38 Lokasi Pabrik Mini Pakan Ternak Dikembangkan Deptan

Edisi 168 Juli



(( Saat ini Indonesia punya 56 pabrik pakan skala besar dan 14 lokasi pabrik mini pakan ternak.))

Pada tahun lalu, Departemen Pertanian (Deptan) telah mengembangkan pabrik mini pakan ternak mini di 14 lokasi yaitu di Kabupaten Ciamis, Cirebon, Sukabumi, Subang, dan Bekasi (Jawa Barat), Kabupaten Magelang, dan Banjarnegara (Jawa Tengah), serta Blitar (Jawa Timur).

Selain itu, di Kabupaten Bangli dan Tabanan (Bali), Sawah Lunto (Sumatera Barat), Bengkulu Utara, Kapuas, dan Hulu Sungai Utara.

Saat ini di Indonesia terdapat 56 pabrik pakan skala besar yang tersebar di delapan provinsi, yaitu Sumatera Utara delapan pabrik, Lampung, empat pabrik, Banten 10 pabrik, DKI Jakarta empat pabrik.

Di Jawa Barat terdapat empat pabrik, Jawa Tengah tiga pabrik, 17 pabrik di Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan dua pabrik.

Kapasitas produksi dari seluruh pabrik terpasang sebesar 11,03 juta ton per tahun.

Guna mengantisipasi melonjakan harga pakan ternak, kini, Deptan pun merencanakan pengembangan pabrik pakan ternak skala kecil ("mini feedmill") lagi pada 38 lokasi di tanah air tahun ini.

Dirjen Peternakan Deptan, Tjeppy D Soedjana, di Jakarta belum lama ini menyatakan, pabrik pakan mini tersebut dibangun di wilayah-wilayah sentra produksi bahan baku pakan seperti jagung dan kelapa sawit.

"Pembangunan pabrik pakan ternak skala mini tersebut untuk melengkapi pabrik yang sudah ada saat ini," katanya.

Pabrik pakan mini tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 3-5 ton per hari, serta investasi sebesar Rp250 juta per unit.

Menurut dia, 38 pabrik pakan mini yang akan dikembangkan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak maupun unggas lokal, sedangkan 14 yang telah ada saat ini untuk pakan unggas lokal.

Sementara untuk pabrik pakan besar yang akan dikembangkan di Kabupaten Subang dan Bekasi untuk mencukupi kebutuhan pakan ayam ras dan petelur.

Ketika ditanyakan investasi yang diperlukan untuk pengembangan 38 pabrik pakan mini tersebut, Tjeppy mengatakan, hal itu menjadi kewenangan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Deptan.

Menyinggung populasi ayam pedaging, tambahnya, tahun 2008 diprediksi naik sebesar 1,5 miliar ekor dari 2007 yang hanya sebesar 1,2 miliar ekor.

Sedangkan produksi pakan ternak diperkirakan mencapai 8,23 juta ton atau naik sekitar tujuh persen dibandingkan tahun 2007 sebesar 7,7 juta ton.

Walaupun Indonesia telah mampu mencapai swasembada daging dan telur, lanjut dia, namun ketergantungan impornya masih tinggi, karena sekitar 70 persen bahan baku masih diimpor, baik pakan, obat, dan teknologi lainnya.

Hal itu menyebabkan peternakan ayam masih tergolong industri yang akan tenggelam karena tidak mengakar pada pasokan bahan baku dalam negeri.

Saat ini peternakan unggas menyerap 83 persen produksi pakan nasional, peternakan babi menyerap enam persen, ruminansia tiga persen, perikanan budidaya tujuh persen, dan lainnya sekitar satu persen.

Dalam budidaya unggas, biaya pakan menempati porsi terbesar atau mencapai 70-80 persen dari total biaya.

Komposisi pakan ternak sendiri terdiri dari 51,4 persen jagung, 18 persen bungkil kedelai, 5,0 persen tepung ikan/MBM, 7,0 persen "corn gluten meal", premiks 0,6 persen, CPO (Crude Palm Oil) dua persen dan selebihnya dedak (limbah penggilingan padi).(Ant/Infovet/YR)

ANTIBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK

Edisi 168 Juli


(( Dengan klasifikasi jenis mikro-organisma dalam saluran pencernaan manusia, diketahui peranan penting berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup yang dapat diseimbangkan dengan antibiotika. Lalu, mengapa ada pelarangan penggunaan Antibiotik pada pakan ternak? ))


Sejujurnya, dengan berbagai kasus mutu yang kita jumpai di lapangan, Indonesia masih bermasalah dalam soal jaminan pasti bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk ternak yang terbebas dari pencemaran?

Makanan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan angka harapan hidup suatu negara, masih acap dibelit persoalan kesadaran yang kurang dari para konsumen terhadap produk ternak yang terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoksin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya (salmonella, enterobacteriaceae dan BSE-carriers).

Acapkali kita mesti menengok dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, di mana di sini kualitas kontrol bahan pakan terus dilakukan oleh pemerintah secara berkala melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama.


Antibiotik dalam Pakan Ternak

Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908) berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup.

Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak.

Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan
(eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%.

Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri phatogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.

Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak.

Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri phatogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan.

Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen.

Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli.

Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya.

Seperti dilaporkan oleh Rusiana dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin.

Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur.

Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun
1996 dan Swiss tahun 1999.

Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia.

Tidak dapat dipungkiri sejak digunakannya antibiotik sebagai senyawa promotor pertumbuhan dalam pakan ternak, telah terjadinya peningkatan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efisien dan efektif.

Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa).

Hingga kini, hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam ransum ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na.

Berbagai upaya telah dilakukan bertahun-tahun untuk mencari bahan tambahan dalam pakan ternak sebagai pengganti antibiotik yang berbahaya tersebut.


Bahan Aditif Pengganti Antibiotik

Konsep pakan ternak berdasarkan kualitas semata (kebutuhan energi dan protein ternak) mulai ditinjau ulang oleh nutritionis akhir-akhir ini. Tuntutan konsumen akan produk ternak yang sehat, aman dan terbebas dari residu berbahaya telah mengajak ilmuan untuk mencari alternatif sumber-sumber pakan baru sekaligus zat aditif yang aman.

Konsumen rela membayar dengan biaya berlipat demi mendapat makanan yang sehat, aman dan terbebas dari residu kimia. Produk pertanian dan peternakan alami tanpa menggunakan secuilpun bahan kimia dalam bahasa Jerman dikenal “okologische produkte” mulai mempunyai pasar tersendiri. “Feed quality for food safety“ merupakan slogan yang acap di dengungkan dimana-mana pada masyarakat Eropa termasuk Jerman.

Kerja keras berbagai pihak dalam usaha menemukan zat aditif pengganti antibiotik telah membuahkan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tampa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim. (Samadi/ Inovasi/ YR)

Kehidupan Tanpa Oksigen

Edisi 168 Juli


Seandainya kita bisa masuk ke dalam sebuah kehidupan seperti yang ada di dalam rumen, kita pasti tidak akan bisa bertahan lama. Dalam beberapa detik saja, mungkin kita akan segera merasa lemas karena oksigen yang kita butuhkan untuk bernafas normal tidak tersedia dalam jumlah yang cukup. Justru yang ada melimpah di dalam sana adalah karbondioksida, yang bagi kita adalah racun.
Tetapi tidak demikian halnya dengan makhluk kecil yang bernama mikroba. Rumen, bagian dari lambung depan ternak ruminansia itu, adalah dunia mereka, tempat mereka hidup dan berkembang. Bagi sebagian besar mereka, oksigen tidak perlu. Bahkan sebaliknya, oksigen bagi kebanyakan mereka adalah racun kehidupan. Itu lah kehidupan mikroba di dalam rumen, sebuah kehidupan tanpa oksigen atau anaerob.
Keberadaan makhluk kecil ini menjadi keharusan bagi kehidupan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba, kerbau, rusa, gajah, unta, dan sebagainya. Makhluk kecil itu hidup dan berkembangan di dalam rumen, dan kehidupan ternak ruminansia hampir tidak mungkin tanpa adanya mikroba rumen. Betapa tidak, karena mikroba ini lah yang menyebabkan sehingga ternak ruminansia dapat memakan rumput seperti yang kita saksikan sehari-hari.
Rumput dan bahan-bahan keras lainnya seperti jerami padi atau dedaunan pohon adalah bahan yang tidak bernilai nutrisi bagi kita, tetapi merupakan makanan yang akan disantap dengan lahap oleh ruminansia. Kita tidak bisa memakan bahan seperti itu, karena sistem pencernaan kita tidak mampu mengolahnya.
Bagi ruminansia, hal itu bukan lah masalah karena adanya bantuan makhluk kecil tadi. Mereka ini lah yang membuat berbagai jenis enzim yang dapat memecah komponen-komponen keras bahan-bahan tadi sedemikian rupa sehingga nutrien yang terkandung di dalamnya bisa tersedia untuk dipakai oleh ternak ruminansia.
Sesungguhnya mikroba rumen dan ternak ruminansia membangun sebuah kolaborasi yang saling menguntungkan dalam kehidupan keduanya. Meskipun mungkin makhluk kecil itu tidak pernah tahu bahwa dunia rumen tempat mereka hidup adalah bagian dari sebuah dunia yang lebih besar, tetapi mereka bisa merasakan bahwa mereka cocok hidup dan berkembang di dalamnya.
Lingkungan yang ada di dalam rumen, seperti temperatur yang hangat, suplai pakan yang teratur, dan ketiadaan oksigen adalah kondisi ideal yang mereka harapkan. Keuntungan ini lah yang disediakan oleh ternak ruminansia bagi mereka.
Demikian pula, ternak ruminansia mungkin tidak pernah tahu bahwa sebuah kehidupan lain yang anaerobik berada di dalam organ tubuhnya, tetapi mereka mendapatkan beberapa keuntungan dari mikroba rumen. Di samping membantu dalam proses pencernaan makanan yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia, mikroba itu sendiri merupakan sumber nutrien yang bergizi tinggi bagi ternak ruminansia.
Mikroba rumen menjalankan tugasnya di dalam rumen pada suatu saat, namun pada saat yang lain mereka merelakan tubuhnya untuk menjadi sumber nutrien bagi ternak ruminansia. Pada saat itu mereka harus keluar dari rumen, masuk ke saluran pencernaan setelah rumen hingga kemudian sampai ke usus halus. Sebelumnya, mereka mungkin sudah mati ketika berada di dalam abomasum, yaitu lambung sejati ruminansia, akibat kondisi asam yang tertahankan di sana.
Ketika sampai di dalam usus halus, tubuh yang sudah mati itu diserang lagi oleh enzim pencernaan usus halus sehingga nutrien yang terkandung olehnya kemudian bisa diserap masuk ke dalam jaringan ternak ruminansia. Ternak ruminansia memenuhi sebagian besar kebutuhannya akan protein dan vitamin dari tubuh mikroba rumen.
Kehidupan tanpa oksigen mikroba di dalam rumen, adalah unik dan mengagumkan. Dari luar kehidupan itu tak tampak, tetapi di dalam rumen mikroba juga merupakan komunitas yang sibuk dan hirup pikuk. Jumlah mereka sangat banyak, mencapai ratusan juta. Setiap anggota komunitas itu yang terdiri dari bakteri, protozoa, dan jamur, mempunyai banyak jumlah spesies.
Masing-masing spesies tersebut memainkan peran sendiri-sendiri dalam proses pencernaan. Ada yang bertugas mengurusi karbohidrat serat pakan, ada yang mengkhususkan diri untuk karbohidrat pati, ada yang hanya mau mengurus protein, dan sebagainya. Sering disebut bahwa komunitas mikroba rumen adalah buah konsorsium besar dengan berbagai tugas kompleks dalam proses pencernaan.
Keberadaan mereka di dalam rumen adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Keberadaan mereka di dalam rumen yang mampu memproses bahan-bahan keras seperti rumput dan dedaunan menjadi salah satu sebab mengapa kita tidak harus berkompetisi dengan ruminansia dalam memperoleh makanan.

Damry (Dosen Jurusan Peternakan Universitas Tadulako, damry_01@yahoo.com)

PRO/PREBIOTIK, ASAM ORGANIK DAN ENZIM

Edisi 168 Juli


(( Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. ))

Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti pro- dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim.

Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya.
Bagaimana menjelaskan masing-masing?


Pro- dan Pre-biotik

Lingkungan menyenangkan untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan (penurunan pH dengan memproduksi asam laktat) akan tercipta dengan mensuplai probiotik pada ransum ternak.

Bakteri asam laktat seperti Lactobacillus bulgaricus, Lactobacilus acidophilus, Bifidobacteria thermophilum dan jenis fungi seperti Saccharomyces cerevisiae adalah contoh-contoh probiotik yang telah diproduksi secara komersial.

