada 2036, Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi. Melalui pertumbuhan ekonomi yang terjaga cukup tinggi, Indonesia dapat meningkatkan jumlah penduduk kelas menengah hingga 70% pada 2045. Pada paruh periode pencapaian itu, ada puncak bonus demografi yang diperkirakan terjadi mulai tahun ini hingga 2035.

Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan pasokan sumber protein hewani sebagai zat gizi utama pembentuk SDM mumpuni, sebagai langkah awal untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Untuk menjamin pasokan sumber protein hewani lokal tetap terjaga, SDM unggul di bidang peternakan harus dibenahi sejak dini, agar menjadi SDM unggul yang siap berkompetisi di tingkat global di era serba digital. (IN)

KEPEDULIAN GPMT TERHADAP GIZI MASYARAKAT

GPMT rutin menggelar kampanye gizi sebagai edukasi kepada masyarakat tentag pentingnya protein hewani

Disela - sela acara kongresnya yang ke - XIV, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) tetap menyempatkan diri melakukan kampanye gizi kepada masyarakat terutama anak - anak. Bertempat di The Singhasari Resort, GPMT dan MPG (Masyarakat Peduli Gizi) menyerukan tentang pentingnya konsumsi protein hewani seperti daging dan telur ayam, juga ikan.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah undangan yang hadir. Kurang lebih ratusan siswa - siswi dari SDN Beji 01,02, dan 03 Beji didampingi oleh guru dan kepala sekolah hadir dalam acara tersebut. Mereka terlihat ceria dan bersemangat menghadiri acara tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Edi Suryanto mengatakan bahwa kampanye gizi ini memang rutin digelar oleh GPMT sebagai bentuk kepedulian GPMT kepada masyarakat akan sumber nutrisi yang bergizi, utamanya protein hewani.

"Kita tahu bahwa sumber protein terbaik itu kan protein hewani, mengandung asam amino essensial yang tentunya dapat membantu mencerdaskan anak. Nah, oleh karenanya anak - anak juga harus diedukasi agar mau dan gemar mengonsumsi protein hewani baik telur dan daging unggas, serta ikan," tukas Edi.

Apresiasi juga datang dari Kepala Seksi Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Batu, Alik Suhariyani. Menurut Alik acara kampanye gizi semacam ini memang seharusnya rutin diadakan terutama untuk pelajar di usia SD.

"Acara ini sangat bagus, saya sangat senang dan berterima kasih kepada GPMT. Kami memang sedang concern menyoroti masalah gizi anak - anak, apa yang mereka makan di waktu sarapan tentunya akan mempengaruhi mereka di sekolah. Setelah acara ini saya lebih mengerti akan pentingnya protein hewani untuk perkembangan anak, apalagi sekarang sedang ramai isu corona," tutur Alik kepada Infovet.

Sebagai kepedulian terhadap protein hewani, secara simbolik panitia bersama para peserta melakukan makan telur bersama. Selain itu diberikan juga edukasi mengenai pentingnya protein hewani bagi tumbuh - kembang anak, lalu juga diadakan  games - games yang turut menyemarakkan acara. Bukan hanya itu, GPMT juga membagikan paket berupa daging dan telur ayam kepada para peserta yang hadir. (CR)


KONSUMSI TELUR PUYUH DAN KECERDASAN ANAK

Telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh. (Foto: Shutterstock)

Sore itu, Rustiani tampak gembira begitu melihat nilai ulangan harian anaknya, Rizky Ramdani, yang duduk di kelas V sekolah dasar. Nilai ulangan matematika buah hatinya hampir sempurna, yakni mendapat nilai 98. Tak hanya matematika, beberapa matapelajaran lainnya juga nilainya tak kalah bagus.

