Wednesday, November 26, 2008

ESENSI KUADRAT


ESENSI KUADRAT

Orang bilang sejarah hanya terjadi sekali dan tak terulang lagi, namun ada yang bilang sejarah itu selalu berulang; ada pula yang bilang sejarah bergerak seperti bandul jam, ada pula yang bilang sejarah akan berulang dengan pengkuadratan esensi.

Apa yang tim kerja Infovet lakukan kunjungan ke beberapa perusahaan di Jakarta, menuju dalam perjalanan kunjungan Bandung ke dua perusahaan di sana bertemu dengan para pemimpin perusahaannya, lalu ke satu perusahaan di Bandung lain waktu, lalu dua hari kemudian ke Bogor bertemu dengan para mahasiswa dan dosen yang membicarakan polemik impor daging sapi dari brazil: semua mirip dan agak samar-samar merupakan pengulangan peristiwa beberapa kejadian yang sama pada masa-masa sebelumnya.

Mungkin karena memang tuntutan dan ritme kerja tim Infovet seperti itu, mungkin pula masalah kita suka menyederhanakan kesamaan-kesamaan; namun terkait dengan tugas-tugas Tim Infovet, memang begitulah polanya. Lalu dari perbincangan dengan narasumber maka Infovet menuliskannya untuk Anda semua, dilengkapi dengan berbagai referensi dan mengolah data dengan daya kritis redaksi. Sebagai contoh dalam meliput dan melaporkan tarik menarik kepentingan antara perusahaan pro impor daging sapi dari Brazil dengan berbagai masyarakat lain yang menolak. Bagi kami jelas dalam posisi netral sehingga sedapat mungkin menilai dan menuliskannya seobyektif mungkin.

Demikian juga obyektivitas kami terapkan dalam menerapkan berbagai wawancara dengan berbagai narasumber lain. Seperti kenyataan ada kesamaan-kesamaan memori dengan apa yang sudah kami lakukan dalam tugas-tugas kami, maka hal ini pun perwujudan dari konsistensi kami bersikap mengamati perkembangan yang terjadi. Barangkali muncul paradoks-paradoks dalam suatu penulisan, sebagaimana berjalannya suatu diskusi atau dialog. Hal ini tidak mengaburkan esensi suatu sikap bila kita menarik pandangan pada wilayah lebih luas dan dari jarak tertentu. Hal ini memungkinkan munculnya tulisan-tulisan baru terkait dengan tulisan sebelumnya.

Sebagaimana cita-cita yang secara signifikan terkait semua orang punya cita-cita, sedari kecil dapat berubah sesuai dengan perkembangan usia; dalam hal ini semakin memantapkan cita-cita bersama yang telah dibahas dan digodok untuk terus berkembang dengan visi dan misi awal tetap sama sampai kondisi terkini namun mungkin dengan pendekatan aksi yang berbeda guna berbuahnya pengkuadratan esensi, makna, sekaligus isi Majalah Infovet kesayangan kita.

Selamat membaca! Sukses bagi kita di Tahun 2008 ini dan siap menyongsong tahun baru nanti. (Yonathan Rahardjo)

Wednesday, November 5, 2008

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI

TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?


Fokus Infovet Nopember 2008


(( Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Misalnya cuma 2 kali periode menang, sesungguhnya hasil usahanya lebih besar daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya. ))


Kapasitas peternakan di Indonesia tidak banyak berubah, dengan kapasitas total sama dibanding tahun-tahun lalu. Adapun perbandingan antara peternakan yang baru dengan peternakan yang berhenti lebih banyak yang berhenti. Demikian Drh Arief Hidayat Technical Department PT Mensana Aneka Satwa.

Menurut Drh Arief, peternak yang bertahan, jumlah populasi ternaknya sudah di atas 50.000 ekor. Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama peternakan berupa bibit, kandang dan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, guna peternakan ayam petelur cukup mahal, apalagi peternakan pembibitan. Yang paling rendah permodalannya adalah peternakan broiler.

“Itupun, orang berpikir lebih suka membeli bekas peternakan yang tidak terpakai lagi, sebagai tangan kedua. Malah, kalau bisa jangan membeli, namun lebih baik menyewa. Yang dari awal investasi, jarang, karena banyak terhambat resesi global. Yang penting bagi mereka, harga produk terjangkau,” papar Arief Hidayat.

Dokter hewan yang banyak berpengalaman di bidang perbibitan selama 13 tahun dan di PT Primatama Karya Persada selama 7 tahun ini mengatakan cara mempertahankan eksistensi peternakan ini adalah menjaga aset-aset peternakan supaya jangan sampai hilang. Yang paling banyak pasang surut adalah usaha peternakan ayam pedaging (broiler). Para pelaku bisnis peternakan broiler rata-rata dengan menyewa kandang, bukan sebagai pemilik kandang.


Pelayanan ke Peternakan

Dalam melayani peternak, yang dilakukan Tim PT Mensana Aneka Satwa, menurut Drh Arief antara lain kunjungan rutin dan pelatihan-pelatihan, diberlangsungkannya bulan promosi, dan lebih menekankan pada unsur pendidikan dan lebih percaya kepada diri sendiri. Sebagai contoh, kata Drh Arief, tanpa menyebut nama produk obat, peternak tetap dididik dan mengerti obat yang dimaksud.

Menurut Technical Service PT Medion pada 1982-1983 ini, ia merasakan pendidikan untuk disiplin bekerja di perusahaan ini dan kini ia terapkan di perusahaan yang sekarang.

Di era kemitraan ini, pemimpin di PT Mensana Aneka Satwa yang jumlah cabangnya di Indonesia mencapai jumlah 25 cabang mengatakan memang banyak perusahaan obat hewan yang mengalami cukup hambatan untuk masuk ke peternakan yang bukan satu grup kemitraan. Namun baginya, hal ini tidak menjadi hambatan.

Sebagai contoh, sebagai mantan karyawan PT Japfa Comfeed, Drh Arief Hidayat terhitung familiar dengan para peternak yang mnenjadi anggota kemitraan perusahaan nasional ini. Malah peternak pun berkata, “Coba dari dulu ke sini,” mengungkapkan penerimaan terhadap kehadirannya sekarang dalam hal teknis kesehatan hewan PT Mensana Aneka Satwa.

Sementara ihwal campur tangan dinas peternakan, sejauh ini Drh Arief merasakannya: tidak ada. Adapun banyak peternak yang merahasiakan akses peternakannya. Dokter hewan yang masuk FKH IPB pada 1978 ini mengatakan kelemahan-kelemahan peternakan ayam pedaging adalah masalah manajemen atau pengelolaan.


Tidak Ada Ceritanya Peternak Broiler Rugi

“Peternak, rata-rata tidak begitu mempedulikan manajemen pemanas. Juga tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya ayam 3-5 tahun yang lalu berbeda dari ayam yang sekarang,” ujar angkatan 15 di FKH IPB ini. Bila pada pertumbuhan ayam umur seminggu mencapai pertumbuhan optimal, maka selanjutnya tinggal mengisi yang lain-lain.

Dalam perhitungan keuangan kas dan investasi, menurut Drh Arief, belum banyak yang membedakan perhitungan-perhitungan penyusutan, perhitungan harga pakan dan konversi pakan, serta harga ayam pedagingnya. Sampai saat ini hal-hal semacam ini masih menjadi pola pikir peternakan.

Ayam pedaging, usaha peternakannya dihitung per periode. Perhitungannya ada kalah menangnya. Bila misalnya 2 kali periode kalah, maka 4 kali periodenya menang. Bila 4 kali periodenya menang, 2 kali periodenya menang. Namun, sesungguhnya, meskipun cuma 2 kali periode menang, hasil usahanya lebih bear daripada nilai kekalahan yang 4 periodenya.

Dalam setahun tidak ada ceritanya peternakan broiler rugi. Perhitungan usaha ayam pedaging itu berbeda dengan usaha ayam petelur. Dengan investasi yang sama dengan usaha ayam pedaging, keuntungan bisnis ayam petelur adalah 10% dari untungnya broiler. Setiap tahun kita selalu mendengar keluhan peternak yang merasa rugi. Namun kalau untung sejatinya peternak tidak pernah omong. “Biasa, masalah klasik sejak jaman dulu,” kata Drh Arief.

Untuk memasyarakatkan kepedulian kepada peternakan dan peternakan ini, Drh Arief Hidayat mengaku dengan adanya Rubrik di Infovet “Solusi Peternak Handal” yang diasuh PT Mensana Aneka Satwa, namanya menjadi banyak dikenal dan peternak lebih banyak membaca. “Infovet banyak membantu, dan peternak lebih senang terhadap materinya,” kata Drh Arief.


Filosofi Peternak Ayam

Bagi Drh Arief Hidayat, yang sangat perlu dihayati adalah filosofi peternak ayam. Bahwa sesungguhnya, pekerjaan peternakan adalah pekerjaan sehari 24 jam dan seminggu 7 hari. Dengan filosofi ini, bila kita betul suka ayam, maka kita akan berpikir seperti ayam; sehingga kita empati dengan kondisi ayam dan selalu membuat ayam nyaman di dalam kandang. Bila sudah nyaman dalam kandang maka hal-hal lain yang tidak dibutuhkan tidak akan lagi mengganggu.

Drh Arief mempunyai pengalaman bersama seorang pimpinannya yang berpikir sangat sistematis bertanya secara perhitungan matematika mestinya ayam itu menghasilkan produksi terbaik. “Namun, mengapa kenyataannya kok lain?” tanya pimpinannya itu.

Dokter hewan alumnus FKH IPB ini pun menjelaskan bahwa ayam merupakan makhluk hidup, ada faktor X yang tidak kita ketahui. Yang kedua adalah mengelola ayam merupakan suatu sening, bukan ilmu matematika. “Ada yang tidak bisa kita kendalikan,” Arief Hidayat mengingatkan.

Drh Arief mengatakan soal kontribusi strain (bangsa) ayam. Dengan 7 strain yang dibeli oleh peternak broiler saat ini, menurutnya hal ini sudah tepat tepat. Masalahnya, katanya, bibit adalah tetap bibit; sedangkan strain tetaplah strain. Yang penting adalah bagaimana mengelolanya, sejak dari Grand Parent Stock yang menentukan genetik strainnya. Selanjutnya dari sini akan muncul bibit ternak yang baik-baik.

Kontribusi pada performan atau penampilan ayamnya, biaya bibit berperan 12% dari keseluruhan performan ayam; biaya tata laksana adalah 12 persen; biaya kesehatan (obat-obatan) sebesar 6%; dan biaya pakan paling banyak yaitu sejumlah 70 persen. (YR)

PINTU MASUK YANG SANGAT KUAT


PINTU MASUK YANG SANGAT KUAT


Ruang Redaksi Infovet Nopember 2008

Saat ini, peternakan digerakkan oleh bisnis agro kelapa sawit, kopi, coklat di mana Oktober harga sangat bagus. Tahun depan harga kopi, sawit, karet sangat turun, mempengaruhi produk impor-ekspor di negara maju. Tidak bisa naik sulit tahun depan. Ekspansi ke luar Jawa. Vaksinasi banyak di luar Jawa.

Tahun ini produsen ayam membatasi jumlah produk DOC, supaya harga bertahan. Pengaruhnya, perkembangan peternakan pun pada populasinya agak terhambat yang dikhawatirkan pelaku peternakan akan mengalami kesulitan.

Sementara itu Indonesia begitu gampang kena dampak luar negeri. Bila bursa efek di luar negeri naik, di Indonesia masih sulit. Kemungkinan besar di tahun depan harga minyak bumi turun, harga jagung sekarang tinggal Rp 2500 per kilogram. Di bawah itu mungkin setiap keadaan positif dan negatif. Tahun depan harga ini diperkirakan turun, di mana harga jagung sangat bagus di pertengahan tahun. Hal ini terkait beberapa petani yang semula mengelola perkebunan tebu beralih ke perkebunan jagung, harga jagung pun bisa turun.

Sesungguhnya biaya pakan untuk proses produksi sekarang lebih tinggi daripada 70 persen. Sedangkan biaya obat-obatan tidak pernah naik, malah sekarang persentasenya menjadi lebih kecil. Perbandingan jumlah vaksin dan obat-obatan (Rp 300) dibanding biaya BEP/Titik Balik Modal (Rp 13.000) sesungguhnyalah ketemu tinggal 2,5 %. Padahal dulunya adalah 6-7 persen dan mengakibatkan biaya pakan naik.

Kalau berpikir positif, dampak total produksi tidaklah sehebat dulu di mana efek terhadap performan bisa sangat berarti. Di sinilah kita masuk dalam pembahasan terhadap upaya peternak tetap menjaga perlakuan obat-obatan (kesehatan hewan) terhadap peternakannya.

Ketika Infovet kali ini memfokuskan pembahasan pada manajemen Broiler, di sinilah kita mempertimbangkan pengaruh-pengaruh pemikiran tersebut di atas. Peternakan tak pernah lepas dari perhitungan-perhitungan usaha semacam itu.

Dalam perhitungan obat-obatan untuk ayam broiler, biaya vaksinasi sangat diperhitungkan. Penyakit-penyakit yang wajib dicegah divaksinasi adalah Gumboro, ND dan Mareks. Maka pelaku bisnis obat hewan menyediakan tiga vaksin wajib ini. Vaksinasi Mareks dilakukan di pembibitan, sedangkan selanjutnya di peternakan dilakukan vaksinasi ND dan Gumboro.

Pada anak ayam umur sehari, vaksinasi dengan ND Kill+Gumboro+spray. Di sini perlu diperhitungkan ongkos vaksinasi dan sanitasi yang relatif tinggi.Pada ayam yang dipelihara sampai usia panen 30 hari, vaksinasi di Hatchery (penetasan telur) sudahlah cukup. Lalu pada ayam yang dipanen hingga di bawah 35 hari, vaksinasi ND (misal dengan vaksin live) dan IB. Pada ayam yang dipanen pada umur 42 hari, ulangan vaksinasi ND dilakukan pada ayam umur 18. Adapun vaksinasi Gumboro di penetasan atau anak ayam umur sehari tidaklah diulang.

Kantung-kantung peternakan ayam pedaging di Indonesia sejatinya lebih merata dan menyebar dibanding kantung-kantung peternakan ayam petelur. Hal ini mengingat pengelolaan ayam pedaging lebih mudah dan makan biaya lebih murah. Katakanlah kantung broiler di Jawa Barat misalnya menyebar hampir di semua wilayahnya.

Sebutlah wilayah Priangan, Tasikmalaya, Tangerang dan Bogor. Sedangkan kantung peternakan misalnya di Serang. Kantung layer lain yang terkenal adalah di Jawa Timur yaitu di Blitar dan Pare. Di Kalimantan misalnya di Banjarmasin, sedangkan di Sulawesi kita temui di Makassar.

Demikianlah, perbincangan Infovet dengan Drh Edy Purwoko Country Manager Ceva Animal Health Indonesia di atas menjadi pintu masuk yang sangat kuat bagi kita untuk memahami sisi pemeliharaan ayam pedaging mulai dari bibit, yang kesemuanya diperkuat dengan tulisan-tulisan di Rubrik Fokus. Dan wawasan pun diwarnai dengan rubrik-rubrik lain yang juga selalu menarik. Selamat membaca! (Yonathan Rahardjo)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template