Wednesday, October 12, 2016

SPACE 2016: KEMERIAHAN KE-30 PAMERAN KELAS DUNIA

Pameran SPACE 2016 yang setiap tahun diselenggarakan di RENNES Exhibition Centre Perancis dari 13-16 September tahun ini telah menginjak usia ke-30. Pameran kelas dunia ini terus berfokus pada kemajuan di masa depan.

Konferensi pers pembukaan pameran dilakukan oleh para petinggi SPACE.
Diresmikan oleh Menteri Sumber Daya Ternak Pantai Gading, beserta beberapa asosiasi profesional yang menemaninya, pejabat dari Togo dan Guinea dan Menteri Peternakan Kamerun, dan ditutup oleh Phil Hogan, Komisioner Eropa untuk Pertanian, SPACE ke-30 ini mencerminkan pameran peternakan dan pertanian dengan dimensi internasional yang sangat kuat.
Perwakilan pemimpin dari negara-
negara Afrika seperti Pantai Gading,
Kamerun, Guinea, Nigeria dan Togo
meninjau pameran SPACE 2016
di Rennes, Perancis.
Expo tahun ini menghadirkan 1.445 peserta pameran termasuk 484 peserta pameran internasional dari 42 negara, dan 101.963 pengunjung, termasuk 12.022 pengunjung internasional dari 120 negara. Partisipasi peserta pameran tetap pada tingkat yang sama seperti tahun lalu (1441 2015), yang merupakan tahun rekor dalam hal ini.
Partisipasi pengunjung dilaporkan sedikit menurun (2015: 106.226 pengunjung, termasuk 15.042 pengunjung internasional). Penurunan ini disebabkan situasi sulit di beberapa sektor dan fakta bahwa acara bertepatan dengan panen silase. Mengenai pengunjung internasional, pengunjung dari Afrika Utara yang datang tahun ini jauh lebih sedikit dikarenakan waktu penyelenggaraan pameran SPACE yang bertepatan dengan hari libur keagamaan penting, Idul Adha. Namun, delegasi besar dari Afrika Barat, Eropa dan Iran hadir.
Peserta pameran di SPACE 2016 secara umum memuji kualitas kontak mereka dengan pengunjung selama pameran empat hari. Rasa profesionalisme di dunia yang telah mengglobal ini jelas tercermin dengan nada konstruktif dan begitu cair dari expo tahun ini.
Sebelum mengikuti kontes,
semua ternak wajib di treatment
untuk memperbaiki penampilan fisiknya. 
SPACE 2016 mengembangkan dimensi politik dari diskusi dengan para pemangku kepentingan sektor peternakan. Menteri Pertanian Perancis, St├ęphane Le Foll, serta berbagai kandidat utama presiden, mampu berbicara dan menyampaikan pesan mereka kepada peserta pameran dan peternak selama penyelenggaraan SPACE ke-30. Kunjungan ini memperkuat SPACE sebagai platform ekspresi dan diskusi untuk memajukan isu-isu utama mengenai masa depan sektor peternakan.
Acara tahun ini lagi-lagi ditandai oleh inovasi yang bermanfaat bagi produksi ternak. Sebanyak 50 pemenang penghargaan Innov'Space disajikan di tribun, termasuk 5 penghargaan khusus yang semakin meningkatkan kualitas presentasi di SPACE.
Tema Penelitian dan Pengembangan Desa "Memproduksi untuk Masa Depan - Iklim - Energi - Penggunaan Tanah". Kami berhasil mendapatkan petani untuk merangkul isu emisi gas rumah kaca dan pasar karbon, dengan menunjukkan kepada mereka bahwa solusi sudah ada dan dapat dimanfaatkan segera. Hal ini juga menunjukkan kemampuan mereka untuk merencanakan ke depan.
SPACE adalah pameran peternakan dan pertanian berskala dunia
dengan dengan booth outdoor dan indoor yang sangat luas. 
SPACE kali ini kembali menjadi batu loncatan untuk para pencari kerja dan perdagangan internasional berkat 300 lowongan pekerjaan di acara job-date yang diselenggarakan oleh APECITA, dan lebih dari 300 pertemuan Business to Business diselenggarakan oleh Entreprise Europe Network antara peserta pameran dan investor internasional.
Kontes ternak melibatkan 550 ekor sapi dari berbagai breed.
Kontes ternak juga mendorong daya tarik dan kualitas acara kami. Sebanyak 550 ekor sapi dari berbagai breed (bangsa) yang berbeda memberikan tontonan yang terus-menerus di ring utama. Begitu juga sebanyak 150 ekor domba dan kambing dari 10 breed yang berbeda juga ditampilkan. Sapi dari breed Montbeliarde dan Rouge des Pres adalah dua jenis sapi yang menjadi sorotan tahun ini. Kehadiran mereka dan kualitas presentasi mereka sangat dipuji.
Tersedia lebih dari 11 Hall pameran yang berisi berbagai jenis ternak
mulai dari sapi, domba, kambing, babi, unggas, ternak perah, dan lain sebagainya. 
Selain itu, sebanyak 70 konferensi, debat dan seminar yang berlangsung selama empat hari memberikan acara tahun ini dimensi baru. Banyak peternak mengapresiasi sehingga mereka mendapat tempat untuk mengekspresikan kebutuhan dan harapan mereka, sejalan dengan ambisi pendiri SPACE.
SPACE ke-30 ini menyimpulkan dengan catatan yang sangat baik dalam hal diskusi dan jalinan kontak profesional, berdasarkan kepercayaan, dalam semangat membangun dan kemajuan.

