Wednesday, December 26, 2007

Pakan Ternak Tumbuh 7% Pertahun Capai 8,13 Juta Ton

(( Tahun 2008 konsumsi pakan berkisar 8,13 juta ton dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan peternakan 7%. ))

Untuk mengimbangi kenaikan produksi unggas, maka konsumsi pakan ternak nasional pada 2008 diperkirakan juga akan naik mencapai 8,13 juta ton. Adapun kebutuhan pakan ternak meningkat rata-rata 7% per tahun sejalan dengan peningkatan usaha sektor terkait.
Demikian Ir Anang Hermanta dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak dalam Seminar tentang Prospek Bisnis Perunggasan 2008 di Hotel Peninsula Jakarta, 7 November 2007 melengkapi pernyataannya bahwa perkiraan sampai akhir 2007 konsumsi pakan nasional akan mencapai 7,6 juta ton.
Hal itu menurut Anang menyusul kondisi terkait yang makin surut akibat dampak kenaikan harga minyak dunia dan iklim usaha di dalam negeri yang belum kondusif.
Untuk memenuhi produksi pakan ternak itu, lanjutnya, industri pakan ternak membutuhkan sekitar 4,07 juta ton jagung, baik impor maupun lokal, sebagai bahan baku utama yang mencapai 50% kebutuhan bahan baku pakan.
Selain jagung, bahan baku lain juga sebagian masih tergantung impor, a.l. bungkil kedelai 1,62 juta ton, tepung tulang & daging (meat bone meal/MBM) serta tepung daging unggas (poultry meat meal/PMM) 400 ribu ton, dan premix 50 ribu ton.
“Dengan kondisi seperti sekarang, apalagi kenaikan harga minyak dunia, kenaikan harga pakan terjadi di seluruh dunia karena bahan baku itu ikut naik. Selain memang barangnya yang naik, biaya angkut juga naik.”
Karena itu, kata Anang, produsen makanan ternak terus meminta pemerintah memberikan insentif sehingga kenaikan harga pakan tidak terlalu tinggi.

Harga Bahan Baku
Saat ini, data GPMT menunjukkan harga bahan baku makanan ternak naik rata-rata lebih dari 30%. Akibatnya sejak Juli harga pakan naik lebih dari Rp300 per kilogram menjadi rata-rata Rp3.675 untuk pakan ayam pedaging (broiler).
Sementara itu, harga pakan ayam petelur naik dari Rp2.550 per kilogram pada Juli 2007 menjadi Rp2.950 per kilogram.
“Harga jagung impor sekarang sudah US$306 per ton dari harga Juli 2007 sekitar US$220 per ton. Sama juga harga bungkil, MBM, dan PMM yang juga naik. Kalau tidak ada upaya pemerintah, sektor peternakan bisa hancur. Padahal kita selalu mengharapkan ada kenaikan pertumbuhan usaha paling tidak 7%.”
Tanpa upaya nyata, kata Anang Hermanta, dampak di sektor perunggasan akan tampak nyata pada harga unggas yang bakal meningkat di atas Rp20.000 per kilogram dari harga rata-rata saat ini sekitar Rp16.000 per kilogram.

