Friday, May 30, 2014

CRD itu penyakit kronis

 CRD itu penyakit kronis, bukan penyakit akut yang timbul secara mendadak. Pemberian obat bukan pada CRD-nya tapi pada kuman lain yang ikut. Dan pengobatan ini sesungguhnya tindakan akhir. Tindakan awal harus ke lingkungan!.
Drh. Gede Aguscaya

 Langsung di kawasan industri Rungkut Industri Brebek Surabaya, Infovet bertemu pelaku bisnis obat hewan dari PT Kalbe Farma Divisi Animal Health. Tujuannya mencari kejelasan bagaimana peta obat CRD (Chronic Respiratory Disease). Adalah Drh Gede Aguscaya,Ketua Daerah ASOHI Jawa Timur sekaligus Special Customer Executive mengungkapkan pendapatnya tentang sifat CRD Komplex atau kronis. Karena sudah kronis maka muncul gejala penyakitnya. Itulah mengapa penyakit CRD tidak muncul pada kondisi ayam yang tidak diperparah adanya penyakit lain.

Banyak cenderung orang melihat kasus dulu. Padahal kasus CRD pada unggas adalah normal. Disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum, bila kondisi ayam stres, CRD akan timbul. “Itu yang harus kita awasi. Bukan obat dulu,” katanya. 
Dengan demikian penekanannya adalah obat alternatif terakhir dalam penanganan.Yang mesti diperhatikan pertama kali menurutnya, soal lingkungan. Perubahan kondisi alam suka kembali menyebabkan perubahan situasi Indonesia, termasuk di  Jatim. Kondisi hujan, panas, dingin, selalu berubah-ubah. Perbedaan suhu yang sangat ekstrim d alam musim pancaroba. Dalam kondisi ini perlu diperhatikan secara serius penanganan dari masa DOC, perlakuan biosecurity dan manajemen keswannak yang ketat, lakukan pengaturan kandang bersih dari kuman. Di sini berlaku pembersihan CRD dan mikroorganime lain dari peternakan.

Drh Gede pun menegaskan, “CRD merupakan penyakit yang bersifat kronis, berarti sudah ada secara lama. Tidak timbul penyakitnya karena kondisinya bagus. Contoh kondisi bagus ini adalah untuk mengatasi stres sedari bibit sampai masuk kandang peternakan diberi air gula, vitamin. Pemberian antibiotik hanyalah bertujuan supaya tidak tumbuh lagi kuman CRD-nya.”

Lain dengan CRD yang sifatnya akut, yang menyerang secara mendadak seperti serangan jantung. Sedangkan penyakit bersifat kronis, seperti flu, yang harus diawasi kondisi lingkungannya dulu. Kondisi lingkungan inilah penyebab panas, stres. Perlakuan ayam datang juga dapat menyebabkan stres. Untuk menjaga ayam sehat, diberi vitamin dulu, bukan obat dulu. Perlakuannya berbarengan dengan manajemen yang baik. Sirkulasi udara mesti diperhatikan.

Kalau ayam stres dapat muncul serangan Mycoplasma gallisepticum diikuti penyakit lainnya. Serangan yang menyebabkan penyakit lain itu menjadi satu kompleks dalam CCRD antara lain Necrotic enteritis, Salmomelosis. Bila ayam terkena NE, saluran pencernaan yang terserang susah diobati. Mengganggu feed intake, serangan Salmonella juga menyebabkan kerugian.

NE juga berjangkit didukung kondisi kelembaban yang tinggi. Pada kandang yang penuh dengan CO2, Clostridium perfringens spora menjadi vegetatif. Yang semula kondisinya normal menjadi ganas menyebabkan penyakit. Terjadilah CCRD, oleh karena kuman yang sebetulnya normal bersarang di tubuh ayam menjadi bertambah jumlahnya dan ganas. Komplikasi penyakit pun menyerang. Salmonella menyerang sebagai Salmonelosis pada ayam umur 1-3 minggu, di daerah tinggi dengan kematian tinggi.Maka perlu diperhatikan serangan-serangan penyakit oportunis non CRD yang menyebabkan CCRD tersebut. “Titik beratnya ke sana. Bukan ke CCRD-nya,” tegas Drh Gede.

Ia memberi contoh, apabila lingkungan peternakan mendukung, memicu dan dapat menyebabkan kompleksnya penyakit menjadi CCRD tersebut. Kandang-kandang ayam di Blitar misalnya. Manajemen kandang di sini terlalu padat. Upaya biosecurity menjadi begitu berlipat, orang keluar masuk kandang secara leluasa menjadi penambah faktor pemicu. Sanitasi menjadi tidak optimal dan mempengaruhi kondisi ayam.

Guna mengatasi penyakit oportunis seperti NE tadi, Drh Gede member langkah. Titik poinnya pada pakan yang diberi obat mengatasi NE. Guna mengatasi NE pada pakan dicampur dengan virginiamisin. Dia menguraikan, dosisnya 20-40 ppm (normal) 40 ppm. Karena 50 persen berat 80 gram per ton pakan, diberikan untuk 5-7 hari. Sedangkan untuk menghindari infeksi sekunder, dengan amoksisilin per oral sesuai dosis, dalam 5-7 hari akan hilang penyakit sekundernya.
Bertujuan feed intake yang bagus, untuk mengatasi Salmonella, pancaroba dan panas tinggi, ada yang memberi obat macam-macam. Ada yang memakai tetrasiklin, neomisin 300-400 ppm, 200-300 ppm, gabung jadi satu 300 ppm.

Niscaya perlakuan perlawanan terhadap NE dan Salmonelosis itu akan membantu peternak mengatasi CCRD. Prinsipnya karena dalam kondisi normal CRD tidak timbul. Munculnya karena adanya penyakit-penyakit ikutan ini. Maka penyakit inilah yang harus diatasi./yonathan.

Thursday, May 29, 2014

MENGELOLA CCRD SECARA BENAR AGAR TAK MERAJALELA

Salah satu gangguan kesehatan pada broiler maupun layer yang masih menjadi persoalan serius adalah Complex Chronic Respiratory Diseases (CCRD). Penyakit yang lebih mahfum di kalangan peternak sebagai “penyakit ngorok” itu, bukan saja derajat morbiditas dan mortalitasnya tinggi, namun karena tingkat kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Meskipun termasuk kategori penyakit konvensional dan nyaris menjadi langganan, namun toh tingkat kesulitan untuk menuntaskannya tak demikian mudah.
Menurut Drh Arief Mudjahid Dimyatie, seperti penyakit lainnya yang berkatagori strategis ekonomis, langkah dan tindakan suportif adalah solusi paling rasional dan handal. Selain bila dilihat dari aspek populasi pengelompokan ayam modern yakni mengelola gangguan kesehatan secara cermat, hati-hati agar tak membuahkan masalah baru yang semakin merajalela.
Narasumber: Sunardi AS
Hal berbeda diungkap oleh praktisi perunggasan asal Jawa Timur, Sunardi. Menurutnya, problem di lapangan selalu memberi gambaran serta informasi tentang begitu dahsyatnya akibat yang muncul.

Arief Dimyatie, Senior Health Control pada sebuah perusahaan pembibtian Infovet temui di Purwokerto pertengahan Mei 2014 lalu, menyatakan bahwa CCRD adalah penyakit strategis ekonomis yang cukup memrepotkan jika sudah menerjang dalam sebuah populasi. Di level pembibitan saja penyakit itu masih jadi persoalan serius, maka sudah pasti di level peternakan komersial, sangat-sangat strategis dan membawa persoalan pelik.

Pada broiler, umumnya terjadi pada usia muda dan menjelang usia panen, sudah pasti akan membuat tingkat kematian, mortalitas yang cukup tinggi. Serupa dengan ayam petelur apalagi jika tidak di antisipasi dan tindakan pengobatan terlambat atau kurang tepat. Sedangkan pada layer komersial, jika sudah memasuki fase produksi, maka tak hanya akan mampu merosotkan produktifitasnya, namun juga membawa potensi terjadinya afkir dini.

Oleh karena itu menurut Arief, jika suatu peternakan sudah memperlihatkan serbuan penyakit ini, meskipun dalam jumlah yang terkena masih terbatas, maka harus segera ditempuh tindakan yang bersifat menyeluruh. Dalam tataran peternakan ayam komersial, umumnya pangkal dan awalnya adalah terjadinya pada perubahan musim dengan klasifikasi ekstrim. Meski perubahan musim itu selalu berjalan rutin dan alamiah, namun untuk menentukan kapan sebaiknya langkah antisipatif dilakukan memang tak mudah.

Ditambah jika sebuah farm komersial berada di kawasan yang juga padat populasinya, maka potensi untuk terpapar dan kemudian menjadi wabah adalah sangat tinggi. Untuk itu mengelola secara benar dan disiplin sesuai prosedural merupakan sebuah tindakan yang paling tepat.

“Patuhi SOP yang ada dan selalu utamakan langkah itu bersifat antisipatif, terutama jika berkaitan dengan pergantian musim. Sebab jika salah dalam mengambil langkah, dikhawatirkan wabah penyakit ngorok itu akan merajalela,” ujar Arief.

Sedangkan Sunardi, praktisi yang banyak terjun melakukan pendampingan di peternakan ayam potong di Jawa Timur, mengungkapkan bahwa meskipun CCRD nyaris menjadi penyakit yang setiap periode selalu ia hadapi, meskipun di lokasi yang berbeda, namun hal itu telah memberikan gambaran dan informasi yang menarik.

Informasi itu berupa tipologi dan karakter peternak terkait dengan tingkat keparahan penyakit itu. Jenis peternak yang cerdas dan telaten menekuninya sebagai profesi, maka morbiditas dan mortalitasnya relatif rendah. Meskipun demikian untuk membebaskan sama sekali dari gangguan penyakit itu tidaklah mudah. Namun setidaknya, dari hasil pengamatannya tingkat kerugiannya pada peternak telaten dapat ditekan sangat kecil sekali. Sedangkan untuk tipologi dan karakter peternak yang kurang begitu menjiwai profesi sebagai peternak, umumnya nilai kerugian yang ditimbulkan nyaris diatas 50%.

Sunardi sepaham dengan yang diungkapkan Arief, bahwa jika dikelola sejak awal saat penyakit itu datang, maka potensi kerugian rendah sekali. Bahkan saat ayam usia muda, kasus gangguan lambat tumbuh setelah sembuh pulih dari CCRD, relatif dapat ditekan. Begitu juga saat mendekati usia panen, tingkat kematian dapat ditekan.

Menurut Arif  kasus penyakit ngorok itu, adalah salah satu penyakit ayam modern yang cukup meresahkan peternak di daerah tropis. Tingkat kelembaban yang tinggi dan perubahan temperatur lingkungan antara malam dan siang yang selalu ekstrim, harus dihadapi dengan suatu tindakan pemberian ventilasi yang memadai.
 