International Club menjadi ajang bertemunya
para mitra bisnis dari berbagai negara
untuk memperluas jaringan 
Perjalanan 30 Tahun SPACE
Selama lebih dari 30 tahun SPACE telah menjadi pameran yang penting bagi semua pelaku industri pertanian dan peternakan. Didirikan oleh para pemimpin organisasi bidang pertanian di Perancis, SPACE didesain sebagai tempat pertemuan, diskusi dan saling tukar pikiran, untuk semua peternak dan profesional yang memiliki kaitan dengan dunia peternakan.
Sebagaimana disampaikan Direktur SPACE yang baru, Anne-Marie Quemener, “Kami telah mengambil banyak manfaat dari perayaan ini untuk kembali melihat ke belakang dan melihat perkembangan evolusi dari pameran ini. Apa yang kita rasakan pertama kali adalah visi kedepan dari para pendiri pameran. Komposisi yang tepat serta peran kami saat ini untuk melanjutkan visi tersebut selagi terus berinovasi untuk para pengunjung pameran telah menjadikan SPACE seperti yang para pengunjung rasakan kari ini.”
Stand Alltech di salah satu sudut
pameran SPACE 2016
Apapun kondisi ekonominya, peternak akan selalu menjadi pengunjung yang utama untuk mencari hal, metode, inovasi dan pemikiran baru yang berkaitan dengan masa depan bidang kerja mereka. SPACE menyediakan 15 Ha lahan pameran untuk menampilkan perkembangan alat dan peralatan terbaru dimana peternak dan pembudidaya dapat menghadapi masa depan mereka dengan lebih percaya diri.
SPACE awalnya memang dikenal sebagai pameran kelas Eropa, namun seiring dengan berjalannya waktu SPACE telah meraih reputasi internasional sebagai pameran kelas dunia. Hal ini terlihat dari terus meningkatnya jumlah eksibitor dari luar Perancis, yaitu sebanyak 484 ekshibitor dari 42 negara. Bersamaan dengan banyak pengunjung internasional, tahun ini SPACE juga menerima beberapa kunjungan pejabat kementerian negara-negara Afrika. Hal ini membuktikan seluruh investasi dan kerja keras yang selama ini dilakukan telah berhasil.