Probiotik pun dapat mengurangi produksi racun dan menurunkan produksi amonium dalam saluran pencernaan. Fungsi zat aditif ini tidak jauh berbeda dengan antibiotik yaitu mengatur komposisi mikroflora dalam saluran pencernaan.

Adapun prebiotik adalah oligosakarida yang tidak dapat dicerna oleh hewan monogastrik (ayam dan babi). Senyawa ini digunakan sebagai substrat untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli.

Pemberian 0,1 – 0,5% dalam ransum dapat meningkatkan bakteri yang menguntungkan dan menurunkan populasi bakteri yang merugikan.

Dalam penerapannya, penggunaan pro- dan prebiotik bukan merupakan hal baru dalam dunia peternakan.


Asam-asam Organik

Perkembangan biotekhnologi yang begitu pesat mengilhami industri-industri pakan ternak untuk memproduksi asam-asam organik dalam bentuk komersial seperti asam asetat, propionat laktat dan citrat yang dikemas dalam bentuk cair.

Asam-asam organik sebenarnya diproduksi secara otomatis dalam tubuh ternak melalui proses fermentasi selanjutnya digunakan sebagai sumber energi.

Penambahan asam-asam organik dalam pakan ternak dapat meningkatkan produktifitas ternak. Peningkatan performance ternak terjadi melalui penciptaan lingkungan yang serasi bagi perkembangan mikroflora menguntungkan.

Dengan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri tertentu (melalui penurunan keasaman) dapat mengaktifkan serta merangsang produksi enzim-enzim endegenous dan berakibat meningkatnya absorbsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi.


Minyak Esensial (Essential oil)

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keaneka ragaman sumber daya alam hayati. Berbagai hasil penelitian menunjukkan potensi Indonesia melalui penambahan minyak esensial dalam pakan ternak.

Penambahan minyak esensial dalam pakan ternak ini dapat memperbaiki performance ternak melalui meningkatnya nafsu makan ternak, meningginya produksi enzim-enzim pencernaan serta stimulasi antiseptik dan antioksidan dari minyak atsiri tersebut.

Saat ini dikenal lebih kurang 2600 jenis minyak esensial yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman. Jamak diketahui bahwa setiap tanaman mempunyai komponen bioaktif yang spesifik.

Di dalam tubuh makhluk hidup senyawa bioaktif tersebut mempunyai aktifitas microbial, sebagai antioksidan, bersifat antibotik dan juga meningkatkan kekebalan tubuh.

Beberapa contoh minyak esensial yang terdapat pada tanaman misalnya cinnamaldehyde (cinnamon), eugenol (clove), allicin (garlic) dan methol (peppermint).


Enzim

Walaupun dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan, penambahan enzim pada ransum kadang kala masih dibutuhkan. Saat ini telah terindentifikasi lebih kurang 3000 enzim.

Enzim sendiri merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa-senyawa yang komplek menjadi sederhana.

Beberapa faktor menjadi pemicu munculnya kebutuhan ini. Misalnya, antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor), rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan, dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak.

Xylanase dan ß-glucanase adalah contoh-contoh enzym yang digunakan pada ternak monogastrik untuk meningkatkan daya cerna ternak.

Penambahan enzim protease dapat untuk mengatasi rendahnya kemampuan ternak muda untuk mencerna protein pada kacang kedele (glycin dan ß-conglycin).

Bahan-bahan baku pakan yang kaya karbohidrat seperti gandum, barley, jagung dan lainnya, mengikat unsur phosphor dalam bentuk asam phytat (myo-inositol hexaxy dihidrogen phosphat) sehingga tidak mampu dicerna oleh ternak. Phytase sebagai enzim yang mampu meningkatkan penyerapan posphor dapat dipikirkan sebagai alternatif.

Dengan mensuplai phytase yang berasal dari Aspergillus atau Trichoderma strains dalam ransum ternak dapat meningkatkan ketersediaan phospor, Ca, Zn dan asam amino bagi ternak. Polusi lingkungan melalui Eutropication juga dapat dicegah dengan penambahan phytase dalam pakan ternak.

Penciptaan produk-produk zat aditif baru dengan nilai ekonomis tinggi serta mampu bersaing di pasar masih terbuka lebar bagi industri pakan dengan nilai bisnis yang cukup besar. (Samadi/Inovasi/YR)

PROBIOTIK DALAM PAKAN RANGSANG KEKEBALAN AYAM?

Edisi 168 Juli



(( Sering ada pakar yang benar-benar tidak tahu kondisi lapangan pemakaian Probiotik akan tetapi mengecam produsen Probiotik yang dianggap kurang bermanfaat dan justru membuat bingung peternak. ))

Sebuah pertanyaan yang nakal, akan tetapi justru menjadi menarik oleh karena begitu gencarnya pemakaian probiotik pada peternak ayam sampai saat ini. Sebuah fakta lapangan khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta bahwa Probiotik sangat akrab dengan paternak ayam dan sapi.
Setidaknya menurut penelusuran Tim Pemantau Lapangan Infovet ada lebih dari 30 merk Probiotik yang beredar di pasaran sampai tahun 2008 ini.
Dalam berbagai kesempatan seminar perunggasan, Infovet memperoleh informasi yang menarik tentang Probiotik. Banyak peternak, pemasar obat hewan, pakan dan vaksin, sering melemparkan pertanyaan kepada para pakar tentang arti, fungsi dan manfaat Probiotik pada ternak.
Sayangnya, jawaban pakar, kurang to the point, bahkan selalu berputar-putar. Akhirnya jawaban tegas tidak keluar dari pakar, dan para penanya menyimpulkan sendri berdasar interpretasi masing-masing.
Menjadi lebih menarik lagi, sering ada pakar yang benar-benar tidak tahu kondisi lapangan pemakaian Probiotik akan tetapi mengecam produsen Probiotik yang dianggap kurang bermanfaat dan justru membuat bingung peternak.
Padahal pakar itu sendiri yang tidak tahu dan kebingungan dengan pertanyaan spontan peserta seminar.”Wong jelas-jelas dia tidak tahu apa itu Probiotik, mbok sudah dengan gentle dan jujur dijawab tidak tahu. Titik. Eee…koq malah muter-muter gak jelas jawabannya. Jadinya kita semakin bingung dengan Probiotik dan kepada siapa kah kita bertanya yang lebih tepat,” ujar seorang TS yan diamini oleh para peternak unggas dalam suatu kesempatan seminar di Solo belum lama ini.
Mungkin hanya Ir Suharto MS seorang Dosen Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang dengan tegas menjawab dan menjelaskan apa itu Probiotik dan manfaat. Mengenai manfaatnya, maka Suharto disamping mencoba menjelaskan lebih jelas, sesederhana mungkin apa itu Probiotik, juga mengajak yang kurang jelas untuk melihat bukti dari pemakaian Probiotik itu di farm miliknya.
Selanjutnya kepada Infovet yang mewancarai secara khusus beberapa waktu yang lalu, ia menguraikan secara jelas, gambling dan rasional tentang berbagai tanya yang mengganggu praktisi peternakan salama ini.
“Sebetulnya para peternak tidak ada yang keberatan, bahkan merasa cocok dan diuntungkan dengan pemakaian Probiotik. Hanya terkadang beberapa pekerja kandang merasa memperoleh tambahan pekerjaan yaitu harus mencampur probiotik dengan pakan” ujar Suharto yang merintis pendirian PT Lembah Hijau Multifarm Surakarta sejak 1981.
Menurut Suharto yang juga Komisaris Utama PT LHM Surakarta bahwa fakta dan bukti nyata telah jelas bisa dilihat di LHM Research Station. Untuk sekedar diketahui bahwa LHM Research Station adalah Sebuah Kawasan pertanian terpadu yang dikelola oleh PT LHM.
Lokasi itu memang terbuka untuk umum, guna belajar dan membuktikan potensi pertanian terpadu termasuk juga pengaruh pemakaian Probiotik pada pertanian dan ternak.
Infovet yang sempat bertandang bersama rombongan mengunjungi kawasan pertanian terpadu (peternakan dan hortikultura) yang berlokasi di Sragen dan Sukoharjo itu memang harus mengakui dan harus berdecak kagum.
Apresiasi dan rasa kekaguman itu dirasakan oleh semua rombongan bahkan terus terbawa dalam perjalanan pulang bahkan sampai saat ini. Bagaimana tidak? Sebuah kawasan yang amat mengagumkan dan menjadi sumber inspirasi siapapun akan potensi alam Indonesia yang dahsyat, terutama jika dikelola dengan benar dan intensif.
Hamparan aneka sayuran, tanaman pangan jenis lain juga termasuk padi dan peternakan terpadu menjadikan seolah Indonesia bisa mempunyai ketahanan pangan luar biasa, jika saja ada seribu orang yang melakukan seperti Suharto.
Bukan berlebihan dan mengada-ada, bahwa karya nyata Suharto ini semestinya diikuti pakar yang lain dengan langkah nyata, tidak hanya sekedar bubar setelah seminar atau hanya jagoan di forum seminar semata.
Menurut Suharto, kaitan pemakaian Probiotik terhadap ternak adalah lahirnya efisiensi dan produktifitas ternak. Ia mengambil contoh pada ayam potong maupun petelur, akan menyebabkan konversi pakan membaik.
Artinya ada penghematan biaya. Di samping itu ada peningkatan kualitas produk. Misalnya pada ayam potong, kandungan lemaknya lebih rendah, sebab Probiotik dapat meningkatkan Metabolisme Energi (ME) dan Total Digestible Nutrien (TDN) sehinga imbangan antara portein dan energi lebih bagus.
Namun yang lebih penting lagi adalah aspek keserasian lingkungan dan kesehatan ayam.
Keserasian lingkungan yang dimaksud adalah, udara lingkungan menjadi lebih segar karena kotoran ayam relatif tidak berbau dan berarti tidak ada protes dan keluhan masyarakat.
Selain itu akan mempunyai dampak konservasi atau pelestarian lingkungan, karena kotoran ayam tidak menjadi pencemar lingkungan bahkan kotoran itu menjadi perawat lingkungan dan lebih siap digunakan sebagai pupuk organic.
Terkait khusus dengan manfaat Probiotik sebagai pendorong meningkatknya kekebalan pada ternak, barangkali penjelasan termudah adalah demikian. Seiring dengan udara segar, akibat rendahnya kandungan amoniak dalam kotoran, maka potensi ayam menderita gangguan kesehatan semakin kecil.
Khususnya penyakit pada sistem pernafasan akan dapat ditekan. Otomatis, pertumbuhannya ternak akan bergerak optimal. Termasuk dalam hal ini, tentunya adalah pertumbuhan organ-organ tubuh yang secara langsung maupun tidak langsung pada sistem kekebalan.
Selain itu dengan mekanisme kerja probiotik yang mampu mengefisienkan penggunaan pakan, maka tidak saja peternak menjadi irit, ekonomis dalam biaya produksi, namun sebenarnya telah mendorong ternak ayam memfungsikan seluruh organ tubuhnya secara efisien dan efektif.
Hasil akhirnya tentu saja, telah merangsang seluruh organ yang terkait dengan system kekebalan bekerja optimal. Dengan demikian, pakan yang dicampur dengan probiotik, akan memacu berfungsinya system kekebalan dalam tubuh ayam secara optimal.
Suharto telah membuktikan hal itu, tinggal anda para peternak untuk mengikuti mencari bukti atau puas dengan semakin melangitnya ongkos produksi, akibat lonjakan harga sapronak (pakan,obat dan vaksin,vitamin) dan barangkali upah tenaga kerja. (iyo)

MUSIM PERALIHAN, ANGIN KENCANG dan VITAMIN

Edisi 168 Juli




(( Langkah yang lain adalah secara sistematis memperhatikan program yang sudah jalan dan mempersiapkan secara lebih dini stock multivitamin untuk menghadapi udara panas. Tersedianya stock multivitamin menjadi penting, agar gangguan performans ayam tidak terganggu. ))