Didominasi Pakan Unggas
Sebesar 83 % pakan ternak dibutuhkan untuk unggas. Sisanya, 6 % pakan untuk babi, 3 % pakan sapi perah, 7 % pakan akuakultur, dan 1 % pakan ternak lainnya. Adapun biaya utukpakan ternak ini mencapai 70% dari biaya produksi hasil ternak seperti daging dan telur ayam.
Menurut Anang Hermanta, pakan ternak memang tidak bisa dipisahkan dari rangkaian mata rantai usaha peternakan. Bila Peternakan berkembang, permintaan pakan meningkat, konsumsi bahan baku pakan juga meningkat.
“Pakan ternak berperan strategis,” katanya. Hal ini terkait dengan 70% dari biaya produksi hasil ternak seperti daging dan telur ayam tersebut.
Pakan ternak sendiri, menurut Anang Hermanta terkait harga bahan baku global. Secara nilai rupiah, lebih dari 60% tergantung dari bahan baku impor seperti: jagung, bungkil kedele, meat dan bone meal, poultry meat meal, corn gluten meal, rape seed meal, dll.
Menurut eksekutif PT Sinta Prima Feedmill ini, kualitas pakan sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan. Untuk itu harus didukung dengan ketersediaan bahan baku yang berkualitas.
Keberhasilan penyediaan pakan ternak ini menurutnya terkait dengan kebijakan pemerintah. Ir Anang berharap, pemerintah sanggup membebaskan bea masuk 5% atas jagung impor. Lalu, meningkatkan produksi jagung dalam negeri. Dan, membuka impor US Meat and Bone Meal secara terbuka.
Bahan baku pakan kenapa melonjak dan bahkan lonjakannya drastic hingga sulit diikuti oleh kenaikan harga ayam dan telur. Penyebab naiknya harga ini diantaranya adalah kekeringan di Australia, gangguan cuaca di beberapa negara lain, penggunaan jagung dan biji-bijian lain untuk biofuel telah mendongkrak semua grain & bahan baku pakan ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu Kenaikan harga minyak dunia yang telah mencapai lebih dari US$ 90/barel menimbulkan persaingan baru (grain for food, feed & fuel).
Hal tersebut berdampak pada harga bahan baku global. Dari catatan GPMT periode Juli-Nop 2007 harga bahan baku seprti jagung naik dari 220 US$/MT menjadi 306 US$/MT, SBM naik dari 320 US$/MT menjadi 475 US$/MT, MBM naik dari 410 menjadi 575 US$/MT, CGM naik dari 530 US$/MT menjadi 675 US$/MT, dan PMM 500 US$/MT menjadi 740 US$/MT. Bahkan biaya pengapalan dari USA pun ikut naik dari 60 US$/ton menjadi 145 US$/ton.
Sudah barang tentu perunggasan nasional terkena imbasnya, harga pakan rata-rata naik sebesar Rp 450/kg sejak 3 bulan terakhir dan masih berpotensi naik lagi Rp 500/kg. Harga DOC anjlok menjadi Rp 1.000-1.500/ekor. Kalkulasi harga ayam dengan harga DOC di atas dan harga pakan saat ini Rp 3.700/kg maka BEP broiler ex farm sekitar Rp 8.700/kg, kenyataan harga jual karkas eceran rumah tangga sekitar Rp 16.000/kg. Jika pakan naik jadi Rp 4.200/kg dan DOC Rp 2.500, maka BEP ex farm mencapai Rp 10.500/kg yang bisa memicu harga jual karkas eceran rumah tangga mencapai di atas Rp 20.000/kg. Mungkinkah ini terjadi karena kita tetap harus mewaspadai lemahnya daya beli masyarakat.
Bila boleh membandingkan, kenaikan harga pakan terjadi di seluruh dunia. Bedanya kalau di Indonesia, BEP naik harga jual ayam tetap rendah sedangkan di negara lain harga ayam dan DOC ikut naik secara proporsional karena daya beli kuat dan saluran distribusi yang efektif. Sebagai contoh harga broiler di Malaysia 1,20 US$/kg dengan harga DOC 0,50 US$/ekor.

