Wednesday, February 24, 2010

Penghargaan Pahlawan Ketahanan Pangan

Untuk menghargai komitmen dan motivasi yang tinggi dari para Gubernur, Bupati/ Walikota dan Pejabat Fungsional terhadap kinerja dan prestasi yang telah dicapai dalam Pembangunan Ketahanan Pangan maka Pemerintah memberikan penghargaan sebagaimana dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 3856/Kpts/Kp.450/11/2009.

Seharusnya pemberian penghargaan ini dalam rangka Peringatan Hari Ketahanan Pangan Nasional dilakukan pada bulan Juli 2009, namun akhirnya dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2009, di dua tempat yaitu pada pagi hari di Istana Wakil Presiden dan pada siang hari dilakukan di Gedung A, Departemen Pertanian.

Para penerima penghargaan Ketahanan Pangan Nasional dari seluruh Indonesia berjumlah 164 orang. Penghargaan diberikan dalam 2 bentuk yaitu trophy dan sertifikat. Trophy diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diwakilkan oleh Prof Dr Boediono Wakil Presiden RI. Pemberian trophy dilakukan secara simbolis terhadap 26 orang penerima Penghargaan di Istana Wakil Presiden, Jakarta.

Diantara orang-orang pilihan penerima trophy tersebut ada sosok yang akrab dikenal pembaca Infovet. Ia adalah Prof Dr Drh Soeripto MVS dari Balai Besar Penelitian Veteriner. Prop. Jabar. Infovet mengenalnya sebagai penemu vaksin mutan MGTS-11 pemberantas CRD (chronic respiratory disease) atau penyakit pernapasan kronis pada unggas. Ulasannya yang disampaikan saat pengukuhan dirinya sebagai Profesor Riset Bidang Bateriologi Veteriner oleh Badan Litbang Pertanian di Bogor, (11/8) pernah dimuat Infovet edisi September 2009.

Setelah pemberian trophy, Boediono berkenan memberikan sambutan mengenai pentingnya Ketahanan Pangan di Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah bersama Wapres dan Wakil Mentan Dr Bayu Krisnamurti.

Siang harinya kira-kira pukul 11.30 semua rombongan meninggalkan Istana Wakil Presiden dan bergerak menuju Gedung A, Departemen Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta. Kira-kira pukul 14.00 Menteri Pertanian yang diwakili oleh Wakil Menteri Pertanian Dr. Bayu Krisnamurti berkenan memberikan Penghargaan berupa Sertifikat kepada 164 orang yang telah ditetapkan sebagai penerima Penghargaan Ketahanan Pangan Nasional. (wan)

April 2010, Pemotongan Unggas Hanya Boleh di Lima Lokasi

Banyak timbul pertanyaan dari peternak serta pelaku bisnis perunggasan mengenai sampai dimana keseriusan pemerintah DKI memberlakukan Perda DKI No. 4/2007, pasalnya sesuai hasil rekomendasi yang didapat dari seminar perunggasaan yang dilaksanakan oleh ASOHI beberapa waktu yang lalu mengharapkan pelaksanaan Perda ini harus dipersiapkan dengan matang, karena akan mempengaruhi kelancaran peredaran unggas untuk warga DKI. Diperkirakan apabila langsung diterapkan akan mengganggu stabilitas pasar unggas DKI karena sarana dan prasarananya belum siap.

Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta, Drh Rudewi yang dijumpai Infovet dikantornya (22/1), menyatakan Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian telah memberikan instruksi kepada Ka. Suku Dinas Peternakan dan Perikanan di daerah DKI Jakarta untuk melakukan sosialisasi kepada para penampung dan pemotong unggas mengenai batas akhir relokasi penampungan dan pemotongan unggas. “Sosialisasi dari dinas sudah gencar dilakukan sejak 6 bulan terakhir ini,” ungkapnya.

Dalam kesempatan lain, sejalan dengan pernyataan Rudewi, Kabid Kesehatan Hewan & Ikan Dinas Peternakan Kab. Bogor Drh Ramilah Erliani N, MM juga menyatakan Pemerintah DKI sudah cukup serius dengan hal ini dan Pemerintah Kab. Bogor juga telah membuat MoU antara Gubernur DKI, Gubernur Jawa Barat dan Gubernur Banten untuk dapat sama-sama mempersiapkan diri. “Kami telah melakukan persiapan, sosialisasi dan simulasi sehingga saat pelaksanaan April nanti sudah tidak ada lagi gejolak pasar yang tidak kita inginkan,” ujarnya.

Ramilah melanjutkan, dari hasil diskusi yang dilakukan dengan pihak terkait, beberapa simulasi yang dilaksanakan meliputi pengawasan, penertiban serta persiapan infrastruktur yang ada termasuk jalan-jalan yang dilalui ke RPU tersebut. “Di pasar-pasar yang ada, sekitar 153 pasar termasuk PD Pasar Jaya, simulasi yang akan dilaksanakan adalah dengan menyediakan fasilitas dan sarana untuk mendukung terciptanya mata rantai dingin (red - distribusi unggas potong beku) dalam penjualan karkas,” paparnya di depan peternak yang hadir dalam pertemuan diskusi PPUN di Bogor, Kamis (14/1).

Rudewi juga menambahkan sesuai Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.1909/2009 Pemerintah DKI telah menetapkan 5 lokasi penampungan dan pemotongan unggas, yaitu di daerah Pulogadung, Cakung, Rawa Kepiting, Petukangan Utara dan di daerah Jakarta Barat RPU Kartika Eka Darma (milik swasta).

“Menurut informasi yang saya terima untuk yang di Rawa Kepiting sudah penuh. Bagi brooker yang ingin memasukan unggas ke tempat tersebut silahkan mendaftar ke pemerintah DKI dan pendaftaran pemotongan sudah dibuka dan akan berakhir pada tanggal 15 maret 2010,” himbau Ramilah.

Siapa yang wajib mendaftar ke RPU di DKI adalah pihak yang memasukan unggas ke DKI (brooker) dan yang melaksanakan pemotongan unggas disana. Karena pada pelaksanaan Perda DKI No. 4/2007 ini, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu pertama harus terdaftar dulu di 5 tempat RPU tadi, kedua harus mempunyai izin pemasukan unggas ke DKI atas rekomendasi dari dinas peternakan daerah asal, kemudian membawa sertifikat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dan surat jalan.

Untuk pemasukan karkas sendiri, izin pemasukan berlaku untuk 1 tahun dan harus berasal dari RPU yang telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV), untuk di Jawa Barat dikeluarkan oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat atas rekomendasi dari Dinas Peternakan Kabupaten dan kota setempat.

