Monday, November 30, 2009

PROSEDUR CUCI DAN SANITASI KANDANG PASCA OUTBREAK AI


oleh: Drs. Tony Unandar

Hingga saat ini penyakit pada unggas yang disebabkan oleh virus Avian Influenza disetiap daerah dengan tingkat kematian yang rendah sampai tinggi masih kerap terjadi secara sporadis. Penyakit ini memiliki peran sangat penting karena dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, sosial, kesehatan, lingkungan dan psikologi masyarakat.

Dampak ekonomi secara mikro yaitu hilangnya peluang bisnis yang berhubungan dengan unggas, seperti peternak skala besar dan kecil, pedagang unggas dan pedagang produk-produk berbahan unggas. Selain itu juga menimbulkan efek berantai (multiplier effect), baik backward maupun foreward bisnis yang berhubungan dengan bisnis unggas, seperti industri makanan ternak unggas, pemasok bahan baku industri makanan unggas, dan transportasi unggas.

Oleh karenanya diperlukan langkah strategis guna mencegah dan menangani wabah penyakit ini. Namun untuk kali ini yang akan diulas adalah bagaimana cara atau prosedur cuci dan sanitasi kandang pasca outbreak AI.

Tahap I (tahap pencegahan penyebaran kontaminasi lanjut):
  • Setelah semua ayam mati atau yang di “stamping out” dikeluarkan dari dalam kandang, seluruh permukaan dalam kandang disemprot dengan desinfektan, lalu dilakukan tindakan lanjut sbb.: 1) Semprot dengan insektisida yang berspektrum luas (misalnya kelompok biochlormetyl) seluruh bagian dalam & bagian luar sekitar kandang yang bersangkutan secara merata. 2) Pasang racun tikus di beberapa tempat strategis (yang selalu dilalui tikus) dengan racun yang bersifat rodensidal akut (racun akut dengan efek tikus mati seketika).
  • Biarkan selama paling sedikit satu hari satu malam (sangat dianjurkan dibiarkan selama 3 hari berturut-turut).
  • Karungi pupuk (bahan litter yang bercampur dengan kotoran ayam) secepatnya dan sebelum dikeluarkan dari dalam kandang, seluruh permukaan luar karung pupuk disemprot dengan desinfektan. Sangat dianjurkan selesai dalam tempo satu hari.
  • Semprot sekali lagi dengan insektisida yang berspektrum luas di seluruh bagian dalam & bagian luar kandang yang bersangkutan.
  • Biarkan selama satu hari satu malam penuh.

Tahap II (tahap pencucian kandang):
  • Semprot seluruh bagian dalam kandang secara merata (terutama lantai, termasuk dinding/layar & bagian atas kandang) dengan larutan deterjen 1-2%. Bisa diulangi sekali lagi apabila masih ditemukan cukup banyak bahan organik, terutama material feses yang lengket pada permukaan lantai atau dinding kandang.
  • Biarkan selama 3-6 jam, kemudian bilas dengan air yang mengandung kaporit dengan dosis 50-100 ppm (boleh juga dengan desinfektan yang mempunyai efek residual yang lama). Atau dengan soda api 1% & bilas dengan air bersih. Biarkan sampai kering.
  • Semua dinding layar dipasang, sehingga kandang dalam keadaan tertutup dari semua sisi.
  • Semprot seluruh bagian bagian dalam kandang (lantai & tiang-tiang kandang) dan bagian luar kandang (lantai & didinding setinggi 30 cm dari lantai) dengan larutan kapur aktif 1-2%. Biarkan sampai kering.
  • Semprot dengan desinfektan sekali lagi, terutama dari kelompok formalin, glutaraldehida ataupun formaldehida. Istirahat kandang sesungguhnya dimulai dari saat ini.

Tahap III (tahap istirahat kandang):
  • Kandang diistirahatkan paling sedikit selama 3 bulan dalam keadaan bersih. Tidak dianjurkan kurang dari 3 bulan.
  • Selama istirahat kandang dipasang racun tikus pada beberapa tempat strategis (sesuai dengan jalan tikus) dengan racun yang bersifat antikoagulan (tikus akan mati secara perlahan-lahan).

