BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN

BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN

(( Bali yang merupakan kawasan pariwisata berkelas dunia yang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies sekarang tinggal kenangan. Kini kita hanya dapat membaca catatan sejarah berdasar Hondsdolhed Ordonantie (staatblad 1926, No. 451 yunto Stbl 1926 No. 452) yang menyatakan bahwa beberapa wilayah karesidenan dan pulau di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu bebas rabies termasuk di antaranya wilayah Karesidenan Bali. ))

Semula Banjar Giri Darma, Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali gempar. Ungasan dinyatakan status siaga menyusul temuan dua warga yang dikategorikan sebagai suspect rabies. Pasalnya, hingga saat itu Bali belum pernah dinyatakan sebagai daerah tertular rabies.
Dinas Kesehatan Pusat sudah terjun ke Bali. Didapati, ada empat warga yang tergigit anjing kampung, Mohamad Oktav Rahmana Putra (3 tahun), Linda (4), Ketut Wirata, Kadek Artana (21), semua tewas. Tetapi, jarak gigitan dengan tewas masih simpangsiur. Hanya saja, Ketut Wirata digigit bulan September dan meninggal 23 Nopember 2008. Apakah kasus ini akibat rabies?
Dari hasil pemeriksaan medis saat itu, ada dugaan sementara Wirata terkena radang otak. Saat itu menunggu hasil pemeriksaan PCR. Masih dalam pemeriksaan lebih lanjut dan masih menyamakan persepsi. Yang pasti 27 Nopember mulai dilakukan depopulasi anjing tak bertuan di daerah Ungasan. Bahkan, anjing milik Made Cawi, Banjar Sari Karya, Ungasan yang habis menggigit sudah diisolasi dalam kandang.
Menurut Drh. I Dewa Ngurah Dharma, M.Sc, Ph.D, 26 Nopember sore Balai Besar Veteriner Denpasar mendapat spesimen anjing yang baru mati dan dari hasil pemeriksaan jaringan melalui pengecatan Seller untuk melihat Negri bodies hasilnya negatip. Spesimen lain telah dikirimkan ke Maros yang sudah sering memeriksa spesimen rabies.
Begitu juga menurut pendapat Drh Soegiarto, M.Sc., Ph.D Kepala BB Veteriner Denpasar yang ditemui di rumah dinasnya, menyatakan BB Veteriner Denpasar telah mendapatkan spesimen dari Dinas Peternakan Badung berupa otak segar dua ekor anjing yang sudah mati maupun yang sudah pernah menggigit dan saat ini sedang dikerjakan di laboratorium. Hasil pemeriksaan dikirim ke Dinas Peternakan Badung.
Dari hasil informasi berbagai sumber, beberapa tahun ini ada sekitar 60-70 kasus orang digigit anjing, tetapi jarang yang mau berobat ke Puskesmas maupun dokter.

Akhirnya...

Dari hasil pemeriksaan PCR, FAT maupun imunohistokimia pada kasus-kasus di atas, akhirnya Bali pun benar-benar dinyatakan positip sebagai daerah tertular rabies. “Pulau Bali dinyatakan berstatus wabah rabies,” pernyataan status wabah itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1637/2008, yang ditandatangani Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada 1 Desember 2008.
Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D Soedjana pada 5/12 di Jakarta, mengungkapkan, wabah rabies di Pulau Bali ini yang pertama dalam sejarah. Selama ini Pulau Dewata bebas penyakit rabies. Penetapan wabah rabies tersebut dikeluarkan setelah melalui kajian gejala klinis, yang tampak pada anjing sebagai hewan penular rabies (HPR) ataupun manusia sebagai korban gigitan.
Dituturkan Tjeppy, penetapan wabah mengacu pada epidemiologi penyakit dan hasil pengujian laboratorium terhadap spesimen otak anjing liar ataupun anjing piaraan yang menggigit masyarakat. Uji laboratorium spesimen dilakukan di Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar, Bali dan dikonfirmasi pada BB-Vet Maros, Sulawesi Selatan 28 November 2008.
Penyakit rabies di Bali terungkap setelah ada empat orang dari tiga desa di Bali digigit anjing dalam periode September-November 2008. Dari empat orang itu, dua positif tertular rabies, sedangkan dua orang lain memiliki riwayat digigit anjing. Tiga desa yang dimaksud adalah Desa Ungasan di Kecamatan Kuta Selatan serta Desa Kedonganan dan Jimbaran di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Tjeppy menyatakan, karena Kabupaten Badung tak memiliki batas alam bagi terisolasinya anjing rabies dan agar penyakit rabies tidak menyebar ke wilayah di luar Pulau Bali, status wabah rabies ditetapkan di seluruh Pulau Bali.

Tertutup

Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pertanian, Gubernur Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 88/2008 tentang Penutupan Sementara Pemasukan atau Pengeluaran Anjing, Kucing, Kera, atau Hewan Sebangsanya dari dan ke Provinsi Bali per 1 Desember 2008. Pulau Bali juga dinyatakan sebagai kawasan karantina.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Turni Rusli menambahkan, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), apabila ditemukan ada satu kasus penyakit hewan menular pada daerah yang sebelumnya berstatus bebas, wabah harus segera dinyatakan. ”Pemerintah berharap dalam waktu tiga bulan wabah rabies dapat dikendalikan,” katanya.
Tjeppy menyatakan, hingga 4 Desember tercatat 110 ekor anjing divaksinasi untuk mengantisipasi penularan rabies dan 196 ekor anjing yang tertular rabies, anjing liar, atau yang diliarkan dieliminasi atau dimusnahkan.
Secara terpisah, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan, Depkes sudah menyediakan vaksin rabies sebanyak 400 dosis untuk masyarakat di Kabupaten Badung, Bali. Hingga 27 November tercatat telah ditemukan 74 kasus gigitan. Rabies, lanjut Menkes, merupakan penyakit menular yang berbahaya dan bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu, Depkes telah menerjunkan tim kesehatan khusus.

Bebaskan dalam Tiga Bulan

Departemen Pertanian (Deptan) pun mengharapkan dalam tiga bulan wabah rabies yang menyerang provinsi Bali bisa dikendalikan setelah dilakukan berbagai upaya penanggulangan. Dirjen Peternakan Deptan Tjeppy D Soedjana mengatakan, berbagai langkah yang telah dilakukan untuk mengantisipasi wabah rabies yang saat ini tengah merebak di Bali yakni vaksinasi massal terhadap anjing peliharaan dan melakukan pendataan terhadap populasi dan pemilik anjing serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat.
Bagi anjing-anjing liar yang berkeliaran tidak ada yang memelihara akan di musnahkan dengan cara memberikan vaksin yang mematikan (racun) dengan melalui pembiusan. "Untuk itu, Deptan menyiapkan vaksin rabies sebanyak 50 ribu dosis untuk menanggulangi merebaknya wabah penyakit tersebut di provinsi Bali," kata Tjeppy.
Dari jumlah tersebut sebanyak 20 ribu dosis diantara telah dikirimkan sedangkan 30 ribu sisanya sebagai cadangan. "Pengiriman vaksin tersebut sebagai langkah awal pemerintah untuk penanggulangan rabies di propinsi Bali," tambah Dirjen.
Selain itu Deptan telah membentuk Tim Penyidik yang terdiri dari unsur Ditjen Peternakan, Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, Dinas Peternakan Provinsi Bali dan Kabupaten Badung untuk mengetahui asal usul wabah rabies tersebut mengingat Pulau Bali sebelumnya merupakan daerah bebas rabies.
"Dengan dilaksanakannya tindakan-tindakan tersebut diharapkan dalam tiga bulan wabah rabies ini dapat terkendali," ucap Dirjen Peternakan seraya menambahkan, akan dilakukan kegiatan surveilans serologis dan epidemiologis untuk meraih status bebas kembali Pulau Dewata dari Rabies.
Menurut dia, sebanyak delapan desa di Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung, Bali dinyatakan telah terjadi wabah rabies yang menyerang hewan anjing. Penetapan tersebut, tambahnya, berdasarkan gejala klinis yang tampak, baik pada hewan penular rabies khususnya anjing maupun pada korban manusia, epidemiologi penyakit serta hasil pengujian secara laboratories pada Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
Selain itu juga dari dikonfirmasi ulang pada BBVet Maros tanggal 28 November 2008 terhadap warga masyarakat di Desa Ungasan, Kadonganan dan Jimbaran Kecamatan Kuta dan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Tjeppy mengungkapkan, dari 20 ribu ekor populasi anjing di Bali hingga saat ini sebanyak 110 ekor anjing telah menjalani vaksinasi rabies sementara 196 ekor telah dimusnahkan.

Liputan Khusus

Begitulah, di tengah upaya pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010, penanganan penyakit, terutama penyakit pada hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis) ternyata masih banyak menemui kendala.
Adanya penyakit Rabies di Bali yang semuala daerah bebas Rabies adalah salah satu bukti nyata lemahnya sistem kesehatan di Indonesia. Khususnya sistem kesehatan hewan nasional (siskeswannas).
Bali yang merupakan kawasan pariwisata berkelas dunia yang sejak zaman penjajahan kolonial Belanda dinyatakan sebagai daerah bebas rabies sekarang tinggal kenangan. Kini kita hanya dapat membaca catatan sejarah berdasar Hondsdolhed Ordonantie (staatblad 1926, No. 451 yunto Stbl 1926 No. 452) yang menyatakan bahwa beberapa wilayah karesidenan dan pulau di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu bebas rabies termasuk di antaranya wilayah Karesidenan Bali.
Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus yaitu Lyssa virus dari famili Rhabdo viridae yang bersifat zoonosis dengan angka kematian (case fatality rate) mencapai 100%, sehingga rabies dikenal sebagai penyakit yang hampir selalu mematikan (almost always fatal) bila telah timbul gejala klinis, baik pada hewan maupun manusia.
Lebih jauh tentang seluk-beluk Rabies di Bali ini dapat Anda baca pada Liputan Khusus Infovet Januari 2009 sebagai langkah berikut sekaligus langkah awal kewaspadaan kita di tahun 2009. (Mas Djoko R/Dps/Kps/Ant/YR)

SINAR X UNTUK KEDOKTERAN HEWAN

SINAR X UNTUK KEDOKTERAN HEWAN

(( KIVNAS X (Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional X PDHI 2008) yang dilaksanakan di IPB International Convention Center (IICC) di Bogor pada 19 Agustus sampai dengan 22 Agustus 2008 di antaranya mempresemntasikan pemanfaatan radiografi sebagai sarana diagnostik penunjang dalam dunia kedokteran hewan yang aman bagi hewan, manusia dan lingkungan. ))

M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana dari Bagian Bedah dan Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa Radiografi merupakan sarana penunjang diagnostik yang sudah berkembang pesat baik didunia kedokteran manusia maupun dalam dunia kedokteran hewan yang bertujuan untuk kesejahteraan.
Menurut ilmuwan tersebut, pemanfaatan sinar-x dalam radiodiagnostik dunia kedokteran hewan sangat menunjang dalam penegakkan diagnosa. Secara tidak langsung hal ini akan memberikan kontribusi radiasi yang berasal dari sumber radiasi buatan terhadap pasien.
Kontribusi radiasi buatan akan menimbulkan efek biologis yang secara langsung atau tidak langsung akan diderita oleh penerima radiasi. Pemanfaatan radiasi yang semena-mena tanpa memperhatikan bahayanya sangat merugikan pada banyak pihak yang ikut andil dalam radiogafi.
Selanjutnya, kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana, pemanfaatan radiasi di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Oleh karena itu, maka pemanfaatan sinar-x sebagai radiodiagnostik bidang kesehatan telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta Surat Keputusan Kepala BAPETEN Nomor 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja dengan Radiasi.
“Dengan demikian segala sesuatu berkaitan pemanfaatan radiasi untuk radiodiagnostik harus dilakukan dengan arif dan bijaksana yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan,” kata dua ilmuwan itu.
M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana bermaksud sosialisasi pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnosa penunjang (radiodiagnostik) dalam dunia kedokteran hewan yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan.

Sejarah Sinar X
Sinar-x ditemukan oleh ahli fisika Jerman yang bernama Wilhelm Conrad Roentgen pada 8 November 1895, sehingga sinar-x ini juga disebut Sinar Roentgen.
Perkembangan Roentgen di Indonesia dimulai oleh Dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiologi berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta. Pemanfaatan sinar-x ini terus berkembang dari tahun ke tahun dan sudah banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran hewan sebagai sarana penunjang diagnosa.

Radiasi Ionisasi
Sinar-x merupakan gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton sebagai gelombang listrik sekaligus gelombang magnit. Energi sinar-x relative besar sehingga memiliki daya tembus yang tinggi. Sinar-x tebagi atas 2 (dua) bentuk yaitu sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrahlung.
Proses terbentuknya sinar-x diawali dengan adanya pemberian arus pada kumparan filament pada tabung sinar-x sehingga akan terbentuk awan elektron. Pemberian beda tegangan selanjutnya akan menggerakkan awan elektron dari katoda menumbuk target di anoda sehingga terbentuklah sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrahlung.
Sinar-x yang dihasilkan keluar dan jika beinteraksi dengan materi dapat menyebabkan beberapa hal diantaranya adalah efek foto listrik, efek hamburan Compton dan efek terbentuknya elektron berpasangan. Ketiga efek ini didasarkan pada tingkat radiasi yang berinteraksi dengan materi secara berurutan dari paling rendah hingga paling tinggi. Radiasi ionisasi akan mengakibatkan efek biologi radiasi yang dapat terjadi secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Bahaya Efek Biologis Radiasi
Disamping sinar-x memiliki nilai positif juga memiliki nilai negatif secara biologis. Efek biologis berdasarkan jenis sel yaitu efek genetik dan efek somatik. Efek genetik terjadi pada sel genetik yang akan diturunkan pada keturunan individu yang terpapar. Sedangkan efek somatik akan diderita oleh individu yang terpapar radiasi.
Apabila ditinjau dari segi dosis radiasi, efek radiasi dapat dibedakan berupa efek stokastik dan deterministik (non stokastik). Efek stokastik adalah peluang efek akibat paparan sinar-x yang timbul setelah rentang waktu tertentu tanpa adanya batas ambang dosis.
Sedangkan efek deterministik (non stokastik) merupakan efek yang langsung terjadi apabila paparan sinar-x melebihi ambang batas dosis dimana tingkat keparahan bergantung pada dosis radiasi yang diterima. Dosis radiasi bersifat akumulatif sehingga dosis paparan yang diterima akan bertambah seiring dengan frekuensi radiasi yang mengenahinya.

Keselamatan Radiasi dalam Radiodiagnostik
Keselamatan radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi pasien (hewan), pekerja (operator, dokter hewan, paramedis), anggota masyarakat dan lingkungan hidup dari bahaya radiasi. Radiodiagnostik merupakan kegiatan yang memanfaatkan energi (sinar-x/foton) untuk tujuan diagnosis berdasarkan panduan Radiologi.
Syarat proteksi radiasi dalam pemanfaatan sinar-x sebagai sarana penunjang diagnosa radiodiagnostik harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah (1) justifikasi pemanfaatan tenaga nuklir, (2) limitasi dosis dan (3) optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi.
Justifikasi didasarkan pada manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang timbul. Limitasi dosis ditentukan oleh BAPETEN dan tidak boleh dilampaui atau disebut dengan Nilai Batas Dosis (NBD). NBD adalah dosis terbesar yang dapat diterima dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik akibat pemanfaatan tenaga nuklir.
“Optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar dosis yang diterima serendah mungkin dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi,” kata dua ilmuwan itu.

Tindakan Keselamatan Radiasi Radiodiagnostik
Keselamatan pasien dilakukan dengan meminimalisasi dosis paparan. Tindakan dilakukan dengan cara memperkecil luas permukaan paparan, mempersingkat waktu paparan, menggunakan filter dan menggunakan tehnik radiografi dengan memanfaatkan kV tinggi.
Keselamatan operator (dokter hewan) terhadap paparan radiasi dilakukan dengan melakukan radiografi dalam jarak sejauh mungkin dari sumber sinar-x, menggunakan sarana proteksi radiasi (apron Pb, sarung tangan Pb, kaca mata Pb, pelindung tiroid Pb dan alat ukur radiasi) serta mempersingkat waktu radiasi.
Keselamatan lingkungan terhadap bahaya radiasi dilakukan dengan merencanakan desain ruang radiografi yang aman baik bagi pasien, operator dan lingkungan. Melapisi ruangan dengan Pb dan memperhitungkan beban kerja ruangan terhadap sinar-x yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Yang Harus Diperhatikan
Pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnostik penunjang penegakkan diagnosa. “Harus memperhatikan efek biologis negatif dalam radiografi sehingga pemanfaatan sinar-x menjadi aman baik bagi hewan manusia dan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana mengakhiri bahasannya. (KIVNAS/ YR)

KONGRES ILMIAH INTERNASIONAL BAGI DOKTER HEWAN

KONGRES ILMIAH INTERNASIONAL BAGI DOKTER HEWAN

Agenda Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) sesuai hasil Mukernas I bulan Mei 2007 serta didukung oleh berbagai Organisasi Sekeahlian/Seminat dan Sebidang kerja (Organisasi Non Teritorial/ONT) di bawah PDHI adalah diselenggarakannya KIVNAS X di tahun 2008.

Pada 2008 ini pun, Hari Veteriner Dunia tanggal 29 Juli turut dirayakan bersamaan pelaksanaan Kongres ke-29 Organisasi Dokter Hewan Dunia (World Veterinary Association) dengan tema ”CELEBRATE OUR DIVERSITY”. Sementara Fakultas Kedokteran Hewan IPB pada 2008 telah ditunjuk menjadi tuan rumah pertemuan ilmiah pada pertemuan Asia Zoo/Wildlife Medicine and Conservation (AZWMC) di Taiwan tahun 2007.

Maka, akan terselenggaralah Penggabungan KIVNAS X dengan AZWMC 2008 yang rencananya dilaksanakan di IPB International Convention Center (IICC) di Bogor pada 19 Agustus sampai dengan 22 Agustus 2008. Kepada Infovet, Ketua Umum PB PDHI Drh Wiwiek Bagja juga menyampaikan hal-hal penting terkait acara tersebut, di antaranya keikutsertaan peserta yang jauh sebelumnya sudah begitu banyak yang terdaftar.

Menurut Sekretariat KIVNAS X PDHI di Sekretariat PB PDHI di Jakarta, estimasi jumlah peserta adalah 800 orang. Peserta dari kegiatan ini adalah : Para dokter hewan peneliti, praktisi, pengajar dan PNS diberbagai instansi pemerintah terkait kehewanan (veteriner), pelaku usaha bidang kehewanan/peternakan dan obat hewan, para ilmuwan dan aktifis konservasi, organisasi non pemerintah dalam kehewanan, kesejahteraan hewan, para pemerhati kesehatan hewan dan mahasiswa di berbagai fakultas kedokteran hewan, peternakan, biologi dan kehutanan (konservasi).

Dijelaskan, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Animal Health Organization /WAHO atau Office des Internationale Epizootic/OIE) Dr. Bernard Vallat memberikan sinyal kuat pentingnya profesionalisme dan kompetensi profesi veteriner dalam melayani masyarakat dunia. Hal ini akan semakin berarti melalui upaya peningkatan kualitas secara terus-menerus, seperti pendidikan berkelanjutan berkala yang terakreditasi dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh institusi pendidikan maupun organisasi yang kompeten.

Panitia menjelaskan, sebagai pendidikan berkelanjutan berkala yang terakreditasi, kegiatan ilmiah bersifat nasional dan internasional bagi masyarakat intelektual termasuk bidang veteriner adalah suatu ajang penting yang perlu diselenggarakan untuk memperoleh berbagai pengetahuan terkini dari para pakar di berbagai keilmuan yang terkait.

Juga dipaparkan panitia, menghadapi tantangan perekonomian global dan era otonomi daerah, tugas profesi medik veteriner tidak saja menangani masalah teknis kesehatan hewan tetapi perlu memikirkan kelembagaan otoritas veteriner yang didukung dengan kemampuan analisis bidang ekonomi veteriner terhadap berbagai sumber daya yang dimiliki. Keberadaan dokter hewan tidak saja harus mampu mendukung peternakan di Indonesia tetapi juga mampu mengembangkan kompetensinya di bidang biomedis dan medik konservasi.

Mengantisipasi masalah pemanasan global, tugas profesi medik veteriner tidak saja mengatasi masalah kesehatan hewan semata, tetapi harus mampu mensinergikan kinerjanya dalam mengurangi berbagai dampak negatif pemanasan global tersebut. Diantaranya adalah mampu mengantisipasi perubahan iklim dikaitkan dengan munculnya zoonosis baru dan meluasnya spesies yang terinfeksi, termasuk satwa liar.

Adapun, profesionalisme fungsi dan layanan veteriner adalah untuk optimalisasi perannya dalam memelihara dan menjaga kesehatan yang baik dari hewan-hewan di dunia dan melindungi hidupan liar dan satwa liar (wildlife) sebagai bagian yang sangat penting dari warisan kekayaan bumi untuk kehidupan manusia.

Lalu, optimalisasi perannya dalam memelihara kesehatan hewan dengan mencegah dan mengobati penyakit-penyakit hewan adalah cara yang paling memungkinkan dan ideal untuk memastikan kekayaan hewani bumi terjaga kesejahteraan dan kelestariannya dan mencegah terjadinya transmisi zoonosis kepada manusia termasuk mencegah potensi ancaman terjadinya pandemi baru.

Lantas, optimalisasi perannya dalam memastikan pangan yang aman bagi konsumen. OIE sangat meyakini bahwa pangan asal hewan adalah sumber kekayaan untuk kemanusiaan dan profesi veteriner sangat berkomitmen untuk memfasilitasi terwujudnya ketersediaan daging dan susu yang berlimpah dan aman dikonsumsi untuk masyarakat di berbagai negara di dunia. Berbagai standard dalam perdagangan internasional untuk hewan dan produk hewan dipublikasikan oleh OIE untuk menghindari penyebarluasan kuman pathogen dan juga mencegah berbagai negara agar tidak menetapkan persyaratan perdagangan (sanitary barriers) secara semena-mena.

Selamat KIVNAS X dan AZWMC 2008. Sukses meningkatkan martabat manusia seutuhnya terintgral dengan alam semesta seisinya melalui profesi dokter hewan yang mulia. (YR/ pntia)

SEMINAR UNTUK BERJAYANYA PETERNAKAN

SEMINAR UNTUK BERJAYANYA PETERNAKAN

(( Berbagai seminar diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan dan organisasi-organisasi peternakan Indonesia, secara sekilas sebagian di antaranya dilaporkan pada Majalah Infovet kesayangan Anda ini. ))

Seminar yang diikuti peternak pada tiga hari penyelenggaraan Indo Livestock 2008. diantaranya membahas tentang Choosing And Applying The Suitable Disinfectant, Justification On Applying Antibiotic For Animal dan R&D Role In Animal Health Industr diselenggarakan oleh PT Sanbe Farma.
Seminar teknis di hari 1 dan 2 yang mengulas tentang perkembangan teknologi pakan ternak unggas dan bagaimana merekonstruksi kandang broiler dan layer sistem terbuka menjadi kandang sistem tertutup (closed house system) diselenggarakan oleh PT Charoen Pokphand Indonesia.
Novartis juga mengadakan seminar teknis tentang Updated Fly as a Vector Avian Flu pada pukul 15:00 – 15:45, Selasa 1 Juli 2008 di Theatre 3 dengan pembicara Prof drh HR Wasito MSc PhD. Sedangkan pada pukul 14:00 – 14:45, Rabu 2 Juli di Theatre 3 Novartis mengangkat seminar tentang Biosecurity Modern Related To Avain Influenza Control dengan pembicara Dr drh C A Nidom MS.
Adapun PT Romindo Primavetcom menggelar seminar di hari pertama, 1 Juli 2008 di Theatre 5 jam 15:00 – 15:45 yang mengangkat pembahasan tentang Solusi Pengendalian AI (Avian Influenza) Pada Broiler dengan pembicara Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD.
Paeco Agung juga mengadakan seminar teknis yang bisa diikuti peternak pada hari kedua, Rabu 2 Juli pada penyelenggaraan Indo Livestock 2008. Bertempat di Theatre 4 pukul 16:00 – 17:45 yang akan mengupas tentang penyakit Marek dan Optimalisasi Vaksinasinya.
Adapun seminar teknis Ceva Animal Health Indonesia dengan pembicara Drh Soesilawati yang membahas tentang The Evolution of Vaccination from Farms to Hatcheries di Theatre 3 pukul 15:00-15:45, Rabu 2 Juli 2008.
Juga pada hari kedua, 2 Juli 2008 di Theatre 5 jam 15:00 – 15:45 Seminar mengangkat pembahasan tentang Alat Ukur Performa Broiler dengan pembicara Drh Arief Hidayat diselenggarakan oleh PT Mensana Aneka Satwa.
Adapun PT Alltech Biotechnology di event Indolivestock 2008 expo dan forum ini menyajikan persoalan mikotoksin yang didaulat sebagai duri dalam daging bagi pengusaha peternakan di negeri ini. Mikotoksin pada umumnya akan adenite dengan sistem ketahanan tubuh ternak ataupun manusia. Bila ketahanan tubuh tersebut sudah ada, maka yang dikuatirkan adalah dampak infeksi sekunder.
Adapun pada ajang Indolivestock 2008 ini juga, Ikatan sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) pun meluncurkan Buku tentang organisasi ini berjudul Catatan Perjalanan 40 Tahun ISPI yang dikarang oleh Tim PT Gallus Indonesia penerbit Majalah kita Infovet.
Sukses bagi semuanya (Wan/ YR)

INDOLIVESTOCK TETAP BERJAYA

INDOLIVESTOCK TETAP BERJAYA

(( Simbol sekaligus harapan agar peternakan Indonesia selalu berjaya. ))

Penyelenggaraan Pameran Internasional Peternakan dan Pakan Ternak terbesar di Indonesia yang keempat, “Indo Livestock 2008 Expo & Forum” akan kembali digelar di Jakarta Convention Center, 1 Juli s/d 3 Juli 2008 mencatat prestasi tersendiri.
Sebagai Negara yang berpotensi tinggi dalam industri peternakan, maka pameran yang diagendakan setiap 2 tahun sekali ini disambut baik oleh Dirjen Peternakan Departemen Pertanian Dr Tjeppy D Soedjana yang membuka pameran pada hari pertama.
Sementara sebelumnya Herman Wiriadipoera Dirut PT Napindo Media Ashatama sebagai penyelenggara menyampaikan Penyelenggaraan Pameran Peternakan berskala Internasional yang menjadi ajang temu bisnis para pengusaha industri peternakan, kalangan ahli kesehatan hewan, peternak, pengelolaan pakan ternak, pemrosesan makanan, pemasok dan para distributor.
Memang begitu halnya, tampak dari stan-stan peserta pameran yang begitu megah dari berbagai perusahaan bidang peternakan sejumlah 300 perusahaan dari 23 negara yang memastikan diri ikut dalam ajang pameran Indolivestock 2008. Para peserta pameran ini terdiri dari perusahaan pemain lama maupun perusahaan pemain baru yang mencerminkan pergerakan dari bisnis bidang peternakan di tanah air Indonesia tercinta.
Sementara pengunjung yang senantiasa mengalir dari hari pertama sampai hari terakhir rata-rata 3000 – 4000 pengunjung setiap harinya. Pengunjung tidak hanya datang dari pulau Jawa, tetapi mereka datang dari seluruh Indonesia, mulai dari Lombok, NTT, Bali Kalimantan, Sulawesi dan daerah lain. Selama 3 hari penyelenggaraan hotel-hotel disekitar Jakarta Convention Center Jakarta selalu penuh.
Adapun seminar dan forum-forum diskusi dari berbagai institusi menyemarakkan penyelenggaraan pameran bidang industri peternakan dan pakan ternak. “Kami merasakan manfaat dari seminar-seminar itu yang menambah wawasan bidang peternakan baik dibidang kesehatan hewan maupun bidang lainnya yang terkait dengan kemajuan teknologi peternakan,” kata Fuji Kumala Dewi SPt alumni Fapet IPB yang usai pameran langsung bergabung dengan Infovet sebagai Staf Pemasaran. Infovet memang juga merasakan betapa manfaat dari pameran tersebut
Adapun menyikapi maraknya pemberitaan gizi buruk di tanah air dan masukan dari beberapa Asosiasi maupun Organisasi dibidang industri peternakan, maka dalam penyelenggaraan Indo Livestock keempat tahun ini pun diangkat kembali Kampanye Gizi melalui protein hewani, guna menyehatkan dan mencerdaskan Bangsa yang dilkaksanakan pada pembukaan serta penutupan Indolivestock 2008. Tema yang diangkat untuk kampanye ini adalah S(usu-segelas), D(aging-sepotong) dan T(elur-sebutir) disingkat menjadi SDT.
Didukung oleh Asosiasi dan Organisasi di bidang industri peternakan, Media Massa dan Pemerintah maka ditetapkan bahwa dalam penyelenggaraan Indo Livestock Expo & Forum Keempat tahun 2008, ditetapkan Program Pencanangan Program SDT Tahap Pertama yaitu Juli 2008 sampai dengan Juni 2010 menjadi “Gerakan Nasional Peningkatan Konsumsi Protein Hewani”.
Ada pula program penganugerahan “INDOLIVESTOCK AWARD” yang bertujuan memberikan apresiasi kepada perusahaan/perorangan yang berprestasi dan dapat dijadikan teladan bagi komunitas peternakan. Indolivestock Award 2008 yang dibagi 5 kategori masing-masing kepada perusahaan besar dan berskala kecil-menengah, dan 1 kategori khusus perorangan, menghasilkan peraih penghargaan:
a. Cipta Usaha Mandiri - Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Cipta Piranti Satwa Nugraha
b. Pusat Koperasi Industri Susu Sekar Tanjung - Purwosari, Pasuruan
Adiguna Satwa Nugraha
c. Pusat Koperasi Unit Desa - Nusa Tenggara Timur
Praja Mukti Satwa Nugraha
d. Kampoeng Ternak - Ciputat
Widya Karta Satwa Nugraha
e. Letnan Jendral (Purn) Bustanil Arifin, SH
Adikarsa Nugraha
f. Ir. Erwin Soetirto
Adikarsa Nugraha
g. Oetari Soehardjono
Adikarsa Nugraha
h. Perdana Putra Chicken - Bogor
Nastiti Budidaya Satwa Nugraha
i. Gema Putra - Bandung
Nastiti Budidaya Satwa Nugraha

Semua kesuksesan tersebut diraih penyelenggara PT Napindo Media Ashatama bekerja sama dengan Allied Media Worldwide, sebuah perusahaan penyelenggara pameran yang berkedudukan di Singapura dan mempunyai jaringan bisnis di Malaysia, China, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, India dan Eropa.
Kesuksesan juga diraih PT Napindo Media Ashatama yang pada pameran itu bekerja sama dengan berbagai asosiasi dan organisasi profesi seperti Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak Indonesia (GPMT), Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional (PINSAR UN), Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GAPPI), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Asosiasi Pengusaha Perunggasan Asean (FAPP), Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI), Stakeholders, Masyarakat, LSM memberikan dukungan yang positif kepada pameran ini.
Dukungan juga diperoleh dari media publikasi terkemuka seperti Asian Poultry, Infovet, Trobos, Poultry Indonesia, eFeedlink, International Hatchery Practice, Agrina, dan lain lain.
Selamat berjaya Indolivestock. Selamat berjaya peternakan Indonesia! (Wan/ YR

PEMAIN BARU PUN BERJAYA DI AJANG INDOLIVESTOCK

PEMAIN BARU PUN BERJAYA
DI AJANG INDOLIVESTOCK

(( Penyebutan istilah baru terhadap para pemain bidang peternakan da kesehatan hewan hanyalah satu cara untuk mengenal kiprah perusahaan agar kita sanggup merasakan betapa dunia peternakan kita terus tumbuh dan berkembang untuk mewujudkan harapan kemakmuran bangsa, dengan pintu masuknya bidang peternakan dan kesehatan hewan di tanah air. ))

Sebagai contoh, berikut adalah profil singkat beberapa perusahaan bidang peternakan dan kesehatan hewan yang relatif baru dikenal dan berpartisipasi dalam pameran akbar Indo Livestock 2008 Expo & Forum. Tidak semua perusahaan dapat tertampilkan, namun setidaknya mewakili bagaimana dinamisnya bisnis sapronak/ obat hewan ini di tanah air Indonesia.

PT Blue Sky Biotech (BSB)
Sebagai pendatang baru memang bukan, akan tetapi termasuk pemain lama pun tidak tepat. BSB yang banyak melakukan import dan distribusi dari perusahaan pharmasi Korea, melihat peluang masih sangat besar di industri obat hewan Indonesia.
Dari sekian banyak obat impor yang didistribusikan oleh BSB ada 2(dua) yang menurut Ir Imam Sarjono, Technical Marketing Service sangat diandalkan. Kedua produk itu adalah Cheil Tonocomp dan Vital Chorus Forte.
Cheil Tonocomp, seperti diungkapkan Imam, mempunyai kelebihan dibanding obat sejenis dari produsen lain sebab, disamping mampu meningkatkan efisiensi pakan juga meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit pada berbagai ernak.
Dengan kandungan tonophosphan 200 mg, dua kali lipat dibanding obat sejenis, maka potensi obat itu menjadi efektif. Selain itu dapat pula mengatasi gangguan metabolisme dan kekurangan nutrisi dan bahkan memberikan efek sinergis dengan preparat Vitamin D dan Calsium.
Sedangkan Vital Chorus Forte mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas Produksi telur. Selain itu juga dapat berfungis untuk mencegah dan mengobati kekurangan vitamin dan asam amino.

PT Cakar Mas
Meski bukan pemain baru, namun PT Cakar Mas memang masih belum banyak dikenal oleh para peternak Nusantara. Dengan latar belakang, sebagai praktisi peternakan maka perusahaan importir, distributor obat hewan, vaksin dan peralatan sangat mengetahui benar apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan para peternak.
Oleh karena itu, beberapa peralatan yang disediakan oleh perusahaan ini memang sangat vital bagi sebuah perasahaan peternakan/farm komersial. Sebagai contoh, perusahaan ini mengimpor Pox Vaksinator dan Alat Suntik Otomatis. Kedua alat ini sangat dibutuhakan sekali oleh para peternak ayam. Keunggulan ala t suntik produsen E. Nechmad Ltd adlah ringan dan ergonomis. Dilengkapi dengan tabung kaca bening maka disamping memudahkan untuk dilihat cairan yang disiapkan untuk disuntikkan, juga aspek terjaga sterilitasnya. Desian yang demikian akan sangat memudahkan peternak karena menjadi lebih fleksibel untuk dosis dan ukuran berapapun.
Sedangkan vaksin yang disediakan oleh PT Cakar Mas adalah dari strain yang memang direkomendasikan oleh para ahli yaitu dari H5N2. Seperti diungkapkan oleh Drh Edy Daryono, seorang Manager di PT Cakar Mas, bahwa vaksin merk DHN adalah vaksin bermutu tinggi hasil produksi sebuah perusahaan besar dan bonafid di China.
Selain itu menurut Edy disediakan pula preparat fumigan yang tidak mengandung Kalium Permanganat, dengan merk Forcent Fumigant System. Preparat fumigan ini mempunyai keuntungan tidak merusak peralatan dan kandang yang terbuat dari logam.

PT Candramas Jaya Semesta
Salah satu distributor peralatan kesehatan hewan dan alat-alat produksi peternakan. Menjadi distributor dari pabrikan dari China, USA dan Italia.
Tampil di Indolivestock untuk mendekatkan produk-produknya kepada konsumen, yang datang langsung dari Surabaya. Menurut Hindrata Chandra Pimpinan PT CJS kepada Infovet, pilihan import peralatan kesehatan hewan besar, hewan kesayangan dan peralatan untuk produksi peternakan tidak lain atas dasar pertimbangan kualitas produk dan harga yang kompetitif.
Adapun produk yang disediakan antara lain Mikroskop Elektron, Alat Evaluasi Semen, Centrifuge, Incubator Lab, Spectrophotometer Digital, Container Penyimpan dan Container Pengangkut; Universal Applicator, Drenching Gun, Milk Tester dan Analyzer dan juga Milk Cooling Tank, Ear Marking Pliers.
Selama ini PT CJS lebih banyak melayani intansi dan institusi pemerintah, namun tidak sedikit kini sudah menembus ke farm dan perusahaan peternakan swasta

CV Larissa
Sebagai perusahaan yang mengkhususkan diri pada penyediaan Alat Inseminasi Buatan (IB) dan Peralatan Embryo Transfer (ET) CV Larissa berminat ikuti kegiatan pameran peternakan Indonesia karena peluang besar untuk menggaet pasar lebih luas.
Menurut HN Soeparno, Staff Pemasarannya bahwa CV Larissa memang sejak dahulu menjadi penyedia peralatan IB dan ET di berbagai instansi pemerintah. Namun kini, sehubungan dengan kemajuan teknologi dan perkembangan peternakan hewan besar, ternyata potensi bisnis peralatan itu juga diminati oleh kalangan swasta.
Memang ada fenomena menarik, jika dahulu lapangan pekerjaan asih terbuka lebar, dan kini menyempit. Ada berkah bagi Larissa, karena banyak Dokter Hewan yang praktek mandiri dan sangat membutuhkan peralatan IB dan ET. Atas dasar itulah, Larissa mencoba menyasar pasar baru di segmen itu.

CV Telaga Bestari
Nuraini Wiradinata, Direktur CV Telaga Bestari mengungkapkan kepada Infovet, bahwa meski nama perusahaannya baru, akan tetapi sebenarnya adalah pemain lama yang berganti nama. Tanpa mau menyebut nama perusahaan lama, Nuraini menjelaskan bahwa pada saat ini adalah sebagai perusahaan distribusi.
Produk impor yang dijadikan andalan adalah dari negara Vietnam. Pilihan negara itu, oleh karena negara itu meski masih muda akan tetapi sebgaian besar investornya adalah berasal dari negara-negara Eropa dan USA.
Andalan produknya adalah Bio-Linco-S dan Bio-Tylo200 serta Tetra 200 LA. Adapun Bio-Linco-S adalah sebuah preparat Spectinomycin dan Lincomycin yang sangat penting untuk pengobatan Haemorrahagic, Enteritis, dan Salmonellosis juga CRD. Kelebihan preparat Bio Linco S adalah sangat efektif sekali untuk penyembuhan penyakit-penyakit pada saluran pencernaan dan pernafasan. Juga pada penyakit radang sendir , maupun radang paru yang akut dan kronis.
Sedangkan Bio Tylo 200 sebagai larutan injeksi mengandung tylosin yang sangat efektif mengobati radang paru, CRD, radang sendi, mastitis, metritis dan juga radang pada kulit. (iyo)

ASOHI, PT Gallus dan Infovet di Ajang Indolivestock

ASOHI, PT Gallus dan Infovet di Ajang Indolivestock


(( Bagi ASOHI, perhelatan Indolivestock 2008 juga menjadi sarana edukasi buat peternak karena banyak diadakannya seminar teknis dan pengenalan produk unggulan dari masing-masing perusahaan dengan pembicara dari dalam dan luar negeri. Bagaimana menurut PT Gallus Indonesia Utama dan Infovet sebagai anak kandung dari ASOHI?

Menurut Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto, Indolivestock juga menjadi sarana untuk ajang unjuk gigi buat masyarakat internasional, sehingga kita bisa saling bertukar informasi mengenai perkembangan teknologi yang terjadi di luar negeri. Hal ini dimungkinkan karena diketahui bahwa pameran Indo Livestock 2008 ini diikuti oleh sebanyak 300 perusahaan dari 23 negara.

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia atau yang disingkat ASOHI dibentuk tahun 1979 dengan pendiri H. Abdul Karim Mahanan (PT Paeco Agung), Prof. JH Hutasoit, Dr. drh Soehadji, Drh. IGN Teken Temadja, Dr. Drh. Sofyan Sudardjat MS sebagai wadah usaha obat hewan yang meliputi Importir, Eksportir, Produsen, Distributor, Pengecer, dan Pabrikan pakan.
Maksud pendirian ASOHI adalah sebagai payung untuk anggotanya. Selain itu menjadikan usaha obat hewan Indonesia menjadi tangguh, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar. Dengan berdirinya ASOHI juga dimaksudkan untuk menciptakan usaha obat hewan yang sehat, tertib, dan berkembang.
Sementara itu, tujuan didirikannya ASOHI tak lain diantaranya adalah menjembatani & menjalin hubungan antar pihak yang berkaitan. Aktif dalam pengembangan produksi peternakan dan kesehatan hewan, serta memberikan manfaat bagi anggota melalui pembinaan, menggiatkan usaha dan meningkatkan kemampuan anggota.
Kepengurusan ASOHI terbagi menjadi 4 Bidang Kegiatan yaitu Bidang Organisasi, Hubungan Antar Lembaga, Hubungan Luar Negeri, dan Bidang Pengawasan Peredaran Obat Hewan. Juga terdapat Dewan ASOHI yang terdiri dari Dewan Penasehat, Dewan Kode etik, dan Dewan Pakar. Selanjutnya Kepengurusan ASOHI Daerah terdapat di 16 Propinsi yang merupakan kantong penyebaran yang mencakup 5 di Sumatra, 6 di Jawa-Bali, 3 di Kalimantan dan 2 di Sulawesi.

PT Gallus Indonesia Utama dan Majalah Infovet

Berawal dari kepedulian terhadap peningkatan kemampuan peternak dalam melakukan usaha peternakan dan mengelola kesehatan ternak, pada tahun 1992 Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) sebagai wadah perusahaan-perusahaan obat hewan yang ada di Indonesia, menerbitkan sebuah majalah dengan nama Infovet. Nama ini merupakan singkatan dari Informasi Veteriner, yang artinya informasi mengenai kesehatan hewan tanpa meninggalkan aspek lain yang terkait seperti teknologi budidaya ternak serta masalah ekonomi dan bisnis peternakan pada umumnya.
Pada awalnya Infovet terbit sebagai majalah tiga bulanan. Selanjutnya secara bertahap mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan peternakan di Indonesia khususnya usaha ayam ras. Sejak tahun 1995, Infovet menjadi majalah bulanan, dan tersebar luas di kalangan peternak, pengusaha peternakan, pengusaha pakan ternak (feedmill), pengusaha pembibitan (breeding farm), pengusaha obat-obatan hewan, kalangan kampus Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan, peneliti, birokrat dan lembaga terkait lainnya.
Tak hanya sebagai penerbit majalah, Infovet juga mengembangkan kegiatan yang mendukung kegiatan penerbitan majalah, yaitu menyelenggarakan seminar dan pelatihan tentang peternakan dan kesehatan hewan, serta menerbitkan buku-buku peternakan dan kesehatan hewan.
Atas dasar perkembangan tersebut, maka tahun 2001, pengurus ASOHI menyepakati berdirinya sebuah Perseroan Terbatas yang akan mengelola majalah Infovet dan kegiatan lainnya yang relevan menjadi lebih profesional. Nama perseroan tersebut adalah PT Gallus Indonesia Utama (GITA).
Sejak saat itu selain penerbitan majalah Infovet, ASOHI memandang perlu untuk membentuk divisi-divisi usaha baru. Divisi tersebut diantaranya adalah Divisi penerbitan buku-buku (GITA Pustaka), Divisi pelatihan/seminar (GITA Event Organizer), Divisi Satwa Kesayangan: Majalah khusus hewan kesayangan, Divisi G-Multimedia: bergerak dibidang teknologi informasi dan yang baru terbentuk Divisi GITA Consultant. (wan/ YR)

PARA PEMERAN BISNIS SUKSES

PARA PEMERAN BISNIS SUKSES

(( Profil-profil mereka adalah profil-profil para pemimpin, eksekutif perusahaan yang membawa perusahaan maju, berkembang, besar dan eksis dalam sektor kesehatan hewan atau tepatnya bisnis obat hewan. ))

Di ruang itu Infovet berhadapan dengan Drh Arief Hidayat dan mendialogkan nilai-nilai yang sedang berkembang. Lebih tepat disebut sebagai wawancara, di mana Technical Department PT Mensana Aneka Satwa ini menceritakan kisahnya hingga sampai pada posisi sekarang yang merupakan buah-buah dari kerja baiknya di perusahaan sebelumnya.
Mendengar uraian pengetahuan Drh Arief tentang bidang yang dikelolanya kini cukup untuk mengatakan bahwa ia sangat piawai untuk mengendalikan salah satu departemen di PT Mensana Aneka Satwa sebuah perusahaan yang dipercayakan Sang Pemilik Perusahaan kepadanya dan para ahli kepercayaan yang lain yaitu Ir Yuniansyah Triadi sebagai Maraketing Manager, dan Drh Wati serta Drh Etty.
Perusahaan yang kini mempunyai 25 cabang di seluruh Indonesia menjadikan PT Mensana Aneka Satwa merupakan salah satu pelaku bisnis obat hewan yang menonjol dan disegani pada saat ini. Dengan pendelegasian pada orang-orang yang tepat, masing-masing bidang menunjukkan kemajuan yang cukup pesat sesuai ahlinya.
Drh Arief Hidayat piwai di bidang teknis, sedang Ir Yuniansyah Triadi di bidang bisnisnya, Drh Etti Agustina Regent Sales Manager dan Drh Wati Register Officer bidang registrasi obat. Dalam kata lain, bilamana soal teknis kesehatan hewan dengan produk-produk yang dibutuhkan, Drh Arief Hidayatlah tempat peternak bertanya. Dalam hal populasi dan bisnis obat hewan dengan penyebaran produk-produk obat hewan yang dibutuhkan, Ir Yuniansyah yang akan memaparkan, demikian pula soal registrasi obat ada pada ahlinya sendiri yaitu Drh Etti dan Drh Wati.
Perbincangan Infovet yang lain adalah dengan Drh Lukas Agus Sudibyo Direktur Marketing PT Romindo Primavetcom. Perbincangan Infovet dengan Drh Lukas yang didampingi Drh Nurvidia Machdum selaku Technical Department Manager dimulai dengan bahasan tentang awal-awal Infovet dan PT Romindo bekerja sama dan berlanjut ke perbincangan tentang situasi terkini bisnis global dan bisnis sektor peternakan dan kesehatan hewan.
Drh Lukas mengutarakan berbagai hal terkait perkembangan bisnis obat hewan yang tentu saja integral dengan semua sektor bidang peternakan, yang kin sedang menghadapi krisis global namun bagaimanapun ternyata bisnis ini tetap kokoh berdiri yang berarti bisnis ini memang menguntungkan. Drh Lukas juga menceritakan bagaimana situasi krisis ekonomi moneter yang pernah menimpa Indonesia dan dunia pada 1998, di mana Infovet pun bertukar cerita bagiamana kondisi Majalah Infovet pada saat itu hingga tetap bertahan dan berdiri serta berkembang hingga saat ini.
Di kantor Ceva Animal Health, Infovet menemui Direktur Utama Drh Edy Purwoko. Dialog dilakukan dengan semangat, tampak bagaimana Drh Edy mengutarakan tentang produk-produk perusahaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dilandasi kaidah akademik dan penelitian yang kuat. Dalam Ruang Redaksi Infovet edisi 172 November 2008, penuturan Drh Edy Purwoko telah disampaikan kepada sidang pembaca.
Di Bandung, Infovet bertemu dengan Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra Drh Gowinda Sibit yang sangat energi dan bersemangat dalam memimpin perusahaan yang secara operasional dipimpin para eksekutif, Drh Sugiyono sebagai Direktur Riset dan Pengembangan yang tergolong profesional muda dan Drh Julianto sebagai Direktur Produksi.
Drh Gowinda Sibit yang merupakan sobat kental Drh Julianto telah bersahabat sejak mereka berkulaih di FKH Unair Surabaya. Bekerja di sebuah perusahaan obat hewan yang sama, mereka menjadi tim yang kuat dan berpengalaman menjelajah wilayah peternakan di seluruh Indonesia dengan pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Dengan sistem pemeliharaan kebugaran melalui olah raga, Drh Erwin (panggilan akrab Drh Gowinda Sibit) sanggup melakukan disiplin kerja secara prima sampai sekarang. Dengan etos kerja tinggi, ia pun menerapkan latihan kepercayaan diri bagi karyawan PT TMC dengan penampilan berdasi di dalam kantor, yang sangat baik untuk menunjang kinerja dan personalitas.
Di PT Sanbe Farma Animal Health Divison, juga di Bandung, Infovet ditemui Drh Sugeng Pujiono Marketing Manager dan Drh Suhardi Coordinator Produksi dan Technical Manager. Dengan ramah Drh Sugeng bercerita tentang perjalanan hidupnya sebagai dokter hewan alumnus FKH Unair dengan berbagai pengalaman yang menunjang kinerjanya sebagai peimpin PT Sanbe Farma Divisi Animal Health.
Drh Sugeng mengambil pengalaman sangat berarti ketika ia di Surabaya memimpin bimbingan test sejak masih kuliah dan bimbingan test itu sampai sekarang masih berdiri dan terkemuka di Surabaya.
Dengan program-program besarnya di PT Sanbe Farma, Drh Sugeng selalu menerapkan jiwa kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karya, Tut Wuri Handayani”, yang artinya sebagai pemimpin kita mesti di depan memberi teladan, di tengah mebangun kemauan, dan di belakang mendorong tim. Menurut Drh Sugeng, begitu banyak buku kepemimpinan dan kunci sukses dimilikinya sebagai koleksi, namun inti kepemimpinan tetap falsafah bernafas Jawa itu.
Di PT Medion, Infovet berdialog dengan jajaran promosi perusahaan obat hewan di Bandung ini dipimpin Henry Jahja, IT Senior Manager. Bersama tim yaitu Novi Kartasasmita Advertising & Publication Assistant Manager, Athine Advertising & Publication Assistant Staff, dan Candrawati Sales Promotion Assistant Manager PT Medion, Henry Jahja mengutarakan dengan simpatik bagaimana program-program promosi perusahaan yang mencerminkan betapa majunya perusahaan ini.
Profil-profil mereka adalah profil-profil para pemimpin, eksekutif perusahaan yang membawa perusahaan maju, berkembang, besar dan eksis dalam sektor kesehatan hewan atau tepatnya bisnis obat hewan. (yonathanrahardjo)

SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS

SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS

(( Semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Bila sisi internal kuat, sisi eksternal akan dapat disikapi atau menyikapi. ))