Test Trial Operasi Transportasi Ayam Sehat (OTAS)
Menurut informasi yang Infovet terima dari Rudewi, Kepala Dinas Kelautan Dan Pertanian, Drh Edy Setiarto MS telah membentuk dan menugaskan Tim Test Trial Operasi Transportasi Ayam Sehat (OTAS) di Jakarta Barat. Tim ini akan melaksanakan tugasnya pada minggu ketiga dan keempat di bulan Januari, Februari dan Maret .

Ramilah menambahkan bahwa pemerintah DKI akan melaksanakan penertiban unggas yang masuk ke DKI tanpa disertai SKKH dan surat jalan. Penertiban akan dilakukan dua kali dalam sebulan melibatkan instansi terkait seperti polisi, Dishub, Satpol PP dan petugas dari Dinas Pertanian dan Kelautan.(all)


Tahun 2015, Industri Perikanan Indonesia Bisa Terbesar di Dunia

Dengan tujuan untuk mengevaluasi dan menginventarisasi masalah mendasar bisnis perikanan pada saat ini, serta menjajaki dan memproyeksikan peluang perikanan 2010, majalah Trobos dan GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia) Divisi Perikanan menggelar diskusi Outlook Perikanan 2010 pada 14 Januari 2010 lalu di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.

Outlook bertemakan “Industrialisasi Perikanan Menuju Ketahanan Pangan Nasional” menghadirkan Menteri Kelautan dan Perikanan Dr Ir Fadel Muhammad sebagai pembicara kunci.

Dalam pembukaannya Fadel menegaskan bahwa dalam mewujudkan Indonesia sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia maka perlu membuat grand strategy yaitu memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi, mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan serta memperluas akses pasar domestik.

Untuk meningkatkan produksi untuk ekspor, tambah Fadel, akan dilakukan gerakan ekspansi perikanan budi daya di seluruh daerah yang dinilai layak. “Menjadi penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada 2015 adalah sebuah keniscayaan,” ungkapnya penuh semangat.

Acara ini juga menghadirkan pembicara lain yaitu Direktur Usaha dan Investasi Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor PH Nikijuluw, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Dr Ir Made L Nurdjana dan Ketut Sugama dari Direktorat Pembenihan Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. (all)

Memaknai Satu Abad Dokter Hewan Indonesia

Pagi itu, segenap dokter hewan dari golongan muda hingga yang sudah sepuh berkumpul secara serentak di Balai Kartini, Sabtu 9 Januari 2010. Kehadiran mereka tak lain adalah untuk turut bersuka cita merayakan 100 Tahun Kiprah Dokter Hewan Indonesia yang ditandai dengan peluncuran buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia: Sejarah, Kiprah dan Tantangan.

Acara inipun bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang ke-57. Organisasi profesi dokter hewan ini telah terbentuk pada tanggal 9 Januari 1953, di Hotel Grand Lembang, Bandung.

Proses terbitnya buku ini setelah melalui serangkaian kegiatan pengumpulan data dan informasi secara intensif, penyusunan serta editing dalam waktu yang relatif singkat dari Tim Penyusun yang diketuai Drh Agus Suryanata.

Buku yang dicetak dengan penampilan bagus ini terdiri dari 462 halaman dengan foto-foto berwarna, bersampulkan hard cover dengan jaket berwarna nuansa abu-abu dan biru bertuliskan angka 100 dalam gradasi warna merah putih.

Disertakan pula dalam buku tersebut compact disc (CD) yang berisikan daftar nama dokter hewan alumni dari seluruh Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia serta alamat kelembagaan pemerintah dan organisasi terkait profesi dokter hewan.

Substansi dalam buku tersebut adalah sejarah, bidang tugas dan tantangan profesi dokter hewan dimasa mendatang, yang dituangkan dalam 7 bab, yaitu: Pendahuluan, Sejarah Dokter Hewan Indonesia, Kiprah dan Tantangan Dokter Hewan Indonesia, Profil Dokter Hewan Berprestasi, Meretas Jalan Menuju Profil Dokter Hewan Universal, Mengenggam Masa Depan, dan Penutup.

Dihadiri Mentan dan Wakil Mentan
Peluncuran buku ini terselenggara dengan semarak dan dihadiri oleh para dokter hewan dari 14 cabang PDHI dan 9 organisasi non teritorial (ONT) yang didirikan berdasarkan bidang spesialisasi dari seluruh Indonesia. Hadir pula para sesepuh (Lansia Veteriner) baik dari Jakarta dan Bogor maupun luar kota, antara lain Drh Soebagio dari Surabaya yang saat ini tinggal di Jakarta, Prof Mustahdi dari Surabaya, Drh E Nugroho dari Semarang, dll. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dokter Hewan Indonesia.

Dalam memaknai HUT PDHI dan peluncuran buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia, Drh Wiwiek Bagja Ketua Umum PB PDHI menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak dan mengingatkan tantangan ke depan yang harus dihadapi oleh profesi veteriner dalam mewujudkan pengabdian yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Sambutan dan pembukaan disampaikan oleh Menteri Pertanian RI, yang dilanjutkan dengan tanggapan terhadap materi buku oleh tokoh-tokoh non dokter hewan, pembahasan buku oleh Tim Editor dan diakhiri dengan doa syukur dan pemotongan tumpeng.
Dalam menyemarakan acara telah didendangkan beberapa lagu oleh paduan suara Gita Klinika FKH IPB, Bogor. Selain itu juga ikut berpartisipasi paduan suara ibu-ibu Lansia Veteriner, Jakarta.

Tanggapan Terhadap Buku
Pada kesempatan pemberian tanggapan terhadap Buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia disampaikan oleh tokoh-tokoh non Dokter Hewan yaitu DR. Bayu Krisnamurti, Ketua Komnas Flu Burung sekaligus juga Wakil Menteri Pertanian mengungkapkan bahwa aspek sejarah dan pengabdian dokter hewan telah secara lengkap ditulis dalam buku ini.

Namun demikian ikatan emosional ini hanya dapat dirasakan oleh kalangan internal para dokter hewan, bagi pembaca kalangan eksternal diperlukan buku yang ditulis khusus dan bersifat informatif tentang peranan profesi veteriner yaitu penanganan penyakit hewan yang telah dilaksanakan selama 100 tahun ini dan buku khusus mengenai penyakit zoonosis.

Terkait dengan struktur organisasi yang dapat memberikan ruang gerak dan kewenangan bagi profesi veteriner diperlukan wadah bersifat nasional yang idealnya sebagai Badan Otoritas Veteriner, lintas departemen dan langsung di bawah Presiden, atau setidak-tidaknya setingkat Eselon I dalam Kementerian Pertanian.

Tanggapan selanjutnya dari DR. Rachmat Pambudy, Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan Indonesia (HKTI) berpendapat struktur organisasi profesi veteriner dalam Kementerian Pertanian memang seyogianya ditingkatkan setara dengan Direktorat Jenderal sehingga disamping adanya Direktorat Jenderal Peternakan juga diusulkan dibentuk Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan atau Veteriner.

Pembahasan Buku
Pembahasan buku dilakukan oleh Tim Editor yaitu DR. Soehadji, Drh. Sri Dadi Wiryosuhanto dan DR. Sofyan Sudardjat. Acara pembahasan ini dipandu oleh Moderator dr. Lula Kamal, MSc, yang secara bergantian menggali informasi dari setiap anggota Tim Editor untuk menyampaikan kesan-kesan dan pendapatnya.

DR. Soehadji mengungkapkan bahwa dalam menyusun data serta informasi ibarat “puzzle” yang berserakan menjadi gambar mozaik-mozaik dan secara keseluruhan isi buku ini dapat dilihat secara harfiah dan maknawiah.

Drh Sri Dadi menyampaikan latar belakang dalam penulisan aspek sejarah yang semula dimulai dari kurun waktu awal perkembangan kebudayaan di Nusantara diubah menjadi lebih pendek yaitu sejak diperlukannya dokter hewan pribumi bagi penanganan penyakit hewan yang bermuara pada pendirian Sekolah Dokter Hewan pertama di Indonesia bernama Indische Veeartzen School (IVS) yang berlokasi di Bogor tahun 1906.

Lahirnya sejarah dokter hewan bangsa Indonesia bermula dari kelulusan salah satu mahasiswanya adalah seorang laki-laki kelahiran Kakas, Minahasa, Sulawesi Utara, 30 Juni 1888 yaitu Drh Johannes Alexander Kaligis yang merupakan dokter hewan pertama yang lulus dari angkatan pertama Indische Veeartzen Scholl” (IVS) pada tahun 1910. Selanjutnya Drh J.A Kaligis bekerja di “Veeartsnijkundige Institute” atau Balai Penyelidikan Penyakit Hewan sampai dengan tahun 1911.

Tahun 1910 dalam sejarah Dokter Hewan Indonesia ditetapkan sebagai dimulainya kiprah dokter hewan pribumi di Indonesia sehingga buku ini diberi judul 100 Tahun Sejarah, Kiprah dan Tantangan Dokter Hewan Indonesia (1910-2010).

Dalam bidang pengabdian mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan zaman dan menghadapi tantangan yang makin kompleks. DR. Sofyan Sudardjat menekankan aspek peranan dokter hewan dalam menangkal masuknya penyakit eksotik melalui pengamanan yang maksimum terhadap pemasukan hewan dan produk hewan dari negara-negara yang belum bebas penyakit.

Drh Agus Suryanata sebagai Ketua Tim Penyusun mengungkapkan sangat terbatasnya waktu dalam penyusunan disamping itu harus pandai-pandai mengkoordinasikan para anggota Editor, walaupun masing-masing mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menulis tetapi mempunyai persepsi yang tidak sama dalam beberapa aspek. Dengan demikian terbitnya buku 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia yang monumental ini benar-benar perlu disyukuri.
(tjip/wan)

Selengkapnya baca artikel pada majalah Infovet edisi 187/Februari 2010 ........................................................................................untuk Informasi pemesanan dan berlangganan klik disini

VIRUS SEBAGAI SI CANTIK DAN SI BURUK RUPA


Dibalik keganasan virus sebagai sumber malapetaka yang mematikan, ternyata keberadannya masih bisa dijinakkan sehingga dapat bermanfaat bagi umat manusia. Ini diibaratkan sebagai ‘the beauty and the beast
(si cantik dan si buruk rupa).

Pembuka orasi ilmiah yang diawali dengan paparan kocak tersebut disampaikan oleh Profesor Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika pada acara pengukuhan Guru Besar Virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, di Gedung Widya Sabha Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Orasi berjudul Pengembangan Virologi Molekuler Sebagai Basis Pengendalian, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Virus sangat penting untuk kepentingan dunia kesehatan manusia dan hewan.

Dalam orasi ilmiahnya, disebutkan bahwa virologi sebagai ilmu yang mempelajari virus mengalami perkembangan yang pesat sejak 1980-an. Revolusi dalam biologi molekuler diaplikasikan untuk menginterprtasikan dan memahami struktur dan replikasi virus serta patogenesis dan epidemiologi penyakit virus.

Kajian virus pada tingkat molekuler meliputi analisis materi genetik (genom) virus dan produk-produknya serta interaksi dengan protein seluler induk semang (host) manusia, hewan dan tanaman melahirkan cabang ilmu baru disebut virologi molekuler. Piranti diagnostik, vaksin dan obat-obat anti virus yang saat ini dipasarkan merupakan hasil riset virologi molekuler. Produk-produk ini terus menerus diperbaiki, disempurnakan atau diganti dengan cepat.
irus merupakan makhluk sub-seluler yang memiliki materi genetik RNA atau DNA dan melakukan replikasi hanya pada sel hidup yang sesuai. Virus terkecil (Circovirus) berukuran 16 nm (nano meter: 1 mikron = 1000nm) dan terbesar virus cacar 450 nm. Ultrastruktur yang sederhana menyebabkan paling mudah dipelajari secara molekuler, sehingga sering dianggap sebagai ‘Trojan Horse’.

Tahap awal infeksi virus adalah penempelan virus pada dinding sel. Proses ini melibatkan komponen protein permukaan virus sebagai ligand dengan reseptor permukaan sel. Pada virus pseudorabies protein itu adalah gIII, rabies protein G, cacar epidermal growth factor, Rhinovirus VP1, 2 dan 3, encefalomielitis virus VP4, coronavirus HE, parainfluenza H-N, influenza HA dan HIV gp120. sedangkan reseptor pada permukaan sel dapat berupa reseptor epidermal growth factor (cacar), ICAM-1 (rhinovirus), IgG (encefalomielitis), asetil-kolinesterase (rabies), asam sialat (influenza), CD4 (HIV).

Tahap penetrasi merupakan proses pelepasan selubung virus (uncoating) di sitoplasma atau di inti sel. Tahap transkripsi untuk virus DNA dan/atau translasi serta replikasi genom virus untuk memproduksi mRNA, protein virus dan genom anakan yang melibatkan enzim dan mekanisme seluler, kecuali virus RNA yang berpolaritas negatip memiliki RNA-dependent-RNA polymerase (influenza, paramiksovirus, rabies).