Buruknya ventilasi, menjadi pintu masuk lemahnya status kesehatan ayam.  Jika hal ini diatasi dengan pemberian multivitamin yang cukup, maka salah satu pintu masuk agen penyakit itu dapat dikurangi. Selain, penegakan standar baku sesuai SOP adalah tindakan yang selalu direkomendasikan agar mampu menutup pintu masuknya  yang lain bagi agen penyakit.
“Utamakan selalu mengelola secara benar sesuai SOP, maka potensi untuk menjadi masalah akan dapat ditekan,” ujar Arief.-/(iyo)

Faktor kompleks dilapangan seputar CRD dan CRD kompleks

Langsung dari peliputan lapangan di peternakan yang bermasalah dengan penyakit CRD dan CRD Kompleks serta faktor pendukungnya, Infovet melaporkan bahwa keberadaan penyakit ini cukup kompleks untuk mempengaruhi panen akhir peternak.
Peternakan ayam pedaging di Gresik ini dikepung tambak
Peternakan kemitraan Subur di Desa Kampung Baru Kecamatan Duduk Sampean Kabupaten Gresik Jawa Timur menjadi saksi perjalanan Infovet melacak keberadaan penyakit CRD. Adalah Wahib penanggungjawab peternakan ayam pedaging berpopulasi 16.000 ekor yang dikepung tambak ikan, yang menerima Infovet dan berbicara panjang lebar tentang penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum.

Kepada Infovet, ia menuturkan gejala penyakit ini sangat jelas, yaitu ngorok. Untuk membedakan ngorok karena CRD dengan ngorok karena Coryza, keterangan Wahib dilengkapi oleh keterangan Drh Yuan Listyo Technical Service Representative PT Caprifarmindo Laboratoris Wilayah Surabaya yang ditemui Infovet di tempat terpisah di Surabaya.

Menurut Drh Yuan, kalau positif CRD ngoroknya pada malam hari. ND ngoroknya jarang-jarang dan kecekik panjang. Kolibasilosis ada ngorok beda dengan Koriza. Ngoroknya Koriza siang lebih ramai dan lebih banyak. Jadi, “Secara patologis ngoroknya beda dengan Koriza dan seterusnya,” ungkapnya.

Wahib yang berpengalaman selama dua (2) tahun menangani peternakan-peternakan AS, Maria secara berpindah-pindah, mengaku begitu mendengar ayam bersuara “Crik Crik” (cekrek) alias ngorok, dia tahu bahwa ada serangan CRD. Selain itu ayam juga pilek. Sedangkan kalau sudah terserang Kolibasilosis kepala ayam bengkak dan tidurnya berdiri! Dan itulah penyakit yang paling banyak dijumpai di peternakan yang di dikepung tambak ini: CRD dan Koli. Berarti juga ada CRD Kompleks.

Infovet pun melihat-lihat kondisi peternakan. Apakah benar hanya karena dikepung tambak? Pengaruhnya memang karena air tambak. Sebab dalam pengakuan Wahib dengan air tambak inilah ayam diberi minum. Dan air jelas merupakan faktor penting yang berpengaruh pada sakit atau tidaknya ayam. Air yang kandungan kuman Kolinya tinggi jelas akan berdampak munculnya serangan Kolibasilosis bila kondisi ayam lemah. Tentu saja dengan berbagai faktor pendukung atau faktor pemicu.

Faktor pemicu juga terkait dengan udara dan pakan. Sangat jelas pada ingatan Infovet penekanan berulang kali oleh pakar penyakit unggas Prof Drh Charles Ranggatabbu Msc PhD, bahwa UAP (Udara, Air dan Pakan) merupakan tiga faktor utama untuk kesehatan ayam. Bagaimana dengan Udara?

Infovet pun mengamati dengan seksama kondisi kandang. Ternyata ada yang menarik perhatian, yaitu sawang atau rumah laba-laba yang bergelantungan di langit-langit kandang. Tampaknya luput dari perhatian peternak dan menjadi tempat menumpuknya debu. Dalam udara yang bersih ketika angin bertiup tampak jelas debu beterbangan. Maka jelas, itulah alasan mengapa muncul penyakit pernapasan CRD. Karena faktor udara ditambah faktor air tadi yang mengundang colibasilosis.

Bagaimana dengan pakan? Dalam kehadiran Infovet siang hari itu belum termonitor masalahnya. Tampaknya baik-baik saja. Siang itu saat Wahib ditemani istrinya Ani asal Kediri dan anak mereka menjaga kandang, kiriman pakan dari Malindo Feedmill datang. Dan pakan pun menempati gudang penyimpanan di sisi kandang, juga dekat tambak. Adakah kedekatan dengan air tambak tidak berpengaruh pada kelembaban yang dapat mengganggu kondisi pakan dengan hadirnya jamur? Mungkin saja. Perlu pengamatan intensif.

Dan tampaknya menurut pengakuan Wahib lelaki asal Desa Sepat Kecamatan Sugiyo Kabupaten Lamongan ini petugas penyuluh lapangan (PPL) dari PT Subur menjalankan tugasnya dengan ketat. Setiap seminggu sekali Drh Riko datang di peternakan ini. Kecuali pada minggu sekitar umur 15 hari saat Infovet berkunjung, Drh Riko diganti PPL lain. Dengan bimbingan PPL ini Wahib mengaku dengan mudah mengetahui bilamana ayamnya terserang CRD. Dari pilek dan suara ngorok crik-crik cekrek-cekrek itu. Tindakannya sangat praktis, tahu bahwa itu tanda awal serangan. Tanpa pilih-pilih ayam, semua ayam dalam kandang yang ber-letter L diobati dengan “Ciprofloksasin dan Sulfamono,” aku Wahib.

Mengapa tidak dipilih-pilih ayamnya, menurutnya karena memilihnya sulit sebegitu banyak ayam. Lagipula kondisi ngorok itu merupakan tanda serangan awal, sehingga menurutnya pengobatan yang diberikan masih merupakan pengobatan pencegahan. Infovet menggaris bawahi, merupakan tindakan pencegahan penyakit menjadi parah.

Inilah sebuah terminologi yang salah kaprah dan tidak sesuai kaidah akademis menurut Drh Joko Legowo MKes dari Laboratorium Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Pemberian antibiotik berarti sudah pengobatan dan tidak ada yang namanya pencegahan dengan antibiotika. Berarti ayam sudah sakit dan diobati.

Selengkapnya bisa baca di Infovet edisi JUNI 2014.

Wednesday, May 28, 2014

Obat dan Vaksin untuk Hantam CRD dan Kompleksnya.

Penanganan CRD nyaris tak bisa dilepaskan dari obat. Meski vaksin telah ada. Program menyeluruh menepis keraguan orang tentang obat dan cara pemberian serta khasiatnya. Hantaman balik terhadap CRD dan CRD Kompleks merupakan suatu keniscayaan
Gudang obat PT Romindo Primavetcom Cabang Surabaya
CRD tak bisa lepas dari obat. Itulah yang dapat Infovet simpulkan dari beberapa peliputan. Dan obat itu adalah antibiotika. Untuk itu Infovet langsung meng-cross-check- dengan pebisnis obat yang memasok obat-obat anti CRD untuk peternakan itu. Ternyata bukan hanya obat yang dibutuhkan, tapi juga vaksin.

Peternakan kemitraan Subur di Desa Kampung Baru Kecamatan Duduk Sampean Kabupaten Gresik Jawa Timur melalui penanggungjawabnya Wahib mengungkap bahwa begitu ada tanda CRD pilek dan suara ngorok “crik-crik cekrek-cekrek”, semua ayam dalam kandang langsung diobati dengan antibiotika Ciprofloksasin dan Sulfamono tanpa pilih-pilih.

Lalu simak kata-kata Hari Widodo kepada Infovet di peternakan ayam pedagingnya di Desa Wonosari Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. “Antibiotik untuk pencegahan (cleaning antibiotic) lebih ketat diberlakukan,” ujarnya setelah tahu perwujudan kehadiran CRD dengan adanya ngorok ayam disusul CRD Kompleks. Ya, dia tahu tanda gawat ini dengan bedah bangkai pada organ dalam ayam terdapat lendir selaput hati bahkan gangguan pernapasan dan usus berupa perdarahan, hidung keluar eksudat dan pembekakan sekitar mata.

Dari dua sampel peternak di wilayah Jawa Timur bagian utara dan wilayah selatan itu jelas tentang peranan antibiotika. Pihak perusahaan obat hewan pun memaparkan secara lebih gamblang tentang prinsip obat dan pengobatan CRD tersebut.

Dua Kelompok Obat
Kepada Infovet di kantor cabang Surabaya PT Romindo Primavetcom, Area Sales Manager Surabaya perusahaan ini, Drh Setya Bakti, mengatakan bahwa di pasar dikenal dua kelompok obat CRD yaitu yang khusus untuk kuman mikoplasma penyebab CRD-nya dan antibiotik spektrum luas alias broad spectrum.

Salah satu obat khusus (antibiotika) untuk mengatasi mikoplasma adalah berkandungan dpiramisin. Nama patennya Suanofil. Ini, “Spektrum khusus mikoplasma,” kata Drh Setya Bakti. Sedangkan salah satu antibiotika broad spectrum adalah berkandungan Enrofloksasin, bernama paten Enoquil.
Masing-masing ada kelebihannya. Dari segi harga, menurut alumnus FKH Unair ini obat yang khusus berharga lebih mahal. Sedangkan obat yang spektrum luas lebih murah. Dari segi penggunaan, yang spektrum luas banyak dipakai untuk flushing program rutin. Sedangkan untuk kasus yang butuh segera ditangani, obatnya harus lebih kuat. Maka dipakailah spektrum khusus.

Menurutnya, meski ada orang bilang yang dibutuhkan adalah pengobatan cepat tuntas, “Mau tidak mau harus dilakukan flushing.” Jelas, program rutin merupakan kewajiban. Tapi ya itu, pertimbangan dengan spektrum luas ini karena harganya murah.

Dua Jenis Vaksin
Soal murah, kalau mau lebih murah, “Pakai vaksin,” katanya. Dari sediaan vaksin Ms (Mycoplasma sinoviae) dan Mg (Mycoplasma gallisepticum), sesuai kondisi lapangan menurut Drh Setya Bakti cukup dibutuhkan vaksin Mg saja pada ayam petelur. Maka mengalirlah informasi tentang vaksin CRD. Drh Setya menyinggung nama Prof (Riset) Dr Drh Soeripto MVS tentang vaksin CRD ini. Maka Infovet pun mencari data tentang Prof Soeripto dan vaksin CRD.

Menurut Australian Awards Indonesia, pada tahun 2010 yang memberikan penghargaan kepada Prof Dr Soeripto lantaran jasanya menjamin ketahanan pangan melalui terobosan di bidang vaksin hewan. Terkait penghargaan itu dikatakan, salah satu buah hasil utama usaha miliknya adalah vaksin–unggas hidup pencegah CRD pada ayam yang dikembangkannya.

Secara intensif, Profesor Bakteriologi di Balai Besar Penelitian Veteriner Indonesia ini meneliti masalah penyakit pernafasan kronis CRD pada ayam yang mempengaruhi produksi ayam di Indonesia dan seluruh dunia. Masalah ini telah lama memacu penggunaan luas antibiotika pada unggas. Dia pun berhasil mengembangkan vaksin mutasi MGT–11, yang kini dikenal sebagai vaksin Vaxsafe® TS–11 dan diproduksi secara komersial oleh Bioproperties dari Australia dan berada di bawah sublisensi Merial dari Amerika Serikat. Lebih dari 100 juta dosis vaksin tersebut digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya.

Atas prestasi ini pada 2001, Prof Dr Soeripto memperoleh royalti internasional dari University of Melbourne, Australia. Dia merupakan satu dari hanya 65 profesor peneliti yang dilantik oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Pemerintah Indonesia (LIPI). Pada Desember 2009, dia dianugerahi penghargaan oleh Wakil Presiden Indonesia terkait sumbangsihnya bagi Ketahanan Pangan Nasional di Indonesia dan pada Juli 2010 dengan penghargaan IndoLivestock V oleh Menteri Pertanian Indonesia.