Berbagai situasi peternakan dan dunia kehewanan tanah air terkait pro-kontra impor daging sapi Brazil rawan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), merebaknya penyakit Rabies pada anjing dan menyerang manusia di Bali dan beberapa daerah lain merupakan rantai panjang dari potret pengelolaan SISKESWANAS (Sistem Kesehatan Hewan Nasional).
Siskeswanas ini pula yang sangat berpengaruh pada penyiapan komoditi peternakan menuju era bebas ASEAN-China 2010. Artinya, dalam perdagangan bebas komoditi peternakan ini, telah dikenal bukan semata-mata pada produknya, tapi merupakan ketahanan nasional Indonesia yang memerlukan pengendalian penyakit khususnya penyakit yang terkait dengan higienes pangan.
Masalah kesehatan hewan merupakan masalah penting pada lalu lintas perdagangan dan transportasi antar negara selain berbagai problematika baik dari segi dagang, aturan perpajakan. Satu-satunya pengawasan kesehatan hewan yang dapat dikendalikan adalah ketentuan SANITARY-PHYTOSANITARY yang memberikan kewenangan kepada suatu negara demi keamanan hayati untuk melindungi wilayahnya dari ancaman penularan penyakit dari luar baik dari hewan dan masyarakat manusia.
Rupanya hal inilah yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah sehingga wacana daging Brazil yang rawan PMK dan Pengakit Sapi Gila (BSE) dikemukakan bahkan sudah direncanakan. Padahal resiko dari penyakit ini dan akibatnya sudah dirasakan sebelum Indonesia sanggup membebaskan diri dari PMK pada 1990an setelah upaya keras dan menghabiskan energi dan dana selama 100 tahun. Sama halnya dengan tercemarnya Bali dengan Penyakit Rabies padahal sebelumnya berstatus pulau bebas Rabies!
Kita untuk kesekian kali selalu diingatkan bahwa kebijakan dalam kesehatan hewan ini harus benar-benar dapat mengawal dan melindungi potensi sumber daya hayati dalam negeri maupun keamanan di masyarakat dan mampu mencipta kondisi untuk bisa bersaing pada produk peternakan yang akan diekspor. Landasan hukumnya sudah jelas: UU No 6/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dasar hukum untuk kesehatan masyarakat terkait hewan dan produk asal hewan diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.
Kaitannya dengan KELEMBAGAAN saat ini, terjadi suatu kesimpang siuran dalam penentu kebijakan berkenaan dengan produksi terhadap asal hewan yang berkaitan dengan penyakit. Saat terjadinya wabah Penyakit Sapi Gila di benua lain, beberapa institusi di Indonesia seperti Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), masing-masing mengeluarkan peraturan sendiri-sendiri yang saling tumpang tindah, padahal masalahnya sama, menjaga keamanan hayati di tanah air dari resiko masuknya kasus BSE ini.
Bahkan antara Dirjen di Departemen Pertanian sendiri, pada saat itu Dirjen Peternakan dengan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian pun punya kebijakan yang berbeda. Padahal kalau mengacu pada permasalahan mendasarnya, hal ini terkait dengan siapa yang punya otoritas tentang penyakit hewan, yang berarti tentang OTORITAS VETERINER.
Mestinya kita punya wadah yang punya fungsi otoritas veteriner, punya lingkup ketahanan yang tidak di bawah departemen tertentu. Lembaga di dalam pemerintah yang memiliki otoritas di seluruh wilayah negara itu untuk melaksanakan tindakan sanitari dan proses sertifikasi veteriner internasional yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) serta melakukan supervisi atau audit penerapannya. Dalam kelembagaan selama ini ini kita punya kelemahan dalam menghadapi penyakit dari luar (Exotic Disease) karena belum adanya lembaga nasional yang merupakan laboratorium rujukan ini.
Perlu ke depannya menunjuk laboratorium tertentu yang berkompeten untuk penyidikan veteriner. Kaitannya dengan sumber daya manusia, perlu program yang berkaitan dengan profesi veteriner, baik di lapangan, kelembagaan laboratorium, maupun karantina.
Bagaimanapun instansi veteriner dan peternakan merupakan institusi yang butuh sentuhan manajemen yang profesional. Upaya untuk meningkatkan standar manajemen kelembagaan adalah upaya yang patut dilakukan oleh setiap institusi peternakan/kesehatan hewan untuk menjadikan peternakan lebih produktif dan efisien.
Kelembagaan penelitian, Indonesia mempunyai banyak lembaga penelitian yang layak menjadi rujukan regional dan internasional, setidaknya di kawasan Asia Pasifik. Sebutlah BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan), dan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) Bogor yang menjadi rujukan penelitian veteriner nasional.
Untuk meningkatkan, mempertahankan, atau bahkan (kalau misalnya diintrospeksi ternyata belum menjapai standar yang dimaksud) mengembalikan kualifikasi itu; setiap lembaga yang ada di Fakultas, Balai Besar Pengujian dan Penyidikan Veteriner (BBPPV), bahkan perusahaan swasta pun patut memikul tanggungjawab itu.
Perdagangan bebas menuntut adanya produk peternakan yang berkualitas dan berdaya saing. KARANTINA yang menjadi tanggungjawab dokter hewan meliputi hewan itu sendiri maupun produk asal hewan, serta sarana produksi peternakan seperti pakan, obat-obatan, dan peralatan.
Pengalaman dunia peternakan Indonesia yang sangat menyedihkan di dunia karantina, selain masuknya Rabies di Bali adalah masuknya Avian Influenza (AI) alias Flu Burung yang tak lepas dari kegagalan karantina melakukan fungsinya secara ketat. Frekuensi arus lalu lintas barang dan orang dalam konteks perdagangan antar negara tidak mengenal batas-batas antar negara.
Fungsi dan peranan karantina menjadi sangat strategis dan penting dalam melakukan upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan serta pengamanan sumberdaya alam hayati ke dalam suatu kesisteman menyangkut hal-hal untuk memajukan, mengawasi, melindungi dan mempertahankan usaha-usaha agribisnis khususnya produk-produk hewan ternak yang menjamin keamanan, mutu, kesehatan dan keutuhan mulai dari hulu sampai ke hilir, bahkan sampai ke pemasaran tingkat nasional/domestik dan internasional.
Mudah mengatakan, ingat untuk penerapannya diurai hal rinci soal surat kelengkapan dan prosedur tindakan karantina di tempat-tempat tertentu, yang kita sering kedodoran karena berbagai alasan. Faktor internal dan eksternal Karantina sangat berperan di sini. Secara filosofis, semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Di sini jelas, internal karantina, dan secara skala nasional: sisi internal Siskeswanas kita sendiri!
Dalam sisi internal ini, kita tidak boleh melupakan STANDARISASI produk-produk peternakan yang diperdagangkan, baik dengan pemberlakuan wajib terap SNI misalnya persyaratan mutu yang merupakan konsekuensi logis akan tuntutan pasar bebas.
Target akhir yang ingin dicapai di balik pemberlakuan Wajib SNI adalah adanya keinginan yang kuat untuk mendapatkan bahan baku yang memiliki kualitas setara atau minimal mendekati dengan kualitas internasional yang diijinkan atau direkomendasikan dapat diterima dalam bahan makanan asal hewan, berdasar Codex Alimentarius Commision.
Keberhasilan beberapa produsen obat hewan Indonesia menembus pasar ekspor di luar negeri termasuk sampai ke China, negara-negara Asia Tenggara, Uni Emirat Arab dan Sri Lanka merupakan bukti standarisasi yang ketat adalah senjata kuat untuk menjawab perdagangan bebas. Bisa terjadi karena produksi obat hewan telah diterapkan sesuai dengan perundangan yang teruji secara nasional dan internasional, sehingga mutu obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai tujuan penggunaannya.
CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) disusun sehingga keseluruhan aspek produksi dan pengendalian mutu yang dimulai dari perencanaan, rancangan, bahan baku, proses produksi, sarana produksi, sumberdaya manusia, pengawasan mutu dan dokumentasinya dapat dikendalikan sesuai dengan ketentuan sehingga mutu produk yang dihasilkan dapat selalu terjamin.
Di sisi internal terkait era perdagangan bebas kita patut menambahkan: INOVASI produk yang merupakan salah satu keunggulan di jaman yang selalu mengikuti selera lebih tinggi di mana selera global saling berpengaruh di berbagai belahan bumi. Apapun bentuknya di bidang peternakan maupun produksi peternakan. Bahkan untuk produk yang kelihatannya sederhana, tapi sangat bergengsi, seperti jelly egg.
Keunggulan dan keuletan produsen produk-produk peternakanlah yang membuat produk diterima di pasar berbagai negara di luar negeri, seperti produk susu asal Indonesia berupa susu full cream, susu rendah lemak dan susu tanpa lemak merek tertentu. Peran Hongkong yang lebih menjadi pembeli produk asal hewan, misal daging putih/daging ayam dari negara produsen sekitarnya lalu dijual lagi ke negara-negara lain, mengisyarakatkan bahwa perdagangan peternakan ASEAN-China tak kan lepas dari negara-negara maju lain yang juga menerapkan kesejahteraan hewan ini.
Indonesia pun mengadopsi berbagai konsep internasional dalam cakupan terbatas, misalnya memperhatikan kesejahteraan hewan di RPH dan atau RPA dan karantina di mana pada tahun-tahun mendatang akan menjadi isu menarik.
Secara filosofis, sekali lagi, semua kekuatan mestinya dimulai dari sisi internal. Bila sisi internal kuat, sisi eksternal akan dapat disikapi atau menyikapi. (Yonathan Rahardjo)

SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL

Lipsus
SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL

(( Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia. ))

Pada Seminar Nasional Perunggasan ketiga yang diselenggarakan oleh ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) pada 7 Nopember 2007 diperoleh data poduksi DOC broiler tahun 2008 diproyeksikan 1,25 miliar ekor, naik 8,7% dibanding tahun 2007. Adapun, populasi ayam petelur diproyeksikan 104,8 juta atau naik 7,7% dibanding tahun 2007. Sedangkan, konsumsi pakan tahun 2008 diperkirakan 8,13 juta ton, naik 7% dibanding tahun 2007.
Demikian Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto. Seminar Nasional Tahunan Ke-4 pada 11 Desember 2008 para pembicara pun mengevaluasi data bisnis perunggasan 2008 dan memprediksi bisnis perunggasan 2009 sehingga dapat dijadikan acuan dalam menyusun rencana bisnis tahun 2009. Bagi para akademisi dan aparat pemerintah, seminar ini merupakan sumber informasi penting untuk kajian ilmiah dan kebijakan pemerintah.
Seminar bertema Dampak Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia di Jakarta Design Center ini berlatar belakang, krisis Global yang dimulai dari Amerika Serikat berdampak ke hampir semua negara di dunia. Beberapa analis memprediksi, dampak bagi sektor riil baru akan terasa di Indonesia pada tahun 2009.
Menurut Gani Haryanto, pada 2009 pula suhu politik Indonesia mulai memanas, terutama menjelang Pemilu yang akan berlangsung tanggal 5 April 2009 yang mau tidak mau harus diperhitungkan dampaknya bagi berbagai bidang bisnis, tak terkecuali bidang perunggasan. Alhasil 2009 adalah tahun yang penuh teka teki. Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana stabilitas nilai tukar rupiah sebagai dampak krisis global, bagaimana stabilitas ekonomi akibat pemilu dan pergantian kabinet, dampak krisis energi dan sejumlah masalah lainnya.
ASOHI menyelenggarakan seminar nasional perunggasan ini secara berkesinambungan setiap tahun. Mengingkat topik seminar kali ini yang sangat spesifik, dalam seminar ini, panitia secara khusus mengundang Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo yang akan menyampaikan materi mengenai Dampak Dalam Krisis Global dan Suhu Politik 2009 Terhadap Bisnis Perunggasan Indonesia.
Dr. Ir. Siswono Yudho Husodo adalah seorang pakar, praktisi bisnis sekaligus politisi berpengalaman. Beliau adalah Menteri Perumahan Rakyat (1998-1993), Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998), calon Wapres pada Pilpres 2004, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 1999-2004, Ketua Badan Pertimbangan HKTI (2004-sekarang), Komisaris PT Bangun Tjipta Sarana (1998-sekarang) dan berbagai pengalaman lain di forum nasional maupun internasional. Pengalaman dan pemikirannya akan membuat analisanya mengenai krisis global dan suhu politik sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis perunggasan.
Selain Siswono Yudho Husodo, seminar menghadirkan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Drh. Paulus Setiabudi, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Drh. Askam Sudin, Dewan Kode Etik Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh. Lukas Agus Sudibyo, Ketua Umum Pusat Informasi Pemasaran Unggas (Pinsar) Drh. Hartono. Seminar dibuka oleh Ketua Umum ASOHI Gani Haryanto.
Ketua Panitia Penyelenggara seminar yang juga Ketua Bidang Antar Lembaga ASOHI Drh. Suhandri mengharapkan seminar ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pelaku bisnis, peneliti maupun aparat pemerintah, karena melalui seminar ini akan diperoleh berbagai informasi tentang perkembangan bisnis perunggasan 2008 dan prediksi 2009.
Bagi para pelaku bisnis perunggasan analisis yang disampaikan para pembicara diharapkan dapat dijadikan acuan dalam mengevaluasi bisnis 2008 dan menyusun rencana bisnis 2009. Bagi para pakar dan akademisi, seminar ini diharapkan dapat menjadi masukan penting bagi mereka dalam melakukan kajian dan penelitian lebih lanjut. Dan bagi kalangan birokrat baik dari pusat maupun daerah, seminar ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk menciptakan iklim usaha yang lebih baik.
Selain mengungkapkan perkembangan bisnis perunggasan Indonesia, diharapkan para pembicara seminar menyampaikan gagasan-gagasannya untuk perbaikan bisnis perunggasan di masa depan. Gagasan-gagasan tersebut dirangkum oleh tim perumus yang selanjutnya akan diteruskan kepada pihak yang terkait dalam waktu dekat. (Panitia/ YR)

JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK

JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK

(( Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. ))

Jerami padi biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Terlebih bila musim kemarau menjerang. Sayangnya kandungan nutrisi dan kecernaannya rendah, apalagi bila dibandingkan dengan pakan hijauan. Hal ini lantaran tingginya kadar serat kasar sebagai penyusun dinding sel tanaman. Juga rendahnya kadar protein serat kasarnya.

Mengingat jerami padi mudah didapatkan sebagai alternatif pakan ternak, peternak acap mengupayakan perbaikan potensi pakan jerami padi ini. Ahli pakan ternak Mirni Lamid dari Departemen Peternakan FKH Unair Surabaya memberi jalan perbaikan ini dengan perlakuan biologi mengunakan enzim xilanase.

Kata Mirni Lamid, perlakuan biologi menggunakan enzim xilanase pada jerami padi itu selain ramah lingkungan juga mampu memperbaiki potensi pakan berserat. Proses kimianya adalah dengan mengubah struktur ligno selulosa dan lignohemiselulosa.

Sehingga, “Akan lebih memudahkan degradasi fraksi hemiselulosa pada jerami padi secara efisien dan optimal,” kata Mirni Lamid. Dari hasil penelitiannya, penambahan enzim xilanase dengan waktu inkubasi 2 hari dapat menurunkan kandungan serat dan meningkatkan kandungan protein kasar.

Manfaatnya, menurut Mirni Lamid, penggunaan enzim Xilanase dapat memberi respon positif dalam peningkatan kualitas jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia tersebut. Mengapa bisa demikian, ahli pakan ternak itu menjelaskan semua berdasar penelitiannya.

Enzim Xilanase sebagaian besar dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan fungi. Kelompok enzim glikosil hidrolase mampu memecah ikatan glikosidik pada xilan dengan kecepatan lebih dari 10 pangkat 17 kali. “Oleh sebab itu, keberadaan enzim ini memegang peranan penting dalam mendegradasi limbah yang kaya hemiselulose,” kata Mirni Lamid.

Hemiselulose merupakan polisakarida struktural sel tanaman terbanyak kedua setelah selulose. Komponen hemiselulose terpenting dari sel tanaman adalah xilan tersebut. Xilan tersusun atas rantai polixilos membentuk heteropolisakadrida bercabang yang sulit didegradasi oleh mikroba rumen.

Dalam penelitian Mirni Lamid tersebut, ia melalui tahap-tahap esksplorasi enzim xilanase untuk mengetahui optimasi pH dan suhu. Kemudian uji potensi enzim xilanase dalam upaya meningkatkan kualitas jerami yang meliputi kandungan bahan kering, bahan organik, serat kasar dan protein kasar.

Kandungan-kandungan zat pakan dalam jerami padi inilah yang digertak kondisinya dengan enzim xilanase. Alhasil, kandungan seratnya menurun. Segangkan protein kasarnya meningkat, sehingga kandungan gizinya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. (YR)

KIAT MEMILIH DAGING SEHAT DAN HALAL

KIAT MEMILIH DAGING SEHAT DAN HALAL

oleh:
Mas Djoko Rudyanto

Kasus beredarnya daging celeng, ayam tiren dan daging glonggongan merupakan merupakan pelajaran penting bagi konsumen. Agar tidak salah pilih, kenali tipologi berbagai daging. Daging sapi yang sehat berwarna merah terang, serat halus, lemak kekuningan. Daging berwarna gelap menunjukkan saat disembelih dilakukan pada kondisi stres dan tidak diistirahatkan. Warna kecoklatan menunjukkan daging sudah terkena udara (teroksidasi) terlalu lama. Daging kerbau yang baik warna merah tua, serat lebih kasar, lemak kuning dan keras. Tekstur lebih liat dari daging lainnya karena disembelih pada umur tua. Daging kambing berwarna lebih gelap dibanding daging sapi, serat halus dan lembut, lemak kuning, keras dan kenyal, mudah dikenal karena bau yang khas dan cukup keras. Daging babi merah pucat, serat halus dan kompak, lemak putih jernih, lunak dan mudah mencair pada suhu ruang.
Setelah paham benar berbagai jenis daging yang akan dibeli, perhatikan juga asal daging tersebut. Belilah daging pada tempat yang resmi. Cari los penjualan khusus daging sapi, kerbau, kambing, ayam yang terpisah dari los penjualan daging babi. Daging yang berasal dari penyembelihan secara legal ditandai dengan cap RPH berwarna ungu yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan setempat. Sangat disayangkan tidak semua RPH milik Pemerintah yang ada di Indonesia disyaratkan oleh Pemerintah untuk di audit halal oleh LPPOM MUI walaupun aturan halal slaughter sudah ada, sehingga kehalalannya masih diragukan. Hal ini sangat memprihatinkan bagi konsumen muslim. Jika pembelian daging berasal dari pasar swalayan, pastikan bahwa daging halal tidak berada dalam showcase (frezeer) yang sama dengan daging nonhalal. Begitu juga perhatikan pemakaian peralatan pisau atau talenan, tidak diperbolehkan pisau/talenan yang untuk produk halal dipergunakan untuk nonhalal. Tanyakan kepada petugas swalayan dari mana asal daging yang dijual dan ada tidaknya Sertifikat Halal yang masih berlaku dari dalam (LPPOM MUI) dan luar negeri. Ini disebabkan kebanyakan swalayan menjual daging impor termasuk jerohannya. Untuk daging ayam bentuk karkas utuh, perhatikan leher bekas sembelihan dilakukan secara Syariat Islam. Ada kemungkinan melakukan penyembelihan dengan cara ditusuk. Hindari warna merah, biru atau memar pada kulit terutama daerah sayap. Hal ini merupakan indikasi ayam tersebut sudah mati sebelum disembelih (ayam tiren/mati kemaren). Untuk menutupi bangkai yang tidak normal, pedagang sering merendam dengan larutan kunyit sehingga warnanya terlihat kuning. Sebaiknya memilih pedagang yang sudah dikenal dan dapat diyakini bahwa penyembelihan yang dilakukan sesuai Syariat Islam. Banyaknya jumlah usaha penyembelihan dalam skala rumah tangga menyebabkan pengawasan sulit terkontrol. Jangan tergiur dengan penawaran harga yang lebih murah dari pasaran terutama yang ditawarkan oleh pedagang musiman atau tidak resmi. Apabila menginginkan daging sapi atau ayam dalam partai besar langsung dari distributor lokal atau impor, jangan lupa minta Sertifikat Halal yang menyertainya. Pastikan bahwa informasi nama dan alamat produsen, tanggal penyembelihan atau nomor lot yang tercantum dalam sertifikat cocok dengan yang tertera pada kemasan.

SOLUSI GIZI BURUK DAN KEMISKINAN ENERGI

SOLUSI GIZI BURUK DAN KEMISKINAN ENERGI
Ahmad Sofyan 1 & Evrin S. Vanadianingrum 2

(( ‘Let food be thy medicine and medicine be thy food’ (Jadikan makanan sebagai obatmu dan obat sebagai makananmu) – Hippocrates: 460-370 SM- ))

Ibarat sebuah obat, makanan sangat penting dalam menopang kesehatan tubuh. Makanan yang masuk kedalam organ tubuh sudah seharusnya menjadi bahan untuk menopang kesehatan dan mengahasilkan energi bagi tubuh. Namun, kualitas bahan pangan yang bergizi di negeri ini masih jauh dari makanan yang menyehatkan seperti apa yang didambakan oleh Hippocrates pada puluhan abad yang lalu.
Betapa sangat menyedihkan banyak kasus keracunan makanan akibat buruknya kualitas bahan pangan dan minimnya perhatian tehadap makanan yang bergizi. Seperti maraknya kasus daging glongongan, ayam suntik dan ayam tiren (mati kemaren) akhir-akhir ini tentunya menjadi catatan hitam kondisi pangan nasional. Seperti yang telah dilaporkan Antara (7/9/2008), daging gelonggongan banyak di jual di sejumlah pasar tradisional yang berdampak pada kecemasan konsumen dan ancaman kesehatan. Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya permintaan bahan pangan hewani pada bulan puasa dan menjelang lebaran.
Naiknya harga daging justru dimanfaatkan pihak tertentu dengan memasarkan daging ’haram’ tersebut yang sangat berbahaya baik bagi kesehatan dan dalam jangka panjang dapat menghambat perkembangan kecerdasan. Ditengah tuntutan kualitas bahan pangan yang dipersyaratkan untuk menjamin keamanan bagi konsumen, banyak sekali kasus yang mencerminkan betapa buruknya mata rantai bahan pangan di negeri ini, khususnya bahan pangan protein hewani yang amat penting dalam menopang kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini sangat kontradiktif tuntutan kualitas pangan yang harus tersedia baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau (UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan).
Jargon produk pangan hewani yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) masih terkendala oleh ulah pihak yang hanya mencari keuntungan sesaat. Akibatnya, konsumen merasa tidak aman untuk mengkonsumsi daging yang berakibat pada menurunnya permintaan. Tak hanya itu, pedagang juga ikut menangung penurunan omset penjualan.
Resiko yang mengancam kesehatan akibat kurangnya asupan gizi masih kurang diperhatikan. Tak heran jika makanan yang menurut Hippocrates sebagai obat yang menyehatkan namun berubah sebagai racun tubuh. Ini terjadi lantaran bahan pangan yang dikonsumsi justru sebagai agen pembawa bibit penyakit.

Ancaman Masa Depan
Catatan buruknya kualitas gizi tersebut sejatinya hanya sebagian dari minimnya upaya pembangunan gizi bangsa untuk meningkatkan SDM. Sampai saat ini pun kecukupan konsumsi pangan hewani rakyat Indonesia masih jauh dari konsumsi negara berkembang lainnya. Menilik data dari Badan Pangan Dunia/FAO (2007), konsumsi daging rakyat Indonesia per tahun hanya 11,9 kg, sementara konsumsi daging rakyat Thailand sudah mencapai 23,3 kg dan China 59,8 kg.
Hal ini seakan memperkuat keterpurukan kualitas pembangunan manusia (human development index) Indonesia yang hanya di urutan 107 dibawah Vietnam dan angka melek huruf pada urutan 56 dibawah Sri Lanka (UNDP, 2007). Sejatinya bahan pangan hewani sangat berperan dalam menopang kesehatan, kecerdasan dan pembangunan sumberdaya manusia.
Fakta tersebut menunjukkan kualitas konsumsi pangan yang masih jauh dari kondisi ideal. Lagipula rendahnya konsumsi pangan bergizi ini semakin diperparah dengan tekanan ekonomi akibat kenaikan harga bahan kebutuhan pokok yang dipicu dari kebijakan naiknya harga BBM beberapa bulan yang lalu. Tak bisa dipungkiri, program kompensasi kenaikan harga BBM melalui program bantuan langsung tunai (BLT) belum cukup efektif dalam memperbaiki kualitas gizi.

Langkah Perbaikan
Rendahnya kualitas gizi dan krisis energi merupakan tantangan besar dalam menjaga kelangsungan dan keutuhan bangsa. Kelimpahan kekayaan alam Indonesia memerlukan tata pengelolaan yang lestari untuk mengantisipasi berbagai dampak hingga mampu memperbaiki gizi buruk dan kemiskinan energi jangan sampai mengarah pada rendahnya kualitas SDM.
Disisi lain pemerintah masih terbebani dengan program pengentasan kemiskinan dari 37,2 juta penduduk miskin yang sebagian besar tersebar di wilayah perdesaan (BPS, 2007) yang menggantungkan pendapatannya pada sektor pertanian. Sudah seharusnya program perbaikan gizi tidak hanya melalui program makanan tambahan (PMT) seperti yang dilakukan pemerintah sekarang, namun perlu diintegrasikan dengan sektor lainnya.
Lebih jauh, diperlukan pula langkah perbaikan yang integratif untuk mengatasi perbaikan gizi sekaligus penyediaan energi alternatif untuk mengurangi dampak semakin melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan memaksa naiknya harga bahan kebutuhan pokok. Keterpaduan pembangunan pertanian dan peternakan (agriternak) menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi kekurangan gizi. Program inilah yang secara langsung akan meningkatkan penghasilan penduduk miskin yang mengandalkan hidupnya pada sektor pertanian.
Selain produk utama berupa bahan pangan hewani yang bernilai gizi tinggi, dengan pengelolaan limbah peternakan yang baik dapat dijadikan menjadi sumber energi alternatif (biogas). Langkah ini yang sekaligus sebagai upaya untuk mencegah kemiskinan energi. Ketergantungan kegiatan pertanian yang selama ini sangat bergantung pada pupuk kimia akan tersubtitusi dari pemanfaatan pupuk organik (biofertilizer) dari limbah peternakan.
Peranan inilah yang perlu direvitalisasi kembali yang didalamnya termasuk pembaharuan Undang-Undang No. 6 tahun 1967 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dinilai banyak kalangan sudah tidak cocok dengan kondisi sekarang. Selain itu, revisi UU ini juga harus diikuti dengan penegakan supremasi hukum dan sanksi seberat-beratnya bagi pelanggar dan pemalsu daging yang amat membahayakan kesehatan masyarakat.
Dalam upaya peningkatan kualitas bahan pangan, diversifikasi produk olahan pertanian dan peternakan sudah menjadi keharusan. Kelemahan ketrampilan selama ini yang menjadi penghambat peningkatan kualitas bahan pangan sudah seharusnya mendorong bagi pemerintah melalui lembaga penelitian, universitas, departemen terkait dan pemerintah daerah untuk bersatu padu dalam penyebarluasan informasi dan implementasi teknologi. Penegakan hukum bagi pihak yang melanggar juga terus ditegakkan untuk menjamin mata rantai perdagangan dan distribusi bahan pangan tidak ternodai oleh ulah pihak-pihak yang mengail di air keruh.
Kita sangat merindukan bahwasannya bahan pangan yang kita konsumsi adalah bahan makanan yang aman dan sehat, bahan pangan akan memberikan kontribusi terhadap kesehatan, dan kesehatan akan menopang kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku utama pembangunan nasional. Tercukupinya gizi dan sumber energi akan menuju kesejahteraan bangsa, bermartabat dan mampu berkompetisi di tingkat global.

Catatan : 1) Peneliti pada BPPT Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yogyakarta. 2) The Altech’s Young Animal Scientist-2007 / Alumnus Fapet IPB, Bogor.

GUMBORO PADA AYAM BROILER MODERN

GUMBORO PADA AYAM BROILER MODERN


Potensi genetik ayam broiler terus ditingkatkan untuk menghasilkan ayam-ayam yang efektif dalam pemanfaatan pakan sehingga tujuan untuk memproduksi daging semakin efisien. Konversi pakan pada ayam broiler yang tadinya diatas 2 sekarang sudah dapat ditekan menjadi sekitar 1.6 – 1.7 . Dampak dari tingginya tingkat produktivitas tersebut adalah ayam menjadi semakin rentan terhadap berbagai perubahan lingkungan dan ancaman penyakit, sehingga membutuhkan manajemen pemeliharaan yang lebih baik.
Yang paling penting untuk dipahami saat ini adalah bagaimana pentingnya mencapai target yang harus dicapai dalam pemeliharan ayam broiler. Terdapat berbagai target yang harus dicapai dalam budidaya ayam broiler, misalnya berat badan ayam. Sejak awal, anak ayam umur sehari sampai umur 7 hari merupakan waktu kritis, dan target berat badan harus dapat dicapai karena akan sangat mempengaruhi performan ayam di umur-umur selanjutnya. Laju pertumbuhan berat badan dan pencapaian berat badan tersebut dipengaruhi berbagai faktor seperti kualitas udara, kualitas air dan kualitas pakan. Faktor biosekuritipun memegang peranan yang sangat penting terkait banyaknya agen bibit penyakit yang dapat mengancam produktifitas anak ayam.
Salah satu agen penyakit yang sangat mempengaruhi keberhasilan produksi ayam broiler modern adalah penyakit gumboro. Hal ini tentu sangat merugikan peternak, dikarenakan penyakit Gumboro akan menimbulkan sejumlah kematian anak ayam, peningkatan ayam afkir dan penurunan kinerja yang disebabkan oleh adanya kepekaan terhadap berbagai penyakit dan stress. Berbagai aspek manajemen seperti stress lingkungan, biosekuriti, lokasi peternakan dan sistem perkandangan yang kurang ideal akan mendukung tejadinya kasus penyakit Gumboro. Program vaksinasi terhadap Gumboro telah dilakukan oleh hampir seluruh peternak, namun dikarenakan kurang optimalnya program vaksinasi, kasus Gumboro masih tetap dapat muncul. Hal tersebut didukung pula oleh sifat virus Gumboro yang stabil pada kondisi fisik dan kimiawi lingkungan, serta sangat mudah menular dan tahan hidup di lingkungan kandang sampai 120-an hari setelah bersih kering kandang.
Hal yang perlu diwaspadai adalah penyakit Gumboro merupakan penyakit yang bersifat imunosupresi dikarenakan virus Gumboro dapat merusak morfologi dan fungsi organ limfoid primer, terutama bursa fabricius. Rusaknya bursa fabricius akan mengakibatkan suboptimalnya pembentukan antibodi terhadap berbagai program vaksinasi, sehingga kepekaan terhadap berbagai agen penyakit menjadi meningkat.

Pencegahan IBD dengan Vaksinasi
Berdasarkan berbagai macam dampak penyakit Gumboro, perlu dilakukan tindakan pencegahan dengan melakukan vaksinasi, baik pada ayam pedaging, ayam petelur maupun ayam pembibit. Program vaksinasi untuk penanggulangan penyakit Gumboro sangat diperlukan untuk mengurangi gejala klinis dan mortalitas dan terpenting mencegah adanya efek imunosupresi pada anak ayam.
Namun tentu saja tidak cukup penanggulangan penyakit Gumboro hanya dengan melakukan tindakan vaksinasi saja. Agar vaksinasi dapat berhasil perlu beberapa upaya pendukung lainnya, seperti biosekuriti ketat dan tatalaksana peternakan yang optimal.
Prinsip utama vaksinasi terhadap penyakit adalah vaksin harus diberikan terlebih dahulu sebelum terjadinya infeksi lapangan, vaksin tersebut harus dapat menstimulasi pembentukan antibodi secara cepat dan tinggi, kemudian melakukan tindakan biosekuriti yang ketat untuk mencegah jumlah virus lapang lebih besar dari jumlah antibodi yang terbentuk dalam tubuh ayam. Bila Jumlah virus lapang tidak dapat diperkecil oleh tindak biosekuriti yang dilakukan, setinggi apapun titer antibodi yang dihasilkan oleh vaksin akan tidak mampu untuk mencegah terjadinya penyakit.
Pada umumnya para peternak Broiler memiliki pertanyaan yang sama : kapan waktu (umur ayam) yang tepat untuk melakukan vaksinasi?
Teori yang telah ada menyebutkan bahwa bila dilakukan vaksinasi dengan menggunakan vaksin IBD aktif (strain intermediate dan intermediate plus) pada ayam dengan antibodi asal induk (Maternal Antibodi-MAb) masih tinggi, maka antigen vaksin akan dinetralisasi oleh antibodi asal induk, sebagai akibatnya, vaksin tidak akan dapat menstimulasi terjadinya kekebalan. Pada sisi lain, pelaksanaan vaksinasi tidak dapat menunggu waktu yang terlalu lama sampai titer antibodi asal induk menjadi terlalu rendah karena dapat menyebabkan ayam terlalu lama tidak terproteksi terhadap virus gumboro asal lapang yang ganas.
Bila tantangan virus gumboro asal lapang sangat tinggi tentunya perlu dilakukan vaksinasi sesegera mungkin. Oleh sebab itu, sebagian peternak menggunakan cara atau metode perhitungan tertentu untuk dapat memperkirakan waktu yang tepat untuk dapat melakukan vaksinasi gumboro.
Prinsip menentukan pada umur berapa ayam dapat divaksinasi tersebut sangat sederhana yaitu dengan mengetahui level titer maternal antibodi pada umur awal ayam (0 s/d 4 hari), dan karena penurunan titer terjadi secara teratur (skala log2), maka dapat diperkirakan kapan level titer maternal antibodi menjadi rendah sehingga memungkinkan dilakukannya vaksinasi.
Faktor-Faktor yang harus diperhatikan sewaktu melakukan estimasi waktu pelaksanaan vaksinasi yang optimal, adalah sebagai berikut :
1. Jumlah sample per Flok minimal 18 sampel yang diperlukan untuk mendapatkan sample yang representative dari suatu flok. Namun banyak pihak melakukan efisiensi biaya dengan hanya mengambil 10 – 15 sampel per flok (yang berasal dari beberapa kandang). Hal tersebut tentunya dapat dilakukan dengan syarat pengambilan sample harus sebaik mungkin, sehingga didapat jumlah serum per sample yang cukup dan berkualitas baik (tidak lisis dan tidak berlemak) sehingga dapat mewakili status kekebalan dari flok.
2. kualitas Sampel Ayam yang baik harus berasal dari ayam yang sehat untuk mendapatkan gambaran serologis flok yang representative. Sangat tidak disarankan mendapatkan sample yang berasal dari ayam dehidrasi atau sakit.
Bila dua kondisi tersebut di atas tidak didapat maka perkiraan tanggal vaksinasi gumboro tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya.
Penurunan level maternal antibodi berbeda antara setiap tipe ayam. Terjadinya penurunan level maternal antibodi adalah sebagai akibat metabolisme dan pertumbuhan anak ayam. Perhitungan waktu paruh maternal antibodi, untuk broiler 3 sampai 3,5; breeder 4,5 dan layer 5,5. (berdasarkan pengukuran dengan virus neutralization test). Perhitungan waktu paruh maternal antibodi tersebut dapat berbeda tergantung situasi lapangan.
Level antibodi pada umumnya bertahan selama 4 hari pertama dikarenakan penyerapan kuning telur mengkompensasi penurunan titer sebagai akibat metabolisme dan pertumbuhan ayam. Sejak umur 4 hari, kadar titer darah turun 1 log2 per waktu paruh. Pada perhitungan tersebut, kolekting sampel dibawah umur 4 hari akan mengkompensasi fenomena tersebut.
Ide penggunaan perhitungan tersebut didasari bahwa waktu pelaksanaan vaksinasi tidak mungkin dapat menunggu waktu yang terlalu lama sehingga semua ayam memiliki titer MAb yang cukup rendah, karena hal tersebut akan meningkatkan resiko ayam terserang gumboro. Alasan lain untuk tidak perlu menunda pelaksanaan vaksinasi sampai semua ayam memiliki titer maternal antibodi yang cukup rendah dikarenakan virus vaksin aktif gumboro akan akan menyebar sampai beberapa hari setelah pelaksanaan vaksinasi. Maka, ayam yang akan mengalami ‘kegagalan vaksinasi’ dikarenakan antigen vaksin ternetralisir oleh MAb yang cukup tinggi, akan divaksinasi kembali oleh ayam yang lain (diasumsikan bahwa minimal 75% ayam telah berhasil divaksinasi).
Menurut teori tersebut, vaksin Gumboro memiliki perbedaan breaktrough titer (kondisi jumlah titer/level maternal antibodi yang tidak akan menetralisir antigen vaksin gumboro). Vaksin gumboro “hot” dan intermediate plus dapat menembus level titer maternal antibodi yang lebih tinggi dibanding vaksin intermediate. Untuk vaksin intermediate plus seperti IBD Blen, angka breaktrough titer adalah 500 (Idexx-Elisa), sedangkan untuk vaksin intermediate seperti Bursa Blen M, angka breaktrough titer adalah 125 (Idexx-Elisa). Jika menggunakan vaksin yang lain, maka angka breaktrough titer didapat sesuai informasi dari produsen/distributor vaksin. Seperti BUR 706 yang tidak memiliki breaktrough titer, karena jenis antigen virus vaksin strain 706-nya yang tidak dapat dinetralisir oleh maternal antibodi, sehingga dapat dipergunakan tanpa harus mengetahui kondisi titer maternal antibodi dan dapat dipergunakan sebagai vaksin dini pada umur 1 hari.
Seringkali hasil pemeriksaan serologis menunjukkan level titer yang rendah dan titer yang tidak seragam keseragaman, maka rumus perhitungan tersebut menyarankan untuk melakukan Dua Kali Vaksinasi. Sebagai contoh, perhitungan memakai formulasi perhitungan umur (hari) yang tepat untuk dapat melakukan vaksinasi sebagai berikut : 18 sampel yang didapat dari ayam Broiler berumur 1 hari, dan di uji dengan Elisa-Idexx, kisaran titer maternal antibodi yang didapat adalah: terendah 235 dan tertinggi 4886. Vaksin yang ingin digunakan peternak adalah IBD Blen dengan breaktrough 500 (Elisa-Idexx). Ayam dengan titer maternal antibodi terendah dapat divaksinasi pada hari ke- 3 (Umur 3 hari). Ayam dengan titer maternal antibodi tertinggi dapat divaksinasi pada hari ke- 13 (Umur 13 hari). Jadi, perbedaan pelaksanaan vaksinasi dengan menggunakan titer tertinggi dan terendah sebesar 10 hari. Hal ini menunjukkan adanya tingkat keseragaman titer maternal antibodi yang rendah.


No TITER No TITER No TITER No TITER
1 235 6 1075 11 1364 16 3968
2 379 7 1171 12 1658 17 4328
3 802 8 1299 13 3724 18 4886
4 885 9 1332 14 3802
5 938 10 1342 15 3835

Tabel 1. Contoh Titer hasil pemeriksaan serologis terhadap MAb Gumboro pada ayam Broiler dengan menggunakan kit Idexx-Elisa.



Tabel 2. Contoh Grafik titer hasil pemeriksaan serologis terhadap MAb Gumboro pada ayam Broiler dengan menggunakan Kit Idexx Elisa



Untuk kasus-kasus tersebut di atas, Peternak disarankan melakukan vaksinasi terhadap gumboro menggunakan BUR 706 dihari pertama, kemudian diberikan vaksin kedua IBD Blen pada kisaran umur 14 – 18 hari. Perhitungan perkiraan pelaksanaan vaksinasi gumboro tersebut didasarkan atas waktu paruh maternal antibodi yang dihitung berdasarkan uji netralisasi virus (VN test). Prinsip penggunaan Rumus perhitungan berlaku selama terdapat korelasi yang tepat antara waktu paruh sebagaimana dihasilkan uji Elisa dan Uji netralisasi virus.
Namun, ada 2 kendala yang terus berputar terkait dengan pelaksanaan dan penggunaan program perlindungan bursa tersebut. Hal pertama adalah sulitnya harga pronak yang terus berfluktuasi dan kadang berada dibawah harga pokok sehingga peternak berusaha menekan biaya serendah mungkin dan yang kedua adalah biaya sapronak (yang telah tertekan) sulit untuk lebih ditekan lagi. Contoh lebih mudahnya adalah untuk Program Perlidungan Pernafasan (misal untuk penyakit ND), peternak Broiler, umum menggunakan 2 kali vaksin aktif dan 1 kali vaksin in-aktif, sedangkan untuk Program Bursal Shield, peternak Broiler umumnya hanya menggunakan satu kali vaksin aktif, padahal tantangan virus lapang menuntut adanya Program Perlindungan Bursa yang serial, atau lebih dari satu kali penggunaan vaksin

Program Vaksinasi Gumboro.
Untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit Gumboro, PT Romindo Primavetcom sejak tahun 1992 telah memperkenalkan program vaksinasi terhadap penyakit gumboro (Bursal Shield Program) yang telah terbukti efektif untuk perlindungan terhadap penyakit Gumboro sehingga peternak terhindar dari kerugian. Program Perlindungan Bursa untuk ayam pedaging seperti tabel berikut :

Program Vaksinasi Gumboro untuk Broiler pada Daerah Resiko Tinggi dengan vvIBD
Program I
Vaksinasi Awal :
Menggunakan vaksin aktif BUR 706
Pada umur 1 hari,
Cara pemberian : spray, tetes mata.
Vaksinasi Penguat :
Menggunakan vaksin aktif : Intermediate plus (IBD Blen) , pada umur 14-18 hari
Cara pemberian : air minum, cekok mulut.
Program II Vaksinasi Awal :
Menggunakan vaksin aktif BUR 706
Pada umur 1 hari,
Cara pemberian : spray, tetes mata.
Vaksinasi Penguat :
Menggunakan vaksin in-aktif : IBD killed (Gumboriffa/Gumbopest) , pada umur minggu pertama
Cara pemberian : suntikan sub kutan

Konsep Perlindungan Bursa tersebut di atas memiliki dua buah program untuk pemeliharaan ayam Broiler. Program I direkomendasikan untuk farm Broiler dengan tatalaksana all in-all out, dengan flok tertentu telah terjadi out break gumboro. Dan Program II direkomendasikan untuk farm Broiler dengan tatalaksana multiple-age. Pada penggunaan kedua program tersebut harus terus dimonitor agar keberhasilan vaksinasi terus terjaga, terutama kesesuaian umur pada program vaksinasi penguat/booster.
Konsep Perlindungan Bursa tersebut harus didukung dengan kualitas vaksin yang baik. Kualitas vaksin ditentukan oleh cara pembuatan vaksin, distribusi dan penyimpanan vaksin, kemampuan vaksin menggertak kekebalan ayam dan masa kedaluarsa vaksin. Selain dari masalah kualitas vaksin, yang harus diperhatikan peternak adalah cara pemberian vaksin/metode vaksinasi yang akan sangat mempengaruhi hasil vaksinasi. Selain itu faktor lain yang memegang andil keberhasilan vaksinasi adalah keterampilan vaksinator yang terlatih, peralatan vaksinasi beserta sarana/prasarana peternakan ayam yang mendukung, dan status kesehatan ayam sewaktu pelaksanaan vaksinasi. Semua parameter tersebut di atas memegang kunci penting dalam penanggulangan penyakit Gumboro.
BUR 706® merupakan produk vaksin aktif untuk Vaksinasi Dini Gumboro pada anak ayam umur sehari. BUR 706® merupakan vaksin aktif dengan kandungan antigen Gumboro yang telah diattenuasi. BUR 706® mengandung strain S 706 yang merupakan strain antigen gumboro low-intermediate yang tidak akan terpengaruh oleh level titer antibodi asal induk. BUR 706® akan memberikan perlindungan yang lebih kuat pada Bursa Fabricius dan Thymus dari serangan penyakit gumboro pada usia dini.
IBD Blen® merupakan vaksin aktif untuk melindungi terhadap virus Gumboro yang sangat ganas. IBD Blen® merupakan vaksin aktif dengan kandungan antigen Gumboro strain Winterfield yang merupakan strain intermediate plus yang aman. IBD Blen® akan memberikan perlindungan yang lebih kuat pada Bursa Fabricius dan Thymus dari serangan penyakit gumboro yang ganas.
GUMBOPEST® merupakan vaksin inaktif gabungan untuk melindungi ayam terhadap serangan Gumboro dan sekaligus melindungi ayam dari serangan penyakit Newcastle Disease. GUMBOPEST® merupakan vaksin inaktif 0,3 dengan teknologi pemurnian dan konsentrasi antigen yang lebih tinggi dengan kontak permukaan antigen yang lebih luas sehingga akan lebih mudah dan cepat menstimulasi terbentuknya antibodi sehingga kekebalan terhadap gumboro dan Newcastle Disease akan lebih efektif dan optimal. GUMBOPEST® merupakan vaksin inaktif dengan dosis 0,3 ml dengan adjuvant khusus dan tidak akan menimbulkan lesi pada jaringan otot tempat penyuntikan dan dengan mikrodepo partikel antigen akan memberikan kontak permukaan lebih banyak yang didukung konsistensi adjuvan yang tepat sehingga partikel antigen akan terdistribusi ke jaringan lebih cepat dan segera menggertak terjadinya antibodi.


Drh Nurvidia Machdum
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 266
JAKARTA. Telp.021 8300300

Kemasan Diri

Kemasan Diri

Bambang Suharno


Bagi anda yang bergerak di bidang pemasaran, kisah di bawah ini mungkin bukan hal baru. Saya ingin melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

Alkisah, ada 3 karton yang berisi kaleng minuman ringan (softdrink) yang diproduksi di sebuah pabrik. Suatu hari, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng minuman tersebut dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Karton pertama di turunkan di sini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng minuman lainnya dan diberi harga Rp. 4.000/kaleng.

Pemberhentian kedua adalah restoran. Di sana , karton diturunkan. Kaleng-kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng
minuman diturunkan di sana . Kaleng-kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas, melainkan di suatu tempat yang pelanggan tidak melihatnya. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki yang mewah. Pelayan hotel akan membuka kaleng itu, menuangkannya ke dalam gelas dengan sopan dan tersenyum manis untuk disajikan ke pelanggan. Di tempat ini harganya melambung menjadi Rp. 50.000.

Kaleng tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama. Anehnya, tidak ada konsumen yang protes terhadap perbedaan harga yang mencolok ini. Padahal jelas, kemasan kalengnya sama persis, pabriknya sama. Ada apa di balik semua ini?

Dalam marketing modern, kemasan sebenarnya sudah mampu melampaui fungsi basic-nya sebagai pembungkus dan pelindung. Ia sudah menjadi tools yang berfungsi sebagai “silent salesman” di rak-rak toko dan rumah konsumen, bahkan juga untuk membangun loyalitas konsumen terhadap produk. Demikian pendapat Roslyn N Wiria, Design Director PT Synzygon Brand Komunikasi.

Packaging sebenarnya gabungan antara sains (dalam hal melindungi produk) dan seni (dalam hal merepresentasikan produk). Sains lebih mengarah kepada desain struktural yang ergonomis dan berfungsi untuk memudahkan pemakai dalam proses pengidentifikasian, penggunaan, penempatan, pengepakan, penyimpanan, dan distribusi sebuah produk. Jadi, bagaimana desainnya bisa stabil jika diletakkan; kalau dipegang tidak masalah; display, penggunaan, dan pengirimannya bagus. Sedangkan seni menyangkut bagaimana teks, warna
dan gambarnya bisa menarik perhatian dan mengikat emosi orang yang melihatnya.

Dalam marketing, packaging merupakan sarana komunikasi sebuah produk. Kemasan menjadi sarana terbaik untuk mendorong konsumen untuk membeli sebuah produk dan untuk membangun loyalitas konsumen terhadap produk. Sebab, packaging bisa menjadi “personal statement” bagi konsumen untuk menunjukkan jati diri mereka.

Namun dalam perkembangan marketing yang modern, belakangan ini bukan hanya kemasan fisik yang membuat sebuah produk menjadi lebih berharga. Kemasan lingkungan akan menambah nilai dari sebuah kemasan fisik. Contohnya, kasus minuman ringan tadi.

Kemasan lingkungan, mulai dari lokasi usaha, kemewahan gedung dan kemasan pelayanan dapat merubah harga menjadi sedemikian fantastis. Sate ayam di warung tenda pinggir jalan dengan di hotel berbintang harganya jauh berbeda, dan masing-masing tetap ada pembelinya. Sayuran dari pucuk gunung yang ditanam tanpa pupuk kimia, dapat dikemas di restoran mewah dengan label sayuran organik, dengan harga jauh di atas harga sayuran pada umumnya.

Kini, kita bisa bercermin kepada kasus kaleng minuman ringan . Benarkah kemasan ”lingkungan” kita mencerminkan ”harga’” kita?

Para pakar genetika ternak mengatakan performa produksi ternak akan optimal apabila mutu genetik bagus didukung lingkungan yang sesuai. Ternak ayam ras yang potensi produksi telurnya 300 butir per tahun, membutuhkan perlakuan lingkungan yang berbeda dengan ayam kampung yang hanya 100 butir per tahun.

Lingkungan kita pun membentuk kita dengan cara yang unik. Ia mempengaruhi melalui televisi, radio, bacaan media cetak, media internet, obrolan di warung kopi, obrolan dengan teman sekantor atau seprofesi, obrolan teman sekolah, rapat RT, bahkan obrolan dengan seseorang yang baru kenal. Semuanya dapat mempengaruhi pola pikir anda dan selanjutnya membuat citra anda yang sekarang anda miliki.


Lingkungan kita telah mengemas kita menjadi sesuatu yang seperti sekarang ini. Kita tidak perlu heran, bila kita rela membayar seorang tokoh dalam suatu seminar dengan harga yang mahal meskipun kita sudah tahu apa yang akan dia bicarakan. Ya, karena tokoh itu pemimpin organisasi tertentu, menerima penghargaan dari lembaga internasional, dan segudang pengalaman lainnya.

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda karena Lingkungan berbicara tentang relationship. Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama akan bernilai berbeda jika ia berasal dari lingkungan
yang berbeda.***

Email bambangsuharno@telkom.net
Informasi training SDM perusahaan hubungi Gita Organizer 021.78841279 (Nur Aidah), 08129354768 (Fajar Adi Purnama)

ASOHI JATENG SYAWALAN

Peristiwa
ASOHI JATENG SYAWALAN

Bertempat di Hotel Solo Inn Jl Slamet Riyadi Solo Jawa Tengah telah berlangsung acara Syawalan Keluarga Besar ASOHI Jateng dengan Para Peternak Ayam maupun Babi. Hadir Kepala Dinas Peternakan Sragen, Surakarta, Wonogiri, Karanganyar dan Sukoharjo.
Ketua ASOHI cabang Jateng Hadi Santosa, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa acara ini sudah rutin diselenggarakan ASOHI Jateng setiap tahun dengan tempat yang berpindah-pindah di kota Propinsi Jateng.
Lebih lanjut, Hadi mengungkapkan bahwa moment ini sangat tepat mengingat para anggota ASOHI yang di lapangan berkompetisi, maka wajar jika sering terjadi friksi,gesekan antar anggota. Maka pada acara syawalan inilah moment tepat untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru. Namun yang penting hendaknya dalam memasarkan suatu produk janganlah berlaku kurang etis.
“Janganlah terlalu sering menjelek-jelekan produk kompetitor. Namun kalau hanya mengklaim produknya yang terbaik seperti itu silakan,” ujar Hadi.
Hikmah Syawalan diuraikan oleh Ustadz Muda Agung, yang memaparkan pentingnya berbuat baik dan jangan balas dendam. Meskipun hadirin para anggota ASOHI adalah berkompetisi saat di lapangan, namun hendaknya perilaku santun dalam berniaga harus tetap diutamakan. (iyo)

Alltech Luncurkan Young Scientist Award 2008-2009

Peristiwa
Alltech Luncurkan Young Scientist Award 2008-2009

Perusahaan kesehatan hewan dunia, Alltech, mengumumkan dibukanya program tahunan Alltech Young Scientist Programme untuk periode tahun 2008 - 2009. Awalnya acara ini hanya dibuka untuk mahasiswa S-1, tapi sejak tahun ini program ini juga dibuka untuk mahasiswa program S-2 dan S-3.
“Komitmen terhadap riset dan generasi muda adalah penting baik bagi kesuksesan industri dan Alltech di masa depan. The Alltech Young Scientist Programme di desain untuk mendorong pelajar agar dapat mengembangkan dunia peternakan dan kesehatan hewan,” jelas Presiden sekaligus pendiri Alltech, Dr. Pearse Lyons.
“The Alltech Young Scientist Award telah memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman untuk mulai menerapkan ilmu yang saya peroleh dari pelajaran di ruang kelas dan mengaplikasikannya bersama-sama dengan para professional di bidang riset,” kata Craig Louder, pemenang tahun 2008. “Acara ini telah menjadi pengalaman yang sangat penting dan mendorong pelajar lainnya yang tertarik dengan ilmu alam untuk mengambil keuntungan dari kesempatan berharga ini.”
Craig Louder, seorang mahasiswa dari Utah State University, adalah pemenang level internasional dengan karya tulisnya yang berjudul, “The Estrogenic Mycotoxin Zearalenone and its Importance in Livestock Production.” Ia bergabung dengan pemenang 2007, Lucas Mascardi dari University of Buenos Aires, Argentina, dan Matthew Scobie dari University of Saskatchewan, Kanada, pemenang 2006.
Untuk berpartisipasi, mahasiswa harus membuat sebuah karya tulis ilmiah berdasarkan topik yang mengenai teknologi pakan hewan. Mahasiswa S-1 harus membuat karya tulis ilmiah sebanyak 3.000 kata dalam Bahasa Inggris sementara mahasiswa S-2 dan S-3 harus membuat karya tulis sebanyak 5.000 kata. Program ini juga terbagi ke dalam dua fase yaitu Fase Regional dan Fase Internasional. Para pemenang dari fase ini berhak mengikuti Fase Internasional. Mahasiswa dapat mendaftarkan dirinya di www.alltechyoungscientist.com. Deadline untuk pendaftaran dan memasukkan karya ilmiah adalah pada tanggal 27 Februari 2009. (inf)

SAATNYA REKONSTRUKSI KANDANG :OPEN ATAU CLOSE HOUSE-KAH PILIHAN ANDA?