Ibu rumah tangga yang sehari-hari mengantar dan menjemput anaknya sekolah ini menuturkan, sejak kelas I anaknya yang nomor dua itu memang selalu juara di kelasnya. Nilai rapornya tak ada yang mengecewakan. “Kecuali nilai Penjaskesnya atau pelajaran olahraga, dia agak kurang suka olahraga soalnya,” tutur Rustiani yang suaminya bekerja sebagai peneliti di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Kecerdasan Rizky juga diakui oleh gurunya di SD Durenseribu 04, Bojongsari, Depok. Hampir setiap ulangan harian nilainya tak pernah di bawah angka 8. “Dia memang anak cerdas, daya tangkapnya bagus. Ayahnya kan seorang peneliti, mungkin pinternya nurun ke anaknya,” ujar Anwar Sanusi, guru kelas Rizky, sambil tersenyum kepada Infovet.

Benarkah kecerdasan Rizky itu dikarenakan faktor genetik dari sang ayah yang seorang peneliti? Mungkin saja benar, faktor keturunan bisa menjadi pendukung kecerdasan anak. Tetapi menurut penuturan sang ibu, asupan gizi juga sangat menentukan tingkat kecerdasan seorang anak.

“Anak saya dari dulu suka banget makan telur, terutama telur puyuh. Hampir seminggu tiga kali dia mintanya pasti lauk telur puyuh,” ungkap Rustiani kepada Infovet

Lantaran sang anak suka mengonsumsi telur puyuh, ibu muda ini pun rajin membaca artikel seputar gizi. Meski tak tahu persis seperti apa kandungan gizi pada telur puyuh, namun ia yakin sangat bagus untuk pertumbuhan dan kecerdasan otak bagi anak.

Ahli gizi dari Univeritas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Taufik Maryusman, SGz MGizi MPd, menyebutkan bahwa telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh. Menurutnya, telur puyuh memang tidak sepopuler telur ayam yang lebih banyak dikonsumsi rata-rata masyarakat. ”Padahal manfaatnya (telur puyuh) tidak kalah banyak dan bermanfaat bagi tubuh,” kata Taufik.

Ada beberapa kandungan nutrisi telur puyuh yang cukup baik untuk diketahui oleh orang tua agar anak-anaknya juga gemar mengonsumsi. Pertama, sama seperti telur ayam, telur puyuh tinggi protein. Satu porsi telur puyuh (setara lima butir) mengandung 6 gram protein yang ternyata sama banyak dengan satu butir telur ayam.

Protein diperlukan tubuh untuk dijadikan sumber energi, menjaga stamina, memelihara kesehatan kulit dan rambut, serta membangun dan menguatkan massa otot, baik dikonsumsi untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Kedua, telur mini yang dihasilkan burung puyuh ini juga kaya akan vitamin A dan kolin. Setiap porsi telur puyuh menawarkan 119 miligram kolin dan 244 IU vitamin A. Artinya, seporsi telur puyuh mampu menyajikan sekitar 22-28% kebutuhan kolin harian dan 8-10% asupan vitamin A dalam sehari.

Nutrisi-nutrisi tersebut bekerja sama menjaga kerja sistem imun tubuh untuk mencegah risiko penyakit dan infeksi, khususnya mencegah perkembangan penyakit jantung. Vitamin A dan kolin juga berfungsi memelihara fungsi sistem saraf dan indra penglihatan.

Ketiga, telur burung puyuh mengandung lebih banyak selenium (26%) dan zat besi (9%) daripada telur ayam. Selenium bermanfaat untuk memelihara fungsi kognitif otak, meningkatkan metabolisme hormon tiroid dan memperbaiki kerusakan DNA. Sementara, zat besi berfungsi memproduksi sel darah merah sehat untuk mencegah anemia, zat besi juga mungkin berpotensi memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung.

Kombinasi zat besi dan selenium dibutuhkan tubuh untuk memetabolisme otot serta memelihara kesehatan pembuluh darah. Jadi, mulailah konsumsi telur puyuh karena memiliki manfaat yang baik bagi tubuh dan bisa diolah menjadi lauk pauk yang lezat.

Tetap Berhati-hati
Menurut data dari American Heart Association yang dirilis pada 2002, telur puyuh terdiri atas putih telur (albumen) 47,4%, kuning telur (yolk) 31,9% dan kerabang serta membran kerabang 20,7%. Kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, sedangkan kandungan lemaknya 11,1%. Sementara, kuning telur puyuh mengandung 15,7-16,6% protein, 31,8-35,5% lemak, 0,2-1,0% karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh juga mengandung vitamin A sebesar 543 ug (per 100g).

