Friday, February 15, 2008

TEMU TAHUNAN KARYAWAN LIBATKAN KELUARGA

Ruang Redaksi Infovet 163 Februari 2008

Pertemuan Tahunan Infovet 2007-2008 menjadi satu dalam kerangka besar Pertemuan Tahunan PT Gallus Indonesia Utama, berlangsung di Wisma Mulya Sari, Cisarua, Jawa Barat, 27-28 Januari 2008. Divisi-Divisi di PT Gallus Indonesia Utama berbaur menjadi satu, dan tidak sekedar para karyawan, namun beserta keluarga masing-masing!
Berangkat dengan bis besar dari kantor PT Gallus Indonesia Utama di Gedung Rumah Sakit Hewan Jakarta, Ragunan, Jakarta Selatan, pagi, Minggu 27 Januari 2008, setelah menaruh barang di Wisma Mulya Sari, rombongan menuju Taman Safari di Cisarua, dan seharian itu terciptalah suasana menyegarkan setelah hampir 16 tahun Infovet berdiri, baru pada kesempatan ini semua keluarga karyawan dilibatkan, dalam suasana sungguh segar.
Sorenya rombongan menuju Wisma Mulya Sari, seluruh karyawan dan keluarga kembali menikmati petang, dan malamnya diadakan pra pertemuan tahunan, tukar hadiah diiringi musik, dan pertemuan tiap divisi. Divisi Infovet melibatkan Pimpinan Infovet/PT Gallus, Tim pelaksana Infovet pusat, Perwakilan Infovet di Yogyakarta, Wartawan Infovet Wilayah Jabotabek-Indonesia dan Wartawan Infovet Daerah Riau.
Senin, 28 Januari 2008, merupakan pembukaan Pertemuan Tahunan, diawali oleh Direktur PT Gallus Indonesia Utama mempresentasikan kinerja perusahaan tahun 2007 dan rencana 2008. Manajer tiap Divisi mempresentasikan kinerja dan rencananya, beserta serah terima tiap rencana kerja tiap Divisi antar pimpinan perusahaan dengan tiap manajer divisi. Divisi-Divisi itu adalah Divisi Infovet, Divisi Satwa Kesayangan, Divisi Gita Pustaka, Divisi Event Organizer, dan Divisi G Multimedia.
Berlanjut, Komisaris PT Gallus Indonesia Utama mempresentasikan arahannya. Lalu Ketua Umum ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) sebagai pemegang saham terbanyak PT Gallus Indonesia Utama mempresentasikan tentang ASOHI. Sore itu acara diakhiri dengan keakraban dan kekeluargaan lagi, berujung rombongan dengan bis besar kembali ke Jakarta.
Tim Infovet masih melanjutkan acara tahunan ini, esoknya, 29 Januari 2009 rombongan lengkap Divisi Infovet dan Perwakilan serta Wartawan Daerah mengunjungi PT Ceva Indonesia, PT Romindo Primavetcom dan PT Paeco Agung, diterima masing-masing pimpinan perusahaan. Acara berujung kembalinya Perwakilan Daerah dan Wartawan Daerah ke tempat tugas masing-masing, laksana baterai, usai mendapatkan charge, setrum, energi baru, untuk melanjutkan langkah ke depan dalam pengabdian di bidang informasi kesehatan hewan dan peternakan secara prima.
Kiranya langkah segar di awal 2008 ini mengilhami kita semua untuk menghadapi apa yang bakal terjadi di tahun 2008 ini dengan sikap jiwa yang sempurna, senantiasa waspada, menempatkan diri tetap selalu pada kondisi kritis, rendah hati, berjiwa besar, bersahabat, mengarahkan diri pada kemajuan dan keberanian hati belajar dari pengalaman.
Bahwa, pada dasarnya, kita patut memetakan semua sikap yang ada untuk lebih memanusiakan diri kita sebagai manusia, yang berkemanusiaan, berwawasan luas, bersikap hati luhur, seimbang antara penggunaan pikiran dengan penggunaan perasaan/hati, menuju cita-cita bersama yang secara teori dapat dijangkau dan secara praktek membutuhkan perjuangan dengan mengakomodasi semua faktor baik internal maupun eksternal.
Kiranya Tuhan memberkati kita yang mau belajar berjiwa mulia, apapun kita sebelumnya dengan segala keberhasilan maupun lawa kondisinya. Semoga keberhasilan senantiasa berpihak pada kita selanjutnya. Berhasil di tempat kerja bersama keluarga besar perusahaan, berhasil dalam kehidupan bersama keluarga masing-masing, berhasil bersama keluarga besar masyarakat peternakan dan kesehatan hewan, dan berhasil dalam kepentingan keluarga besar bangsa, negara dan keluarga besar manusia. (Yonathan Rahardjo)