SAATNYA REKONSTRUKSI KANDANG :
OPEN ATAU CLOSE HOUSE-KAH PILIHAN ANDA?

(( Rekonstruksi kandang terbuka menjadi kandang tertutup membutuhkan komponen-komponen seperti kandang, kipas, cooling pad, temptron yang berfungsi sebagai pengontrol utama, panel kontrol listrik, tirai untuk samping kanan dan kiri plafon, dan listrik yang bisa bersumber dari PLN dan Genset. ))

Kandang dan ternak ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Kandang merupakan “rumah” atau suatu tempat yang difungsikan untuk tempat berlindung bagi ayam, tempat melakukan aktivitas produksi dan reproduksinya serta tempat yang memberikan jaminan perlindungan bagi ternak dari berbagai gangguan binatang buas dan bahaya maling.
Berdasarkan ini, maka pembangunan kandang untuk ayam perlu disesuaikan dengan kebutuhan ayam dan sesuai pula dengan kondisi keuagan yang dimiliki oleh peternak. Berbagai macam bentuk kandang sering diperdebatkan dalam hubungannya dengan fungsi kandang itu sendiri.
“Pilihan model dan sistem kontruski kandang sebenarnya bukan disesuaikan dengan keinginan peternak namun perlu dipertimbangkan dari kenyamanan ayam yang dipelihara yang secara nyata akan memberikan hasilnya berupa daging dan telur,” papar Ir Ahmadi dari Charoen Pokphand Indonesia mengawali presentasinya pada event Indo Livestock 2008 di Jakarta Convention Centre tanggal 2 Juli 2008 lalu.

Kandang Sistem Terbuka

Menurut Ir Ahmadi, di lapangan bentuk kandang yang umum dijumpai adalah kandang sistem terbuka atau open house baik sistem panggung maupun sistem postal dengan lantai beralasakan sekam, serutan gergaji kayu dan beberapa peternak pernah juga menggunakan jerami.
Menurutnya, model kandang sistem terbuka memberikan kontribusi yang kurang bagus bila dibandingkan dengan model kandang sistem tertutup. Hal ini dikemukakannya berdasarkan pengalaman lapang yang dimilikinya dalam kurun waktu yang cukup lama.
Di samping itu, model kandang sistem terbuka tidak sesuai lagi dengan perkembangan mutu genetic ayam ras saat ini, yakni ayam dengan strain-strain modern dengan tingkat pertumbuhan yang cepat bila dibandingkan dengan strain-strain ayam tempo dulu.
Sementara itu, pengetahuan sebagian peternak akan pentingnya kesehatan lingkungan untuk meningkatkan kesehatan pribadi juga memberikan peluang pada renovasi atau rekonstruksi kandang ayam broiler dan layer model terbuka ke model tertutup.
Kandang model tertutup dimaksudkan untuk meminimalisir kontak antara ayam dengan kondisi lingkungan di luar kandang. Menurut Ir Ahmadi bahwa tujuan pembangunan kandang sistem tertutup adalah menciptakan lingkungan ideal dalam kandang, meningkatkan produktivitas ayam, efisiensi lahan dan tenaga kerja serta menciptakan usaha peternakan yang ramah lingkungan.
Namun sejauh ini rekonstruksi kandang terbuka menjadi kandang tertutup dihadapkan pada kendala modal yang dimiliki peternak masih jauh dari cukup untuk pengembangannya. Di samping itu, kendala lain yang dihadapi peternak adalah teknologi yang dipunyai masih kurang serta minimnya infrastruktur. Lalu apa yang dimaksud dengan kandang sistem tertutup?

Kandang Sistem Tertutup

Menurut Ir Ahmadi kandang sistem tertutup atau close house merupakan sistem kandang yang harus sanggup mengeluarkan kelebihan panas, kelebihan uap air, gas-gas yang berbahaya seperti CO, CO2 dan NH3 yang ada dalam kandang, tetapi disisi lain dapat menyediakan berbagai kebutuhan oksigen bagi ayam.
Berdasarkan ini, kandang dengan model sistem tertutup ini diyakini mampu meminimalkan pengaruh-pengaruh buruk lingkungan dengan mengedepankan produktivitas yang dipunyai ayam.
Secara konstruksi, kandang sistem tertutup dibedakan atas dua sistem yakni pertama sistem tunnel dengan beberapa kelebihan yang dimilikinya seperti mengandalkan aliran angin untuk mengeluarkan gas sisa, panas, uap air dan menyediakan oksigen untuk kebutuhan ayam. Sistem tunnel ini lebih cocok untuk area dengan temperatur maksimal tidak lebih dari 30 0C.
Sistem kedua adalah evaporative cooling sistem (ECS). Sistem ini memberikan benefit pada peternak seperti mengandalkan aliran angin dan proses evaporasi dengan bantuan angina. Sistem kandang tertutup ini hanya cocok untuk daerah panas dengan suhu udara di atas 35 0C. Lalu dari mana sumber panas dan sumber uap airnya?
Dijelaskan Ir Ahmadi bahwa sumber panas berasal dari ayam itu sendiri, sinar matahari yang ditransfer secara radiasi, panas dari brooder pada masa brooding dan panas dari proses ferementasi dalam sekam. Sementara itu sumberi uap air dikatakannya dapat berasal dari kelembaban lingkungan, proses evaporasi, sisa air yang dikeluarkan bersama dengan feses, dan air minum yang tumpah.

Rekonstruksi

Untuk rekonstruksi kandang terbuka menjadi kandang tertutup membutuhkan komponen-komponen seperti kandang, kipas, cooling pad, temptron yang berfungsi sebagai pengontrol utama, panel kontrol listrik, tirai untuk samping kanan dan kiri plafon, dan listrik yang bisa bersumber dari PLN dan Genset.
Namun dikatakan Ahmadi bahwa pada kandang model sistem tertutup tetap masih bisa dijumpai kegagalan-kegagalan.
Kegagalan dimaksud akibat desain kandang yang kurang tepat, kurang memahami manajemen kandang tertutup, kurangnya perawatan peralatan kandang, permasalahan kipas terkait mutu dan kuantitasnya, sumber penerangan terkait sering padamnya, luas inlet yakni perbandingan luas area dengan kuantitas kipas yang dimiliki, program minimalisasi amoniak yang kurang efektif, posisi kandang satu dengan yang lainnya yang kurang diperhatikan, serta pemasangan tirai yang kurang rapat.
Dari sisi produktivitas sejauh ini kandang sistem tertutup terbukti memberikan performa terbaik bila dibandingkan dengan kandang sistem terbuka.
Sementara itu Ir Jarot Rustanto juga dari Charoen Pokphand Indonesia menyatakan bahwa untuk ayam petelur sistem kandang tertutup mampu meningkatkan performa baik produksi telur maupun kualitas telur.
Di samping itu, kontrol penyakit menular lebih mudah diantisipasi bila dibandingkan dengan kandang sistem terbuka. Terkait kualitas telur, Jarot menjelaskan bahwa telur yang dihasilkan warnanya coklat seragam, kerabang telur cukup keras, keretakan telur cukup rendah, warna kuning telur cerah, bentuk kuning telur cembung, dan putih telur cukup kental bila dibandingkan dengan telur yang dihasilkan layer dengan sistem terbuka.
“Ini merupakan prestasi yang saat ini diraih oleh beberapa peternak binaan saya di daerah Jawa Timur yang sudah menerapakan sistem pemeliharaan dengan sistem kandang tertutup ini,” jelas Jarot.
Di samping itu, harga telur dari kandang tertutup berbeda jauh dengan harga telur yang diproduksi dari kandang sistem terbuka.
Lalu apa kendalanya? Modalkah atau kemauan peternak? Bila modal, ini merupakan alasan yang kurang tepat karena secara ekonomi, biaya per ekor ayam untuk ayam broiler hanya Rp 19.350 yang disesuaikan dengan usia ekonomi kandang dimaksud. (Daman Suska).

PERBAIKAN TATA LAKSANAMencegah Kerugian di Farm dari yang Non-Infeksius

PERBAIKAN TATA LAKSANA
Mencegah Kerugian di Farm dari yang Non-Infeksius


(( 63 tahun sudah negeri ini terlepas dari kungkungan penjajahan bangsa asing. 63 tahun sudah bangsa ini mulai bangkit dari keterpurukan ekonomi, gradasi moral, namun secara totalitas bangsa ini masih membutuhkan waktu untuk memulihkan semangat kemerdekaan bersama dengan semangat juang tokoh bangsa terdahulu. Beternak salah satu profesi jalan keluar itu. ))

Saat ini, 63 tahun sudah bangsa ini bebas bergelut dengan waktu, dengan berbagai profesi yang bertujuan untuk menghasilkan uang demi kelangsungan hidup keluarga tercinta. Salah satu profesi dimaksud adalah peternak, yakni orang yang menghabiskan waktunya untuk memelihara unggas seperti ayam ras dan jenis unggas lainnya yang lolos dari seleksi dan adaptasi lingkungan yang dipelihara manusia untuk memperoleh produk yang bernilai gizi tinggi.
Namun tahukah kita (red; bangsa ini) bahwa unggas bukanlah mesin-mesin produksi yang dapat menghasilkan barang dengan kapasitas yang diharapkan manusia. Unggas adalah makluk hidup yang membutuhkan sentuhan kreativitas dan seni yang terangkum dalam manajemen pemeliharaan yang mumpuni unggas-unggas tersebut hidup dan berkembangbiak dengan baik.
Berdasarkan ini, maka peternak sebagai garda terdepan pemasok daging sebagai sumber protein hewani untuk calon generasi bangsa ini, perlu belajar terus, up date semua ilmu yang dimiliki dengan informasi-informasi baru bersama Infovet yang tetap terdepan sebagai media penyaji informasi peternakan dan kesehatan hewan.
Memelihara ayam terutama ayam komersial yakni ayam ras petelur dan pedaging membutuhkan kreativitas dan seni. Peternak yang kreatif biasanya mampu mengahasilkan produk melebihi dari standar yang diharapkan.
Peternak kreatif artinya peternak yang menemui sendiri jawaban atas permasalahan yang dihadapi, artinya disini peternak harus rajin membaca, bertanya dan mengikuti berbagai kegiatan seminar yang berhubungan dengan usaha yang digelutinya.
Hal ini pernah dikatakan Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD dalam sebuah seminar Perunggasan Indonesia Terkini. Menurutnya peternak Indonesia harus lebih pintar, baik terkait manajemen pemeliharaan maupun pemasaran yang dikatakan sebagai indikator keberhasilan berusaha di bidang ini.
Lebih lanjut dikatakan mantan Dekan Fakultas FKH UGM Yogyakarta ini bahwa saatnya peternak menemui sendiri jawaban dari permasalahan yang mereka hadapi. Namun ini tetap sesuai dengan batasan-batasannya, artinya disaat permasalahan tersebut tak jua kunjung mendapatkan pemecahan, maka peternak jangan sungkan berdiskusi dengan Technical Services dari berbagai perusahaan pakan, obat-obatan dan vitamin di lapangan serta dengan instansi terkait lainnya.
Lalu mengapa peternak kreatif dan pintar diidentikan dengan peternak yang suka mengikuti seminar? Dikatakan Prof Charles bahwa melalui seminar tersebut peternak dapat mengetahui perkembangan terkini dunia perunggasan Indonesia bahkan dunia, sehingga tradisi beternak dengan hanya memanfaatkan modal tanpa kepandaian akan berpotensi besar merugi dapat dianulir meskipun saat ini tersedia tenaga-tenaga kerja dengan basic peternakan dan kedokteran hewan.
“Peternak jangan sekali-kali menyerahkan sepenuhnya persoalan seputar usaha peternakannya kepada anak kandang dan atau petugas lainnya, artinya peternak tetap menjadi barrier atau penghalang berbagai tindakan yang dapat menimbulkan kerugian pada usahanya,” jelas Prof Charles.
Kemudian, untuk mencapai produksi ayam broiler dan layer maksimal diperlukan pemeliharaan yang sesuai dengan standar yang dianjurkan. Hal ini terkait dengan kemajuan-kemajuan yang diraih ayam broiler dan layer yang semakin baik dari waktu ke waktu. Kemajuan dimaksud seperti ditampilkan pada Tabel.
Berdasarkan pada kemajuan yang dicapai di bidang perkembangan evolusi genetik tersebut maka peternak juga harus menyeimbangkannya dengan cara meningkatkan manajemen pemeliharaan. Banyak yang bisa dilakukan peternak untuk meningkatkan produksi ayam broiler dan layer yang dipelihara, antara lain memilih bibit yang baik yakni bibit yang benar-benar berasal dari induk dengan mutu genetik yang tinggi.
Kemudian, memperbaiki sistem perkandangan apakah dengan menggunakan kandang sistem terbuka (open house) atau dengan kandang sistem tertutup (closed house) yang lagi ngetrend saat ini. Lalu memperbaiki sistem perpakanan, mulai dari gudang pakannya, asal pakan dan cara pemberian pakan pada ayam broiler dan layer yang dipelihara.
Satu hal yang perlu juga mendapatkan perhatian adalah manajemen kesehatannya karena hal ini dapat berdampak buruk terhadap capaian produksi ayam broiler dan layer tersebut. Di samping itu, pengetahuan pasar dan teknik pemasaran juga harus dimiliki oleh peternak. Ini diperlukan karena pada saat produksi melimpah, pasar tidak siap menerima maka peternak akan mengalami kerugian dari usahanya tersebut.
Untuk ayam broiler dan layer performannya dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain aspek kesehatan yang menjadi indikator keberhasilan di lapangan. Produksi yang maksimal hanya dapat dihasilkan dari ayam broiler dan layer yang maksimal pula kesehatannya.
Menurut Bambang Agus Murtidjo dalam bukunya Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam menjelaskan bahwa ayam yang sehat dicirikan dengan berjalannya fungsi fisiologis tubuh secara normal. Ayam yang sehat terlihat aktif mendapatkan makanan, air minum dan berinteraksi positif dengan lingkungannya bila dibandingkan dengan ayam broiler dan layer yang sakit.
Hal yang perlu dipahami peternak adalah bagaimana caranya menekan angka kesakitan (morbidity) lebih rendah dari standar yang dikeluarkan pembibit. Salah satunya adalah melalui peningkatan nilai gizi pakan yang diberikan kepada ayam-ayam tersebut.
Di samping itu, jumlah pakan yang diberikan juga harus sesuai dengan kebutuhannya. Terkait kandungan gizi pakan ini, banyak kejadian yang berhubungan dengan kekurangan gizi pakan yang dikonsumsi oleh ayam broiler dan layer, antara lain penyakit akibat defisiensi vitamin dan mineral atau nutritional deficiency. (Daman Suska).

MUNGKINKAH TERNAK GIZI BURUK?

MUNGKINKAH TERNAK GIZI BURUK?

(( Kejadian nutrisional defisiensi ini tidak signifikan pengaruhnya pada ternak bila dibandingkan dengan kejadian penyakit infeksius yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen. Meskipun demikian, tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur menyatakan bahwa ternak terbebas dari kasus gizi buruk. ))

Di Bengkulu, kasus defisiensi vitamin dan mineral tergolong rendah. Hal ini dilaporkan oleh Laboran drh Jananta. Menurutnya, dari preparat yang dikirimkan petugas lapangan dan dokter hewan dari beberapa pos kesehatan hewan yang ada, temuan kasus terkait defisiensi gizi ini masih terbilang rendah.
Namun drh Jananta Petugas Laboratorium dan Klinik Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu ini menegaskan bahwa statemen ini masih diragukan, hal ini mengingat masih kurangnya penelitian-penelitian terkait kasus defisiensi gizi ini pada ternak.
Menyoal kasus serupa pada ayam broiler dan layer, alumni FKH UGM ini berujar bahwa pada ayam broiler dan layer pernah dijumpai, terutama kasus umum berupa kekurangan mineral dengan penampakan ayam yang suka mematuk temannya sendiri atau kanibalisme. Namun persentasi kejadian sangat rendah terutama pada layer yang memang populasinya masih jauh dari cukup untuk Provinsi Bengkulu sendiri.
Sementara itu, drh Rondang Nayati MM Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Riau menyatakan bahwa kejadian defisiensi vitamin dan mineral pada unggas dan ruminansia ada namun kurang medapat perhatian peternak.
Hal ini mengingat kasus ini bukanlah penyakit menular sehingga kehadirannya kurang diresponi oleh peternak. Rondang melanjutkan bahwa dari instansinya sendiri selalu melakukan penyuluhan dan menyediakan vitamin dan suplemen lainnya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada petugas lapangan yang akan disampaikan kepada peternak di wilayah kerjanya.
Sejauh ini, laporan dari beberapa daerah menyebutkan bahwa kejadian nutrisional defisiensi ini tidak signifikan pengaruhnya pada ternak bila dibandingkan dengan kejadian penyakit infeksius yang disebabkan oleh mikroorganisme pathogen.
Meskipun demikian, istri mantan Kepala Dinas Peternakan Riau ini menegaskan bahwa laporan dari masing-masing daerah tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur menyatakan bahwa ternak Riau terbebas dari kasus gizi buruk.
Saat ini, pihak Dinas Peternakan Provinsi Riau bersama Fakultas Peternakan UIN Suska Riau mencoba melakukan kerja sama penelitian untuk mempelajari kemungkinan-kemungkinan berbagai kasus penyakit akibat defisiensi vitamin dan mineral dari berbagai jenis tanaman yang tumbuh di Bumi Lancang Kuning ini.

Malnutrisi

Sedangkan Ir Elfawati MSi mantan Ketua Program Studi Pertanian Fakultas Peternakan UIN Suska Riau menyatakan bahwa untuk tingkat peternak kasus-kasus malnutrisi sangat jarang terdeteksi.
Hal ini sesuai dengan pengalaman pribadinya dibeberapa lokasi di daerah tempat dilakukannya beberapa penelitian ditemui sapi dengan kondisi tubuh kurus padahal dari ketersediaan bahan pakan di daerah tersebut cukup bagus.
Keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki peternaklah yang menyebabkan penyakit-penyakit malnutrisi yang mengelompok ke dalam penyakit non infeksius ini tidak atau kurang terdeteksi.
Pada ternak unggaspun kasus yang sama pernah dijumpai Ibu dua putra ini, misalnya pada ayam petelur dengan penampakkan kaki pengkor, paruh tumbuh tidak sempurna, kanibalisme, dan berbagai jenis kerusakan organ eksteriur lainnya. Namun peternak terkesan membiarkan dengan sebuah alasan bahwa populasi yang terserang hanya sedikit. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan peternak?
Menurut alumni Pasca Sarjana Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor ini bahwa untuk peternak Riau diperlukan pengadaan kursus-kursus pendek dengan muatan dan penyampaian materi disesuaikan dengan keperluan peternak dan teknik penyampaian yang sesuai dengan metode pendidikan orang dewasa.
Terkait kerja sama penelitian dengan dinas instansi terkait di Riau, Dosen Nutrisi Unggas ini menjawab dengan tegas bahwa hal itu benar adanya. Bahkan beberapa bulan kedepan Fapet UIN Suska Riau akan mengadakan joint experiment dengan BPTP Provinsi Riau. Pada joint experiment nanti Elfa mengambil subyek penelitian tentang Penggunaan Prebiotik pada unggas khususnya pada ayam broiler dan layer.
Terkait Prebiotik tersebut, Ir Hj Elfawati MSi tertarik menggunakan sampel Biomos yang diproduksi PT Altech Biotechnology. (Daman Suska).

KIAT PETERNAK MENGAIS UNTUNG DI KANDANG

KIAT PETERNAK MENGAIS UNTUNG DI KANDANG

Sepuluh-dua puluh tahun yang lalu para peternak ayam potong dan petelur banyak menggantungkan kelanjutan usahanya dari fluktuasi harga jual hasil panen. Sangat sedikit yang profesional melakukan pemeliharaan yang sebaik mungkin. Hal itu wajar, karena meski mereka sudah memelihara dengan sangat baik, akan tetapi jika kemudian saat tiba memetik hasil produksi (panen) ternyata harga pasar jeblok. Mereka tetap saja akan merugi.
Jika merugi sekali dua kali, mungkin ketahanan modal masih bisa menutupi dan meneruskan usahanya. Akan tetapi jika, harga pasar yang rendah sampai dalam kurun waktu lama, maka sudah pasti ambruk dan sulit untuk bangkit kembali meneruskan usahanya.
Kini, trend baru muncul. Menurut Ir Yani Rustana dan Drh Joko Surono, praktisi perunggasan, bahwa keuntungan harus dimulai dari dalam kandang. Memungut keuntungan dalam usaha budidaya ayam potong dan petelur pada masa kini dan mendatang tidak dapat lagi hanya menggantungkan dari harga pasar.
Menurut Drh Joko, seorang peternak ayam petelur di Solo ini, bahwa dimasa yang lalu, harga pasar begitu dominan menentukan hidup matinya seorang peternak. Meski kini harus diakui bahwa harga pasar panen masih sedikit mempengaruhi, namun justru perolehan keuntungan yang signifikan dituntut dari mengais-ais di dalam kandang.
Lebih lanjut Joko menjelaskan, bahwa setelah perisitiwa besar menghempaskan perunggasan Indonesia yaitu wabah AI, peternak kembali merangkak bangkit. Namun ternyata kembali dihajar oleh harga jual panen yang rendah. Dan kini ketika harga pasar mulai sedikit membaik, ternyata masih dihantam harga pakan dan DOC yang terus meroket.
Maka bagi para peternak yang ulet dan mampu bertahan, tiada lain kecuali harus melakukan budidaya yang ekstra cermat. Efisiensi dan konversi pakan menjadi sesuatu yang terus dituju. Disamping terus mengejar daya hidup dan produktifitas. Artinya pada pemeliharaan ayam potong, faktor mortalitas harus terus ditekan dan produktiitas digenjot. Sedang pada ayam petelur disamping terus memperbaiki konversi pakan juga meningkatkan produktiftasnya.
Menurut Joko hal itu tidak lain oleh karena, kini faktor internal lebih memberikan jaminan kelangsungan usaha, sedangkan faktor eksternal (harga pasar) tidak begitu lagi dapat diharapkan. Maka lanjut Joko, untuk menggenjot produktifitas para peternak harus cermat memilih bibit, pakan dan secara periodis memantau rekording atau catatan harian produksi. Jika dari catatan itu ada kejanggalan dan kemerosotan produksi, harus secepat mungkin diupayakan solusinya.
Sedangkan Ir Yani Rustana, yang banyak terjun di pelosok farm petelur dan ayam potong mengamati, bahwa ada indikasi positif dunia perunggasan di Indonesia. Menurutnya dahulu, waktu menjadi seorang Manajer Farm Komersial, para pemilik sangat jarang sekali memperhatikan ayam apalagi kandangnya. Umumnya hanya tahu berapa total produksinya dan bagaimana harga pasar. Kini para pemilik, sangat sering terjun ke kandang-kandang untuk memantau dari satu flok ke flok yang lain. Tidak hanya itu, mereka sang pemilik sangat cermat dan teliti melempar pertanyaan ke Manajer farm dan pekerja kandang.
”Hal ini merupakan bukti ada indikator yang sangat baik akan semakin majunya industri perunggasan domestik”. Tuntutan efisiensi dan produktiftas yang dipatok sang pemilik menjadi pemacu semakin profesionalnya para manajer farm dan pekerja kandang. Yani juga sepakat dengan Joko bahwa keuntungan kini harus dikais dari dalam kandang. Kiat dan caranya adalah dengan terus memperbaiki bangunan fisik kandang dan peralatan serta kesejahteraan para pekerja kandang.
Pekerja kandang sudah mendapatkan perhatian yang lebih dari cukup dari pemilik, karena mereka menyadari harus bekerja lebih baik dan tidak bisa serampangan lagi. Pemilik juga menyadari bahwa investasinya akan semakin menguntungkan jika efisiensi dan produktiftas pekerja kandang meningkat.
Memang benar lanjut Yani bahwa masalah harga panen yang pada masa lalu dapat dijadikan dasar meraup untung, kini justru harus ditinggalkan dan keuntungan harus semakin sering dikais dari dalam kandang. Antara lain adalah menekan angka kesakitan dan kematian dan meningkatkan produktiftasnya.
Perunggasan Indonesia memang mengalami metamorfose ke arah yang benar (iyo)

PADA BROILER MODERN “FUNGSI PEMANAS = PRODUKTIVITAS”

PADA BROILER MODERN
“FUNGSI PEMANAS = PRODUKTIVITAS”

(( Fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. ))

Dalam situasi perekonomian yang sudah demikian mengglobal, di mana harga hasil produksi perunggasan yang tidak bisa diprediksi dan juga tidak bisa dikendalikan, maka salah satu untuk memenangi pertempuran adalah mengendalikan dan mengoptimalkan faktor internal budidaya.
Artinya jika faktor eksternal itu berada diluar kendali kita, maka peternak jika ingin meraup keuntungan, tidak lain harus mampu mengendalikan faktor internal. Yaitu pada aspek budidaya atau tatalaksana.
Salah satu dari banyak variabel faktor internal adalah memahami arti penting pemanas buatan bagi ayam potong modern. Jika selama ini banyak pihak yang kurang memahami keberadaan dan fungsi essensial pemanas buatan, maka paradigma dan asumsi itu harus segera ditinggalkan.
Mestinya keluhan DOC dan harga pakan mahal dan juga harga jual panen yang rendah harus dijadikan dasar pijak untuk menggenjot produktifitas yang optimal. Baik dari bobot maupun mortalitas.
Suhu lingkungan kandang bagi ayam potong modern, tidak bisa dianggap sepele dan justru harus dijadikan titik awal kesuksesan sebuah usaha budidaya. Menurut Pakar Kesehatan Unggas yang cukup populer, Drs Tony Unandar MSi, bahwa salah satu karakterisitik ayam potong modern adalah konversi pakan yang rendah dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi.
Dan yang paling penting adalah pertumbuhan bulu yang LAMBAT. Point terakhir ini mempunyai korelasi dengan suhu pemanas buatan pada saat awal pemeliharaan ayam. Hal ini terkait pula dengan sifat ayam potong modern yang lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan.
Sebuah fakta lapangan yang tidak bisa dibantah, bahwa banyak peternak, sering meremehkan fungsi dan keberadaan pemanas buatan alias brooder pada budidaya pemeliharaan ayam potong (broiler).
Umumnya mereka menilai fungsi pemanas buatan tidak lebih sebagai penghangat anak ayam, sebagai pengganti induknya selama masa pertumbuhan. Maka setelah cukup umur, keberadaan pemanas itupun bisa ditiadakan.
Asumsi itu sebenarnya tidak salah, justru sangat tepat sekali. Namun jika kemudian penjelasannya tidak atas dasar fakta-fakta ilmiah justru menjadi boomerang. Hal itu tidak lain oleh karena dasar pijak penjelasan terlalu disederhanakan.
Menurut Tony bahwa fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. Terlebih lagi, ayam potong sekarang adalah sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 50 tahun yang lalu.
Jelas sudah bahwa sifat dan karakter genetik ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ayam potong masa lalu. Tony bahkan lebih ekstrim menegaskan bahwa ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 5 tahun yang lalu.
“Tidak sampai satu abad, dalam perbedaan karakteristik ayam potong, karena 5(lima) tahun yang lalu saja sudah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang” jelas Tony. Oleh karena itu tidak bisa disamakan dalam hal pengelolaan dan budi dayanya. Mutlak adanya perubahan yang signifikan untuk bisa mencapai produktiftas yang optimal.
Tony mengibaratkan dalam strategi perang, maka tentunya ada jurus baru agar bisa memenangi sebuah pertempuran. Karena jika dengan jurus dan pola yang lama sudah pasti akan kalah dan tidak membawa hasil yang terbaik.
Adapun sasasan dalam pemeliharaan ayam pada era sekarang ini adalah menghasilkan ayam dengan”daya hidup” yang tinggi. Ini maknanya terus menekan angka mortalitas sekecil mungkin. Selain itu tidak hanya menghasilkan bobot yang ekstreem berat per induvidual, namun justru aspek keseragaman bobot sesuai dengan pola baku efisiensi yaitu konversi pakan yang rendah.
Pada ayam potong modern umur 4 minggu pertumbuhan bulu masih sangat sedikit, akan tetapi di pihak lain pertumbuhan otot sudah demikian pesat. Akibatnya jika fungsi dan keberadaan pemanas buatan tidak optimal, sudah pasti akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk dalam hal pertumbuhan organ-organ penting dalam kehidupannya seperti sistema pencernaan, sistema kekebalan tubuhnya.
Menurut Tony bahwa minggu pertama bagi ayam potong modern adalah sangat penting sekali. Oleh karena itu harus ada perhatian yang ekstra lebih pada saat umur itu, jika tidak ingin merugi. Suhu lingkungan menjadi sangat penting, karena pada akhir minggu pertama bobot harus mencapai 4 (empat) kali lipat dari bobot awal.
Sebagaimana sudah disinggung dimuka, bahwa kemampuan adaptasi yang rendah itu, harus disiasati. Point awal hal itu adalah pada faktor suhu lingkungan. Sebagaimana diketahui meski ayam termasuk hewan berdarah panas (homeothermal) tetapi ia adalah termasuk hewan peralihan dari hewan berdarah dingin ke hewan berdarah panas sejati (mamalia). Makanya ketika ayam habis menetas, thermoregulator / pengatur suhu badannya belum berfungsi.
Oleh karena itu fungsi pemanas buatan menjadi sangat penting sekali, karena bukan saja menjadi penghangat semata, akan tetapi panas itu juga berfungsi menstimulus fungsi-fungsi organ lain termasuk fungsi pengatur suhu bandannya. Adapun fungsi organ pengatur suhu badan ayam mulai berfungsi pada hari ke-7 dan efektif bekerja secara optimal pada umur 21 hari.
Atas dasar itu maka kesesuaian suhu lingkungan bagi ayam potong modern menjadi sangat penting. Dan variabel terciptanya suhu lingkungan yang ideal tidak hanya berasal dari pemanas buatan semata, akan tetapi ada aspek yang lain. Sebagai contohnya adalah ketebalan litter dan ventilasi kandang. Litter yang tipis akan menimbulkan panas yang cepat muncul dan juga sebaliknya akan cepat hilang jika ditiup angin kencang. Idealnya ketebalan litter menurut Tony adalah 8 cm.
Sedangkan ventilasi kandang akan sangat mempengaruhi suhu ideal di dalam kandang. Oleh karena itu tirai pengatur ventilasi harus diatur sedemikian rupa agar hembusan angin tidak menurunkan suhu lngkungan dalam kandang, tetapi juga tidak menyebabkan rendahnya kelembaban dan sirkulasi udara yang lambat bergerak.
Idealnya pemanas buatan dihidupkan 4-6 jam sebelum anak ayam (DOC) masuk ke dalam kandang. Suhu dan kelembaban pada umur dibawah 3 minggu adalah 30-35C dan 50-70%. Setelah umur lebih 3 minggu atau dewasa, suhu lingkungan 18 – 29.6 C dan kelembabannya juga 50-70%.
Untuk memeriksa apakah suhu lingkunga sesuai yang dibutuhkan ayam dapat dilihat dan diraba pada kaki, leher dan muka. Jika kaki teraba dingin, maka sangat mungkin litter terlalu tebal atau terlalu tipis. Solusi atur ketebalan litter.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tony, bahwa arti pentingnya suhu lingkungan yang terukur pada litter di mana suhu optimal untuk produktiftas ayam potong modern adalah berkisar 30-32C. Pada suhu itu konversi pakan berkisar 1.46-1.47 dengan pertambahan berat badan (ADG) 53.0-53.6 gram. Sedangkan jika suhu pada litter berkisar 20-24C konversi pakan cukup tinggi yaitu mencapai 1.50-1,52 dengan ADG 50,0-51,2 gram.
Jika suhu litter dingin maka akan menyebabkan konversi pakan buruk, pertumbuhan buruk dan juga tidak seragamnya pertumbuhan dalam populasi. Oleh karena itu Tony menyarankan agar jangan mengandalkan pada alat ukur suhu yang terdapat pada kandang saja akan tetapi harus memeriksa secara sampling ayam pada kaki , leher dan muka. Sebab ayam membutuhkan suhu lingkungan yang effektif atau yang benar-benar dirasakan oleh ayam dalam rangka untuk pertumbuhan dan produktifitasnya.
Akhirnya bahwa masalah temperatur lingkungan begitu penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan juga produktifitas ayam itu. (iyo)

DEFISIENSI VITAMIN A DAN E

DEFISIENSI VITAMIN A DAN E

(( Defisiensi vitamin E dan A merupakan penyakit nutrisional yang bersifat non infeksius. Namun untuk ternak cukup berpengaruh terutama pada capaian produksi dan reproduksi yang secara nyata dapat menurunkan kedua aspek tersebut. ))

Peternak diharapkan tetap teliti dan waspada dengan kejadian defisiensi vitamin E dan A di farm dan bila ada kasus, segera konsultasikan dengan Technical Services dan dokter hewan dari perusahaan obat-obatan dan dari instansi pemerintah terkait lainnya.
Defisiensi vitamin A dan E sering diderita ayam broiler dan layer pada periode pemanasan umur 0-3 bulan. Pada masa ini anak ayam umur sehari (DOC) sampai usia tiga bulan membutuhkan asupan vitamin A dan E dalam jumlah yang tinggi.
Kadang pakan yang didapatkan dari feedmill masih belum mampu memenuhi kebutuhan vitamin A dan E anak-anak ayam tersebut. Untuk itu peternak perlu memperhatikan kualitas pakan yang didapatnya, misalnya melalui uji kandungan gizi, namun hal ini sulit dan jarang dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar.

Vitamin A

Vitamin A misalnya, semua ternak membutuhkan vitamin ini. Vitamin A tidak terdapat dalam bahan makanan nabati secara aktif tetapi dalam bentuk provitamin yang dapat dirubah menjadi bentuk aktif dalam tubuh ternak. Provitamin A atau zat-zat karotin ini aktivitas biologisnya sama setelah dipecah oleh enzim beta karotin 15,15’-dioksigenase dalam mukosa usus kecil.
Produk pemecahan ini adalah retinal yang direduksi menjadi retinol dalam sel-sel mukosa dengan katalisatornya ammonium sulfat. Salah satu bahan makanan ternak yang banyak mengandung provitamin A adalah jagung dengan kisaran potensi biologisnya 123-262 IU/mg. Secara fisiologis esensi vitamin A bagi ternak adalah untuk memelihara jaringan epitel agar jaringan tersebut dapat berfungsi secara normal.
Jaringan epitel dimaksud adalah semua jaringan epitel yang terdapat pada mata, alat pernafasan, alat pencernaan, alat reproduksi, saraf dan sistem pembuangan urine. Hubungan antara vitamin A dengan fungsi mata yang normal perlu mendapat perhatian khusus.
Vitamin A dibutuhkan untuk mensintesa rodopsin yang selalu rusak oleh proses foto kimiawi sebagai salah satu proses fisiologis dalam sistem melihat. Vitamin A biasanya bersatu dengan protein dalam visual purple.
Bila terjadi defisiensi vitamin A, sintesa visual purple akan terganggu dan terjadilah kelainan-kelainan dalam melihat. Defisiensi vitamin A merupakan penyakit nutrisional, yakni akibat kurangnya kandungan vitamin A dalam bahan pakan. Upaya yang dapat dilakukan peternak adalah dengan mencukupinya dari berbagai materi bahan pakan ternak.

Vitamin E

Lalu vitamin E yang berhubungan dengan tingkat kesuburan ternak. Vitamin E ditemukan oleh Evans dan Bishop pada tahun 1922. Vitamin E merupakan nama umum dari semua derivate tokol dan tokotrienol yang secara kualitatif memperlihatkan aktivitas alfa-tokoferol (tokos artinya kelahiran atau turunan, pherson artinya memelihara, ol artinya alcohol).
Penamaan ini adalah untuk semua metil-tokol. Istilah tokoferol bukanlah sinonim vitamin E, walaupun dalam praktek sehari-hari kedua istilah ini selalu disinonimkan.
Di pasaran, vitamin E tersedia dalam beberapa bentuk, yakni dalam bentuk minyak pekat, emulsi cair, emulsi dalam tepung, emulsi dalam gelatin, gum, akasia, gula dan lainnya serta dalam bentuk askorbat dalam bentuk tokoferil yang difungsikan sebagai carrier untuk dicampurkan dalam bahan makanan.
Beberapa bahan makanan yang mengandung vitamin E yang direkomendasikan seperti jagung, tepung ikan, tetes, beras pecah kulit, gandum, dedak gandum dan biji-bijian bekas fermentasi. Defisiensi vitamin E dalam tubuh ternak berdampak pada terganggunya sistem reproduksi, terganggunya fungsi organ-organ tubuh seperti hati, jantung, darah dan otak serta munculnya berbagai problema pada urat daging ternak.
Pada ternak ayam, defisiensi vitamin E dapat mengganggu kesuburan reproduksi misalnya menurunnya daya tetas telur. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Creger dkk (1962) yang dilaporan Green (1971) bahwa pakan ayam dengan kadar vitamin E minimal dapat ditambahkan minyak ikan 2%, hal ini dapat mempertahankan kembali tingkat kesuburan reproduksi ayam yang dipelihara.
Di samping itu, Green pada tahun 1971 kembali melaporkan bahwa fertilitas ayam jantan dapat menurun bila terjadi kenaikan kadar asam linoleat yang berasal dari minyak jagung dan minyak kembang matahari dalam pakan tinggi. Sementara itu vitamin E dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan in vitro maupun in vivo.
Vitamin E sebagai antioksidan in vitro bila prosesnya hanya terjadi dalam pencampuran makanan sampai dengan makanan tersebut belum diserap di dalam saluran saluran pencernaan. Selanjutnya sebagai antioksidan in vivo secara praktis dapat dilihat pada penyimpanan karkas.
Ternak unggas secara alamiah mudah mendapatkan proses oksidasi pada lemaknya. Hal ini terjadi bila pakan ternak unggas tersebut banyak mengandung asam-asam lemak tak jenuh atau asam lemak yang mudah teroksidasi.
Asam lemak tersebut dideposit dalam daging atau jaringan lemak tanpa atau sedikit sekali berubah, selanjutnya dapat meningkatkan oksidasi dalam jaringan tersebut, inilah yang sering disebut sebagai pemicu memunculkan rasa tidak enak atau off flavor pada daging.
Disamping itu, akan terjadi perubahan-perubahan warna dan penurunan kualitas selama produk-produk tersebut disimpan dalam penyimpanan.
Kebutuhan vitamin E untuk proses penyimpanan karkas ayam adalah 30-50 IU/kg makanan bila diberikan secara adlibitum atau 150-250 IU/kg bila diberikan seminggu sebelum ayam tersebut dipotong. Vitamin E juga bisa digunakan untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh ternak.
Hasil penelitian Tengerdy dan Happel tahun 1973 menjelaskan bahwa pemberian vitamin E yang melebihi kebutuhan normal dapat mempengaruhi mekanisme resitensi tubuh secara positif yakni dengan jalan meningkatkan pembentukkan cairan antibodi secara efisien pada ayam muda maupun ayam dewasa.
Dengan meningkatnya cairan antibodi ini maka ayam secara tidak langsung dapat membunuh bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuhnya. Dosis yang dianjurkan terkait kegunaan vitamin E ini untuk ayam adalah 130-150 mg/kg pakan yang telah mengandung 35-60 mg/kg. (Daman Suska).

STRES PANAS JUGA TURUNKAN IMUNITAS

STRES PANAS JUGA TURUNKAN IMUNITAS

(( Berparameter perbedaan produksi dan daya tahan tubuh ayam, semua produksi dipengarui oleh stres panas. ))

Panas karena sengatan sinar matahari, sering membuat diri kita gerah dan mendorong kita untuk berteduh sekaligus mengonsumsi lebih banyak air minum. Saat cuaca yang panas konsentarsi kita sering terganggu. Bagaimana jika ayam yang ada di kandang mengalami stres karena panas?
Masyaly dkk (2004) dari Mesir dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa ternyata stres, karena panas yang dialami oleh ayam tidak hanya menurunkan penampilan dari ayam tapi juga menurunkan daya tahan tubuh ayam yang dapat diamati dari banyaknya ayam yang mati akibat stres karena panas ini.
Penelitian ini menggunakan 180 ayam petelur yang sedang berada pada puncak produksi, dengan umur ayam 31 minggu. Di mana ayam diletakkan pada lima belas kandang dengan masing-masing kandang berisi empat ekor ayam, dengan masing-masing kandang akan menerima satu dari tiga perlakuan.
Tiga perlakuan itu adalah kontrol (temperatur rata-rata serta kelembaban relatif), siklus (siklus temperatur harian dan kelembaban), dan Stres Panas (kelembaban dan panas yang konstan) selama lima minggu. Parameter yang diamati adalah perbedaan produksi dan daya tahan tubuh ayam.
Kelompok kontrol diperlakukan dengan pengaturan suhu sebesar 23,9°C, kelembaban 50 persen dengan indek panas sebesar 25°C, yang mewakili indeks panas rata-rata pada musim yang berbeda-beda.
Kelompok siklus diperlakukan dengan memberi temperatur dan kelembaban yang berubah setiap hari, yaitu dengan suhu antara 23,9°C sampai 35°C, dan kelembaban antara 50% sampai 15%, yang mewakili siklus secara alami pada saat musim panas.
Dan kelompok ketiga adalah stres panas dipaparkan dengan suhu 35°C, dengan kelembaban 50 persen, dengan indeks panas 41,1°C yang mewakili kondisi stres panas.

Produksi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua produksi dipengarui oleh stres panas, dengan rata-rata berat badan lima minggu masa penelitian sebesar 1,528g, 1,414g dan 1,233 g masing-masing dari grup konntrol, siklus dan stres panas.
Menurut Masyaly penurunan berat badan dan penampilan yang lain dari ayam yang ada pada kelompok stres panas pada penelitian ini disebabkan oleh berkurangnya konsumsi pakan oleh ayam.
Pada penelitian ini penurunan feed intake sebanding dengan tingginya dan panjangnya paparan stres panas, ayam yang ada pada kelompok stres panas mengalami penurunan jumlah konsumsi pakan secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok siklus, dan lebih signifikan pula bila dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Penurunan konsumsi pakan ini adalah sebagai respon dari stres panas. Dan lebih jauh lagi dari sekedar penurunan berat badan dan konsumsi pakan adalah adanya peningkatan jumlah kematian.
Kematian dari kelompok stres panas sebesar 31,7 persen,yang lebih tinggi dari kelompok siklus maupun kontrol yaitu masing-masing 6,7 dan 5 persen. Menurut Masyaly peningkatan angka kematian ini mengarah pada hambatan respon ketahanan tubuh.
Sementara itu produksi telur perhari juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan siklus maupun kontrol. Penurunan produksi ini disebabkan karena adanya penuruanan konsumsi pakan, serta adanya pengurangan nutrisi yang dipergunakan untuk memproduksi telur.
Selain itu stres panas juga menurunkan daya cerna ayam terhadap komponen pakan, lebih jauh lagi pemaparan pada suhu yang tinggi akan mengurangi konsentrasi protein plasma dan kalsium plasma padahal keduanya sangat dibutuhkan untuk membentuk telur.
Dalam penelitian ini juga terungkap bahwa pemaparan ayam terhadap suhu yang tinggi ternyata memberi hasil penuruanan kualitas telur, yaitu berat telur, berat cangkang dan ketebalan cangkang.
Berat telur yang ada pada kamar stres panas lebih rendah bila dibandingkan dengan siklis, dan siklis lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol, hasil ini mengarah pada rendahnya konsumsi pakan.
Dan ketebalan cangkang lebih tipis bila dibandingkan dengan siklus dan kontrol, rendahnya ketebalan cangkang ini disebabkan oleh rendahnya kalsium plasma. Akhirnya ayam yang terletak pada kandang dengan stres panas pada umumnya mempunyai Huge Unite (HU) lebih besar bila dibandingkan dengan siklus maupun kontrol.

Ketahanan Tubuh

Hasil penelitian ini tidak menunjukkan proliferasi sel B dan sel T secara signifikan yang dipengaruhi stres panas, hal ini disebabkan karena adanya hambatan sintesisi limfosit T dan B, dan adanya tekanan pada aktivitas phagositosis dari darah putih.
Lebih jauh lagi totol sel darah putih dari kelompok stres panas, setelah terpapar selam empat minggu, lebih rendah bila dibandingkan dengan kelompok kontrol dan sangat signifikan lebih rendah bila dibandingkan dengan siklus. Hasil ini menunjukkan bahwa stres panas dapat mengurangi jumlah serta aktivitas dari sel darah putih.
Akhirnya humoral imunity dari ayam yang ada pada kelompok stres panas ternyata tertekan, bila dibandingkan dengan kelompok siklus maupun kontrol. Penelitian ini menemukan bahwa ayam yang berada pada kelompok stres panas satu sampai empat minggu setelah pemaparan panas, mempunyai titer antibodi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kelompok siklus maupun kontrol.
Penurunan ini disebabkan oleh adanya pembengkakan cytokin pada saat terjadi stres, yang mempengarui stimulasi hipotalamus untuk memproduksi corticotropin releasing factor (CRF).
CRF ini adalah berfungsi untuk meningkatkan hormon adrenocorticotropic, di mana hormon ini akan merangsang produksi corticosteron dari adrenal gland. Corticosteron lalu akan menghambat produksi antibodi.
Dan lebih jauh diketahui bahwa stres panas ternyata akan menurunkan kerja T-helper 2 cytokin, yang penting untuk produksi antibodi.

(Drh Ma’shum, alumnus FKH Unair Surabaya)

SOLUSI PENGENDALIAN AI PADA BROILER

SOLUSI PENGENDALIAN AI PADA BROILER

(( Pengendalian AI harus menggunakan berbagai kombinasi strategi yang berbeda yang didasarkan pada karakteristik usaha perunggasan yang mempunyai resiko tinggi terserang AI. Mengapa masih tetap ada letupan-letupan kecil kasus AI di daerah tertentu? ))

Kemajuan usaha perunggasan Indonesia saat ini patut diacungi jempol. Berbagai terobosan terkini diraih pakar-pakar anak bangsa ini dan disebarkan secara cepat melalui teknologi canggih yang dapat diadopsi secara cepat pula oleh pengguna akhir yakni para peternak di lapangan.

Ibarat sebuah perjalanan, perjalanan perkembangan usaha peternakan dan kesehatan hewan negeri ini selalu dibarengi onak duri. Sehingga fluktuasi usaha dibidang perunggasan selalu saja terjadi bahkan tidak sedikit pengusaha dibidang ini jatuh bangun, namun kembali eksis menekuninya.

Kemunculan Avian Influenza di awal tahun 2003 merupakan salah satu penyebab banyaknya pengusaha dibidang perunggasan yang gulung tikar. Demikian juga minat penanam modal diusaha ini mengalami penurunan drastis. Hal ini mengkhawatirkan pihak-pihak yang berkompeten termasuk Departemen Pertanian yang secara langsung membawahi bidang ini.

Saat ini, setelah lima tahun dunia perunggasan Indonesia bersama AI, kondisi usaha peternakan kembali membaik meskipun dibeberapa daerah masih saja ditemukan letupan-letupan kasus AI.

Penyakit AI merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh Virus Avian Influenza (VAI). Penyakit ini ditandai dengan kematian mendadak tanpa gejala klinis, penurunan berat badan, produksi telur dan berat telur, pembengkakan pada kepala, mata dan jengger, pendarahan jaringan bawah kulit dan warna biru pada pial dan kaki serta keluar leleran lendir dari hidung, diare, batuk dan sesak nafas. Pada unggas, tingkat mortalitas ayam terpapar bisa mencapai 100% dari total populasi.

Di samping itu, dalam perjalanan penyakit ini, dilaporkan penyakit ini dapat menular ke manusia. Namun ditegaskan bahwa penularannya bukan melalui bahan pangan produk unggas. Berdasarkan hal ini, maka diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit AI. Hal ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi peternak yang tetap intens dengan usaha ini serta menghindari kemungkinan penularan AI dari unggas ke manusia dan atau sebaliknya.

Pengendalian AI sampai saat ini masih diperdebatkan oleh beberapa kalangan terkait. Namun masih belum juga ditemukan titik cerah, kapan kasus AI akan berakhir di negeri ini?

Menanggapi hal ini, PT Romindo Primavetcom yang intens dengan obat-obat hewan yang bermutu baik, pada Indo Livestock 2008 expo dan forum, menghadirkan Prof drh Charles Rangga Tabu MSc PhD untuk menyampaikan materi tentang Solusi Pengendalian AI pada Broiler.

Menurut Prof Charles, pengendalian AI di Indonesia perlu dikaji ulang, apakah sudah tepat pada sasarannya? Bila belum menyentuh pada sasaran dimaksud, maka diperlukan mengkaji ulang dimana letak kesalahan yang selama ini dilakukan.

Tindakan pengendalian AI tidak bisa dilepaskan dari karakteristik peternakan broiler ataupun layer di negeri ini. Berdasarkan pengalaman lapangan, mayoritas kandang yang dimiliki peternak adalah kandang sistem terbuka yang didirikan pada lokasi yang saling berdekatan. “Ini jelas tidak sesuai dengan konsep pendirian kandang yang aman dan sehat, baik bagi ternaknya ataupun untuk manusia yang tinggal disekitar lokasi kandang tersebut,” jelas Prof Charles.

Di samping itu, kualitas manajemen yang ada sangat bervariasi, artinya belum ada kesepakatan antar peternak, manajemen yang manakah yang harus diterapkan dalam hal kontrol yang baik untuk menghindari jangkitan penyakit di lokasi farmnya. Variasi sistem pemeliharaan ini diyakini memberikan peluang yang besar bagi bibit penyakit untuk masuk ke lokasi farm, kemudian pada saat peternak lengah, maka penyakit dari farm-farm lainpun dapat menginfeksi ternaknya.