Sedikitnya sebanyak 7 kandang ayam potong dan petelur di berbagai daerah di Pulau Jawa roboh dan rusak. Menurut informasi dan laporan Tim Pemantau Lapangan Infovet di Sukabumi,Banyumas, Semarang, Yogyakarta, Solo dan Blitar sejumlah kandang rusak ringan sampai berat, bahkan di Banyumas dan Semarang 2 buah kandang roboh.
Meninggalkan bulan April khususnya pada bulan Mei dan memasuki Juni-Juli 2008 ini, ada fenomena alam yang patut mendapatkan perhatian masyarakat dan khususnya para peternak unggas.
Perhatian itu menjadi penting oleh karena mengingat sebagai suatu kesatuan dari siklus musim di negara tropis, maka sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kering atau kemarau pada kisaran Mei tahun ini.
Namun pada kenyataanya pada Juni tahun ini masih saja ada sebagian wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan dan sebagian Sulawesi masih saja didera banjir karena hujan dengan intensitas tinggi. Diperburuk dengan gundulnya hutan, maka banjir besar melanda sebagian dari dua pulau itu.
Hujan tahun ini, yang termasuk dalam kategori intensitas tinggi dan panjang waktunya (6-7 bulan), ternyata telah menimbulkan aneka bencana aIam di negeri ini. Menurut informasi dari berbagai lembaga pemantau iklim di dunia, yang dapat kita akses dari internet, maka musim kering di Indonesia kali ini diperkirakan akan berjalan lebih pendek dari pada musim hujan.
Artinya anomali musim kali ini, bukan saja akan berpengaruh terhadap aneka sektor kehidupan akan tetapi juga sudah pasti adanya kemungkinan dampak buruk. Tentunya bidang peternakan akan kena imbasnya juga
Sangat berbeda dari musim-musim kemarau sebelumnya, yang umumnya di Indonesia jauh lebih panjang waktunya di banding musim penghujan, ternyata musim kemarau tahun 2008 ini jauh lebih pendek. Sehinga ada fenomena alam yang pasti berbeda dari pada tahun-tahun sebelumnya. Atas dasar kondisi demikian para peternak unggas dituntut untuk lebih waspada dan mutlak perlu mengantisipas segala sesuatu kemungkinan yang bisa muncul dan sanggat merugikan.
Secara kebetulan ada artikel wawancara pada sebuah koran nasional yang mengupas tentang musim peralihan. Dan jika dikaitkan dengan aktifitas dunia perunggasan berita itu menjadi menarik dan sangat relevan. Mengapa menarik dan relevan? Oleh karena ada peringatan akan datangnya angin kencang yang berputar dan suhu udara yang lebih panas tetapi justru lamanya musim kemarau jauh lebih pendek dari tahun sebelumnya.
Pada 22 April 2008 dipaparkan hasil wawancara dengan pakar iklim dari Universitas Gadjah Mada Yogyakakarta Dr Ir Sunarto. Sang Pakar berujar, bahwa kemungkinan terbesar adanya potensi ”angin kencang berputar” atau ’puting beliung’ pada musim peralihan ini di kawasan sebagian besar Indonesia.
Beberapa kawasan yang lokasinya berada pada lembah diantara pegunungan yang mengapit, akan sangat besar potensi munculnya angin kencang berputar yang dapat mengancam pemukiman penduduk yang berada di kawasan itu. Sunarto yang juga Kepala Pusat Studi Bencana Alam UGM Yogyakarta itu, wanti-wanti atau mengingatkan dengan penuh sangat, agar warga mengantisipasi dampak dari fenomena alami itu.
Atas dasar peringatan itu, maka beberapa kawasan yang kemungkinan muncul fenomena alam itu dan terkait dengan lokasi kawasan perunggasan dapat disebut mulai dari Aceh sisi timur, Sumut sisi timur dan selatan, kemudian Sumbar sisi selatan termasuk Riau daratan.
Selain itu Lampung selatan, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, Ciamis, Banyumas, Bantul, Kulon Progo, Sleman Magetan, Madiun Blitar dan Malang, Jember, Jombang. Daerah yang disebut diatas memang kantung-kantung perunggasan. Atau sebut saja sebagai sentra kandang ayam potong maupun petelur.
Peringatan itu menjadi penting, oleh karena harus kita akui akurasi prediksi dari Badan Meteorologidan Geofisika (BMG) Indonesia saat ini sudah semakin baik oleh karena dukungan peralatan dan SDM serta koneksi dengan negara-negara maju.
Mengingat usaha perunggasan yang padat modal dan teknologi itu, maka sudah selayaknya kini para peternak juga mempertimbangkan dengan seksama informasi tentang musim.
Kembali pada paparan Sunarto, bahwa cuaca pada musim peralihan akan bersifat labil. Artinya sangat mudah sekali berubah-ubah secara drastis. Cuaca yang semula mendung hitam seperti hendak turun hujan, dengan cepat akan menjadi cerah, terang benderang, dan bahkan suhu udara akan menjadi panas menyengat.
Hal ini, berakibat air yang berada di dalam tanah akan panas. Sehingga penguapan air di dalam tanah itu tinggi, sehingga kemudian akan kita rasakan udara panas atau gerah yang sangat. ”Dari atas bumi kita menerima panas sinar matahari, sedangkan dari bawah tanah terjadi penguapan air. Bumi tempat kita berpijak akhirnya menjadi sangat panas udararanya.
Dari peringatan yang diungkapkan di atas, ada 3 (tiga) hal yang patut mendapat perhatian ekstra dari para peternak unggas di Indonesia. Pertama, potensi angin kencang berputar, atau umum menyebut sebagai puting beliung akan muncul dan dapat mengancam bangunan kandang.
Kedua, suhu udara yang meningkat akan berpengaruh besar terhadap performans ayam secara umum, jika tidak ada upaya antisipasif.
Ketiga, mengingat hampir sebagian besar lokasi kandang ayam komersial maupun pembibitan berada di kawasan yang termasuk katagori rawan terjangan angin kencang dan juga udara panas,maka peringatan itu tidak bisa dianggap sepele.
Langkah antisipasi antara lain dengan memeriksa kembali konstruksi bangunan kandang dan pergudangan. Teruatama tiang penyangga bangunan dan atap penutupnya. Pohon-pohonan yang rentan roboh harus dipangkas cabang dan rantingnya. Tirai penutup sisi kandang harus diamati apakah masih layak dan mampu berfungsi.
Kemudian selain itu perlu memeriksa sumber mata air agar tidak terjadi defisit air dalam memasuki kemarau ini, meski diperkirakan lebih pendek. Langkah yang lain adalah secara sistematis memperhatikan program yang sudah jalan dan mempersiapkan secara lebih dini stock multivitamin untuk menghadapi udara panas. Tersedianya stock multivitamin menjadi penting, agar gangguan performans ayam tidak terganggu.
Selain itu sudah pasti bisa ditebak, pada ayam petelur dimana produksi jagung dan katul akan mengalami masalah. Prediksi panen jagung memang masih belum mengkhawatirkan,karena kemungkinan besar terjadi panen raya. Akan tetapi panen raya padi mungkin sedikit mengalami penurunan. Akibatnya harga katul akan terdongkrak.
Dengan paparan situasi musim peralihan memasuki musim kemarau di atas seyogianya semua stake holder peternakan mengambil langkah antisipasif sesuai dengan kompetensi kegiatannya masing-masing. Dengan demikian, harapan terwujudnya usaha perunggasan yang kokoh dan mandiri akan terwujud. Semoga. (iyo/KT)

BUKAN SEKEDAR MENGENANG SILASE KOMPLIT

Edisi 168 Juli

(( Soal silase bukanlah sekenar mengenang ada teknologi macam ini untuk pakan ternak kita. Tapi patut untuk dilakukan. ))

Lingkungan yang relatif panas pada musim kemarau menyebabkan sebagian ternak akan ‘enggan makan’ sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh juga kurang.

Persediaan pakan silase bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak musim kemarau. Paling tidak dengan menerapkan teknologi ini dapat memberikan solusi pemenuhan pakan di musim kemarau sekaligus dapat mempertahankan kualitas asupan gizi untuk ternak.

Pembuatan silase komplit dapat dijadikan salah satu cara untuk mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau sekaligus memperbaiki kualitas gizi pakan ternak. Pada kondisi hijauan melimpah di musim penghujan, bahan pakan hijauan baik berupa HMT maupun sisa tanaman pangan diperam dengan penambahan bahan konsentrat akan dapat tahan sampai 4-8 bulan.

Demikian A Sofyan dan A Febrisiantosa Peneliti UPT. BPPTK - LIPI Yogyakarta dalam suatu sumber menjawab problematika umum usaha peternakan di negara-negara tropis seperti Indonesia adalah faktor suhu lingkungan yang cukup tinggi terutama pada musimkemarau yang berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi pada tubuh ternak.

Saat panas seperti itu, sering dijumpai kasus ’kanibalisme’ sapi yakni sapi ’makan’ sapi. Hal ini terjadi karena kondisi persediaan pakan terutama di daerah yang tidak punya banyak tanaman HMT-nya sebagai sumber asupan nutrient.

Padahal, asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan bereproduksi. Implikasi dari kondisi asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (average daily gain/ADG) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri.

A Sofyan dan A Febrisiantosa mengatakan, ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan
nutrient.

Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna (McDonald et al., 2000).

Masalah lainnya adalah ketersedian pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan awetan hijauan (silase).

Pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan musim/panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kausus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga kadar nutrient sesuai dengan kebutuhan gizi ternak.

Dikarenakan sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi, pengolahan bentuk silase memiliki beberapa keunggulan. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80 persen).

Menurut A Sofyan dan A Febrisiantosa, keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi.

Konsep teknologi silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen).

Dalam praktek di lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.

Menurut B A Sofyan dan A Febrisiantosa, berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan.

1) Lebih mudah dalam pembuatannya karena tidak perlu memerlukan tempat pemeraman yang an-aerob, cukup dengan semi aerob.
2) Kandungan gizi yang dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.
3) Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).

Prinsip pembuatan pakan komplit dalam bentuk silase ini seperti proses fermentasi pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari 3 kelompok bahan yakni kelompok bahan pakan hijauan, kelompok bahan pakan konsentrat dan kelompok bahan pakan aditif.

Bahan pakan hijauan disini dapat berupa bahan pakan dari hijauan makanan ternak (HMT) seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput kolonjono (Panicum muticum), Tanaman Jagung (Zea mays) dan rumput-rumput lainnya.

Selain dari HMT, limbah-limbah dari sisa panen seperti jermai padi, jerami kedelai juga dapat digunakan. Bahan pakan ini sebagai sember serat utama. Kelompok bahan pakan konsentrat dapat berupa dedak padi/bekatul, onggok (ampas tapioka), ampas sagu, ampas tahu dan lain-lain.

Bahan pakan konsentrat ini selain untuk memperbaiki kandungan nutrisi dari pakan yang dihasilkan juga berfungsi sebagai substrat penopang proses fermentasi (ensilase). Kelompok ketiga adalah bahan-bahan aditif. Bahan aditif disini dapat terdiri dari campuran urea, mineral, tetes dan lain-lain.

Begitulah, akhirnya A Sofyan dan A Febrisiantosa mengatakan faktor kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan keberhasilan budidaya peternakan.

Jadi soal silase bukanlah sekenar mengenang ada teknologi macam ini untuk pakan ternak kita. Tapi patut untuk dilakukan. (Inovasi/ YR)

IMPOR BAHAN BAKU PAKAN YANG BERMASALAH

Edisi 168 Juli


(( Impor bahan baku pakan ternak saja sudah merupakan masalah bagi negeri yang kaya raya dengan kekayaan alam termasuk untuk pakan ternak. Dengan terhambatnya pakan ternak impor masuk ini, bertambahlah masalah. ))

Bukan rahasia umum negeri ini pun pengimpor tiga jenis bahan baku komponen utama pemberi protein bagi pertumbuhan ternak. Tiga bahan baku ini adakah tepung daging dan tulang (meat and bone meal), tepung daging unggas (poultry meat meal), dan feather meal, yakni tepung bulu yang sebagai bahan pakan alternatif biasanya berasal dari bulu unggas, khususnya bulu ayam.

Rata-rata nilai impor tiga jenis bahan baku itu sebulan sekitar 75.000 ton. Beban biaya tambahan semakin besar karena importir juga harus membayar sewa gudang swasta dan biaya pemindahan yang totalnya mencapai Rp 11 juta. Total kerugian akibat lambannya pengurusan SPP tiap kontainer sebanyak Rp 37 juta per ton.

Sebegitu jauh kita mengimpor nahan baku pakan ternak tersebut, minggu kedua Juni 2008 bahan baku pakan itu terhambat masuk, sekitar 75.000 ton bahan baku pakan ternak tidak bisa dibongkar dan terancam dilelang.

Hal ini karena sebanyak 97 berkas surat persetujuan pemasukan (SPP) bahan baku pakan atau rekomendasi impor hingga Jumat (13/6) menumpuk di Departemen Pertanian atau Deptan.

"Keterlambatan pengurusan SPP bisa terjadi karena petugas atau direktur yang berwenang menandatangani tugas keluar atau dokumen kurang lengkap," ungkap Direktur Jenderal Peternakan Deptan Tjeppy D Sudjono.

"Biaya tambahan yang harus dikeluarkan akibat terhambatnya proses administrasi cukup besar," tambah Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Fenni Firman Gunadi.

Perhitungan industri pakan ternak menunjukkan, pada pekan pertama hingga keenam total demurrage yang harus dikeluarkan importir mencapai 2.800 dollar AS untuk tiap kontainer 20 kaki. Nilai riil kerugian yang harus ditanggung akibat demurrage (biaya kelebihan waktu dalam pemakaian kontainer), biaya sewa gudang, dan pemindahan barang mencapai Rp 112,5 miliar sebulan. Demikian Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia Anton J Supit.