Korisa dalam Pandangan Peternak Bekasi


Infovet edisi 163 Februari 2008


Burangkeng Farm adalah sebuah peternakan milik Drh Djodi Hario Seno di Bekasi Jawa Barat, demikian juga Rokim Farm, yang terletak di Cimuning, Bekasi, yang berpopulasi 40.000 ekor ayam pedaging. Sedangkan di rumah potong ayamnya di Tamansari, Setu Bekasi, Drh Djodi Hario Seno juga mempunyai satu kandang besar ayam-ayam yang hendak dipotong.
Dua ciri menyolok dari kandang-kandang peternakan milik Drh Djodi Hario Seno yang total berpopulasi 100.000 ekor ayam pedaging adalah: semua kontruksi kandangnya adalah kandang panggung, dan peternakannya sangat bersih juga pada kantor dan perumahan di lingkungan peternakannya!
Selaku narasumber ditanya langsung oleh Infovet di Ruko (Rumah Toko) miliknya tempat penjualan ayam daging segar di Bekasi Jawa Barat, Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Bersatu (PPUB) Bekasi itu menjelaskan bahwa kontruksi kandang panggung bagi ayam-ayam adalah: Sirkulasi udara kandang panggung jauh lebih baik dari pada kandang liter.
Adapun, sirkulasi udara yang bagus syarat mutlak untuk kesehatan ternak yang baik. Menurutnya, kebersihan kandang dan lingkungannya dengan sirkulasi udara merupakan perpaduan yang mutlak dibutuhkan. Layar tirai kandang harus di buka secara teratur. Kejorokan dan akumulasi amoniak karena kandang tidak pernah dibuka (selalu tertutup) merupakan pemicu munculnya berbagai penyakit termasuk penyakit pernafasan Korisa.
Sementara itu, musim pancaroba di mana terjadi peralihan perpindahan musim di mana suhu secara ekstrim berubah menurut Dodi Kuncoro Gana SPt, putra dari Ketua PPUB itu, merupakan faktor penting yang dapat memunculkan penyakit pernafasan korisa ini.
Menurut Drh Djodi Hario Seno, terjadinya Korisa adalah karena kandang yang jorok, tempat air minum tumpah, tumbuh jamur. Bila jamur masuk paru-paru bisa menyebabkan paru-paru bengkak, apalagi bila dimana ada infeksi kuman bakteri penyebab Korisa.
Bagaimana diagnosa penyakitnya? Menurut peternak di Bekasi itu, beberapa karyawan di peternakannya, rata-rata sudah bisa melakukan diagnosa, sudah tentu di bawah pengawasannya selaku dokter hewan. Untuk melakukan diagnosa itu kalau perlu dilakukan pula bedah bangkai. Baru kalau penyakit tidak bisa di tangani sendiri peternak akan memanggil petugas teknis kesehatan hewan dari pabrik obat hewan, agar mereka membantu.
Menurut Dodi Kuncoro Gana SPt yang pernah bekerja di PT Mensana Aneka Satwa, Korisa memang banyak ditemukan pada peternakan ayam petelur namun sedikit dijumpai pada ayam pedaging. Gejala Korisa menurutnya adalah ada lendir pada hidung yang menyebabkan tersumbatnya hidung sehingga pasokan unggas berkurang.
Anjuran Dodi Kuncoro Gana, untuk mengatasi Korisa, lihatlah penyebabnya apakah kandang kotor, lalu lingkungannya, suhu, cuaca dan iklim. Apakah struktur kandang, ventilasi, manajemen petugas kandang dilakukan dengan baik.
Hal ini penting diperhatikan karena akibat Korisa terjadi penurunan produksi telur, penurunan berat badab pada ayam pedaging, penurunan stamina daya tahan, penurunan antibodi, dan penurunan produktivitas pada ayam pullet.
Pencegahan Korisa dengan menggunakan vaksin Korisa biasa diberikan pada ayam petelur namun tidak pada ayam pedaging. Bila kasus korisa sudah terjadi pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. “Hampir semua penyakit diberlakukan demikian,” kata Drh Djodi Hario Seno.
Adapun penanganannya pun sesuai dengan manifestasi penyakit yang terjadi. (YR)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template