Stand Ceva berdiri megah di pameran
yang dihelat di kampung halamannya. 
Pameran yang Selalu Dinanti
Berbeda dengan banyak pameran yang dilakukan di Tanah Air, SPACE yang setiap tahun diselenggarakan di Rennes Aeroport Exhibition Center - Perancis kembali berhasil menunjukkan bagaimana sebuah expo peternakan internasional digelar. Karena tidak hanya menampilkan teknologi terkini dibidang alat dan mesin peternakan, tetapi juga mencakup seluruh aspek bidang pertanian secara holistik.
Sehingga puluhan hektar lahan yang disediakan untuk pameran indoor dan outdoor seakan masih terasa kurang mengingat banyaknya eksibitor yang berpartisipasi. Namun semua benar-benar dikemas secara profesional oleh pihak penyelenggara SPACE, sehingga jauh dari kesan ruwet dan semrawut. Semua ditata sesuai jenis ternaknya, ada hall khusus untuk ternak babi, unggas, sapi pedaging, sapi perah, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin hingga ruang bagi media bidang pertanian/peternakan. Untuk ruang outdoor dikhusukan untuk mesin-mesin pertanian mulai dari skala kecil hingga besar.
Pameran SPACE merupakan agenda tahunan
kebanggaan petani dan peternak Perancis. 
Jumlah eksibitor, pengunjung internasional, dan lahan pameran yang terus bertambah dari tahun ke tahun cukup membuktikan keberhasilan penyelenggaraan SPACE yang untuk tahun 2016 ini merupakan kali penyelenggaraan yang ke-30.
SPACE dikemas dengan profesional namun tetap nyaman dan menyenangkan, sehingga walaupun diselenggarakan di luar kota Paris dengan menempuh perjalanan kereta cepat selama 3 jam, pameran ini sama sekali tak surut pengunjung. Bahkan dari pengamatan Infovet selama kunjungan, cukup takjub dengan animo warga Perancis dan pengunjung internasional yang datang ke pameran peternakan berskala dunia ini.
Salah satu kandang pamer
domba Suffolk yang ikut diperlombakan
Tak sedikit dari kaum muda, tua, peternak, profesional bahkan masyarakat umum yang membawa serta balita mereka untuk berkunjung ke pameran ini. Sehingga selain sebagai ajang bisnis, pameran ini juga menjadi sarana edukasi dan rekreasi keluarga sekaligus. Padahal untuk masuk ke pameran ini tidak gratis, alias harus bayar per kepalanya. Hal yang patut dicontoh untuk penyelenggara pameran sejenis di Indonesia.
Keamanan memang sedikit lebih diperketat dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dengan digunakannya tenaga pengamanan swasta di setiap sudut pameran. Hal ini wajar mengingat Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya tengah didera isu.
Luasnya lahan parkir, dan kemudahan akses ke lokasi pameran tentu juga menjadi nilai plus bagi pengunjung. Oleh karenanya panitia menyediakan bus gratis untuk menuju ke tempat pameran dengan 3 rute yaitu dari bandara Rennes, Stasiun Rennes, dan St. Malo. Bus tersedia setiap 30 menit yang jadwalnya bisa kita ketahui jauh hari sebelum berangkat ke pameran dengan mengakses website www.space.fr. Lokasi pameran berjarak 10 km dari pusat kota Rennes.
Wartawan Infovet Wawan Kurniawan (paling kiri) berfoto bersama
perwakilan panitia SPACE (Ms. Cecile Berthier dan Ms. Amandine Leroux)
beserta wartawan Poultry Indonesia (Jessy) dan Trobos Livestock (Yopi)
Panitia Penyelenggara berharap dapat berjumpa dengan para pembaca dari Indonesia di SPACE 2017, yang akan digelar 12-15 September di Rennes Exhibition Centre. Jadi persiapkan paspor dan visa anda dari sekarang. Karena pameran satu ini sangat sayang untuk dilewatkan. (wan)

Drama Impor Sapi Bakalan Catur Wulan III

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, rupanya tak main-main dengan janjinya, yakni mewajibkan importir memasok 20% sapi indukan dari kuota sapi bakalan yang diterimanya.