Akibatnya, kata Anton, ”Biaya tinggi tersebut pada akhirnya harus ditanggung oleh peternak dan masyarakat konsumen.”

Sebetulnya, terhambatnya surat persetujuan pemasukan (SPP) di Direktorat Jenderal Peternakan terjadi sejak 2 Mei 2008 hingga. Pemohon SPP tidak terproses setelah kapal merapat 14 Mei 2008. Bahkan, sudah ada barang yang waktu bebas demurrage-nya habis.Demikian Ketua Umum Forum Masyarakat Perunggasan Don Utoyo.

Sampai minggu pertama Juni 2008, tercatat sebanyak 107 berkas SPP terhambat di Deptan. Setelah mendapat protes dari kalangan pengusaha pakan ternak, pada 9 Juni 2008 Deptan menandatangani sepuluh berkas SPP. Hingga minggu ke dua Juni 2008, masih terdapat 97 berkas SPP yang belum ditandatangani.

Impor pakan ternak saja sudah merupakan masalah bagi negeri yang kaya raya dengan kekayaan alam untuk pakan ternak. Dengan terhambatnya pakan ternak impor masuk ini, bertambahlah masalah. Sampai kapan berakhir? (Kps-MAS/ YR)

PAKAN LAGI, JAGUNG LAGI

Edisi 168 Juli

(( Beberapa berita dan ertikel tentang bahan baku pakan dari jagung masih mewarnai kesulitan pemenuhannya, bahkan ketika impor masih dilakukan, sedangkan perusahaan lokal terus mencari poemenuhan bukan hanya dari daerahnya saja. Namun, kita tidak akan menyerah bukan? ))

Sebagai kelanjutan dari masalah “Industri Unggas Bakal Terpukul, Harga Jagung di Pasar Dunia Terus Naik” yang diangkat Infovet pada triwulan pertama tahun ini, melalui website Infovet http://www.infovet.co.cc/, para pembaca setia Majalah Infovet memberikan pendapatnya.

Pembaca Infovet Perdana Agusta mengatakan, selama ini belum ada positif respon dari pemerintah untuk mencermati masalah langkanya pemenuhan kebutuhan bahan baku pakan.

Menurut Perdana Agusta, pemerintah sebaiknya mengintensifkan pengembangan di sektor pertanian dan perkebunan melalui pembangunan infrastruktur yang menunjang pertanian dalam skala besar, pemberian bantuan modal bagi petani dan memberikan trainning dalam melakukan transformasi tradisional teknologi peternakan ke peternakan modern.

Menurutnya, harga pakan ternak terutama pada pakan Layer saat ini mengalami kenaikan yang cukup significant sementara bahan baku pencampur jagung khususnya di beberapa tempat mengalami “shortage”.

Selanjutnya, pakan kosentrat akan terus mengalami gejolak kenaikan harga sebaliknya akankah harga telur dan daging ayam akan meningkat berbanding lurus dengan kenaikan ini? Harga telur dan daging ayam belum menemukan keseimbangan karena sangat ditentukan oleh hukum pasar.

“Apa yang akan terjadi pada dunia industri unggas pada tahun 2008?” tanya Perdana Agusta, seraya menyayangkan bilamana yang dapat kita lakukan ternyata hanya menunggu dan melihat untuk menjumpai hal yang tidak dapat diperkirakankah.

Adapun menurut pemabaca Infovet Iman Susanto, pihak yang akan sangat terpukul dengan kondisi kenaikan harga jagung adalah para peternak ayam. Kenaikan harga jagung akan bedampak langsung terhadap kenaikan harga pakan unggas, sampai saat ini jagung masih merupakan sumber energi dominan dalam pakan yang belum tergantikan oleh bakan pakan lain.

Menurut Iman Susanto, naiknya harga pakan akan mempercepat proses gulung tikar para peternak mandiri yang pada urutannya akan berdampak menurunnya ketersediaan produk unggas. Hukum permintaan dan penawaran akan berlaku, pada saat penawaran rendah sementara permintaan tetap maka harga produk akan tinggi.

“Mari kita bergerak bersama melihat kondisi seperti ini, para stake holder terkait harus segera mengambil tindakan nyata, tidak hanya sekedar wacana dan rencana. Bukan tidak mungkin kita bisa menambah lahan untuk ditanami jagung, perlu diingat bahwa negara yang kita cintai ini masih sangat subur dan masih sangat luas,” tegas Iman Susanto.

Pendapat Iman Susanto disetujui oleh pembaca Infovet Wahyu Sulistyo. “Menurut saya pengembangan pertanian jagung atau tanaman lainnya yang mendukung industri peternakan perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah,” katanya.

Wahyu Sulistyo melanjutkan, “Selama saya tinggal di Pulau Sulawesi khususnya Gorontalo saya melihat potensi SDA yang ada bisa digunakan untuk meningkaykan industri agribisnis negara kita cuma kondisi sekarang perhatian dari pemerintah belum ada.”

Adapun pembaca Infovet Albert Jemmy Nathan berkata, “Menurut saya mengenai jagung ini sebenarnya merupakan potensi yang sangat besar bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk lebih bisa dikembangkan. Hanya saja peluang ini belum dilihat sebagai lahan investasi yang besar. Padahal sebenarnya bila Jagung ini bisa dimanfaatkan secara maksimal bisa membantu masyarakat-masyarakat yang pedalaman seperti para transmigran selain keuntungan yang bisa di dapat.”

“Di sini yang bisa saya lihat permasalahannya dari para petani adalah kurangnya para penampung atau pembeli yang mau atau ada untuk membeli. Sehingga para petani hanya menanam dalam kapasitas yang kecil. Saya berharap agar bermunculan orang-orang yang mau melirik bisnis ini,” lanjut Albert Jimmy Nathan.

Dan bila ada yang berminat, anjurnya, “Salah satu daerah yang bisa saya sarankan salah satunya adalah Nusa Tenggara Barat di mana tempat saya berada. Bila berminat saya siap membantu.”

Dan ternyata, beberapa berita dan artikel tentang bahan baku pakan dari jagung masih mewarnai kesulitan pemenuhannya, bahkan ketika impor masih dilakukan, sedangkan perusahaan lokal terus mencari poemenuhan bukan hanya dari daerahnya saja.

Namun, kita tidak akan menyerah bukan? Akhirnya pembaca Infovet Welfrin Panggabean mengatakan, “Pemerintah berperan penting dalam memanfaatkan kondisi ini. Budidaya jagung harus digalakkan lagi. Sejak tahun 70-an Ibu Sud sudah mensosialisasikan penanaman jagung ini melalui lagunya yang berjudul MENANAM JAGUNG DI KEBUN KITA. Banyak hal yang harus dibenahi bukan hanya infrastruktur, melaikan sistem agribisnis jagung secara keseluruhan mulai dari subsistem input, onfarm dan outputnya.”

“Saran saya,” kata Elfrin, “Impor jagung harus dikurangi, dampaknya harga jagung dalam negeri akan meningkat, sehingga para petani mulai tertarik lagi untuk mengusahakan komoditas ini. BANGKIT INDONESIA! (infovet.co.cc)

Ketika Pabrik Pakan Ternak Pontianak "Berburu" Jagung

Edisi 168 Juli


(( Kebutuhan pakan ternak di Kalbar yang diperkirakan mencapai 125 ribu ton per bulan. Sejumlah daerah yang tengah dijajaki untuk menyuplai dari sentra-sentra produksi jagung di Pulau Jawa dan Lampung. ))

Status daerah bebas kasus flu burung ikut memicu membaiknya kondisi ternak ayam di Kalbar. Peran Kalbar terhadap produksi daging ayam secara nasional sekitar 14 persen. Setiap tahun, para peternak Kalbar mampu menghasilkan 15,2 juta ekor ayam.

Kalbar termasuk daerah yang tingkat konsumsi ayamnya cukup tinggi yakni 63 persen dari total kebutuhan akan daging. Saat ini terdapat sekitar 750 peternak unggas di Kalbar dengan porsi 60 persen skala kecil dan sisanya menengah hingga besar.

Kebutuhan pakan ternak di Kalbar yang diperkirakan mencapai 125 ribu ton per bulan. Sejumlah daerah yang tengah dijajaki untuk menyuplai dari sentra-sentra produksi jagung di Pulau Jawa dan Lampung. Sedangkan Gorontalo yang dikenal sebagai "provinsi jagung" tidak dilirik karena mempertimbangkan ongkos angkut.

Menurut Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Kalbar, Abdul Manaf Mustafa dalam suatu kesempatan, mereka masih mencari bahan baku ke berbagai daerah karena jagung dari petani Kalbar belum memenuhi kebutuhan pabrik.

Bahkan, pabrik pakan ternak di Terminal Agrobisnis Terpadu (TAT) Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat masih mencari bahan baku terutama jagung sehingga mengundurkan target mulai produksi pertengahan Mei 2008.

Pabrik tersebut berkapasitas lima ton per jam dengan waktu operasional per hari 16 jam atau total produksi mencapai 80 ton per hari. Jagung mencakup 55 persen dari bahan baku yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram pakan. "Setidaknya dibutuhkan 40 ton jagung per hari dengan asumsi total produksi 80 ton," kata Abdul Manaf.

Selain jagung, pakan tersebut dicampur dengan kedelai, dedak dan sorgum. Ia menambahkan, mengingat kebutuhan jagung yang amat tinggi, peran petani lokal amat penting untuk menjaga kontinuitas produksi.

"Untuk sementara bahan baku lebih banyak dari luar Kalbar, tetapi selanjutnya kami mengharapkan petani lokal mampu menyuplai 100 persen terutama untuk jagung," kata dia.

Pabrik pakan itu dibangun Pemprov Kalbar dengan melibatkan pihak swasta. Dana APBN yang dialokasikan sebesar Rp8,5 miliar untuk menyiapkan mesin produksi. Sedangkan swasta sarana pendukung lain seperti bahan baku dan tenaga ahli.

Namun Pemprov Kalbar masih belum memastikan keuntungan secara langsung yang akan diperoleh dari pembangunan pabrik pakan itu meski menggunakan dana negara.

"Akan ada pembicaraan lagi yang melibatkan Pemprov Kalbar, pengusaha dan kelompok tani selaku penyedia bahan baku mengenai bentuk bagi hasil yang paling tepat," kata Abdul Manaf. (Ant/ Infovet)

CACINGAN

Edisi 167 Juni 2008

(( Infestasi cacing tidak akan pernah lepas dari layer, dan ini sangat mengganggu produksi. ))