Hal menarik lainnya terkait karakter peternak broiler Indonesia adalah pemeliharaan ayam dengan umur yang bervariasi dalam satu lokasi. Pada hal ini sangat tidak dianjurkan, terutama terkait kemungkinan terjadinya penularan penyakit yang cepat. Lalu bagaimana solusi yang tepat dalam pengendalian AI?

Menurut Prof Charles, pengendalian AI harus menggunakan berbagai kombinasi strategi yang berbeda yang didasarkan pada karakteristik usaha perunggasan yang mempunyai resiko tinggi terserang AI. Hal ini ditegasnya bahwa sejauh ini belum ada suatu solusi ajaib yang manjur dan berlaku universal dalam usaha pengendalian AI ini.

Beberapa hal terkait yang dapat dijadikan acuan untuk pengendalian AI adalah tetap mengacu pada strategi penanggulangan AI besutan Deptan RI. Di samping itu, perlu adanya penekanan-penekanan pada beberapa kegiatan pengendalian baik yang berdasarkan pada strategi penanggulangan AI besutan Deptan RI ataupun dikombinasikan dengan tindakan pengendalian lainnya.

Namun yang terpenting disini menurut Prof Charles adalah evealuasi strateginya, karena hal ini dapat memberikan informasi tentang sejauh mana tingkat keberhasilan atau kelemahan strategi yang telah dilaksanakan, serta penyesuaian dan perbaikan program penanggulangan yang sesuai dengan umpan balik dari lapangan.

Dikatakannya lagi, untuk pihak-pihak terkait, perlu melakukan pencegahan terhadap kemungkinan masuknya VAI atau sumber VAI lainnya ke dalam areal peternakan atau daerah-daerah tertentu, pengendalian jika terjadi letupan AI, vaksinasi terhadap AI yang disesuaikan dengan resiko terhadap infeksi VAI, kajian epidemiologi tentang AI dan edukasi peternak, pengusaha, dan sosialisasi pada masyarakat. Lantas mengapa masih tetap ada letupan-letupan kecil kasus AI di daerah tertentu?

“Inilah Pekerjaan Rumah kita (red: dokter hewan) yang belum tuntas, yang masih kita pikul bersama, mengkaji kembali dimana letak kesalahannya,” jelas pakar perunggasan ini. Ditegaskan Prof Charles bahwa dalam pengendalian AI tetap ada masalah dan masalah inipun datangnya dari peternak-peternak yang kurang mendapatkan edukasi terkait AI itu sendiri.

Masalah-masalah dimaksud seperti isolasi peternakan sulit dilakukan, aspek manajemen cenderung tidak optimal sehingga biosekuriti cenderung longgar, ini menyebabkan titer maternal antibodi terhadap VAI tidak maksimal. Kemudian sistem pemasaran ayam dan distribusi kotoran ayam belum mengacu pada prinsif biosekuriti yang ketat, serta control lalu lintas unggas dan produk sampingnya sulit dilakukan.

“Selagi masalah ini belum mampu ditekan atau dilenyapkan, maka pengendalian AI di negeri ini masih tetap seperti-seperti ini saja, artinya pengendalian AI tetap stagnasi dengan gaya lama dan dana untuk kegiatan ini akan hilang tanpa hasil nyata,” pungkas Prof Charles. (Daman Suska)

PROYEK MONITOR AI UNTUK KEBIJAKAN TEPAT

PROYEK MONITOR AI UNTUK KEBIJAKAN TEPAT

(( Sangat terasa betapa tidak main-mainnya proyek ini. Keberhasilan dari proyek ini jelas didambakan oleh segenap masyarakat dan bangsa Indonesia. ))

Dalam rangka memonitor perkembangan dinamika virus Avian Influenza di Indonesia untuk menentukan kebijakan pengendalian yang tepat, Pemerintah Indonesia telah bekerjasama dengan FAO/OIE.

Program yang dijalankan sejak Oktober 2007 sampai September 2008 itu bernama ‘Monitoring AI Virus Variants in Indonesia Poultry and Defining an Effective and Sustainable Vaccination Strategy’ yang dapat diartikan Monitor Varian-varian Virus AI di Indonesia pada unggas dan menentukan strategi vaksinasi yang efektif dan berkelanjutan.

Hasil perkembangan dari program yang dikenal sebagai Proyek OFFLU tersebut telah dipaparkan pada 19 Juni 2008 di Ruang rapat Dirjennak di Jakarta melibatkan mitra dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network), kontributor Proyek OFFLU, dan partisipan lain pertemuan terbuka Proyek OFFLU.

Acara dipimpin oleh Dr Elly Sawitri Siregar Koodinator Control Monitoring Unit (CMU) atau Unit Pengendalian Penyakit AI Direktorat Jenderal Peternakan, dan Gwen Dauphin. Lalu pendahuluan dan perkembangan Proyek OFFLU disampaikan oleh Gwenaelle Dauphin dari FAO focal point Roma.

Kemudian masuk pada review proyek meliputi hasil utama dan hasil dari tiap bagian proyek. Saat itulah Frank Wonk seorang ahli biologi molekular dari AAHL (Australian Animal Health Laboratory) menyampaikan keseluruhan hasil dari karakterisasi virus.

Dilanjutkan dengan materi perkembangan di AAHL oleh Peter Daniels dari AAHL, Deputy Director CSIRO Livestock Industries. Lantas perkembangan di SEPRL/ kartografi antigenik di Erasmus oleh David Swayne dari SEPRL (SouthEast Poultry Research Laboratory) USDA alias Kementrian Pertanian Amerika Serikat.

Selanjutnya materi koleksi isolat di Indonesia dan pengiriman ke AAHL oleh Dr Ronald N Thornton seorang ahli epidemiologi FAO di Jakarta. Selantasnya materi akselerasi koleksi isolat lapangan menueur sistem PDSR disampaikan oleh Eric Brum kepala advisor teknik PDSR juga dari FAO di Jakarta.

Hasil terkini dari penilitian di Bbalitvet (Balai Besar Penelitian Penyakit Veteriner) Bogor diampaikan oleh Drh Indi Dharmayanti MS.

Adapun materi tentang metodologi berupa biaya vaksinasi dan efektivitas biaya disampaikan disampaikan oleh Jonathan Rush seorang ahli ekonomi sosial dari FAO di Roma. Sedangkan materi tentang metodologi yang dianjurkan dan diskusi database disampaikan oleh Mia Kim seorang ahli informasi matematik biologi OFFLU dari FAO Roma.

Selanjutnya materi tentang metodologi mengapa vaksin reverse genetik digunakan di Indonesia disampaikan oleh David Swayne dari SEPRL, USD dan Gwenaelle Dauphin seorang focal point OFFLU dari FAO Roma tadi.

Inti dari diskusi meliputi hasil diskusi, koleksi isolat, berbagi pengalaman, persoaln-persoalan vaksin baru berupa starin, subtipe, paten, registrasi, produksi vaksin baru, pengembangan kapasitas, kolaborasi privat/publik, dan perspektif proyek ini.

Di situ tampak betapa permasalahan AI di Indonesia telah menjadi kepedulian dunia Internasional melibatkan berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu. Juga melibatkan lembaga-lembaga dari dalam dan luar negeri yang berkompetan serta punya legitimasi keilmuan maupun politis. Dengan dana-dana yang juga tidak sedikit agar proyek ini berjalan lancar.

Tampak pula bahwa kekayaan isolat virus AI Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh institusi dari berbagai lembaga dari berbagai negara dan lembaga internasional seperti FAO yang merupakan lembaga pangan PBB. Dengan demikian terjadi berbagai kemungkinan penggunaan isolat virus AI yang bila tidak dikelola secara adil dapat menyebabkan berbagai masalah politis, ekonomi maupun ilmiah.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh pejabat-pejabat berbagai lembaga pemerintahan dan berbagai institusi non pemerintahan. Tampak di antara daftar undangan pejabat itu adalah pejabat yang bermasalah melanggar hukum yang menyebabkan negara kehilangan uang 19 Milyar Rupiah untuk pengadaan Rapid Test AI yang tidak bisa digunakan.

Dengan mengamati berbagai pembicaraan dan diskusi yang berkembangan serta pemaparan materi oleh semua narasumber, sangat terasa betapa tidak main-mainnya proyek ini. Keberhasilan dari proyek ini jelas didambakan oleh segenap masyarakat dan bangsa Indonesia. Sangat tidak dibenarkan terjadi penyelewengan dalam bentuk apapun apalagi menilap uang rakyat sementara bangsa ini sangat membutuhkan berbagai cara untuk mengatasi masalah AI.

Salah satu cara itu adalah dengan proyek dengan dana dari berbagai lembaga internasional ini agar Indonesia dan dunia berhasil mengatasi masalah Avian Influenza sebagaimana tema yang diusung ‘Monitor Varian-varian Virus AI di Indonesia pada unggas dan menentikan strategi vaksinasi yang efektif dan berkelanjutan’. (YR)

KABAR TERBARU :ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

KABAR TERBARU :
ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYNDROME) PADA UNGGAS

(( PHS (Pulmonary hypertension syndrome) yang kemudian diikuti dengan ascites merupakan salah satu penyebab kerugian dalam industri perunggasan terutama pada ayam broiler dan layer. ))

PHS biasanya disebut sebagai ascites, yang menyebabkan kerugian akibat kematian hingga 2% dan 0,35% yang terjadi di Kanada. Pada tahun 1994, kerugian akibat ascites diperkirakan mencapai $ US 12 juta di Kanada dan $ US 100 juta di Amerika. Perkiraan biaya kerugian di seluruh dunia untuk PHS mendekati $ US 500 juta.
Untuk Indonesia, kejadian Ascites kurang mendapat perhatian bagi kalangan pakar perunggasan, akademisi maupun peternak. Hal ini mengingat Ascites merupakan penyakit individual yang bersifat tidak menular atau non infeksius.
Padahal, secara statistic angka kejadian Ascites di negeri ini cukup tinggi terutama pada ayam broiler dan layer dengan mutu genetic yang rendah, pakan dengan nilai gizi yang kurang lengkap serta lingkungan pemeliharaan yang kurang sesuai dengan kualitas bibit ayam broiler modern saat ini.

Penyebab Utama

Mekanisme utama penyebab ascites adalah meningkatnya tekanan hidrostatis intravaskuler, kemudian terjadi gagalnya ventricular kanan. Sebagai akibat dari meningkatnya tekanan, transudate keluar dari pembuluh darah dan akan terakumulasi di dalam rongga abdominal, kondisi inilah yang disinyalir sebagai pemicu terjadinya ascites pada ayam.
Kemudian terjadinya gagal jantung pada ayam broiler muda sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk seleksi genetik untuk pertumbuhan cepat, efisiensi pakan yang tinggi dan besarnya proporsi otot dada, hal ini semuanya membutuhkan oksigen yang tinggi.
Ratio yang rendah antara volume paru-paru dan berat badan pada ayam broiler modern, hal ini menyebabkan ketidakmampuan sistem pernapasannya untuk mengangkut oksigen yang dibutuhkan, sehingga dapat menyebabkan Hipoksia dan respiratory acidosis.

Radikal Bebas

Kejadian Hipoksia dapat meningkatkan produksi radikal bebas. Hasil penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada membuktikan bahwa ada pengaruh antioksidan (vitamin E dan Selenium, baik yang organik maupun anorganik) terhadap kejadian PHS.
Jika terjadi Hipoksia, maka berbagai mekanisme dapat meningkatkan produksi radikal bebas termasuk lemak peroksida, hidrogen peroksida dan superoksida. Kerusakan jaringan sekunder hingga munculnya Hipoksia dapat menarik sel darah putih yang kemudian melepaskan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan berbagai jaringan di organ dalam tubuh ayam.
Sementara itu, Maxwell dan Enkuvetchakul dkk (1993) mengamati infiltrasi sel inflammatori di berbagai jaringan pada ayam yang terkena PHS. Menurut mereka, Asidosis juga akan mempengaruhi integritas membran seluler dan mengurangi penghapusan radikal bebas, yang berarti menambah buruknya efek negatif radikal bebas. Tingginya plasma lemak peroksida terjadi pada broiler yang terkena PHS.
Hipotesa Maxwell (1986) menyebutkan bahwa tingkat antioksidan pada broiler yang terkena PHS rendah. Teori ini didukung oleh penemuan Enkuvetchakul dkk (1993), yang menunjukkan lebih rendahnya vitamin E pada paru-paru dan hati serta level glutationin pada ayam yang terkena PHS.

Antioksidan

Peran antioksidan adalah untuk mengubah bentuk radikal bebas ke dalam ikatan-ikatan yang aman, menghentikan proses lemak peroksida. Vitamin E (tokoferol) dan GSH-Px (serum glutathionine peroxidase) merupakan antioksidan yang bagus. Vitamin E menurunkan radikal peroksida menjadi lemak yang dioksidasi. Lemak ini diubah oleh GSH-Px menjadi lemak alkohol, yang berperan dalam memperbaiki lemak.
Pembentukan satu jenis GSH-Px tergantung pada keberadaan Selenium. Ini merupakan alasan mengapa Selenium dan vitamin E dapat bekerja secara sinergi untuk melindungi membran seluler. Ayam yang menderita PHS memiliki berat badan rendah, hematokrit tinggi, konsentrasi GSH (tokoferol dan glutationin) pada hati dan jaringan paru-paru rendah.
Tekanan oksidasi ditandai meningkatnya plasma lemak peroksida dan rendahnya oksidasi GSH di dalam hati dan eritrosit. Beberapa hasil penelitian mengindikasikan bahwa vitamin E implantasi sangat efektif dalam mengurangi angka kematian karena kasus PHS pada broiler.
Sementara itu, suplemen vitamin E dalam pakan ternak tidak memberikan efek terhadap performan dan kematian. Dosis vitamin E yang digunakan dalam penelitian Ghislaine Roch, Martine Boulianne dan Laszlo De Roth dari Universitas Montreal Kanada ini adalah 87 IU/kg pakan, ini merupakan dosis yang direkomendasikan untuk ayam komersial.
Namun pada studi tersebut menunjukkan bahwa level tersebut terlalu kecil karena tidak berpengaruh secara signifikan dan perlu kiranya untuk melakukan penelitian dengan pemberian dosis vitamin E yang lebih tinggi. (Daman Suska, dari berbagai sumber).

Praktisi Perunggasan dan AI di Indonesia

Praktisi Perunggasan dan AI di Indonesia


(( Memang pantas dicatat, sangat sedikit praktisi perunggasan yang dapat menyeimbangkan antara peran sebagai pedagang obat/vaksin dengan moral keilmuan. ))

Begitu banyak praktisi perunggasan yang Salah tidak dapat dilepaskan dengan upaya penanggulangan penyakit AI di Indonesia. Salah satunya adalah adalah Drh Hadi Wibowo yang rajin berkeliling ke seluruh pelosok Nusantara. Bukan saja dengan alasan untuk mempromosikan obat dari perusahaannya, namun juga oleh karena dirinya merasa tertantang dan terpanggil untuk ikut berperan serta mencari solusi.
Infovet yang sering diajak Hadi bersama tim-nya, harus mengakui bahwa ada semangat besar dan keinginan kuat dari dalam dirinya untuk, mengambil peran nyata. Tidak sekadar berada dibelakang meja, dan main atur anak buahnya.
Hadi secara nyata terjun langsung dan aktif bergerak di lapangan. Di Banyumas, Semarang, Solo dan Blitar juga daerah lainnya yang diikuti Infovet, Hadi dan Tim nya aktif menggelar seminar dan kemudian masuk keluar kandang para peternak, mencari masukan penting sekaligus menawarkan solusi dalam mengatasi AI.
Begitu kasus wabah AI di Indonesia belum lama ini kembali terulang, maka email dan puluhan Layanan Pesan Singkat atau SMS (Short Message Service) masuk ke telepon genggam Drh Hadi Wibowo, lelaki yang kenyang asam garam perunggasan nasional ini. Begitu juga tidak ketinggalan Infovet Biro Yogyakarta mendapat ucapan yang rada mirip, baik secara langsung ketika ketemu maupun telepon serta lewat SMS
Contohnya kala itu di bulan kedua di tahun 2005 sudah muncul adanya indikasi kuat mewabahnya AI di Sukabumi dan Sidrap Sulawesi Selatan SMS terkesan nakal mencoba menjahili Hadi. Dan akhirnya benar juga, begitu meledak dan di”blow up“ oleh media cetak dan elektronik nasional, kasus menghebohkan itu membuat semua pihak seperti tersengat, mengingat belum genap setahun luka itu masih menganga.
Kala itu muncul pertanyaan liar, apakah prediksi Drh Hadi Wibowo yang kala itu secara eksklusif hanya dimuat oleh Infovet, atas dasar profesional keilmuan atau interest sebagai pedagang obat.
Sebab, seperti diketahui Drh Hadi Wibowo, mantan orang yang lama hidup kandang ayam itu, 6 tahun terakhir ini terjun menjadi profesional di sebuah perusahaan distributor obat hewan. Tepatnya menduduki jabatan Product Manager. Sehingga tidak heran, ketika prediksi, tentang AI saat itu (2004) lebih banyak pihak-pihak yang mencibirnya.
Meski demikian, tidak semua, karena ada juga yang memberikan apresiasi atas pemikirannya yang maju. Salah satunya adalah Drh I Wayan Teguh Wibawan MSc PhD, dosen FKH IPB Bogor. Kala itu kepada Infovet, Wayan memberikan acungan jempol atas prediksinya.
Komentar salut bukan tanpa alasan, karena Hadi mengungkapkan prediksinya atas dasar kaidah ilmiah yang sangat simpel alias sederhana. Meski sangat-sangat sederhana, namun sangat jauh dan terlepas dari aspek bisnis atau tidak berkaitan dengan posisinya sebagai eksekutif di sebuah perusahaan obat.
Kala itu pertengahan tahun 2004 di Blitar dalam sebuah seminar internal yang dihadiri para peternak dan praktisi regional JAwa Timur, seorang Hadi mencoba memberikan peringatan dini tentang kasus wabah penyakit AI tidak hanya berhenti sampai disini. Sebuah kemungkinan besar, bahwa di tahun-tahun mendatang sangat besar akan muncul lagi dalam kawasan yang sama, tetapi juga bisa terjadi di kawasan lain dengan dampak yang tidak kalah buruk.
Terlepas dari profesinya sebagai eksekutif sebuah perusahaan, ia mencoba meneropong, bahwa program vaksinasi akan banyak mengalami kegagalan, terutama jika tidak ada pendekatan baru.
Kala itu, ia sudah nyaring berteriak saat sebagai penjual sebuah produk, bahwa jika program vaksinasi saat ini masih saja dilaksanakan seperti dahulu, maka sudah pasti kegagalan tidak bisa dielakkan. Menurutnya kegagalan vaksinasi memang banyak, namun khusus untuk AI ia mencoba membuka wawasan peternak dan praktisi, bahwa penyakit AI jangan dipandang enteng.
Vaksinasi bukan jawaban tuntas, namun harus ada pendekatan baru agar langkah vaksinasi konvensional itu sudah mulai dipikirkan efektifitasnya. “Saya sebenarnya tidak ingin secara vulgar menawarkan produk perusahaan saya kepada para peternak, namun bagaimana lagi jika tidak demikian mereka akan menjadi korban AI,” ujarnya kepada Infovet kala itu.
Meski demikian lanjut Hadi, akhirnya ia harus berkompromi antara sebagai eksekutif di sebuah perusahaan dengan posisinya sebagai konsultan profesional yang berhamba pada keilmuan.
Memang pantas dicatat, sangat sedikit praktisi perunggasan yang dapat menyeimbangkan antara peran sebagai pedagang obat/vaksin dengan moral keilmuan. Dan, Hadi salah satu yang pantas untuk disebut profesional yang secara umum punya kredibilitas. (iyo)

Peran Sentral Pasar Unggas dalam Penyebaran AI

Peran Sentral Pasar Unggas dalam Penyebaran AI

(( Dalam upaya pengendalian suatu penyakit sangat penting diketahui jalur penularan penyakit. Hal ini untuk mengetahui tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Keberhasilan dalam pengendalian suatu penyakit sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut. ))

Dalam waktu empat tahun terakhir Avian influenza (AI)/flu burung mendapat perhatian yang serius dari segenap lapisan masyarakat Indonesia. Terlebih setelah jatuhnya korban manusia. Data-data yang ada menunjukkan besarnya ancaman AI terhadap kemapanan umat manusia di bumi ini.
Para ahli memprediksi akan terjadi pandemi influenza dan hal itu tinggal menunggu waktu. Laporan dari WHO sampai bulan Mei 2008 menyatakan bahwa jumlah kasus pada manusia di dunia mencapai 383 kasus dengan kematian mencapai 241 orang. Sementara di Indonesia sampai Mei 2008 terdapat 135 kasus dengan kematian manusia mencapai 110 orang (Komnas FBPI). Semakin bertambahnya korban manusia dari waktu ke waktu seakan menegaskan prediksi para ahli akan kemungkinan terjadinya pandemi.
Rantai penyebaran AI
Dalam upaya pengendalian suatu penyakit sangat penting diketahui jalur penularan penyakit. Hal ini untuk mengetahui tindakan apa yang sebaiknya dilakukan. Keberhasilan dalam pengendalian suatu penyakit sangat ditentukan oleh keberhasilan dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Melihat perkembangan jalur penularan AI ke manusia yang saat ini terjadi masih berasal dari unggas maka tindakan memotong rantai penularan dari unggas ke manusia merupakan langkah yang tepat. Saat ini dimana telah terjadi komersialisasi komoditi unggas maka sangat penting memperhatikan rantai distribusi unggas dan produknya. Hal ini dimaksudkan agar tindakan/kebijakan yang dilakukan dalam memotong rantai penularan/penyebaran AI dapat berjalan dengan tepat.
Berdasarkan hasil lokakarya pasar unggas hidup (live bird markets/traditional markets) yang diadakan oleh Komnas FBPI, USDA dan CIVAS ada empat titik kritis dalam rantai distribusi unggas dan produknya (daging) yaitu peternakan, tempat penampungan unggas, tempat pemotongan unggas dan tempat penjualan unggas dan produknya (pasar).
Salah satu titik kritis yang perlu segera mendapat penanganan adalah pasar. Sebagian besar pasar tradisional yang ada di Indonesia terdapat tempat penjualan unggas hidup dan produknya (pasar unggas). Hal ini harus mendapat perhatian serius dari kita mengingat beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pasar yang terdapat penjualan unggas dan produknya (pasar unggas) merupakan tempat yang memiliki risiko tinggi dalam penyebaran virus AI.

Pasar unggas
Pasar-pasar di Asia merupakan pusat aktivitas sosial dan ekonomi, namun pasar juga dapat menjadi sumber penyebaran penyakit (zoonosis) yang cepat. Bahkan sejumlah wabah penyakit saat ini ditularkan melalui pangan dan hewan hidup yang dijual di pasar. Tidak terkecuali keberadaan virus AI di pasar menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian lebih. Hal ini mengingat pasar sebagai tempat yang memungkinkan kontak langsung antara unggas pembawa virus AI dengan manusia.
Pada tahun 1997 wabah H5N1 terjadi pada peternakan dan pasar becek/tradisional di Hong Kong. Untuk pertama kalinya dilaporkan H5N1 menyerang manusia dengan jumlah kematian 6 orang dari 18 kasus (WHO, 2005). Lemahnya biosekuriti dan buruknya higiene sanitasi yang ada memicu terjadinya penyebaran dan penularan virus AI di pasar yang menjual unggas hidup dan produknya.
Pasar tradisional di Indonesia umumnya terdapat penjualan unggas hidup dan produknya. Pasar ini menjadi salah satu titik kritis penyebaran virus AI yang harus menjadi perhatian dan kepedulian semua pihak dalam upaya menekan penyebaran virus avian influenza. Hal ini disebabkan atas beberapa alasan, yaitu sebagian besar pasar tradisional di Indonesia menjadi transaksi penjualan unggas hidup dan produknya.
Kondisi ini memperbesar kemungkinan kontak langsung antara manusia dan unggas terjadi. Selain itu, pada pasar tradisional juga terdapat tempat penampungan unggas (TPnU), tempat pemotongan unggas (TPU) dan tempat penjualan karkas.
Pada tahun 1997 FAO menyatakan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan di Hong Kong menunjukkan sebesar 20% unggas yang dijual di pasar terinfeksi virus avian influenza (H5N1). Kemudian tahun 2006 terdeteksi keberadaan H5N1 pada pasar makanan yang menjual unggas hidup di Guangzhou, China (Wang et al. 2006).
Penelitian ini menyatakan bahwa pasar makanan yang terdapat penjualan unggas hidup dapat menjadi sumber infeksi virus AI dan keberadaan virus dimungkinkan dibawa oleh unggas sehat. Pada penelitian ini juga ditemukan adanya antibodi pada pekerja yang menangani unggas di pasar. Sementara di Asia Tenggara keberadaan virus AI di pasar unggas hidup dilaporkan pada tahun 2001. Pada saat itu terdeteksi H5N1 pada unggas lokal yang dijual di pasar unggas hidup di Hanoi, Vietnam (Nguyen et al. 2001).
Berkaitan dengan keberadaan pasar unggas yang memiliki peran penting dalam penyebaran virus AI maka kita harus melihat kondisi pasar unggas di Indonesia saat ini. Apakah pasar unggas yang kita miliki saat ini memiliki risiko yang rendah dalam penyebaran virus AI atau sebaliknya?.
Penulis tidak dapat menggambarkan secara utuh tentang kondisi pasar unggas yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Tetapi yang akan disampaikan disini adalah gambaran hasil kunjungan pasar yang telah dilakukan dalam kegiatan lokakarya pasar unggas hidup (workshop on live bird markets/traditional markets). Semoga kondisi pasar yang ada dapat mewakili keberadaan pasar-pasar unggas diseluruh Indonesia.
Berikut beberapa kondisi yang bisa ditemui di pasar yang menjual unggas hidup dan produknya berdasarkan hasil lokakarya pasar unggas hidup yang diadakan di enam kota:
1. belum adanya pemeriksaan kesehatan hewan dan produknya secara rutin.
2. biosekuriti yang masih buruk.
3. tidak ada proses/program pembersihan dan desinfeksi kendaraan pengangkut, keranjang, peralatan, dan bangunan. Kalaupun ada tidak dilaksanakan secara rutin.
4. tidak ada batas yang jelas antara tempat penampungan, pemotongan dan penjualan unggas dan produknya dengan tempat komoditi lain.
5. sumber asal-usul ayam tidak diketahui asal peternakannya dan status kesehatannya.
6. transportasi unggas belum memenuhi standar (menggunakan motor) dan tidak memenuhi kaidah animal welfare.
7. tidak ada pintu khusus buat keluar masuknya unggas ke pasar.
8. tempat pengumpulan/penampungan dan pemotongan unggas yang tidak memenuhi standar minimal higine dan sanitasi yang baik.
9. penjualan multi spesies unggas (ayam buras, bebek, ayam ras) dalam satu tempat.
10. masih terdapat penjualan ayam hidup (konsumen membawa ayam hidup ke rumahnya).
11. belum ada peraturan tentang penataan unggas hidup dan produknya di pasar.
12. higiene personal yang masih buruk.
13. kurangnya kesadaran dari para penjual dan pembeli mengenai produk yang ASUH.
Beberapa kondisi yang ada seperti penjualan multispesies unggas dalam satu tempat, buruknya higiene, pembersihan dan penyucihamaan yang terbatas, dan tidak adanya pemeriksaan kesehatan unggas sebelum dipasarkan merupakan praktek-praktek yang berisiko tinggi dalam penyebaran virus AI (FAO, 2007). Kondisi ini memudahkan penyebaran dan penularan virus AI baik penularan antar unggas, unggas ke manusia maupun dari unggas ke lingkungan.

Konsep Pasar Unggas yang Sehat
Melihat kondisi yang ada maka keberadaan pasar unggas yang sehat menjadi satu keharusan jika kita ingin menekan penyebaran virus AI. Bertolak dari kondisi yang ada maka dalam pembuatan konsep pasar unggas yang sehat ada beberapa poin penting yang harus tercakup di dalam konsep pasar unggas yang sehat.
Poin-poin tersebut meliputi; keberadaan pasar, penerapan biosekuriti, higiene dan sanitasi, zoning antara tempat aktifitas penanganan unggas dan produknya (tempat penampungan unggas, tempat pemotongan unggas, tempat penjualan karkas/daging unggas) dengan tempat penjualan komoditi lain, aktifitas penanganan unggas dan produknya terletak dalam satu area, kelayakan fasilitas dan infrastruktur, pemeriksaan kesehatan unggas, sistem pengawasan keamanan daging unggas (meat inspection system), konsep produk unggas yang keluar dari pasar dalam bentuk karkas bukan dalam bentuk unggas hidup, pemberdayaan masyarakat pasar (pengelola pasar, pemasok unggas hidup, pengumpul unggas hidup, pedagang unggas hidup, pemotong, pedagang daging/karkas unggas, pemerintah daerah, pihak swasta, konsumen), dan kerjasama semua pihak yang terkait.
Jika pembebasan dan pengendalian AI di Indonesia masih menjadi prioritas maka sudah seharusnya pasar di Indonesia yang menjual unggas dan produknya memenuhi standar pasar unggas yang sehat. Hal ini bisa terwujud jika semua pihak yang berkepentingan terlibat.
Semoga kita tidak perlu menunggu waktu lama untuk mewujudkan pasar unggas yang sehat. Kebijakan ini bisa dimulai dengan terlebih dahulu membuat beberapa pasar percontohan yang memenuhi standar pasar unggas yang sehat dibeberapa daerah. Setelah itu baru dikembangkan di daerah lainnya. Semoga keberadaan pasar unggas yang sehat di Indonesia benar-benar terwujud. Semoga.

(Agus Jaelani, Anggota Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies /CIVAS)

5 TAHUN AI DI INDONESIA OPTIMISME PERUNGGASAN HARUS DIKIBARKAN

5 TAHUN AI DI INDONESIA

OPTIMISME PERUNGGASAN HARUS DIKIBARKAN


Setelah 5 (lima) tahun perunggasan nasional diterkam wabah AI, setidaknya memunculkan optimisme dan pesimisme di kalangan peternak dan praktisi lapangan perunggasan.
Dari beberapa pihak yang bersikap optimistis, mengungkapkan sejumlah argumentasinya, yang secara garis besar berpendapat bahwa selama 5 tahun kasus penyakit AI justru harus melahirkan sebuah sikap optimisme.
Sebab meski kasus penyakit itu, memang sempat membuat panik semua pihak dan nyaris tidak jauh beda dengan Gumboro di tahun 1980-an. Namun akhirnya toh kini sudah terbiasa dan seolah-olah sudah lupa dengan akibat yang timbul dari sergapan penyakit Gumboro dan AI. Kini program vaksinasi Gumboro dan AI akhirnya menjadi sebuah kebutuhan pokok, terutama jika peternak tidak mau berhadapan dengan resiko.
Meskipun sampai saat ini banyak pakar yang berseberangan pendapat tentang vaksinasi dan ada yang menolak vaksinasi, akan tetapi para peternak lebih memilih resiko terkecil alias memilih melakukan vaksinasi, meski kenyataannya hasil optimal belum juga dapat dicapai.

Mengapa Praktisi Optimis

Dari barisan yang penuh optimisme setelah gelombang kedua wabah AI menerjang Indonesia, Infovet berhasil menggali argumentasinya antara lain dari Drh Helvi Indriyani, Drh Marjuan dan Drh Unang Patriana MS.
Umumnya pendapat dari kubu ini, berasumsi bahwa dunia perunggasan di Indonesia tetap mempunya prospek yang cerah. Sehingga meskipun adanya berbagai problema yang terus menghadang termasuk penyakit-penyakit baru dan faktor ekternal lainnya, masa depan usaha perunggasan tetap saja penuh harapan.
Hanya peternak yang cerdas, kreatif dan inovatif serta rajin mengikuti perkembangan teknologi, maka mereka akan survive, bertahan dan meraih sukses. Terutama terkait dengan pangsa pasar domestik untuk produk perunggasan yang sudah pasti terus bergerak naik, meskipun katanya daya beli masyarakat merosot sampai di pertengahan tahun 2008 ini.
“Harga jual telor dan daging ayam pada Juli 2008 ini menyentuh harga psikologis yang merupakan salah satu indikator kuat untuk mematahkan pendapat, bahwa potensi ekonomi masyarakat yang terus melemah” ujar Helvi, seorang praktisi perunggasan dari SHS International di Yogyakarta.
Harga yang sebenarnya masih bisa lagi terdongkrak naik itu, menurut Marjuan semakin memberi ruang luas kepada peternak untuk bergerak dan semakin maju. Terutama untuk reinvestasi berupa peremajaan dan langkah afkir yang kurang produktif.
“Harga telor yang sempat mencapai harga yang sangat menggembirakan bagi peternak itu, pantas disyukuri. Karena sebelumnya harga pakan juga sudah naik lebih dahulu, dan konon kabarnya akan kembali naik, tapi bagaimanapun masih mampu menyisakan keuntungan bagi para peternak. Jadi kita tetap harus optimistis dengan dunia perunggasan meski kasus AI masih menjadi hantu yang siap menakutkan peternak”ujar Marjuan.
Penyakit AI menurut Unang Patriana, memang pantas untuk terus diwaspadai oleh semua pihak, akan tetapi jangan sampai menjadi kendala dan penghambat untuk memajukan industri peternakan Indonesia. Belajar dari kisah aneka penyakit masa lalu yang ketika muncul membuat rasa khawatir, namun akhirnya dapat pula diatasi dan seolah semakin akrab bersahabat dengan para peternak.
“Optimisme memang harus dikibarkan di benak para praktisi perunggasan Indonesia dalam mengahadapi apapun termasuk penyakit AI. Jika rasa dan sikap itu hilang, maka justru akan melemahkan dan membuat industri perunggasan Indonesia tertinggal dan jatuh dalam kubangan masalah yang akan semakin sulit untuk bangkit” ujar Unang.
Makanya, lanjut Unang, dirinya termasuk orang yang selalu merasa otpimisme ditengah banyak kalangan yang menaruh rasa pesimistis. Menurut mereka problema yang selama ini dihadapi oleh para peternak Indonesia, sudah pasti juga pernah dihadapi oleh para peternak di negeri manca yang telah maju industri perunggasannya. Oleh karena itu jika kebersamaan dilakukan oleh berbagai pihak yang kompeten dengan industri perunggasan, dalam memecahkan dan mencari solusinya, maka sudah pasti kesuksesan akan dicapai.
“Saya sampai saat ini, termasuk orang yang ‘over optimistis’ dengan industri perunggasan di dalam negeri. Sebab menurut saya produk perunggasan, tetap saja akan menjadi produk pangan yang paling diminati konsumen sampai kapanpun. Sehingga berusaha di sektor ini tetap menjanjikan masa depan yang terang,” ujar Unang yang diamini oleh Marjuan maupun Helvi.


Mengapa Ada yang Pesimis

Sedangkan Sapto Haryono, seorang peternak ayam petelur, merasa pesimistis. Hal itu jika dikaitkan dengan harga pakan yang terus bergerak naik termasuk komponen untukm pencampuran seperrti katul dan jagung. Sapto mengakui bahwa harga telur saat ini memang memberikan cukup keuntungan yang memadai kepada para peternak ayam petelur. Namun demikian, menurutnya belum mampu memberikan ras aman dan keyakinan kuat untuk melakukan ekspansi populasi dan bahkan peremajaan.
“Wong peremajaan saja masih harus dipikir masak-masak kok, apalagi mikir untuk langkah afkir dengan mengganti ayam muda. Jika saja harga pakan tidak bergerak cepat secara terus menerus naik, saya berpikir untuk afkir. Namun jika seperti saat ini, dimana harga pakan pabrikan terus naik dan harga jagung dan katul juga bergerak naik liar, maka konyol jika langkah afkir ditempuh. Langkah afkir atas ayam-ayam hanya akan diempuh jika benar-benar kemampuan produksinya sudah tidak ekonomis banget lagi,” ujar Sapto.
Hadi Santosa, melihat kondisi peternakan khususnya perunggasan belum mampu memberikan sinyal positif yang signifikan. Meskipun harga telur dan daging ayam terus bergerak fluktuatif menuju kenaikan, namun tidak ada jaminan kepastian untuk tidak turun dan anjlog terjerembab dalam waktu yang lama.
Variabel sosial politik di dalam negeri, terutama di pertengahan tahun 2008 dan sesudahnya barangkali adalah salah satu yang patut dicermati. Kampanye partai politik selama 9 bulan sejak Juli 2008 ini akan menjadi batu ujian berat dunia peternakan Indonesia.
“Saya akan, lempar handuk tanda menyerah bergelut di dunia peternakan dan beralih menjadi pedagang kaos dan baju saja, di kaki lima,” seloroh Hadi yang berbicara dengan nada serius.(iyo)

MONITORING VARIAN VIRUS HPAI KITA

MONITORING VARIAN VIRUS HPAI KITA

(( Dengan demikian kita dapat mengerti bagaimana proses monitoring varian virus AI di tanah air kita Indonesia. Berbagai kemungkinan dapat terjadi dalam monitoring itu. ))

Bagaimana monitoring varian-varian virus HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza) di Indonesia? Dr Ronald N Thornton seorang ahli epidemiologi FAO di Jakarta dalam pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta menyampaikan bahwa ada tujuan yang jelas dari pengumpulan sampel virus itu harus dilakukan secara intensif.

Menurut Ronald, identifikasi antigenik dan genetik dari varian-varian virus HPAI adalah untuk memutuskan jenis bibit vaksin yang digunakan pada area pengendalian penyakit yang diprioritaskan di Indonesia; secara historis sampel virusnya ada atau eksis; sampel-sampelnya representatif atau dapat dipertanggungjawabkan dengan koleksi yang dapat diperbarui; dilakukan pada seluruh sektor produksi unggas; dan terkait dengan kasus-kasus yang secara khusus sangat penting seperti kematian orang dan presentasi yang tidak diperlukan.

Ronald menyampaikan bahwa penentuan distribusi dari tipe-tipe virus adalah berdasar spesies. Lokasi dan sektor. Hal-hal penting yang khusus untuk hal ini harus diperhatikan. Adapun fokus koleksi isolat utama dari tujuan mengumpulkan sampel secara intensif adalah berdasar pada penyebaran penyakit yang signifikan untuk pengendalian penyakit berdasar penyebaran secara geografis, penyebaran sektoral dan hasil-hasil yang tampak termasuk kegagalan vaksinasi.

Dikatakan Ronald, berbagai lembaga dilibatkan dalam proses monitoring varian virus itu di antaranya unit pengendalian AI Dirjennak yang dikenal dengan nama CMU (Control Monitoring Unit) dengan berbagai instrumennya termasuk yang di lapangan dengan menggunakan investigasi wabah, Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet), industri unggas komersial dan universitas-universitas.

Tutur Ronald, perkembangan hasil koleksi itu tercatat sumber yang berasal dari Denpasar, Wates, peternakan sektor 1 dan 2, bukittinggi, Universitas Udayana dan diharapkan kerjasama daerah lain sebelum Agustus ini.

Lanjutnya, prosedur pembagian sampel meliputi prosedur yang difasilitasi oleh Direktur Kesehatan Hewan Dirjennak, CMU dan FAO; persetujuan transfer material disiapkan dengan daftar isolat dan ditandatangani oleh laboratorium penyedia dan penerima sampel isolat; permintaan untuk ijin ekspor harus minta ijin Direktur Kesehatan Hewan Dirjennak; sampel dikirim via IATA kurir yang disetujui dan diselenggarakan oleh FAO.

Masih menurut Ronald, permintaan sampel-sampel terkini yang sudah terlaksana adalah sampel dapat dipakai, cepat prosesnya, tidak mahal, kualitasnya bervariasi, mungkin tidak merefleksikan profil jenis virus yang terkini dan data pembantu yang mungkin bervariasi. Adapun permintaan sampel-sampel baru adalah yang secara logis sulit dipastikan, lambat, mahal, kualitas sampelnya bagus, representatif, dan informasi pembantu yang baik.

Dengan demikian kita dapat mengerti bagaimana proses monitoring varian virus AI di tanah air kita Indonesia. Berbagai kemungkinan yang positif dan negatif dapat terjadi dalam monitoring itu. Sebagai bangsa yang mencintai tanah air Indonesia, kita lakukan upaya yang terbaik dengan mendukung segala sesuatunya dijalankan secara baik, adil dan benar.


Pasar Unggas

Sementara itu Drh Indi Dharmayanti MS dari Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa ada keterkaitan erat antara pasar unggas, virus AI tipe H5N1 dan pengambilan contoh virus di lapangan. Pasar unggas merupakan suatu aspek penting dalam kehidupan di mana tempat ini merefleksikan budaya dan tradisi lokal. Pasar unggas ini di Indonesia merupakan pasar ayam yang penting.

90 persen persediaan dari ayam merupakan sistem pasar tradisional. Sayangnya, pasar unggas unggas tradisional ini berimplikasi pada penyebaran penyakit seperti SARS, Kolera dan infeksi streptokokus babi. Ada peningkatan kejadian bahwa pasar unggas tradisional adalah tempat berkembang, bercampur, dan berbiaknya virus avian influenza termasuk H5N1.

Penelitian menunjukkan adanya virus AI H5N1 di pasar unggas. Jajak data usaha di Indonesia dan negara-negara lain telah mengidentifikasi bahwa pasar merupakan tempat yang baik bagi virus AI. Data-data Bbalitvet yang menunjukkan bahwa ayam-ayam dari pasar unggas itu terbukti positif virus AI antara lain dari Bbalitvet, data lapangan Unit Pengendalian Penyakit AI Ditjennak, studi di Bali, rumah kolektor unggas sentinel, dan data di Guangzhou dari kandang hewan. Pengalaman di Hongkong, mereka menggunakan sebuah studi kontrol kasus untuk mengidentifikasi faktor resiko yang mungkin untuk menyebarkan virus AI tipe H5N1.

Selanjutnya peran pasar unggas ini akan dijelaskan lebih rinci dalam Artikel Peran Sentral Pasar Unggas dalam Penyebaran AI. (YR)

MENGUAK TABIR AVIAN INFLUENZA

MENGUAK TABIR AVIAN INFLUENZA

(( Hal terbaik yang harus dilakukan terkait membumihanguskan AI adalah surveillance yang benar, bukan hanya perkataan namun tindakan nyata yang tidak memberikan tempat pada VAI untuk hidup dan berkembang biak di farm. ))


Recent status of AI in Indonesia and Javan, merupakan tema seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan Veterinary Medicine Faculty Hokaido University, Javan.

Seminar ini menghadirkan pakar-pakar AI kenamaan, yakni Prof Hiroshi Kida dari Vetmed Hokaido University, Prof Widya Asmara dan Prof Charles Rangga Tabbu dari FKH UGM Yogyakarta, Indonesia. Seminar yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2008 silam ini mengetengahkan topik hangat seputar tabir terbaru perkembangan virus AI dari unggas ke manusia, babi ke manusia serta kemungkinan penularan dari manusia ke manusia.

Seminar ini dihadiri oleh para akademisi dari berbagai perguruan tinggi sebidang, kalangan pemerintah terkait, alumni FKH UGM, calon dokter hewan dan mahasiswa FKH UGM Yogyakarta.

Pada seminar kali ini, banyak hal menarik yang diketengahkan Prof Hiroshi Kida terkait status perkembangan VAI terkini, yakni Ekologi dan evolusi VAI. Hal dimaksud adalah (1) reservoir alaminya, perpetuation, host range, transmisi interspecies, antigenik dan variasi genetik VAI dan (2) mekanisme tanggap darurat strain pandemik pada manusia dan kasus-kasus HPAI pada unggas domestik.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah adanya kemungkinan HPAIV strain H5N1 sebagai kandidat pemicu terjadinya kasus pandemic. Kemudian Prof Kida menegaskan bahwa harus ada kontrol yang baik untuk mengkounter kasus avian influenza dan kejadian pandemik pada manusia.

Berdasarkan hal ini, maka Prof Kida menyatakan bahwa hal terbaik yang harus dilakukan terkait membumihanguskan AI adalah surveillance yang benar, bukan hanya perkataan namun tindakan nyata yang tidak memberikan tempat pada VAI untuk hidup dan berkembang biak di farm.

Lain halnya dengan yang dikatakan Prof Widya Asmara. Menurutnya bahwa yang perlu dikuatirkan adalah kemungkinan terjadinya penularan VAI dari manusia ke manusia. Lebih lanjut dikisahkannya bahwa berdasarkan data epidemiologi kejadian kasus influenza di dunia, tercatat pada tahun 1997 mulai mewabahnya kasus avian influenza di Hong Kong, ditemukan 18 kasus pada manusia, 6 orang (33%) dinyatakan meninggal.

Kasus ini juga dilaporkan berdampak pada industri peternakan di Negara ini. Kemudian sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2002, kasus avian influenza terus berlanjut dengan terjadinya letupan-letupan kecil yang kurang mendapat perhatian publik. Pada tahun 2003, kembali avian influenza menjadi perhatian dunia. Pada saat ini dilaporkan telah terjadi kasus di 9 negara di dunia.

Wabah pada manusia meningkat menjadi 34 kasus yang berakhir dengan kematian sebanyak 23 orang (68%) dan menimbulkan kerugian sangat besar diindustri peternakan dunia termasuk Indonesia. Terakhir dilaporkan bahwa adanya temuan kasus di 4 negara dengan 7 temuan kasus pada manusia, 6 orang (86%) diantaranya meninggal dunia. Kemudian sejak tahun 2005 sampai sekarang VAI masih menjadi dilema dikalangan pengusaha peternakan, praktisi perunggasan, pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya.

Dilain pihak, pengendalian VAI di negeri ini masih menuai kegagalan-kegagalan. Hal ini disebabkan oleh kurang sinergisnya antara pelaku kebijakan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Hal ini dikemukakan Prof Charles Rangga Tabbu secara gamblang dihadapan forum seminar. Menurutnya pengendalian VAI tidak disesuaikan dengan kondisi usaha peternakan negeri ini.

Data lapangan menyimpulkan bahwa kharakteristik usaha peternakan Indonesia meliputi:

(1) tidak ada batasan usaha peternakan menjadi zona-zona, baik zona 1, 2, 3 maupun 4,
(2) selalu diusaha dengan menggunakan kandang system terbuka,
(3) kebanyakan peternak memelihara ayam dalam satu siklus dengan berbagai macam variasi umur,
(4) variasi kualitas manajemen yang sangat besar khususnya untuk zona 3 dan 4,
(5) pakan-pakan yang masih dikemas dalam kantong yang disinyalir menimbulkan dampak lain yang berpengaruh pada kesehatan ayam dan
(6) komposisi tenaga kerja yang melebihi kapasitas populasi ayam yang dipelihara.

Disamping itu, pasar-pasar masih bersifat tradisional. Ayam-ayam dipasarkan dalam bentuk hidup dengan kondisi tempat yang kotor, hal ini memungkinkan terjadinya penyebaran berbagai jenis penyakit selain penyakit avian influenza. Lantas usaha apa yang bisa diterapkan dalam usaha pengendalian VAI ?

Prof Charles menegaskan bahwa hanya dengan penerapan biosekuriti yang benar-benar dengan berpedoman pada 9 strategi pengendalian VAI. Kemudian yang terpenting dari hal ini adalah monitoring dan evaluasi kegiatan, gagal atau berhasil ? Bila dijumpai kegagalan, kaji kembali penyebab kegagalan tersebut, namun bila berhasil maka pertahankanlah dan tingkatkan lagi. (Daman Suska).

EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI

EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI

(( Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi. ))

Ongkos vaksinasi dalam peternakan memerlukan kekuatan sumberdaya yang menggunakannya yang mana merupakan subyek sosio ekonomi peternakan itu sendiri. Efektivasi suatu biaya dari strategi vaksinasi yang dianjurkan memerlukan sebuah kombinasi dari ilmu penyebaran penyakit dan ilmu ekonomi.

Alokasi dari sumber daya menjadi lebih kritis jika sumber daya masyarakat untuk pengendalian HPAI dan pencegahan menurun. Analisa Efektivasi biaya dapat menuntun proses alokasi sumberdaya. Demikian disampaikan Jonathan Rushton seorang ahli ekonomi sosial dari FAO di Roma pada pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta.

Struktur dan hasil keluaran dari model biaya meliputi kertas kerja input data seperti: populasi unggas, target vaksinasi, dan sektor yang terpisah. Intinya biaya merupakan total biaya yang dipisahkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel, biaya per vaksinasi unggas dan perkiraan dari pembagian biaya antara sektor publik dan sektor privat. Hasil sementara untuk Indonesia mengindikasi suatu biaya vaksinasi untuk unggas adalah antara 0,08 sampai 0,14 dolar Amerika tergantung pada sistem produksi.

Struktur model dan hasil keluaran populasi unggas merupakan suatu hal yang dinamis dan berbeda antara setiap model populasi dalam kandang input data meliputi: ukuran kandang yang asli, angka kematian dan rata-rata yang diafkir, umur saat panen dan produksi telur, strategi vaksinasi, dan keampuhan vaksinasi.

Produksi yang dihasilkan meliputi: produksi unggas dan telur baik itu penjualan dan konsumsi rumah sendiri, ukuran kandang dengan penyesuaian pada musim, aplikasi dosis vaksin, dan jumlah unggas yang diproteksi perhari untuk seluruh kandang dan kategori umur unggas.

Sumber data yang mungkin meliputi struktur dasar dari sektor unggas Indonesia diantaranya laporan terkini dari nilai yang dihasilkan, informasi pada sektor komersial dan kerja yang terprofilkan; sedangkan biaya vaksinasi meliputi proyek penelitian yang dijalankan, kerjasama Indonesia dan Belanda, dan sektor privat seperti Japfa Comfeed dan lain-lain.

Selanjutnya langkah yang akan datang meliputi aksi yang lebih kuat melibatkan banyak pihak dengan penggunaan data sekunder, opini Ahli dan pembetulan model yang dihasilkan. (YR/Fj)

AI dan Dunia Peternakan di Mata Mahasiswa Peternakan

AI dan Dunia Peternakan
di Mata Mahasiswa Peternakan

(( Jelaslah dalam menghadapi kasus AI, kaum peternakan tak boleh lagi terlalu jatuh dalam segala segi pemikiran dan kehidupannya. Caranya dengan bangkit dan berpikiran serta berkegiatan positif dalam dunia peternakan secara umum. ))

Sejak kehadiran avian influenza dan berbagai jenis penyakit menular hewan lainnya, dunia peternakan Indonesia seperti terombang ambing gelombang pasang dunia bisnis khususnya bisnis usaha dibidang peternakan. Demikian Ayub Rizal Ketua Umum Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan (Ismapeti) periode 2007.

Kondisi ini diperparah dengan munculnya kebijakan pemerintah untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak yang secara signifikan mempengaruhi harga pakan, bibit ternak dan input-input lain yang terkait. Sementara itu, kenaikan harga input yang dibutuhkan peternak untuk menghasilkan produk-produk ternak berkwalitas kadang-kadang tidak dibarengi dengan kenaikan harga produk itu sendiri, sehingga dipastikan peternak selalu menanggung kerugian dari usahanya tersebut.

Hal itu diutarakan Ayub Rizal dalam kaiatan dengan pelaksanaan kegiatan rutin tahunan, yakni Bakhti Mahasiswa Peternakan Indonesia (Bampi). Menurutnya Bampi 2008 ini mempunyai satu misi yang berkaitan langsung dengan dunia peternakan saat ini. Sementara Ismapeti merupakan organisasi kemahasiswaan profesi yang cukup banyak memberikan kontribusi bagi pembangunan dunia peternakan negeri ini. Berbagai sepak terjangnya telah dirasakan sejak kehadiran di bumi pertiwi ini.