Lalu, bagaimana perbandingan kandungan nutrisi telur puyuh dengan telur ayam? Dilansir dari Very Well Fit, setiap 50 gram atau sekitar satu butir telur ayam berukuran besar mengandung 6 gram protein dan 78 kalori. Sedangkan, satu porsi telur puyuh (setara lima butir) mengandung 6 gram protein dan 71 kalori.

Bila mengonsumsi satu porsi telur puyuh, ini artinya sudah mendapatkan asupan protein yang sama dengan ketika makan sebutir telur ayam. Kandungan kalorinya pun hanya terpaut 7 kalori saja, sehingga tak jauh berbeda. Bukan hanya itu saja yang mirip, kandungan vitamin dan mineral pada dua jenis telur ini pun cenderung sama.

Dari sisi kandungan kolesterol, mungkin selama ini banyak yang menghindari mengonsumsi telur puyuh karena katanya bisa bikin kolesterol naik. Alhasil, memilih makan telur ayam saja yang lebih aman kandungan kolesterolnya, benarkah begitu?

Faktanya, seperti yang ditulis di Very Well Fit, setiap lima butir telur puyuh mengandung 5 gram lemak total, yang terdiri dari 1,6 gram lemak jenuh. Sementara itu, sebutir telur ayam ukuran besar (50 gram) mengandung 5 gram lemak total, dengan 1,5 gram lemak jenuh.

Meskipun perbedaannya tampak sedikit, kandungan lemak jenuh dalam telur puyuh tetap saja lebih tinggi daripada telur ayam. Hati-hati, lemak jenuh ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Maka dari itu, konsumsi telur puyuh secukupnya, jangan berlebihan, agar manfaat dalam telur dapat dirasakan.

Olahan Telur puyuh
Agar tak bosan mengonsumsi telur puyuh, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat olahan yang bervariasi. Di laman seputar masak atau kuliner, cukup banyak resep yang diunggah dan dapat didapat secara cuma-cuma.

Telur puyuh bisa diolah menjadi sajian yang istimewa, seperti olahan semur, balado, sayur lodeh, tahu sarang burung telur puyuh, tauco telur puyuh, atau kreasi lainnya. Dengan kreasi masakan yang dibuat, pasti anak-anak akan lebih tertarik mengonsumsi olahan di rumah ketimbang harus jajan di luar. (A. Kholis)

HARI PANGAN SEDUNIA 2019 : MARI PERBAIKI KUALITAS MAKANAN KITA

Peringatan Hari Pangan Sedunia 2019 : Mari Perbaiki Kualitas Makanan Kita

Hari Pangan Sedunia (World Food Day) diperingati setiap tanggal 16 Oktober dengan menyoroti perlunya upaya yang lebih keras untuk mengakhiri kelaparan dan bentuk-bentuk kekurangan gizi lainnya. Peringatan ini juga diadakan untuk memastikan keamanan pangan dan pola pangan sehat tersedia untuk semua orang. Tema Global Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah “Tindakan kita adalah masa depan kita. Pola Pangan sehat, untuk  #Zerohunger ”

“Mencapai “Tanpa Kelaparan” (Zero Hunger) tidak hanya tentang mengatasi kelaparan, tetapi juga memelihara kesehatan manusia dan bumi. Tahun ini, Hari Pangan Sedunia menyerukan tindakan lintas sektor untuk membuat pola pangan yang sehat dan berkelanjutan dapat diakses dan terjangkau bagi semua orang. Kita mengajak semua orang untuk mulai berpikir tentang apa yang kita makan,” kata Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rudgard. Hari Pangan Sedunia dirayakan setiap tahun, tepat pada hari lahir FAO. Hari ini adalah salah satu hari terbesar dalam kalender PBB. Peringatan ini diadakan pada lebih dari 150 negara yang menyatukan pemerintah, sektor bisnis, LSM, media, komunitas  dan menyerukan aksi untuk mencapai SDG2 - Zero Hunger.