Permasalahan Bahan Baku Pakan
Ir Anang Hermanta pun menguraikan permasalahan bahan baku pakan secara lebih lengkap. Permasalahan itu adalah Bea Masuk Jagung Impor sebesar 5%. Jagung impor dikenakan BM 5% sesuai Peraturan Menkeu No: 591/2004. Tujuannya untuk membantu petani jagung meningkatkan produksi jagung nasional.
“Kenyataannya, produksi jagung dalam negeri masih tetap kurang meskipun sudah diterapkan BM 5%,” kata Anang seraya berpendapat bahwa hal ini menunjukkan ada penyebab lain yang menghambat.
Anang mengatakan bahwa harga jagung lokal selalu jauh diatas biaya pokok produksi. Di sisi lain peternak mendapat tambahan beban biaya pakan. Maka, “Diusulkan pembebasan BM 5% terhadap jagung impor sampai produksi jagung nasional mencukupi tanpa impor,” tegasnya.
Permasalahan Bahan Baku Pakan yang lain adalah Meat and Bone Meal asal USA. Anang mengungkap bahwa sejak Agustus 2006 impor MBM asal USA dibuka terbatas bagi satu produsen, Baker Comodity Inc., USA. Tujuan pembukaan impor MBM asal USA untuk menambah alternatif impor selain dari Australia & New Zealand, sehingga lebih bersaing menurunkan harga.
Namun, karena hanya satu produsen asal USA, maka harga justru tetap tinggi mengikuti harga MBM asal Australia & New`Zealand. Oleh karena itu, “GPMT mendesak pemerintah segera membuka impor MBM asal USA secara terbuka dari banyak produsen dan bebas melakukan impor langsung kepada produsen,” tutur Anang.
Pada saat itulah, produsen lain yang menunggu ijin masuk antara lain: Conagra, Excel, Darling. Proses pembukaan ijin impor ini menurut GPMT sangat lamban.
Ada pun yang juga menjadi permasalahan bahan baku pakan, menurut GPMT, adalah penanganan kasus penyelundupan MBM yang sangat lemah. Ditemukan kasus penyelundupan MBM asal Inggris pada tanggal 23 Agustus 2007 sebanyak 112 peti kemas berisi 2,056 ton. Pelakunya PT Tahta Muria Wahana (TMW) yang MBM-nya diimpor dari Gulf English Trading asal Virgin Island, Inggris.
Kasus serupa terjadi di Tanjung Perak, Surabaya tahun 2006. Namun sangat disayangkan, “Pelaku tidak jera karena sangsi tidak tegas,” sesal Anang.
Menurutnya, pengaruh hal ini bagi pabrik pakan anggota GPMT, adalah menimbulkan kesulitan karena semua ijin pemasukan MBM dan bahan baku impor lain yang legal diperketat dan sangat menghambat. “Ironisnya penyelundup tidak ditindak, importir legal “dipersulit” dan menimbulkan biaya tinggi,” keluh Ir Anang Hermanta.
Selain hal tersebut, Anang menambahkan, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam Permentan No. 61/2007 yang mengijinkan masuknya MDM ke Indonesia melemahkan perjuangan menolak masuknya paha ayam atau Chicken Leg Quarter (CLQ).
Selama ini dasar yang digunakan oleh Pemerintah untuk menolak CLQ masuk adalah dengan syarat ASUH (Aman, Sehat Utuh dan Halal). CLQ berupa potongan paha ayam sehingga tidak memenuhi syarat “utuh”, maka diragukan kehalalannya.
Jika CLQ yang berupa potongan paha ayam atau sayap tidak memenuhi syarat ASUH, tentunya MDM yang berbentuk bubur daging ayam lebih diragukan kehalalannya. Namun bilamana MDM yang tidak memenuhi syarat ASUH tersebut diijinkan masuk maka akan melemahkan argumentasi penolakan masuknya CLQ dengan dalih tidak “utuh” atau tidak memenuhi syarat ASUH.

Kendala yang Harus Diantisipasi
Kendala yang harus diantisipasi adalah inflasi meningkat tajam di tahun 2008 akibat kenaikan BBM, yang akan berdampak pada penurunan daya beli. Harga pakan akan naik tajam sedangkan harga daging dan telur ayam tidak mengikuti kenaikkan biaya pokok produksinya.
Kendala berikutnya, belum tuntasnya penanganan Flu Burung di Indonesia. Juga, tambah Anang, perlu upaya meningkatkan produksi jagung dalam negeri.
Sementara itu, RUU Peternakan dan Keswan yang masih cenderung menonjolkan pada ancaman hukuman bagi pelaku usaha, berpotensi menurunkan minat investor, karena banyak sanksi-sanksi yang sifatnya kurang mendidik atau berlebihan.
“UU Peternakan dan Keswan harus menciptakan daya tarik dan rasa aman-nyaman bagi investor untuk masuk ke bisnis peternakan nasional,” harap GPMT.

Harapan GPMT
Oleh karena itu, GPMT berharap semua pelaku perunggasan perlu menjaga keseimbangan supply-demand DOC dan daging ayam broiler.
Selanjutnya, seluruh stakeholder perunggasan dan pemerintah segera mewaspadai dan mengambil langkah nyata untuk menghadapai situasi yang sangat sulit saat ini.
Langkah nyata sesuai harapan GMT, diungkap Anang adalah, “Pangkas biaya-biaya yang berlebihan.”
Lalu, “Tekan high cost economy berkaitan dengan peraturan-peraturan yang eksesif, perda-perda tumpang tindih, bea masuk, biaya pengawasan mutu, biaya karantina antar area, dan lain-lain.”
Kemudian, “Dekatkan harga ex farm dengan harga eceran rumah tangga, pangkas saluran distribusi.”
Akhirnya, tegas Ir Anang Hermanta, “Perlancar importasi bhn baku pakan yang bisa menyebabkan tambahan biaya demurage, OB san lain-lain akibat lambatnya pengurusan SPP impor, proses karantina dan bea cukai tanpa mengorbankan keamanan pangan nasional.” (YR/wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template