Kontribusinya membangun negeri diwujudkannya melalui berbagai macam kegiatan seperti pelaksanaan seminar yang mengusung tema-tema edukatif dan informative yang ditujukan untuk membanguan mentalitas generasi muda, peternak dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Menurut Ayub, Kegiatan Bampi 2008 merupakan ajang penumbuhan sikap mencintai sesama melalui kerja bakhti tempat dimana acara ini digelar. Bampi 2008 kali ini digelar di Indonesia paling Barat, yakni banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 1 Juni 2008 lalu.

Bampi 2008 ini menurut Mahasiswa UNS Solo ini menghasilkan beberapa macam rumusan yang akan ditindak lanjuti, sehingga hasilnya nanti dapat dijadikan acuan oleh pembuat kebijakan untuk membuat kebijakan baru yang benar-benar berpihak pada peternak. Diantara rumusan-rumusan tersebut adalah :

1. Sapronak
• Perbaikan infrastruktur (jalan, listrik, air dan komunikasi) guna mendukung peternakan dengan pemanfaatan APBD ataupun APBN untuk menarik Investor baik lokal maupun asing
• Perbaikan struktur perkandangan dan kelengkapan peralatan pendukung peternakan
• Pengelolaan lahan tidur untuk meningkatkan produksi ternak

2. Produksi (Farm)
• Pembentukan pola pertanian dan peternakan terpadu dari hulu sampai ke hilir
• Peningkatan kualitas manajemen pemeliharaan, perkandangan, kesehatan dan keamanan peternakan (meliputi tata letak kandang,tata laksana penggembalaan, kualitas pakan, recording, dan kebersihan)
• Penerapan teknologi peternakan yang realistis dan implementatif sehingga dapat bersinergis dengan keadaan peternak

3. Pengolahan Pasca Panen
• Adanya pemberian ketrampilan pengolahan produk peternakan kepada peternak dan masyarakat setempat

4. Pemasaran
• Pembentukan sarana pemasaran produk peternakan sehingga memberikan keuntungan yang jelas bagi peternak seperti koperasi

5. Lembaga Pendukung
• Adanya Perda yang mengatur pemurnian plasma nutfah sapi lokal (sapi aceh)
• Adanya Perda yang berpihak pada peternak kecil
• Sosialisasi dan penerapan RUU PKH di lapangan
• Pelibatan Perguruan Tinggi dan stakeholders lainnya dalam pengambilan kebijakan
• Penyuluhan, pembinaan dan pendampingan terhadap peternak secara intensif dan berkelanjutan
• Pemberian motivasi terhadap peternak oleh lembaga terkait seperti penyelenggaraan kompetisi antar kelompok ternak
• Pengawasan dalam penyebaran bantuan dana ke peternak agar dapat diterima oleh masyarakat keseluruhan tanpa terkecuali.

Jelaslah dalam menghadapi kasus AI, kaum peternakan tak boleh lagi terlalu jatuh dalam segala segi pemikiran dan kehidupannya. Caranya dengan bangkit dan berpikiran serta berkegiatan positif dalam dunia peternakan secara umum. (Daman Suska).

SULITNYA BETERNAK SAAT INI, APA SOLUSINYA?

SULITNYA BETERNAK SAAT INI, APA SOLUSINYA?

Situasi penyakit Avian Influenza (AI) saat ini telah jauh lebih kompleks. Dimana infeksi lebih didominasi oleh infeksi yang berbarengan dengan penyakit lainnya seperti misalnya IB, kholera, ND, dll.
Untuk itu Drh Hadi Wibowo, praktisi perunggasan di Jakarta mengatakan AI dan penyakit domplengannya merupakan penyakit viral yang intra seluler yang langusng merusak sel induk semangnya. Maka apabila antibodi sudah tidak bisa lagi menetralisir dan mengenali virus tersebut maka kematian sudah pasti menjemput ayamnya. Namun sebelum itu terjadi, didalam tubuh ayam masih ada sel T efektor dan sel T sitotoksik yang juga berfungsi menghancurkan sel terinfeksi AI yang menjadi media hidup dan bereplikasi virus sekaligus membunuh virus AI itu sendiri.
Lebih lanjut, kata Hadi, mengutip hasil temuan terbaru dari Prof Fedik A Rantam dari Universitas Airlangga bahwa saat ini AI sudah mulai menginfeksi saluran pencernaan pada broiler maupun layer. “Kalau dulu AI menginfeksi saluran reproduksi dan pernapasan, kini gejalanya makin meluas,” katanya.
Dari pemeriksaan patologi anatomi diketahui terdapat infeksi AI di daerah mesenterium yaitu penyangga usus yang terlihat berwarna merah. Hal ini dikuatkan dengan hasil uji RT-PCR dan imunohistokimia yang menunjukkan bahwa infeksi positif AI. Artinya telah terjadi pergeseran serangan dari semula yang hanya menyerang saluran reproduksi dan pernapasan kita juga menyerang salura pencernaan.
Selain itu, Hadi melanjutkan, hasil temuan Prof Fedik mengatakan bahwa penularan AI paling besar terjadi melalui jalur distribusi. Dalam hal ini terjadi di pasar unggas hidup tempat bertemunya berbagai jenis unggas dalam satu lokasi. Sementara temuan Drh Wayan T Wibawan dari FKH IPB mengatakan bahwa telah terjadi perubahan epitop dan cleavage site pada virus AI yang kini sudah hampir menyerupai virus influenza di manusia.
“Hal ini tentu semakin menambah kekhawatiran kita akan risiko pandemi influenza. Namun yang patut disayangkan adalah tidak samanya pengertian dan sikap dari para pelaku bisnis perunggasan mulai peternak hingga pedagang pasar terhadap penyakit Avian Influenza sebagai masalah nasional,” ujar Hadi prihatin.

Perunggasan Makin Sulit
Hadi menuturkan, kondisi sulit saat ini akibat penyakit masih ditambah dengan naiknya harga pakan ayam baik untuk broiler dan layer. Biasanya menghadapi kenaikan harga bahan baku ini oleh formulator pakan diutak-atik agar nilai nutrisinya tetap dengan mengganti bahan pakan jagung dengan bahan substitusi lain.
Alhasil kadar proteinnya memang tetap namun apakah protein tersebut bisa dicerna dan diserap dengan baik oleh ayam atau tidak. Bila ayam kekurangan protein berarti kekurangan asam amino. Sementara asam amino sangat dibutuhkan untuk membentuk antibodi tubuh. Inilah yang menyebabkan titer antibodi terus turun dan kekebalan tubuh lemah. Ditambah lagi dengan vaksin AI yang tidak up to date dengan perkembangan lapangan menyebabkan beban infeksi AI dari lapang yang telah jauh bermutasi kian rentan.
Dua hal inilah yang menyebabkan kondisi beternak saat ini makin sulit. Namun untuk mengatasi hal ini, Hadi mencoba memberikan solusi, peternak harus terbiasa berteman dengan yang namanya imunomodulator.
Secara singkat, Hadi menjelaskan proses pembentukan antibodi lewat vaksinasi harus ditunjang oleh sel-sel yang bertugas untuk merespon kekebalan. Vaksin ketika masuk ke dalam tubuh ditangkap oleh sel makrofag yang dibantu oleh sel T helper untuk kemudian disampaikan ke sel B. Di sel B inilah dibentuk sel memori antibodi dan sel antibodi itu sendiri. Nah sel-sel yang berperan dalam respon imun ini harus diperbanyak dan dimatangkan, disinilah peran imunomodulator.
“Dinamakan imunomodulator karena obat ini memiliki efek pada respon imun untuk melakukan immuno modulasi. Mekanisme kerja immunomodulator adalah dengan tiga cara, yaitu pertama, meningkatkan proses maturity (pematangan) sel-sel yang berperanan dalam imun respon. Kedua, meningkatkan proses proliferasi sel, terutama sel-sel makrofag (memfagosit antigen dan menghancurkan antigen dalam sel) dan limfosit (pembentukan antibodi dan membunuh antigen dalam sel), sehingga jumlahnya menjadi lebih banyak dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian jumlah antigen yang dapat diproses meningkat lebih banyak dan titer antibodi yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Ketiga, mengaktifkan complement, sehingga eliminasi antigen dalam sel menjadi lebih efektif,” jelas dokter hewan yang lahir sehari sebelum peringatan kemerdekaan RI, yaitu 16 Agustus.
Hadi juga menegaskan bahwa kebaikan menggunakan imunomodulator sudah seharusnya ditularkan antar peternak. Seperti yang telah dilakukan Koh Iping dari Patriot Grup yang telah mempercayakan persoalan AI ini dengan pemanfaatan imunomodulator. Hal ini semata dilakukan untuk mengantisipasi bila terjadi serangan AI meskipun sudah dilakukan vaksinasi. Karena terbukti penggunaan imunomodulator dapat menekan terjadinya kasus AI.
Diakhir diskusi dengan Infovet, Hadi menjelaskan bahwa untuk mengamankan usaha perunggasan tetap diperlukan 3 langkah wajib yaitu sanitasi, desinfeksi, dan vaksinasi. (wan)

STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN

STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN

(( Mengapa menggunakan teknologi genetik reverse untuk jenis bibit vaksin masa depan? ))

Secara historis strain lapangan virus LPAI dengan sub tipe yang cocok HA ditumbuhkan pada telur ayam berembrio atau perusahaan yang memenuhi kaidah BSL2; memberikan proteksi yang luas terhadap tantangan virus LPAI dan HPAI; mempunyai potensi keamanan yang rendah untuk infeksi manusia dan konsekuensi yang rendah dengan pengaruh lingkungan.

Secara kekinian strain virus benih HPAI di antaranya strain Legok tahun 2003 dan strain Rusia tahun 2005; membutuhkan fasilitas penyimpanan biologik yang tinggi di mana resiko keamanan ditingkatkan dan kesalahan dapat dikurangi.

Genetik yang berubah dan kekayaan antigenik yang berbeda dari virus antara lain virus AI tipe H5 mengalami perubahan HA yang merupakan versi Eurasian dan variasi genetik didalam kelompok; virus H5N1 Eurasia/Afrika bukanlah sebuah virus tunggal tetapi masih satu garis dalam famili virus; sejak 1996 telah dibentuk secara genetik berdasar pada isolasi geografis dan infeksi spesies kedalam 10 garis.

Demikian disampaikan dalam pertemuan perkembangan dari Proyek OFFLU (OIE/FAO Animal Influenza Network) kerjasama Pemerintah Indonesia dengan FAO/OIE belum lama ini di Jakarta oleh Frank Wong, Anna Axel, Pater Daniels dari AAHL, Geelong, Indi Dharmayanti dari Bbalitvet Bogor, Johannes Oritomo, Dr Andeena dari JAPFA Comfeed, Bhudipa Choudhury dari OOFLU dan Mia Kim dari FAO Roma.

Kesamaan subtipe proteksi HA dengan vaksin AI menunjukkan bahwa khususnya pada tahun 2006 vaksin virus AI yang inaktif digunakan pada ayam melawan HPAI subtype H5N1 bermanfaat untuk mencegah ayam sakit dan mencegah kematian; lalu menurunkan replikasi dan perluasan virus dari sistem pernapasan dan saluran usus. Sifat vaksin HPAI tipe H5N1 melawan virus yang sama ini merupakan satu keunikan yang dapat diidentifikasi secara lengkap resisten terhadap vaksin-vaksin dengan strain tertentu.

Hal tersebut memberi penekanan bahwa kebutuhan untuk mendapatkan strain varian yang dimodifikasi dan aplikasi untuk jenis strain masa depan. Jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut, dibutuhkan vaksin yang secara antigenik lebih baik dan cocok untuk hemaglutinin, secara periodik meningkatkan strain vaksin yang cocok dengan virus lapangan yang cukup mendominasi; diperlukan penggunaan teknologi yang lebih baru seperti genetik reverse untuk strain AI atau teknologi rekombinan untuk vaksin diperantarai virus.

Vaksin AI genetik versi ulang tersebut menggunakan 8 atau 12 sistem plasmid untuk memproduksi virus dengan subtipe HA dan NA yang spesifik; menggunakan genetik internal yang mengijinkan pertumbuhan yang tinggi pada telur ayam.

Di masa depan konsep yang dibutuhkan untuk perijinan dan penggunaan vektor virus adalah virus cacar unggas rekombinan atau strain vaksin penyakit ND; kebutuhan yang dapat diletakkan ulang untuk virus AI yang genetik terkini HA nya.

Persyaratan OIE tentang manual uji diagnostik dan vaksin untuk ternak menyatakan setiap subtype hanya virus AI yang karakterisasinya baik dari tingkat keganasan rendah dianjurkan dari pengujian internasional dan nasional dapat digunakan untuk benih utama yang stabil guna vaksin yang di inaktifkan.

Kebijakan di atas disebabkan oleh karena beberapa alasan yaitu lebih aman untuk bekerja dengan lingkungan LPAI dan ketelitian kerja; manipulasi dari virus HPAI diijinkan hanya pada fasilitas yang ditemukan pemenuhan persyaratan lebih tinggi untuk penyimpanan dan keamanan contohnya divalidasi untuk agen infeksi secara lebih tinggi; umumnya virus LPAI adalah kurang ganas pada embrio sehingga pertumbuhannya lebih baik dan mengijinkan produksi titer tinggi dari virus aktif secara umum.

Beberapa isu yang berkembang antara lain apakah PT. Shigetta IPB merupakan pemilik paten eksklusif untuk H5N1 genetik reverse? Lalu, tentang lisensi untuk medimmune berupa royalti atau biaya per dosis?

Kesimpulannya, vaksin genetik reverse mempunyai tingkat keamanan yang lebih tinggi, keampuhan atau kecocokan, lapangan produksi yang lebih tinggi dan peningkatan yang lebih mudah. Tetapi, soal royalti, paten, dan lisensi butuh untuk dipertimbangkan. (YR/Fj)

LALAT VEKTOR AI SEBUAH TELAAH UP DATE

LALAT VEKTOR AI
SEBUAH TELAAH UP DATE
“Bukan sesuatu yang mengada-ada kalau lalat menjadi salah satu terdakwa menyebarnya dengan cepat wabah AI di Indonesia’ ujar Prof drh HRWasito M.Sc Ph.D dan Prof drh Hj Hastari Wuryastuti M.Sc Ph.D kepada Infovet sebelum tampil dalam seminar di Indolivestock Juli 2008.
Menurut Hastari yang juga istri dari Wasito, bahwa dugaan banyak pihak burung liar lah yang pantas dicurigai menjadi penyebarnya. Dugaan itu memang sangat didukung oleh aneka bukti yang kuat, seperti banyaknya burung migran antar pulau dan benua yang berada di Indonesia. Namun kini, untuk sementara waktu belum ada penelitian yang intensif untuk menguatkan dugaan itu. Justru kini, secara intensif pasangan suami istri yang guru besar FKH UGM itu terus mengerjakan penelitian tentang peranan lalat dalam penyebaran AI di Indonesia. Bahkan bukan itu saja menurut Wasito, ia rajin melakukan korespondensi dengan pakar di belahan dunia lain untuk menguak misteri lalat dan penyakit AI yang mengguncangkan dunia itu.
“Yang jelas dan patut diperhatikan semua praktisi kesehatan lapangan saat ini, bahwa gejala klinis dan patologis AI kini sudah mengalami perubahan jika dibandingkan ketika pertama kali ditemukan di Indonesia” ujar Wasito. Menurutnya ia belum sampai pada tahap mengungkapkan adanya mutasi genetik dari virus AI.
Selanjutnya Hastari mengungkapkan bahwa wabah AI yang sudah masuk pada tahap KLB (Kejadian Luar Biasa) itu, korban manusia yang terduga/suspect Flu Burung sejak 2003 – April 2008 123orang dan sebanyak 107orang meninggal dunia. Begitu banyaknya korban pada manusia dan juga kerugian pada industri peternakan dengan sebaran geografis yang luas, maka muncul pertanyaan bagaimana jalur penyebarannya terjadi?
Menurut Hastari, diduga ada banyak cara penyebaran dan penularan AI. Pertama melalui burung ke burung, yaitu dari burung liar ke unggas peliharaan. Dalam jalur ini, virus AI keluar dari ingus hidung dan mulut atau feses burung liar kemudian menginfeksi unggas peliharaan. Jalur kedua adalah dari burung ke manusia, akan tetapi hal ini jarang terjadi, dan yang mungkin terjadi adalah dari unggas peliharaan ke manusia. Sedangkan jalur ketiga dan jarang terjadi adalah dari manusia ke manusia. Dijalur ini virus AI sangat potensial untuk berubah terutama jika menyerang manusia yang daya kebalnya rendah. Sehingga kekhawatiran akan munculnya pandemi Influenza dunia memang masuk akal.
Secara ekologis AI pola penyebarannya adalah dari burung migran ke unggas peliharaan seperti ayam, itik, angsa dan bangsa unggas lainnya. Dan unggas peliharaan ini akhirnya menjadi hospes reservoir. Dalam hal ini serangga lalat diduga mempunyai peran penting penularan. Begitu juga dalam penularan dari unggas peliharaan ke manusia, babi dan binatang lain sperti kucing maupun kucing liar.
Sebuah fakta tentang lalat, menurut Hastari bahwa serangga itu suatu spesies hewan yang tersebar sangat luas mulai dari daerah sub tropis sampai ke kawasan katulistiwa/equator. Selain itu serangga itu ada dan hidup dimanapun ada kehidupan manusia. Dalam reproduksinya setiap lalat betina mampu bertelur sebanyak 120butir per minggu dengan capaian umur 2 – 8 minggu dan untuk siklus hidupnya 1-4minggu. Sepasang lalat dewasa selama 5 bulan, secara teoritis dapat berkembang biak menjadi 191.000.000.000.000.000.000.(21digit). Sungguh fantastis sekaligus menyeramkan!!!!
Lalat yang selalu berada ditempat kotor dengan morfologi mulutnya, maka disamping mampu membawa kontaminan juga menyebarluaskan melalui mulut itu, sehingga mampu menjangkau ke aneka spesies hewan dan manusia dalam geografis berbeda meski tidak luas. Perluasan sebaran itu justru oleh karena dukungan alat transportasi manusia. Sudah terbukti nyata, bahwa lalat adalah salah satu penyebar lebih dari 50 penyakit pada hewan dan manusia. Sebagai contohnya adalah penyakit kolera, salmonellosis, kolienteritits, trachoma, pink eye, mastitis, cacing mata, cacing pita dan cacing gilig serta masih banyak yang lainnya.
Bagaimana penularan AI melalui lalat..? Menurut Hastari, target untuk membuktikan bahwa lalat rumah adalah vektor dari AI, maka dikumpulkan lalat dari farm ayam yang berasal dari 3 tempat berbeda yaitu Maros, Karanganyar, Tuban selama out break AI sejak 2005. kemudian sebanyak kira-kira 100mg tubuh lalat di homogenisasi da diekstrak untuk analisa PCR (Polymerase Chain Reaction). Dan hasilnya dari Analisa PCR dan Ekstraksi RNA tubuh lalat, dimana berhasil diisolasi Virus AI pada lalat yang berasal dari Maros daan Karanganyar. Sedangkan sampel lalat yang dari Tuban hasilnya negatif.
Atas dasar hasil pengujian itu, jelas sudah bahwa virus AI sudah masuk dan berada di dalam lalat. Namun kemudian muncul pertanyaan baru, apakah lalat berperanan sebagai vektor Biologis atau Mekanis? Selanjutnya Hastari terus aktif meneliti tahapan berikut, yaitu 1-2 tahun setelah wabah AI. Lokasi pengambilan sampel lalat kali ini di tempat yang berbeda yaitu Maros, Tasikmadu, malang dan Tulungagung.
Dengan menggunakan metode “Immuno Histo Chemistry Method” diperoleh hasil bahwa virus AI positif IHC, terutama di alat reproduksi lalat. Hasil ini menguatkan arah dugaan lalat sebagai vektor biologis. Begitu juga di bagian perut lalat ditemukan hasil positif pula pada IHC.Sedangkan di kutikula dan serabut otot juga ditemukan positif virus AI. Hasil uji ini semakin mengindikasikan bahwa lalat juga berperanan sebagai vektor mekanis.
Untuk semakin menguatkan dugaan itu, selanjutnya dilakukan isolasi virus AI daro Homogenat lalat. Dengan uji Hemagglutination (HA)Test dan Hemagglutination Inhibition (HI) Test, diperoleh hail bahwa pada passage4 (P4) sampel dari Tulungagung ternyata diperoleh hasil titer HA : 2pangkat10, sebuah angka yang sangat tinggi. Karena menurut Hastari uji itu baru pada P4. Sedangkan titer HA 2pangkat4 saja suah merupakan warning, peringatan waspada.
Sample lalat dari Tasikmadu ternyata pada P9 hanya diperoleh titer HA 2pangkat8. sebaliknya dari Malang meski paa P5 ternyata hasil titer HA justru mencapai 2pangkat11.
Dari paparan itu menurut Hastari, kemungkinan jalur penularan adalah lalat menghisap cairan dari pakan dan feses busuk yang mengandung pathogen konsentrasi tinggi. Hal itu dilakukan berulang dan berpindah tempat, termasuk memuntahkan ekskresi ke lain tempat ketika hinggap. Akhirnya bahan/material infeksius itu masuk ke usus 3 jam setelah makan. Jalur-jalur tersebut mempunyai resiko lebih tinggi daripada penularan dengan melalui kaki atau badan lalat.
PT Novartis Indonesia memberikan solusi terpadu untuk mengatasi masalah lalat di farm. Baik itu melalui campuran pakan, tabur dan semprot. Solusi terpadu itu juga mampu memberikan pilihan, baik itu pengendalian lalat dewasa maupun pada stadium larva. Larvadex 10% yang mengandung Cyromazine 10% dicampur pakan, akan mampu mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan larva. Sedangkan Neporex 2WSG yang mengandung Cyromazine 2% digunakan secara tabur, semprot atau siram. Untuk mengendalikan larva pada tempat tumbuh larva. Dan yang terakhir adalah Agita, dimana merupakan umpan lalat siap tabur. Lalat akan mati ketika perutnya kontak dengan Agita. Pokoknya slogan Novartis ANTI FLY PROGRAM merupakan solusi terpadu untuk membantu kenyamanan peternak dan perlindungan ayam dari penularan aneka penyakit potensial termasuk AI (iyo)

HARAPAN TERBENTANG PERUNGGASAN 2009

HARAPAN TERBENTANG PERUNGGASAN 2009

(( Gantungan sejuta harapan di tahun 2009 mendatang memang mempunyai argumen yang kuat untuk dijadikan pegangan dan dasar alasan sikap itu. Setidaknya dalam paruh waktu 2008 para peternak ayam petelur dan ayam potong di Indonesia memang mampu, meraup keuntungan yang tidak kecil. ))

Jika melihat perjalanan dunia usaha perunggasan domestik yang dalam kurun waktu tahun 2008 lebih banyak menanjak menggembirakan, maka, menyongsong tahun 2009 para praktisi perunggasan ternyata secara umum banyak yang mengungkapkan rasa optimistisnya.
Demikian hasil rangkuman pendapat dari perbincangan Tim Pemantau Lapangan Infovet dengan para praktisi perunggasan yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Mereka itu antara lain, Pengurus Pinsar Solo Ir H Agus ES, Drh Boris Budiarto, Ir Arief Bantula, dan Drh Wachid N.
Gantungan sejuta harapan di tahun 2009 mendatang memang mempunyai argumen yang kuat untuk dijadikan pegangan dan dasar alasan sikap itu. Setidaknya dalam paruh waktu 2008 para peternak ayam petelur dan ayam potong di Indonesia memang mampu, meraup keuntungan yang tidak kecil. Meskipun sempat dihadang sejumlah masalah klasik seperti harga pakan yang sempat naik berkali-kali kemudian dikoreksi penurunan lagi. Juga adanya kenaikan BBM yang berdampak pada daya beli masyarakat yang turun ataupun sergapan beberapa gangguan kesehatan ayam.
Bentangan harapan itu antara lain di wujudkan dengan sejumlah indikator yang positip. Meskipun ada rasa was-was akan akibat krisis finansial global, terutama efek domino krisis ekonomi di AS. Banyak harapan dari para praktisi perunggasan agar pemerintah mengambil kebijakan yang tepat sasaran dan kondusif untuk lebih mendukung semakin majunya sektor perunggasan domestik.
Meski nilai mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dollar AS, menjadi salah satu titik rawan berkembangnya usaha sektor perunggasan domestik, namun jika saja daya serap dan daya beli masyarakat bisa terjaga atau bahkan naik, hal itu bukan masalah. Untuk itu kebijakan pemerintah yang tegas dan lugas serta rasional, maka diharapkan masih mampu menyisakan rasa optimistis itu. Bahkan nampaknya rasa itu akan membentang luas, jika saja pemerintah benar-benar menurunkan harga BBM (Premium, Solar dan Gas) , sebab komoditi energi itu termasuk penitng dalam kegiatan usaha perunggasan di Indonesia.
Boris menilai bahwa krisis finansial di AS semoga cepat teratasi dengan cepat dan juga semoga imbasnya tidak terlalu parah dan lama bagi kegiatan ekonomi Indonesia. Menghindar dan mengelak jelas tidak mungkin, tapi berharap terbaik adalah salah satu bentuk optimistis. Terutama kaitannya dengan kandungan impor bahan baku untuk kegiatan usaha sektor perunggasan, seperti pakan, obat-obatan. Sebut saja pakan yang merupakan 65% dari biaya produksi sektor perunggasan di mana hampir kandungan impor untuk bahan bakunya, maka sudah pasti rentan terhadap gejolak nilai kurs mata uang.
Agus sependapat bahwa bahan baku dan obat impor kini penuh ketidak pastian bahkan dengan pola kencenderungan harga naik terus sesuai irama kurs rupiah. Namun jika saja saya serap pasar akan hasil produksi perunggasan seperti telur dan daging tetap terjaga, maka setidaknya masih mampu memberi ruang kepada para peternak untuk bertahan dengan harapan besar di tahun mendatang.
Sedangkan, Wachid menilai bahwa beban berat saat ini bukan pada biaya operasional, akan tetapi justru rasa was-was yang menghinggapi para pelaku bisnis perunggasan. Hal itu muncul oleh karena belum tahu pasti seperti apa dampak negatid yang akan lahir dari kasus krisis finansial di AS. Juga seberqapa lama krisis itu akan berjalan dan sektor apa saja yang akan paling parah terkena imbasnya.
Sektor perunggasan menjadi sangat rentan oleh karena seperti diuraikan dimuka, yaitu akibat kandungan bahan impor yang relatif cukup tinggi, sedangkan pasar hasil produksi masih terbatas di area domestik alias dalam negeri. Untuk itu, secara umum para pelaku perunggasan nampaknya semua bersifat menunggu dengan harap cemas.
Lain dengan Boris yang berharap banyak keapda para pelaku justru jangan bersifat menunggu saja, namun justru harus aktif kreatif membuka pasar atau ada langkah inovasi untuk meraih peluang. Berbicara peluang, menurut praktisi lapangan Arief Bantula, bahwa sejak krisi finansial, memang belum terasa terhadap omset penjualan obat-obatan secara signifikan. Gairah para peternak masih tinggi, bahkan ada keinginan untuk ekspansi pada ayam potong dan peremajaan pada peternak ayam petelur. Namun, sayang semua terbentur pada tersedianya bibit yang memadai.
Menurut Arief, harga bibit ayam petelur melambung tinggi dengan ketidak pastian kualitas yang cukup, akhirnya membuat peternak mengerem untuk peremajaan. Sedangkan pada ayam potong, meski harga bibitnya masih wajar, namun semua peternak ada rasa was-was untuk menambah populasi, terkait dengan kekhawatiran akan naiknya harga pakan dan anjlognya daya serap pasar akan hasil produksi. Maka kondisi dilematid ini menyebabkan serapan akan obat-obatan dan vitamin relatif tetap stabil. “Omset penjualan obat memang tidak turun, akan tetapi juga tidak naik”ujar Aried.
Indikasi riil tentang stabilnya omset penjualan obat, menurut Wachid merupakan bukti bahwa dunia perunggasan sudah mulai terkena imbas krisis finansial AS. Sebab seharusnya justru akan mengalami peningkatan omset penjualan obat seandainya kondisi riil harga telur dan daging yang terus membaik selama hampir 6 bulan terakhir ini. Namun ternyata tidak terjadi. Bisa juga oleh karena tidak adanya penambahan populasi yang signifikan.
Memang benar tidak ada penambahan populasi ayam yang signifikan, jelas Agus, namun itu justru lebih baik agar harga jual hasil produksi tetap terjaga, sehingga tidak semakin membuyarkan dunia perunggasan domestik. Sebab nampaknya jika terjadi PHK besar-besaran pada industri pabrik yang ekspornya terganggu, maka pasti akan mempengaruhi daya serap pasar.
Untuk itu menurut Agus pembatasan produksi DOC memang harus alamiah sesuai dengan kondisi riil pasar. Sedangkan Boris, berharap produski DOC digenjot agar populasi meningkat populasinya untuk semakin menggairahkan usaha perunggasan. Jika tidak ada penamabahan populasi, maka pertumbuhan usaha produksi obat akan stagnan.
Pilihan manapun, apapun, pada umumnya mereka sepakat bahwa harapan dan rasa optimistis memang harus ditumbuhkan dengan antisipasi yang rasional akan dampak negatif krisis finansial global ini. (iyo)

DI MASA KRISIS:BERUNTUNGLAH PETERNAK!

DI MASA KRISIS:
BERUNTUNGLAH PETERNAK!

(( Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini. ))

Dalam hitungan jam, menit ataupun detik perjalanan bangsa ini di tahun 2008 akan berakhir. Problematika kehidupan mewarnai perjalanan panjang dalam kurun waktu satu tahun ini.
Banyak hal yang sudah diraih namun tidak sedikit pula permasalahan negeri ini yang masih membutuhkan kearifan dan kebijaksanaan dalam menanganinya. Semisal kasus korupsi yang masih menjadi onak duri dalam pelaksanaan kegiatan kepemerintahan. Korupsi harus dibumihanguskan dari negeri ini, kalau tidak maka tunggu saja kehancurannya. Korupsi merupakan manifestasi dari krisis moral yang memerlukan pendekatan personal untuk menanganinya.
Di samping itu, krisis ekonomi yang melanda dunia juga berimbas pada tatanan perekonomian negeri ini. Beberapa barang kebutuhan pokok merangkak naik pasca lumpuhnya perekonomian Negara adidaya Amerika Serikat. Lalu apa hubungannya dengan subsektor peternakan kita?
Krisis global secara tidak langsung berdampak pada menurunnya harga produk pertanian. Petani karet mengalami shock berat akibat melemahnya harga karet ditingkat pedagang pengumpul, demikian juga dengan petani kelapa sawit.
Informasi terakhir menyatakan bahwa harga sawit jatuh ke level paling rendah, yakni Rp 100 per kilogram, sungguh sangat tidak menguntungkan bagi petani sawit, demikian juga bagi pabrik pengelola tandan buah segar (TBS) untuk memproduksi minyak sawit mentah, mereka banyak yang menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu.

Beruntunglah Peternakan!

Beruntung bagi mereka yang bergerak di bidang peternakan terutama di bidang perunggasan. Peternak ayam komersial apakah itu layer atau broiler tetap meraih untung pada saat krisis global melanda sebagian Negara di belahan bumi ini.
Perkembangan perunggasan tahun 2008 mengalami sedikit penurunan bila dibandingkan dengan capaian populasi di tahun 2007, hal ini bukan saja karena adanya dampak penyakit Avian Influenza namun faktor-faktor lainnya seperti kondisi ekonomi masyarakat yang tidak stabil juga mempengaruhi daya beli produk peternakan, sehingga secara kuantiti produksi daging broiler dan telur kurang namun menurunnya daya beli masyarakat mampu menstabilkan pasokan daging broiler dan telur dipasaran.
Demikian dikatakan Pakar kesehatan unggas Prof drh Chales Rangga Tabbu MSc PhD di ruang kerjanya Departeman Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menurutnya secara nasional untuk produksi DOC broiler per minggu di tahun 2008 hanya berkisar 16-18 juta ekor jauh dari produksi DOC broiler untuk tahun 2007.
Bila dihubungkan dengan kebutuhan pasar maka secara teoritis, disaat populasi menurun maka akan terjadi peningkatan harga. “Nah disini peternak diuntungkan,” ujarnya. Kemudian untuk bulan-bulan tertentu banyak ayam sakit terutama sakit pernafasan ataupun sakit pencernaan, sehingga untuk mendapatkan ayam dengan ukuran besar sangat sulit, pada kondisi ini harga akan mengalami kenaikan dan keuntungan tersebut akan menjadi milik peternak seutuhnya.
“Seyogyanya usaha peternakan ayam broiler masih sangat menjanjikan, hanya saja yang memprihatinkan adalah daya beli masyarakat yang kurang terutama pada kondisi krisis keuangan global yang menyebabkan banyak PHK dan kenaikan harga BBM tapi tetap tidak mempengaruhi daya beli masyarakat,” papar peraih gelar Master of Science (MSc) dari Washington State University ini.
Dikatakannya bahwa untuk Indonesia konsumen terbanyak daging broiler dan telur adalah konsumen menengah ke bawah, sementara untuk konsumen di bawah menengah ke bawah ini daya belinya terbatas, padahal konsumen terbesar untuk produk unggas ini ada pada level tersebut.
“Jadi ini tetap akan mempengaruhi kalau kita konversikan antara produksi dengan jumlah penduduk tetap masih jauh berkurang ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang rendah,” ujar Prof Charles.
Kemudian, kalau dilihat perkembangan di layer, kasus yang sama juga dirasakan, data populasi layer terakhir untuk tahun 2008 hanya berkisar pada angka 60-65 juta ekor, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya jelas jauh berkurang. Produksi telur pun juga berkurang.
Namun yang cukup menggembirakan adalah harga telur di tahun 2008 cukup tinggi, mungkin rekor tertinggi. Ini mungkin sebagai gambaran bahwa popuasi dan produksi layer memang rendah. Namun perlu disyukuri bahwa harga telur dan daging broiler cukup murah bila dibandingkan dengan harga tempe ataupun harga sebatang rokok.
Menariknya bahwa masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa dengan makan daging dan telur, jadi kalau tidak beli itu artinya memang mereka tidak punya uang. Ketakutan makan telur menurut Prof Charles biasanya terjadi pada konsumen level atas, yakni konsumen dengan resiko kolesterol tinggi, pada hal ini sama sekali tidak berbahaya, kolesterol pada telur tetap aman untuk penderita jantung koroner. (Daman Suska)

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009

((Apa yang harus dikerjakan oleh peternak menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti? ))
Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD yang dinobatkan sebagai Guru Besar Madya per 1 Mei 1998 ini menyarankan kepada peternak dalam menghadapi percaturan bisnis perunggasan di tahun 2009 nanti agar praktek manajemen peternakan yang lebih baik dan optimal, terutama dengan menjaga kualitas DOC, pakan dan mengembangkan sistem perkandangan dan peralatan kandang ke arah yang lebih baik dan higienis, lingkungan dan sumber air minum yang baik.
Namun itu semua tetap berpedoman pada penerapan biosekuriti di farm. Penerapan biosekuriti bukan hanya di dalam kandang tapi untuk luar kandang pun perlu diterapkan.
“Kata kunci dari semua kegiatan di usaha peternakan ayam adalah bagaimana caranya peternak meningkatkan efisiensi, disamping itu bagaimana caranya meningkatkan kualitas produk yang masuk ke dalam tubuh ayam untuk menghasilkan produk peternakan yang berkualitas pula,” pungkas Prof Charles.
Perubahan cuaca tak menentu ini juga mendapat apresiasi dari drh Joko Prastowo MSi dosen Penyakit Parasiter Ternak Departemen Parasitologi FKH UGM Yogyakarta. Menurutnya, penyakit parasiter pada ternak selalu ada pada setiap periode musim. Hubungannya dengan perubahan cuaca ini adalah musim panas dan hujan saat ini terjadi tidak menurut masanya.
Di samping itu, Indonesia termasuk negara beriklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan berbagai macam parasit. Artinya apapun cara yang dilakukan peternak untuk menghambat munculnya kasus penyakit parasiter pada ternak sangat minim keberhasilannya, termasuk penerapan biosekuriti.
Joko mencontohkan pada satu kasus parasiter pada ayam misalnya Koksidiosis dengan Koksidianya. Koksidia tersebut ditularkan melalui ookista yang mempunyai dinding yang tebal, sehingga ookista dari Koksidia ini diadaptasikan oleh induknya untuk dapat bertahan hidup dalam berbagai macam bentuk perubahan lingkungan tempat tinggalnya.
“Apapun jenis makhluk hidup selalu ingin survive, tidak satupun makhluk hidup yang ingin mati percuma, termasuk parasit yang selalu bertahan hidup untuk kelangsungan generasinya, maka apapun bentuk ancaman dari luar tubuhnya akan dilawan seperti perubahan cuaca, pengaruh biokimia dan lainnya,” papar Joko.
Joko memprediksikan semua penyakit parasiter akan tetap muncul di tahun 2009 nanti. “Ini merupakan konsekwensi hidup di negara tropis, semuanya tumbuh subur termasuk mikroorganisme penyebab penyakit,” ujar Joko dengan senyum sumringahnya.
Ditambahkannya bahwa pertahanan terdepan di farm memang biosekuriti, tapi sejauh mana peternak mampu menerapkan biosekuriti tersebut, apakah setiap menit, setiap jam, atau setiap hari dilakukan penyemprotan? Lalu terkait dengan manusia dan lalu lintasnya, apakah setiap orang yang masuk ke kandang harus mandi dulu, kemudian tersedianya zona-zona pembatas di setiap farm, bukankah ini semua akan menambah biaya?
“Inilah problem peternak yang juga harus dipikirkan oleh para pakar perunggasan negeri ini,” imbau Joko.
Satu lagi yang menjadi sorotannya adalah pemetaan wilayah untuk peternakan tidak sebagus negara-negara maju, dapat dibayangkan bahwa ada usaha peternakan yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota, di tengah-tengah pemukiman, nah bagaimana mungkin kontak antara manusia sakit dengan ternak sehat tidakkan terjadi?
Pada hal kita tahu bahwa sebagian penyakit penularannya ada yang melalui udara, mampu ngak kita berkata bahwa negeri ini bisa dibebaskan dari penyakit-penyakit ternak strategis dalam kondisi perwilayahan untuk usaha peternakan yang masih amburadul tersebut? Lantas, apa yang diperlukan terkait hal tersebut?
“Sumberdaya manusia yang handal dan tata ruang yang bagus untuk usaha peternakan,” tegas Joko dengan mantap.
Sumberdaya manusia termasuk perilaku, kebiasaan dan skill yang berhubungan langsung dengan dunia unggas, sementara itu tata ruang berhubungan dengan perwilayahan tadi, artinya ada wilayah-wilayah tertentu yang diplotkan hanya untuk usaha peternakan, tidak ada jenis usaha lainnya di wilayah tersebut, dan ini untuk jangka waktu panjang, misalnya 5, 10, 15 atau 20 tahun kedepan.
“Ini lebih baik dan akan membantu peternak untuk menciptakan usaha peternakan yang benar-benar dapat dinikmati hasilnya. Di samping itu, perwilayahan ini bukan saja mendatangkan untung bagi peternak tapi masyarakat pun akan menikmatinya, yakni terbebas dari polusi akibat usaha peternakan tersebut,” paparnya.
Terkait pengendalian dan pengobatan parasit Joko menyarankan untuk melakukan tindakan sanitasi harus secara benar dan ketat. Kemudian, buang secara periodik tumpukan feses yang disinyalir sebagai sumber perkembangbiakkan serangga dan kumbang, keduanya ini diyakini dapat menularkan penyakit pada ayam.
Lalu, jika memungkinkan, kandang bambu harus diganti dengan kandang kawat untuk mencegah infestasi tungau dan caplak, gangguan burung, tikus dan hewan liar lainnya harus diperkecil, hilangkan areal yang tergenang air di sekitar kandang, metoda manajemen pemeliharaan ayam yang efisien dan efektif akan membantu untuk memperkecil populasi parasit di farm.

Terkait Pangan Asal Ternak

Terkait keamanan pangan asal ternak salah satunya daging broiler misalnya daging ayam mati kemaren (tiren), daging busuk sampai pada daging ayam yang terkontaminasi residu antibiotika atau dari jenis obat lainnya masih tetap menjadi dilema di tahun 2009 nanti.
Kondisi ini harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Isyu-isyu yang tidak jelas sumber yang pasti jangan dibesar-besarkan, karena ini berhubungan dengan psikologis konsumen.
Demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. “Pada dasarnya konsumen produk bahan pangan asal ternak sangat mudah dipengaruhi. Ambil contoh ketika terjadi kasus AI di negeri ini.”
Pemberitaan seputar AI begitu santer, sehingga tidak menyisakan ruang pikir buat konsumen, hasilnya apa? Konsumen pada takut mengkonsumsi daging ayam, ketakutan mereka tidak beralasan, karena penyakit AI sendiri tidak ditularkan melalui daging ayam,” papar Nanung.
Di samping itu, daging ayam mati kemaren peredarannya sulit dideteksi. Hal ini terkait jejaring atau rantai penjualan yang begitu apik, sehingga masyarakt yang kurang paham dengan ilmu perdagingan akan terkecoh. Hanya satu yang dapat dijadikan batasan apakah itu daging tiren atau bukan, yakni dengan mengetahui harganya, bila harga yang ditawarkan jauh dari harga pasar yang sebenarnya, maka konsumen harus waspada, ada apa dengan daging tersebut.
Di samping keterbatasan ilmu tentang perdagingan, kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk menghadirkan daging sebagai lauk-pauk dalam keluarga, mengharuskan sebagian kecil konsumen memaksakan diri membeli daging ayam tiren tersebut, alasannya cukup masuk akal, yakni harga murah.
Pada hal dari segi kesehatan, daging ayam tiren sama sekali tidak baik lagi untuk dikonsumsi, hal ini mengingat bahwa daging merupakan bahan pangan yang disukai oleh mikroorganisme untuk hidup dan berkembangbiak demi kelangsungan generasinya. Bila kondisi ini terjadi, lantas siapakah yang harus disalahkan, pembelikah atau penjual?
Penggunaan antibiotika untuk menggertak pertumbuhan juga masih menjadi bahan diskusi dibeberapa event terkait kesehatan unggas yang ada hubungannya dengan kesehatan konsumen produk asal ternak.
Sebenarnya, penggunaan antibiotika untuk growth promotor dibeberapa negara sudah sejak lama dihentikan, hal ini mengingat bahwa tingkat residu beberapa antibiotika dalam daging ayam dan daging ternak lainnya dapat merugikan konsumen.
Di negara maju seperti Jerman, Swedia, Denmark dan Swis telah mengeluarkan peraturan terkait pembatasan penggunaan antibiotika dalam pakan ternak ataupun antibiotika yang digunakan sebagai obat untuk tindakan preventif dan kuratif pada ternak.
Indonesia sendiri, larangan atau pembatasan penggunaan antibiotika untuk ternak masih dalam ranah abu-abu, sehingga wajar masih memunculkan kekuatiran bagi sekelompok konsumen untuk mengkonsumsi bahan pangan asal ternak tersebut. Lalu, apa solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut? ”Back to nature atau kembali ke alam,” ajak Nanung.
Dikatakannya bahwa mengembalikan ke alam memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi secara genetika ayam broiler dan layer diplot untuk berproduksi maksimal, artinya segala sesuatu yang akan diberikan ke ayam-ayam tersebut juga dari bahan-bahan yang maksimal pula kualitasnya.
Saat ini, alternatif penggunaan asam-asam organik dibeberapa farm mulai digalakkan. Asam-asam organik tersebut sebenarnya dapat diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi, hasilnya digunakan sebagai sumber energi.
Kemajuan dibidang biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.
Asam-asam organik sintetik tersebut ditambahkan ke dalam pakan ternak dengan tujuan untuk menigkatkan produktifitas ternak. Di samping itu, penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora dalam tubuh ternak dapat meningkatkan performance ternak, hal ini mendatangkan untung tersendiri bagi peternak.
Penciptaan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu melalui penurunan keasaman dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous, hal ini dapat meningkatkan absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi ternak.
Akankah penggunaan asam organik untuk imbuhan pakan ternak dapat menggantikan kedudukan antibiotik? Ini tergantung pada peternak dan pakar perunggasan negeri ini. (Daman Suska)

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

Pemanasan Global dan Penyakit 2009

(( Untuk tahun 2009, peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan. ))

Yang perlu diwaspadai oleh semua pihak yang intens dengan dunia perunggasan justru efek pemanasan global. Untuk tahun 2009 efek pemanasan global masih cukup menonjol, hal ini ditandai oleh perubahan musim yang mendadak, curah hujan tak menentu, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, angin puting beliung dan banjir, ini semua dapat mempengaruhi pola tanam petani yang secara langsung dapat juga mempengaruhi pola panen.
Di samping itu, efek pemanasan global juga berhubungan erat dengan bidang peternakan. Hal ini terkait dengan beberapa produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak seperti jagung, kedele, gandum dan lainnya.
Perubahan cuaca yang tidak menentu ini dirasa sangat merugikan petani, misalnya pas mau panen lalu tiba-tiba hujan, hasil panen akan mudah rusak, hal ini akan menyebabkan meningkatnya kadar air produk pertanian yang dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak, kerusakan ini biasanya akibat pencemaran jamur yang berlanjut pada pembentukkan mikotoksin.
Ketersediaan bahan baku pakan ternak sangat fluktuatif, kadang tersedia dalam jumlah yang melimpah namun seringkali secara kuantiti keberadaan bahan baku pakan ternak tidak mencukupi, hal ini akibat beberapa negara pemasok produk pertanian untuk bahan baku pakan ternak seperti India, China dan Vietnam juga mengalami gagal panen akibat adanya bencana alam.
Di samping itu petani Amerika terutama Amerika latin, sebagian produk pertaniannya digunakan untuk proyek pengembangan biodiesel. Berdasarkan fenomena ini maka kebutuhan bahan baku pakan ternak mengalami pengurangan terutama adanya penggunaan untuk kebutuhan bahan pangan manusia dan alokasi penggunaan untuk proyek biodiesel yang ditujukan untuk menghadapi kekurangan bahan bakar minyak dunia.
“Ini jelas masalah besar yang akan dihadapi peternak dan stack holder peternakan di tahun 2009 nanti,” papar Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.
Lalu bagaimana pengaruh pemanasan global terhadap lingkungan? Menurut Pakar kesehatan unggas ini pengaruh lingkungan terutama yang berkaitan dengan kandang berdampak buruk terhadap capaian produksi baik daging maupun telur.
Dampak lingkungan dimaksud seperti periodesasi musim dan cuaca yang sukar ditentukan oleh peternak, seperti perubahan dari panas ke hujan dan atau sebaliknya. Kemudian lingkungan panas dan dingin yang terlalu ekstrim juga berpengaruh terhadap kesehatan ayam, hal ini dikaitkan dengan kejadian stress yang cukup tinggi pada ayam.
Otomatis ketahanan terhadap penyakit akan berubah begitu juga kepekaan ayam terhadap penyakit akan meningkat. “Inilah pengaruh lingkungan tersebut, kadang sangat panas dan kadang sangat dingin, yang menyebabkan berkurangnya peredaran oksigen di sekitar kandang ayam. Ini juga akan memicu munculnya penyakit-penyakit tertentu,” papar Prof Charles.

Penyakit Pernafasan dan Pencernaan

Untuk tahun 2009, Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD pakar Kesehatan Unggas yang dilahirkan di Sumba pada 4 Agustus 1948 ini memprediksi bahwa peternak masih tetap berhadapan dengan penyakit pernafasan dan pencernaan.
Kedua penyakit ini bisa dikatakan menduduki posisi puncak pada lists of disease yang menyebabkan kerugian besar bagi peternak. Penyakit pernafasan dimaksud seperti Koriza dan CRD, lalu Koli masih perlu diwaspadai kehadirannya.
Sebenarnya ada apa dengan Koli? Koli merupakan penyakit rutin yang hadir hampir disepanjang tahun. Kejadian Koli di farm sering dikaitkan dengan kondisi farm dengan sumber air minum yang kurang memenuhi syarat.
Di samping itu kejadian Koli berawal dari penerapan manajemen yang tidak maksimal, sehingga agent Koli dapat leluasa setiap saat menyerang ayam. Koli merupakan penyakit kompleks, ini berdasar pada kedudukan Koli sebagai penyakit pencernaan dan dapat pula berbentuk pernafasan.
Pengaruh cuaca dan temperatur yang sangat ekstrim dapat meningkatkan kejadian stress yang ekstrim pula pada ayam. Hal ini berdampak pada ketahanan terhadap penyakit demikian juga respon pos vaksinasi pun juga tidak bagus.
Untuk tahun 2009 penyakit-penyakit besar semacam ND masih tetap dominan, susah ditangani. Kematian yang tinggi akibat ND untuk tahun 2009 jarang terjadi tapi gangguan titer anti bodi yang berkepanjangan pada ayam produksi berdampak pada menurunnya produksi telur.
Penyakit imunosupresif masih diprediksi mewarnai percaturan penyakit ayam di tahun 2009 terutama penyakit Gumboro. Penyakit ini merupakan penyakit akibat rusaknya sel B dan sel T akibat virus yang tergolong genus Birnavirus dengan famili Birnaviridae. Gumboro dan ND ibarat “sepasang kekasih” yang saling melengkapi untuk membobol benteng pertahanan ayam.
Di peternakan broiler, Gumboro selalu muncul, bila Gumboro masuk ke farm maka penyakit apa saja bisa datang seperti Koksidiosis yang dimotori oleh perubahan cuaca secara mendadak.
Yang tak kalah pentingnya adalah penyakit yang sudah menjadi endemis di seluruh wilayah Indonesia, yakni Avian Influenza (AI). Penyakit AI masih tetap muncul ditahun 2009 namun bentuknya lebih ke bentuk ringan yang dicirikan dengan tingkat kematian rendah tetapi pada ayam broiler dapat menghambat pertumbuhan, ayam peka terhadap penyakit lain karena AI juga bersifat imunosupresif bila ayamnya tidak mati, sedangkan pada ayam petelur dapat menurunkan produksi telur.
“AI bentuk ringan ini gejalanya kadang tidak teramati oleh peternak, meskipun demikian AI bentuk ringan masih tetap disebabkan oleh HPAI. Nah, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan mutasi virus AI ini yang akan terus berlangsung, karena untuk tahun 2007-2008 sudah ada indikasi terjadinya mutasi virus AI,” ujar Prof Charles.
“Bila kita tidak hati-hati dan tidak mengikuti perkembangan dinamika virus AI di lapangan, begitu juga efektivitas vaksinasi, biosekuriti dan peranan manajemen maka kita akan tetap mendapat masalah besar dari penyakit ini di tahun 2009 nanti,” papar Gubes Patologi FKH UGM Yogyakarta ini.
Kemudian, dampak pengaruh pemanasan global ini perlu disikapi dengan bijak oleh peternak, terutama dalam memilih bahan baku pakan ternak. Peternak dituntut untuk berhati-hati dalam memilih bahan baku pakan tersebut, terutama jagung dan katul. Kedua jenis bahan baku pakan ini sangat rentan dengan kontaminasi jamur yang mengawali terbentuknya mikotoksin sebagai pemicu kejadian mikotoksikosis pada unggas.
Peternak harus selektif dalam seleksi bahan baku, bagaimana cara penyimpanannya dan bagaimana cara pemberiannya pada ternak. Pada tingkat feed mill agak lebih ketat menyeleksi bahan baku pakan ternak yang diimpor, yang dibeli atau yang dikumpul dari dalam negeri.
Hal ini menuntut peternak agar dapat melakukan kegiatan-kegiatan preventif yang bertujuan agar peternak dapat menekan atau mencegah terbentuknya mikotoksin pada pakan.
Lalu bagaimana dengan anjuran untuk menggunakan toksin binder pada pakan ternak? “Penggunaan toksin binder pada pakan hanya sekedar tips untuk mengurangi kontaminan jamur. Namun untuk penggunaannya tergantung pada tingkat pencemaran jamur tersebut,” ucap Charles.
“Bila level cemarannya terlalu tinggi maka penggunaan toksin binder tidak mampu mengatasinya dan sebaliknya pada tingkat cemaran yang rendah, penggunaan toksin binder mampu mengatasi cemaran jamur tersebut bahkan bisa sampai pada level 0, ini lebih baik,” papar Prof Charles.
Terkait cemaran jamur ini, doktoral alumni Michigan State University USA ini menghimbau agar peternak dapat menekan seminimal mungkin cemaran jamur dalam pakan ternak, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh jamur tersebut. (Daman Suska)

Penelitian Kemitraan Broiler

Penelitian Kemitraan Broiler

(( Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri? ))

Permasalahan utama yang dihadapi peternak rakyat dalam usaha peternakan ayam pedaging adalah keterbatasan kemampuan modal untuk penyediaan agro input, khususnya pakan yang merupakan komponen terbesar (60-75%) dari total biaya produksi. Demikian Gunawan K Johar dari Institut Teknologi Bandung.