Program Menyeluruh
Program untuk mengatasi CRD secara menyeluruh, menurut Drh Setya Bakti mesti dilakukan flushing sebagai pengobatan rutin yang dilakukan setiap bulan. Lalu vaksinasi hanya sakali saat ayam berumur satu bulan. Otomatis kondisi harus dibersihkan dulu, “Dicegah dulu,” katanya. Jadi mau tidak mau harus secara ketat dilakukan ventilasi dan sanitasi. Yang lain-lain efek sekunder dari berbagai macam gangguan. Gangguan itu berupa penyakit, musim, jamur, amoniak, pakan yang mungkin komposisinya kurang baik. Kadang formulasi baik, jagung proteinnya tidak 8 persen tapi 6 persen sehingga hitungan salah.
Apabila sudah ke CRD Kompleks pengobatan harus plus Kolibasilosis. Menurut Drh Setya Bakti pengobatan CRD Kompleks dengan Flumequin paling bagus. “Paling jos,” katanya. Nama dagangnya adalah Imequil. Menurutnya perusahaan lain juga punya. Apapun perbedaannya, guna ketepatan pengobatan semua secara praktis dibantu dengan cara mendiagnosa dan lain-lain./yonathan

Selengkapnya baca di Infovet edisi JUNI 2014.
#artikel terkait 

Tuesday, May 27, 2014

Penelusuran Lanjutan Pengobatan CRD

Penelusuran lanjutan tentang obat CRD menghasilkan kenyataan, ada obat baru untuk mengurangi resistensi, prakteknya untuk rolling antibiotik. Telusuri terus kompleksitasnya, ternyata umumnya peternak tidak melakukan pembersihan instalasi air dan pencatatan.  

Narasumber: Drh.Primaditya
Dalam artikel  “Obat dan Vaksin untuk Hantam CRD dan Kompleksnya” Area Sales Manager Surabaya PT Romindo Primavetcom Cabang Surabaya, Drh Setya Bakti, memaparkan tentang dua jenis obat CRD (khusus Mikoplasma dan spektrum luas), dua jenis vaksin (Mycoplasma gallisepticum dan M sinoviae) serta progarm menyeluruh untuk hadapi penyakit pintu segala penyakit ini.

Lebih lanjut, Infovet menelusuri obat-obatan CRD ke perusahaan obat hewan yang lain, PT Medion Cabang Surabaya. Bertemu langsung dengan Drh Primaditya, District Assistant Manager Medion Surabaya. Menurutnya, obat CRD yang paling sering digunakan adalah golongan Enrofloksasin. Nama patennya Neonedine. Kecuali, ada komplikasi. Maka digunakanlah Trimesin.

Selain itu, “Ada produk baru,” katanya, “Yaitu Eritromisin Doksisiklin. Ini gencar dipromosikan karena punya keunggulan untuk mengurangi resistensi.” Prakteknya dengan rolling antibiotik juga menggunakan obat ini, antibiotik ini merupakan obat berspektrum luas untuk mengatasi bakteri gtram negatif dan Mycoplasma biang CRD. Nama paten obat ini adalah Erydoxy.

Narasumber: Drh. Setya Bakti
Nyatanya bila sudah sampai tahap CRD Kompleks dimana ada kolibasilosis dalam penyakit itu, menurutnya dapat digunakan kombinasi Amoksisilin trihidrate dan Colistin sulfat. Nama dagangnya Amoxitin. Satu kemasan obat kombinasi ini mempunyai spektrum luas dan efektif membunuh kuman Escherecia coli dan Haemophillus paragalinarum penyebab Koriza yang sering muncul bersamaan pada CRD.

Koli yang numpang CRD sendiri ini tidak pernah berdiri tunggal. Selain itu juga ada Korisa. Obat kombinasi untuk melawannya sangat dianjurkan. Dengan adanya obat baru untuk rolling yang bertujuan mengurangi resistensi, menurutnya kelebihan dan kekurangan masing-masing pengobatan beda-beda tipis.

Pemikiran obat baru untuk rolling ini berawal dari kenyataan, “Sayangnya peternak biasanya itu-itu saja obatnya,” ujar Drh Primaditya, padahal penggunaan obat yang sama terus-menerus membuat khasiat obat dapat berkurang karena kumannya menjadi tahan alias resisten. Kebiasaan peternak itu tidak jauh-jauh disebabkan faktor harga tinggi. Dengan biaya mahal namun performa jelek karena obatnya sama terus- maka harus ada tindakan pilihan obat dengan rolling antibiotik, yang lebih masuk akal.

Terus Telusuri Kompleksitasnya
Begitulah, Drh Primaditya mengungkap; CRD Kompleks merupakan keniscayaan. Mengapa? Karena jarang CRD merupakan penyakit murni. Bila ditemukan CRD biasanya sudah bercampur dengan Kolibasilosis dan juga Koriza.

Selain menggunakan obat, menghadapi problematika di lapangan, Ia menyarankan awalnya peternak sendiri harus memperhatikan manajemen. “Masa suhu panas atau dingin harus diperhatikan, manajemen litter, bau amoniak, pemanasan pengindukan buatan (brroder), semua harus diperhatikan,” paparnya.

Yang terjadi di lapangan umumnya sampai ayam umur 16-17 hari, kuning telur masih ada dalam tubuh ayam karena tidak terserap sempurna. Daya tahan ayam menjadi jelek. Kuman-kuman CRD muncul bersamaan kuman lain lantaran stres dan lingkungan alami yang tidak mendukung. Penyakitnya pun menjadi parah.

“Secara teori CRD dapat diturunkan induk ayam ke anak ayam secara trans ovarial, katanya seraya menambahkan apa di sini kuman CRD ada atau tidak pada bibit, padanya belum ada data. Stres yang memicu CRD menjadi tanggungjawab semua yang terkait. Hendaknya penyakit yang ada secara ringan tidak menjadi ganas. Kasus ringan maksudnya tidak sampai timbul gejala klinis. Kalau ayam sudah ngorok sudah pasti kasusnya lebih berat. Apalagi bila sudah komplikasi./ yonathan

Selanjutnya simak Infovet edisi Juni 2014

Monday, May 26, 2014

Menilik Sebab dan Mengurai Cara Atasi Syndroma Kerdil

Populasi padat menjadi trigger syndrome kekerdilan
Kasus lambat tumbuh alias kerdil alias”ngunyil” di Indonesia, sejatinya sudah terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Namun memang dalam 5 tahun terakhir ini prevalensi semakin meningkat dan membuat persoalan yang semakin pelik. Bukan saja hingga saat ini belum juga ditemukan apakah sebenarnya yang menjadi “agen penyakit” dalang penyebab utamanya. Namun juga oleh karena vaksin untuk level peternakan komersial, dinilai belum ada yang “fixed”.

Infovet sangat ingat benar akan masalah sindrom kekerdilan pada ayam itu, sebab kala itu, yaitu 15 tahun yang lalu, Infovet Yogyakarta menggali dari pakar penyakit dan kesehatan unggass Prof Dr Charles Rangga Tabbu MSc ketika itu Guru Besar ini ditemui masih di kampus lama FKH UGM Yogyakarta.

Prof Charles memprediksi bahwa sindrom ini akan menjadi persoalan serius pada industri peternakan ayam Indonesia di masa depan. Jika saat itu masih terbatas hanya menyergap farm pembibitan, maka diperkirakan akan segera merecoki juga farm ayam komersial. Dan ternyata tidak lebih dari 10 tahun, ramalan itu kini menjadi sebuah kenyataan yang sungguh memprihatinkan.

Menurut Ir Wahyu Pratomo, seorang peternak closed house di Magelang menuturkan bahwa kasus ayam lambat tumbuh adalah salah satu gangguan kesehatan pada ayamnya yang benar-benar merugikan. Nilai kerugian itu menjadi sangat besar oleh karena bisa terjadi secara merata menyerang ayam muda dalam sebuah populasi. Jika peristiwa itu terjadi pada kisaran umur 5-15 hari, maka tentu saja peternak dalam mengambil keputusan bentuk apapun yang akan ditempuh menjadi sangat membingungkan.

Mengapa demikian…?
Menurut Wahyu hal itu erat terkait dengan kepastian diagnosa tentang apakah penyebab utama sebenarnya. Sehingga muaranya adalah jenis dan bentuk terapi yang akan diambil. Selain itu juga ada pertimbangan ekonomis, tentang masih adakah peluang untuk bisa mengejar dan sekaligus menutup kompensasi dari jangka waktu umur 5-15 hari saat ayam mengalami lambat pertumbuhan itu.

Sebab dari pengalamannya, lanjut Wahyu, jika kejadian pertumbuhan yang lambat oleh karena agen penyakit sejenis ND, CRD ataupun Kolibasilosis, rentang waktu saat pertumbuhan yang lambat itu dapat dikompensasi dan dikejar berat badan ayam di hari kemudian sampai saat ayam dipanen. Meskipun memang pada kenyataannya nilai kompensasi atas hilangnya bobot ayam itu tidak juga mampu mencapai tingkat optimal. Namun toh nilai kerugiannya masih dapat ditekan.

Sangat berbeda jika peristiwa lambat tumbuh oleh karena “agen penyakit” yang belum diketahui secara pasti itu, ternyata nilai kompensasinya sangat kecil bahkan nyaris tak ada pertumbuhan yang signifikan meskipun sudah ditempuh berbagai terapi antibiotika maupun gelontoran multivitamin.

Kembali ke kisah di 15 tahun yang lalu, maka bisa dibayangkan jika kala itu, saat kasus lambat tumbuh pertama merebak, langkah terapi apapun tak memberikan hasil yang memuaskan. Namun kini setidaknya peternak sudah mampu mengambil keputusan dan sikap yang lebih jelas jika menghadapi kasus ayam lambat tumbuh.

Para peternak kini jika menemui kasus gangguan kesehatan yang sangat akrab disebut “ngunyil” itu, dengan sigap akan segera mengambil tindakan pengafkiran atas ayam-ayam yang lambat tumbuh. Sedangkan ayam-ayam yang pertumbuhannya masih normal akan terus dipelihara sampai memasuki umur panen.

Artinya dengan berbekal gejala klinis dan juga tanda-tanda yang muncul, para peternak ayam komersial akan secara tegas segera mengafkir. Namun jika gejala klinis tak mengarah ke jenis gangguan kesehatan seperti itu, maka pilihannya akan meneruskan dan melakukan tindakan perbaikan kualitas asupan nutrisi serta vitamin maupun langkah pemberian terapi antibiotika.

Saat itu Prof Charles menyebut bahwa gangguan pertumbuhan pada ayam muda pada level pembibitan ayam itu sering dinamai sesuai gejala klinis yang muncul. Seperti sebagai “Malabsorption Syndrome” oleh karena adanya gangguan penyerapan nutrisi di dalam sistem pencernaan. Sedangkan sebutan “Runting and Stunting Syndrome” oleh karena ayam lambat sekali pertumbuhannya meskipun jumlah pakan yang tersedia sudah relatif mencukupi. Kedua penamaan itu jelas merujuk terhadap performa dan progres pertumbuhan ayam muda.