Dengan tidak adanya kepastian Izin Impor sapi bakalan Cawu III akan berdampak terhadap penyediaan sapi potong untuk kebutuhan perayaan natal dan tahun baru serta berpotensi menguras sapi lokal untuk di potong.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Joni Liano mengungkapkan, sejumlah pengusaha sampai saat ini belum juga mendapatkan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), meski telah mendapat rekomendasi impor sapi bakalan dari Kementerian Pertanian.
Joni Liano, Direktur Eksekutif Gapuspindo
"Persoalannya itu kebijakan tersebut hanya disampaikan secara lisan, bukan tertulis. Bagi kita pengusaha harus ada landasan hukumnya. Padahal jelas kita sudah mematuhi regulasi impor sapi bakalan. Pasalnya 39 perusahaan anggota Gapuspindo sampai saat ini belum juga mendapatkan Surat Persetujuan Impor (SPI) dari Kemendag atas rekomendasi impor sebanyak 150.000, meski telah mendapat rekomendasi impor sapi bakalan dari Kementerian Pertanian," jelas Joni di kantor Gapuspindo, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu (28/9).
Menurutnya, Menteri Perdagangan memaksa pengusaha agar mau memenuhi keinginannya dengan mengimpor 20% sapi indukan. Sementara rekomendasi impor sebanyak 150.000 ekor sapi yang saat ini sudah diteken Kementan belum mengantongi SPI dari Kemendag.
"Maunya Menteri Perdagangan kebijakan lisannya diterapkan (impor indukan). Tapi kenapa izin impor sapi kita di catur wulan III ikut disandera. Kita sudah ajukan SPI sejak 24 Agustus, tapi sampai sekarang belum keluar. Sesuai aturan dua hari setelah pengajuan SPI, harus sudah ada keputusan," ucap Joni.
Regulasi yang dimaksudnya yakni Peraturan Menteri Pertanian Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pemasukan Sapi Bakalan, dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 59 Tahun 2016 tentang Ekspor Impor Produk Hewan.
"Artinya kalau mau menyandera impor sapi bakalan, harus ada aturan barunya. Jangan tiba-tiba, jadi menurut saya tidak ada alasan Menteri Perdagangan sandera izin sapi bakalan untuk catur wulan III. Karena dasar hukumnya tak ada," ujar Joni.
Kebijakan lisan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita yang memberlakukan instrumen impor sapi bakalan yang dikaitkan dengan sapi indukan dengan rasio 1:5 dimana setiap 5 ekor sapi bakalan yang di impor harus ada pengadaan 1 ekor sapi indukan lokal atau impor, sangat memberatkan para perusahaan penggemukan sapi potong.
“Terus terang kami terkendala dari segi aspek pendanaan, persiapan infrastruktur, dan lainnya, bahkan dari segi bisnis ternyata juga merugikan,” ujar Joni Liano.
Di luar itu, sambung dia, pengusaha tak masalah jika harus mengimpor sapi indukan. Namun hal tersebut perlu waktu menyiapkan infrastruktur dari kandang, sampai pengadaan sapi indukannya. Selain itu, rasio 20% sapi indukan yang diwajibkan juga dianggap terlalu tinggi dan tidak ada kajian teknis dan akademisnya.
"Jangan lisan saja, perlu waktu penyiapan, secara teknis memelihara sapi indukan dengan penggemukan bakalan berbeda. Harus ada kajian teknis dulu penetapan rasio 1:5 atau 20% itu," tandasnya.
“Idealnya untuk saat ini rasio 1:15 baru memungkinkan bagi pengusaha feedlot,” imbuh Joni seraya mempertanyakan kenapa kewajiban yang sama tidak diberlakukan bagi perusahaan pengimpor daging beku yang sama sekali tidak memberi nilai tambah bagi usaha peternakan dalam negeri.
Didik Purwanto, Wakil Ketua Gapuspindo
Sebagai Ilustrasi jika perusahaan memiliki kapasitas kandang 10.000 ekor maka impor sapi bakalan dapat dilakukan 3 kali periode per tahun sehingga total impor sapi bakalan 30.000 ekor/tahun dan harus memiliki sapi indukan 6.000 ekor (20% dari total impor sapi bakalan). Jika pola tersebut direalisasikan maka pada tahun 2018 total populasi indukan plus anak menjadi 14.880 ekor (148% dari kapasitas kandang-Road map terlampir), kandang akan dipenuhi sapi indukan artinya usaha penggemukan dipaksa untuk berubah menjadi usaha indukan yang bisnisnya jelas merugi.
Total investasi untuk 6.000 ekor sapi indukan senilai Rp. 254,7 Milyar dan selama 14 bulan kerugian sebesar Rp. 21 Milyar (struktur biaya terlampir). Apabila kebijakan lisan tersebut dipaksakan maka Industri penggemukan sapi akan mati, pada hal jumlah tenaga kerja langsung sebanyak 22.000 KK (Kepala Keluarga) dan nilai investasi Rp.15,5 Triliun ditambah 2.5 Triliun per tahun untuk pembelian bahan baku pakan ke petani di pedesaan (Monetisasi Ekonomi di Pedesaan).