Maka, kata Gunawan, hampir seluruh kemitraan ayam ras pedaging yang terbentuk adalah merupakan anak perusahaan dari perusahaan pakan. Kemitraan yang dianggap sebagai jawaban untuk mengangkat kembali usaha peternakan rakyat dari keterpurukan akibat krisis ekonomi. Bagaimana kenyataannya sehingga, kita memperoleh gambaran adanya harapan untuk tercapainya usaha peternakan maju, ekonomis dan mandiri?

Balikpapan

Gunawan pun melakukan penelitian terhadap 2 (dua) model kemitraan yang berbeda di Balikpapan. Hasilnya ternyata, fleksibilitas pengembangan profitabilitas peternak sangat terbatas hanya pada produktivitas kegiatan budidaya yang tercermin pada nilai FCR (feed conversion ratio) dan sistem pembagian keuntungan (profit sharing) yang sangat tergantung perusahaan mitra, karena kekuatan bargaining peternak sangat lemah.

"Untuk mendapatkan bentuk kemitraan yang memadai telah dilakukan pengembangan alternatif model kemitraan dengan memasukkan aspek profitabilitas, prospek kemandirian usaha, kodeterminasi hubungan kemitraan serta kesinambungan usaha," tutur Gunawan.

Menurut peneliti ini, dari hasil kajian 5 (lima) model alternatif kemitraan, alternatif terbaik adalah alternatif 4 yaitu Model Kemitraan Organisasi Peternak - Perusahaan Mitra dengan kareteristik mandiri mengelola sektor Budidaya, pasca panen dan pemasaran dengan jasa kredit perbankan.

Untuk implementasinya, tambah Gunawan, diusulkan melalui 4 (empat) tahapan yaitu: tahapan 1. yaitu perubahan sistem penggunaan FCR untuk penentuan harga; tahapan 2. yaitu perubahan sistem profit sharing; tahapan 3. yaitu peralihan dalam penanganan pasca panen dan pemasaran dari Inti kepada peternak dan tahapan 4. yaitu perubahan sistem rantai nilai agribisbisnis yang dilaksanakan peternak.

Keberhasilan dan aplikasi model ini, ujar Gunawan, "Perlu dukungan intsrumen kebijakan dan penegakannya yang lebih berpihak kepada peternak, serta keikhlasan pihak yang kuat untuk memberikan kesempatan akses yang lebih besar dalam sektor pasca panen dan pemasaran kepada peternak mitra." Demikian sumber di School of Business and Management ITB.

Magelang

Adapun Suharti dari Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada melakukan penelitian ini dilakukan terhadap enampuluh peternak ayam potong di Kabupaten Magelang, yang terdiri dari tiga puluh peternak mandiri dengan skala usaha berkisar 2500 ekor sampai dengan 15.000 ekor, dan peternak plasma dengan skala usaha berkisar 3000 ekor sampai dengan 16.000 ekor per periode.

Pada dua belas kecamatan, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung atas responden berdasarkan kuisioner yang telah ditetapkan. Selanjutnya dilakukan perhitungan analisis profit yaitu keuntungan dalam rupiah dan profitabilitas yang diukur dengan profit margin dan return on investment.

Untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel yang mempengaruhi tingkat keuntungan, profit margin dan return on investment dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat keuntungan peternak mandiri lebih tinggi sebesar dibanding peternak plasma. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan adalah skala usaha, total biaya, harga jual dan umur panen.

Kemudian rata-rata profit margin peternak mandiri lebih tinggi sebesar 19% dibanding peternak plasma sebesar 15%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap profit margin adalah skala usaha, total biaya dan harga jual, demikian pula return on investment peternak mandiri lebih besar sebesar 42% dibanding peternak plasma sebesar 28%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap return on investment adalah skala usaha ,investasi, dan harga jual. (SBMITB/PPSUGM/YR)

Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya

Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penanganannya

Medion Technical Support Team
(Drh Budi Purwanto, Drh Ch Lilis Lestariningsih, Hindro Setyawan, S.Pt)

Leucocytozoonosis atau “malaria like” merupakan penyakit parasit dalam (endoparasit) yang disebabkan oleh protozoa, yaitu Leucocytozoon sp. Protozoa ini ialah parasit darah yang hidupnya di dalam sel darah merah. Leucocytozoon sp. yang menyerang ayam ada 2, yaitu L.caulleryi dan L.sabrezi.











Siklus hidup Leucocytozoon sp.

Penyakit ini pertama kali muncul di Afrika Selatan yang kemudian menyebar ke Amerika dan Asia, termasuk Indonesia.Penyakit ini seringkali muncul pada saat perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Lalat penggigit seperti Simulium sp. dan Culicoides sp. berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit ini.


A B



Simulium sp. (A) dan Culicoides sp. (B) yang berperan sebagai vektor penyebaran Leucocytozoonosis

Secara umum, Leucocytozoonosis bisa menyerang pada ayam petelur dan ayam pedaging. Berdasarkan data lapangan Medion kasus Leucocytozoonosis cukup sering ditemukan dan penyakit ini masuk dalam 10 besar penyakit yang sering menyerang.

Kerugian yang Ditimbulkan
Serangan leucocytozoon sp. pada anak ayam, baik ayam pedaging maupun petelur dapat menimbulkan kesakitan 0-40% dan tingkat kematiannya mencapai 7-50%. Sedangkan pada ayam dewasa dapat menimbulkan kesakitan 7-40% dan kematian 2-60%. Selain itu, serangan penyakit ini dipastikan akan mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur yang mencapai 25-75%.



















Mekanisme serangan atau penularan Leucocytozoon sp.

Gejala Klinis
Serangan Leucocytozoon sp. dapat terjadi tanpa disertai gejala klinis maupun disertai gejala klinis. Gejala klinis yang dapat ditemukan adalah feses berwarna hijau, depresi, hilang nafsu makan, muntah darah dan kelumpuhan yang diikuti dengan kematian. Sedangkan serangan penyakit ini yang tidak menunjukkan gejala klinis ditandai dengan adanya penurunan produksi telur dan penurunan berat badan.









Jengger ayam pucat dan ayam susah bernapas








Feses berwarna hijau ada gumpalan putih

Perubahan Bedah Bangkai
Perubahan yang ditemukan pada saat bedah bangkai diantaranya ditemukan bintik atau bercak perdarahan di hampir seluruh organ dalam tubuh ayam, seperti hati, paru-paru, limpa, thimus, ginjal, pankreas, usus, proventrikulus, otak, otot paha dan otot paha.











Perdarahan pada sebagian besar organ tubuh ayam









Bercak perdarahan pada bagian perut, otot dan kulit akibat pecahnya pembuluh darah









Bintik-bintik perdarahan, seperti bekas digigit nyamuk pada otot paha








Adanya darah yang menjendal di dalam rongga darah









Peradangan pada proventrikulus dan isis ventrikulus bercampur darah. Inilah yang membuat ayam muntah darah










Peradangan pada paru-paru sehingga terjadi pneumonia sampai paru-paru berdarah. Hal inilah yang membuat ayam sulit bernapas.

Diagnosa Banding
Serangan penyakit Leucocytozoonosis memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit, seperti Gumboro, infectious laryngotracheitis (ILT) dan Newcastle disease (ND).
 Gumboro
Gejala yang mirip ialah perdarahan pada bagian paha ayam. Yang membedakannya ialah perdarahan pada paha yang disebabkan oleh Leucocytozoon sp. berbentuk bintik-bintik sedangkan pada serangan Gumboro berbentuk garis.



A B



Perdarahan pada paha akibat leucocytozoonosis berbentuk bintik-bintik (A) sedangkan akibat Gumboro berupa garis (B)

Selain itu, serangan Gumboro juga mengakibatkan perdarahan di antara oesofagus-proventrikulus dan ventrikulus-proventrikulus, sedangkan Leucocytozoonosis menyebabkan perdarahan di seluruh daerah proventrikulus.

 Infectious laryngotracheitis (ILT)
Leucocytozoonosis bisa dikelirukan dengan ILT dari adanya muntah darah. Cara membedakannya ialah dengan melakukan bedah bangkai dan melihat asal dari darah tersebut. Jika berasal dari salurn pernapasan, yaitu trakea maka penyebabnya ialah ILT sedangkan apabila berasal dari salurn pencernaan, yaitu proventrikulus dan ventrikulus maka penyebabnya adalah Leucocytozoonosis.









Muntah darah akibat ILT disebabkan karena perdarahan pada trakea

 Newcastle disease (ND)




A B


Ciri khas serangan ND diantaranya terlihat pada peradangan pada usus (A) dan proventrikulus (B)

Serangan ND menimbulkan peradangan pada proventrikulus di bagian kelenjar (yang terlihat lebih menonjol dari permukaan), sedangkan leucocytozoonosis menyebabkan peradangan dan perdarahan di seluruh permukaan proventrikulus. Selain itu, ND juga mengakibatkan peradangan usus.

Pentingnya “Pemantapan Diagnosa”

Serangan leucocytozoonosis memiliki gejala yang mirip dengan beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya jika sekiranya muncul keraguan dalam penentuan jenis penyakit hendaknya kita tidak ragu untuk melakukan uji laboratorium sebagai pemantapan diagnosa. Caranya ialah melakukan pemeriksaan preparat apus darah guna mendeteksi adanya sporozoit dari leucocytozoon sp.








A B C
Beberapa hasil pengamatan terhadap sporozoit leucocytozoon sp. diantaranya Leucocytozoon sp. fase gametocyte (A); Merozoit dari L.caullery yang terdapat di dalam sitoplasma di sel darah merah (B) dan Macrogametocyte atau calon Leucocytozoon sp. di antara sel darah merah (C)

Tahap pengambilan dan penanganan sampel darah menjadi titik kritis pertama terhadap validitas hasil pemeriksaan di laboratorium. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan dan penanganan sampel darah sebelum dilakukan pemeriksaan preparat apus darah antara lain :
1. Jumlah sampel darah setiap kandang minimal 10 sampel agar data yang dioleh bisa mencerminkan kondisi seluruh ayam dan sampel darah diambil dari ayam yang pucat atau sakit
2. Lokasi pengambilan sampel darah untuk ayam ialah di vena brachialis (di daerah sayap)
3. Volume darah yang diambil ialah 1-2 ml. Setelah diambil, darah segera dimasukkan ke dalam vial 6R yang telah diisi antikoagulan lalu dikocok hingga merata
4. Untuk pengiriman ke laboratorium, gunakan marina cooler atau filopur yang telah diberi es. Pengiriman sampel darah sebaiknya dilakukan segera setelah pengambilan darah. Lama pengiriman hendaknya tidak lebih dari 2-3 hari



Pengendalian (Pencegahan dan Pengobatan) Leucocytozoonosis

Upaya pencegahan yang optimal tentu akan menekan kasus dan kerugian akibat leucocytozoonosis. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan antara lain :
1. Hindari adanya genangan air di sekitar kandang. Pastikan tidak ada lubang yang dapat menampung air di sekeliling kandang. Pastikan selokan bersih dan dapat mengalirkan air secara lancar
2. Hilangkan semak belukar atau rumput dan tanaman yang tidak berguna yang terdapat di sekitar kandang karena bisa menjadi tempat atau sarang nyamuk (vektor leucocytozoon sp.)
3. Perhatikan barang-barang yang dapat menampung air sehingga menjadi sarang dan tempat berkembang biaknya nyamuk. Buang atau hilangkan barang-barang tersebut dari lingkungan kandang
4. Bersihkan dan sanitasi kandang secara rutin
5. Jika perlu lakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida untuk membasmi nyamuk
6. Lakukan pemeriksaan sampel darah untuk mengetahui adanya sporozoit dari Leucocytozoon sp.

Saat ayam telah terserang leucocytozoonosis maka pengobatan yang dapat dilakukan ialah dengan memberikan antibiotik yang dapat menekan pertumbuhan schizont. Antibiotik tersebut antara lain :
 Sulfonamid yang dikombinasikan dengan vitamin A dan K3
Sulfonamid berkerja dengan cara menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont ditekan dan infeksi terhenti. Adanya vitamin A dan K3 akan membantu mencegah atau mengurangi perdarahan dan kerusakan sel lebih lanjut.
 Kombinasi antara Sulfonamid dan diaminopirimidin
Kombinasi antara sulfonamid dan diaminopirimidin bersifat sinergis (saling menguatkan) dalam menghambat asam folat sehingga pertumbuhan schizont dapat ditekan. Kombinasi obat yang lainnya ialah sulfonamid dan pirimethamin maupun sulfonamid dan trimethoprim. Sulfamonomethoxine merupakan golongan sulfonamid dengan daya kerja yang lama, yaitu selama 24 jam sehingga bisa menekan asam folat secara optimal.

Malaria like (leucocytozoonosis) merupakan penyakit parasit darah mampu menurunkan produktivitas ayam. Memahami tentang gejala klinis dan perubahan patologi anatomi akan mempermudah kita dalam penanganannya. Pemantapan diagnosa melalui uji laboratorium juga diperlukan terlebih lagi gejala klinis dan patologi anatominya mirip dengan beberapa penyakit. Saat diagnosa telah termantapkan, langkah penanganannya pun menjadi semakin terarah dan efektif.

KETIKA 500 PETERNAK PRIANGAN TIMUR MEMETAKAN DIRI

KETIKA 500 PETERNAK PRIANGAN TIMUR MEMETAKAN DIRI


(( Jumlah peternakan perunggasan di Priangan Timur ada 6000-7000. Replacement tiap bulan ayam pedaging broiler 5,5 juta ekor, ayam pejantan 4 juta ekor. Kesemuanya tersebar di daerah Priangan Timur. ))

Terkait Fokus Manajemen Peternakan Broiler, Infovet meliput acara rutin tahunan Silaturahmi Perunggasan Priangan Timur yang diselenggarakan di Gedung Islamic Centre-Ciamis 15 Oktober lalu.
Acara akbar peternak Priangan Timur ini dihadiri sekitar 500 orang dari Dirjen Peternakan, Bupati Ciamis atau yang mewakilinya, Praktisi perunggasan, Pengusaha nasional bidang Pakan, Breeding dan Obat-obatan, Dekan Fakultas Peternakan UNPAD dan UNSUD, Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), Pusat Informasi Pasar (Pinsar), Dinas Peternakan Ciamis dan para peternak se-Priangan Timur.
Walaupun kondisi peternakan di Indonesia sedang runyam karena adanya korelasi positif antara kenaikan harga bahan baku pakan, bibit, dan obat-obatan; kondisi perunggasan di Priangan Timur yang selalu tetap exist. Silaturahmi yang digelar tersebut sangat efektif untuk mengembangkan perunggasan yang akan datang; karena dapat meningkatkan kerjasama dan saling bertukar informasi.
Menurut H Ajat Darajat Ketua Umum dan Dewan Penasehat Kerukunan Perunggasan Priangan Timur, populasi masyarakat perunggasan di Priangan Timur berjumlah 6000-7000 peternak. Replacement tiap bulan ayam pedaging broiler 5,5 juta ekor, ayam pejantan 4 juta ekor. Kesemuanya tersebar di daerah Priangan Timur. Adapun ayam jantan dibudidayakan sebagai jantannya ayam petelur, selain itu juga sebagai substitusi ayam kampung yang selama ini sudah mulai hilang.
Pada sambutan pertama Ir Tri Hardiyanto Ketua Umum GOPAN mengungkapkan, “Peternakan rakyat sesungguhnya yang tetap eksis, di sinilah tempatnya.” Hal ini dikarenakan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah, asosiasi, stakehorder yang terkait, dan para peternak. Dengan harapan market kita lebih diperluas lagi dan kampanye gizi nasional terus berlangsung.
Selanjutnya Ir Ahmad Dawami dari Dewan Penasehat Perunggasan Nasional menyatakan kita tidak boleh terlena dan puas dengan kondisi seperti ini. “Sebaiknya prepare mengatasi masalah perunggasan ke depannya,” katanya.
Ahmad Dawami menguraikan cara mengatasi masalah perunggasan ke depan tersebut adalah terus mengembangkan usaha, meningkatkan rasa nasionalisme dengan membeli produk dalam negeri. Lalu, pemerintah juga harus merealisasikan program yang sudah di budgetkan, mempertahankan demand dengan cara mempertahankan pendapatan masyarakat, lantas efisiensi dan optimalkan potensi daerah masing-masing.
Yang terakhir adalah sambutan dari Dirjen Peternakan Prof Dr Tjeppy Darojatun MSc. Dirjen menegaskan, “Meningkatkan ketahanan pangan khususnya protein hewani asal ternak merupakan pengembangan peternakan yang patut mendapatkan prioritas.”
Dr Tjeppy mengatakan, dalam program pemerintah, indikator makro ekonomi menunjukkan pembangunan peternakan sudah menunjukan kemajuan signifikan. Namun demikian tercapainya kemajuan tersebut belum optimal terutama di sisi kesejahteraan peternak.
Khusus untuk produksi daging ayam dan telur, menurut Dr Tjeppy, walau dari segi produksi telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, hampir 65% dari komponen produksinya masih tergantung impor. Komponen tersebut misalnya bahan baku pakan seperti jagung, tepung ikan,bungkil kedelai, bibit, vaksin dan obat-obatan serta sarana produksi lainnya.
Mestinya, kata Dr Tjeppy, ”Selain komoditi tersebut dapat diproduksi secara massal dan harganya relatif terjangkau, masyarakat juga mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Maka, upaya yang harus ditingkatkan adalah restukturisasi industri kedepan khususnya ayam ras dan wabah flu burung yang dapat memporak porandakan industri perunggasan di tanah air.”
Hal ini, lanjutnya, seharusnya kita jadikan momentum penting dan menjadikan peternakan rakyat yang berdaya saing. Tjeppy pun menjelaskan, industri ayam ras baru tumbuh pada tahun 70-an hanya puluhan ribu ekor, tetapi sekarang 1.2 miliyar ekor yang disertai tumbuhnya industri pendukung secara bersamaan. Namun demikian, masalahnya, ayam ras diwarnai adanya isu monopoli, masih tergantung pada impor, dan berfluktuasi harga sarana produksi.
Solusinya, tutur Dirjen, “Adalah dengan memperdayakan peternak unggas industri kecil dan menengah agar mampu melangsungkan usahanya dan menjadikan industri berbasis sumberdaya lokal.”
Membangun organisasi ini menurut Dirjen tidaklah mudah karena butuh waktu, adanya tokoh yang mampu membimbing dan meningkatkan kepercayaan dan kompak di lingkungan peternak, serta pemerintah selalu mendukung peternakan.
Dirjen Peternakan Prof Dr Tjeppy Darojatun MSc pun menyinggung bahwa Kabupaten Ciamis merupakan daerah produksi ternak unggas yang penting untuk memenuhi konsumen unggas DKI dan sekitarnya. Dengan adanya wabah flu burung, merupakan momentum penting dalam menata sektor perunggasan secara menyeluruh dan bertahap. Dalam kaitan ini pemerintah membenahi berbagai aspek seperti masuknya perbibitan, pakan, vaksin, dan obat hewan.
“Dan penataan perbibitan yang bebas flu burung harus dilakuukan melalui perbibitan dengan langkah Good Breeding Practice, dan diluar perbibitan dilakukan Good Farming Practice, terutama peternakan komersial dan ayam buras serta ayam local lainnya,” tegas Dirjennak.
Langkah ini dikenal dengan kompartementalisasi dan browning, dengan harapan flu burung dapat dikendalikan dan sekaligus melakukan penataan usahanya. Dalam hal industri pakan secara bertahap akan mendorong dalam penggunaan bahan baku pakan lokal, selanjutnya tempat pemotongan unggas dan perdagangannya akan ditata agar di masa mendatang tidak lagi perdagangan ayam hidup di pasaran tradisional tetapi penjualan dalam bentuk karkas.
Tambah Dirjen, “Saya mengharapkan langkah restrukturisasi ini dapat didukung berbagai pihak termasuk keluarga besar perunggasan priangan timur yang semoga dapat menjadi perintis berubahnya industri perunggasan menjadi grade trade industri.”
Sementara itu Drh Mokhammad Ridwan alumni IPB salah seorang TS SANBE Farma yang diwawancarai Infovet mengatakan, peternak di wilayah ini sebagian besar peternakan skala kecil (1000-2500 ekor). Walaupun begitu, mereka tetap survive menggeluti bisnis dengan kondisi krisis ekonomi global pada saat ini. Dengan semakin tingginya harga bahan pakan, bibit ataupun obat-obatan, perunggasan di priangan timur ini tetap menjadi jantungnya perunggasan Indonesia.
Adapun penyakit yang biasa timbul pada ayam pejantan adalah Kocsidiosis dan gumboro. Sedangkan yang menyerang ayam betina adalah ngorok atau CRD (pada musim pancaroba) dan E. Coli pada musim penghujan tiba. Tetapi semuanya itu bisa teratasi dengan baik. (Fuji)

AYAM BANGKAI KAPAN BERAKHIR ?

AYAM BANGKAI
KAPAN BERAKHIR ?


(( Perniagaan daging ayam di Indonesia adalah merupakan mata rantai yang panjang. Padahal sebagai komoditas pangan yang sangat dibatasi waktu alias cepat busuk, maka situasi seperti itu menjadi problema yang pelik. Jika saja rantai perniagaan dapat dipotong, maka sangat mungkin sekali perniagaan curang itu dapat dicegah atau ditekan. ))

Operasi yustisi alias penegakan hukum perniagaan daging ayam yang dilakukan pemerintah secara insidental menjelang hari raya keagaman nampaknya sampai saat ini belum memberikan hasil yang optimal. Juga belum mampu menentramkan hati masyarakat sebagai konsumen.
Terkesan langkah itu hanya show of force aparat pemerintah kepada public secara massive. karena hampir selalu mengundang dan mengajak media cetak maupun elektronik. Mereka alias sang aparat hanya merasa punya’kuasa’ dan berhak menindak, akan tetapi lalai dan alpa akan kewajibannya yang lebih besar sebagai Abdi Negara yaitu untuk berbuat dalam meningkatan pengetahuan dan memberikan bimbingan juga pengarahan.
Itulah benang merah yang bisaa dipetik dari perbincangan INFOVET dengan para praktisi yang sangat kompeten. Mereka adalah Drh Haji Hayat Junaedi MMA, Drh Haji Maryono, Sutri Sino dan Hadi Santosa.
Hayat Junaedi praktisi peternakan berpengaruh di Yogykarta yang juga Calon Anggota Legislatif di Propinsi DIY itu mengkritisi bagaimana kinerja aparatur pemerintah. Menurut Hayat yang juga Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat Yogyakarta, bahwa apaarat hanya melihat para pedagang sebagai “obyek” dari sebuah mata rantai perniagaan dan kurang didudukkan sebagai “subyek” yang sebenarnya amat penting peran dan kontribusinya kepada pemda /negara.
Bagaimana tidak…? Sedikit atau banyak, Negara, termasuk aparaturnya telah berhutang kepada para pedagang yang dijadikan obyek itu. Sudah jelas mereka memberikan kontribusi pada APBD melalui pungutan retribusi dan pajak alias pendapatan daerah. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah serapan tenaga kerja, sehingga mengurangi angka pengangguran.
Semestinya bukan saja pedagang dipandang sebagai partner pemerintah dalam perannya menyediakan kebutuhan pangan bergizi yang mudah dan murah, namun juga sebagai pelaku atau subyek perekonomian daerah.
Andai saja mental dan perilaku aparatur sudah tereformasi maka kasus perniagaan daging ayam bangkai tidak akan semarak seperti selama ini. Kalaupun untuk hilang atau tidak ada sama sekali perniagaan daging ayam bangkai memang sangat sulit dan kompleks permasalahannya.
Kompleksitas itu menurut Hadi Santosa, Ketua ASOHI Jateng, mirip dengan peredaran obat hewan illegal. Dimana kasus perniagaan ayam bangkai marak oleh karena adanya permintaan dan pasokan. Mereka yang melakukan hal itu memang tercela dan patut diberikan hukuman yang setimpal agar jera dan tidak mengulang kembali.
Namun pada kenyataannya sangat sulit sekali, oleh karena penegakan huukum yang ada tidak mampu memberikan efek jera. Sangat mirip sekali dengan peredaran obat hewan illegal. Bahkan nampaknya akan semakin berkembang sejalan dengan semakin berkembangnya industri perunggasan nasional.
Mengapa demikian? Hal itu oleh karena adanya sejumlah mata rantai perniagaan ayam yang panjang dan akhirnya melahirkan praktek curang perniagaan daging ayam. Sekedar mencermati, bahwa perniagaan daging ayam di Indonesia adalah merupakan mata rantai yang panjang. Padahal sebagai komoditas pangan yang sangat dibatasi waktu alias cepat busuk, maka situasi seperti itu menjadi problema yang pelik. Jika saja rantai perniagaan dapat dipotong, maka sangat mungkin sekali perniagaan curang itu dapat dicegah atau ditekan.
“Sulit dan tetap sulit, jika saja penegakan aturan dan sanksi hukum tidak tegas dan berat,” ujar Hayat. Meski demikian, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator harus terus mengupayakan hal itu. Untuk menurut Hadi, secara rutin tetap harus dilakukan operasi yustisi. Selain untuk memberikan ruang gerak para pelaku menjadi sempit juga untuk menciptakan iklim kondusif usaha perunggasan nasional.
Suasana kondusif itu perlu lanjut Hadi, sebab bukti dan fakta lapangan selama ini semakin menguatkan bahwa isu, rumor ternyata sangat mudah menggoyahkan perniagaan komoditas itu. Dimana pada akhirnya akan mengganggu proses produksi atau budi daya karena, tekanan harga jual di pasar yang bisa anjlog. Memang kunci utama pada adanya kebutuhan atau permintaan dan di lain pihak terjadi pasokan yang mudah. Jika saja kemudahan pasokan itu bisaa dipangkas atau dihilangkan , maka hampir pasti tidak akan ada lagi bisnis curang dan culas.
Sedangkan Sutri Sino berpendapat, bahwa sulitnya memberantas perniagaan daging ayam bangkai oleh karena memang nilai rupiahnya sangat menggiurkan. Sebagai orang yang terjun langsung di perniagaan daging ayam, Sutri memaparkan fakta lapangan dimana saja komoditas itu bisaa diperoleh.
Pertama yaitu di hulu atau di kandang. Teramat banyak ayam yang mati setiap hari bisa dikumpulkan dari kandang dan dari berbagai umur ayam. Kematian ayam di setiap kandang bagaimanapun tidak bisa dihindarkan. Di sisi lain para pedagang ayam bangkai sebagai kolektor setiap hari bisa keluar masuk kandang berkali kali silih berganti. Kolektor itu bisa terjun sebagai penjual daging ayam ataupun hanya sebagai pengumpul yang akan dipasok ke pengepool menengah. Ini merupakan jalur gelap.
Sedangkan jalur semi legal adalah, pedagang ayam yang secara legal memanen dari kandang untuk di setor ke pedagang ecer atau ke pasar pemotong. Dalam proses pengangkutan, sudah pasti tidak bisa dihindarkan adanya ayam yang mati. Meski tidak banyak, tetap saja akan ada ayam yang mati dalam proses pengangkutan itu. Pekerja transportasi bisa berbuat tidak terpuji dengan menjualnya. Ataupun yang lebih sering para kolektor ayam bangkai akan aktif dan sangat proaktif mencari di saat proses pengangkutan.
Lini berikut adalah di tempat pedagang pengepool sebelum dikirim ke pedagang ecer atau pemotong. Dalam jangka waktu sebelum dikirim, sangat besar terjadinya kematian, sehingga pada lini ini juga menjadi target sasaran para pedagang kolektor.
Lini atau kawasan yang lebih besar adanya ayam bangkai bebas diperjualbelikan adalah di pasar pusat perniagaan ayam. Di pasar, teramat mudah dan kasat mata bahwa ayam bangkai diperjual belikan tanpa ada rasa bersalah dan sungkan. “Pasar pusat perniagaan ayam, adalah juga pusat terbesar perniagaan ayam bangkai. Di kawasan itu ayam bangkai diperjualbelikan dengan terbuak, terang-terangan,” ujar Sutri.
Maka sebenarnya jika mau diberantas, dari kawasan itulah paling mudah dan paling efektif. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa aparat tidak secara rutin saja melakukannya di kawasn itu??
“Ohhh tidak mudah dan akan ada resistensi dan penolakan dan juga bahkan perlawanan dari para pedagang yang berjualan disitu,” ujar Hayat. Tidak ada jalan lain kecuali para petugas yang kompeten secara arif memberikan penyuluhan kepada konsumen dan juga utamanya kepada para pedagang. Sebab untuk memangkas rantai pemasaran yang cukup panjang itu menjadi tidak mudah dan butuh waktu panjang.
Lalu bagaimana? Jawabnya: “Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang?” (iyo, sdrman, YR)

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN

3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN


(( Untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya. Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.))

“Sudah saatnya sistem pemeliharaan broiler negeri ini dikembalikan ke alam,” demikian dikatakan Nanung Danar Dono SPt MP dosen Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hal ini mengingat pada produksi yang dihasilkan broiler berupa daging harus sehat, aman dan tidak membahayakan konsumen.
Di samping itu, menurut Bapak dua putri ini, produksi daging broiler “made In Indonesia” relative lebih alot atau keras, tidak seperti daging broiler di Eropa dan negara lainnya di dunia. Rata-rata peternaknya menghasilkan daging broiler dengan tekstur daging yang empuk disertai cita rasa daging yang renyah dan gurih. Broiler modern dengan mutu genetik terpilih, harus dipelihara dengan sistem manajemen terpilih pula.
Nanung menggarisbawahi bahwa untuk mempersiapkan DOC untuk memproduksi daging yang efisien dan aman harus melalui tiga tahapan, ketiganya saling berinteraksi satu sama lainnya.
Tahapan-tahapan tersebut seperti (1) perbaikan pakan, (2) perbaikan manajemen dan (3) perbaikan pada sistem penyembelihan.
Menyitir pada bagian ketiga dari tiga tahapan yang dikemukakan Nanung, yakni perbaikan pada sistem penyembelihan, perlu diterapkan, hal ini mengingat bahwa sebagian besar konsumen daging broiler di negeri ini adalah komunitas muslim, yang membutuhkan produk akhir broiler yang aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Perbaikan Pakan

Makanan atau pakan broiler terutama pada minggu pertama pemeliharaan perlu diperhatikan. Hal ini berhubungan dengan capaian bobot badan akhir saat panen. Pakan yang baik adalah pakan yang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan broiler untuk tumbuh dan pembentukan daging.
Nutrisi dimaksud seperti kandungan karbohidrat sebagai sumber energi, protein dan asam-asam amino, mineral dan vitamin, baik yang larut dalam lemak (fat soluble vitamins) maupun yang larut dalam air (water soluble vitamins).
Mengenai nutrisi, pada saat ini sudah tersedia pakan broiler berbagai merek. Pakan-pakan tersebut pada umumnya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi brolier. Namun komposisi pakan tersebut pada umumnya hanya ditujukan untuk mencapai target berat badan broiler saja, sedangkan untuk kebutuhan nutrisi lainnya dipenuhi dari vitamin dan premix sintetik.
Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada mutu produk dan cita rasa daging brolier yang dihasilkan nantinya. Demikian disampaikan drh Jananta Kuswandiyah Laboran pada Laboratorium Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu.
“Pertanyaannya, nutrisi seperti apa yang diinginkan, kalau hanya sekedar untuk mencapai target berat badan dan feed konversi mungkin saat ini sudah bagus, tapi kalau mau mencari pakan brolier dengan komposisi komplit dan berimbang tentunya masih sangat langka,” papar Bapak satu putra ini.
Di beberapa negara panas termasuk Indonesia, kandungan nutrisi pakan dimanfaatkan ayam untuk membantu mengurangi pengaruh stres panas pada ayam pedaging maupun ayam petelur.
“Stres secara nyata merupakan faktor yang mempercepat penyebaran penyakit,” papar Prof Charles. Lebih lanjut dikatakannya bahwa sebagian besar organisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri sangat potensial berkembang pada ayam dalam kondisi stres.
Selanjutnya, agen pathogen ini akan menyerang jaringan tubuh ayam yang memiliki resistensi rendah terhadap berbagai faktor stres internal maupun eksternal, sehingga kondisi ini dapat merangsang respon fisiologis dalam tubuh ayam untuk mengembalikan keseimbangan dalam tubuhnya seperti sediakala.
“Hal ini terus berlanjut selagi ayam masih berada dalam cekaman stres,” ujar mantan dekan FKH ini.
Sementara itu, Nanung Danar Dono SPt MP yang dosen Ilmu Nutrisi Ternak Dasar Fakultas Peternakan menyatakan bahwa bahan pakanpun dapat menyebabkan stres pada broiler modern. “Mari kita kilas balik, secara umum ayam merupakan herbivore, pemakan biji-bijian, ini telah dibuktikan sejak ratusan tahun silam.
Nah, kondisi saat ini, pakan ayam disajikan dalam bentuk jadi dengan racikan dari berbagai bahan pakan, mulai dari bijian, tepung darah, tepung ikan, tepung tulang dan berbagai jenis bahan pakan asal hewan yang digodok menjadi satu dengan batasan-batasan kandungan nutrisi yang dibutuhkan,” papar alumni Pasca Sarjana Fapet UGM ini.
Dikatakannya, ayam yang mengkonsumsi pakan berbahan dasar dari berbagai jenis pakan asal hewan secara umum memang tinggi kandungan N-nya, terutama MBM dan DOC yang tidak memenuhi kriteria pasar atau DOC over produksi, digiling kembali untuk dijadikan bahan dasar pakan.
Tingginya kandungan N dalam pakan ini tidak memberi jaminan pertumbuhan optimal pada ayam, karena menurut Sekretaris Eksekutif Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewah Yogyakarta ini bahwa pakan asal hewan tersebut kandungan N-nya memang tinggi, tapi yang terukur adalah N yang terikat pada keratin (protein bulu), dan ini secara umum tidak tercerna oleh sistem pencernaan unggas.
Nah inilah secara fisiologis sebagai pemicu stres pada ayam, akibatnya pada ayam yang masih hidup akan rentan dengan berbagai jenis penyakit sedangkan pada ayam yang akan dipotong dapat menyebabkan daging alot atau keras dengan cita rasa beda pada ayam yang dipotong dalam kondisi rileks.
“Hindari stres selama masa pemeliharaan, terutama stres akibat panas,” pinta Nanung. Lalu, apa hubungannya stres panas dengan berbagai kandungan nutrisi pakan?

Manajemen

Manajemen merupakan satu kata yang digunakan banyak kalangan dari berbagai macam disiplin ilmu. Apakah itu dari ilmu sosial, politik, budaya, maupun ilmu alam yang disebut sebagai ilmu statik, yakni keilmuan yang masih menganut pada teori-teori yang baku.
Manajemen dalam sistem pemeliharaan ternak diartikan sebagai pengadministrasian berbagai kegiatan yang ada dan yang sudah disepakati atau mengacu pada kegiatan-kegiatan yang sudah ada sebelumnya, yang secara teoritika kegiatan tersebut dapat memberikan nilai tambah pada usaha tersebut.
Terry (1961) mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan, serta pengawasan dengan memanfaatkan ilmu dan seni agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Berpijak pada statemen ini, untuk mendapatkan nilai lebih (red; laba atau keuntungan) dari suatu usaha maka peternak atau pelaku usaha di bidang peternakan harus mengadaptasikan semua runtutan kegiatan manajemen dalam setiap tingkatan kegiatannya.
Hal dimaksud seperti perencanaan terhadap pemilihan day old chick (DOC) yang akan dipelihara, bila perencanaan-perencanaan lainnya telah diterapkan sebelumnya. “Mengapa harus dimulai dari DOC?” satu pertanyaan yang cukup menarik yang dilontarkan Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Menurutnya seleksi yang baik merupakan awal yang baik pada suatu usaha peternakan, apakah itu usaha peternakan broiler komersial, layer komersial, pembibitan, maupun usaha peternakan lainnya yang berorientasi pada keuntungan. Lalu, apakah hanya sebatas pada seleksi DOC saja?
“Jelas tidak, kegiatan seleksi yang baik harus diikuti dengan manajemen yang baik pula, apalagi untuk usaha ayam broiler yang disebut sebagai usaha ayam pedaging komersial dengan waktu yang sangat singkat” papar Prof Charles.
Ditambahkannya, pada kegiatan tersebut yang bermain peran adalah peternak yang merupakan manajemen puncak, pembuat keputusan dan pengambil segala kebijakan terkait maju mundurnya usaha tersebut.
Untuk ayam broiler modern misalnya, manajemen pemeliharaan selama tujuh hari pertama, terutama selama tiga hari pertama merupakan kunci keberhasilan dalam pencapaian bobot badan. Manajemen pemeliharaan broiler pada tujuh hari pertama ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti deviasi dari kondisi normal selama pengukuran, baik itu suhu, kelembaban, tekanan statis, maupun faktor-faktor lainnya yang juga berperan dalam pencapaian bobot badan pada akhir pemeliharaan.
Faktor-faktor dimaksud seperti kualitas udara yang meliputi kadar amoniak, kualitas udara yang rendah, dan lain-lain, kemudian kualitas litter atau sekam, ini ditujukan pada usaha peternakan broiler dengan sistem kandang panggung, lalu perilaku ayam apakah terlalu aktif atau pasif.
Satu penelitian yang cukup fenomenal di dunia perunggasan dilakukan di Universitas Georgia, dengan hasil yang menunjukkan bahwa ayam-ayam berumur muda yang kekurangan pemanas selama 45 menit pada tujuh hari pertama, dapat menyebabkan kehilangan bobot badan 135 gram pada umur 35 hari.
Jika satu bagian flok mengalami kondisi tersebut maka tingkat keseragaman (uniformity) yang dihasilkan akan rendah. Sebaliknya, pemanasan berlebih pada ayam-ayam muda tersebut, akan menekan laju pertumbuhan dan menurunkan bobot badan pada umur tujuh hari pertama. Dengan perlakuan senada, jika pemanasan berlebih terjadi disatu bagian flok, maka akan dihasilkan tingkat keseragaman (uniformity) yang rendah pula.

Penyembelihan

Menurut Nanung Danar Dono SPt MP Penyembelihan harus dilakukan pada saat ayam benar-benar berada pada kondisi tidak stres, dengan demikian pilihan pangan produk unggas ini dapat dinikmati konsumen dalam berbagai bentuk sajian sesuai dengan selera penikmatnya. (Daman Suska).

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?

(( Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Misalnya cuma 2 kali periode menang, sesungguhnya hasil usahanya lebih besar daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya. ))

Kapasitas peternakan di Indonesia tidak banyak berubah, dengan kapasitas total sama dibanding tahun-tahun lalu. Adapun perbandingan antara peternakan yang baru dengan peternakan yang berhenti lebih banyak yang berhenti. Demikian Drh Arief Hidayat Technical Department PT Mensana Aneka Satwa.
Menurut Drh Arief, peternak yang bertahan, jumlah populasi ternaknya sudah di atas 50.000 ekor. Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama peternakan berupa bibit, kandang dan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, guna peternakan ayam petelur cukup mahal, apalagi peternakan pembibitan. Yang paling rendah permodalannya adalah peternakan broiler.
“Itupun, orang berpikir lebih suka membeli bekas peternakan yang tidak terpakai lagi, sebagai tangan kedua. Malah, kalau bisa jangan membeli, namun lebih baik menyewa. Yang dari awal investasi, jarang, karena banyak terhambat resesi global. Yang penting bagi mereka, harga produk terjangkau,” papar Arief Hidayat.
Dokter hewan yang banyak berpengalaman di bidang perbibitan selama 13 tahun dan di PT Primatama Karya Persada selama 7 tahun ini mengatakan cara mempertahankan eksistensi peternakan ini adalah menjaga aset-aset peternakan supaya jangan sampai hilang. Yang paling banyak pasang surut adalah usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Para pelaku bisnis peternakan broiler rata-rata dengan menyewa kandang, bukan sebagai pemilik kandang.

Pelayanan ke Peternakan
Dalam melayani peternak, yang dilakukan Tim PT Mensana Aneka Satwa, menurut Drh Arief antara lain kunjungan rutin dan pelatihan-pelatihan, diberlangsungkannya bulan promosi, dan lebih menekankan pada unsur pendidikan dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sebagai contoh, kata Drh Arief, tanpa menyebut nama produk obat, peternak tetap dididik dan mengerti obat yang dimaksud.
Menurut Technical Service PT Medion pada 1982-1983 ini, ia merasakan pendidikan untuk disiplin bekerja di perusahaan ini dan kini ia terapkan di perusahaan yang sekarang.
Di era kemitraan ini, pemimpin di PT Mensana Aneka Satwa yang jumlah cabangnya di Indonesia mencapai jumlah 25 cabang mengatakan memang banyak perusahaan obat hewan yang mengalami cukup hambatan untuk masuk ke peternakan yang bukan satu grup kemitraan. Namun baginya, hal ini tidak menjadi hambatan.
Sebagai contoh, sebagai mantan karyawan PT Japfa Comfeed, Drh Arief Hidayat terhitung familiar dengan para peternak yang mnenjadi anggota kemitraan perusahaan nasional ini. Malah peternak pun berkata, “Coba dari dulu ke sini,” mengungkapkan penerimaan terhadap kehadirannya sekarang dalam hal teknis kesehatan hewan PT Mensana Aneka Satwa.
Sementara ihwal campur tangan dinas peternakan, sejauh ini Drh Arief merasakannya: tidak ada. Adapun banyak peternak yang merahasiakan akses peternakannya. Dokter hewan yang masuk FKH IPB pada 1978 ini mengatakan kelemahan-kelemahan peternakan ayam pedaging adalah masalah manajemen atau pengelolaan.

Tidak Ada Ceritanya Peternak Broiler Rugi
“Peternak, rata-rata tidak begitu mempedulikan manajemen pemanas. Juga tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya ayam 3-5 tahun yang lalu berbeda dari ayam yang sekarang,” ujar angkatan 15 di FKH IPB ini. Bila pada pertumbuhan ayam umur seminggu mencapai pertumbuhan optimal, maka selanjutnya tinggal mengisi yang lain-lain.
Dalam perhitungan keuangan kas dan investasi, menurut Drh Arief, belum banyak yang membedakan perhitungan-perhitungan penyusutan, perhitungan harga pakan dan konversi pakan, serta harga ayam pedagingnya. Sampai saat ini hal-hal semacam ini masih menjadi pola pikir peternakan.
Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Bila misalnya 2 kali periode kalah, maka 4 kali periodenya menang. Bila 4 kali periodenya menang, 2 kali periodenya menang. Namun, sesungguhnya, meskipun cuma 2 kali periode menang, hasil usahanya lebih bear daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya.
Dalam setahun tidak ada ceritanya peternakan broiler rugi. Perhitungan usaha ayam pedaging itu berbeda dengan usaha ayam petelur. Dengan investasi yang sama dengan usaha ayam pedaging, keuntungan bisnis ayam petelur adalah 10% dari untungnya broiler. Setiap tahun kita selalu mendengar keluhan peternak yang merasa rugi. Namun kalau untung sejatinya peternak tidak pernah omong. “Biasa, masalah klasik sejak jaman dulu,” kata Drh Arief.
Untuk memasyarakatkan kepedulian kepada peternakan dan peternakan ini, Drh Arief Hidayat mengaku dengan adanya Rubrik di Infovet “Solusi Peternak Handal” yang diasuh PT Mensana Aneka Satwa, namanya menjadi banyak dikenal dan peternak lebih banyak membaca. “Infovet banyak membantu, dan peternak lebih senang terhadap materinya,” kata Drh Arief.

Filosofi Peternak Ayam
Bagi Drh Arief Hidayat, yang sangat perlu dihayati adalah filosofi peternak ayam. Bahwa sesungguhnya, pekerjaan peternakan adalah pekerjaan sehari 24 jam dan seminggu 7 hari. Dengan filosofi ini, bila kita betul suka ayam, maka kita akan berpikir seperti ayam; sehingga kita empati dengan kondisi ayam dan selalu membuat ayam nyaman di dalam kandang. Bila sudah nyaman dalam kandang maka hal-hal lain yang tidak dibutuhkan tidak akan lagi mengganggu.
Drh Arief mempunyai pengalaman bersama seorang pimpinannya yang berpikir sangat sistematis bertanya secara perhitungan matematika mestinya ayam itu menghasilkan produksi terbaik. “Namun, mengapa kenyataannya kok lain?” tanya pimpinannya itu.
Dokter hewan alumnus FKH IPB ini pun menjelaskan bahwa ayam merupakan makhluk hidup, ada faktor X yang tidak kita ketahui. Yang kedua adalah mengelola ayam merupakan suatu sening, bukan ilmu matematika. “Ada yang tidak bisa kita kendalikan,” Arief Hidayat mengingatkan.
Drh Arief mengatakan soal kontribusi strain (bangsa) ayam. Dengan 7 strain yang dibeli oleh peternak broiler saat ini, menurutnya hal ini sudah tepat tepat. Masalahnya, katanya, bibit adalah tetap bibit; sedangkan strain tetaplah strain. Yang penting adalah bagaimana mengelolanya, sejak dari Grand Parent Stock yang menentukan genetik strainnya. Selanjutnya dari sini akan muncul bibit ternak yang baik-baik.
Kontribusi pada performan atau penampilan ayamnya, biaya bibit berperan 12% dari keseluruhan performan ayam; biaya tata laksana adalah 12 persen; biaya kesehatan (obat-obatan) sebesar 6%; dan biaya pakan paling banyak yaitu sejumlah 70 persen. (YR)

CAMAR DI PETERNAKAN BROILER

CAMAR DI PETERNAKAN BROILER

(( Faktor-faktor utama manajemen pemeliharaan broiler modern difokuskan pada tiga hal mendasar, yakni cahaya, makanan dan air (CAMAR). Sinergisme CAMAR dengan faktor terkait lainnya perlu diperketat, sehingga peluang kegagalan dalam meraih bobot badan optimal dapat ditekan sekecil mungkin. ))

Merujuk pada apa yang dikatakan Ketua ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) Prof Drh Charles Ranggatabbu MSc PhD, keberhasilan usaha peternakan broiler modern berawal dari pengamatan (observation) dan tanggapan atau respon peternak terhadap kebutuhan ayam yang dipeliharanya. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap pencapaian bobot badan umur tujuh hari pertama pemeliharaan tersebut sangat penting karena mampu menurunkan konsumsi pakan.
Faktor-faktor utama manajemen pemeliharaan broiler modern difokuskan pada tiga hal mendasar, yakni cahaya, makanan dan air (CAMAR), disamping itu faktor-faktor lainnya tetap memberikan andil terhadap capaian bobot badan saat panen. Oleh sebab itu, sinergisme CAMAR dengan faktor terkait lainnya perlu diperketat, sehingga peluang kegagalan dalam meraih bobot badan optimal dapat ditekan sekecil mungkin.

Karbohidrat

Konsumsi karbohidrat sebagai sumber energi merupakan nutrisi penting yang membatasi penampilan unggas pada suhu tinggi. Kebutuhan energi untuk pemeliharaan tubuh menurun sekitar 30 kcal/hari seiring dengan peningkatan suhu di atas 21 0C.
Meskipun kebutuhan energi untuk pemeliharaan adalah lebih rendah pada suhu lebih tinggi, tetapi kebanyakan energi terbuang sebagai panas tubuh sehingga kebutuhan energi absolut tidak terpengaruh akibat stres panas.
Kandungan energi pakan harus dimodifikasi yang memungkinkan pengurangan konsumsi selama suhu tinggi. Konsumsi pakan berubah 1,72 % pada setiap variasi 1 0C dari suhu ambang antara 18 0C sampai 32 0C. Penurunan menjadi lebih cepat (5 % untuk setiap 1 0C) apabila suhu meningkat ke 32-38 0C.
Tindakan untuk meningkatkan konsumsi pakan antara lain dengan penggunaan lemak dalam pakan. Konsumsi meningkat di atas 17 % pada penambahan 5 % lemak pada unggas yang mengalami stres panas karena lemak memperbaiki palatabilitas. Di samping itu, lemak memberikan tambahan kalori akibat menurunnya laju pencernaan dan karenanya meningkatkan penggunaan nutrisi.
Lemak atau minyak dengan lebih banyak asam lemak jenuh lebih disukai untuk iklim panas lembab. Konsentrasi energi harus ditingkatkan10 % selama stres panas, sedangkan konsentrasi nutrisi lain juga ditingkatkan 25 %.

Protein

Kebutuhan protein dan asam amino terlepas dari suhu lingkungan, karenanya stres panas tidak mempengaruhi penampilan unggas sepanjang kebutuhan protein sudah terpenuhi. Meskipun demikian, stres panas mengurangi konsumsi dan tingkat protein serta asam amino harus ditingkatkan apabila suhu lingkungan di atas 30 0C.
Pada suhu yang lebih tinggi, stres panas berpengaruh langsung terhadap produksi dan karenanya tidak terlalu menguntungkan untuk meningkatkan kadar protein. Keseimbangan asam amino dalam pakan memperkecil deposisi lemak dalam hati, yang meningkatkan jumlah unggas yang bisa bertahan terhadap suhu panas.
Jadi pakan rendah protein dengan asam amino kritis yang seimbang (methionine dan lysine) lebih menguntungkan dibandingkan pemberian pakan tinggi kandungan protein selama periode panas. Oksidasi atas kelebihan protein atau asam amino akan menghasilkan panas metabolik.