Semestinya menurut Prof Charles secara ideal performa ayam muda akan mengalami pertumbuhan yang relatif cepat, dan kemudian akan melambat menjelang usia panen. Nah, pada kasus gangguan performa pertumbuhan yang belum diketahui secara pasti “agen utama penyebabnya” itu, laju pertumbuhan sudah terseok-seok sejak awal. Makanya kemudian penamaan gangguan kesehatan itu lebih pas disebut sebagai sindrom.

“Penyebutan kata ‘sindrom’ itu sendiri, oleh karena agen penyakitnya belum diketahui secara pasti. Dan jenis agen penyakit yang menjadi penyebabnya ternyata tidak hanya 1 (satu) atau 2 (dua) buah saja. Namun ada banyak sekali dan juga banyak faktor yang berperanan menjadi penyebabnyam,” ujar Prof Charles.

Oleh karena itu, Prof Charles, menyebutnya sebagai gangguan kondisi kesehatan pada ayam muda yang disebabkan oleh “aspek yang multifaktorial”. Penyebutan kata “aspek multifaktorial” akhirnya menjadi sangat tenar dan dikenal kala itu hingga saat ini, dimana yang pertama kali mengucapkan dan mempopulerkan adalah Prof Charles kepada Infovet.

Sedangkan menurut pengalaman lapangan Wahyu Pratomo, jika ayam sudah mengalami sindrom lambat tumbuh, maka langkah utama dan secara simultan adalah dengan memberikan asupan multivitamin secara lebih dari cukup dan melakukan terapi antibiotika serta mengafkir ayam yang sudah jelas lambat tumbuh./ Iyo. 

Selengkapnya baca di edisi MEI 2014

Pengalaman Praktis Peternak dan Konsep Akademis Ayam Kerdil

Ketiga kelompok ayam milik peternak Asan dan Ny Mujianto ini berumur sama tapi beda besarnya. Kelompok kanan adalah ayam kerdil
Tak cukup meliput pengalaman praktis lapangan peternak, Infovet juga berburu justifikasi akademis ke perguruan tinggi. Yang terakhir ini aku menemui akademisi yaitu Drh Djoko Legowo MKes dosen dan peneliti Laboratorium Patologi FKH Unair.

Manifestasi ayam kerdil secara infeksius memang disebabkan oleh virus Reo. Drh Joko menjelaskan adanya manifestasi yang tidak patognomonis alias tidak khas dari sekian penyakit. Ada pula infeksi sekunder penyakit bakteri/ virus mengikuti infeksi primer. Muncullah berbagai macam penyakit baik yang imunosupresif, baik yang patognomonis maupun non patognomonis. Meskipun tidak patognomonis, kita bisa mengarahkan kajian patologis berdasar manifestasi klinis.

Menurut Drh Joko umumnya suatu penyakit baru menjadi perhatian banyak orang ketika strain baru merebak, atau terjadi wabah penyakit tertentu. Baru saat itu kita berpikir, seluruh stake holder menghitung ulang. Pada saat itu perhatian baru kembali diarahkan ke biosecurity yang sesungguhnya cakupannya luas dengan industri perunggasan Indonesia.

Drh Joko mengingatkan perlunya teman-teman industri persoalan berhadapan dengan penyakit macam ini. Penyakit-penyakit baru, apalagi. Kalau bisa menangani penyakit klasik dengan baik bisa mengelimir secara relatif. Kenyataan ayam kerdil timbul sebagai manifestasi juga karena faktor-faktor lain seperti genetik, nutrisi dan pengelolaan pemanasan dan peternakan secara umum.

Yang terakhir ini juga terkait dengan cekaman lingkungan. “Industri perunggasan sangat sadar betul adanya faktor pemicu penyakit dari cekaman lingkungan, environmental stressor, suhu dan kelembaban, global warning atau tataran iklim lebih modern,” ujar Drh Joko.

Secara kausatif, pada predileksi penyakit non infeksius ada stressor muncul dari kelembaban. Suhu berubah mendadak, heat stress, penurunan stres imun, menyebabkan penyakit, kelembaban dan suhu. “Berdasar kajian cukup lama, pikiran teman-teman selalu infeksius. Padahal penyebab penyakit yang non infeksius sangat besar pengaruhnya,” katanya.

Aflatoksin, metabolisme sekunder aspergilus muncul karena lingkungan yang buruk, mencemari pakan, stres oksidatif, imunosupresan. Salah satu dampaknya muncul penyakit ayam kerdil, yang penyebabnya saling berkelindan. Di sini pun berperan faktor maternal antibody, DOC rentan kena.

Sudah menjadi rahasia umum, dibutuhkan solusi sejak di pembibitan yang berpengaruh pada status imun bibit. Selanjutnya tetap dikelola secara maksimal dan optimal pada sektor produksi. Dengan catatan memperhatikan, kelola, atasi, semua faktor non infeksius tadi.

Praktis dan Akademis
Untuk pembanding konsep akademis, Infovet juga menemui Drh Berny Julianto MVet dari Laboratorium Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Untuk S2, Drh Berny sendiri mendalami vaksinologi dan imunoterapeutik. Menurutnya penyakit oportunistik karena virus dapat mengikuti keberadaan suatu penyakit.

Menurutnya kejadian suatu penyakit pada ayam dicegah. Mencegah masuknya penyakit pada ayam ini utamanya dengan memperhatikan masuknya bibit penyakit ke kandang dari sumber yang aman. Kalau terpaksa memasukkan air dari sungai di luar, misalnya, harus dengan treatment air memakai Klorin.

Berdasar pengalamannya dulu di peternakan besar di Pasuruan Jawa Timur, pernah dalam perlakuan air kandang, air diberi tablet besar kaporit yang dialiri air dengan pipa. Harus dicek sejauh mana air bisa mencapai seluruh kandang. Bukan dengan permukaan saluran air yang tinggi sebelah, atur pipa air jangan dari ujung ke ujung tapi gunakan sarang laba-laba. Kaporit tablet dilerakkan di tengah sarang laba-laba. Dengan model sarang laba-laba ini maka air dari pinggir-pinggir akan mengalir secara merata ke tengah. Air yangsudah di-treatment kaporit tabley dengan sendirinya akan jatuh dan merata perlakuannya. Kadar kaporit akan merata dan efisien dari penggunaan kaporit untuk air yang sehat./ Yonathan.

Simak selengkapnya di edisi MEI 2014.

Kasus Penyakit Surra Terkini.

Peta kejadian Surra di Banten
Sekitar Maret 2014, di Provinsi Banten ditemukan kasus penyakit Surra yang mengakibatkan kematian puluhan kerbau lokal maupun kerbau bantuan pemerintah. Hasil analisis PCR terhadap vektor lalat penghisap darah (haematophagous flies), menunjukkan hasil positif yang mengindikasikan ancaman penyebaran wabah Surra. 

Menteri Pertanian kembali menetapkan Surra sebagai salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts./OT.140/04/2013.  

Kejadian Surra di wilayah Banten terdeteksi pertama kali pada bulan Mei 2013, yakni di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang. Surra juga merebak di Desa Calung Bungur, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Pada September 2013, terjadi di Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.

November 2013, kasus Surra di Kabupaten Pandeglang menyebar semakin merambah ke beberapa desa diantaranya Jiput, Pagelaran, Menes, dan Cimanuk. Di Kota Serang, Surra menuju Desa Curug Manis, Kecamatan Curug, kemudian Desa Terondol, Kecamatan Serang, dan Desa Pageragung, Kecamatan Walantaka. Sementara pada Maret-April 2014, kasus Surra terjadi di Desa Pagelaran, Desa Abuan, Mones, Kabupaten Pandeglang.

Drh Putut Eko Wibowo selaku Kepala Seksi Informasi Veteriner, Balai Veteriner Subang mengemukakan Provinsi Banten sebagai salah satu lumbung ternak kerbau nasional  masih memiliki masalah dengan kasus penyebaran  Trypanosoma sp. Putut yang dijumpai  keberadaan Taman Nasional Ujung Kulon di Propinsi Banten harus terus dilindungi dari bahaya infestasi penyakit Trypanosoma pada badak bercula satu yang ada didalamnya.

Keberadaan obat-obatan seperti Tryponil dan Trypamedium untuk penanggulangan Surra harus terus diamati efikasinya terhadap penanggulangan Trypanosoma. Insektisida yang aman dan ramah lingkungan sangat diperlukan dalam menanggulangi vektor yang ada. Pengaturan lalu lintas ternak antar kabupaten harus terus terpantau melalui peningkatan peran dokter hewan, terutama dalam merekomendasikan SKKH untuk ternak yang akan ditransportasikan.

Penyakit Surra terkait erat dengan lalu-lintas ternak, baik nasional maupun internasional. Kejadian Surra di Pulau Sumba pada tahun 2010 disebabkan masuknya ternak yang terinfeksi T.Evansi ke wilayah tersebut. Dalam waktu relatif cepat, ribuan ternak mati sampai diumumkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Pulau Sumba memiliki sumber daya genetik asli (plasma nutfah) yaitu Sapi Sumba Ongola (SO) dan Kuda Sandel Wood. Oleh karena itu, diperlukan keseriusan semua pihak  untuk menyelamatkan dan melestarikan ternak tersebut.

Drh Manuel Agustinus Kitu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur mengatakan mahalnya obat Surra dan patogenitas yang tinggi, serta banyak hewan menjadi reservoir, ditambah sulitnya pembentasan vektor menjadi  hal utama yang dikeluhan peternak. Secara nilai ekonomi, kerugian yang diakibatkan Surra pun mencapai ratusan miliar rupiah.

“Stok obat harus selalu ada, jangan sampai tersendat. Kalau kita kekurangan obat, Surra bisa semakin merajalela,” tanda Manuel kepada Infovet, Kamis (17/4) di Jakarta. Manuel menambahkan setiap tahunnya Direktorat Kesehatan Hewan memasok 6000 bungkus/dosis obat Surra baik itu Tryponil maupun Trypamedium.

Mengingat penyakit Surra bersifat immunosupresif, maka dlakukan pola pengobatan massal. “Pemberian Trypamedium setiap tiga atau empat sekali setahun, agar dapat menstimulasi munculnya respon antibody terhadap vaksinasi penyakit lainnya. Kami lanjutkan dengan pengobatan Tryponil pada ternak yang menunjukkan gejala klinis dan hasil diagnosa laboratorium, positif Surra,” jelas Manuel.

Pengendalian penyakit Surra, tidak semata-mata hanya untuk mencegah kerugian ekonomi, dampak negatif pada aspek sosial ekonomi rakyat, tetapi juga untuk mencegah kepunahan sumberd aya genetik ternak unggul nasional, termasuk satwa liar yang dilindungi.

Surra mungkin belum mampu diberantas seluruhnya. Operasionalisasi dalam pengendalian penyakit Surra di lapangan masih terhambat oleh beberapa hal seperti koordinasi, pengawasan lalulintas ternak, keterbatasan anggaran, kapasitas laboratorium veteriner, partisipasi masyarakat. Pengendalian Surra yang efektif, disamping dukungan hasil-hasil penelitian juga perlu dilakukan koordinasi dan sinergi lintas sektoral. (nunung)

Serangkaian Hasil Penelitian Penyakit Surra

Produk nano partikel zero valen dalam ethanol
Surra atau trypanosomiasis disebabkan oleh parasit darah Trypanasoma evansi yang patogen, seringnya menyerang ternak domestik seperti kuda, kerbau, dan sapi. Parasit ini hdup darah induk semang dan memperoleh asupan glukosa sehingga menurunkan kadar glukosa darah induk semangnya. Menurunnya kondisi tubuh akibat cekaman misalnya stres, kurang pakan, kelelahan, kedinginan dapat menjadi faktor pemicu kejadian penyakit ini.