100 tahun kebangkitan nasional, sebuah perjalanan panjang yang telah menghantarkan penduduk negeri ini ke ranah yang berbudaya yang dikenal bangsa-bangsa lainnya di dunia. 100 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunjukkan eksistensi diri, sebagai bangsa yang beradab, berbudi luhur dan santun dalam bersikap.
100 tahun merupakan awal sejarah kembalinya bangsa ini ke titik awal untuk bangun dan bangkit dari keterpurukan sosial dan jati diri, saatnya mengkaji, apa yang menjadi penyebab kegagalan-kegagalan dalam mencapai tujuan mulya bangsa ini?
Di bidang usaha peternakan, kajian yang berkelanjutan tentang upaya melenyapkan infestasi cacing terus dilakukan. Berbagai usaha diuji coba, namun tetap tidak membuahkan hasil, artinya upaya untuk menzerokan usaha peternakan dari gangguan cacing tetap tidak tercapai.
Hal ini terkait dengan keberadaan cacing sebagai organisme hidup, di mana selagi ada hospes maka cacing tetap dijumpai.
Cacing adalah penyebab penyakit pada ternak yang sering dilupakan, terutama pada usaha peternakan unggas modern. Hal ini sesuai dengan komentar yang disampaikan Hanggono SPt bahwa infestasi cacing tidak akan pernah lepas dari layer, dan ini sangat mengganggu produksi layer tersebut.
Infestasi cacing yang sering menggerogoti usaha peternakan layer adalah cacing pita atau cestoda. Cacing ini dapat dijumpai di berbagai spesies dan tidak terpaku pada jenis induk semang yang spesifik.
Cacing pita berbentuk pipih, putih dan panjang seperti pita (tape worm) dan bersegmen. Cacing pita terdiri dari kepala atau scolex dan zona pertumbuhan atau leher, bersegmen yang disebut strobila dan tiap-tiap segmen disebut proglottid. Cacing pita pada unggas dijumpai pada saluran pencernaan.
Hewan perantara (intermediate) yakni invertebrata seperti kumbang atau lalat yang dibutuhkan untuk menyempurnakan siklus hidupnya. Hewan perantara ini akan memakan telur cacing dari unggas yang terinfestasi cacing tersebut. Telur di dalam saluran pencernaannya akan menetas.
Larvanya akan menembus dinding usus dan masuk ke dalam rongga badan kemudian akan berubah menjadi cysticercoids dalam waktu 3 minggu. Unggas terinfestasi cacing pita karena memakan hewan perantara tersebut.
Cysticercoids akan dilepaskan oleh cairan pencernaan dari induk semang kemudian akan terkait pada dinding usus induk semang, lalu proglottids yang baru mulai membentuk segera dan dalam waktu 3 minggu cacing pita dewasa sudah terbentuk.
Layer dengan infestasi cacing pita menampakkan perubahan seperti mendadak lesu, diare, jika cacing pitanya banyak dapat menyebabkan radang usus disertai diare yang meluas, sehingga menyebabkan produksi menurun dibawah rata-rata, Infestasi cacing pita mengakibatkan penurunan bobot badan, mengganggu laju pertumbuhan, menurunkan produksi daging dan telur.
Cacing pita dalam jumlah besar mengambil sari-sari makanan dari tubuh inang, ini berakibat terjadinya hipoglikemia yang menyebabkan kematian ayam secara mendadak dalam jumlah yang besar. Terkait dengan siklus hidup cacing pita tersebut, apa yang harus dilakukan peternak?
Adalah drh Zalpidal Ketua PDHI Cabang Riau menyatakan bahwa usaha yang perlu dilakukan peternak adalah memutus siklus hidup cacing tersebut, artinya peternak harus mampu menekan sedemikian mungkin keberadaan hewan perantara di lokasi peternakannya.
Dikatakannya bahwa kumbang dan lalat sebagai vektor sedapat mungkin ditiadakan di lokasi peternakan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kebersihan kandang.
Senada dengan Ketua PDHI Cabang Riau tersebut, Hanggono SPt Technical Service PT Medion Cabang SUMSEL menyatakan bahwa usaha pengendalian vektor adalah peringkat utama yang harus dilakukan, ini dapat dilakukan dengan cara menjaga sanitasi kandang dan lingkungannya. Lalu bagaimana perlakuannya untuk ayam dengan infestasi cacing pita?
Biasanya dapat dikontrol dengan pemberian obat cacing, namun perlu diingat oleh peternak bahwa pengobatan tidak cukup dilakukan sekali, ini tergantung pada tingkat serangannya.
Banyak obat yang telah direkomendasikan oleh medis veteriner atau Technical Service di lapangan, dalam hal penanganan kasus cacing pita, peternak tinggal pilih, merek dan jenis preparat anthelmentika mana yang akan digunakan untuk menanggulangi kasus tersebut.
Menurut Hanggono SPt, program penanggulangan cacing pita dapat dilakukan dengan cara pemberian obat cacing setiap 6 minggu, dan ini rutin dilakukan, hal ini mengingat siklus hidup cacing pita yang terus ada sepanjang musim pemeliharaan layer.
Peternak dapat menggunakan preparat levamisol dan niclosamid untuk pengobatan sekaligus mencegah keberadaan endo parasit pada layer.
Di samping itu, drh Zalpidal Ketua PDHI Cabang Riau dan TS senior PT Romindo Primavetcom Cabang Riau menganjurkan untuk menggunakan preparat piperazine citrate 40% untuk tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit cacingan di usaha peternakan layer.
Pemberian preparat ini dapat dilakukan melalui air minum dengan cara melarutkan 30 ml piperazine citrate 40% dalam 3 liter air untuk 100 ekor layer umur 4-6 minggu, sedang untuk layer di atas 6 minggu, dosis dinaikan 60 ml dalam 6-10 liter air.
Perlu diingat oleh peternak bahwa selama program pencegahan dan pengobatan cacingan pada layer dengan aplikasi air minum, usahakan ayam untuk tidak minum yang lainnya selain air yang telah dicampur dengan preparat anti cacing yang dipilih oleh peternak. (Daman Suska).

Cacingan Si Pencuri Nutrisi Ternak

Edisi 167 Juni 2008

Peternakan tanpa serangan penyakit merupakan suatu dambaan setiap peternak. Namun dengan program pengobatan yang ketat dari awal ayam masuk kandang sampai ayam keluar kandang (dipanen pada ayam broiler atau diafkir pada ayam layer) masih saja ada ayam yang terserang penyakit, seperti penyakit cacingan.
Cacingan pada ayam sering dianggap masalah sepele oleh peternak. Hal ini dikarenakan ayam tidak menunjukkan gejala yang khas. Gejala seperti lesu, nafsu makan turun dan pucat (anemis) baru terlihat jika ayam sudah terinfestasi cacing dalam jumlah yang banyak. Hal ini berbeda dengan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus yang biasanya diikuti dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi serta secara ekonomi sangat merugikan bagi usaha peternakan.
Hal itu disampaikan Drh Hadi Wibowo praktisi bidang peternakan yang ditemui Infovet dirumahnya kawasan Cijantung, Jakarta Timur. Menurut Hadi gejala cacingan pada ayam tersebut perlahan-lahan akan diikuti dengan hambatan pertumbuhan, penurunan produktivitas dan dapat diakhiri dengan kematian jika tidak segera diobati. Penyelesaian terhadap kasus cacingan biasanya diberi obat berupa anthelmintika (obat cacing). Selain itu juga dilakukan pencegahan seperti sanitasi kandang dan peralatan kandang.
Adanya latar belakang kasus seperti ini maka Infovet edisi Juni 2008 ini akan membahas mengenai dampak penyakit cacingan pada unggas dan ternak besar lainnya, beberapa jenis cacing yang umum menyerang, serta cara pengendaliannya.

Bisakah Ayam Cacingan?
Hadi Wibowo yang berpengalaman lebih dari 20 tahun di usaha peternakan ayam menuturkan bahwa penyakit cacingan pada ayam walaupun tidak mendapat perhatian khusus dari peternak namun memiliki arti ekonomi yang besar karena bisa menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi (telur dan daging) dan kematian pada ayam jika tidak diobati sedini mungkin.
“Serangan cacing pada ayam tidak menyebabkan tanda-tanda kesakitan yang jelas. Hal ini karena populasi cacing yang terdapat pada tubuh ayam baru sedikit. Namun jika serangan awal cacing tersebut tidak diperhatikan maka akan menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak diharapkan oleh peternak,” ujar Hadi.
Ditemui terpisah Drh Hasbullah MSc PhD dari PT Pfizer Indonesia Divisi Animal Health menambahkan, pada kondisi lapangan, peternak baru turun tangan jika kondisi ayamnya terlihat parah yaitu nafsu makannya turun, adanya diare, berat badan turun, produksi telur turun, jengger dan kulit kakinya pucat. Hal tersebut disebabkan karena peternak berpikiran bahwa pencegahan penyakit cacingan telah diketahui dan dapat diaplikasikan dengan mudah.
Disamping itu juga masa pemeliharaan ayam broiler yang pendek sekitar 1,5 bulan, serta ayam layer yang biasanya dipelihara pada kandang baterai sehingga kontak dengan tanah lebih sedikit, karena tanah merupakan salah satu tempat perkembangbiakan cacing ataupun tempat hidup induk semang antara.

Dampak Cacingan pada Ayam
Lebih lanjut, Hadi Wibowo yang saat ini bekerja di PT Sumber Mulitivita menyatakan bahwa penyakit cacingan sering dianggap tidak penting oleh peternak, tidak seperti penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang menunjukkan gejala klinis jelas dan sering diikuti dengan tingkat kematian yang tinggi. Lain halnya dengan cacingan, penyakit ini seperti penyakit yang tersembunyi yaitu walaupun sudah berkembang dalam tubuh ayam namun belum menunjukkan gejala klinis yang pasti sampai cacing tersebut menginfestasi ayam dalam jumlah besar. Infestasi cacing yang ringan (jumlah cacing sedikit) tidak dapat langsung dirasakan akibatnya oleh peternak, karena ayam tampak sehat-sehat saja namun tanpa disadari produksi (daging dan telur) menurun.
Jika infestasi cacing sudah berat yaitu jumlah cacing dalam tubuh ayam banyak maka akan terlihat nafsu makan turun, pertumbuhan terhambat, bulu kasar, pucat dan kurus. Gejala tersebut diikuti dengan penurunan produksi (daging dan telur) yang lebih signifikan, dikarenakan pakan yang seharusnya diolah dalam tubuh ayam menjadi daging atau telur, diserap cacing sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhannya. Selain itu cacing juga dapat menyebabkan perdarahan pada mukosa usus, biasanya oleh cacing pita, sehingga ayam akan kehilangan darah dan cairan tubuh secara langsung.
“Infestasi cacing yang berat dapat pula menyebabkan mencret atau diare sehingga bulu sekitar anus menjadi kotor, basah dan lengket. Jika hal ini berlanjut maka akan menyebabkan daya tahan tubuh ayam menurun sehingga dengan mudah akan terserang penyakit lain,”.
Hal senada disampaikan Dr Drh Hasbullah, menurutnya, belum pernah ada data yang menguraikan secara jelas dampak ekonomis penyakit cacingan baik pada unggas maupun ternak besar, sehingga banyak peternak yang menyepelekan kejadian penyakit ini. Hal ini wajar bila dibandingkan dengan infeksi kasus penyakit Koksi, ND, atau IB pada unggas yang gejala penyakit dan dampaknya secara jelas langsung terlihat seperti tingkat mortalitas dan morbiditasnya.
“Penyakit cacing atau helminthiasis masih kurang diperhatikan peternak karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND atau Al). Padahal penyakit ini mampu menimbulkan kerugian cukup besar. Waktu serangannya sulit diketahui, tiba-tiba saja produktivitas ayam menurun,” ujar Hasbullah.
Hadi melanjutkan, ayam yang terserang cacingan akan menjadi lesu, pucat dan dapat menyebabkan kematian. Pada bedah bangkai, saluran percernaan dimana cacing sering ditemukan terutama pada proventrikulus, usus atau sekum akan terlihat berdarah, radang dan dinding ususnya menebal. Kerusakan tersebut dikarenakan cacing menembus mukosa usus sehingga dindingnya menjadi tebal dan kasar yang berlanjut menjadi nodul-nodul, Jika parah akan menyebabkan peradangan dan dapat berlanjut dengan perdarahan jika cacing sudah menembus dan melukai dinding usus.
Dengan begitu Hadi tidak setuju bila cacing dikatakan sebagai pencuri nutrisi ternak karena keberadaan cacing lebihbanyak merusak saluran permukaan saluran pencernaan yang menyebabkan penyerapan nutrisi terganggu dan bahkan jika populasinya terlampau banyak
Cacing yang terdapat dalam usus akan berkompetisi dengan tubuh ayam itu sendiri dalam mengambil sari makanan pada saluran pencernaan. Semakin banyak populasi cacing dalam tubuh ayam maka semakin banyak pula sari makanan dalam tubuh ayam yang berkurang. Selain itu populasi cacing dalam usus juga dapat menyebabkan gangguan absorbsi sari makanan yang jika berlanjut pertumbuhan ayam akan terganggu.

Beberapa Jenis Cacing pada Ayam
Banyak jenis cacing yang dapat menyerang ayam. Secara umum dapat digolongkan menjadi 3 yaitu: trematoda (cacing daun), cestoda (cacing pita) dan nematoda (cacing gilig). Dari ketiga jenis tersebut, nematoda dan cestoda merupakan golongan cacing yang banyak menyerang dan menyebabkan kerugian ekonomi pada ayam. Beberapa jenis cacing yang banyak menyebabkan kasus cacingan adalah sebagai berikut:

Cestoda (cacing pita)
Tubuhnya biasanya panjang, pipih dan terdiri dari 3 daerah yaitu kepala, leher dan badan. Kepala (skoleks atau alat pegangan) yang biasanya dilengkapi dengan alat penghisap. Alat penghisap tersebut kadang dilengkapi dengan kait. Struktur lain yang sering ada adalah rostelum, suatu tonjolan seperti hidung yang dapat dipersenjatai dengan kait juga. Leher terletak dibelakang kepala dan badan (strobila) yang tersusun atas segmen-segmen yang disebut proglotida. Setiap proglotida berisi satu pasang organ perkembangbiakan jantan dan betina. Semakin jauh dari leher semakin matang organ tersebut.
Cestoda merupakan hermaprodit dimana dalam tubuhnya terdapat alat reproduksi jantan dan betina. Jika proglotida sudah penuh dengan telur maka akan pecah dan keluar dari tubuh bersama dengan feses. Golongan cacing ini yang sering menyerang pada ayam adalah:
a. Raillietina sp.
Cacing pita ini merupakan cacing yang umum ditemukan pada ayam di Indonesia. Tubuhnya mempunyai banyak proglotida. Terdapat rostelum dengan banyak kait. Kait tersebut yang sering menimbulkan kerusakan pada mukosa saluran pencernaan sehingga menyebabkan perdarahan pada usus. Beberapa jenis Raillietina pada ayam adalah:
1. Raillietina cesticillus
Biasanya terdapat pada usus halus bagian anterior (depan). Panjangnya dapat mencapai 13 cm dan biasanya dilengkapi dengan alat penghisap. Telurnya berkapsula (berselubung) dan setiap kapsula berisi satu telur. Induk semang antaranya berupa kumbang.
2. Raillietina echinobothria
Dapat ditemukan pada usus halus, panjangnya bisa mencapai 25 cm. Alat penghisapnya agak besar, setiap kapsula berisi 6-12 telur. Sering menimbulkan nodul-nodul (bintik kecil) pada tempat melekatnya di dinding usus halus. Induk semang antaranya adalah semut.
3. Raillietina tetragona
Terdapat di dalam usus halus bagian posterior (belakang), panjangnya mencapai 25 cm. Setiap kapsula berisi 8-12 telur. Induk semang antaranya juga berupa semut.

b. Davainea sp.
Cacing jenis ini mempunyai kait berjumlah banyak dan hanya tersusun dari sedikit segmen. Davainea proglottina merupakan salah satu contoh cacing kelompok ini. Cacing ini terdapat pada duodenum ayam, dengan panjang 0,5-3 mm dan mempunyai 4-9 proglotida. Kait pada rostelum lebih panjang daripada pada alat penghisap, sehingga tidak mudah lepas. Larva berkembang pada induk semang antara dalam 2-4 minggu, sedangkan bentuk dewasa mulai meletakkan telur pada ayam terinfeksi sekitar 2 minggu. Induk semang antaranya adalah siput.
Siklus hidup dari cacing ini biasanya terdiri dari telur, stadium larva dalam induk semang antara, dan dewasa dalam vertebrata.