Kalsium dan Fosfor

Stres panas mengurangi asupan kalsium dan konversi vitamin D3 menjadi bentuk metabolit aktifnya 25 OH D3 yang esensial untuk absorbsi dan penggunaan kalsium (Peter R Cheeke, 2005).
Kebutuhan kalsium pada ayam petelur khususnya pada ayam yang lebih tua akan meningkat pada lingkungan bersuhu tinggi, untuk menanggulangi pengaruh ini, tambahan kalsium harus disediakan sebanyak 1 gram/ekor berupa grit kulit kerang, maupun limestone.
Suplementasi harus dilakukan di atas tingkat kalsium pakan yang normal (3,75 /ekor/hari) yang direkomendasikan untuk ayam petelur, sedangkan untuk ayam pedaging masih sebatas penelitian.
Meskipun demikian kelebihan kalsium mengurangi konsumsi pakan akibat keterbatasan fisiologis yang mempengaruhi selera makan. Di samping meningkatkan spesifikasi pakan, kalsium harus disajikan terpisah sebagai pilihan bagi unggas. Hasil yang lebih baik diperoleh dengan memberikan sumber kalsium pada siang hari.
Ukuran minimum sumber kalsium yang mampu memperbaiki retensi gizzard adalah sekitar 1 mm. Tingkat fosfor dalam pakan tidak boleh dilupakan karena kelebihan fosfor akan menghambat pelepasan kalsium tulang dan pembentukan kalsium karbonat dalam kelenjar kerabang sehingga dapat mengurangi kualitas kerabang telur.

Elektrolit / Unsur-unsur Penyangga

Penambahan 0,5 % sodium bikarbonat ke dalam pakan atau 0,3-1,0 % ammonium chloride atau sodium zeolite dapat mengatasi alkalosis yang disebabkan oleh stres panas. Sodium bikarbonat memacu konsumsi makan dan minum pada suhu lingkungan yang tinggi.
Laju pertambahan berat badan dapat ditingkatkan 9 % dengan penambahan bahan kimia ini ke dalam pakan broiler yang mengalami stres panas. Pengeluaran potassium melalui urine secara nyata lebih banyak pada suhu 35 0C dibandingkan pada suhu 24 0C.
Kebutuhan potassium meningkat dari 0,4 ke 0,6 % dengan kisaran suhu 25 0C sampai 38 0C. Asupan harian potassium 1,8 - 2,3 g dibutuhkan unggas untuk pertumbuhan berat badan yang maksimum selama kondisi panas.
Sebagai kompensasi akibat menurunnya konsumsi pakan selama stres panas, kandungan elektrolit (sodium, potassium dan chloride) yang diijinkan dapat ditingkatkan 1,5 % untuk setiap peningkatan suhu 1 0C di atas 20 0C.
Elektrolit juga terdapat dalam air minum dan faktor ini perlu diperhitungkan. Kelebihan asupan elektrolit dapat menyebabkan kotoran basah, kondisi ini dapat meningkatkan kadar amoniak dalam kandang.
Potassium chloride dapat ditambahkan lewat air minum dengan dosis 0,24 - 0,30 % K tetapi harus menghindari ketidakseimbangan. Kelebihan chloride diketahui menurunkan konsentrasi bikarbonat darah.
Selama stres panas, unggas mencoba mempertahankan suhu tubuh dengan meningkatkan pernapasan, diantaranya melalui evaporasi air metabolik yang akan meningkatkan kebutuhan air. Penambahan elektrolit (dan atau vitamin C) ke dalam air dingin membantu meningkatkan konsumsi pakan pada unggas yang mengalami stres panas.

Vitamin

Penambahan asam ascorbat (vitamin C), vitamin A, E, D3 dan Thiamin dapat memperbaiki penampilan unggas yang dipelihara pada suhu lebih tinggi. Meskipun demikian, kehilangan aktivitas vitamin dalam premiks maupun pakan selama penyimpanan khususnya pada suhu tinggi merupakan perhatian utama dan kejadian ini bisa menjelaskan hasil-hasil yang bertentangan atas pengaruh suplementasi vitamin selama stres panas.
Suhu tinggi, kelembaban, sifat tengik dari lemak, mineral jarang dan choline dapat mempercepat denaturasi vitamin. Aktivitas vitamin dalam pakan dapat dipertahankan dengan menggunakan antioksidan, vitamin dilapisi gelatin, kondisi penyimpanan yang tepat serta penambahan choline dan mineral jarang terpisah dari vitamin.
Asam ascorbat sintetik berkurang pada suhu tinggi, menjadikannya esensial untuk suplementasi selama musim panas. Vitamin membantu mengendalikan peningkatan suhu tubuh dan konsentrasi corticosterone plasma. Juga memperbaiki kualitas kerabang telur dengan perannya dalam pembentukan matrix organik kerabang.
Selanjutnya, melindungi sistem kekebalan tubuh dan mengurangi mortalitas pada unggas akibat infeksi IBD pada suhu tinggi dengan melindungi organ-organ lymphoid dan aktivitas thyroid.
Suplementasi asam ascorbat (200 - 600 mg / kg pakan) memperbaiki pertumbuhan, produksi telur, jumlah telur menetas, efisiensi pakan, berat telur, kualitas kerabang dan daya hidup selama stres panas.
Kemudian, vitamin E dapat melindungi membran sel dan memacu sistem kekebalan tubuh sehingga suplementasi nutrisi akan bermanfaat selama cuaca panas. Kematian yang disebabkan oleh infeksi E. coli secara nyata berkurang dengan penambahan vitamin E ke dalam pakan.
Stres panas diketahui mengganggu konversi vitamin D3 menjadi bentuk metabolit aktif yaitu 25 OH D3, sehingga tingkat ketersediaan dalam pakan harus disesuaikan selama periode suhu tinggi.
Bentuk aktif dari vitamin D3 terlibat dalam sintesa protein pengikat kalsium yang esensial untuk menjaga keseimbangan kalsium dan fosfor. Di atas suhu 32 0C, kebutuhan akan thiamin menjadi dua kali lipat dari tingkat normal pada suhu 21 0C.

Antibiotik dan Agen Chemoterapeutic

Sejumlah senyawa efektif mengurangi pengaruh merugikan terkait dengan hyperthermia meskipun biayanya bisa menjadi penghalang. Senyawa antipiretic seperti asam salisilat dan aspirin mampu memperkecil kadar catecholamine dalam darah selama stres panas.
Penampilan ayam yang mengalami stres panas dapat ditingkatkan dengan penambahan magnesium aspartate, zinc sulphate, diazepam, metyrapone atau clonidine dalam pakan.
Aureomycin didapati mampu mengatasi stres yang disebabkan oleh pemasukan protein asing atau salmonella endotoksin meskipun cara ini belum cukup menguntungkan.
Dari beberapa laporan diketahui asam asetilsalisilat (3 % dalam pakan) dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan kualitas kerabang meskipun hasilnya tidak konsisten. Resinpine sebuah bentuk alkaloid dari tanaman
Rawolfia diketahui mampu mencegah kehilangan karbon dioksida sehingga keseimbangan asam basa darah terjaga dari unggas yang dihadapkan pada suhu tinggi.
Flunixin sejenis obat analgesik anti pembengkakkan dapat diberikan dengan dosis 0,28-2,2 mg / kg berat badan per hari, meningkatkan konsumsi air minum sebesar 150-300 ml / ekor/ hari.
Senyawa antikoksidial seperti nicarbazine (pada dosis standar 125 mg/kg) dapat meningkatkan mortalitas broiler di atas 90 % selama stres panas. Penambahan potassium chloride ke dalam air minum dapat menetralisir pengaruh racun.
Terkait stres akibat panas ini, peternak harus menyikapi dengan cara melakukan perubahan pada cara pemberian pakan. Pada kondisi panas dan lembab, pakan tidak boleh disimpan lebih dari seminggu.
Suhu tubuh unggas meningkat setelah mengkonsumsi pakan disebabkan oleh proses thermogenik dari pencernaan dan metabolisme. Pada pemberian pagi, pengaruh thermogenik bersamaan dengan terjadinya peningkatan suhu lingkungan yang memperburuk kondisi stres akibat panas.
Pengaruh thermogenik ini berakhir setelah 8-10 jam pada suhu 35 0C, dibandingkan hanya 2 jam pada 20 0C. Produksi panas metabolik 20-70 % lebih rendah pada ayam lapar dibandingkan ayam setelah diberi makan.
Selama cuaca panas, unggas harus dijauhkan dari pakan. Pemberian makan selama jam-jam awal dan akhir dari hari terang akan membantu mengurangi kematian pada ayam broiler.
Pemberian makan berselang seling misalnya dengan penyediaan cahaya selama 30 menit disusul 3 jam gelap dapat mengurangi aktivitas unggas (produksi panas) tetapi dibutuhkan 20-30 % luasan tempat makan dan minum yang lebih luas. Konsumsi pakan yang rendah merupakan penyebab utama dari penampilan yang rendah selama suhu tinggi.
Praktek-praktek berikut ini dapat membantu meningkatkan konsumsi pakan, yakni (1) ayam makan pakan dalam bentuk basah, (2) bentuk pakan crumble atau pellet, (3) pakan rendah kalsium dengan pilihan bebas sumber-sumber kalsium, (4) Pemberian pakan sering dan (5) penambahan lemak atau molasses untuk meningkatkan palatabilitas pakan sangat dianjurkan.

Cahaya

Umumnya kebutuhan cahaya pada semua jenis unggas adalah sama, termasuk untuk ayam broiler dari semua tingkatan umur. Alaminya, cahaya digunakan ayam untuk melakukan kegiatan seperti melihat, makan dan minum. Pada sistem kandang terbuka, cahaya yang menginduksi ayam lebih banyak bila dibandingkan dengan sistem kandang tertutup.
Di samping itu, cahaya yang didapat dari sistem kandang terbuka adalah cahaya matahari yang tersedia secara adlibitum. Peternak membutuhkan biaya dan tenaga untuk mengontrol masuknya cahaya yang berlebih ke dalam kandang.
Lain halnya dengan sistem kandang tertutup, pada sistem ini peternak dapat mengatur kebutuhan cahaya untuk ayam yang sesuai dengan konsep penyinaran yang dianjurkan, yakni konsep intermittent lighting, sebuah konsep yang mengatur penggunaan cahaya untuk ayam dengan sistem pemberian lampu terang dan gelap selama periode pemeliharaan.
Kelebihan cahaya pada sistem kandang terbuka berakibat pada munculnya keinginan mematuk teman sendiri atau kanibalisme, meningkatnya aktivitas ayam dalam kandang sehingga gizi dari pakan yang dimakan tidak sepenuhnya untuk pertumbuhan tapi terserap untuk aktivitas lainnya. Berdasarkan ini, maka untuk pemeliharaan broiler modern tidak dianjurkan dengan menggunakan sistem kandang terbuka.
Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa ayam berada dalam kondisi yang lebih baik pada intensitas cahaya minimum 25 lux, tersebar secara merata, sehingga mereka dengan mudah mengakses pakan dan air minum.
Beberapa perusahaan peternakan atau peternak mengatakan bahwa kondisi terbaik bagi ayam yaitu pada saat intensitas cahaya selama 1 minggu pertama sebesar 50 dan 60 lux.
Penelitian lain tentang pemberian cahaya pada ayam menunjukkan bahwa intermittent lighting (pemberian lampu terang dan gelap) dapat meningkatkan produktivitas ayam broiler.
Dr Classen (1994) pakar perunggasan dari Canada, menyatakan bahwa konversi pakan, daya hidup, pertumbuhan dan nafsu makan (appetite) yang lebih baik serta menurunnya angka kematian akibat serangan jantung, merupakan efek positif dari pemberian cahaya yang tepat.
Program pemberian cahaya ini bertujuan untuk memperlambat pertumbuhan broiler pada masa starter, kemudian diikuti dengan pertumbuhan selanjutnya (compensatory growth) pada masa berikutnya.
Pencahayaan dengan pemberian lampu terang dan gelap diawal pemeliharaan akan mengurangi kebutuhan energi dengan berkurangnya aktivitas harian sehingga juga mengurangi pengeluaran energi (energy expenditure).
Pengamatan terhadap tingkah laku ayam pada tingkat konsumsi air dan pakan membuahkan hasil bahwa konsumsi air dan pakan meningkat 50% lebih tinggi dalam waktu dua jam setelah lampu dinyalakan, artinya aktivitas ayam makan dipengaruhi oleh cahaya.
Di samping itu Kamyab (2000) menambahkan bahwa intermittent lighting pada sistem pemeliharaan broiler dapat mengurangi kematian anak ayam pada periode minggu pertama pemeliharaan.

Air

Air harus tersedia secara ad libitum dengan kondisi suhu air yang tepat dan kandungan bahan kimia serta kualitas mikrobiologi yang sesuai sesuai dengan standar. Tempatkan air minum dalam galon bersih.
Posisi tempat minum yang baik adalah terletak pada setiap tempat pakan, hal ini bertujuan untuk mengurangi aktivitas gerak ayam. Apabila menggunakan nipple drinker, maka lebih baik menambahkan baby drinkers khusus bagi DOC yang berasal dari bibit muda. (Daman Suska)

Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi Telur

Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produksi Telur

Fungsi terbesar produk peternakan adalah menyediakan protein, energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi hasil-hasil pertanian. Salah satu nutrisi penting asal produk peternakan adalah protein hewani yang sarat dengan kandungan berbagai asam amino, DHA dan unsur-unsur lainnya yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh, kembang dan bereproduksi. Disamping itu, protein hewani asal produksi ternak seperti susu, daging dan telur (SDT) adalah mengandung kelengkapan asam-asam amino dengan nilai hayati yang tinggi yang hampir mencapai kisaran di atas 80. Nilai hayati ini mencerminkan berapa banyak zat nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein dan bagian-bagiannya. Untuk memproduksi pangan asal ternak yang berkualitas baik, diperlukan usaha perbaikan manajemen pemeliharaan khususnya untuk ternak sapi perah, sapi potong, ayam potong dan ayam petelur.
Satu dari tiga pangan asal ternak yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah telur. Telur mengandung protein dengan kisaran 15%. Protein telur dibentuk dari susunan asam-asam amino yang sangat baik, sehingga protein hewani asal telur hampir seluruhnya dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun pengganti sel-sel tubuh yang rusak.
Selain protein, telur juga mengandung lemak berupa trigliserida, phospholipida dan kolesterol. Trigliserida dan phospholipida berfungsi menyediakan energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan semua aktivitas sehari-hari, sedangkan kolesterol berfungsi untuk membentuk garam-garam empedu yang diperlukan bagi pencernaan lemak yang berasal dari makanan dan diperlukan juga sebagai komponen pembentuk hormon seksual seperti testosteron dan hormon adrenalin.
Usaha perbaikan manajemen pemeliharaan pada ayam petelur sangat diperlukan untuk menghasilkan pullet dengan performa yang baik sampai umur panen, salah satunya adalah upaya penekanan pada kemunculan penyakit yang ada hubungannya dengan penurunan produksi telur.
Penyakit pada ayam petelur diartikan sebagai disfungsi organ, yakni tidak berfungsinya secara normal organ ayam yang terinfeksi oleh mikroorganisme penyebab penyakit, baik itu organ pencernaan, pernafasan, central neuro system (CNS) maupun organ reproduksi yang secara langsung berhubungan dengan pembentukan dan distribusi telur.
Munculnya permasalahan ini disinyalir akibat kelalaian peternak, misalnya minimnya kandungan nutrisi bahan pakan yang diberikan pada ayam peliharaannya. Disamping itu, faktor penyakit juga didaulat sebagai salah satu penyebab terjadinya penurunan produksi telur.
Diantara jenis penyakit tersebut adalah ND, AI, AE Virus, IB, Mycoplasma gallisepticum dan Paramyxoviruses lainnya, namun yang sering menjadi buah bibir peternak layer, Technical Services, Praktisi Perunggasan dan Akademisi adalah IB, ND dan Egg Drop Syndrome (EDS 76).

Waspadai EDS 76
EDS 76 merupakan penyakit pada ayam petelur yang menyerang ayam petelur pada periode pertumbuhan dan periode bertelur. Penyakit ini disebabkan oleh Hemagglutinating adenovirus. Agen ini mampu mengaglutinasi eritrosit ayam, sehingga ayam yang terinfeksi akan mengalami anemia, hal ini terlihat dari penampakan luar tubuh ayam, yakni kepucatan pada vial dan jengger. Secara ekonomi, penyakit ini menimbulkan kerugian pada peternak karena tidak tercapainya produksi yang optimal.
Ayam yang terinfeksi agent EDS 76 tidak memperlihatkan gejala yang spesifik. Secara umum ayam kelihatan sehat, tetapi produksi telur dapat turun sampai 40% selama 4-10 minggu.
Pakar perunggasan Fakultas Kedokteran Hewan UGM Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD menyatakan, “Gejala awal EDS 76 tersifat dari kehilangan warna kerabang pada telur yang berwarna coklat. Gejala ini diikuti oleh adanya telur yang mempunyai kerabang tipis, kerabang lembek atau tanpa kerabang sama sekali. Telur dengan kerabang tipis biasanya bertekstur kasar menyerupai kertas pasir atau bergranula pada salah satu ujungnya.”
Pada infeksi alami ditemukan adanya penurunan ukuran telur, sedangkan pada infeksi buatan ukuran telur tetap normal. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa ayam yang terinfeksi Hemagglutinating adenovirus dapat menurunkan viskositas pada putih telur, yakni putih telur yang berada pada bagian luar menjadi lebih encer menyerupai air, sedangkan putih telur yang terletak pada bagian dalam di sekitar kuning telur relatif normal. Disamping itu, umur ayam saat terinfeksi agent EDS 76 pun dapat mempengaruhi kualitas putih telur. Hal ini sering dilaporkan oleh para pakar perunggasan dunia bahwa anak ayam yang terinfeksi pada umur sehari (DOC) akan menghasilkan telur yang mempunyai putih telur lebih encer dengan ukuran telur yang lebih kecil.
Gejala klinik lainnya yang juga dapat teramati pada kasus EDS 76 adalah kegagalan ayam mencapai target produksi telur atau tertundanya waktu produksi telur. Gejala ini muncul akibat ayam terinfeksi agent EDS 76 dapat memproduksi antibody sebelum periode laten infeksi muncul. Menurut Prof Charles, periode laten infeksi ditandai dengan terjadinya penurunan produksi telur yang bisa mencapai kisaran 50% dan terjadinya halangan untuk mencapai puncak produksi. Lalu, bagaimana sistem penyebaran penyakit ini?
Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan unggas lain seperti itik dan angsa yang terpapar virus EDS 76. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa itik dan angsa merupakan inang yang baik untuk virus EDS 76, artinya keberadaan itik dan angsa dapat mempercepat proses penyebaran EDS 76 ke unggas lain yang belum tertular. Perpindahan virus EDS 76 juga bisa melalui pemakaian jarum suntik yang telah terkontaminasi virus EDS 76. Lantas, bagaimana tindakan pencegahan dan pengobatannya?
Lebih lanjut, Prof Charles menjelaskan bahwa tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara memilih DOC dari telur yang induknya tidak tertular EDS 76. Hal ini beralasan bahwa EDS 76 dapat menular secara vertikal yakni melalui telur. Namun ditegaskannya bahwa kebanyakan breeder telah mengeliminasi virus EDS 76, sehingga kemungkinan penularan secara vertikal menjadi sangat kecil. Penularan secara horizontal perlu mendapat perhatian peternak. Hal terkait dapat dilakukan kegiatan berupa penerapan praktek manajemen seoptimal mungkin di kandang.
Praktek manajemen yang dianjurkan Guru Besar staff dan pengajar bagian Patologi FKH UGM ini adalah sanitasi dan desinfeksi yang ketat. Disamping itu, peternak dianjurkan untuk tidak menggunakan air minum dari sumber yang pernah tercemar oleh feses atau leleran tubuh lainnya dari itik, angsa dan beberapa jenis unggas lainnya.
Namun, bila kondisi usaha peternakan mengharuskan tetap menggunakan sumber air yang tercemar feses unggas yang terinfeksi, maka peternak diminta untuk melakukan sanitasi dan desinfeksi terlebih dahulu dengan cara klorinasi sebelum air tersebut diberikan kea yam peliharaannya. Tindakan lain yang dapat dilakukan peternak untuk mencegah meluasnya EDS 76 adalah dengan melalui vaksinasi. Saat ini vaksin yang tersedia adalah vaksin killed atau vaksin in aktif yang diberikan pada ayam dara dalam kurun waktu 3-4 minggu sebelum bertelur atau pada kisaran umur 14-16 minggu.

Infectious Bronchitis
Infectious Bronchitis (IB) merupakan penyakit akut pada ayam petelur yang menyerang saluran pernafasan ayam dan sangat mudah menular pada ayam dalam satu kelompok atau antar kelompok lainnya. Penyakit ini tersifat oleh adanya ngorok basah akibat adanya cairan dalam trachea, batuk dan bersin. Kejadian penyakit pada anak ayam tersifat oleh adanya gejala kesulitan bernafas yang ditandai oleh pernafasan melalui mulut atau gasping sedang pada ayam petelur tersifat oleh adanya penurunan produksi telur yang terjadi secara mendadak.
Dikalangan peternak, kasus IB dipandang cukup serius. Hal ini disebabkan karena IB dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi pakan dan merupakan salah satu penyakit kompleks pada saluran pernafasan terutama bila terjadi kolaborasi dengan E. coli dan Mycoplasma gallisepticum. Disamping itu, penurunan produksi telur dalam jumlah dan mutu sering terjadi, serta biaya penanggulangan penyakit yang tinggi dan kompleks menjadikan IB sebagai penyakit strategis pada ayam petelur. Lalu, bagaimana cara penularannya?
Virus IB dapat menyebar secara cepat dari ayam yang satu ke ayam lainnya dalam suatu kandang. Gejala sakit pada ayam yang terinfeksi dapat dilihat dalam waktu 48 jam. Penularan virus IB dapat terjadi secara langsung maupun secara tidak langsung. Penularan secara langsung terjadi melalui leleran tubuh ataupun feses ayam yang sakit kepada ayam yang peka dengan virus ini. Salah satu cara penularan yang penting adalah penularan melalui udara yang tercemar oleh virus IB. Penularan secara tidak langsung biasanya melalui anak kandang, alat atau perlengkapan peternakan, tempat telur (egg tray), kandang bekas ayam sakit, bangkai ayam sakit dan keberadaan rodensia di sekitar lingkungan kandang.
Kejadian IB pada ayam berlangsung cepat, yakni dengan masa inkubasi 18-36 jam, hal ini tergantung pada dosis virus dan rute infeksi. Infeksi dapat bersifat asimptomatik dengan menunjukkan gejala gangguan pernafasan atau yang berhubungan dengan abnormalitas pada system reproduksi. Disamping itu, dapat juga ditemukan adanya penurunan berat badan yang disertai oleh depresi dan gangguan pertumbuhan yang dapat dihubungkan dengan lesi-lesi pada saluran pernafasan dan ginjal.
Gejala penyakit IB berbeda pada setiap tingkatan umur. Pada anak ayam gejala klinik yang sering muncul adalah (1) batuk, sesak nafas, ngorok dan keluar lendir dari hidung, (2) mata berair yang diikuti dengan pembengkakan sinus, (3) anak ayam yang terpapar menunjukkan lemah dan lesu serta cenderung berkerumun di bawah pemanas, (4) lendir dan eksudat yang menyerupai keju terkumpul dalam trakea bagian bawah dan bronki, kondisi ini dapat menimbulkan kematian, (5) penyakit dapat berlangsung selama 5-21 hari dengan angka kematian 0-40%.
Sementara itu, kasus pada ayam dewasa dicirikan dengan (1) tingkat produksi telur akan menurun yang diikuti dengan perubahan bentuk kerabang telur, yakni kasar dan lembek, (2) kualitas telur yang dihasilkan jelek, (3) ayam yang tertular pada bagian akhir dari tahun produksi biasanya memperlihatkan produksi telur yang sangat menurun, biasanya berlanjut ke peristiwa ganti bulu, (4) membutuhkan waktu yang panjang untuk proses penyembuhan (recovery), (5) pada pemeriksaan patologi, ditemukan saluran telur yang mengeras atau sebagian menutup yang menunjukkan petelur palsu, (6) jalan penyakit berkisar antara 4-10 hari dengan angka kematian 0,5%.
Pencegahan IB dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengamanan biologis dan pelaksanaan aspek manajemen lainnya secara optimal. Hal ini ditujukan untuk menghilangkan faktor pendukung atau sumber infeksi virus IB. Pembatasan umur dalam satu flok pemeliharaan diperlukan untuk menghindari kemungkinan penularan virus IB dari kelompok umur yang satu ke kelompok umur lainnya.
Pencegahan yang efektif adalah dengan program vaksinasi. Program vaksinasi harus mempertimbangkan 3 titik kritis yakni type vaksin, waktu dan cara vaksinasi. Yang terpenting dari ketiganya adalah waktu yang tepat untuk melakukan vaksinasi. Penentuan kapan vaksinasi itu dilakukan adalah penting karena campur tangan yang kuat antara maternal antibodi dan virus vaksin. Artinya, jika vaksin diberikan dimana level maternal antibodi masih tinggi, virus vaksin akan dinetralisir dan konsekuensinya flok tersebut tidak dilindungi. Sebaliknya, jika pemberian vaksin terlambat, virus lapangan akan menginfeksi ayam tersebut hingga terjadilah wabah.

ND, Penyakit lawas yang bikin was-was
Satu lagi penyakit viral pada ayam petelur yang secara nyata dapat menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit klasik namun masih tetap mengusik ketenangan ternak dan peternak. Sebagai penyakit lawas, penyakit ini perlu diwaspadai kemunculannya di lokasi peternakan.
ND atau penyakit tetelo ditemukan pertama kalinya oleh Kreneveld di Indonesia pada tahun 1926. Kemudian Doyle pada tahun 1927 memberi nama Newcastle Disease (ND), sebuah nama di Negara Inggris “Newcastle on Tyne” yang ayamnya terjangkit penyakit serupa.
ND merupakan masalah besar dan sering menjadi momok bagi dunia peternakan, karena penyakit ini dapat menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi, yakni mencapai 100%. Penyebaran penyakit ini terbilang sangat cepat, baik pada ayam ras, ayam buras maupun jenis unggas lainnya. Menurut para ahli, penyakit ini dapat menular pada manusia dengan gejala klinis conjunctivitis (radang konjunctiva mata) namun jarang dijumpai. Sedangkan pada unggas dan burung liar lainnya yang terpapar ND menunjukkan gejala klinis berupa gejala syaraf, gejala pernafasan dan gejala pencernaan.
Penyakit ND disebabkanoleh virus dari famili Paramyxoviridae dengan genus Pneumovirus atau Paramyxovirus, dimana virus ini dapat menghemaglutinasi darah. Kejadian penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, dimana menyerang seluruh jenis unggas termasuk burung liar. Virus penyakit ini dapat ditemukan pada organ-organ seperti alat pernafasan, syaraf dan pencernaan.
Penyakit ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan ayam yang sakit dan kotorannya. Penularan lainnya dapat juga melalui ransum, air minum, kandang, tempat ransum atau tempat minum, peralatan kandang lainnya yang tercemar, melalui pengunjung, serangga, burung liar dan angin atau udara yang dapat mencapai radius 5 Km. Virus ND ditemukan juga dalam jumlah tinggi selama masa inkubasi sampai masa kesembuhan. Virus ini terdapat pada udara yang keluar dari pernafasan ayam, kotoran, telur-telur yang diproduksi selama gejala klinis dan dalam karkas selama infeksi akut sampai kematian.
Gejala ND dapat diamati melalui (1) gejala pernafasan seperti bersin-bersin, batuk, sukar bernafas, megap-megap dan ngorok, (2) gejala syaraf berupa sayap terkulai, kaki lumpuh (jalan terseret), jalan mundur (sempoyongan) serta kepala dan leher terpuntir yang merupakan gejala khas penyakit ini dan (3) gejala pencernaan meliputi diare berwarna hijau, jaringan sekitar mata dan leher bengkak, pada ayam petelur produksinya berhenti, kalau sudah sembuh kualitas telurnya jelek, warna abnormal, bentuk dan permukaannya abnormal dan putih telurnya encer. Hal ini disebabkan oleh karena organ reproduksinya tidak dapat normal kembali. Umumnya kematian anak ayam dan ayam muda lebih tinggi dibandingkan ayam tua.
Sejauh ini belum ada satu jenis obat yang efektif yang dapat menyembuhkan ayam yang menderita penyakit ini. Penanggulangan penyakit ND hanya dapat dilakukan dengan dengan tindakan pencegahan (preventif) melalui program vaksinasi yang baik. Ada dua jenis vaksin yang dapat diberikan yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif berupa vaksin hidup yang telah dilemahkan, diantaranya yang banyak digunakan adalah strain Lentogenic terutama vaksin Hitchner B-1 dan Lasota. Vaksin aktif ini dapat menimbulkan kekebalan dalam kurun waktu yang lama sehingga penggunaan vaksin aktif lebih dianjurkan dibanding vaksin inaktif.
Program vaksinasi harus dilakukan dengan seksama dan diperhatikan masa kekebalan yang ditimbulkan. Vaksinasi pertama sebaiknya diberikan paling lambat hari ke-empat umur ayam, karena penundaan sampai umur dua minggu dan seterusnya akan menghilangkan kemampuan pembentukan antibodi aktif oleh antibodi induk, sebab pada umur tersebut antibodi induk sudah tidak berfungsi lagi. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan vaksinasi antara lain (1) vaksinasi hanya dilakukan pada ternak yang benar-benar sehat, (2) vaksin segera diberikan setelah dilarutkan, (3) hindari vaksin dari sinar matahari langsung, (4) hindari hal-hal yang dapat menimbulkan stress berat pada ternak, (5) cuci tangan dengan detergen sebelum dan sesudah melakukan vaksinasi. (Daman Suska, dari berbagai sumber).

SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR

SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR

(( Dengan mengingat sejarah ayam petelur kita lebih terpacu untuk mengembang produksi telur bukan hanya ayam ras tapi juga ayam kampung. Tentu saja membuat kita memperhatikan seluk beluk pemeliharaannya sekaligus mengantisipasi penyakit yang mengintai. ))

Fokus bahasan Infovet edisi ini adalah penurunan produksi telur yang disebabkan oleh penyakit infeksius terutama ND, EDS dan IB. Untuk itu ada baiknya kita kembali mengenang bagaimana munculnya ayam petelur bagi manusia.

Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas mengungkap bahwa ayam petelur (Gallus sp) adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.

Sumber Bappenas ini menyatakan, arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.

Selain itu, kata sumber yang sama, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya akrab dengan pola kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu.

Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda saat itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung karena keberadaan ayam itu memang di pedesaan.

Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih akrab dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam.

Hingga akhir periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal klasifikasi ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap seperti ayam kampung saja, bila telurnya enak dimakan maka dagingnya juga enak dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak enak dagingnya.

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini adalah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya setelah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup lama hingga menjelang akhir periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula.

Di sinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai klasifikasi sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung.

Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep makanan tradisional saja. Persaingan inilah menandakan maraknya peternakan ayam petelur.

Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya dapat dimakan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh.

Ayam kampung dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar di Asia dan Afrika.

Dengan uraian Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas, kita lebih terpacu untuk mengembang produksi telur bukan hanya ayam ras tapi juga ayam kampung. Tentu saja membuat kita memperhatikan seluk beluk pemeliharaannya sekaligus mengantisipasi penyakit yang mengintai. (Bappenas/ YR)

Produksi Telur Turun, Perhatikan Kualitas Pakan dan Infeksi Penyakit

Produksi Telur Turun, Perhatikan Kualitas Pakan dan Infeksi Penyakit

Hadi Wibowo praktisi perunggasan dari PT Sumber Multivita ikut urun rembuk soal penurunan produksi telur. Ia menegaskan bahwa ayam dapat berproduksi dengan baik tak lepas dari peranan 4 hal, yaitu pemeliharaannya yang terjaga dengan baik, vaksinasi dilaksanakan sesuai program, kondisi kandang nyaman, dan pakan yang diberikan berkualitas sesuai dengan kebutuhan nutrisinya.
“Empat hal ini merupakan syarat utama untuk produktivitas yang maksimum, dan sekaligus mencegah munculnya masalah akibat penyakit tertentu,” jelas Hadi.
Terkait dengan persoalan Avian Influenza yang tak kunjung rampung di Indonesia, Hadi berpendapat hal ini tak lepas dari akar penyebab masalah itu sendiri. Dari sudut pandangnya ia menyoroti tentang kualitas pakan ternak yang akhir-akhir ini kualitasnya turun naik.
Kenapa pakan, karena pakan merupakan kebutuhan utama ayam yang mengandung zat gizi dimana ayam saat ini dipelihara dengan cara “dieksploitasi maksimum” sehingga membutuhkan gizi yang paling baik untuk menunjang target produksi yang ditetapkan. Nah, yang menjadi pertanyaan apakah kuantitas dan kualitasnya telah sesuai dengan kebutuhan ayam?
Hadi menuturkan, seperti kita tahu penggunaan tepung bulu untuk menaikkan kadar protein dalam pakan ternak unggas lazim digunakan. Namun penggunaannya tak boleh berlebihan dan ada batasannya karena sifat protein dari tepung bulu yang sulit tercerna.
Memang bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu ayam mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 80-91 % dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5 % dan tepung ikan 66,2 % (Anonimus, 2003). Bahkan Hadi menuturkan dari hasil uji lab di perusahaan swasta terkenal kandungan protein kasar dari tepung bulu menggunakan analisa Kieldahl dapat mencapai 87,4 %
Sayangnya kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti dengan nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Nilai kecernaan yang rendah tersebut disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Keratin merupakan protein yang kaya akan asam amino bersulfur, sistin.
Ikatan disulfida yang dibentuk diantara asam amino sistin menyebabkan protein ini sulit dicerna. Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim, sehingga pada akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan. Dengan demikian bila bulu ayam digunakan sebagai bahan pakan sumber protein, sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya.
Di Indonesia, tepung bulu untuk pakan unggas tersedia dalam bentuk produk pabrik dan siap pakai atau tepung bulu yang sudah diolah. Berbagai hasil penelitian di berbagai belahan dunia ini menunjukkan bahwa tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot.
Semakin baik pengolahannya, akan semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992).
Tepung bulu mempunyai energi metabolis (ME) sebesar 2.354 kalori/ kg dan asam amino tersedia sebesar 95 %. Jadi 35 % asam amino yang terdapat dalam tepung bulu tidak tersedia untuk unggas dan terbuang keluar lagi. Inilah sebabnya tepung bulu tidak bisa terlalu banyak dimasukkan dalam formula ransum yaitu tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum.
Lebih lanjut, Hadi mengungkap, penyakit adalah dampak dari pakan yang kurang baik. Pakan yang berkualitas jelek meningkatkan kejadian malnutrisi, dalam hal ini kurang asam aminonya, pada ternak yang menyebabkan turunnya produksi antibodi. Karena bahan pembentuk antibodi adalah asam amino yang merupakan penyusun molekul protein, kondisi ini bila berlangsung lama pada akhirnya akan memicu munculnya penyakit. Sehingga ND, IB, EDS dan AI yang menurunkan produksi telur akan lebih mudah masuk.
Hadi juga menekankan bahwa empat pokok pendukung performa produksi ayam petelur adalah genetik, nutrisi, kesehatan dan manajemen pemeliharaan. Oleh karenanya empat hal ini harus diperhatikan dengan benar karena saling terkait satu dengan lainnya.
“Sebenarnya yang dibutuhkan oleh ayam agar berproduksi optimal diantaranya adalah pakan yang berkualitas baik, kehangatan dan kelembaban yang ideal, air yang sehat dan udara sehat yang segar dan bersih,” ujar Hadi.
Kenapa suhu lingkungan penting diperhatikan karena cekaman atau stres panas setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius akan meningkatkan metabolisme 20-30%. Pada suhu lingkungan 28 oC nafsu makan menurun sekitar 12%. Selain itu kondisi tubuh ayam harus selalu PRIMA dan SEHAT guna menunjang hasil vaksinasi dalam tubuh ayam optimal baik untuk vaksin viral (ND, IB, AI, EDS) maupun vaksin bakterial (Snot, Kolera)
Selain itu, penggunaan jenis vaksin harus tepat dan mengingat banyaknya program vaksin dan banyaknya penyakit yang menghambat pembentukan kekebalan, maka diperlukan bala bantuan seperti imunomodulator. Hadi menambahkan, “setelah itu semua dilakukan, jangan lupa selalu lakukan seleksi ayam yang sakit dan tidak produktif, serta penerapan biosekuriti tidak boleh kendor.”

Membedakan ND, EDS’76 dan IB
Mengenali penyakit turunnya produksi telur tak bisa hanya berdasarkan gangguan produksi. Untuk itu, perlu gejala yang lain untuk menentukan diagnosa yang lebih tepat. Hal itu bisa dilihat dari tabel.
Pada kesempatan yang sama, Hadi juga memaparkan tentang temuan terbaru penyakit AI pada broiler yang dari hasil patologis anatomisnya ditunjukkan dengan haemorraghis (kemerahan) pada saluran pencernaan bagian atas. Selain itu pankreas juga menunjukkan bintik merah hingga menghitam. Pada bagian mesenterium atau penggantung usus juga berwarna merah yang membuat haemorraghis usus seperti kena koksi.
Sementara upaya pengendalian diantaranya dengan pencegahan berupa langkah biosekuriti dan vaksinasi. Saat ini telah banyak vaksin ayam petelur yang berisi kombinasi ketiga penyakit ND, EDS’76, dan IB sehingga dalam aplikasi lebih prkatis. Namun untuk pelaksanaan sebaiknya disesuaikan dengan program vaksinasi penyakit lain secara keseluruhan agar optimal.
Setelah vaksinasi dilakukan lakukan monitoring antibodisetiap 2-3 bulan dengan cara mengambil sampel darah ayam untuk diperiksa titernya. Dengan melakukan pemeriksaan titer antibodi secara rutin akan didapatkan pola kenaikan/penurunan titer antibodi yang akan memudahkan untuk pengambilan keputusan pelaksanaan jadwal vaksinasi. (wan)

Sumber Multivita Gandeng FKH IPB Update Info AI Terkini

Sumber Multivita Gandeng FKH IPB Update Info AI Terkini

Pagi itu, Jumat 17 Oktober 2008, Infovet telah bergabung bersama Tim Sumber Multivita dari Jakarta untuk bertolak ke Sukabumi mengikuti seminar teknis yang digelar Sumber Multivita. Pada kesempatan itu, Sumber Multivita sengaja menghadirkan pembicara Dr Drh I Wayan Teguh Wibawan, Dekan FKH IPB, ahli imunologi dan peneliti Avian Influenza (AI) sesuai dengan tema seminar yang diangkat yaitu Update Info Flu Burung Terkini. Sementara Drh Hadi Wibowo dari Litbang PT Sumber Multivita memberikan paparan tentang Imunomodulator. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 40 peternak yang tergabung dalam Grup Intan Jaya Abadi.
Drh Hadi Wibowo mengawali seminar tentang mengapa flu burung sangat menjadi perhatian utama pemerintah dan lembaga dunia. Tak lain karena bahaya flu burung jauh lebih besar daripada akibat Perang Dunia II. Dahulu di era tahun 1917-1918 dunia pernah dilanda Flu Spanyol dari subtipe H1N1. Flu jenis ini telah menyebabkan kematian 50 juta orang selama 18 bulan. Sementara PD II 1945-1948 yang berlangsung selama lebih kurang 3 tahun hanya menyebabkan kematian 8 juta orang, itu pun sudah termasuk akibat bom atom, dll. Inilah teror utama dunia yang paling ditakutkan bahwa wabah flu yang sama bahkan lebih ganas akan kembali terjadi.

Bebek Sebagai Sumber Penularan AI
“Bila diibaratkan virus AI itu adalah uang maka bebek itu adalah Bank Indonesia nya. Bisa dikatakan hampir semua jenis virus AI yang ada dilapangan bisa lestari dalam tubuh bebek atau itik,” demikian diungkapkan Drh Wayan T Wibawan mengawali paparannya yang berjudul Manifestasi subklinis virus AI pada ayam dan itik dan peluangnya sebagai sumber infeksi. Paparannya ini sekaligus sosialisasi temuan terbaru Wayan terhadap perkembangan virus AI di Indonesia.
Wayan melanjutkan, bebek memang dikenal sebagai hewan reservoir virus AI. Bebek bisa tahan terhadap virus AI tanpa menyebabkan sakit tetapi ia malah membawa dan menyebarkan virus itu kemana-mana.
“Sehingga jika kita ingin melihat cemaran virus AI di suatu daerah tidak hanya dilihat dari virus pada ternak ayamnya saja tetapi juga pada ternak bebeknya. Karena virus yang ada di bebek sama dengan virus yang ada di ayam,” ujar pria kelahiran Bali ini.
Lebh jauh, yang perlu diketahui dari struktur sebuah virus AI adalah komponen Haemaglutinin (H) dan Neuraminidase (N) nya. Namun yang terpenting adalah H-nya yang berfungsi sebagai alat menempel pada sel tubuh ayam, bebek atau manusia. Infeksi terjadi hanya bila virus bisa menempel pada sel.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah semua virus AI berbahaya? Jawabannya bisa sangat bervariasi, Wayan menjelaskan keganasan virus AI ditentukan oleh apa bahan penyusun H-nya. “Kalau H-nya mampu dipecah oleh enzim yang ada dalam tubuh ayam, kucing, manusia atau anjing barulah virus AI itu berbahaya bagi inangnya. Namun jika tubuh tidak memiliki enzim untuk memecah H virus AI ini maka virus AI tersebut tidaklah berbahaya dan tidak mampu menempel pada sel,” jelas Wayan.
Inilah yang menjelaskan mengapa pada manusia ada yang bisa terkena virus AI namun ada juga yang tidak. Bisa jadi orang yang terinfeksi AI H5N1 kebetulan memiliki enzim yang mampu memecah Haemaglutinin virus H5N1. Namun kita sebagai peternak tak perlu khawatir karena hingga saat ini belum pernah ditemukan kasus penularan atau kematian pada anak kandang yang notabene paling dekat bersentuhan dengan ayam. Dan lagi dari data hingga saat ini penularan virus AI dari unggas ke manusia belum terjadi secara intensif dan penularan flu burung antar manusia belum terjadi.
Kondisi di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari kita sangat dekat dengan unggas. Masih banyak orang yang memelihara ayam dengan diumbar, dan interaksi antar spesies seperti ayam dengan bebek, kucing, anjing dan manusia sangat dekat terjadi yang semakin memperburuk kualitas lingkungan.

Perlu Update Vaksin AI
Dari penelitiannya, Wayan memaparkan mudah sekali mengisolasi virus AI dari unggas yang secara klinis terlihat sehat. Yang kemudian ini disebut manifestasi subklinis virus AI. Pertanyaannya berbahayakah bagi manusia?
Penelitian Wayan dilakukan di wilayah Jawa Barat dan Banten karena akitivitas perunggasan paling besar terjadi di wilayah ini. Sampel diambil dari seputaran Kabupaten Tangerang, Serang, Lebak, Pandeglang, Cilegon, Bogor, dan Sukabumi. Temuan ini menunjukkan derajat kontaminasi virus AI di Jawa Barat yang cukup tinggi. Dan semua virus AI yang ditemukan pada unggas yang sehat termasuk dalam patotipe HPAI (highly pathogenic avian Influenza). Namun Wayan menegaskan bahwa temuan ini tidak berlaku umum untuk seluruh wilayah Indonesia. Mungkin untuk daerah luar Jawa tingkat kontaminasi virus AI jauh lebih rendah.
Lebih lanjut, Wayan juga menekankan bahwa material dari sawah tempat dimana bebek mengeluarkan shedding virusn AI kerap kali terbawa kedalam kandang melalui sekam. Sehingga Wayan menyarankan sebelum digunakan sekam dikeringkan dengan cara dijemur dan bila perlu disemprot desinfektan karena virus AI juga diketahui mampu bertahan lama kondisi basah.
Untuk memperkuat risetnya Wayan melakukan uji coba terhadap virus dari bebek untuk menginfeksi ayam dan bebek sentinel dalam lingkungan laboratorium BSL 3. Hasilnya virus dari bebek ini mampu menginfeksi ayam dan bebek dalam satu flok yang sama (cross infection). Dan dari hasil immunohistochemistry, virus AI dalam jumlah banyak bisa ditemukan ditrakea, ginjal, limpa, pankreas, usus halus, ovarium, dan isthmus.
Selanjutnya Wayan melakukan uji tantang virus yang diisolasi tahun 2006/2007 dari bebek, entog dan angsa di Sukabumi ditantang dengan vaksin dari isolat Legok tahun 2003. Hasilnya sungguh mengejutkan, ternyata titer antibodi yang dihasilkan yang seharusnya 26, hanya didapat 23 bahkan kadang-kadang 20. Kita ketahui titer antibodi yang tinggi saja belum tentu menjamin tingkat kekebalan, apalagi jika titer yang dihasilkannya rendah.
“Tentu yang salah disini bukan jenis vaksinnya, tetapi harus di update mengikuti perubahan virus di lapangan. Jika tidak di update, vaksinasi bisa jadi malah mubazir, karena antibodi dari vaksin sudah tidak bisa mengenali lagi virus lapang yang masuk,” ujar Wayan.
Namun Wayan kembali menegaskan bahwa temuan ini tidak berlaku umum bagi seluruh wilayah Indonesia. Ia hanya meyakinkan bahwa di Sukabumi ada virus AI lain yang tidak dikenal olah vaksin AI yang ada saat ini. Sehingga Wayan menekankan bahwa vaksinasi tidak dapat diletakkan sebagai satu-satunya pertahanan terdepan terhadap infeksi AI. Namun vaksinasi harus diletakkan dalam satu sistem bersama dengan tata laksana pertahanan penyakit yang lain seperti biosekuriti, perbaikan kualitas pakan, dan lain-lain.
Lebih lanjut Wayan juga menjelaskan tentang mekanisme turunnya produksi telur, dimana setelah virus AI masuk ke sel ovarium maka tubuh ayam akan mematikan sel ovarium tersebut bersama dengan virusnya agar tidak terjadi replikasi. Sel-sel mati tersebut akan dimakan oleh makrofag. Efeknya ke ayam sel-sel telur yang rusak akan menyebabkan turunnya produksi telur tanpa menyebabkan ayam tersebut sakit atau mati. Untuk lebih meningkatkan agresivitas sel-sel makrofag dalam memakan virus AI diperlukan bantuan dari luar contohnya imunomodulasi.
Diakhir presentasinya Wayan menyimpulkan bahwa infeksi subklinis pada unggas berperan sangat penting dalam penyebaran penyakit dan menjadi sumber infeksi bagi spesies lain.

Bantuan dari Imunomodulator
Menyambung uraian Wayan, Drh Hadi Wibowo mengungkapkan berbagai problem kesehatan unggas semakin kompleks dan ayam susah mencapai puncak produksi yang semuanya itu disebabkan masalah imunosupresi. Selain itu juga keharusan pemakaian vaksin AI inaktif semakin menambah problem kesehatan, olah karenanya diperlukan pendekatan baru, antara lain adalah Imunomodulasi.
Imunomodulasi adalah pengaturan (penyesuaian) respon imun sehingga mencapai tingkat yang dikehendaki. Sementara pengertian imunomodulator adalah obat atau bahan yang memiliki efek pada respon imun untuk melakukan imunomodulasi. Imunomodulator berfungsi meningkatkan kekebalan spesifik dan non-spesifik.
Lebih lanjut, kata Hadi, mekanisme kerja imunomodulator adalah dengan meningkatkan proses maturity (pematangan) sel-sel yang berperanan dalam imun respon. Selain itu imunomodulator juga meningkatkan proses proliferasi sel, terutama sel-sel macrophages dan lymphocyte, sehingga jumlahnya menjadi lebih banyak dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian jumlah antigen yang dapat diproses meningkat lebih banyak dan titer antibodi yang dihasilkan menjadi lebih tinggi.
“Imunomodulator juga mengaktifkan Secretory Macrophage untuk sekresi Complement Components, sehingga sistem Complement menjadi aktif dan melakukan eliminasi antigen dalam sel melalui pelisisan sel,” tambah Hadi Wibowo.
Aplikasi imunomodulasi umumnya digunakan untuk meningkatkan efektivitas vaksinasi dengan vaksin inaktif seperti AI, FMD, dll penyakit unggas. Juga untuk penyembuhan penyakit seperti HIV/AIDS dan kanker sekaligus meningkatkan resistensi tubuh terhadap serangan penyakit.
Lebih lanjut, papar Hadi, pemanfaatan imunomodulator pada peternakan unggas khususnya yang dipasarkan oleh PT Sumber Multivita dengan merek dagang FOLGEN akan meng-coating Antigen (Virus, Bakteri, Vaksin) agar mudah ditangkap/dihancurkan dengan sempurna oleh makrofag, untuk selanjutnya menstimulasi sel B untuk membentuk antibodi.
FOLGEN juga membantu meningkatkan pembentukan antibodi akibat vaksin atau tantangan lingkungan, meningkatkan kondisi umum unggas, membantu meningkatkan produktivitas unggas, dan menekan kematian unggas.
Seminar teknis ini juga dihadiri oleh pimpinan PT Sumber Multivita Drh Herlambang. “Saat ini lebih penting melakukan pencegahan penyakit daripada mengobati, manakala vaksin tak lagi bisa diandalkan maka memaksimalkan pemanfaatan organ-organ yang berfungsi bagi pertahanan tubuh adalah lebih baik. Diantaranya dengan pemanfaatan imunomodulator. Untuk itu sudah saatnya semua peternak untuk mencoba dan membuktikan hasilnya sendiri,” ujar Herlambang memberi motivasi kepada peserta yang hadir dan antusias mengikuti acara hingga akhir. (wan/adv)

ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi Telur

ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi Telur

(( Ada keterkaitan erat antara hasil jajak pendapat ini dengan jajak pendapat Infovet pada 29 responden tentang penyakit apa yang paling menyebabkan penurunan produksi telur dengan jajak pendapat pada 26 responden tentang faktor apa yang paling banyak menyebabkan gangguan penyakit non infeksius pada peternakan. ))

Hasil jajak pendapat 29 orang di website infovet.co.cc tentang penyakit apa yang paling menyebabkan penurunan produksi telur ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%)

Ada keterkaitan erat antara hasil jajak pendapat ini dengan jajak pendapat 26 orang di website infovet.co.cc tentang faktor apa yang paling banyak menyebabkan gangguan penyakit non infeksius pada peternakan adalah Pakan (46%), Bangunan Kandang (42%), Air (30%), Pencahayaan (23%), Pemanasan (23%), Peralatan (19%), Bibit (19%) dan Tempat Pakan (15%).

Keterkaitan itu adalah hasil jajak pendapat yang sesuai dengan topik yang dirancang Infovet untuk edisi ini tentang penyakit ND, EDS dan IB sebagai penyebab penurunan produksi telur kejadiannya tidak bisa dilepaskan dengan faktor-faktor non infeksius pakan, perkandangan dan air, disusul faktor-faktor lain.


ND

ND merupakan infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan disebabkan disebabkan virus Paramyxo dan dikualifikasikan menjadi beberapa strain. Strain yang sangat berbahaya (Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease/VVND) atau tipe Velogenik menyebabkan kematian bahkan hingga 100%.

Disusul tipe yang lebih ringan (Mesogenic) dengan kematian pada anak ayam mencapai 10% tapi ayam dewasa jarang mengalami kematian namun bergejala gangguan pernapasan dan saraf.

Tipe lemah (lentogenik) tidak menyebabkan kematian, namun produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek dengan gejala sedikit gangguan pernapasan.

Dengan demikian kita melihat penurunan produksi telur karena ND adalah disebabkan oleh tipe Mesogenik dan Lentogenik.

Kaitan antara terjangkitnya ND dengan faktor non infeksius tadi merupakan pengalaman peternak dan praktisi lapangan yang mendapati dan akhirnya punya tips pencegahan.