Penularan terjadi secara mekanis dengan perantaraan lalat penghisap darah, seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Chrysops, dan Hematobia maupun jenis arthropoda lain seperti kutu dan pinjal. Gejala klinis akibat infeksi T. evansi yang dapat diamati antara lain demam, lesu, anemia, kurus, bulu rontok, keluar getah radang dari hidung dan mata, selaput lendir tampak menguning, jalan sempoyongan, kejang dan berputar-putar (mubeng) dikarenakan parasit berada dalam cairan Serebrospinal sehingga terjadi ganggaun syaraf. 

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No.34/Permentan/OT.140/3/2013 merupakan laboratorium rujukan nasional di bidang veteriner dan kesehatan masyarakat veteriner. Demikian halnya dengan yang disampaikan oleh Dr drh Hardiman MM, selaku Kepala BB Livet pada acara Diskusi Panel Penyakit Surra, Kamis (17/4) di Auditorium Balitbangtan.

Dalam acara diskusi tersebut, Balitbangtan menyatakan komitmennya untuk terus melakukan serangkaian kegiatan penelitian Surra. Menurut April Hari Wardhana SKH MSi PhD, salah satu peneliti Balitbangtan mengatakan saat ini institusinya memiliki isolat lokal T. evansi  sebanyak 381 isolat  yang dikoleksi dari kepulauan Indonesia dan disimpan di dalam nitrogen cair (cryopreservation).

Balitbangtan merupakan salah satu “bank T. evansi” di dunia, selain dimiliki negara Kenya dan Inggris. Koleksi isolat lokal tersebut diperkirakan bertambah dengan semakin merebaknya kasus Surra di lapangan. Laporan terkini hingga 16 April 2014 diperoleh 4 isolat  T. evansi baru di  Kalang Kampeng Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang (12 ekor sampel yang dikoleksi, 4 diantaranya positif) sehingga menjadi 385 isolat.

Tahun 2010, Balitbangtan mampu mengidentifikasi perbedaan derajat patogenitas pada beberapa isolat yang dimiliki, sehingga dikelompokkan menjadi 3 galur antara lain galur patogenitas tinggi, rendah, dan moderat (campuran antara patogenitas tinggi dan rendah). Karakterisasi galur patogenitas tersebut tidak hanya sebatas secara parasitologi, namun dikembangkan dengan melihat profil protein, profil sitokin, gambaran hispatologis hingga pencarian marka molekuler untuk mendeteksi tingkat patogenitas suatu isolate T. evansi.

Uji Obat Surra
Beberapa metode sederhana juga dikembangkan untuk membantu petugas lapangan dalam penegakan diagnosa Surra, termasuk melakukan uji coba obat Surra sebelum obat diperdagangkan. Hasil-hasil penelitian ini sangat membantu dalam strategi pengendalian surra di lapangan. “Hasil uji coba nano teknologi dengan menggunakan logam yang terserap tubuh dengan melibatkan pihak perguruan tinggi (IPB) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Saat ini masih berlangsung kegiatan penelitian secara in vivo sebagai tindak lanjut dari hasil uji in vitro,” ungkap April.

Selain melakukan uji coba berbasis bahan kimia, Balitbangtan juga melakukan uji-uji obat berbasis herbal Hasil uji obat herbal untuk atasi Surra. April menerangkan hasil uji obat herbal untuk Surra secara in vitro dengan memanfaatkan ekstrak metanol daun kipahit dan teh hijau yang mampu membunuh T. evansi  dalam waktu kurang dari 1 jam. “Pengobatan dengan ekstrak metanol daun kipahit dan teh hijau terhadap mencit yang diinfeksi T. evansi  (isolat patogen tinggi) menunjukkan hasil yang hanya mampu menghambat pembelahan parasit tersebut di dalam darah, tetapi tidak dapat membersihkannya,” terang April. Lanjut dia, penujian menggunakan ekstrak metanol daun kipahit dan teh hijau terhadap mencit yang diinfeksi T. evansi  (isolat patogen tinggi) mampu memperpanjang daya tahan hidup, 2 hari lebih lama dibandingkan dengan mencit kontrol yang diinfeksi T. evansi tanpa pengobatan.

Surra Apakah Zoonosis?
Kendati Surra tidak dikategorikan sebagai penyakit zoonosis, kasus Surra pada manusia dilaporkan terjadi di Sri Lanka pada tahun 1999 dan India tahun 2004. Laporan terbaru Surra menyerang peternak unta di Mesir tahun 2011.Mengapa Surra juga berpotensi sebagai penyakit zoonosis? Pertama, karena parasit telah mengalami mutasi, sehingga resisten terhadap faktor trypanolictic yang terdapat di dalam darah manusia. Kedua, penderita Surra memiliki kelainan faktor trypanolictic di dalam darahnya.

Terkait dengan potensi timbulnya Surra sebagai zoonosis, Balitbangtan melakukan uji coba serologis terhadap beberapa peternak di beberapa kawasan yang terinfeksi wabah Surra. Dari 24 sampel yang diuji, diperoleh 4 sampel positif terhadap antigen Surra. Hasil tersebut setidaknya mengindikasikan adanya kontak vektor Surra kepada peternak, yang kemungkinan dapat menjadi pintu awal adanya evolusi parasit terhadap manusia/ Nung

Selanjutnya simak di Majalah Infovet edisi cetak Mei 2014.

Musim pancaroba dan Potensi Munculnya Birahi Tenang

pakan sbgai antisipasi berahi tenang
Birahi tenang adalah suatu kondisi dimana seekor sapi betina meski sudah memasuki masa birahi, namun sama sekali tidak memperlihatkan gejala dan tanda tanda khusus bahwa sapi itu birahi sebagaimana seharusnya. Faktor penyebab gangguan fisiologis reproduksi itu memanglah multifaktorial.

Namun demikian, pada umumnya mendekati angka 85%, sapi betina umumnya akan selalu memperlihatkan tanda-tanda birahi. Sebagaimana dari berbagai hasil penelitian telah diperoleh data dan informasi bahwa potensi untuk terjadinya birahi tenang, umumnya akan sangat relatif merugikan terhadap sebuah usaha budidaya ternak sapi. Khususnya pada sapi perah. Mengapa begitu merugikan sekali, hal itu terkait erat dengan membengkaknya ongkos produksi dan juga produksi susu dan reprodukstifitas yang rendah.

Salah satu faktor yang begitu mempunyai pengaruh kuat terjadinya gangguan fisiologis reproduksi itu adalah kondisi musim. Terutama sekali sapi perah yang berada di daerah tropis seperti di Indonesia. Adapun kondisi musim yang dimaksud adalah pada musim peralihan atau pancaroba. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Drh Yusuf Arrofik, seorang praktisi sapi perah berpengalaman yang hampir lebih dari 15 tahun. Bergelut dengan usaha peternakan sapi perah. Kini, ayah 2 orang anak itu mengabdikan diri sebagai abdi negara pada Dinas Peternakan Klaten Jawa Tengah.

Seperti diketahui, bahwa fungsi reproduksi pada sapi betina dipengaruhi dan dikontrol  oleh sebuah mekanisme hormonal. Dan mekanisme hormonal itu erat terkait dengan fungsi organ tubuh secara integratif. Artinya, status kesehatan ternak sapi inheren dengan status fisiologis reproduksinya. Jika kondisinya sedang dalam pengaruh situasi pergantian musim, sudah pasti akan menyebabkan fungsi reproduksinya terganggu. Meski sebenarnya, jelas Yusuf, bahwa keseimbangan fungsi itu akan berjalan secara otomatis dan penyesuaian itu berlangsung sesuai dengan “tantangan” lingkungan. Namun untuk Negara beriklim panas, seperti di Indonesia, oleh karena gradasi peralihan musim relatif kurang smooth, akhirnya selalu menyebabkan adanya gangguan fisiologis reproduksi.

Yusuf menjelaskan, bahwa neraca keseimbangan fisiologis tubuh sapi perah di Indonesia sangat berbeda sekali dengan sapi perah di negara-negara sub tropis. Meskipun sudah ada proses adaptasi dan aklimatisasi sapi perah di Indoensia, namun tetap saja potensi terganggunya fungsi reproduksi itu masih besar.

Birahi tenang (silent heat) atau birahi yang tak termanifestasi secara visual yang ditemukan pada sapi perah sebenarnya merupakan persoalan yang cukup serius. Bukan saja menyebabkan produktifitas susu dan reproduktifitasnya rendah, namun juga membawa dampak lain berupa semakin cepatnya untuk terjadi proses pengafkiran atas ternak itu. Padahal antisipasi dan terapi untuk mengatasi hal itu masih sangat terbuka untuk ditempuh/ iyo

Artikel lebih lengkap bisa baca di edisi MEI 2014.

Bimtek Penanggulangan Gangguan Reproduksi Tingkat Nasional

Berfoto usai praktek gangguan reproduksi.
Salah satu tugas dokter hewan yang bekerja di Pusat Kesehatan Hewan (PUSKESWAN) yaitu melakukan pelayanan medik reproduksi seperti diagnosa kebuntingan, menolong kelahiran baik yang kondisi normal maupun mengalami kesulitan melahirkan dengan tindakan operasi Sesar, melaksanakan Inseminasi Buatan, melakukan diagnosa dan pengobatan kemajiran, melakukan diagnosa dan pengobatan gangguan reproduksi serta melakukan tindakan alih janin atau emberio transfer.

Direktorat Kesehatan Hewan Ditjennak Keswan sejak tahun 2011 telah melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) penanggulangan gangguan reproduksi bagi dokter hewan Puskeswan se-Indonesia hingga tahun 2013 telah dilatih sekitar 300 orang.  Sedangkan untuk tahun 2014 jumlah dokter hewan yang akan dilatih di 6 wilayah regional sekitar 120 orang. Jadi diharapkan pada akhir tahun 2014 jumlah dokter hewan terlatih sekitar 420 orang.

Bimbingan teknis petugas penanggulangan gangguan reproduksi ini dilaksanakan dengan jumlah 80 jam pelajaran yang terdiri dari teori 40% dan praktek 60%, dengan tujuan agar para peserta dapat merefresh kembali ilmu yang telah diterima dibangku kuliah dan lebih menekankan kembali praktek penguasaan penanganan sapi yang bermasalah pada organ reproduksi dan penanganan yang tepat maupun pada kondisi hewan yang normal.

Diharapkan dengan adanya bimbingan teknis yang singkat ini, para peserta benar-benar bisa menerapkan ilmu yang telah didapat dari para narasumber, sehingga dapat diterapkan bagi petugas dilapangan.

Berkaitan dengan hal tersebut pada tanggal 14-18 April 2014 bertempat di Mataram NTB telah dilaksanakan Bimbingan teknis Gangguan Reproduksi yang diikuti 22 dokter hewan PNS maupun THL yang berasal dari Provinsi Jambi, Jawa Barat, DIY, Bali, NTB dan Sulawesi Tenggara, Pembimbing utama Bimtek kali ini adalah Dr Drh Prabowo Purwono Putro MPhil dosen dan pakar Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta dengan pendamping lapangan Drh Heru Rachmadi salah seorang dokter hewan ahli Bedah Sesar Hewan Besar yang pernah belajar di Universitas Rakuno Gakuen Ebetsu Hokaido Jepang dan Drh Hultatang Puskeswan Aikmel Kab. Lombok Timur salah satu kandidat dokter hewan berprestasi Nasional Tahun 2014.