Nematoda (cacing gilig)
Cacing jenis ini mempunyai saluran usus dan rongga badan, pada potongan melintang berbentuk bulat. Saluran pencernaan merupakan tabung lurus panjang. Terdapat sebuah mulut pada ujung anterior (depan) cacing dan berakhir pada rektum untuk cacing betina dan kloaka untuk cacing jantan. Siklus hidup cacing ini terdiri dari telur, stadium larva dan dewasa.
Golongan cacing gilig yang sering menyerang ayam adalah:
1. Ascaridia galli
Terdapat pada usus halus ayam, panjang cacing jantan 30-80 mm sedangkan betina berukuran 60-120 mm. Siklus hidupnya langsung, telur keluar bersama feses dan berkembang menjadi stadium infektif di atas tanah dalam waktu 8-14 hari pada kondisi biasa. Stadium infektif tertelan ayam dan menetas di dalam proventrikulus atau usus halus. Stadium infektif berada di dalam lumen usus dan menjadi dewasa 18-22 hari sesudah tertelan.
2. Heterakis gallinarum
Merupakan cacing sekum pada ayam, dengan panjang 4-13 mm pada cacing jantan dan 8-15 mm pada betina. Siklus hidupnya langsung, telur keluar bersama feses dan mencapai stadium infektif dalam 12-14 hari pada suhu kamar dan menginfestasi ayam melalui saluran pencernaan. Telur menetas di duodenum dan kemudian menuju sekum dan matang di dalam lumen.
3. Tetrameres americana
Ditemukan pada dinding proventrikulus ayam, dengan panjang 5,0-5,5 mm pada cacing jantan dan 3,5-4,5 mm pada cacing betina. Induk semang antara adalah belalang dan kecoa.
4. Capillaria sp.
Cacing ini berbentuk seperti cambuk tetapi ramping, secara umum telurnya tidak berembrio. Siklus hidupnya langsung. Golongan cacing ini yang sering muncul pada ayam adalah: C. contorta, dijumpai pada mukosa tembolok ayam, dengan panjang 10-48 mm pada cacing jantan dan 25-70 mm pada cacing betina; C. caudinflata, terdapat pada mukosa usus halus ayam, dengan panjang 7-20 mm pada cacing jantan dan 9-36 mm pada cacing betina; C. obsignata terdapat pada mukosa usus halus ayam, dengan panjang 8-10 mm pada cacing jantan dan 10-18 mm pada cacing betina.
5. Oxyspirura mansoni
Merupakan cacing mata pada unggas. Terdapat di bawah membrana niktitans pada ayam, panjangnya 10-16 mm pada jantan dan 12-19 mm pada betina.

Pada intinya penyakit cacing lebih sering menyerang ayam layer sedangkan pada ayam broiler lebih jarang terjadi. Ayam muda lebih rentan dibandingkan ayam tua. Gejala serangan cacing antara lain pertumbuhan terhambat atau produksi telur turun, nafsu makan hilang, ayam kurus, lemah, sayap terkulai, diare yang terkadang diikuti dengan adanya perdarahan, anemia dan pada kondisi yang ekstrim (parah) dapat menyebabkan kematian. (Inf/bbs)

Cacingan dan Pengobatannya

Edisi 167 Juni 2008

Penyakit cacing atau helminthiasis terkadang masih kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND atau Al). Padahal penyakit ini mampu menimbulkan kerugian cukup besar. Waktu serangannya sulit diketahui, tiba-tiba saja produktivitas ayam menurun.
Cacing yang sering menyerang ayam secara umum ada dua yaitu cacing gilik (Ascaridia sp., Heterakis sallinae, Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) dan cacing pita (Raillietinasp., Davainea sp.).
Cacing biasanya menginfestasi ke dalam tubuh ayam melalui beberapa cara, diantaranya melalui telur cacing atau larva cacing yang termakan oleh ayam, memakan induk semang antara (siput, kumbang, semut dll.) yang mengandung telur atau larva cacing, telur atau larva cacing yang terbawa oleh petugas kandang melalui sepatu, pakaian kandangnya atau terbawa terbang oleh induk semang antara, selain itu juga bisa karena ransum atau air minum yang tercemar telur cacing.
Telur cacing yang keluar bersama feses berkembang menjadi stadium infektif kemudian termakan induk semang antara atau langsung masuk tubuh ayam yang kemudian akan menuju ke tempat yang disukainya (tembolok, usus, sekum atau organ lain) untuk berkembang sampai dewasa.

Pengendalian Cacingan
Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan hasil peternakan yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan yaitu:
1. Pemberian obat cacing. Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing. Seperti cacing nematoda dengan siklus hidup kurang lebih satu setengah bulan, maka diberikan pengobatan dua bulan sekali, begitu juga dengan cestoda. Pemberian obat cacing pada ayam layer sebaiknya diberikan pada umur 8 minggu dan diulang sebelum ayam naik ke kandang baterai. Sedangkan pada ayam broiler jarang diberikan anthelmintika karena masa hidupnya pendek.
2. Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput disekitar area peternakan.
3. Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi infestasi cacing.
4. Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
5. Mencegah kandang becek, seperti menjaga litter tetap kering, tidak menggumpal dan tidak lembab.
6. Peternakan dikelola dengan baik seperti mengatur jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan dilakukan sistem “all in all out”.

Obat Cacing (Anthelmintik)
Selain pencegahan juga harus dilakukan pengobatan pada peternakan ayam yang telah terserang cacingan. Pengobatan sebaiknya dilakukan secara serempak dalam satu kandang atau flok yang terserang cacingan dengan anthelmintika yang sesuai. Anthelmintika merupakan obat untuk menghilangkan atau mengeliminasi parasit cacing dari tubuh ayam.
Obat cacing (anthelmintika) merupakan senyawa yang berfungsi membasmi cacing sehingga dikeluarkan dari saluran pencernaan, jaringan atau organ tempat cacing berada dalam tubuh hewan. Secara garis besar, cara kerja obat cacing ada 2 yaitu mempengaruhi syaraf otot cacing dan mengganggu proses pembentukan energi. Cara kerja yang pertama akan mengakibatkan cacing lumpuh sehingga dengan mudah dikeluarkan dari tubuh ternak bersama dengan feses. Sedangkan cara kerja kedua menyebabkan cacing kehilangan energi dan akhirnya mati.

Jenis Obat Cacing
Berdasarkan cara kerjanya, obat cacing dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu 1) Benzimidazol (albendazol, fenbendazol, flubendazol, thiabendazol); 2) Imidathiazol (levamisol) dan tetrahydropyrimidine (pyrantel); 3) Avermectin (ivermectin) dan milbemycin (moxidectin); 4) Salicylanilide (niclosamid) dan nitrophenol; 5) Diclorvos dan trichlorphon. Piperazin dikelompokkan tersendiri karena cara kerjanya berbeda.
Kriteria obat cacing ideal antara lain : 1) Efektif, yaitu berspektrum luas dan aktif untuk semua fase hidup cacing, termasuk cacing dalam jaringan maupun saluran cerna; 2) Aman, yaitu mempunyai indeks terapi yang lebar. Tidak menimbulkan residu di jaringan dan atau withdrawal time (waktu henti obat agar unggas/ternak aman untuk dikonsumsi) yang pendek. Tidak berinteraksi dengan obat atau racun lain di lingkungan. Tidak toksik terhadap ternak yang masih muda; 3) Efisien, yaitu cukup satu kali pemberian untuk meminimalkan biaya dan stres penanganan ternak; 4) Murah.
Obat cacing yang benar-benar ideal mungkin sulit ditemukan. Keunggulan dan keterbatasan obat cacing yang banyak beredar di lapangan antara lain :
1. Piperazin
Piperazin merupakan obat cacing yang paling sering digunakan oleh peternak. Piperazin sangat efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik yang ada di saluran cerna seperti Ascaridia pada ayam, ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing), babi maupun kuda. Piperazin biasanya dikombinasikan dengan phenotiazine agar efektifitas-nya terhadap cacing sekum meningkat.
Kelarutan piperazin sangat baik dalam air sehingga dapat diberikan melalui air minum maupun dicampur dengan ransum. Keunggulan piperazin yaitu memiliki rentang keamanan yang luas. Namun, piperazin kurang efektif untuk membasmi Heterakis gallinae (cacing sekum), cacing cambuk dan cacing pita.
2. Phenotiazin
Phenotiazin sangat efektif mengatasi cacing sekum (Heterakis gallinae) dan Ascaridia sp. pada unggas, tetapi phenotiazin tidak efektif untuk membasmi cacing pita. Walaupun mekanisme kerja obat ini belum diketahui dengan pasti tetapi dari segi keamanan phenotiazin praktis tidak toksik untuk unggas.
3. Levamisol
Levamisol termasuk golongan imidathiazole yang efektif membasmi cacing gilik dewasa hingga bentuk larvanya. Levamisol juga sangat efektif membasmi cacing gilik yang ada di jaringan dan organ tubuh (Syngamus trachea pada trakea, Oxyspirura mansonii pada mata) karena levamisol dengan cepat diserap dan didistribusikan ke jaringan atau organ. Saat kondisi sistem imun rendah, levamisol dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh host (inang)-nya dengan cara meningkatkan aktifitas makrofag.
Dibandingkan dengan benzimida-zol, levamisol mempunyai rentang keamanan yang lebih sempit. Walaupun demikian pada dosis terapi terbukti tidak menimbulkan efek samping terhadap produksi telur, fertilitas mau-pun daya tetas.
4. Ivermectin
Ivermectin lebih banyak digunakan pada hewan besar atau hewan kesayangan karena obat ini termasuk obat yang mahal. Keunggulan ivermectin adalah selain efektif mengatasi infeksi cacing gilik juga efektif mengatasi ektoparasit (kutu, tungau, caplak, larva serangga). Selain itu, ivermectin mampu membasmi bentuk cacing yang belum dewasa..
5. Niclosamid
Niclosamid termasuk golongan salicylanilida yang secara spesifik efektif untuk mengatasi infeksi cacing pita. Niclosamid diaplikasikan melalui ransum karena tidak larut air. Niclosamid tidak diserap dalam usus sehingga mempunyai batas keamanan yang luas. Hasil penelitian menunjukkan pemberian niclosamid 40 kali dosis terapi pada sapi dan domba tidak bersifat toksik.
6. Albendazol
Albendazol termasuk golongan benzimidazol yang mempunyai kela-rutan terbatas dalam air. Umumnya digunakan pada hewan besar dalam bentuk kaplet atau suspensi dengan cara dicekok. Albendazol efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik pada saluran pencernaan, cacing pita, cacing paru dewasa dan larvanya (Dictyocaulus) dan cacing dewasa Fascioia gigantica.
Mekanisme kerjanya adalah meng-ganggu metabolisme energi dengan menjadi inhibitor fumarat reduktase. Ketidaktersediaan energi menyebabkan cacing mati. Golongan benzimidazol sebaiknya tidak digunakan saat masa kebuntingan awal.