Proses transkripsi, translasi dan replikasi genom masing-masing virus berbeda. Virus DNA rantai ganda (papovavirus, adenovirus, herpesvirus) menggunakan transkriptase seluler untuk menghasilkan mRNA yang selanjutnya mengalami splicing yaitu penghilangan intron sehingga mRNA dewasa ini menjadi protein. Virus yang tidak mengalami splicing adalah virus cacar dan African swine fever. Virus DNA serat negatip tunggal (parvovirus) menggunakan transkriptase seluler menghasilkan mRNA serta mengalami splicing sebelum ditranslasi menghasilkan protein. Reovirus dan birnavirus (penyebab Gumboro) mempunyai RNA genom serat ganda. Serta negatip dari genomnya digunakan oleh enzim RNA-polymerase untuk menghasilkan mRNA. Serat positip untuk membentuk serat negatip untuk menghasilkan mRNA.

Tahap terakhir adalah maturasi, perakitan dan rilis. Protein yang dihasilkan ditransportasikan ke bagian tertentu dari sel sesuai dengan transpor signal pada protein itu yang selanjutnya mengalami glikosilasi dan pemotongan. Virus yang memiliki amplop memperoleh selubung lemak pada saat rilis dari sel dan keluar dari sel dengan menyembul ke permukaan (budding).
(masdjoko/wan)

Pembahasan mengenai Virus Avian Influenza (AI/Flu Burung) menurut Prof Dr drh I Gusti Ngurah K Mahardika serta mengenai Indonesia yang saat ini memerlukan sebuah Lembaga Pengendalian Penyakit dipaparkan secara lengkap oleh Wartawan Infovet dalam sebuah artikel dalam sebuah artikel pada majalah Infovet edisi 187/Februari 2010 ........................................................................................untuk Informasi pemesanan dan berlangganan klik disini

SETELAH TUJUH TAHUN BERSAMA FLU BURUNG

Penyakit Avian Influenza (AI) atau lebih populer dengan flu burung yang mewabah di Indonesia sejak bulan September tahun 2003 telah menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Penyakit ini menjadi perhatian dunia karena telah menular ke manusia pada tahun 1997 di Hongkong. Setelah itu flu burung ditemukan di sejumlah negara Asia, yaitu Korea Selatan, China, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Penularan dari hewan ke manusia yang menyebabkan kematian, menimbulkan kekhawatiran terjadinya pandemi (wabah penyakit infeksi yang menyebar ke seluruh dunia atau dalam wilayah yang luas) seperti pandemi yang terjadi pada tahun 1918-1919 di kenal sebagai Influenza Spanyol (Spanish Flu), dan dianggap sebagai wabah flu terbesar sepanjang masa.

Penyakit AI yang disebabkan oleh virus Influenza Tipe A dari keluarga Orthomyxoviridae ini berdasarkan patogenitasnya, dibedakan menjadi dua bentuk yaitu Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) dan High Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Selain menyerang ayam ras komersial, penyakit AI juga menyerang berbagai jenis unggas termasuk unggas eksotik yang dipelihara di kebun binatang.

Banyak pakar melaporkan bahwa unggas air seperti entog, angsa dan itik bertindak sebagai carrier virus AI, sehingga dapat berperan sebagai ’inkubator’ virus sebelum ditularkan ke hewan lainnya. Sementara itu ternak babi dapat bertindak sebagai intermediate host, sedangkan burung-burung liar diduga dapat menyebarkan virus tersebut. Realitas ini memungkinkan terjadinya penyebaran penyakit lebih luas termasuk penularan pada manusia, karena AI merupakan salah satu penyakit zoonosis yang paling diperhitungkan.

Di Indonesia, virus LPAI sudah diisolasi dari itik dan burung Pelikan pada tahun 1983 dan diidentifikasi sebagai H4N6 dan H4N2. Penyebab wabah peyakit AI yang terjadi di Indonesia pada tahun 2003 telah dapat diisolasi, dan selanjutnya dikarakterisasi sebagai virus AI dengan subtipe H5N1 yang sangat patogen.

Beberapa strain virus LPAI mampu bermutasi pada kondisi lapang menjadi virus HPAI. Virus HPAI bersifat sangat infeksius dan dapat menyebabkan kematian hingga 100% dalam waktu yang cepat pada unggas dengan atau tanpa gejala klinis, dan dapat menyebar dengan cepat antar flock.

Penularan ke unggas lain terjadi melalui kontak langsung dengan sumber penularan sekresi hidung, mata dan feses dari unggas terinfeksi, udara di daerah tercemar, peralatan kandang tercemar atau secara tidak langsung melalui pekerja kandang, kendaraan pengangkut, pakan, dan lain-lain yang berasal dari daerah tercemar. Feses yang terkontaminasi virus AI dapat tahan sampai waktu yang sangat lama terutama dalam keadaan sejuk dan lembab.

Kerugian Terbesar Karena Pemberitaan
Merebaknya kasus penyakit AI di berbagai wilayah Indonesia diduga mempunyai dampak yang cukup serius secara lintas sektoral, mengingat dampak sosial ekonomi yang ditimbulkannya cukup besar. Dampak terbesar menurut Drh Slamet Riyadi pada industri perunggasan dan sarana pendukung lainnya. Sejak merebaknya kasus flu burung ini, industri perunggasan Indonesia bahkan dunia merosot tajam sampai ambang batas kolaps. Data kerugian akibat flu burung diperkirakan mencapai Rp 3.87 trilyun, dengan banyaknya ternak unggas yang mati maupun dimusnahkan akibat terpapar virus ini.

Dampak lain menurut Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Cabang Lampung ini adalah meningkatnya impor produk peternakan, serta kepanikan masyarakat yang berakibat sebagian menghindari konsumsi telur dan daging ayam. Kepanikan terjadi di masyarakat bukan karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan media, akan tetapi karena materi dan pelaksanaan sosialisasi itu sendiri yang keliru di lapangan, sehingga kasus pneumonia pada manusia yang seyogianya diarahkan ke Tuberkolosis, dengan adanya gaung flu burung kasus tersebut diarahkan menuju kasus penyakit AI.

Di samping itu, pemberitaan yang berlebihan tentang flu burung ternyata memiliki dampak tersendiri bagi industri perunggasan nasional. Kerugian yang dialami oleh masyarakat perunggasan bukan disebabkan dampak langsung dari wabah flu burung, melainkan akibat pemberitaan yang berlebihan dan tidak proporsional.

Berbagai usaha dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus AI di lapangan. Usaha penanggulangan AI ditempuh dengan jalan pemusnahan massal ayam-ayam yang terpapar AI dengan memberikan dana kompensasi pada peternak. Sulitnya penanggulangan AI di Indonesia terkendala pada sosial budaya masyarakat yang kental. Di samping itu, masalah utama yang menyebabkan sulitnya penanggulangan penyakit tersebut adalah adanya usaha-usaha peternakan unggas dengan skala non komersial pada lokasi yang tersebar, sehingga jumlah dan keberadaannya sulit dikontrol, oleh karena belum adanya perwilayahan (zoning) industri perunggasan itu sendiri.

Penerapan biosekuriti yang ketat pun pada sistem budidaya, pemasaran, distribusi, dan pemotongan unggas pada berbagai sektor usaha perunggasan khususnya pada sektor 3 dan 4 juga masih longgar dan menjadi persoalan yang sulit dipecahkan. Demikian juga halnya dengan program vaksinasi. Sebagian peternak menyatakan bahwa vaksinasi AI khususnya pada ayam pedaging tidak perlu dilakukan mengingat biaya yang dikeluarkan untuk vaksinasi cukup tinggi, namun dalam konteks pencegahan penyakit, vaksinasi dianggap sebagai satu cara jitu yang dapat menghambat masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh ternak. Lantas, bagaimanakah kondisi usaha peternakan terkini setelah 7 tahun bersama penyakit AI?
(sadarman, dari berbagai sumber)

Beragam laporan dari beberapa narasumber Infovet di lapangan mengenai pembahasan ini, seperti dari Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD, drh Dinar Hadi Wahyu Hartawan, dari Padang; Drh Dodi Mulyadi, dari Palembang; Drh Hari dan Ir Hanggon dirangkum dalam sebuah artikel Infovet edisi 187/Februari 2010 ........................................................................................untuk Informasi pemesanan dan berlangganan klik disini

Wednesday, February 10, 2010

Tahun Baru 2010 Bersama Medion

Kemeriahan tahun baru 2010 semakin terasa tatkala pada Minggu pagi tanggal 3 Januari 2010 di lokasi pabrik Medion Cimareme Bandung, diadakan perayaan tahun baru 2010 bersama seluruh staf Medion. Kegiatan ini sebagai ungkapan berbagi kebahagiaan dengan semua staf yang telah turut serta membangun Medion.

Nuansa kekeluargaan dan persaudaraan sangat terasa dalam acara tersebut dimana satu sama lain saling berbaur bercengkerama dan bercanda tanpa mengindahan pangkat yang dikenakan. Berbagai hiburan selayaknya acara tahun baru juga turut menyemarakkan kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu pula, Medion menganugerahkan penghargaan kepada 40 orang staf atas loyalitas mereka berkarya bersama Medion selama 5, 10, 15 hingga 30 tahun.

Tema yang diangkat kali ini adalah “Medion Go Green” yang turut dimeriahkan dengan pembagian souvenir berupa tanaman buah seperti nangka, belimbing, jeruk dan mangga. Diharapkan tanaman itu akan ditanam oleh tiap peserta di rumahnya masing-masing sebagai bentuk partisipasi menekan efek global warming.

Tema Medion Go Green bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Dengan mengadopsi slogan reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali) dan recycle (daur ulang), diharapkan setiap pekerja bisa mengamalkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya. (red)

Tuesday, February 2, 2010

Quo Vadis Kebijakan Vaksin AI di Indonesia

Oleh: Drh Abadi Sutisna MSi

Alhamdulillah sampai akhir tahun 2009 Avian Influenza alias ”flu ayam” masih eksis di Indonesia, walaupun kasusnya tidak sehebat tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya kalau mau diintrospeksi, mau sampai kapan virus ini bisa diberantas? Bahkan apakah mungkin Indonesia bisa memberantasnya?

Barangkali sudah sekian puluh penelitian yang dilakukan oleh lembaga Departemen Pertanian, Universitas dan tak kurang-kurangnya bantuan asing yang mengaitkan expert yang satu dengan yang lainnya untuk meneliti penyakit akibat virus AI yang notebene adalah juga penyakit zoonosis. Belum lagi Depkes yang juga tak kalah rajinnya mengumpulkan data darah peternak ayam di Jawa Barat.

Kalau ditinjau dari segi pemberantasan penyakit seharusnya faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengendalian AI dengan kebijakan vaksinasi adalah:
1. jenis virus yang ada di lapangan.
2. jenis vaksin yang ada di pasaran.
3. jumlah vaksin yang tersedia.
4. kualitas vaksin, dan
5. pola penyebaran jenis virus.

Berangkat dari situ sudah barang tentu perlu diperhatikan juga ”Dinamika Virus AI” artinya virus ini sangat cepat berubah. Lihat saja gejala patologi anatomi yang ditimbulkan oleh virus AI pada awal outbreak di tahun 2003 sangat berbeda dengan gejala patologi anatomi pada AI yang sekarang.

Kedua, dinamika ayam dalam hal ini DOC, misalnya DOC yang diproduksi dari wilayah Jawa Barat divaksin dengan vaksin AI strain Legok, maka hanya dalam waktu beberapa jam kemudian ayam sudah sampai di Jawa Timur atau Bali. Dari sini bisa diartikan bahwa jenis vaksin yang di Jawa Barat sama dengan jenis vaksin yang di Jawa Timur atau Bali. Dengan demikian untuk dapat mengikuti dinamika virus AI dilapangan perlu kesinambungan Pemetaan Antigenik (antigene mapping) Virus AI sehingga dapat diikuti terus-menerus perkembangannya.

Sejauh ini belum diketahui pasti apakah kenaikan titer antibodi pada ayam dikarenakan oleh hasil vaksinasi ataukah karena infeksi alam. Hal ini perlu ditelaah supaya kita tidak terlena dengan hasil vaksinasi dari pemantauan tersebut, yang seharusnya perlu diperkuat dengan pelaksanaan program DIVA (Differentiating Infected from Vaccinated Animals).

Atas dasar itulah dirasa perlu dilakukan ”uji tantang” (challenge test) terhadap vaksin yang beredar di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya virus AI yang mana yang akan digunakan sebagai virus tantang? Juga perlu diyakinkan melalui kajian yang seksama bahwa virus yang digunakan untuk uji tantang adalah benar-benar mempresentasikan keadaan di lapangan. Uji tantang ini berlaku untuk semua jenis vaksin yang beredar di Indonesia baik produksi lokal maupun impor, sehingga mohon maaf kepada produsen vaksin lokal bukannya tidak percaya pada kualitasnya, tetapi supaya diketahui ketepatan policy pemberantasan AI.

Beberapa waktu yang lalu produsen vaksin AI dikejutkan dengan adanya ”issue” bahwa pemerintah hanya akan menggunakan vaksin AI H5N1 strain lokal. Pertanyaan berikutnya muncul, bagaimana dengan peternak yang telah terbiasa menggunakan vaksin impor? Kalau ujug-ujug impor vaksin tersebut distop akan timbul kekosongan stok vaksin akibatnya pembibit/peternak dirugikan dan lebih parah lagi virus shedding akan makin besar. Belum lagi hal ini juga dikhawatirkan akan kembali menyuburkan upaya penyelundupan vaksin ilegal dari luar negeri karena permintaan yang melambung tinggi sementara stok tidak ada. Untuk itu perlu dijaga agar impor vaksin tidak terhambat sebelum diberlakukan ketentuan baru.
Tenggang waktu harus diberikan untuk kesiapan bagi pemerintah maupun para importir dan produsen vaksin AI dalam negeri. Hal ini agar dapat memberi kesempatan persiapan yang cukup bagi importir maupun produsen vaksin sebelum membuat vaksin baru atau sebagai stok vaksin lama paling sedikit selama 12 bulan. Karena diketahui sebagian besar perusahaan pembibitan lebih mempercayai (fanatik) menggunakan vaksin AI yang menurut mereka sudah terbukti kehandalannnya.

Kemudian di bulan November 2009 lalu tersiar kabar bahwa pemerintah akan menentukan 4 masterseed virus AI yang bakal dijadikan vaksin AI. Nah keempat virus tersebut adalah :
  1. A/Chicken/West Java/PWT-WIJ/2001
  2. A/Chicken/Pekalongan/BBVW-208/2007
  3. A/Chicken/Garut/BBVW-223/2007
  4. A/Chicken/West Java (Nagrak)/30/2007
Mudah-mudahan masterseed ini sudah diuji purity, potency, proteksi, safety, stability dan quality-nya, sekali lagi mudah-mudahan. Berbagai pertanyaan kemudian muncul dari berbagai pihak mengenai rencana perubahan kebijakan vaksinasi AI ini. Beberapa pertanyaan itu diantaranya adalah, Siapa dan lembaga mana yang telah menguji keempat master seed tersebut? Tetapi peraturan tinggal peraturan. Di Indonesia tetap harus ada petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak). Artinya semua kebijakan tersebut tentu harusnya sudah melalui prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pemerintah pun melalui Surat Edaran yang ditandatangani Dirjen Peternakan No. 30099/PD.620/F/9/2009 tanggal 30 September 2009 memberikan kriteria yang jelas bahwa untuk menghasilkan vaksin yang baik dengan kualitas, efikasi dan keamanan yang tinggi serta potensi yang optimal master seed baru harus :
  1. Berasal dari subtipe H5N1,
  2. Sifat immunogenisitas tinggi,
  3. Sifat antigenisitas dengan cakupan geografis yang luas,
  4. Sifat genetik dan antigenik yang stabil, serta
  5. Tingkat proteksi yang tinggi terhadap uji tantang dengan beberapa isolat virus yang berbeda karakter genetik dan antigeniknya.
Pertanyaan berikutnya adalah kapan peraturan yang ditunggu itu akan keluar dan apakah akan segera berlaku? Dari keempat master seed tersebut, dimana disimpannya? Bagaimana cara produsen vaksin bisa mendapatkan master seed tersebut? Apakah harus “beli” atau hibah atau bagaimana prosedur mendapatkan master seed atau working seed-nya? Paling betul adalah produsen boleh membeli working seed dan wajib lapor kepada pemerintah tentang produknya. Jangan lupa untuk dilakukan pengujian produk akhir vaksin tersebut.

Pertanyaan lain lagi apakah produsen vaksin boleh mengkombinasi keempat working seed tersebut sehingga didapatkan vaksin AI polivalen atau bahkan menggunakan working seed yang mereka miliki sendiri sejauh sesuai dengan kriteria yang dipersyaratkan Pemerintah?
Selanjutnya apakah boleh dibuat vaksin rekayasa genetik dari empat masterseed yang ditetapkan pemerintah ini, misalnya vaksin rekombinan/reverse genetic? Pertanyaan ekstrim berikutnya muncul dari sisi produsen luar negeri adalah bolehkah dilakukan “toll manufacturingworking seed tersebut ke luar negeri?

Masukan ASOHI
Berbagai pertanyaan tersebut senada dengan masukan dari pertemuan dengan para importir dan produsen vaksin yang digelar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) 4-5 November silam dan telah disampaikan kepada Dirjen Peternakan secara langsung. Diantaranya dalam menentukan master seed, perwakilan perusahaan importir dan produsen vaksin AI sepakat memberikan masukan agar terjaminnya keamanannya dan kestabilannya serta daya proteksinya tinggi perlu pengkajian yang seksama sehingga dapat diperoleh suatu master seed yang unggul serta kemungkinan diperlukannya kombinasi beberapa kandidat master seed.

Lebih lanjut, master seed yang telah terpilih disimpan dan disediakan oleh Pemerintah yang dapat diperoleh bagi semua produsen obat hewan untuk di produksi baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh vaksin AI yang efektif dan aman agar dapat pula diberikan kesempatan bagi produk vaksin AI rekombinan.

Sementara untuk Pelaksanaan Uji Tantang supaya tercapainya daya proteksi yang tinggi agar virus yang digunakan dalam uji tantang benar-benar mempresentasikan strain virus yang ada pada berbagai lokasi di lapangan. Selain itu diharapkan di masa mendatang virus AI yang digunakan untuk uji tantang agar dapat diperoleh para produsen obat hewan untuk uji tantang diperusahaan masing-masing dalam rangka Internal Quality Control.

Perhatikan 4 ...Si
Atas semua paparan tersebut, Pemerintah sebagai pemegang kebijakan perlu memikirkan masak-masak manakala akan membuat kebijakan baru. Dengan kata lain perlu diperhatikan 4 ...Si nya, yaitu:
  1. Apa urgensinya?
  2. Bagaimana argumentasinya?
  3. Bagaimana aplikasinya?
  4. Serta apa konsekuensinya?
Kesimpulannya disini penulis kembali menegaskan agar Pemerintah jangan tergesa-gesa membuat peraturan baru yang akan berdampak besar bagi pelaku industri peternakan. Jawabnya mari kita tanya pada rumput yang bergoyang. (Red*)



Agrinex Expo Kembali Digelar

Pameran agribisnis berskala internasional akan digelar tahun ini pada 12-14 Maret mendatang di Jakarta Convention Center (JCC) Hall A dan Cendrawasih. Demikian pernyataan dari Ir. Rifda Amarina President Director Performax pada saat rapat persiapan panitia Agrinex International Expo 2010 dengan DEPTAN di Ruang Pola Lt. 2 gedung pertanian (7/12).

Performax, setelah tiga tahun berturut-berturut sukses dalam penyelenggaraan pameran agribisnis maka untuk tahun ini Agrinex Expo pun naik kelas menjadi Agribussines Expo International. Hal ini sesuai dengan amanat dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada sambutannya dalam pembukaan Agrinex 2009 lalu. Beliau juga menyatakan bahwa saat ini Indonesia telah berhasil dalam swasembada beras maka akan semakin banyak pula agribisnis yang harus di perbincangkan untuk diperjuangkan.

Dengan mengusung tema “Agribussines Destination for Lokal & Global Market” sehingga sudah pasti expo kali ini dapat menjadi tempat dimana trend kebutuhan dunia akan produk agribisnis dapat tergambar dengan jelas, sehingga akan tumbuh industri agribisnis yang berorientasi pada pasal global. “Beberapa Negara telah menyatakan akan hadir di Agrinex expo tahun ini diantaranya Perancis, Jepang, Polandia, Cina, Singapura dan yang lain pun akan segera menyusul kesertaannya,” ungkap Rifda kepada Infovet.

Kedepan Agrinex akan terus menjadi expo agribisnis di negeri ini dengan dukungan dari Departemen Perdagangan, Departemen Luar Negeri, Departemen Koperasi dan UKM serta dari Departemen Pertanian. Sehingga tentu saja Agrinex dapat menjadi fasilitator untuk para pelaku usaha, Litbang, CSR Program, PEMDA, serta Departemen terkait dalam menampilkan apa yang telah dan akan dilakukan dalam membangun agribisnis untuk kesejahteraan bangsa. Selain itu Agrinex akan menjadi tempat mendapatkan mitra bisnis dan inspirasi bisnis usaha bagi para buyer, trader dan investor.(all)

Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia

Ismapeti kembali menyelenggarakan kegiatan Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia (TIMPI) sebagai wujud kepedulian mahasiswa peternakan yang berhimpun dalam Ismapeti. Ketua Panitia Pelaksana Gandung Mahasiswa Prodi Ilmu Peternakan Fapertapet UIN Suska Riau menyatakan bahwa pelaksanaan TIMPI kali ini merupakan yang pertama kalinya di Riau, sehingga kegiatan rutin tahunan Ismapeti ini disambut baik oleh semua elemen mahasiswa peternakan se-Sumatera.

Kegiatan akbar ini diusung dengan tema Peranan Swasembada Pangan Dalam Membangun Ketahanan Pangan Nasional, dengan pembicara Ir Fauzi Luthan Direktur Ruminansi Deptan, Ir Tantan Rustandi Wiradarya MSc PhD Dekan Fapertapet UIN Suska Riau, dan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Riau drh Askardya R Patrianov. Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan lembaga tertinggi ditingkat mahasiswa peternakan (BEM/ Senat/ HMJ) se-Indonesia ini dilaksanakan pada tanggal 7-10 November di Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasyim (UIN SUSKA) Riau.

Seperti diketahui, kebijakan impor pangan menjadi sebuah program instan untuk mengatasi kekurangan produksi pangan dalam negeri. Namun hal ini membuat petani peternak semakin terpuruk dan tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas tersebut. Akibat over suplai pangan impor tersebut seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah dan tidak sebanding dengan biaya produksi, sehingga petani menjadi rugi.

Rangkaian kegiatan TIMPI yang diselenggarakan di Bumi Melayu Riau ini meliputi Lomba Karya Tulis Mahasiswa dan SMA, Leadership Training, Kampanye Gizi Masyarakat, dan Kunjungan Ilmiah ke Peternakan. Tampil sebagai pemenang adalah karya ilmiah milik Siska Aditya Mahasiswa Fapet UGM Yogyakarta. Pemuncak lainnya adalah Fapet Udayana, Fapet IPB, Fapet Undip, dan Fapet Unja. Sementara itu untuk tingkat SLTA, keluar sebagai pemenang adalah Dini Umairoh siswi SMA Negeri 11, SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 8 Pekanbaru. Satu hal yang menjadi bahan masukan dari Ismapeti sebagai lembaga profesi mahasiswa peternakan untuk pemerintah adalah pemerintah harus lebih berani mengurangi ketergantungan pada impor dan lebih memilih sumber daya lokal untuk ketahanan pangan nasional. (Sadarman)


Prospek Agribisnis 2010,Bisa Lebih Baik

Menatap perkembangan agribinis Indonesia ke depan merupakan agenda yang kerap dilakukan setiap jelang akhir tahun. Hal inilah yang melatarbelakangi Agrina menggelar seminar nasional ”Agribusiness Outlook 2010” yang berlangsung di Menara 165, Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan pada Rabu 25 November lalu.

Beberapa nama narasumber dipercayakan untuk menjadi pembicara dan menyumbangkan analisisnya untuk prospek perkembangan sektor pertanian di negeri ini, antara lain yaitu Guru Besar Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Dr Ir Hermanto Siregar, MEc yang memaparkan “Tantangan dan Peluang Pertumbuhan dan Perkembangan Agribisnis Indonesia 2010”; Ketua Pusat Studi Inovasi Agribisnis Dr Ir Agus Wahyudi mengangkat makalah berjudul “Prospek Investasi Industri Bahan Bakar Nabati Perkebunan”; serta Program Manager Agribusiness International Finance Corporation (IFC) Ernest E Bethe III yang menyampaikan IFC Overview.

Perkembangan sektor agribisnis di Indonesia tahun 2009 menunjukkan angka positif, yaitu sekitar 5,5 hingga 6%, lalu bagaimana dengan prediksi dan harapan untuk tahun 2010 ini. Menteri Pertanian Suswono dalam sambutan pun berharap dalam Outlook and Evaluation di seminar ini dapat merumuskan hasil yang konkrit untuk pertumbuhan agribisnis di Indonesia.

Prospek agribisnis tahun 2010 bisa lebih baik dari tahun lalu serta produk pertanian dan pangan pun akan lebih bisa bersaing di pasar dunia, namun hal ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi global dan makroekonomi Indonesia. Disamping itu juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang integrated dan komprehensif yaitu kebijakan dari hulu sampai hilir dalam hal supporting system.

Moderator seminar Dr Ir Rachmat Pambudy MS menyampaikan bahwa perlunya dukungan pemerintah yang meliputi beberapa kebijakan yaitu: kebijakan input yang meliputi pupuk, benih, lahan, air, dan kredit; Kebijakan on farm untuk perlindungan kepada pihak pelaku agribisnis; Kebijakan lahan, transportasi maupun harga yang tidak tumpang tindih; dan kebijakan yang terakhir adalah proteksi dan promosi.

“Kalau memang pemerintah tidak bisa melindungi harga, itu karena memang hanya kadang-kadang saja kita panen serentak, namun paling tidak pemerintah dapat memberikan perlindungan harga terhadap impor yang tidak adil. Sebab, sudah ada tanda-tanda lagi Indonesia mau mengimpor paha ayam dan produk daging, yang dalam prakteknya itu tidak baik. Pelaku usaha ingin melakukan perdagangan yang adil, sehingga perlu perlindungan dari unfair trade (perdagangan tidak adil),” ungkap Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia pada sesi rangkuman seminar.