Materi inti Bimtek Gangguan Reproduksi ini antara lain Review Anatomi Fisiologi Reproduksi ternak sapi, Review  Gangguan Reproduksi bersifat fungsional dan gangguan dikarenakan penyakit menular, review terapi Hormonal dan antibiotika, Teknik Sampling pengujian Cepat Brucellosis dan Parasiter serta sekilas teknik Bedah Sesar incisi Flank kanan kemudian yang sangat penting dalam Bimtek  Gangguan Reproduksi ini adalah melakukan praktek di Rumah Potong Hewan pada sapi betina afkir yang mengalami gangguan reproduksi dan kemajiran serta pemeriksaan alat reproduksi dan penanggulangan Gangguan Reproduksi pada kelompok-kelompok ternak sapi yang ada di kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur, dari hasil praktek lapangan telah terdiagnosa kasus: Hypofungsi ovarium, Silent Heat, Anestrus oleh corpus Luteum Persistent, kawin berulang, Endometritis, Abortus serta Kasus aspesifik.

Drh. Herwinarni, Kasi Sumber Daya Kesehatan Hewan Dirjennak keswan yang membacakan sambutan Direktur Keswan pada saat penutupan Bimtek Gangguan reproduksi tersebut mengungkapkan bahwa Bimbingan teknis Petugas Penanggulangan Gangguan Reproduksi adalah merupakan salah satu program yang langsung berpengaruh terhadap program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yaitu Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau tahun 2014, yang secara lebih khusus merupakan kinerja utama Direktorat Kesehatan Hewan yang berupa penguatan pelayanan kesehatan hewan secara nasional.

Penguatan pelayanan kesehatan hewan adalah dimaksudkan untuk meningkatkan kelmbagaan, meningkatkan ketersedian peralatan dan kendaraan, ketersediaan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan operasional pelayanan kesehatan hewan.

Bimbingan teknis petugas penanggulangan Gangguan Reproduksi adalah dalam rangka penguatan tenaga kesehatan hewan dalam hal peningkatan kompetensi para dokter hewan baik yang bertugas di Dinas maupun dokter hewan yang bertugas di puskeswan yang dimaksudkan untuk meningkatkan keprofesionalan penanganan dan penanggulangan gangguan reproduksi di lapangan sehingga tingkat pelayanan yang prima oleh dokter hewan sangat dibutuhkan oleh masyarakat peternak secara terus menerus.
Semoga bimtek Gangguan Reproduksi ini makin menambah pengalaman lapangan dokter hewan yang bertugas di puskeswan dan bermanfaat bagi pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan di daerah masing-masing peserta \ Drh. Heru Rachmadi Infovet NTB

Seminar PT Behn Meyer Bahas Organic Mineral

Peserta seminar melakukan sesi tanya jawab dengan pembicara
Penerapan dalam pemberian nutrisi dalam pakan di lingkup budidaya ikan dapat meningkatkan produksi dan keuntungan yang cukup besar. Terkait dengan itu, PT Behn Meyer pada Rabu, 30 April 2014 mengadakan seminar dengan tema “Mineral Organic-Latest Trend In Aqua Feed” di Hotel Grand Zuri, Serpong. Hadir sebagai pemateri dalam seminar ini diantaranya, Regional Technical Manager Aquaculture Behn Meyer yaitu Dr Wee Kok Leong, Itsara Suannakhan DVM MBA selaku Territory Manager Zinpro, dan Orapint Jintasataporn PhD dari Kasetsart University Bangkok.

Menurut Dr Wee, banyak sekali unsur anorganik yang diakui yang melakukan fungsi penting dalam tubuh. Beberapa mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup besar dan disebut macro/elemen, sementara yang dibutuhkan dalam jumlah lebih kecil disebut sebagai micro/elemen (trace mineral ). Unsur-unsur mikro (trace mineral) mengalami peran besar di bidang nutrisi udang bersama dengan mineral lain untuk kesehatan ikan dan udang.

“Trace mineral memainkan peran utama dalam gizi untuk berbagai fungsi tubuh dan pertumbuhan untuk semi intensif/intensif dalam budidaya perikanan. Fungsinya antara lain untuk kekebalan tubuh atau ketahanan terhadap penyakit, kemudian ikan atau udang terbebas dari stres,” terang Dr Wee.

Sementara Itsara Suannakhan DVM MBA mengemukakan pada dasarnya udang dan ikan serta hewan air lainnya memerlukan mineral seperti seng, mangan, tembaga, besi, selenium  yang berfungsi memperbaiki metabolisme. Seperti untuk merangsang pembentukan enzim, hormon, dan kekebalan tubuh

Orapint Jintasataporn PhD dari Kasetsart University Bangkok mengatakan mineral merupakan komponen penting yang merupakan aktivator banyak enzim, kemudian hormon, dan vitamin. Kelebihan lainnya dari organik mineral adalah mampu diserap maksimum dalam tubuh, sementara inorganik mineral hanya sebagian kecil yang terserap yakni sekitar 19%-20%.

Ir Teddy Candinegara selaku Executive  Sales Directorr PT Behn Meyer Indonesia menyampaikan dengan terselenggaranya seminar ini diharapkan Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dalam pemanfaatan produk organik mineral. Peningkatan produksi bukan satu-satunya cara untuk memenuhi lonjakan permintaan dunia untuk mengangkat sektor perikanan. Dalam budidaya perikanan penting diperhatikan mengenai konversi pakan, kemudian nilai keseragaman yang tinggi, hingga kesehatan ikan misalnya melihat sisiknya yang indah tentu akan memiliki nilai jual tersendiri. (nunung)

Dompet Dhuafa Gagas Revolusi Peternakan Indonesia

Dompet Dhuafa peduli peternakan Indonesia. Kepedulian tersebut diwujudkan dalam bentuk sebuah draff nota kesepahaman berupa penandatanganan MoU atau (memorandum of understanding) yang dilakukan bersama-sama dengan Yayasan Damandiri dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) melalui gagasan program berkonsep, Revolusi Peternakan Indonesia (RPI). Dimana RPI ini perdana di publikasi pada Selasa, 15 April 2014. Bertempat di halaman Rumah Sehat (RS) Terpadu Dompet Dhuafa, Parung, Bogor.

Acara yang dimulai pagi pukul 09.00 Wib dibuka dengan pagelaran musik tradisional sunda. Sedang, mengenai latar belakang diluncurkannya program revolusi peternakan ini, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi menuturkan dalam kata sambutannya, “keprihatinan yang terlihat dimana negeri ini masih saja mengimpor ternak dari luar negeri. Padahal, Indonesia memiliki lahan peternakan luas dengan segala potensi didalamnya untuk bisa swasembada ternak. Disini harus ada jalan perubahan yang ditempuh di sektor peternakan agar jangan sampai Indonesia berada dlam situasi Darurat ternak, yakni dengan dilakukannya revolusi dibidang peternakan” ujar pria yang pernah berkarir dalam bidang Jurnalis ini.

Revolusi peternakan merupakan upaya untuk mencapai kedaulatan pangan dan energy. Termasuk dapat terpenuhinya kebutuhan daging nasonal, tentu saja. Meski mencapainya memang tidak mudah, namun bisa dimulai dengan langkah-langkah kongkrit biar sedikit asal berjangka panjang seperti yang telah dirintis Dompet Dhuafa melalui gerakan Tebar Hewan Kurban (THK), Program Kampung Ternak Nusantara dan sekarang program revolusi peternakan.

Hal ini yang menjadi tujuan dan konsentrasi program Revolusi Ternak, sepeti yang disampaikan Ahmad Juwaini, selaku Presiden Direktur Dompet Dhuafah. Menurutnya, program ini memberi kesempatan kepada peternak lokal khususnya yang mengalami kekurangan modal dan belum terampil beternak, agar nantinya dapat diberdayakan lebih edukatif sehingga ternak yang dihasilkan bisa mempunyai daya saing dengan produk hewan hasil import. Hal ini, otomatis akan menambah pemasukan para peternak kita.

Ditambahkannya, “Dompet Dhuafa juga akan melakukan pendampingan pada peternak selama 3 sampai 4 bulan samapai kemampuannya dibidang peternakan memadai.”

Target yang ingin dicapai Dompet Dhuafa dengan dijalankannya program revolusi peternakan ini adalah peningkatan kebutuhan jumlah ternak lokal sebanyak 1 juta ternak kambing (dalam periode 5 tahun). Caranya dengan makin memperluas lagi jaringan pemberdayaan peternak ke seluruh Nusantara, tidak hanya di pulau jawa sepeti yang sudah dilakukan saat ini dengan 1.000 peternak lebih yang sudah diberdayakan.

Dukungan dan apresiasi penuh pada RPI pun diberikan oleh Ketua Yayasan Damandiri, Prof. Dr. Haryono Suyono. Katanya “Saya percaya, Dompet Dhuafa yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam program pemeliharaan ternak, mampu mensukseskan program ini, sehingga nantinya banyak peternak tertolong, bisa menambah penghasilan mereka (peternak) dan peternak Indonesia semakin maju”. Namun beliau, yang juga pernah menjabat sebagai Menko Kesra Kabinet Pembangunan di era Orde Baru ini berharap “bagaimana keluarga miskin dan penyandang disabilitas juga dapat di berdayakan agar turut bisa menjadi peternak, agar mereka punya pekerjaan, keterampilan dan berpenghasilan. Intinya semoga RPI ini dapat memberikan kesejahteraan yang layak bagi semua masyarakat peternak,” tutupnya/ rama

Monday, May 19, 2014

Klinik Nature Vet Gagas Berdirinya Komunitas My Second Chance

shareholder klinik Nature Vet, Ferry Kartolo tengah memotong tumpeng, sebagai tanda lahirnya komunitas My Second Chance
Mengadopsi hewan dibutuhkan pertimbangan tersendiri, karena biasanya ada beberapa isu yang biasanya melekat pada hewan yang akan diadopsi, misalnya masalah kesehatan. Berangkat dari situasi tersebut,  Drh Silfiana Ganda kusuma dari klinik Nature Vet Tebet dan beberapa pencinta anjing menggagas berdirinya komunitas My Second Chance (MSC) pada 2 Maret 2014.

Saat ini ada lebih dari 1000 ekor anjing dan kucing yang berada di sedikitnya tujuh tempat penampungan di Jakarta membutuhkan pengadopsi. Jumlah ini masih belum termasuk dengan anjing dan kucing  yang tinggal bersama keluarga sementaranya (foster), dan anjing liar yang berada di jalanan.

Isu besar yang saat ini dihadapi oleh rata-rata tempat penampungan anjing adalah keterbatasan kapasitas penampungan dan dana. Sementara di sisi lain, belum ada regulasi yang mengontrol populasi anjing dan atau tindakan hukum pada orang-orang yang menelantarkan atau membuang anjing peliharaannya.

Gerakan dari komunitas ini adalah untuk mengkampanyekan pilihan mengadopsi dan penggalangan dana untuk mendukung kegiatan adopsi. Bekerja sama dengan beberapa klinik hewan yang ada di Jakarta, komunitas MSC membiayai penanganan kesehatan untuk hewan-hewan terpilih dari berbagai shelter yang ada di Jakarta, sehingga siap untuk diadopsi. Pada tahap awal, fokus bantuan adalah untuk upaya  sterilisasi dan vaksin.