Teknik Pengobatan
Teknik pengobatan harus dilakukan dengan tepat sehingga efektivitas pengobatan optimal.
1. Pemilihan obat yang tepat
Obat cacing dikatakan efektif jika mempunyai spektrum kerja terhadap cacing tersebut. Pemilihan obat cacing didasarkan pada hasil diagnosa jenis cacing yang menginfeksi. Spektrum kerja obat cacing dapat dilihat pada tabel.
Obat yang cocok untuk mengatasi cacing gilik di saluran cerna (Ascaridia galli, Heterakis gallinae, Capillaria sp.,) antara lain piperazin, levamisol, dan phenotiazin, ivermectin atau benzimidazol/albendazole. Guna mengatasi cacing gilik yang ada di jaringan atau organ lain (Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) berikan levamisol. Sedangkan infeksi cacing pita (Raillietina sp., Davainea sp.) gunakan niclosamid atau albendazol.
2. Dosis tepat
Tidak seperti antibiotik, umumnya anthelmintik diberikan dengan dosis tunggal (satu kali pemberian) dan bukan dengan dosis terbagi. Jika obat yang seharusnya diberikan sebagai dosis tunggal, tetapi diberikan dalam dosis terbagi misalkan terbagi dalam waktu satu hari, maka dapat menyebabkan jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh ayam menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
3. Cara pemberian tepat
Tepat dosis juga berkaitan dengan cara atau periode pemberian obat. Jika pemberiannya salah maka dosis pun menjadi tidak tepat. Pemberian obat dengan bentuk kapsul, kaplet atau injeksi tidak menjadi masalah karena bisa langsung dicekokkan atau disuntikkan dengan satu kali pemberian. Namun, jika dilakukan melalui air minum atau ransum dosis obat dan jumlah konsumsinya harus diperhatikan sehingga dosis yang masuk dalam tubuh ayam tepat.
Dosis pemberian obat sebaiknya sesuai dengan yang tertera dalam etiket atau leaflet. Dosis yang tertulis pada etiket dan leaflet obat cacing sebelumnya sudah dihitung berdasarkan berat badan yang kemudian dikonversikan dalam kebutuhan air minum atau ransum yang dikonsumsi dalam waktu 2 hingga 4 jam. Cara pencampuran obat ke dalam air minum atau ransum juga perlu diperhatikan. Obat cacing yang bersifat larut air (piperazin, levamisol) biasanya lebih direkomendasikan diberikan melalui air minum, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa diberikan melalui ransum. Pastikan obat larut semua dalam air minum dan tidak ada serbuk obat yang tersisa.
Obat cacing yang tidak larut air, (contohnya niclosamid, albendazol) diberikan melalui ransum. Pencampuran obat dan ransum sebaiknya dilakukan secara bertahap. Campur dahulu obat dengan sebagian kecil ransum, aduk hingga homogen dan kemudian tambahkan sedikit demi sedikit sisa ransum sambil diaduk hingga obat dan ransum tercampur secara homogen.
Beberapa etiket produk biasanya tertulis ayam dipuasakan terlebih dahulu. Hal itu tidak menjadi suatu keharusan. Tujuan dari puasa tersebut adalah agar obat yang diberikan terkonsumsi habis oleh ayam dan waktu kontak antara obat dengan cacing di dalam saluran cerna semakin lama sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.
4. Pengulangan pemberian obat cacing
Pengobatan infeksi cacing memerlukan proses pengulangan. Pengulangan ini bertujuan membasmi cacing secara total karena secara umum obat cacing tidak bisa membasmi semua fase hidup cacing (telur, larva dan cacing dewasa).
Pengulangan tersebut disesuaikan dengan siklus hidup cacing dan kondisi kandang. Cacing gilik mempunyai siklus hidup 1-2 bulan sedangkan cacing pita sekitar 1 bulan sehingga pemberian obat cacing pertama kali disarankan saat berumur 1 bulan. Jika ayam dipelihara pada kandang postal, pemberian obat cacing perlu diulang setelah 1-2 bulan sedangkan jika dipelihara di kandang baterai, pengulangan 3 bulan kemudian karena ayam tidak kontak dengan litter.
Setelah periode pengulangan tersebut, bukan berarti obat cacing harus terus menerus diberikan pada bulan-bulan berikutnya. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan feses secara rutin sehingga adanya telur cacing dalam feses dapat terdeteksi sejak dini. Hal ini dapat dijadikan dasar perlu atau tidak pemberian obat cacing.
5. Kombinasi obat
Pemberian obat cacing kadang-kadang bersamaan dengan antibiotik jika ada infeksi sekunder oleh bakteri. Hal ini tidak masalah jika tidak ada interaksi yang merugikan (baik secara fisika-kimia maupun secara farmakologi) antara kedua bahan yang dikombinasikan. Jika kombinasi tersebut ternyata menimbulkan interaksi yang merugikan, pilih antibiotik lain atau antibiotik diberikan 1 hari setelah pemberian obat cacing.
Dari segi farmakologi, pemberian obat cacing bersamaan dengan vitamin umumnya tidak terjadi interaksi yang merugikan sehingga bisa dilakukan setiap saat. Pemberian obat cacing juga bisa bersamaan dengan vaksinasi. Pada dasarnya obat cacing tidak menimbulkan interaksi dengan vaksin terutama jika pemberian obat cacing diberikan melalui oral (air minum/ransum/cekok) dan vaksinnya diberikan melalui injeksi. Namun yang perlu diperhatikan ialah jika vaksin diberikan melalui air minum, maka jangan mencampurkan obat dan vaksin dalam air minum yang sama. Tujuannya untuk mencegah terganggunya stabilitas vaksin oleh obat yang ada dalam air minum tersebut.
6. Faktor lain yang perlu diperhatikan
Pengobatan cacing menyebabkan cacing dan telur cacing dalam jumlah besar akan dikeluarkan bersama feses. Jika lingkungan sekitar mendukung, maka telur tersebut akan berubah menjadi bentuk infektif sehingga dapat kembali menginfeksi ayam. Untuk itu, selama pengobatan sebaiknya memperhatikan meminimalkan kontak ayam dengan feses yang mengandung telur cacing atau ayam dipelihara dalam kandang panggung atau baterai. Bersihkan kandang dan cegah litter lembab.
Selain itu, basmi inang antara seperti semut, lalat dan siput dengan insektisida. Namun, jangan sampai insektisida mengenai ransum, air minum atau ternaknya.
7. Resistensi obat cacing
Resistensi tidak hanya terjadi pada mikrobia terhadap antibiotik saja, tetapi cacing juga bisa menjadi resisten terhadap anthelmintik. Hingga saat ini resistensi cacing yang pernah dilaporkan terjadi antara lain Oesophagostonum spp yang menginfeksi babi resisten terhadap pyrantel dan levamisol atau cyathostomes pada kuda resisten terhadap benzimidazol.
Kasus resistensi tersebut kemungkinan besar karena penggunaan obat cacing yang terlalu sering dalam satu tahun (5-12 kali). Meskipun penelitian tentang resistensi cacing pada ayam belum ada, tetapi mulai saat ini kita harus melakukan pencegahan jangan sampai resistensi tersebut terjadi.
Resistensi cacing terhadap obat dapat ditekan dengan cara:
a. Perbaikan tata laksana pemeliharaan sehingga perkembangbiakan cacing dapat ditekan.
b. Lakukan pemeriksaan feses secara berkala sebagai acuan perlu tidaknya ayam diberikan obat cacing.
c. Berikan obat cacing sesuai dengan dosis yang direkomendasikan, jangan berlebih maupun kurang.
d. Rotasi atau penggantian jenis obat cacing yang digunakan setiap 1-2 tahun. Namun kendalanya jenis obat cacing dari golongan yang berbeda sangat terbatas. Contoh rotasi anthelmintik ialah piperazin dengan levamisol yang sama-sama efektif mengatasi infeksi cacing gilik.
e. Perhatikan kondisi lingkungan kandang terutama jika lantai lembab, mengingat bentuk telur dan larva cacing bisa saja masih berada di sekitar kandang.
f. Perlu pendataan jenis obat cacing yang digunakan selama masa pemeliharaan ayam dan memonitor efektifitas pengobatannya.

Meski penyakit cacingan tidak ganas namun perlu diwaspadai dan dikendalikan. Pengendalian tersebut dapat diiakukan dengan kombinasi antara pengobatan cacing secara rutin dan pencegahan dengan diiakukannya tatalaksana kandang dan ling-kungan sekitar kandang dengan baik. (Inf/bbs)

BERSAMA KITA BISA MELAWAN CACING

Edisi 167 Juni 2008

Salah satu gangguan kesehatan yang sangat potensial mengganggu produktifitas ternak adalah adanya infestasi cacing. Adanya cacing beserta telur dan bahkan larva di dalam tubuh ternak bisa menimbulkan manifestasi gangguan kesehatan. Mulai dari tahapan lesu, lemah sampai munculnya indikator terganggunya kesehatan bahkan mencapai tahap terganggunya produktivitas ternak.
Berikut ini rangkuman pendapat para praktisi Dokter Hewan dan peternak berkaitan dengan infestasi cacing pada ternak.

Drh Leonardo Bisana Nugraha, praktisi Dokter Hewan yang berpraktek di Kretek Bantul menyatakan bahwa umumnya para peternak kambing dan sapi sudah sangat sadar dan mengerti arti pentingnya kesehatan. Terutama sekali jika kesehatan itu dikaitkan dengan serangan penyakit cacing.
Kesadaran itu, menurut Nugraha sungguh luar biasa, mengingat begitu tingginya perhatian peternak untuk secara rutin memberikan pengobatan secara rutin. Selain itu, juga diperlihatkan dengan aktifitas peternak dalam menjaga hijauan akan ternak tetap bersih dan sehat. Umumnya mereka melakukan pencucian pakan ternak itu sebelum diberikan kepada ternaknya. Langkah membersihkan dan mencuci hijauan itu merupakan salah satu upaya para peternak untuk mencegah penularan cacing dari segala stadium atau phase kehidupan parasit cacing itu
Hal yang hampir mirip diungkapkan oleh Drh Sri Rahayu Kepala Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) Kecamatan Jetis Yogyakarta. Menurut Sri Rahayu jika membicarakan penyakit cacing pad hewan besar (sapi, kerbau ataupun kambing domba) yang dikelola oleh para peternak sebenarnya merupakan hal yang sangat menarik. Mengapa demikian? Oleh karena menurut ibu dari 4 anak ini bahwa umumnya para peternak, sangat perhatian sekali dengan program pemberantasan penyakit kecacingan atau penyakit cacing.
Tingginya kesadaran itu oleh karena pada 10 terakhir ini, peternak tidak lagi memandang ternak sebagai usaha sampingan akan tetapi sudah menjadi usaha yang dikelola dengan baik. Bahkan menjadi salah satu tiang penyangga utama kegiatan ekonomi keluarga. Sehingga khusus terhadap penyakit ini, mereka secara rutin meminta kepada para praktisi dokter hewan di sekitarnya untuk memberikan obat cacing.
Umumnya pengobatan cacing pada ternaknya dilakukan 2-3 bulan sekali. Jarang para peternak terlambat memberikan obat cacing itu. ”Pengobatan cacing pada ternak sapi, kambing, kerbau dan domba relatif sangat rutin, terjadwal dan sangat jarang yang melewatkan atau terlambat memberikannya. Indikasi yang positif itu sangat membantu kita (dokter hewan) dalam ikut menjaga kesehatan secara umum”ujar Rahayu.
Hal itu dikuatkan oleh Drh Leonardo BN bahwa tingkat partisipasi peternak dan perhatian atas kesehatan ternaknya menjadikannya sangat jarang masalah penyakit cacing yang masuk katagori berat. ”Bukti dan fakta jika dilakukan pemotongan hewan massal pada saat perayaan hari raya iedhul qurban, sangat sedikit sekali dijumpai ternak yang terkena penyakit kecacingan. Dari karkas dan organ dalam relatif sedikti dijumpai ternak yang terinfestasi cacing. Ini khan fakta yang menggembirakan” tegas Leonardo
Menurut Nugraha kesadaran kesehatan para peternak yang begitu tinggi itu, sangat perlu diapresiasi dan terus didukung oleh semua pihak. Terutama dukungan itu agar para peternak menjadi lebih peduli lagi pada semua aspek kesehatan ternak, tidak hanya pada penyakit kecacingan. Program bulanan dari Dinas Peternakan, yang dikenal dengan YANDUAN, pelayanan terpadu bulanan melalui aparat poskeswan harus terus ditingkatkan frekeunsi dan kualitas layanan. Dengan demikian kesehatan dan produktifitas ternak akan selalu terjaga.
Jenis cacing menurut Nugraha yang paling potensial mengganggu kesehatan ternak kambing, domba dan sapi umumnya adalah berurutan atas dasar angka prevalensinya mulai dari cacing gilig, cacing daun dan terakhir pita.Cacing gilig menempati urutan teratas, oleh karena wilayah geografis berupa dataran rendah, lembah berair, merupakan lokasi sangat kondusif bagi hidup dan berkembangnya parasit itu.
Edukasi atau pencerahan dan pembelajaran masyarakat peternak, hampir selalu dilakukan oleh para petugas kesehatan lapangan dalam rangka meningkatkan kemampuan peternak dalam budidaya ternaknya. Harapannya agar mereka menjadikan hal itu menjadi titik tolak kewaspadaan akan kesehatan lain secara umum.
Ketika kedua praktisi itu ditanyakan, bagaimana upaya memelihara kesadaran para peternak itu agar menjadi sebuah gerakan bersama yang mampu menularkan kepada para peternak di luar wilayah. Maka keduanya, berpendapat bahwa kontribusi dari para stake holderlah kunci utamanya. Dinas terkait yang mempuyai kompetensi dengan usaha peternakan harus aktif menggerakkan potensi sumber daya manusia secara terprogram dan sistematis. Kemudian para praktisi dokter hewan yang berada di luar struktur pemerintah dituntut peran besarnya dalam membangun kesadaran para peternak. Sedangkan pihak produsen obat hewan khususnya obat anti cacing diminta peran sertanya untuk menyediakan obat yang murah akan tetapi berkualitas dan spektrumnya luas. Artinya sekali pemberian obat cacing itu akan mampu membasmi dan memberantas aneka jenis cacing dari segala stadium.
Kedua praktisi itu juga merasakan bahwa obat anti cacing yang berbentuk cairan atau suspensi paling banyak diminati oleh para praktisi dokter hewan. Alasan pemilihan obat jenis cairan untuk diminumkan oleh karena aspek kebiasaan dan mudah mengukur dosis dalam pemberian. Sehingga aspek ketepatan dosis pengobatan akan sangat terjaga dan efektif hasilnya. Namun keduanya juga dapat memahami bahwa obat anti cacing yang berbentuk kaplet, serbuk maupun bolus di beberapa daerah justru paling banyak digunakan. Mungkin perilaku pemakaian obat itu oleh karena kebiasaan dan juga lebih cenderung pada aspek ketersediaan yang lebih mudah diperoleh di pasaran.(iyo)

MENGAPA MEREKA MEMILIH BOLUS ???