Tahap IV (tahap persiapan chick-in):
  • Pada saat minus 10 hari sebelum waktu chick-in, semprot dengan insektisida yang berspektrum sempit diseluruh bagian dalam kandang secara merata, termasuk bagian luar kandang, terutama lantai.
  • Pada saat minus 7 hari sebelum waktu chick-in, semprot sekali lagi dengan desinfektan dari kelompok halogen ataupun fenol seluruh bagian dalam & bagian luar kandang secara merata. Bisa juga menggunakan formalin dengan konsentrasi 1-2%.
  • Pada saat minus 5-6 hari dilakukan persiapan kandang, misalnya: penebaran litter, pemasangan feeder, chick-guard, pemanas, dsb). Pada saat ini juga dilakukan pengujian terhadap semua peralatan, apakah dapat bekerja secara normal atau tidak.
  • Pada saat minus 3-4 hari dilakukan fumigasi kandang dengan formalin ”double dosis” (2 gram PK untuk 3 cc formalin 35%) untuk setiap meter kubik volume kandang.
Dengan langkah-langkah tersebut diharapkan peternak mendapat pencerahan seputar desinfeksi dan sanitasi pasca outbreak Avian Influenza di farmnya, sehingga kasus kejadian AI di farmnya tidak kembali terulang. (*)

KIAT MENGASAH KETAJAMAN “TRISULA” BIOSEKURITI


Biosekuriti adalah idiom yang disusun oleh dua kata yaitu: bio (hidup) dan secure (aman), atau secara harfiah bisa bermakna upaya pengamanan mahluk hidup (baca: ternak). Tentu saja dalam tulisan ini, pengamanan yang dimaksud adalah pengamanan ternak ayam dari gangguan penyakit. Dengan pengertian seperti itu, maka pengertian biosekuriti menjadi sangat luas dan cenderung bias.

Untuk itu penyeragaman definisi harus dilakukan, sehingga implementasi dilapangan bisa diukur dengan parameter yang jelas. Secara umum biosekuriti bisa didefinisikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari rangkaian program yang mencakup kebijakan dan praktek yang dirancang untuk mencegah masuk dan menyebarnya patogen pada ayam. Patogen bisa berupa virus, bakteri, parasit (termasuk protozoa), jamur, dll.
Rangkaian program diatas, harus mencakup tiga aspek atau tiga ujung tombak seperti senjata trisula yang dirancang saling terkait dan saling mendukung. Tiga aspek yang dimaksud adalah Isolasi, Pengendalian lalu lintas dan Sanitasi.

Isolasi
Isolasi adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk memberi barrier bagi ayam dari serangan kuman patogen penyebab penyakit. Penjabaran lebih lanjut, isolasi berarti menjauhkan ayam (flock) dari orang, kendaraan, dan benda yang dapat membawa patogen. Menciptakan lingkungan tempat ayam terlindung dari pembawa patogen (orang, hewan lain, udara, air, dll).
Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menerapkan isolasi bisa berupa; menyimpan ayam di kandang tertutup yang sudah di screening di farm. Menerapkan manajemen all in all out. Memisahkan ayam dari hewan lain dan dari spesies unggas lain. Tidak boleh ada tempat dengan air menggenang di wilayah farm.

Pengendalian Lalu Lintas
Pengendalian lalu lintas adalah berbagai upaya untuk men-screening orang, alat, barang dan hewan lain, agar kegiatan lalu lintas yang dilakukannya tidak menyebabkan masuknya patogen ke dalam farm.
Penjabaran lebih lanjut, pengendalian lalu lintas berarti kita tidak boleh mengijinkan siapapun masuk ke kandang, apalagi mendekati ayam-ayam kita. Jika memang mereka harus masuk, maka harus dipastikan bahwa mereka harus mengikuti tindakan biosekuriti khusus (screening). Membatasi jumlah orang, kendaraan dan alat-alat yang berada di wilayah isolasi dan yang keluar dari wilayah isolasi ke daerah lain.

