Tuesday, January 12, 2010

IRONI HARI PANGAN SEDUNIA

Milis disebuah komunitas pertanian mengungkapkan bahwa peringatan akbar ”Hari Pangan Sedunia Nasional ke-29, berlangsung melempem (baca: kurang bergairah)” demikian cuplikan dari forum diskusi ranah maya itu. Peserta diskusi menduga ada beberapa penyebabnya. Antara lain karena nyaris bersamaan dengan pergantian kabinet, anggaran untuk pelaksaan cekak alias mepet, atau mungkin petani sedang berduka karena panen raya jagung dan kedelai ”anjlog jlog” jauh lebih dari separo harga sebelumnya.

Liputan Tim Pemantau Infovet (LTPI), yang ikut pembukaan di hari pertama dan dilanjutkan pameran tidak bisa dibantah bahwa peserta pameran cukup banyak, karena hampir semua ruang penuh, namun sepi pengunjung. Ketika LTPI kembali mengunjungi ke lokasi pameran ternyata masih juga belum mampu menarik minat masyarakat untuk sekadar melihat-lihat.

Ada beberapa hal menarik yang perlu dicatat pada kegiatan nasional ini. Pertama, mungkin pilihan momen atau waktu pameran yang kurang tepat karena hampir bersamaan dengan terjadinya pergantian menteri. Kedua, lokasi pameran yang sangat jauh dari pemukiman penduduk, sehingga tentu saja mengurangi minat pengunjung. Ketiga, lokasi pameran yaitu Kawasan Wisata Candi Prambanan-CandiBoko adalah lokasi yang secara pariwisata, memang menarik, tetapi sayang berada di tengah-tengah dua kota Klaten dan Jogja yang relatif sama jauhnya. Dan keempat, mungkin publikasi dari panitia penyelenggara sangat minim, atau mungkin tidak ada sama sekali penyebaran informasi melalui radio atau koran-koran dan juga televisi. Dan yang terakhir atau kelima adalah petani sebagai pelaku budidaya tanaman pangan sedang berduka.

Slot ruang pamer yang berada di tengah lapangan memang relatif luas dan nyaman karena berpengatur udara/AC, namun hampir 95% diisi oleh instansi pemerintah pusat dan propinsi se Indonesia.. Peran serta swasta kebanyakan memilih di luar ruang pameran dan umumnya mendirikan warung makan untuk pengunjung dan peserta pameran, itupun sepi pembeli.
Seorang peserta pameran dari Dinas Pertanian Sumatera Selatan kepada Infovet menyatakan perasaan senangnya tetapi sekaligus prihatin. Senang dan beruntungnya, karena dapat berwisata gratis, namun juga kecewa karena apa yang dipersiapkan instansinya seolah tidak ada artinya sama sekali. ”Yah beruntunglah bisa wisata gratis ke Jawa, meski capek karena menempuh perjalanan darat. Namun saya juga sangat kecewa, karena pengujung tidak seperti yang kami bayangkan...sepi dan sangat sepi sekali,” ujar Muh Nurdin.

Seorang pengunjung yang ditemui Infovet, merasa prihatin dengan minat pengunjung yang demikian sepi. Padahal sangat banyak sekali manfaat yang dapat dipetik jika melihat pameran. Bahkan jika kalangan swasta diundang akan banyak sekali minat para pengusaha untuk berinvestasi baik langsung maupun tidak langsung.

Seperti diketahui Pameran yang digelar di lapangan sisi utara Kompleks candi Prambanan ini, dalam rangka peringatan Hari Pangan Sedunia Tingkat Nasional yang ke-29 menurut rencana dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, dengan alasan sedang mengurusi bencana alam Gempa di Sumbar, kegiatan itu di buka oleh Menteri Pertanian Anton Apriantono yang didampingi oleh Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gubernur Jawa Tengah.

Dalam sambutannya Anton menyatakan bahwa Indonesia pada tahun 2008 telah mampu mencapai prestasi besar setelah lebih dari 24 tahun prestasi itu dicapai. Tahun 1984 Indonesia pernah meraih negara yang mampu berswasembada beras, kemudian baru 24 tahun berikutnya (2008) prestasi kembali diraih. Langkah berikut adalah untuk menciptakan ketahanan pangan, sehingga jika saja terjadi gejolak harga komoditi pangan, Indonesia tidak mengalami masalah. Untuk itu menjadi perlu penganekaragaman bahan pangan pokok penduduk di Indonesia sesuai dengan ciri spesifik budaya masyarakat masing-masing.

Menurut Badan Pangan Dunia (FAO) sendiri, lebih dari 1,01 milyar penduduk di dunia pada tahun 2009 mengalami kekurangan pangan. Oleh karena itu menjadi penting jika Indonesia mampu melanjutkan swasembada pangan ke tingkat ketahanan pangan untuk kemudian berkontribusi membantu kawasn lain yang kekurangan bahan pangan.

Sangat disayangkan sekali, ketika pameran itu berlangsung, para petani jagung dan kedelai sedang dirundung masalah. Panen raya yang seharusnya membawa kegembiraan, ternyataberbuah duka nestapa, karena harga jual panen kedua komoditi tersebut anjlog hampir 200%. Jagung yang sebelumnya pernah mencapai Rp 3500/kg menjadi hanya Rp 1500/kg, sedangkan kedelai dari semula Rp 8000/kg anjlog hingga mencapai Rp 3500/kg.

Apes dan memprihatinkan sekali kondisi itu. Tidak ada pihak yang bersimpati dan mencarikan jalan keluar. Bahkan dalam acara itu sama sekali tidak disinggung nestapa petani jagung dan kedelai dalam sambutan para pejabat saat pembukaan. Mungkin perlu ditiru upaya positp yang dilakukan Gubernur Gorantolo dan Bupati Bantul. Kedua pejabat itu pasang badan mencari solusi ketika ada masalah dengan rakyat/ petaninya. Fadel Muhammad mengambil pilihan membeli kopi dan coklat panen petani ketika harga jatuh, tetapi membiarkan petani menjual langsung ketika harga sedang baik. Begitu juga Idham Samawi, yang membeli beras dan bawang merah panen petani ketika harga di pasar anjlog. Bahkan Idham menghimbausama sekali tanpa tekanan kepada para pegawainya di kabupaten Bantul untuk membeli beras dan bawang merah dari petani.

Ironis memang negara Indonesia ini, sebuah negara agraris tetapi petaninya terlalu sering dirundung sengsara. Semoga kabinet mendatang mampu mensejahteraan petani pada khususnya dan rakyat besar pada umumnya (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template