Dalam beberapa dekade terakhir, secara dramatis kita telah mengubah pola pangan sebagai akibat dari globalisasi, urbanisasi dan bertambahnya pendapatan. Kita telah beralih dari pangan musiman, terutama produk nabati yang kaya serat, pada makanan yang kaya akan pati, gula, lemak, garam, makanan olahan, daging dan produk hewani lainnya.  Waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan makanan di rumah semakin sempit. Konsumen, terutama di daerah perkotaan, semakin bergantung pada supermarket, gerai makanan cepat saji, makanan kaki lima dan makanan pesan antar.

Kombinasi dari pola pangan yang tidak sehat serta gaya hidup yang kurang aktif telah menjadi faktor risiko pembunuh nomor satu di dunia. Kebiasaan ini telah membuat angka obesitas melonjak, tidak hanya di negara maju, tetapi juga di Negara - negara berpendapatan rendah,  di mana kekurangan dan kelebihan gizi sering terjadi bersamaan.  Saat ini, lebih dari 670 juta orang dewasa dan 120 juta anak perempuan dan laki-laki (5–19 tahun) mengalami obesitas, dan lebih dari 40 juta anak balita kelebihan berat badan, sementara lebih dari 800 juta orang menderita kelaparan. Di Indonesia, 30,8% anak tergolong stunting (kekerdilan), 10,2% anak-anak di bawah lima tahun kurus dan 8% mengalami obesitas.

Hari Pangan Sedunia 2019 menyerukan aksi untuk membuat pola pangan sehat dan berkelanjutan dapat diakses dan terjangkau bagi semua orang. Untuk ini, kemitraan adalah hal mendasar. Petani, pemerintah, peneliti, sektor swasta dan konsumen, semua memiliki peran untuk dimainkan,”kata Rudgard.

Kementan memberikan perhatian khusus soal ini dengan sebuah program untuk mendorong pemenuhan kebutuhan pangan nasional pada skala terkecil rumah tangga dengan nama Obor Pangan Lestari (Opal)”, tegas Kuntoro Boga Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian. Hal ini sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah stunting yang terjadi di Indonesia. Opal juga dirancang untuk meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat, meningkatkan pendapatan rumah tangga, meningkatkan akses pangan keluarga, konservasi sumberdaya genetik lokal dan mengurangi jejak karbon serta emisi gas pencemar udara.

Pola Pangan Sehat Harus Bisa Diakses Semua orang

Pola Pangan sehat adalah pola pangan yang memenuhi kebutuhan gizi individu dengan menyediakan makanan yang cukup, aman, bergizi, dan beragam untuk menjalani kehidupan yang aktif dan mengurangi risiko penyakit. Ini termasuk, antara lain, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan yang rendah lemak (terutama lemak jenuh), gula dan garam. Makanan bergizi yang merupakan pola pangan sehat hampir tidak tersedia atau terjangkau bagi banyak orang.

Hampir satu dari tiga orang mengalami kekurangan atau kelebihan gizi . Berita baiknya adalah ada solusi yang terjangkau untuk mengurangi semua bentuk kekurangan dan kelebihan gizi tersebut, tetapi hal ini membutuhkan komitmen dan tindakan global yang lebih besar. Program Opal memiliki kerangka jangka panjang untuk meningkatkan penyediaan sumber pangan keluarga yang Beragam, Seimbang dan Aman (B2SA),” Boga menambahkan.

Opal dirancang sebagai salah satu langkah konkrit pemerintah dalam mengintensifkan peta ketahanan dan kerentanan pangan atau food security and vulnerability atlas (SFVA). FAO dengan badan-badan PBB lainnya dan kementerian terkait akan merayakan Hari Pangan Sedunia dalam serangkaian acara termasuk perayaan nasional di Kendari, Sulawesi Tenggara yang dipimpin oleh Kementerian Pertanian dan Pemerintah Sulawesi Tenggara pada 2-5 November dan Festival Kaki Lima Jakarta “Pangan Sehat, siap santap” pada 10 November. Tema Nasional di Indonesia sendiri mengusung, Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045. (FAO/CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer