Tuesday, October 16, 2007

Oligosakarida Alternatif Pengganti Antibiotik Growth Promotant

Burhanudin Sundu
Pengajar pada Universitas Tadulako, Palu


Rasanya sulit bahkan pahit bagi industri peternakan dan produsen antibiotik menerima regulasi yang digelindingkan oleh Uni Eropa dalam pelarangan penggunaan AGP. Pelarangan ini tidak hanya melulu masalah ditariknya produk AGP dipasar Eropa yang berimplikasi bagi produsen tetapi menyangkut dampak yang ditimbulkan. Serentetan masalah muncul dalam pelarangan ini, mulai dari meningkatnya kematian ternak, rendahnya produksi dan tidak uniformnya pertambahan bobot badan dan produksi ternak. Parahnya, sebagian besar bangsa ternak modern yang diciptakan masih bersandar pada penggunaan AGP dalam makanan ternak. Ini jelas berdampak besar bagi peternak.
Logika yang menyertai pelarangan penggunaan AGP sebenarnya sangat sederhana yakni adanya ketakutan munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Logika ini dibangun dari sebuah keyakinan bahwa pemberian AGP dalam makanan ternak dengan dosis yang rendah akan memunculkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten ini akan meloncat ketempat lain via produk ternak dan pekerja di farm. Ini akan menyebabkan bakteri yang resisten dapat berkembang biak. Ketika bakteri yang resisten ini menginfeksi ternak atau manusia, upaya penyembuhan dengan menggunakan antibiotik tertentu menjadi tidak efektif.
Kasus yang dilaporkan oleh Ramchandani dkk (2005) tentang ditemukannya banyak Esherichia coli resisten yang menyebabkan terjadinya infeksi saluran kencing perempuan dewasa seakan membenarkan keyakinan ini. Bakteri ini ternyata berasal dari saluran pencernaan sapi dan bakteri ini resisten terhadap berbagai antibiotik.
Proposisi ini dibantah karena dosis antibiotik yang diberikan kepada ternak dianggap tidak berbahaya bagi manusia dan tidak akan memunculkan bakteri yang resisten. Sayangnya, bantahan ini seperti tidak memiliki gaung dilevel penentu kebijakan. Regulasi pelarangan AGP di Eropa dan pelarangan beberapa AGP di USA dan Australia adalah bukti .

Antibiotik sebagai perangsang tumbuh (AGP)
Lebih dari 60 tahun, sejak Moore dkk (1946) melaporkan hasil penelitian mereka tentang manfaat antibiotik dalam meningkatkan pertumbuhan ternak, penggunaan antibitok perlahan meningkat dalam industri ternak unggas dan babi. Awalnya penggunaan antibiotik dimaksudkan hanya untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri patogen. Temuan Moorer dkk ini dianggap sebagai penyelamat industri peternakan. Karena itu antibiotik menjadi bagian integral dalam industri makanan ternak.
Peningkatan bobot badan ternak babi sebesar 3,3-8,8% dan efisiensi penggunaan pakan sebesar 2,5 -7% dan peningkatan bobot badan ayam sebesar 100 gram pada umur 6 minggu adalah fakta pembenar bahwa antibiotik dapat meningkatkan pertumbuhan ternak dan efisiensi. Mekanisme kerja dari antibiotik meningkatkan produksi ternak diduga melalui beberapa modus operandi. Pertama, sel darah putih sebagai instrumen sistim kekebalan akan merespon benda-benda asing (mikroba patogen) yang masuk dengan memproduksi cytokines. Ini akan menyebabkan organ pencernaan memproduksi peptida yang menyebabkan ternak kehilangan nafsu makan. Kurangnya konsumsi akan berimplikasi pada rendahnya pertambahan bobot badan. Kedua, Antibiotik akan membunuh mikroba. Padahal tanpa antibiotik, dibutuhkan energi untuk proses penghambatan pertumbuhan mikroba patogen tersebut. Ini berarti terjadi efisiensi energi yang dapat dikompensasi untuk pertumbuhan ternak. Ketiga, bakteri dapat menon-aktifkan enzim pencernaan dari pankreas akibat adanya produksi amoniak, antibiotik dapat menghambat produk amoniak ini sehingga peran enzim untuk mencerna nutrisi menjadi normal. Antibiotik juga dapat menghambat iritasi pada dinding usus sehingga penyerapan nutrisi menjadi maksimal. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan fungsi antibiotik dapat memacu pertumbuhan ternak.
Sederet manfaat positif diatas yang diemban oleh antibiotik, dimata konsumen dan regulator (pemerintah), tak sebanding dengan isu bakteri resisten yang ditimbulkan oleh antibiotik. Akhirnya , produk-produk antibiotik yang bertujuan sebagai perangsang tumbuh kemudian menuai pelarangan di Eropa dan pelarangan beberapa antibiotik di berbagai negara. Studi tentang pengganti AGP kemudian memunculkan banyak produk alternatif mulai dari enzim, betaine, asam organik, probiotik, bakteriophage dan prebiotik. Dari sekian banyak produk tersebut, prebiotik sebagai alternatif mendapat perhatian yang intens karena mekanisme aksinya yang unik dan kemampuan mengganti antibiotik baik pada aspek peningkatan status kesehatan maupun sebagai perangsang tumbuh dianggap setara dengan antibiotik.