Acara kampanye dan penggalangan dana pertama yang dilakukan komunitas MSC bersamaan dengan pembukaan cabang ke dua Klinik Nature Vet di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Dalam event tersebut, MSC mencoba memberikan edukasi kepada masyarakat, pencinta hewan,  mengenai proses adopsi, dan isu seputar kesehatan mengenai hewan adopsi.

Terkait dengan perawatan anjing senior, Drh Silfiana menekankan pentingnya  pemeriksaan menyeluruh setiap tahun untuk mendeteksi seandainya ada gangguan fungsi organ dalamnya seperti jantung, hati, ginjal, dan organ lain.    

Acara dimeriahkan dengan kegiatan amal dan penggalangan dana dalam bentuk Dog Fashion Show, Eating competition, penjualan cindera mata MSC, serta partisipasi beberapa vendor yang menjual produk perawatan anjing dan aksesoris. Sebagian dari keuntungan penjualan tersebut disumbangkan untuk program sterilisasi hewan yang digagas MSC. Jadi kenapa harus membeli jika pilihan untuk mengadopsi semakin mudah dilakukan saat ini, so let’s adopt don’t buy. (Sumber: Komunitas My Second Chance/nung)

Ekspos Kegiatan dan Anggaran Ditjen PKH

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyelenggarakan pertemuan eskpose kegiatan  dan anggaran Tahun 2015 untuk Dinas Propinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di seluruh Indonesia, Rabu, 23 April 2014.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Tangerang ini dihadiri oleh seluruh kepala dinas propinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan seluruh Indonesia. Hadir dalam pembukaan acara tersebut diantaranya Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan Syukur Iwantoro dan para Direktur dan Sekretaris Direktorat lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Pada sambutannya Syukur menyampaikan, “Tujuan dari ekspose propinsi ini adalah mensinergikan penyusunan perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan pusat dan daerah termasuk UPT pusat”.

 Ditambahkannya di akhir sambutannya, “Saya menekankan perlunya ada sinergi kegiatan dengan UPT lingkup Ditjen Peternakan dan Keswan karena UPT merupakan kepanjangan tangan dari Ditjen PKH di daerah untuk melaksanakan fungsi-fungsi perbibitan, budidaya, pakan, keswan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pascapanen”.

 Pada pertemuan tersebut para kepala dinas memberikan presentasi terkait tahun awal dari rencana strategis (Renstra) 2015 – 2019.
Saat ini telah disusun dan dibahas pokok-pokok rencana strategis 2015 - 2019. Renstra ini selanjutnya akan disosialisasikan dan dibahas bersama dengan para stakeholder termasuk dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan tingkat propinsi dalam waktu yang tidak terlalu lama, sehingga penyusunan renstra dibuat paralel dengan penyusunan kegiatan tahun 2015.

 Renstra ini menjadi acuan utama pembangunan peternakan dan kesehatan hewan baik di pusat maupun daerah. Oleh karena itu pada expose kegiatan propinsi untuk tahun 2015 menjadi sangat penting sebagai langkah awal memulai kegiatan perencanaan tahunan. Dalam perencanaan tahun 2015 sebagai langkah awal, diperlukan sinergi penyusunan perencanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan sehingga tujuan dapat tercapai/ wan

Aksi Damai Peternak Layer Kabupaten Blitar

Mereka, kelompok peternak layer yang tersebar di berbagai area di Kabupaten Blitar, bergabung pada aksi damai yang diprakarsai oleh Paguyuban Peternak Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.
Sabtu, 26 April 2014, di depan kantor Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar terlihat kerumunan peternak petelur. Gunung Pegat yang merupakan icon dari Desa Dadaplangu tersebut hening menatap keramaian peternak di hadapannya. Sore itu sekitar pukul 16.00 terlihat sekelompok besar orang berkerumun di perempatan jalan mempersiapkan sebuah aksi untuk menyampaikan keluh kesah kepada publik dan pemerintah.

Harga telur yang rendah bahkan mencapai harga di bawah BEP selama beberapa bulan terakhir, atau lebih tepatnya 10 bulan terakhir setidaknya demikian menurut Sukarman selaku ketua panitia aksi damai yang juga merupakan peternak ayam petelur Desa Dadaplangu, menjadi latar belakang digelarnya aksi damai tersebut.
Mewakili kelompok peternak rakyat, Sukarman mengutarakan, bahwa mengingat Blitar merupakan basis dari peternakan rakyat, maka alangkah bijaknya apabila pemerintah daerah selalu mengambil kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat dan bukan investor asing.

“Kami mendengar ada desas desus yang mengatakan akan masuknya investor asing di area Jatim untuk beternak ayam petelur yang memerlukan area hingga 500 hektar,” ungkapnya.

“Di luar terbukti atau belumnya isu tersebut kami di sini hanya mengantisipasi, bilamana hal itu benar adanya, maka kami sungguh berharap pemerintah berani berkata tidak! Dan, membuat kebijakan yang berpihak kepada kami. Sudah terlalu banyak kerugian yang harus kami tanggung, banyak kandang-kandang kosong karena pemiliknya tidak sanggup lagi membiayai operasional kandang. Sementara beternak ayam petelur adalah mata pencaharian utama kami,” paparnya kembali dengan berapi-api.

Tidak hanya itu saja, ternyata ada keluhan lain, kebijakan mengenai breeding agar tidak terlalu tinggi mematok harga jual DOC, serta tidak serta merta menjual telur breeding ke pasaran karena DOC tidak terserap oleh pasar. Hal ini menjadi penting, karena melubernya telur breeding ke pasaran juga merupakan salah satu faktor penyebab harga jual telur di bawah standar.

Selanjutnya isu paling panas yang diangkat pada sore hari itu adalah, beredarnya informasi bahwa per 1 Mei akan ada kenaikan harga pakan hingga 300 rupiah per kg yang artinya pakan konsentrat naik 15 ribu rupiah per zak. Kenaikan harga pakan ini akan semakin mencekik kami, sementara penanganan wabah Avian Influenza juga tak kunjung selesai, jadi pada intinya bantu kami dengan kebijakan yang menguntungkan anak bangsa, angkat harga telur, tolak investor asing, tata ulang regulasi tentang keluarnya telur breeding ke pasaran, dan tangani wabah AI dengan baik bila mana perlu, adakan program vaksin AI gratis untuk peternak, demikian seperti diutarakan Sukarman mengakhiri pembicaraan. (Mas Djoko R/Bali)

Kompak dan Bersatulah Peternak Layer!

Munas (Musyawarah Nasional) I Pinsar Layer Nasional (13-14/3) di FaPet UGM Jogjakarta telah melahirkan satu organisasi yang dicita-citakan lebih sempurna untuk menyatukan langkah peternak layer yang selama ini dikenal susah disatukan.

Perkenalan Ketua Pinsar Petelur Nasional
Berangkat dari kegelisahan peternak layer karena terus merosotnya harga telur nasional dibawah harga pokok produksi (HPP) sejak triwulan pertama tahun 2014 dan terus berlanjut hingga saat ini.

Munas (Musyawarah Nasional) I Pinsar Layer Nasional pada (13-14/3) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta telah melahirkan satu organisasi yang dicita-citakan lebih sempurna dan diharapkan mampu menyatukan gerak langkah peternak layer yang selama ini dikenal susah disatukan.

“Diharapkan organisasi ini dapat menjadi wadah yang lebih responsif yang didasari atas rasa saling terbuka, membangun rasa saling percaya, dan taat kepada rekomendasi hasil koordinasi antar sesama peternak baik ditingkat daerah hingga ke tingkat nasional. Untuk itu kami mohon dukungan seluruh peternak layer di Indonesia,” demikian disampaikan Yudianto Yogiarso didampingi 4 peternak seraya memperkenalkan organisasi Pinsar Layer Nasional disela pelaksanaan seminar teknis yang diselenggarakan PT Ceva Animal Health pada Rabu, 23 April 2014 di Jakarta.

Munas pembentukan Pinsar Layer Nasional ini dihadiri oleh 62 perwakilan peternak layer se-Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Munas ini menyepakati organisasi ini sebagai organisasi yang berdiri sendiri. Terpilih 5 peternak sebagai ketua (presidium) : Man Budhi (Magelang), Feri (Sukabumi), Suyadi (Blitar), Yudianto Yogiarso (Jogjakarta) dan Roby (Cianjur).

Pada kesempatan berbeda, selaku sesepuh peternak petelur nasional Paul Iskandar berharap keguyuban dan ketaatan yang dibangun dalam wadah organisasi terus dijaga, menyentuh semua lapisan peternak layer. “Jangan lagi meneruskan kebiasaan buruk, peternak baru mau berkumpul kalau harga sedang jelek,” harapnya.

Perlunya cermat dan kompak 
Kiranya semua masyarakat perunggasan sudah mafhum kalau pembentukan keseimbangan harga yang baru sedang dalam proses. Adapun penguatan harga telur dan juga broiler yang seolah terhambat. Penyebabnya bisa jadi kompleks, namun salah satunya – yang banyak diyakini oleh pelaku broiler maupun layer adalah terlalu. Lebarnya selisih harga dalam satu pulau atau wilayah yang berdekatan.

Nah, apabila ini yang dijadikan titik tolaknya, maka ke depannya nampaknya peternak harus mulai menganyam jaringan informasi yang solid sekaligus merenda kekompakan dalam memasarkan hasil unggasnya tersebut.

Ini memang tidak mudah dilakukan, tapi di era informasi yang sudah sedemikian terbuka seperti saat ini, informasi harga komoditi unggas itu sudah diupayakan oleh berbagai pihak – salah satunya oleh Pinsar Layer Nasional. Tinggal bagaimana semua pihak memanfaatkan informasi itu dengan bijak untuk kemaslahatan perunggasan di Indonesia. Hanya ada satu langkah yang harus di tempuh, yaitu “kompak”. Itu artinya, koordinasi berbagai wilayah harus dijalankan dengan lebih terorganisasi lagi, sehingga sistem pemasaran unggas yang stabil kelak bukanlah mimpi.

Bahkan seorang peternak layer yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa memang situasi seperti sekarang, menempatkan posisi tawar peternak di level yang paling bawah. Padahal tidaklah seharusnya kita seperti itu. Memang harus diakui bahwa peternakan di Indonesia didominasi oleh segelintir perusahaan besar yang notabene juga mengontrol segala hal yang berkaitan dengan dunia peternakan. Hingga pertanyaan muncul, Apakah memang kita sebagai peternak kecil akan selalu begini tanpa bisa berbuat apa-apa?/Wan

Jawaban selengkapnya, simak di Infovet edisi Mei 2014.

Ir Suryo Suryanta: Syukur dan Yakin

”Saya tidak memandang segala sesuatu yang ada di hadapan mata sebagai suka dan duka, semua perjalanan ini disyukuri dan dijalani dengan didasari keyakinan.” Demikian prinsip hidup 
Ir. Suryo Suryanta, Sales Manager PT. Hobbard & Novogen.

Awal perjalanan Suryo di ranah perunggasan dimulai dengan bekerja di CPJF, sebuah farm yang terletak di kawasan Curug, Tangerang. Suryo menceritakan tepatnya pada 15 Mei 1995, ia dipercaya menjadi supervisor produksi, yang kesehariannya berada di kandang.