Sangat mengkhawatirkan dengan tidak adanya kepastian Izin Cawu III dan tentu akan berdampak terhadap penyediaan sapi potong pada bulan Januari, Februari dan bulan seterusnya di tahun 2017. Saat ini stock sapi sebanyak 160.000 ribu ekor jumlah ini mensuplai kebutuhan akan konsumsi daging yang cenderung meningkat pada bulan November, Desember bertepatan hari Natal dan Tahun baru.
Dampak lainnya adalah akan menguras sapi lokal untuk di potong. Proyeksi kebutuhan konsumsi daging sapi tahun 2017 sebesar 685 .000 ton atau equal sapi hidup sejumlah 3,8 juta ekor sapi yang harus di potong diantaranya 700.000 ekor adalah sapi bakalan impor (kuota sudah ditetapkan Pemerintah sebanyak 700. 000 ekor tahun 2017). Apabila kontribusi sapi bakalan impor tidak dapat direalisasikan karena Industri penggemukan sapi potong tidak beroperasional atau mati akibat dari kebijakan lisan Menteri Perdagangan maka tentu sapi lokal akan terkuras sebanyak 3,8 juta ekor atau 23% dari total populasi. Angka ini menunjukkan negatif growth population (rata-rata angka kelahiran 20,8%). Kondisi tersebut sangat kontradiktif terhadap program pemerintah berswasembada pada 10 tahun kedepan.
“Berita mengejutkannya, saya menyesalkan keputusan Mendag memberikan izin impor sapi bakalan kepada tiga perusahaan penggemukan sapi potong pada 23 September lalu, yang dinilai bersifat diskriminasi, sebab anggotanya tidak dapat,” tegas Joni.
Menurutnya, kebijakan tersebut menciptakan terjadinya persaingan usaha tidak sehat dan mendorong oligopoli karena kuota impor hanya diberikan pada tiga perusahaan besar. Bahkan jika sampai akhir tahun Kemendag tetap tidak menerbitkan SPI kepada seluruh anggota Gapuspindo, maka pasokan sapi untuk awal tahun 2017 akan kosong. Tentu saja ini berpotensi menggerek harga daging sapi dan meningkatkan volume sapi lokal yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita
Kuota Impor Sapi dan Daging Beku Resmi Dihapus
Sebelumnya Pemerintah resmi menghapus sistem kuota impor sapi sebagai disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantornya, Senin, 26 September 2016. “Tak hanya berlaku untuk sapi hidup, kuota impor daging beku juga dihapus. Hilang, enggak ada kuota-kuotaan," kata Enggartiasto Lukita.
Sebagai penggantinya, pemerintah akan mengeluarkan ketentuan baru yakni importir diwajibkan mendatangkan satu ekor sapi indukan untuk setiap lima sapi bakalan yang diimpornya. Ketentuan itu akan dituangkan dalam revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke Dalam Wilayah Republik Indonesia.
Kebijakan ini sebenarnya telah berjalan. Saat ini, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan izin impor 300 ribu ekor sapi bakalan hingga 2018 dengan ketentuan tersebut. Ada tiga perusahaan importir yang telah berkomitmen menjalankannya. Dua di antaranya adalah Santori dan Great Giant Livestock (GGL). "Mereka sudah tanda tangan di atas meterai untuk impor 60 ribu sapi indukan, di luar izin impor 300 ribu sapi bakalan yang didapatnya," kata Enggar.
Kendati izin ini sampai 2018, Enggar tidak menutup kemungkinan ada tambahan impor sapi jika ada pengusaha lain yang memenuhi syarat. "Ya keluarin lagi, mengajukan berapa pun sapi indukan saya kasih," katanya.
Yang pasti, kata Enggar, pada 2018 pemerintah akan melakukan audit di tiap perusahaan penerima izin impor. Bila terbukti mereka tak memenuhi ketentuan, "Kami sita sapinya, kalau tidak ada ya asetnya, itu sesuai perjanjian," kata Enggar.
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mendukung langkah pemerintah ini. Sebab ia menilai pembatasan impor dengan kuota akan membuka peluang korupsi. "Kuota itu banyak moral hazard-nya, seperti kasus suap impor sapi dulu kan karena adanya kuota," katanya.
Ia menambahkan, kewajiban mengimpor indukan juga bisa menambah populasi sapi di dalam negeri. "Ini kami apresiasi," katanya. (wan)

Monday, October 10, 2016

Hari ini Drh. Ketut Diarmita Menjadi Dirjen PKH

Ketut dan Istri
Akhirnya terjawablah teka teki tentang siapa Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) pengganti Muladno yang diberhentikan bulan Juli lalu. Hari ini, Senin, 10 Oktober 2016, Menteri Pertanian Amran Sulaiman melantik Drh I Ketut Diarmita MP sebagai Dirjen PKH.
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template