Edisi 167 Juni 2008
Gunung Kidul Gudang Sapi Indonesia yang Bebas Cacing

Pilihan memang selalu mempunyai dasar yang kuat. Apapun pilihan itu pasti sudah melalui proses berbagai pertimbangan yang bermuara pada sebuah eksekusi atau keputusan. Demikian juga dengan tindakan terapi sebuah penyakit yang terkait dengan pemakaian obat. Lebih sempit lagi, jika bahasan ini diarahkan pada keputusan memlih bentuk atau sediaan obat untuk sebuah tindakan.
Sebuah obat, ada yang bisa berwujud cair, gas juga padat. Yang berbentuk cair bisa juga bermacam-macam lagi manifestasi cara penggunaannya. Sebut saja cairan injeksi, cairan minum, cairan oles, cairan semprot dan lain masih banyak. Sedang yang berbentuk padat bisa beraneka wujud sepertri, serbuk, pil, tablet, kaplet, kapsul, salep dan yang berbentuk bolus.
Membicarakan obat hewan untuk mengobati tenak yang mengalami kecacingan, maka ada obat yang tersedia pada umumnya banyak tersedia dalam aneka bentuk seperti cairan untuk diminumkan, cairan untuk di injeksikan, juga dioleskan dan yang lainnya adalah berbentuk padat.
Para praktisi dokter hewan, mempunyai preferensi atau kecocokan individual dalam menentukan obat anti cacing untuk langkah suatu terapi. Ada yang cocok dengan obat anti cacing injeksi. Ada juga yang cocok dengan yang berbentuk cairan untuk diminumkan. Namun ada juga yang lebih sreg dan lebih mantap jika dengan obat anti cacing yang berbentuk kaplet atau bolus.
Ada sebuah kabupaten di propinsi Yogyakarta, dimana preferensi para praktisi dokter hewan yang maniak bolus atau kaplet. Sangat jarang ditemui obat anti cacing di kawasan itu selain kaplet atau bolus. Mengapa demikian? Sebuah pertanyaan yang memang menggelitik dan layak untuk dicarikan jawabannya. Dan kabupaten yang merupakan sentra ternak sapi, kambing paling potensial di Indonesia itu adalah Gunung Kidul Yogyakarta. Sebuah Kabupaten yang wilayahnya paling luas di propinsi Yogyakarta dan juga wilayahnya berupa perbukitan dan pegunungan kering itu adalah salah satu gudang ternak yang potensial, karena setiap hari memasok ternak untuk kawasan Jabodetabek.dan Surabaya
Hampir tiada warga di kabupaten itu yang tidak memiliki ternak sapi apalagi kambing. Hampir secara merata setiap keluarga memiliki ternak yang dikelola dengan aneka cara dan tingkatan. Ada yang dilepas di perbukitan tanpa pernah diawasi, akan tetapi ada yang setengah diawasi, dikandangkan. Dan ada pula dari mereka yang jumlahnya tidak sedikit, dimana mereka telah memelihara dengan sistem pengelolaan cukup maju dan baik.
Adalah Drh Martini Praktisi Dokter Hewan yang juga pegawai pada Dinas Peternakan Kabupaten Gunung Kidul dan Ir Agus Setyawan pemilik SARI PS mengungkapkan perilaku peternak dan Dokter Hewan di daerah itu kepada Infovet.
Menurut Drh Martini, perilaku dan kebiasaan para praktisi dokter hewan di Gunung Kidul dalam memakai obat anti cacing adalah dengan menggunakan bentuk bolus atau kaplet. Hampir tidak ada praktisi yang menggunakan preparat anthelmintik itu yang berbentuk cair minum apalagi Injeksi.
Mengapa demikian? Drh Martini maupun Ir Agus merasa sangat sulit menjawab kebiasaan itu, terutama jika terkait mulai kapan itu mulai menjadi kebiasaan. “Sebelum saya bertugas di daerah ini, kebiasaan mereka memakai obat anti cacing bentuk bolus sudah ada. Waktu saya bertugas di Kabupaten Bantul, justru obat anti cacing yang berbentuk cair yang paling banyak digunakan,” ujar Martini.
Demikian juga dengan penuturan Agus, bahwa sebagai penjual hanya mengikuti selera konsumennya. Konsumen yang dimaksud Agus adalah para praktisi Dokter Hewan dan para peternak. “Pernah saya menjual dan menyediakan obat anti cacing yang berbentuk cair, ternyata tidak laku. Permintaan konsumen adalah yang berbentuk bolus dan kaplet. Ketika ia tanyakan kepada para pembelinya tentang alasan memilih bolus dan kaplet ternyata mereka sangat beragam jawabannya,” jelas Agus.
Menurut Martini, alasan dan dasar memilih yang berbentuk bolus atau kaplet karena alasan praktis pemakaian dan paling murah dan mudah diperoleh di pasar. Memang dibandingkan obat anti cacing cair, baik injeksi maupun untuk diminumkan yang berbentuk bolus/kaplet relatif praktis penyediaan maupun pemberiannya.
Jika cairan injeksi, tentu hanya para dokter hewan yang bisa melakukan. Sedangkan bentuk cair untuk diminumkan, untuk membeli harus utuh dalam kemasan 1 liter. Sehingga tentu saja dari aspek ekonomis menjadi mahal.
Berbagai kelebihan menurut Agus maupun Martini yang berbentuk bolus atau kaplet antara lain : mudah diperoleh di pasaran secara ecer, selain itu lebih murah karena cukup membeli sesuai keperluan alias tidak perlu membeli sebanyak 1 liter (cair), tanpa bantuan dokter hewan para peternak bisa melakukan sendiri. Dan yang paling penting para peternak bisa melakukan hal itu secara periodik sesuai saran para dokter hewan dalam pengobatan dan pencegahan infeksi cacing.
Secara khusus Martini, melihat bahwa aspek kebiasaan menjadi alasan dan pertimbangan utama para Dokter Hewan dan peternak. Konon, menurut informasi memang sejak 30 tahun yang lalu pemakaian obat anti cacing bentuk kaplet atau bolus diperkenalkan dan dipakai. Sehingga kini, baik para peternak maupun dokter hewan akhirnya menjadi terbiasa. Saat ini praktisi dokter hewan dan peternak seolah sangat lekat sekali dengan obat anti cacing berbentuk bolus tersebut.
Tidak heran jika istilah pengobatan cacing meski dengan merk apapun lebih afdol dan mereka menyebut sebagai di-vermo sesuai dengan merek obat tersebut. Penguasaan pasar merk tersebut akhirnya menjadikan sebuah kebiaasan dan penyebutan yang berkonotasi merk tersebut. Masalah efektivitas dan keandalan merk tersebut sudah menjadi sebuah fakta yang sulit terbantahkan.
Fakta besar yang sulit terbantahkan dan menjadi buruan utama para pedagang sapi, bahwa sapi-sapi dari daerah Gunung Kidul relatif tidak pernah yang mengalami kasus infeksi cacing hati atau Fasciolosis. Hampir pasti dan menjadi jaminan bahwa sapi dari daerah ini terbebas dari kasus cacing hati. Dan obat cacing bolus ini menjadi salah satu obat anti cacing yang mempunyai kontribusi besar, selain memang kondisi geografis daerah itu.
Seperti diungkapkan oleh Drh Martini bahwa kasus nihilnya infeksi Fasciolosis di kabupaten Gunung Kidul selain dari kesadaran yang begitu tinggi para peternaknya dalam program kesehatan rutin anti cacing juga oleh karena secara geografis bibit cacing Fasciola sp.sangat kecil bisa hidup di daerah kapur.
Menurut Martini lebih lanjut, bahwa kondisi geografis kabupaten ini yang berbukit kapur dan karang laut serta kering, maka sangat kecil kemungkinan bagi cacing itu dari berbagai stadiumnya untuk bisa hidup. Namun tidak demikian dengan cacing jenis lainnya seperti cacing gilig, ada potensi untuk menginfeksinya. Meski demikian, oleh karena peran dinas peternakan dan dokter hewan lapangan juga didiukung para peternaknya sendiri yang secara aktif melakukan pengobatan periodis, maka memang kasus infeksi cacing sampai pada tahap berat sangat jarang terjadi.
Memang tidak gampang menumbuhkan kesadaran itu, namun keberhasilan kabupaten ini pantas menjadi panutan daerah lain dalam meningkatkan produktifitas ternaknya dan kesejahteraan para peternaknya. (iyo)

BLOKIR URAT SYARAF CACING DENGAN NIKOTIN

Edisi 167 Juni 2008

(( Pemberian tembakau dan biji buah pinang akan membuat urat syaraf cacing diblokir oleh nikotin. ))

Dampak dari infeksi cacing bagi ternak yakni akan mengganggu pencernaan, katabolisme protein, anorexia, lesi saluran alat pencernaan, pelepasan ke lumen usus, anemia, menurunkan bobot badan dan berakhir pada kematian.

Hasil penelitian Profesor Surung Karo Karo, Dosen Fakultas Peternakan ini dibacakan pada upacara penerimaan jabatan Guru Besar Universitas Hasanudin, Kamis, 8 Mei 2008 di Lantai 1 Rektorat Unhas. Demikian kabar dari sumber Universitas Hasanuddin Makassar.

Di depan rapat senat terbuka luar biasa, Ketua Laboratorium Ilmu Kesehatan Ternak Unhas ini memaparkan bahwa Di Indonesia dan khususnya Sulawesi Selatan, salah satu penyakit ternak yang sering menginfeksi hewan ternak adalah cacing nematoda, trematoda, dan cestoda.

Suami dari Rosliana br Tarigan ini menjelaskan kegunaan tembakau dan biji pinang sebagai obat cacing bagi kambing dan domba. Adapun keguaannya antara lain pemberian tembakau dan biji buah pinang akan membuat urat syaraf cacing diblokir oleh nikotin. Nikotin diserap melalui kulit cacing, kemudian memblokir urat syaraf, terjadi paralysis, pingsan, cengkramannya terlepas dari mukrosa abomasum, dan dengan sendirinya cacing keluar bersama digesta dan mati.

Ternak yang terinfeksi jelas akan menimbulkan kerugian pada peternak. Bahkan dapat menimbulkan kerugian yang fatal. Namun hal ini kurang disadari oleh peternak-peternak kita. Mereka (peternak-red) cenderung kurang mengerti bahaya pada penyakit cacing,

Penelitian Prof Surung Karo Karo berjudul Pemanfaatan Tembakau dan Biji Buah Pinang
sebagai Obat Cacing Lambung Asam yang Menginfeksi Kambing dan Domba, ini menyatakan beberapa kelebihan obat alternatif tersebut antara lain: harganya jauh lebih murah dan terjangkau oleh peternak, sumbernya mudah diperoleh karena pada umumya banyak tersedia di bumi Indonesia, dan hal ini sesuai dengan anjuran pemerintah agar menggunakan obat-obat alternatif yang bersumber dari alam di bumi Indonesia sendiri.(reA/unhas.ac.id/Infovet)

Info Lowongan

Info Lowongan
 

Arsip Artikel

Followers

Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template