”Saya belajar dari kandang, belajar menjadi anak kandang serta bagaimana mengurus ayam. Karena saya meyakini dasar bisnis ayam ada di kandang,” ungkapnya. “Saya mempelajari kendala maupun permasalahan yang muncul di dalam kandang. Kunci keberhasilannya adalah pada tahap memelihara ayam,” sambungnya.
Jodoh beserta garis nasib kita siapa yang tahu. Rupanya, ditengah menjalani masa sebagai pegawai baru, Suryo dengan berani mengambil langkah untuk mengakhiri masa lajang dan memboyong sang istri untuk menetap tinggal di Curug.

Kemantapan Suryo untuk membina keluarga tadi, semakin mendorongnya untuk berani menghadapi perubahan keadaan. “Saya memperoleh dukungan mental untuk berpindah tempat kerja, hingga saat ini sudah yang ke 6 perusahaan saya berlabuh,” tutur suami dari Drh Ani Juwita Handayani itu.
Bagi Suryo, semua yang kita hadapi direfleksikan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, sehingga menjadi motivasi untuk melangkah. Ujar Suryo, dengan dorongan keluarga perjalanan lebih ringan dan dikaruniai kemudahan-kemudahan untuk mencapainya.

Jadilah Pemenang
Pengalamannya bekerja di CPJF, kemudian berpindah ke SHS, lalu BUPS, Tiga Dara, hingga ISA Indonesia, Suryo beropini bahwa bisnis perunggasan di Indonesia sangat baik dan peluangnya sangat besar. Ia melihat dari sisi jumlah penduduk sebagai pasar, serta kemajuan ekonomi Tanah Air yang akan membuat kita layak membusungkan dada di kancah dunia.

Menurutnya, bangsa Indonesia lebih baik dibanding Malaysia maupun Thailand. “Mereka di sana sudah stagnan, atau seperti mati suri karena tidak ada semangat untuk maju. Semua tidak bisa ekspansi, sementara biaya produksi semakin naik,” urai Suryo. “Namun harus menjadi dasar kita untuk berhati-hati setelah nanti memasuki Pasar Tunggal Asean, jadilah kita sebagai pemenang dan jangan jadikan kita bagian pasar dari negara lain,” tandasnya.

Lanjut Suryo, perlunya penggarapan di struktur produksi Tanah Air yang masih belum efisien, karena mayoritas pelaku produksi ada di farm level 3 dan 4. Mereka yang memiliki populasi ribuan sampai puluhan ribu saja, dapat terjadi ketidakefisienan disana-sini. Strategi berikutnya adalah dipikirkan bagaimana pada level mereka tersebut, menjadi usaha kompetitif dan efisien.

“Sudah saatnya mengubah jiwa peternak ke jiwa bisnis. Maksud saya menuju bisnis yang efisien, dengan memaksimalkan performance serta memiliki daya saing pasar yang kuat,” saran Suryo untuk para pelaku bisnis perunggasan di Indonesia. Ia menambahkan, sangat penting menjadkan karyawan kadang sebagai aset, sehingga mereka mendapatkan kemajuan seiring dengan kemajuan perusahaan/farm.

Sukses Adalah Sekarang
Kesuksesan adalah sesuatu yang abstrak bukan berwujud fisik, sehingga relatif dan hak setiap orang untuk sukses serta dapat mencapainya setiap saat. Makna sukses bagi Suryo adalah sukses bukanlah nanti, tetapi sukses adalah sekarang. Prinsip Suryo dalam berkarya ia ibaratkan seperti air mengalir. “Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi, sehingga kita harus mempunyai bobot. Disitulah kita selalu belajar dan belajar. Karena untuk belajar, semua menjadi ingin terus berkarya,” terang ayah 2 putra dan 1 putri ini.

Kepada Infovet, Suryo menyampaikan obsesinya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga dan banyak orang pada umumnya. Suryo sangat senang bisa berbagi atau sharing ilmu dan pengalaman./nung.

Dan simak lengkap pengalaman inspiratifnya di Infovet edisi Mei 2014.

Tuesday, May 13, 2014

UPT Puskeswan Bantul Juara Nasional Mengintegrasikan Pelayanan dan Profesionalitas

Sebuah kebiasaan, meskipun itu tidak benar dan kurang sesuai dengan tuntutan zaman, maka jika itu dibiarkan seolah akan menjadi sebuah pedoman bahkan bisa menjadi “aturan baku” di dalam sebuah institusi pemerintah. Oleh karena, jika tak ada upaya yang bersifat progresif revolusioner, maka akan sangat sulit untuk menghasilkan kebiasaan yang lebih baik dan benar sesuai aturan serta mengikuti irama kemajuan.
Begitu juga bila selama ini ada berbagai upaya dari pemerintah melalui kebijakan renumerasi jabatan dan juga kompetensi keilmuwan, hal itu tiada lain untuk lebih mengarahkan para abdi negara itu kepada kewajiban utamanya sebagai aparatur penyelenggara negara untuk benar-benar memberikan layanan yang prima kepada masyarakat.

Begitu juga halnya dengan Unit Pelaksana Tehnis (UPT) Puskeswan Bantul Yogyakarta, yang belum lama ini (akhir tahun 2013) menyandang predikat sebagai Unit Kerja Pelayanan Publik (UKPP) Berprestasi Utama Tingkat Nasional. Penilaian yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk pertama pertama kali ini, memang bermaksud untuk memberikan sebuah penghargaan sekaligus sebagai pemacu institusi pemerintah dalam lingkup sektor pertanian agar terus meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat pada umumnya dan khususnya kepada para petani/peternak.

Penghargaan dan apresiasi itu tentunya bukan menjadi “piagam kebanggaan” semata bagi para pejabat yang memangkunya, namun justru merupakan cambukan yang harus dimaknai sebagai aktifitas yang sudah selayaknya dilakukan sebagai sebuah unit penyelenggara negara dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Hal itu juga yang diungkapkan oleh Drh Sri Ida S, MMA berkaitan dengan prestasi dan penghargaan yang diterima lembaga yang dipimpinnya. UPT Puskeswan Bantul yang merupakan bagian dari Pemerintah Kabupaten Bantul yang dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kehutanan, memiliki 10 buah Puskeswan, Laboratorium. Adapun sumber daya manusianya meliputi tenaga teknis Dokter Hewan sebanyak 16 orang, yang mana hanya 6 orang yang berstatus PNS, Sarjana Peternakan 2 orang, Sarjana Pertanian 1 orang dan paramedis 3 orang serta 4 orang lulusan SMU dalam bidang adminsitrasi.

Ida mampu mengubah kebiasaan dan ritme kerja yang selama ini banyak bersifat pasif, dan menunggu menjadi proaktif jemput bola dan berbasis kinerja dan berorientasi pelayanan total kepada masyarakat.

Menurut Ida, demikian panggilan akrabnya, bahwa sebenarnya jika melihat dari sumber daya alam serta potensi ternak yang ada, saat ini Kabupaten Bantul sudah sangat kekurangan tenaga teknis Dokter Hewan.

Kondisi yang memprihatinkan seperti itu, tentu saja akan membuat para peternak di Bantul kurang mendapatkan pelayanan yang optimal. Namun menjadi sangat beruntung oleh karena di Kabupaten bantul saat ini Dokter Hewan yang berpraktek secara mandiri alias praktek partikelir dan bukan berstatus PNS, relatif banyak. Jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten ini, maka mungkin kabupaten Bantul termasuk yang paling banyak Dokter Hewan berpraktek mandiri. Di satu sisi memperlihatkan bahwa begitu besarnya potensi ternak yang ada, namun juga di sisi yang lain menggambarkan bahwa sebuah ironi jika potensi ternak yang ada di kabupaten ini belum mampu dieksploitasi dan didayagunakan oleh pemerintah daerah itu.

Menurut Ida, aset ternak di kabupaten ini sangatlah besar. Tentu saja keberadaan ternak itu telah memberikan efek positif yang sangat banyak (multiplier effect) terutama dalam menopang kesejahteraan rakyatnya. Sangat berbeda dengan ternak ayam negeri (layer dan broiler) ataupun feedloter (perusahaan penggemukan sapi, kambing) yang umumnya butuh modal kuat namun hanya mampu menyerap sedikit tenaga kerja, sedangkan eksistensi ternak di kabupaten Bantul umumnya dimiliki oleh peternak skala gurem. Meskipun demikian justru ternak di Bantul sudah mampu menjadi katup pengaman penggangguran dan bahkan sampai ke aspek lingkungan hidup./ (Iyo)

CEGAT SINDROM KERDIL DENGAN LANGKAH TEPAT

Contoh kasus: Ayam usia panen berat hanya 300-400 gr

























Akhir-akhir ini, kasus kekerdilan muncul lagi pada beberapa peternakan ayam pedaging komersial dan pada Broiler breeding farm. Adanya kasus semacam ini menimbulkan kerugian peternak, karena jumlah ayam kerdil bisa mencapai 10-50 persen dari populasi. Kekerdilan atau Sindrom Kekerdilan pada ayam sangat merugikan. Karena, ayam yang kerdil akan sulit dijual, konversi pakan yang tinggi dan dapat mengakibatkan kematian, walaupun tingkat kematiannya tidak terlalu tinggi.

Bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak-peternak ayam pedaging (broiler), masih kerap kita dengar adanya keluhan mengenai ketidakseragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat DOC tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.

Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :

·         DOC berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali

·         Multi strain dalam satu flock/kandang

·         Kurang tempat pakan dan tempat minum

·         Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi

·         Penyakit infectious seperti Coccidiosis dan Sindroma Kekerdilan pada Broiler (Runting and Stunting Syndrome/RSS)

Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti karena DOC, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau Runting and Stunting Syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada/hilang dengan sendirinya.

Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai nama lain seperti : Malabsorption Syndrome; Runting Syndrome; Reovirus Malabsorption; Pale Bird Syndrome; Helicopter Disease; Brittle bone Disease

Apa itu sindroma kekerdilan pada broiler? dan apa saja penyebabnya? Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari. Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal.

Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti:

-          tingginya ayam yang harus di culling

-          tingginya FCR

-          rataan berat badan di bawah standar

-          berat badan yang sangat bervariasi

Kondisi ini akan menjadi masalah bila ada kontrak dengan “slaughter house” / rumah potong ayam dan masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam kecil. Menurut beberapa ahli penyakit ayam kekerdilan/RSS sindroma kekerdilan ini merupakan sindroma penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kekerdilan, diantaranya :

1.     Genetik, yaitu kekerdilan yang disebabkan oleh infeksi virus Reo virus, Picorna virus, Calici virus, Adeno virus, Parvo virus, Rota virus, Toga virus, Corona virus dan Enterolike virus yang dapat menular secara vertikal, sehingga jika induk ayam pernah terkena penyakit kekerdilan kemungkinan anaknya dapat tertular

2. Serangan penyakit, yaitu selain penyakit pada point 1, penyakit viral (ND, Gumboro dan Mareks), penyakit bakterial (korisa, CRD) dan penyakit parasit (koksidiosis) juga dapat memicu kekerdilan pada ayam

3.  Kesalahan tata laksana pemeliharaan, seperti kepadatan kandang yang berlebih, brooding yang kurang tepat maupun kualitas dan distribusi ransum yang kurang baik

Selain hal diatas ada beberapa penyakit juga dapat memicu timbulnya sindroma kekerdilan /(Wawan)

*Selanjutnya simak di Majalah Infovet edisi cetak Mei 2014
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template