SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

SULITNYA BETERNAK SAAT INI, APA SOLUSINYA?

On 1:41:00 PM

SULITNYA BETERNAK SAAT INI, APA SOLUSINYA?

Situasi penyakit Avian Influenza (AI) saat ini telah jauh lebih kompleks. Dimana infeksi lebih didominasi oleh infeksi yang berbarengan dengan penyakit lainnya seperti misalnya IB, kholera, ND, dll.
Untuk itu Drh Hadi Wibowo, praktisi perunggasan di Jakarta mengatakan AI dan penyakit domplengannya merupakan penyakit viral yang intra seluler yang langusng merusak sel induk semangnya. Maka apabila antibodi sudah tidak bisa lagi menetralisir dan mengenali virus tersebut maka kematian sudah pasti menjemput ayamnya. Namun sebelum itu terjadi, didalam tubuh ayam masih ada sel T efektor dan sel T sitotoksik yang juga berfungsi menghancurkan sel terinfeksi AI yang menjadi media hidup dan bereplikasi virus sekaligus membunuh virus AI itu sendiri.
Lebih lanjut, kata Hadi, mengutip hasil temuan terbaru dari Prof Fedik A Rantam dari Universitas Airlangga bahwa saat ini AI sudah mulai menginfeksi saluran pencernaan pada broiler maupun layer. “Kalau dulu AI menginfeksi saluran reproduksi dan pernapasan, kini gejalanya makin meluas,” katanya.
Dari pemeriksaan patologi anatomi diketahui terdapat infeksi AI di daerah mesenterium yaitu penyangga usus yang terlihat berwarna merah. Hal ini dikuatkan dengan hasil uji RT-PCR dan imunohistokimia yang menunjukkan bahwa infeksi positif AI. Artinya telah terjadi pergeseran serangan dari semula yang hanya menyerang saluran reproduksi dan pernapasan kita juga menyerang salura pencernaan.
Selain itu, Hadi melanjutkan, hasil temuan Prof Fedik mengatakan bahwa penularan AI paling besar terjadi melalui jalur distribusi. Dalam hal ini terjadi di pasar unggas hidup tempat bertemunya berbagai jenis unggas dalam satu lokasi. Sementara temuan Drh Wayan T Wibawan dari FKH IPB mengatakan bahwa telah terjadi perubahan epitop dan cleavage site pada virus AI yang kini sudah hampir menyerupai virus influenza di manusia.
“Hal ini tentu semakin menambah kekhawatiran kita akan risiko pandemi influenza. Namun yang patut disayangkan adalah tidak samanya pengertian dan sikap dari para pelaku bisnis perunggasan mulai peternak hingga pedagang pasar terhadap penyakit Avian Influenza sebagai masalah nasional,” ujar Hadi prihatin.

Perunggasan Makin Sulit
Hadi menuturkan, kondisi sulit saat ini akibat penyakit masih ditambah dengan naiknya harga pakan ayam baik untuk broiler dan layer. Biasanya menghadapi kenaikan harga bahan baku ini oleh formulator pakan diutak-atik agar nilai nutrisinya tetap dengan mengganti bahan pakan jagung dengan bahan substitusi lain.
Alhasil kadar proteinnya memang tetap namun apakah protein tersebut bisa dicerna dan diserap dengan baik oleh ayam atau tidak. Bila ayam kekurangan protein berarti kekurangan asam amino. Sementara asam amino sangat dibutuhkan untuk membentuk antibodi tubuh. Inilah yang menyebabkan titer antibodi terus turun dan kekebalan tubuh lemah. Ditambah lagi dengan vaksin AI yang tidak up to date dengan perkembangan lapangan menyebabkan beban infeksi AI dari lapang yang telah jauh bermutasi kian rentan.
Dua hal inilah yang menyebabkan kondisi beternak saat ini makin sulit. Namun untuk mengatasi hal ini, Hadi mencoba memberikan solusi, peternak harus terbiasa berteman dengan yang namanya imunomodulator.
Secara singkat, Hadi menjelaskan proses pembentukan antibodi lewat vaksinasi harus ditunjang oleh sel-sel yang bertugas untuk merespon kekebalan. Vaksin ketika masuk ke dalam tubuh ditangkap oleh sel makrofag yang dibantu oleh sel T helper untuk kemudian disampaikan ke sel B. Di sel B inilah dibentuk sel memori antibodi dan sel antibodi itu sendiri. Nah sel-sel yang berperan dalam respon imun ini harus diperbanyak dan dimatangkan, disinilah peran imunomodulator.
“Dinamakan imunomodulator karena obat ini memiliki efek pada respon imun untuk melakukan immuno modulasi. Mekanisme kerja immunomodulator adalah dengan tiga cara, yaitu pertama, meningkatkan proses maturity (pematangan) sel-sel yang berperanan dalam imun respon. Kedua, meningkatkan proses proliferasi sel, terutama sel-sel makrofag (memfagosit antigen dan menghancurkan antigen dalam sel) dan limfosit (pembentukan antibodi dan membunuh antigen dalam sel), sehingga jumlahnya menjadi lebih banyak dalam waktu yang relatif singkat. Dengan demikian jumlah antigen yang dapat diproses meningkat lebih banyak dan titer antibodi yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Ketiga, mengaktifkan complement, sehingga eliminasi antigen dalam sel menjadi lebih efektif,” jelas dokter hewan yang lahir sehari sebelum peringatan kemerdekaan RI, yaitu 16 Agustus.
Hadi juga menegaskan bahwa kebaikan menggunakan imunomodulator sudah seharusnya ditularkan antar peternak. Seperti yang telah dilakukan Koh Iping dari Patriot Grup yang telah mempercayakan persoalan AI ini dengan pemanfaatan imunomodulator. Hal ini semata dilakukan untuk mengantisipasi bila terjadi serangan AI meskipun sudah dilakukan vaksinasi. Karena terbukti penggunaan imunomodulator dapat menekan terjadinya kasus AI.
Diakhir diskusi dengan Infovet, Hadi menjelaskan bahwa untuk mengamankan usaha perunggasan tetap diperlukan 3 langkah wajib yaitu sanitasi, desinfeksi, dan vaksinasi. (wan)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer