Monday, August 4, 2008

Praktisi Perunggasan dan AI di Indonesia

Fokus edisi 169 Agustus 2008

Praktisi Perunggasan dan AI di Indonesia


(( Memang pantas dicatat, sangat sedikit praktisi perunggasan yang dapat menyeimbangkan antara peran sebagai pedagang obat/vaksin dengan moral keilmuan. ))

Begitu banyak praktisi perunggasan yang Salah tidak dapat dilepaskan dengan upaya penanggulangan penyakit AI di Indonesia. Salah satunya adalah adalah Drh Hadi Wibowo yang rajin berkeliling ke seluruh pelosok Nusantara. Bukan saja dengan alasan untuk mempromosikan obat dari perusahaannya, namun juga oleh karena dirinya merasa tertantang dan terpanggil untuk ikut berperan serta mencari solusi.
Infovet yang sering diajak Hadi bersama tim-nya, harus mengakui bahwa ada semangat besar dan keinginan kuat dari dalam dirinya untuk, mengambil peran nyata. Tidak sekadar berada dibelakang meja, dan main atur anak buahnya.
Hadi secara nyata terjun langsung dan aktif bergerak di lapangan. Di Banyumas, Semarang, Solo dan Blitar juga daerah lainnya yang diikuti Infovet, Hadi dan Tim nya aktif menggelar seminar dan kemudian masuk keluar kandang para peternak, mencari masukan penting sekaligus menawarkan solusi dalam mengatasi AI.
Begitu kasus wabah AI di Indonesia belum lama ini kembali terulang, maka email dan puluhan Layanan Pesan Singkat atau SMS (Short Message Service) masuk ke telepon genggam Drh Hadi Wibowo, lelaki yang kenyang asam garam perunggasan nasional ini. Begitu juga tidak ketinggalan Infovet Biro Yogyakarta mendapat ucapan yang rada mirip, baik secara langsung ketika ketemu maupun telepon serta lewat SMS
Contohnya kala itu di bulan kedua di tahun 2005 sudah muncul adanya indikasi kuat mewabahnya AI di Sukabumi dan Sidrap Sulawesi Selatan SMS terkesan nakal mencoba menjahili Hadi. Dan akhirnya benar juga, begitu meledak dan di”blow up“ oleh media cetak dan elektronik nasional, kasus menghebohkan itu membuat semua pihak seperti tersengat, mengingat belum genap setahun luka itu masih menganga.
Kala itu muncul pertanyaan liar, apakah prediksi Drh Hadi Wibowo yang kala itu secara eksklusif hanya dimuat oleh Infovet, atas dasar profesional keilmuan atau interest sebagai pedagang obat.
Sebab, seperti diketahui Drh Hadi Wibowo, mantan orang yang lama hidup kandang ayam itu, 6 tahun terakhir ini terjun menjadi profesional di sebuah perusahaan distributor obat hewan. Tepatnya menduduki jabatan Product Manager. Sehingga tidak heran, ketika prediksi, tentang AI saat itu (2004) lebih banyak pihak-pihak yang mencibirnya.
Meski demikian, tidak semua, karena ada juga yang memberikan apresiasi atas pemikirannya yang maju. Salah satunya adalah Drh I Wayan Teguh Wibawan MSc PhD, dosen FKH IPB Bogor. Kala itu kepada Infovet, Wayan memberikan acungan jempol atas prediksinya.
Komentar salut bukan tanpa alasan, karena Hadi mengungkapkan prediksinya atas dasar kaidah ilmiah yang sangat simpel alias sederhana. Meski sangat-sangat sederhana, namun sangat jauh dan terlepas dari aspek bisnis atau tidak berkaitan dengan posisinya sebagai eksekutif di sebuah perusahaan obat.
Kala itu pertengahan tahun 2004 di Blitar dalam sebuah seminar internal yang dihadiri para peternak dan praktisi regional JAwa Timur, seorang Hadi mencoba memberikan peringatan dini tentang kasus wabah penyakit AI tidak hanya berhenti sampai disini. Sebuah kemungkinan besar, bahwa di tahun-tahun mendatang sangat besar akan muncul lagi dalam kawasan yang sama, tetapi juga bisa terjadi di kawasan lain dengan dampak yang tidak kalah buruk.
Terlepas dari profesinya sebagai eksekutif sebuah perusahaan, ia mencoba meneropong, bahwa program vaksinasi akan banyak mengalami kegagalan, terutama jika tidak ada pendekatan baru.
Kala itu, ia sudah nyaring berteriak saat sebagai penjual sebuah produk, bahwa jika program vaksinasi saat ini masih saja dilaksanakan seperti dahulu, maka sudah pasti kegagalan tidak bisa dielakkan. Menurutnya kegagalan vaksinasi memang banyak, namun khusus untuk AI ia mencoba membuka wawasan peternak dan praktisi, bahwa penyakit AI jangan dipandang enteng.
Vaksinasi bukan jawaban tuntas, namun harus ada pendekatan baru agar langkah vaksinasi konvensional itu sudah mulai dipikirkan efektifitasnya. “Saya sebenarnya tidak ingin secara vulgar menawarkan produk perusahaan saya kepada para peternak, namun bagaimana lagi jika tidak demikian mereka akan menjadi korban AI,” ujarnya kepada Infovet kala itu.
Meski demikian lanjut Hadi, akhirnya ia harus berkompromi antara sebagai eksekutif di sebuah perusahaan dengan posisinya sebagai konsultan profesional yang berhamba pada keilmuan.
Memang pantas dicatat, sangat sedikit praktisi perunggasan yang dapat menyeimbangkan antara peran sebagai pedagang obat/vaksin dengan moral keilmuan. Dan, Hadi salah satu yang pantas untuk disebut profesional yang secara umum punya kredibilitas. (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template