Sanitasi
Sanitasi adalah berbagai upaya yang ditujukan untuk membunuh patogen. Lebih lanjut, sanitasi bisa dijabarkan sebagai tindakan pembersihan (cleaning) dan desinfeksi untuk membunuh kuman (baca lebih lengkap di artikel berjudul Cleaning dan Desinfeksi).
Sanitasi juga berarti upaya pengendalian hama yang bertujuan untuk mencegah hama (burung liar, hewan pengerat & serangga) membawa patogen. Dan pembuangan bangkai atau karkas yang ditujukan untuk menjauhkan kontaminasi dari flok.
Implementasi sanitasi harus dilaksanakan secara tertata baik untuk kandang, alat, kendaraan maupun orang. Wujud nyata dari implementasi ini misalnya: pekerja mencuci tangan dan kaki, berganti pakaian dan sepatu sebelum bekerja dengan ayam. Membersihkan dan mendesinfeksi alat-alat secara teratur. Membersihkan dan mendesinfeksi kandang-kandang dalam masa peralihan antara satu periode ke periode berikutnya, dan memiliki program pengendalian hama.

Kaitan Biosekuriti dan Manajemen
Setelah membahas “trisula” biosekuriti, penulis ingin mengajak pembaca untuk sedikit menengok “trisula” epidemiologi. Trisula epidemiologi yang dimaksud adalah Agen, Host dan Lingkungan. Bila dikaitkan dengan trisula epidemiologi, ternyata biosekuriti baru menyentuh pada aspek agen dan lingkungan saja. Sementara aspek host (ayamnya) sama sekali tidak disentuh.
Padahal, biosekuriti sebaik apapun tidak akan membuat patogen sama sekali nol. Artinya sebaik apapun biosekuriti yang kita jalankan, ayam kita tetap berpotensi diserang patogen. Agar ayam kita aman dari serangan patogen, maka kondisi kesehatan dan status kekebalan ayam harus dalam kondisi baik. Inilah kaitan biosekuriti dan manajemen. Biosekuriti yang baik, harus pula didukung dengan manajemen yang baik.
Dalam hal ini manajemen harus dilaksanakan dengan cara menjamin pakan dan air harus selalu tersedia dalam jumlah cukup. Mengeluarkan karkas/bangkai setidaknya dua kali sehari. Melakukan culling terhadap ayam sakit atau karena sebab lain secara teratur. Memantau dan mencatat kesehatan flok.
Tidak menambah ayam baru ke dalam flock. Tidak menyimpan unggas dengan spesies berbeda-beda dalam satu lokasi farm. Menjaga farm tetap bersih, serta selalu membersihkan dan mendesinfeksi peralatan di akhir siklus produksi.
Menjauhkan pakan dari hama seperti hewan pengerat, burung liar dan serangga. membersihkan tumpahan pakan dengan segera. Bersihkan tempat pakan jika perlu. Tidak menggunakan ulang kantong pakan.
Untuk air minum, jauhkan air minum dari hama seperti hewan pengerat, burung liar dan serangga. Bersihkan tempat air minum minimal dua kali sehari. Untuk meminimalisir litter basah akibat tumpahan air minum, lakukan rolling tempat antara tempat minum dan pakan.

Manajemen Brooding dan Ventilasi
Manajemen brooding terkait langsung dengan penguatan sistem immun pada ayam. Manajemen brooding harus benar-benar diperhatikan pada minggu pertama. Karena pada minggu pertama, berlangsung proses penyerapan kuning telur. Dimana penyerapan kuning telur akan berlangsung optimal bila manajemen suhu brooding optimal.
Pada minggu pertama, akan berkembang sistem immun, sistem pencernaan, sistem kardiovaskuler, sistem rangka, dan bulu. Nah perkembangan berbagai sistem ini, akan tergantung dari optimal atau tidaknya kuning telur yang terserap. Bila kuning telur tidak terserap optimal, maka berbagai sistem diatas akan terganggu dan sisa kuning telur yang tidak terserap, akan memudahkan masuknya infeksi.
Akibatnya, angka kematian dan culling membengkak, ukuran ayam tidak seragam, target berat badan tidak tercapai, dan konversi pakan membengkak.