Seminar pun ditutup dengan penganugerahan Agrina Award 2009 yang meliputi tiga kategori dan pemenang. Kategori Pelaku Agribisnis Muda Inspiratif diberikan kepada David Andi Purnama, (formulator probiotik), kategori Kepala Daerah Kreatif dalam Pengembangan Agribisnis diraih Bupati Merauke Drs Johannes Gluba Gebze. Sedangkan untuk kategori Pelaku Agribisnis Inovatif, pemenangnya adalah PT East West Seed Indonesia.(all)

Kunjungan Tim GMP Inspection dari Pakistan ke Medion

Pada tanggal 22-26 November 2009, Medion kedatangan tamu lagi dari Organisasi Pengkontrolan Obat Departemen Kesehatan Pakistan yaitu Mr. Ghulam Rasool Dutani selaku Deputy Director General (Registration) dan Mr. Akhtar Abbas Khan selaku Deputy Drugs Controller. Keduanya melakukan inspeksi terhadap Good Manufacturing Practice (GMP) produk biologik di PT. Medion.

Selama lima hari di Bandung, kedua tamu mendapat penjelasan detail mengenai profil perusahaan dan melakukan peninjauan langsung terhadap fasilitas produksi vaksin, mulai dari gudang bahan baku, ruang proses produksi, laboratorium Quality Control (QC) dan pengujian hewan hingga Supply and Distribution Medion (S&D) yang berfungsi mendistribusikan produk.

Mr. Ghulam Rasool Dutani dan Mr. Akhtar Abbas Khan mengungkapkan kekagumannya terhadap fasilitas produksi yang dimiliki oleh PT. Medion. Terlebih lagi, aturan GMP yang diterapkan secara ketat mulai dari pengadaan bahan baku hingga distribusi ke tangan customer sehingga kualitas produk tetap terjaga.

Sebelumnya pada bulan Mei 2009, Medion juga telah menerima kunjungan dari tim Departemen Pertanian Pakistan yang juga melakukan GMP Inspection untuk produk farmasetik. Sehingga dalam tahun 2009, sudah dua kali tim dari Pakistan mengunjungi Medion. Ini menunjukkan apresiasi tinggi serta pengakuan produk-produk Medion secara internasional khususnya dari Pakistan. Suatu kebanggaan bagi kita semua karena Medion sebagai perusahaan Indonesia bisa semakin berkibar di pasar internasional. Selamat!.(red)

Anthrax Masih Ancam Wilayah Nusa Tenggara

Kawasan padat populasi ternak sapi di pulau Lombok dan Sumbawa perlu dilindungi dari ancaman penyakit Anthrax.

Pada tanggal 23-25 Nopember 2009 bertempat di Hotel Lombok Garden Mataram, telah dilaksanakan Rakor Penanganan Penyakit Anthrax Regional Bali, NTB dan NTT. Penyakit Anthrax atau sering dikenal dengan nama penyakit radang Limpa adalah suatu penyakit bakterial menular yang dapat menyerang hampir semua hewan berdarah panas dengan tanda-tanda demam tinggi yang diikuti gejala sepsis dengan perdarahan yang hebat dan sangat akut. Penyakit ini selain menyerang hewan dapat bersifat zoonosis menular pada manusia.

Penyakit Anthrax disebabkan oleh kuman bakteri yang disebut Bacillus anthracis merupakan kelompok kuman gram positif berbentuk batang berkapsul dan berantai panjang. Kuman anthrax apabila berada di luar induk semang, akan membentuk spora akan sangat tahan hidup dan sulit diberantas serta spora dapat mencemari lingkungan hingga berpuluh tahun.

Itulah sebabnya wilayah Nusa Tenggara merupakan daerah Endemis Anthrax, sedangkan daerah bebas hanya Pulau Bali dan Lombok, untuk NTB penyakit Anthrax dilaporkan terjadi di Pulau Sumbawa yaitu di Kabupaten Sumbawa tahun 1997, 1998, 2002 dan 2004, kabupaten Bima tahun 2003 dan kabupaten Dompu tahun 1985 dan 1986. Sedangkan Pulau Lombok Bebas Kasus sejak tahun 1988, untuk Propinsi NTT kejadian Anthrax dilaporkan dihampir semua kabupaten seperti Sumba Timur tahun 1980, Pulau Sabu tahun 1987 dan 2006. Sumba Barat tahun 2007, Manggarai Barat tahun 2008 dan Ngada tahun 2008 dan 2009.

Pada Rakor tersebut dievaluasi permasalahan yang terjadi dalam pengendalian penyakit anthrax di Wilayah Nusa Tenggara antara lain :
  1. Masih rendahnya cakupan vaksinasi (<50>
  2. Jumlah dosis vaksin yang tersedia masih kurang (NTB 62%, NTT 65,9%).
  3. Tidak optimalnya pelaksanaan pengendalian karena medan/topografi yang sulit.
  4. Masa proteksi yang pendek sehingga diperlukan ulangan setiap 6 bulan.

Drh Maria Geong Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur menambahkan permasalahan di NTT yang ada antara lain kurangnya SDM Dokter Hewan dan Paramedis Veteriner serta Puskeswan di wilayah endemis anthrax , belum tersedianya kartu identifikasi ternak sebagai alat kontrol vaksinasi, juga minimnya informasi data kejadian penyakit anthrax sehingga menyulitkan pemetaan penyakit hingga tingkat desa/dusun.

Beberapa Rekomendasi yang dihasilkan dalam Rakor tersebut untuk ditindak lanjuti oleh masing-masing propinsi/kabupaten kota antara lain :
  1. Vaksinasi anthrax di wilayah endemis sebagaimana yang tercatat dalam peta penyebaran penyakit anthrax harus dilakukan secara masif (cakupan 100%).
  2. Kajian epidemiologi dalam upaya pemetaan kasus anthrax 30 tahun terakhir harus segera dilakukan guna menunjang kebijakan skala prioritas lokasi vaksinasi.
  3. Pengawasan lalu-lintas ternak harus dilakukan dengan ketat, terutama larangan ternak peka masuk ke daerah tertular dan ternak dari daerah tertular yang keluar harus sudah divaksinasi.
  4. Meningkatkan sarana dan prasarana laboratorium dan Puskeswan dalam pengendalian penyakit anthrax melalui kesepakatan pembiayaan bersama antara pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota.
Dengan memahami permasalahan dan diikuti tindak lanjut rekomendasi yang diimplementasikan dalam kegiatan lapangan, diharapkan kasus anthrax dapat ditekan dan dikendalikan. Selamat bekerja dan semoga berhasil. (Drh Heru Rachmadi/NTB)

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template