Saturday, January 16, 2016

Kualitas dan Keamanan, Kunci Kemajuan Industri Pakan




Bisnis peternakan dari waktu ke waktu terus tumbuh seiring dengan perkembangan jaman. Beberapa pemicu perubahan bisnis peternakan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain peningkatan jumlah penduduk dunia, terjadinya perubahan iklim,  terjadinya peningkatan permintaan pangan, utamanya pangan asal hewani seperti daging, telur dan susu. Faktor pemicu lainnya yakni adanya persaingan bisnis global, persaingan sumberdaya pangan, pakan, dan energi, tuntutan adanya keamanan pangan dan industri yang ramah lingkungan, serta terbitnya berbagai aturan dan kebijakan pemerintah baik di tingkat nasional, regional maupun internasional.
Terjadinya perubahan industri peternakan tersebut menjadikan industri pakan harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada saat ini. Ahli Nutrisi dan Pakan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dewi Apri Astuti dalam sebuah pelatihan tentang kompetensi keahlian pakan di Bogor pada pertengahan Desember 2015 lalu mengatakan, beberapa tantangan industri pakan saat ini yakni peningkatan produksi pakan di bawah tekanan biaya bahan pakan yang tinggi, keamanan pakan dan pangan asal ternak, kompetisi pangan, pakan dan energi, keterbatasan sumberdaya pakan dan air, harga dan kualitas pakan yang kompetitif, dan terjadinya perubahan suhu dan kelembaban, tuntutan adanya kesejahteraan ternak (animal welfare), serta tuntutan peternakan yang ramah lingkungan, yang tidak menimbulkan banyak polusi.
Dari sisi pelaku industri, tantangan industri pakan saat ini yakni kebijakan dan program pemerintah dalam penerapan peraturan mutu pakan, penerapan cara pembuatan pakan yang baik (GMP) dan HACCP/ISO, pendaftaran dan labelisasi pakan, serta melakukan pengawasan mutu pakan (Desianto, 2015). Dalam hal ini, faktor kualitas dan keamanan pakan menjadi faktor yang sangat penting untuk membangun keunggulan daya saing dalam meningkatkan keuntungan sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan dari perusahaan yang bersangkutan. Bagi produsen pakan ternak, tantangan utamanya adalah seberapa jauh dapat menjaga kualitas dan keamanan pakan yang diproduksi, serta bagaimana aplikasi sistem kontrol kualitas yang baik.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka industri pakan harus berani melakukan langkah-langkah strategis (Anuraga, 2015) seperti re-formulasi pakan, memproduksi pakan yang aman, memproduksi pakan yang dapat menjamin kesehatan saluran pencernaan, memproduksi pakan yang ramah lingkungan, memproduksi pakan yang dapat menanggulangi stres pada ternak, memproduksi pakan yang dapat memperkaya produk ternak melalui manipulasi pakan. Beberapa langkah tersebut harus didukung oleh uji kualitas bahan pakan. Makin cepat dan akurat pengujian bahan baku pakan, makin terjaga pula kualitas pakan yang dihasilkan.



Evaluasi dan analisis bahan baku pakan
Banyak sekali bahan baku pakan yang berasal dari hasil samping suatu produk industri, seperti industri minyak sawit, industri minyak kedelai, tahu, tempe, penggilingan padi, industri roti, dan lain-lain. Padahal, seringkali kualitas bahan baku pakan tersebut berada di bawah standar kualitas yang ditentukan. Hal ini memberi dampak pada upaya pabrik pakan untuk harus terus mencari bahan baku pakan yang terbaik. Terlebih bahan baku pakan menyumbang 70-90% dari total biaya produksi pakan, bahkan sangat berpengaruh terhadap variasi nutrisi pakan yang berkisar antara 40-70%.
Untuk menghasilkan daging, susu dan telur dengan kualitas prima, maka pakan yang diberikan pun haruslah dengan kualitas prima pula. Dengan demikian, sangat diperlukan bahan baku berkualitas baik untuk menghasilkan pakan berkualitas baik. Dalam hal ini, kontrol kualitras (Quality Control/QC) mutlak diperlukan. Untuk mengetahui kualitas bahan baku pakan, maka perlu dilakukan evaluasi
dan analisis kualitas pakan.



Menurut ahli nutrisi pakan dari IPB, Dr. M Ridla, pakan yang baik mengacu pada nilai biologis pakan untuk dapat menghasilkan tingkat produktifitas ternak yang diinginkan. Evaluasi kualitas pakan yang baik meliputi karakteristik sensori dan fisik, komposisi nutrien dengan melakukan uji kimia, serta melakukan uji biologis untuk melihat manfaat pakan di dalam tubuh ternak.
Karakteristik sensori dan fisik suatu bahan baku pakan meliputi warna, aroma, tekstur, temperatur, kemurnian bahan, dan bulk density. Evaluasi ini memerlukan bahan standar sebagai pembanding, jika terjadi penyimpangan dari bahan standar yang telah ditetapkan, maka telah terjadi penurunan kualitas secara signifikan.
Adapun evaluasi mengenai komposisi nutrien bahan baku pakan, dapat dilakukan dengan metode konvensional, yakni dengan analisis proksimat, analisis serat van soest, atau dengan menggunakan metode cepat, yakni dengan metode  Near Infrared Reflectance Spectrophotometry (NIRS).
Indikator utama kualitas bahan baku pakan yakni dari kandungan protein kasar dan serat kasar. Kandungan protein dapat dideteksi dari komposisi asam aminonya, yang dapat dideteksi dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC).
Penentuan mutu suatu bahan baku pakan secara cepat dan akurat sangat diperlukan untuk menjamin kualitas bahan pakan untuk dapat diproses lebih lanjut menjadi pakan yang berkualitas baik. Uji kimia terhadap bahan baku pakan akan menghasilkan data yang akurat, namun membutuhkan waktu dan biaya lebih tinggi. Sedangkan uji fisik bersifat cepat (rapid test) serta biayanya murah, namun belum ada standar baku serta tingkat keakuratannya rendah.


Andang S Indartono | twitter: @andangindartono | email: andang@ainionline.org

Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template