Cara Sederhana Mengontrol Suhu Brooding
Sering kali manajemen brooding dipahami dengan rumit. Padahal ada cara sederhana untuk mengontrol suhu brooding. Gunakan termometer infra merah untuk memantau suhu litter. Metode lain, tempelkan telapak kaki anak ayam ke pipi untuk mengetahui litter dingin atau hangat. Bila telapak kaki anak ayam terasa dingin, berarti suhu brooding tidak tercapai. Bila terasa hangat, berarti suhu brooding sudah cukup nyaman.
Cara ini juga harus didukung dengan pengamatan perilaku anak ayam (sebaran dan suara). Bila tidak nyaman, anak ayam akan bergerombol mencari kehangatan atau ribut. Bila nyaman, anak ayam akan menyebar dan suaranya tenang.
Bila suhu brooding sudah dirasa cukup sedangkan ayam masih ribut, maka parameter lain harus diperiksa, misalnya kelembaban relatif. Kelembaban relatif untuk minggu pertama harus lebih dari 50% (sebaiknya minimal 55%). Jika di bawah 50%, anak ayam akan mengalami dehidrasi. Untuk diatas minggu pertama diusahakan berkisar di angka 60% (lihat Tabel 1).
Cara lain yang bisa digunakan adalah, bila kita sebagai pemeriksa ayam merasa gerah atau tidak nyaman, maka kemungkinannya adalah suhu yang terlalu tinggi (diatas 35 oC) atau kelembaban yang terlalu rendah/tinggi (<> 70%). Untuk permasalahan ini, bukalah tirai sebelah atas untuk mengontrol kelembaban atau suhu.

Manajemen Pakan dan Target Pertambahan Berat Badan
Karena ayam broiler dirancang untuk tumbuh sebagai ayam pedaging, maka manajemen pemberian pakannya pada prinsipnya tidak ada pembatasan. Untuk memantau anak ayam makan cukup atau tidak, bisa dilihat dengan meraba temboloknya. Tembolok harus sudah penuh dalam jangka waktu 3 hari. Imbangi manajemen pemberian pakan dengan penyediaan air yang berkualitas dalam jumlah cukup bisa juga ditambahkan pemberian multivitamin.
Lakukan penimbangan setiap minimal 7 hari (lihat Tabel 2). Bila target berat badan atau feed intake tidak tercapai, maka lakukanlah evaluasi dan tindakan yang tepat (konsultasikan perihal ini dengan konsultan anda).

Manajemen Kualitas Air
Selain harus tersedia dalam jumlah yang cukup, kualitas air juga harus diperhatikan. Tujuan memperhatikan adalah mengurangi jumlah patogen dan mengontrol deposit mineral. Air adalah salah satu media penularan penyakit. Air yang tidak terkontrol jumlah patogennya, akan sangat merugikan. Demikian pula dengan deposit mineral. Deposit mineral yang tidak terkontrol bisa menurunkan efikasi obat-obatan yang diberikan.
Disarankan untuk secara berkala memeriksakan kualitas air ke laboratorium. Peternak bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan penyedia sapronak.

Biosekuriti Sebagai Perilaku Sehari-Hari
Sebagaimana dijabarkan diatas ada 2 aspek epidemiologi yang terkait dengan biosekuriti yaitu agen dan lingkungan. Aspek lingkungan memiliki cakupan yang sangat luas. Aspek lingkungan tidak hanya terikat pada lingkungan sekitar kandang, tetapi juga lingkungan orang-orang yang bekerja di dalam kandang (selengkapnya baca artikel berjudul Contoh Sederhana Menjalankan Sistem Biosekuriti).
Oleh karena itu, biosekuriti hendaknya menjadi perilaku sehari-hari, atau gaya hidup semua orang yang terkait dengan budidaya ayam. (saptono, gopanindonesia.com)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template