Drh Riga Guntara dari PT Lito Bina Medikantara menyatakan yang harus dilakukan untuk mencegah sangat infeksius ini dengan memelihara kebersihan kandang dan sekitarnya termasuk memperhatikan kebersihan para tamu yang suka berkunjung ke kandang harus harus mendapat perhatian sebagai sumber penyebaran, sinar matahari yang cukup dan ventilasi yang baik, memisahkan ayam lain yang dicurigai dapat menularkan penyakit ini dan memberikan ransum jamu yang baik, bahkan tamu .

Soal pakan yang paling banyak menjadi penyebab penyakit non infeksius, dalam suatu kesempatan Riga pun menyatakan kepada Infovet pakan sangat perlu diperhatikan. "Meskipun tidak secara sekaligus dapat langsung membunuh ayam, manajemen pakan harus dikontrol," katanya.

EDS

Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS disebabkan oleh virus EDS'76 dan umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu.

Akibat Akibat serangan virus EDS’76 produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu. Dengan sanitasi, biosecurity, desinfeksi, dan vaksinasi, kasus ini dapat diatasi.

IB

Infectious Bronchitis disebabkan oleh Corona virus yang menyerang system pernapasan. Pada ayam dewasa penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi pada ayam berumur kurang dari 6 minggu dapat menyebabkan kematian.

Informasi yang lain menyebutkan bahwa ayam yang terserang penyakit ini dan berumur di bawah 3 minggu, kematian dapat mencapai 30-40%. Penularan dapat terjadi melalui udara, peralatan, pakaian. Virus akan hidup selama kurang 1 minggu jika tidak terdapat ternak pada area tersebut. Virus ini mudah mati karena panas atau desinfektan.

Menurut sumber Infovet, gejala penyakit IB ini sangat sulit untuk dibedakan dengan penyakit respiratory lainnya. Pada periode layer akan didapatkan produksi telur yang sangat turun hingga mendekati nol dalam beberapa hari.

Untuk mengatasi masalah ini sanitasi merupakan faktor pemutus rantai penularan penyakit karena virus tersebut sangat rentan terhadap desinfektan dan panas. Pencegahan lain yang sangat umum dilakukan adalah dengan memberikan vaksinasi secara teratur.

Hal ini penting karena butuh waktu sekitar 4 minggu agar ayam kembali berproduksi, bahkan beberapa diantaranya tidak akan kembali ke normal akan tetapi berukuran kecil, cangkang telur lunak, bentuk telur menjadi tidak beraturan. (bbs/ YR)

Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras

Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras

(( Jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. ))


Produktivitas ayam buras yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C.

Ayam buras pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat
Demikian Gunalvan dan D.T.H. Sihombing dalam Wartazoa.

Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor.

Penurunan produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi fisiologis ayam. Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro, perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan.

Manipulasi kualitas pakan adalah metode yang paling murah, mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi . Metode ini berupa penambahan vitamin C, mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum.

“Disarankan jumlah penambahan vitamin C sebanyak 200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum pada fase pertumbuhan,” Gunalvan dan D.T.H. Sihombing menguatkan bahwa produksi telur ayam kampung pun sangat berpotensi memenuhi kebutuhan telur, apalagi dengan kelebihan telur ayam kampung dibanding telur ayam ras.

Narasumber Infovet yang lain menyatakan, telur ayam memang merupakan jenis makanan bergizi yang sangat populer dikalangan masyarakat yang bermanfaat sebagai sumber protein hewani. Hampir semua jenis lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi jenis makanan ini sebagai sumber protein hewani. Hal ini disebabkan telur merupakan salah satu bentuk makanan yang mudah diperoleh dan mudah pula cara pengolahannya.

Kata narasumber itu, telur menjadi jenis bahan makanan yang selalu dibutuhkan dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Pada gilirannya kebutuhan telur juga akan terus meningkat. Telur dihasilkan oleh jenis hewan unggas antara lain ayam, bebek, angsa, dan jenis unggas lainnya.

Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal orang. Selain itu ayam juga termasuk hewan yang mudah diternakkan dengan modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan hewan besar lainnya seperti sapi, kerbau dan kambing.

Produk ayam (telur dan daging) dan limbahnya diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Telur dan daging ayam yang diperlukan oleh ratusan juta manusia di dunia ini mengakibatkan tumbuhnya peternakan ayam skala kecil, menengah dan industri ayam modern hampir diseluruh dunia berkembang pesat.

Di samping semakin pentingnya peranan telur ayam ras dalam struktur konsumsi telur, telur ayam ras memiliki sifat permintaan yang income estic demand, bila pendapatan meningkat, maka konsumsi telur juga meningkat. Di masa yang akan datang, pendapatan per kapita per tahun akan meningkat terutama pada negara-negara yang saat ini negara yang berkembang dan sedang berkembang.

Dengan demikian konsumsi telur juga diperkirakan akan meningkat. Dengan memanfaatkan data proyeksi penduduk tiap tahun dan proyeksi konsumsi telur per kapita pada tahun yang sama, maka diperkirakan konsumsi telur pada tahun tersebut mencapai harapan.

Sementara itu, bila dilihat kecenderungan produksi telur ayam ras yang meningkat sebesar per tahun maka peluang pasar telur ayam pada tahun berikutnya akan terus meningkat. Peluang pasar ini diisi oleh telur ayam buras dan telur itik yang pangsanya masing-masing 15% dan selebihnya merupakan peluang pasar telur ayam ras. Peluang pasar ini belum termasuk pasar ekspor, baik dalam bentuk telur segar maupun powder. Tentu saja jangan lupakan ayam kampung di sini.

Akhirnya narasumber Infovet menyatakan, secara ekonomi pengembangan pengusahaan ternak ayam ras petelur di Indonesia memiliki prospek bisnis menguntungkan, karena permintaan selalu bertambah. Hal tersebut dapat berlangsung bila kondisi perekonomian berjalan normal. Lain halnya bila secara makro terjadi perubahan-perubahan secara ekonomi yang membuat berubahnya pasar yang pada gilirannya akan mempengaruhi permodalan, produksi dan pemasaran hasil ternak.

Di sini sekali lagi, jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. (bbs/ YR)

Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali

Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali


(( Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB. ))

Sumber di Glory Farm menyampaikan bahwa vaksinasi menurut breeder secara keseluruhan, vaksinasi yang paling banyak dilakukan adalah vaksinasi ND/IB Live. Untuk kesehatan vaksinasi ini sangat menjamin

Berdasar tulisan dr. Sauvani J Vaksinasi Standard Breeder, Glory Farm menyampaikan bahwa jika dibedah satu persatu maka akan didapatkan Vaksin ND –IB Live dilakukan dengan tetes mata pada hari pertama diikuti dengan injeksi subcutan pada hari kelima. Pengulangan berikutnya sangat sering terutama setelah umur 20 minggu, vaksinasi ini dilakukan setiap 5 minggu melalui air minum.

Selanjutnya Vaksinasi Gumoro dilakukan 2 kali melalui air minum dengan selang 10 hari dan pada vaksinasi kedua dilakukan vaksinasi ND-IB Live melalui air minum pula.

Kemudian Vaksinasi Coryza secara injeksi intramuskuler dilakukan pada minggu ke 7 dan diulang pada minggu ke 12 dan 17.

Lantas Vaksinasi Pox dan ILT diberikan pada hari yang sama dan vaksin ILT diberikan melalui air minum.

Disusul Vaksinasi triple yaitu ND+IB+EDS dilakukan pada minggu ke 15 sebelum ayam masuk ke kandang baterai.

Berikutnya, Vaksinasi ND Kill yang dilakukan dengan injeksi intramuskuler dilakukan secara berulang dimulai pada umur 20 minggu diulang setiap 6,5 bulan (26 minggu) kemudian.

Bagaimana dengan pertanyaan segi finansial dari begitu banyaknya vaksinasi yang dilakukan dengan rentang waktu yang cukup pendek belum lagi pemberian obat-obatan lainnya? Sebuah pertanyaan yang pastut diajukan untuk kita bersama.

Ada narasumber yang berkata hal itu sangatlah memusingkan dan tidak memungkinkan untuk melakukan semuanya walaupun vaksin ND-IB tergolong vaksin yang tidak mahal. Ada lagi yang bilang Vaksinasi Cocci tidak dilakukan mungkin mengingat pakan yang diberikan sudah mengandung koksidiostat.

Bagaimana menurut Anda? Sumber Glory Farm sendiri menyampaikan mempunyai program vaksinasi itu. Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB.

Vaksinasi ND + IB

Vaksinasi ND dan IB ini menurut sumber di Glory Farm adalah untuk menimbulkan kekebalan ayam terhadap infeksi ND dan IB. “Pada area peternakan kami saat ini bukan merupakan daerah yang endemis ND maupun IB, namun karena letak peternakan kami berdekatan dengan peternakan yang lain, maka sebagai antisipasinya mereka selalu melakukan vaksinasi ini. Kami melakukan vaksinasi ini dengan dua cara yaitu tetes mata dan injeksi intramuskular pada otot dada,” kata sumber tersebut.

Vaksinasi IB

Selain merupakan gabungan dengan ND, sumber di Glory Farm juga melakukan vaksinasi IB dengan memberikannya pada air minum. Vaksinasi ini mereka berikan pada ayam umur 35 hari dan 13 minggu.

Vaksinasi ND La Sota

Sumber di Glory Farm Vaksin menyatakan ND La Sota dilakukan pada anak ayam umur 4 hari, 28 & 29 hari, hari ke 56 & 57, minggu ke 12 dan minggu ke 16. Metode pemberian vaksinasi ND La Sota ini ada 2 macam yaitu melalui air minum dan injeksi intramuskuler pada otot dada.

Sumber itu sengaja memberikan kedua metode tersebut pada hari ke 28 & 29 serta hari ke 56 & 57 hanya untuk memastikan bahwa kekebalan yang terbentuk dapat sempurna. Namun tidak menutup kemungkinan jika anda yang ingin mengadopsi program vaksinasi ini tidak memberikan vaksinasi ND metode air minum namun cukup dengan melakukan injeksi intramuskuler otot dada saja.

Vaksinasi ND + IB + EDS (Vaksinasi Triple)

Sumber di Glorya Farm menyampaikan vaksinasi ini dilakukan tepat sebelum ayam layer masuk ke kandang baterai yaitu pada usia 16 minggu. Cara vaksinasi sama dengan injeksi intramuskuler pada dada ayam (vaksin ND + IB pada ayam usia 30 dan 50 minggu).
(gloryfarm/ YR)

Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus AI

Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus AI


(( Penelitian para ahli tidak semata-mata tertuju pada virus AI saja, namun juga pada virus EDS dan ND, setidaknya untuk pembanding. ))


Penelitian mengenai isolasi dan karakterisasi virus Highly Pathogenic Avian Influenza dari ayam asal wabah di Indonesia telah dilaksanakan di Balai Penelitian Veteriner. Wabah penyakit unggas sangat patogenik telah terjadi di Indonesia sejak bulan Agustus 2003 menyerang ayam petelur komersial, pedaging, burung puyuh, dan burung unta serta ayam buras dengan gejala klinis antara lain kebiruan pada jengger dan pial, leleran hidung dan hipersalivasi, ptechiae subkutan pada kaki dan paha, diarre dan kematian tinggi yang mendadak.

Sumber di Balai Penelitian Pengembangan Peternakan menyebutkan penelitian oleh para peneliti Balitvet Agus Wiyono, R. Indriani, N.L.P.I. Dharmayanti, R. Damayanti, L Parede, T. Syafriati Dan Darminto ini adalah untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi agen penyebab wabah penyakit unggas. Untuk itu, dari ayam yang sedang terkena wabah penyakit unggas dikoleksi sampel berupa serum, folikel bulu, swab trakhea, dan organ berupa proventrikulus, usus, caecal tonsil, trakhea dan paru-paru.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa agen penyebab wabah penyakit pada unggas di Indonesia adalah virus avian influenza subtipe H5. Hasil penelitian ini merupakan dasar bagi pelaksanaan penelitian lainnya seperti penelitian pengembangan uji serologi dan pengembangan vaksin.

Penelitian para ahli tidak semata-mata tertuju pada virus AI saja, namun juga pada virus EDS dan ND, setidaknya untuk pembanding. Sampel serum diuji haemaglutination/haemaglutination inhibition (HA/HI) terhadap virus Newcastle Disease (ND) dan Egg Drop Syndrome (EDS) untuk mengetahui status kesehatan pada flok tertular. Isolasi virus penyebab wabah penyakit dilaksanakan terhadap sampel folikel bulu, swab trakhea dan organ menggunakan telur specific pathogen free (SPF) tertunas berumur 11 hari.

Oleh para ahli itu, virus selanjutnya dikarakterisasi dengan agar gel precipitation test menggunakan antisera referens swine influenza dan dengan uji HI menggunakan referens antisera H1 hingga H15, dan dengan pemeriksaan menggunakan mikroskop elektron. Patogenitas isolat virus diuji dengan intravenous pathogenicity index (IVPI) test dan dengan diinfeksikan pada biakan sel primer Chicken Embryo Fibroblast tanpa penambahan tripsin.

Hasil penelitian Balitvet ini menunjukkan bahwa agen penyebab wabah penyakit unggas di Indonesia adalah virus avian influenza subtipe H5 berdasarkan uji serologi, isolasi dan karakterisasi virus menggunakan antisera referen swine influenza dan dengan pemeriksaan mikroskop elektron.

Sedangkan berdasarkan hasil karakterisasi.para peneliti Balitvet itu: Isolasi dan karakterisasi virus highly pathogenic avian influenza subtipe H5 dari ayam asal wabah di Indonesia menggunakan antisera referen H1 hingga H15 menunjukkan bahwa kemunginan besar subtipe virus avian influenza tersebut adalah H5N1. Uji patogenitas terhadap isolat virus menunjukkan bahwa virus tersebut sangat patogen pada hewan percobaan.

Alhasil dengan penelitian AI yang dalam mencari sifat virusnya juga menggunakan virus EDS dan ND para ahli itu berpendapat langkah Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan program vaksinasi dengan menggunakan biang virus yang homolog untuk penanggulangan wabah merupakan keputusan yang tepat namun langkah tersebut harus diikuti dengan surveilen dan monitoring dinamika virus yang terprogram dan terkoordinir secara nasional. (litbangnak/ YR)

Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur

Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur

(( Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab turunnya produksi telur, diharapkan peternak dapat mengambil tindakan antisipasi agar ayam telur yang dipeliharanya menghasilkan telur sesuai kurva produksi standar.))

Naiknya harga berbagai input produksi ayam petelur seperti misalnya pakan, bibit DOC, listrik, transport dan sebagainya telah mendorong usaha peternakan untuk berproduksi lebih efisien guna mendapatkan hasil yang optimal. Guna mencegah kerugian dan mengoptimalkan ongkos produksi tak lain produktivitas ternak harus ditingkatkan atau paling tidak dijaga jangan sampai turun produksinya.
Pertanyaan yang sering diajukan oleh peternak adalah “Mengapa produksi telur ayam saya menurun?” Jawaban pertanyaan ini ternyata tidak semudah yang diduga. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur yang turun, yaitu: kualitas telur itu sendiri, mutu bibit, kecukupan nutrisi, kesehatan ayam, kondisi lingkungan, dan tatalaksana pemeliharaan.
Agar produksi telur mencapai optimal maka harus disertai dengan konsumsi ransum yang cukup. Nafsu makan yang turun dapat menghasilkan berat telur yang rendah. Produksi telur tidak hanya bergantung pada berat badan yang tercapai saat memulai produksi telur, tetapi juga pada perkembangan saluran pencernaan dan reproduksi.

Lebih Akrab dengan Penyebabnya
Permasalahan yang sering dialami peternak adalah produksi telur rendah atau penurunan produksi telur secara tiba-tiba. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, banyak faktor yang dapat menyebabkan produksi telur turun dan seringkali faktor-faktor tersebut terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap ukuran dan kualitas telur.
Penyebab umum menurunnya produksi telur meliputi: kurangnya lama penyinaran, nutrisi tidak cukup, penyakit, dan umur yang semakin tua dan stres.
Kualitas ransum yang jelek, nutrisinya kurang atau tidak seimbang dengan ransum, mengandung zat racun dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Kadar protein, energi, dan kalsium sangat perlu diperhatikan. Selain itu, jika ayam tidak cukup memperoleh air minum, penurunan produksi juga terjadi.
Kurangnya lama penyinaran tidak akan merangsang hormon reproduksi agar ayam mulai bertelur. Suhu terlalu panas akan mengurangi konsumsi nutrisi dari ransum yang diperlukan untuk pembentukan telur.
Ventilasi yang jelek akan meningkatkan kadar amonia. Kandang terlalu padat serta umur ayam semakin tua juga mempengaruhi produksi telur. Penyakit seperti EDS, ND, IB, dll juga dapat menurunkan produksi telur.

Lama Pencahayaan
Ayam petelur membutuhkan lama pencahayaan selama 16 jam untuk mempertahankan produksi telur, sedangkan lama pencahayaan alami dari sinar matahari biasanya berlangsung hanya selama 12 jam Jika lama pencahayaan kurang, maka produksi telur akan turun dan bahkan bisa sampai berhenti. Kekurangan lama pencahayaan seringkali menyebabkan rontok bulu dan ayam berhenti bertelur selama sekitar dua bulan. Untuk mengatasi hal ini, berikan cahaya tambahan untuk meningkatkan lama pencahayaan tetap konstan 16 jam per hari. Penambahan cahaya cukup 3 watt tiap m2 luas kandang. Penambahan cahaya dilakukan secara bertahap. Salah satu program pencahayaan adalah dengan menaikkan lama pencahayaan 1 jam tiap 2 minggu sehingga pada umur 28 minggu ayam sudah mendapat cahaya tambahan selama 4 jam semalam.

Nutrisi yang Seimbang
Ayam telur membutuhkan ransum dengan nutnsi seimbang untuk mempertahankan produksi telur selama masa produksi. Nutrisi yang tidak tepat dapat menyebabkan ayam berhenti bertelur.
Masalah yang sering terjadi adalah tidak tersedianya air minum yang bersih dan segar. Ayam tanpa air minum hanya selama beberapa jam dapat berhenti bertelur sampai berminggu-minggu. Oleh karena itu, sediakan tempat minum dalam jumlah cukup sehingga ayam selalu memperoleh air minum yang segar.
Kadar energi, protein, atau kalsium yang tidak cukup juga dapat menurunkan produksi telur. Sangat penting menyediakan ransum mengandung nutrisi seimbang pada masa produksi dengan kadar protein 16-18%. Namun nutrisi dalam ransum seringkali rusak akibat penanganan dan penyimpanan yang kurang tepat. Dua jenis asam arnino penting yaitu methionine dan lysine perlu ditambahkan dalam ransum karena ransum seringkali kekurangan asam amino tersebut. Bila mutu ransum kurang baik, tambahkan premiks untuk rneningkatkan mutu ransum.
Ayam telur dapat menghasilkan sekitar 300-325 butir telur tiap tahun sehingga membutuhkan kalsium sebanyak 20 kali jumlah kalsiurn yang ada di dalam tulangnya. Dibutuhkan 25 mg kalsium tiap menit untuk membentuk kerabang telur. Kebutuhan vitamin D perlu tercukupi agar penyerapan kalsium dan fosfor berlangsung baik. Pemberian mineral feed supplement dapat membantu memperkuat kerabang telur.
Selain penyinaran tambahan, nutrisi dan ransum ayam masa produksi juga memerlukan vitamin tambahan. Vitamin tambahan diperlukan karena vitamin juga terbawa bersama dengan keluarnya telur dari tubuh ayam. Selain itu. akibat perubahan cuaca atau susunan ransum, ayam memerlukan vitamin tambahan untuk mencegah stres. Agar dapat mencapai tingkat produksi telur yang maksimal. Diperlukan Egg Stimulant. Egg Stimulant berguna untuk mempercepat tercapainya produksi telur yang maksimal sekaligus mempertahankan produksi telur tetap tinggi.

Lelah Kandang
Lelah kandang (disebut juga cage layer fatigue atau osteoporosis) sering terjadi pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai. Namun lelah kandang juga dapat terjadi pada ayam yang dipelihara dengan lantai litter akibat ketidakcukupan kalsium, fosfor dan atau vitamin D.
Pembentukan kerabang telur membutuhkan kalsium dalam jumlah banyak, dan dipenuhi melalui penyerapan kalsium dari tulang. Normalnya, kalsium tersebut akan diganti dari kalsium dalam ransum. Namun pada saat terjadi kekurangan kalsium, fosfor, dan atau vitamin.D, penggantian kalsium ini, tidak berlangsung dengan baik. Akibatnya tulang menjadi keropos. Kondisi ini diperparah dengan perkembangan kerangka kurang optimal pada ayam telur yang dipelihara dalam kandang baterai karena kurangnya pergerakan.
Ayam yang mengalami lelah kandang berarti kekurangan kalsium dalam tulang dan akan segera menghentikan produksinya. Gejala-gejaia lelah kandang meliputi kelumpuhan, patah tulang, bentuk tulang berubah. dan kerabang telur retak. Untuk mencegah lelah kandang, berikan vitamin dan mineral feed suplement.

Penyakit
Serangan penyakit masih dapat terjadi meskipun ayam dalam kondisi terbaik. Penurunan produksi telur seringkali merupakan salah satu gejala awal adanya serangan penyakit. Gejala lainnya dapat berupa lesu dan bulu kusam, mata berair, keluar ingus dari hidung, batuk, rontok bulu, pincang, sampai kematian. Jika peternak rnelihat seekor ayam sakit, lakukan isolasi atau pengafkiran dan amati keseluruhan populasi secara teliti. Jika curiga ada serangan penyakit, segera hubungi dokter hewan setempat agar dapat membantu memeriksa sehingga diperoleh diagnosa dan pengobatan yang akurat.
Pada umumnya, saat ayam terkena penyakit apapun, maka produksi telur akan terganggu. Penyakit yang secara langsung dapat menyebabkan penurunan produksi telur. di antaranya adalah: EDS, ND, IB, CRD dan colibacillosis. Penyakit ND dan IB menurunkan kualitas kerabang dan bagian dalam telur. EDS menyebabkan kerabang telur sangat tipis sehingga telur mudah pecah, sedangkan ND dan IB dapat merusak saluran produksi.
Ayam yang terserang EDS tetap tampak sehat, tidak memperlihatkan gejala sakit tetapi terdapat penurunan produksi secara drastis disertai penurunan kualitas telur. Produksi telur turun sebesar 20-40% selama 10 minggu. Untuk mencegah EDS, lakukan vaksinasi pada umur 16-18 minggu bisa dengan vaksin kombinasi.
Penyakit ND dapat menyebabkan produksi telur turun diikuti penurunan kualitas telur, yaitu kerabang telur menjadi tipis dan kadang-kadang ditemukan telur tanpa kerabang. Produksi telur dapat mendekati produksi normal setelah 3-4 minggu, tetapi kebanyakan tidak pernah kembali normal.
Untuk mencegah ND, lakukan vaksinasi ND secara teratur. Selama program vaksinasi, berikan vitamin selama 2 hari sebelum dan sesudah vaksinasi untuk mencegah stres.
Penyakit utama yang menyebabkan produksi telur turun secara drastis adalah IB. Virus IB (corona virus) menyerang membran mukosa saluran pernapasan dan reproduksi. Jika menyerang ayam muda maka kerusakan saluran reproduksi akan bersifat permanen.
Sejumlah strain virus IB juga menyebabkan gangguan pada ginjal. Akibatnya tidak hanya kualitas kerabang telur terganggu namun juga bagian dalam telur. Putih telur (albumin) menjadi seperti cairan bening (transparan). Bentuk kerabang telur menjadi tidak normal. Selain itu, warna coklat pada kerabang telur coklat akan memudar. Pada telur dapat pula ditemukan gumpalan kecil darah yang disebut blood spot. Untuk mencegahnya, lakukan vaksinasi IB pada umur 4 hari dan diulangi pada umur 19-21 hari dengan vaksin tunggal atau kombinasi. Vaksinasi selanjutnya dilakukan pada umur 8 minggu kemudian diulang tiap 3 bulan.
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit EDS, ND, dan IB. Hanya dengan strategi vaksinasi yang tepat dan diimbangi dengan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang benar, niscaya ketiga penyakit tersebut dapat dihindari.
CRD dan colibacillosis merupakan penyakit yang hampir selalu ada di peternakan, Baik CRD maupun colibacillosis juga dapat mengganggu produksi telur. CRD dapat mengganggu proses pernapasan ayam sehingga suplai oksigen ke dalam tubuh ayam akan berkurang. Hal tersebut akan berpengaruh pada kesehatan dan metabolisme dan berakibat pada penurunan produksi telur. Colibacillosis dapat menginfeksi saluran telur maupun calon telur.

Umur Ayam
Umur yang semakin tua dapat berpengaruh pada produksi telur. Pengaruh ini sangat bervariasi di antara individu ayam. Ayam dapat berproduksi secara efisien selama dua siklus masa bertelur. Setelah dua atau tiga tahun, produktivitas akan menurun. Secara umum, produksi telur paling baik selama tahun pertama, namun ayam telur yang berproduksi tinggi dapat berproduksi cukup baik selama 2-3 tahun. Kondisi ini berbeda pada setiap strain ayam. Ayam telur yang berproduksi tinggi akan bertelur selama sekitar 50-60 minggu tiap siklus masa bertelur. Di antara siklus produksi telur akan disela dengan masa istirahat yaitu rontok bulu (molting). Afkir ayam telur yang produksi telurnya sudah tidak ekonomis lagi.
Rontok bulu adalah proses alami sebagai cara unggas memperbaharui bulunya. Selain sebagai tanda berhentinya produksi telur, rontok bulu juga dapat terjadi kapan pun terutama saat ayam mengalami stres berat. Kasus rontok bulu yang cepat pada seluruh populasi biasanya merupakan gejala bahwa telah terjadi sesuatu yang serius (misalnya: kekurangan air minum atau sangat kedinginan).

Stres
Stres dapat menyebabkan turunnya produksi telur. Agar produksi telur tidak turun, berikan multivitamin selama 5 hari berturut-turut.
Stres yang biasa terjadi meliputi:
1. Kedinginan
Stres yang paling sering selama musim hujan adalah kedinginan. Pastikan ayam mendapat perlindungan dari angin dan hujan selama musim hujan namun jangan sampai menutup terlalu rapat sehingga menyebabkan tingginya kadar amonia. Jika tercium bau amonia, inilah saatnya meningkatkan lubang udara di dalam kandang. Ayam tidak dapat bertahan dalam kondisi lembab dan terlalu banyak angin.
2. Kepanasan
Dalam cuaca panas, ayam akan lebih banyak minum dan mengurangi konsumsi ransum sehingga kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi telur turun karena kebutuhan energi dan protein harian tidak tercukupi. Dalam kondisi lingkungan panas, fisiologi tubuh ayam akan mengubah prioritasnya dari semula untuk produksi telur menjadi untuk bertahan hidup. Oleh sebab itu, saat cuaca panas perlu tambahan vitamin supaya produksi telur tidak terganggu.
3. Penangkapan dan pemindahan
Batasi pemindahan atau penangkapan yang tidak perlu. Populasi yang terlalu padat dapat meningkatkan kanibalisme dan akhirnya stres pada ayam.
4. Parasit
Jika ada parasit eksternal dan internal, berikan pengobatan yang sesuai.
5. Ketakutan
Batasi suara ribut orang-orang dan suara kendaraan di sekitar kandang untuk mencegah ayam ketakutan.

Sebagai kesimpulan, produksi telur yang turun dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari mutu ransum, tatalaksana pemeliharaan, sampai adanya serangan penyakit dapat menurunkan produksi telur.
Perlindungan terbaik terhadap penyakit diawali dengan membeli DOC atau pullet yang sehat. Hindari pelihara ayam dengan umur yang tidak seragam. Kontrol terhadap lama penyinaran dan berat badan pada ayam pullet sangat menentukan permulaan produksi telur. (inf/bbs)


MASALAH KEMUNGKINAN PENYEBAB
Produksi telur tiba-tiba turun. Stres karena bermacam-macam sebab seperti potong paruh, setelah pemberian obat cacing, penggantian ransum, setelah vaksinasi.
Ransum bermutu jelek.
Ayam terserang penyakit.
Produksi dan mutu telur turun. Ayam terserang penyakit seperti EDS ‘76, IB, pullorum atau ND.
Produksi telur turun tetapi mutu telur tidak turun. Ayam terserang penyakit AE.
Ayam sedang dalam pergantian bulu (rontok bulu).
Ayam stres karena berbagai hal.
Ayam kekurangan air minum, tempat minum banyak yang kosong.
Tempat air minum letaknya terlalu rendah atau tinggi.
Pencahayaan tidak tepat.

Jangan Lupakan Tubuh Ayam

Jangan Lupakan Tubuh Ayam

(( Membahas produksi telur ayam jangan lupakan anatomi dan faali ayam, sebagai dasar bagi kita agar kuat memahami bagaimana ternak ini berproduksi dan terjaga produksinya. ))


Kerangka unggas ringan tetapi kuat, sesuai dengan keperluannya untuk terbang dan berjalan. Adapun tengkorak unggas kecil dengan hubungan antartulang yang kuat, berhubungan dengan atlas yaitu tulang pertama columna vertebrae (susunan luas tulang belakang).

Menurut sumber di Universitas Terbuka, tulang-tulang pinggang dan punggung unggas saling berhubungan dengan erat, merupakan tempat melekatnya otot-otot yang digunakan untuk terbang, dan untuk menahan tekanan. Ujung pasterior tulang pubis dan ujung posterior sternum digunakan untuk memperkirakan daya bertelur pada kegiatan culling ayam.

Selanjutnya menurut sumber yang sama, tulang-tulang unggas yang bersifat pneumatik berhubungan dengan sistem pernapasan. Tulang-tulang pneumatik terdapat pada humeras, tulang-tulang kepala klavicula as sternum, vertebrae lumbales dan os sacrum.

“Unggas mempunyai tulang-tulang meduler yang digunakan untuk menimbun kasium. Tulang-tulang meduler terdapat pada tibia, femur, pubis, tulang-tulang rusuk ulna, tulang-tulang telapak kulit dan scapula,” kata sumber di UT.

Sistem pencernaan unggas sendiri, sederhana jika dibandingkan dengan ruminansi dalam arti hanya sedikit tempat tersedia bagi kehidupan mikrorganisme ynag dapat membantu pencernaan makanan.

Karena unggas tidak bergigi akan pengunyahan makanan tidak terjadi di mulut. Di tembolok, makanan dilunakkan dan mulai dicerna. Di perut pengunyah, makanan dipecah dan digiling. Makanan terutama dicerna dan diabsorp (diserap) oleh usus halus.

Berbeda dengan vertabrata lainnya, unggas memiliki kloaka yaitu ruang pertemuan dari tiga saluran, pencernaan, urinaria dan reproduksi.

Sistem reproduksi unggas jantan berupa testes ductus (vas) deferens, dan ogan kopulasi yang bentuknya rudimenter. Unggas tidak mempunyai penis. Sperma diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens yang bermuara pada papilla. Perkawinan unggas jantan dengan unggas betina pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan pemancaran sistem yang mengandung sperma.

Sistem reproduksi unggas betina terdiri atas ovarium dan oviduk. Ovarium yang mengandung sekitar 1.000-3.000 folikel dan di dalam folikel terdapat kuning telur (yolk). Ukuran folikel berkisar dari yang mikrokopik hingga yang sebesar yolk, tergantung pada tingkat kemasakan yolk di dalamnya. Setelah sebuah yolk diovulasikan, kemudian diterima oleh infudibulum dan melewati bagian-bagian lain dari oviduk, menjadi telur yang sempurna yang dikeluarkan melalui anus.

Menurut sumber Infovet yang lain, kuning telur (yolk) dari ayam yang diimunisasi (divaksin) sudah sangat terkenal sebagai salah satu sumber antibodi. Produksi immunoglobulin yolk (IgY) dengan memanfaatkan kuning telur ayam sebagai pabrik biologis mempunyai beberapa keunggulan. Ayam memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap pemaparan antigen asing, sehingga sistem imun ayam sangat responsif dan persisten untuk produksi IgY


Faali Ayam

“Sistem pencernaan unggas berfungsi mencerna dan mengabsorpsi zat-zat makanan serta mengeluarkan sisanya yang tidak dapat dicerna melalui anus, “ ungkap Sumber di Universitas Terbuka

Menurut sumber UT ini, unggas tidak bergigi dan sebagai-gantinya maka makanan yang besar atau yang keras digiling di dalam perut pengunyah. Di situ makanan dipecah menjadi partikel-partikel kecil.

Pankreas menghasilkan HCl dan pepsin, sedangkan hati menghasilkan empedu. Zat-zat yang dihasilkan oleh kedua organ pencernaan tambahan ini memberikan lingkungan yang baik bagi terjadinya reaksi-reaksi pencernaan yang bersifat enzimatis.

Penyerapan zat-zat makanan sebagian besar terjadi di dalam usus halus (duodenum) karena permukaan dinding usus ini diperluas oleh adanya lipatan-lipatan dan villi, zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna, tidak banyak bermanfaat bagi unggas karena mikroorganisme (bakteri) yang seharusnya membantu pemecahan bahan-bahan makanan tidak mempunyai tempat khusus, dalam sistem pencernaan unggas. Hal ini sangat berbeda dengan ruminansia.

Air sebagai zat makanan yang berada di dalam bahan makanan tersisa, diserap kembali oleh dinding usus besar dan dimanfaatkan kembali oleh tubuh unggas.

Seperti halnya unggas betina, sistem produksi unggas jantan (termasuk ayam) dipengaruhi oleh intesitas cahaya dan kerja hormon-hormon reproduksi.

Sistem reproduksi unggas betina melibatkan kegiatan interaksi kerja berbagai macam hormon reproduksi yang dipengaruhi oleh banyaknya cahaya yang diterima oleh kelenjar pituitari. Cahaya yang sangat kurang dapat menghentikan kegiatan.

Dengan demikian kita lebih kenal Sang Ayam Produsen Telur untuk kesehatan kita.
(UT/ YR)

EDS dan Vaksin Lokal

Fokus
EDS dan Vaksin Lokal

(( Apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak? ))

Penurunan produksi telur merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi oleh peternak ayam pembibit maupun petelur. Di antara sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan penurunan produksi telur adalah penyakit Egg Drop Syndrome'76 (EDS'76).
Sumber di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga Surabaya menyatakan uji hambatan hemaglutinasi (Hemagglutination Inhibition, HI) merupakan salah satu cara pemeriksaan serologis yang sering dilakukan, karena mudah dan praktis serta mempunyai nilai keakuratan yang tinggi.
Hanya saja, kata Drh Nanik Sianita Widjaja dalam penelitiannya, yang menjadi kendala, antigen EDS'76 untuk uji HI, tetapi baru dalam taraf membandingkan titer hemaglutinasi (HA) dan stabilitasnya setelah penyimpanan pada suhu 4 derajat C.
Menurutnya permasalahannya sekarang adalah apakah antigen EDS' 76 inaktif buatan lokal untuk uji HI dapat digunakan dalam membedakan antara ayam yang mempunyai antibodi EDS' 76 atau tidak?
Lalu, berapa antibodi dalam serum ayam yang divaksin EDS'76 inaktif atau diinfeksi virus EDS'76 masih dapat dideteksi dengan uji HI menggunakan antigen EDS'76 inaktif buatan lokal?
Kemudian, apakah ada perbedaan hasil antara antigen EDS'76 inaktif buatan lokal dan antigen EDS' 76 aktif bila digunakan untuk mengukur titer antibodi EDS'76 pada serum ayam dengan uji HI?
Dari hasil penelitiannya, Drh Nanik Sianita Widjaja menyatakan kesimpulan antigen EDS'76 inaktif dapat digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi EDS'76. Tetapi, tidak dapat digunakan untuk membedakan antara antibodi akibat vaksinasi atau terinfeksi virus EDS' 76.
Maka, kata Nanik Sianita, “Perlu dipikirkan kemungkinan membuat antigen EDS' 76 yang dapat membedakan antara antibodi akibat vaksinasi ataukah terinfeksi virus EDS' 76.”

Vaksin Lokal
Penelitian vaksin hewan termasuk vaksin EDS’76 untuk ayam ini di Indonesia memang telah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian departemen dan nondepartemen, serta produsenvaksin hewan baik milik pemerintah maupun swasta.
Adapun, lembaga penelitian pemerintah yang punya wewenang untuk menghasilkan vaksin adalah Balai Balai PenelitianVeteriner (Balitvet) sebagai lembaga penelitian penyakit hewan tertua di Indonesia.
Beberapa vaksin lokal ini mempunyai efektivitas yang lebih baik, antara lain vaksin IBD aktif intermediate isolat lokal.Vaksin ini dikembangkan dari isolat virus IBD lokal yang ganas yang mewabah di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Galur virus lokal ini mempunyai karakteristik molekuler yang berbeda dengan virus vaksin IBD yang diimpor, di mana vaksin impor tersebut tidak dapat melindungi wabah IBD di Indonesia
Vaksin IBD lokal dikembangkan oleh Dr Drh Lies Parede dari Bbalitvet berbagai uji coba dan dapat melindungiserangan wabah IBD di Indonesia. Dr Drh Darminto Kepala BaBalitvet juga telah mengembang-kan vaksin IB inaktif untuk ayam yangmempunyai keunggulan komparatifdibanding vaksin IB inaktif impor, karenaberasal dari isolat virus lokal yang berbedadengan virus vaksin.
Badan Tenaga Nuklir Nasional(BATAN) juga telah berhasil menelitivaksin ayam coccidia melalui proses radiasi. Beberapa perguruan tinggi sepertiInstitut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga mempunyai pengalaman dalam menelitidan memproduksi vaksin hewan dalamskala terbatas terutama vaksin ND.
Perguruan tinggi sebenarnyamempunyai potensi yang besar untukberperan sebagai produsen vaksin, tetapi dibatasi oleh masalah dana, sarana dan prasarana serta peraturan perundangan. Prof Dr Drh Masdoeki Partadiredja almarhum jauh hari mengemukakan bahwa status otonomi beberapa perguruan tinggi membuka peluang bagi perguruan tinggiuntuk mendirikan badan usaha yang bergerak dalam bidang produksi vaksin dan bahan biologis veteriner lainnya.
Sekarang telah terbukti, FKH-IPB berhasil membentuk perusahaan terbatas yang memproduksi vaksin avian influenza (AI). Dengan demikian, semakin kuat keberadaan para peneliti kita dalam menguji dan mengambangkan vaksin dalam negeri. Penelitian-penelitian semacam di awal tulisan ini menjadi sangat berarti. (FKHUnair/Bbalitvet/YR)

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur


(( Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius, diagnosa menurut sumber Disnak Sumatera Barat Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD. ))


Berdasar hasil jajak pendapat Infovet terhadap 29 responden tentang penyakit yang paling menyebabkan penurunan produksi telur adalah: ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%), Infovet menyusun tiap penyakit ini terkait kasus penurunan produksi menjadi trend saat ini.

Sumber peternakan di Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat faktor penting yang mempengaruhi penurunan produksi telur adalah strain ayam layer modern yang mengalami seleksi genetika untuk mencapai penampilan produksi yang maksimal.

Ayam layer dengan karakter dan genetik yang baru ini, kata Drh Asrul Anwar, “Sangat peka terhadap penurunan produksi telur baik akibat kegagalan manajemen, fluktuasi nutrisi pakan, maupun kasus penyakit. Pola penurunan produksi berbeda baik segi intensitas / keparahan kasus, kompleksitas, dan frekuensi kasus. Agar produksi dapat kembali mencapai standard, diperlukan diagnosa lebih teliti.”

Di lain pihak, Drh Asrul Anwar menyarankan para peternak harus memelihara lingkungan, menjalankan manajemen yang baik dan memberikan pakan yang berkualitas agar ayam mencapai potensi genetiknya.

Drh Asrul Anwar menyatakan di lapangan penyebab penurunan produksi bervariasi. Ada 2 kelompok besar, kasus infeksius dan non infeksius. Kasus Infeksius terdiri atas Virus: AI, ND, IB, ILT, EDS; lalu Bakteri: Coryza, E. Coli, Pasteurella, Pseudomonas, Clostridium, Mycoplasma; kemudian Parasit: Leucocytozoon sp, Helminthiasis.

Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius perlu diketahui manifestasi klinisnya. Diagnosa menurut Drh Asrul Anwar itu Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD.


Kasus ND

Menurut Drh Asrul Anwar Kasus Newcastle Diseases atau ND dapat menyebabkan penurunan poduksi tergantung pada status kekebalan tubuh ayam. Penurunan produksi pada kasus ini cepat tetapi kenaikan kembali produksi lambat. Pada telur dari ayam penderita ND, variasi warna kerabangnya lebih kecil dari IB, yakni

Kasus EDS

Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS menurut Drh Asrul Anwar umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu.

“Produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Pengujian patologi anatomis dapat dijumpai oedema pada uterus,” kata Drh Asrul Anwar pada sumber Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat itu.


Kasus IB

Terjadinya kasus Infectious Bronchitis atau IB, dituturkan Drh Asrul Anwar, “Umumnya pada 4-6 minggu sebelum puncak produksi atau 4-6 minggu setelah puncak produksi. Bobot rata-rata telur umumnya menurun sebanyak 5 - 15% pada 2-3 minggu sebelum jumlah telur mengalami penurunan dan prosentase penurunan sangat beragam.”

Kata Asrul Anwar, pada ayam yang tidak divaksin, produksi telur dapat turun sebanyak 50 – 70% dari awal hanya dalam waktu 1 minggu. Berada pada level terendah selama 1-2 minggu, kemudian kembali meningkat mendekati kurva standar dala waktu 6-8 minggu, tetapi tidak pernah mencapai puncak kurva normal. Kegagalan ini akibat adanya kerusakan permanen pada ovarium dan oviduct.

Selanjutnya Drh Asrul Anwar menuturkan, pada ayam yang telah divaksin tatapi tidak cukup terproteksi. Penurunan produksi dapat terjadi sebesar 30% dari awal kasus dalam waktu 1 minggu. Level terendah bertahan selama 1 minggu pula dan berangsur-angsur meningkat dalam 4-6 minggu, namun tidak dapat kembali ke kurva awal.

Sementara pada ayam dengan tantangan tertinggi, ungkapnya, terjadi penurunan produksi sebesar 10% dalam jangka 1 minggu dan berada di level terendah selama 1 minggu, selanjutnya akan meningkat dalam 1 minggu kemudian. Jika diamati telur dariayam yang terserang kasus ini akan berwarna pucat dengan variasi warna hingga 7 macam.

“Telur yang mengalami depigmentasi ini sebanyak 20% dan 10% diantaranya mempunyai bentuk kerabang yang tidak normal.salah satu perubahan spesifik adalah bentuk albumin yang cair pada 10% telur dengan kerabang yang tidak normal dan dijumpai gumpalan kecil darah yang dikenal dengan blood spot,” ujar dokter hewan ini.


Kasus Mg atau Ms

Menurut Drh Asrul Anwar, kasus Mycoplasma gallisepticum (Mg) mengganggu jumlah telur yang diproduksi serta dapat menyebabkan kurva produksi seperti mata gergaji atau jigsaw phenomenon, umumnya menyerang ayam pada tiga titik kritis yaitu pada saat produksi 5%, 75% atau satu bulan setelah puncak produksi.

“Kualitas kerabang menurun dengan warna yang lebih pucat. Di samping itu ditemukan adanya sandy egg yaitu bintik-bintikmaterial kerabang yang menyerupai pasir di ujung tumpul permukaan kulit telur sebanyak lebih 1%,” ujar Asrul.

Diungkap, gejala Klinis berupa gangguan pernafasan akibat Mycoplasma gallisepticum (Mg) pada ayam produksi seringkali tidak jelas. Pada pengujian patologi anatomis dapat ditemukan kabut atau perkejuan pada kantong hawa, pada Mycoplasma synoviae(Ms) diikuti oleh enteritis yang tidak spesifik, hepatomegali (perbesaran hati), splenomegali (pembengkakan limpa) dan sinovitis (peradangan pada persendian lebih dar 2 tulang) hingga kelumpuhan.

Akhirnya, uji laboratorium dapat dilakukan dengan Rapid Serum Test untuk mengetahui IgM yang menjadi petunjuk dari infeksi akut. IgM ini dapat terdeteksi pertama kali 5-7 hari setelah infeksi terjadi. (disnaksumbar/ Infovet/ YR)

AMATILAH SI TELUR AYAM

AMATILAH SI TELUR AYAM

(( Telur ayam sering kita makan, apa sebetulnya bagian-bagian yang ada dalam si telur itu? ))


Bertelur merupakan cara alamiah ayam untuk memperbanyak keturunannya. Ayam betina rata-rata dapat menghasilkan sebutir telur setiap pagi,dan jumlah telur yang sudah dibuahi dapat mencapai 15 butir. Ayam betina akan mengerami telurnya setelah telur terakhir keluar dari badannya.

“Telur akan menetas setelah dierami oleh ayam betina selama 21 hari. Semakin baik kualitas telur, semakin besar prosentase penetasannya. Baiknya kualitas telur itu sendiriditentukan oleh pakan ayam betina semasa proses bertelur, dan bahkan jauh sebelum masa bertelur,” kata sumber di Universitas Kristen Petra.

Dengan kata lain, kata sumber universitas itu, pakan dan perawatan ayam betina amat menentukan kualitas telurnya. Semakin baik pakan dan perawatannya, semakin baik pula mutu telurnya. Bagi peternak ayam, membeli telur dan menetaskannya sendiri merupakan cara yang paling murah dalam menambah jumlah ayamnya.

Cara lain untuk menambah jumlah ayam adalah dengan membeli DOC (day old chick) yaitu ayam yang baru berusia beberapa hari atau dengan membeli ayam muda yang berusia kurang dari setahun. Membeli anakan jelas lebih mahal daripada menetaskan telur, dan membeli ayam muda lebih mahal lagi dibandingkan dengan membeli anakan.

“Semuanya sangat bergantung pada kebutuhan dan ketersediaan danapeternak itu sendiri,” kata sumber di Universitas Kristen Petra itu menuturkan.

Struktur Telur

Kata sumber yang sama, kuning telur dibentuk dalam tubuh oleh sistem perkembangbiakan ayam betina sewaktu sedang birahi dan siap untuk dikawini ayam jantan yang sedang dalam ‘peranakan’, sekelompok kuning telur yang bentuknya seperti sekelompok buah anggur ini dimasuki oleh sel telur betina (ovum), tepat berada di tengah-tengahnya.

Karenanya, agar terjadi pembuahan dibutuhkan seljantan (sperma) yang kuat yang dapat menerobos masuk ke dalam kuning telur sehingga dapat bersatu dengan ovum. Pembuahan terjadi di bagian atas‘peranakan’.

Proses selanjutnya adalah dilapisinya kuning telur ini oleh lapisan yangterbuat dari zat fosfoprotein (vitellin), yang berfungsi sebagai bagian pengaman pertama pada pembuahan. Pada saat ini dibentuk pula semacam tambang penyimbang, yang biasa disebut chalaza, agar kuning telur dapat tepat berada di tengah-tengah lapisan putih telur.

Tambang ini berada tepat di bagian ujung atas dan ujung bawah bulatan kuning telur.Kuning telur lalu turun ke bagian tengah ‘peranakan’. Di sini dua kali lagikuning telur dilapisi zat putih telur yang berfungsi sebagai penahan guncangan.Setelah itu, kuning dan putih telur turun ke bagian bawah ’peranakan’ untuk dilapisi dengan kulit ari dan zat kapur yang terlihat sebagai kulit telur.

Pada proses akhir ini, kulit ari akan membentuk kantung udara, zat kapur akan semakinmengeras, dan keluar melalui dubur ayam betina. Kantung udara itu sendiri berisi udara yang berhasil menerobos masuk ke dalam telur melewati ribuan pori-poriyang terdapat di kulit telur.

Udara di kantung ini digunakan embrio untuk bernafas.Seluruh proses ini terjadi dalam waktu 24-26 jam. Itulah sebabnya, ayambetina (sebagus apa pun kualitasnya) hanya dapat bertelur sebutir setiap pagi.

Komposisi TelurTelur pada umumnya memiliki berat sekitar 50-57 gram per butirnya, yangterdiri dari 11% bagian kulit telur, 58% bagian putih telur, dan 31% bagian kuningtelur. Komposisi zat yang tergantung di dalam setiap telur dapat dihitung bahwa kandungan protein yang terdapatpada setiap butir telur adalah sekitar 7 gram.

Akhirnya sumber di Universitas Kristen Petra itu mengungkap, lemak yang terdapat pada telur terdiri dari lemak tidak jenuh dan lemak jenuh dengan perbandingan 2 : 1. OleicAcid adalah komposisi utama lemak tidak jenuh, dan lemak ini tidak berpengaruhterhadap kolesterol darah manusia. (UKP/ YR)

21 HARI AYAM BERTELUR

21 HARI AYAM BERTELUR

(( Ikutilah hari demi hari ayam kita bertelur. ))

Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan kelahiran seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuhsecara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam.

Secara garis besar, sumber di Universitas Kristen Petra menyampaikan perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya jadi anak ayam yang mungil.

Pada hari ke-1 sejumlah proses pembentukan sel permulaan mulai terjadi. Sel permulaanuntuk sistem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18. pada jam-jamberikutnya, secara berturut-turut sampai dengan jam ke-24, mulai jugaterbentuk sel permulaan untuk jaringan otak, sel permulaan untuk jaringantulang belakang, formasi hubungan antara jaringan otak dan jaringan syaraf,formasi bagian kepala, sel permulaan untuk darah, dan formasi awal syarafmata.

Pada hari ke-2 embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat padabagian kuning telur. Perkembangan sel dari jam ke-25 sampai jam ke-48secara berurutan adalah pembentukan formasi pembuluh darah halus danjantung, seluruh jaringan otak mulai terbentuk, selaput cairan mulai terlihat,dan mulai juga terbentuk formasi tenggorokan.

Lalu pada hari ke-3 dimulainya pembentukan formasi hidung, sayap, kaki, dan jaringanpernafasan. Pada masa ini, selaput cairan juga sudah menutup seluruh bagianembrio.

Selanjutnya pada hari ke-4 sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini, embrio terpisahseluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri. Sementara itu, jaringansaluran pernafasan terlihat mulai menembus selaput cairan.

Kemudian pada hari ke-5 saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentukpula jaringan reproduksi. Karenanya sudah mulai dapat juga ditentukan jeniskelaminnya.

Lantas hari ke-6 pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu,embrio mulai melakukan gerakan-gerakan.

Berikutnya hari ke-7, ke-8, dan ke-9 jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Selain itu, perut mulai menonjol karena jeroannya mulai berkembang. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti burung, dan mulutnya terlihat mulaimembuka.

Ketika hari ke-10 dan ke-11 paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, danpori-pori kulit tubuh mulai tampak.

Saat hari ke-12Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul.

Hari ke-13 dan ke-14 sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnyaditumbuhi bulu. Pada hari ke-14, embrio berputar sehingga kepalanya tepatberada di bagian tumpulnya telur.

Hari ke-15 jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio.

Waktu hari ke-16 dan ke-17 sisik kaki, kuku, dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudahsepenuhnya tertutupi bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dankuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat pentingbagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untukbernafas.

Ketika hari ke-18 dan ke-19 pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Kuning telur mulai masukke dalam rongga perut melalui saluran tali pusat. Embrio juga semakin besarsehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara.

Kala hari ke-20 kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yanghampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernafasmenggunakan udara di kantung udara. Saluran pernafasan mulai berfungsi danbekerja sempurna.

Akhirnya hari ke-