Prebiotik sebagai perangsang tumbuh (PGP)
Prebiotik diterjemahkan sebagai komponen nutrisi makanan yang tidak tercerna tetapi mempengaruhi mikroba yang ada dalam saluran pencernaan dan merangsang pertumbuhan ternak. Alam dapat menyediakan ratusan prebiotik yang dapat diekstrak dari karbohidrat. Secara komersial, karbohidrat kelas oligosakarida yang merupakan polimer dari fructose Fruktooligosakarida, FOS) dan manosa (mananoligosakarida, MOS) yang banyak diproduksi dalam industri makanan dan kesehatan karena menyimpan fungsi prebiotik.
Penggunaan FOS dalam makanan ternak dapat menstimulus perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat seperti bifidio bacteria dan Lactobacillus sp. dalam saluran pencernaan. Bakteri ini akan menghuni dan saluran pencernaan dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan mekanisme “competitive exclusion”, siapa yang paling dominan dialah yang akan menguasai saluran pencernaan. Mekanisme ini mirip dengan mekanisme introduksi probiotik. Akan tetapi penggunaan FOS dalam konsentrasi yang terlalu rendah dan terlalu tinggi menjadi tidak efektif dalam merangsang pertumbuhan bakteri yang bermanfaat dan menghambat bakteri patogen. Hal ini disebabkan karena bakteri patogen semacam salmonela dapat memanfaatkan FOS untuk pertumbuhan ketika konsentrasi substrat meningkat.
Berbeda dengan FOS, MOS secara bersamaan dapat memacu perkembangan bakteri yang bermanfaat dan menghambat bakteri patogen dengan membloking fimbriae (polimer protein yang dapat mendeteksi karbohidrat spesifik) pada bakteri sehingga bakteri patogen tidak melekat pada dinding usus. Bakteri-bakteri patogen seperti Salmonella dan E. Coli adalah bakteri yang selalu mencari tempat perlekatan pada gula sederhana manosa atau karbohidrat yang memiliki kandungan manosa, seperti mannan oligo sakarida (MOS; polimer manosa). Melekatnya bakteri patogen ke MOS yang tidak tercerna akan menyebabkan bakteri patogen ini dibuang dalam bentuk feses. Ini akan berimplikasi pada semakin sedikitnya populasi bakteri patogen dalam saluran pencernaan.
Berbagai tanaman menyimpan mannan sebagai cadangan energinya dan karenanya dapat diekstrak menjadi MOS. Tanaman bangsa palma, legum dan yeast cenderung mengandung Mannan dengan segala derivasinya. Akan tetapi, terdapat perbedaan kemampuan MOS dalam menyerap bakteri patogen. Sebuah studi mengindikasikan bahwa MOS dari Saccharomyces cerevisiae memiliki kemampuan yang lebih besar berkisar sekitar 80% padahal pada tanaman lain kemampuan tersebut hanya berkisar 30-50%. Produk tersebut juga jauh lebih cepat dan lebih kuat dalam mengikat bakteri patogen. Kemampuan MOS dalam meningkatkan fungsi kekebalan melalui peningkatan immunoglobulin pada level saluran pencernaan, meningkatkan aktifitas makrofag serta kesehatan saluran pencernaan telah dibuktikan oleh beberapa peneliti.
Peningkatan pertumbuhan ternak akibat dari supplementasi MOS diakibatkan karena beberapa mekanisme. Pertama, MOS dapat meningkatkan kekebalan tubuh yang sangat bermanfaat bagi ternak dalam bentuk saving energi untuk mereduksi stres. Saving energi ini akan digunakan untuk pertumbuhan. Kedua, MOS dapat meningkatkan panjang vili-vili usus halus yang berguna untuk penyerapan nutrisi. Implikasi dari peningkatan penyerapan nutrisi dapat secara positif berhubungan dengan pertumbuhan ternak.
Sebuah studi yang menarik dilakukan oleh Newman (2002), Lou (1995) dan Scheuren-Portocarrero (2006) tentang kemampuan MOS dalam mengurangi bakteri Salmonella dan E. coli yang resisten terhadap antibiotik. Hasilnya, proporsi relatif dari bakteri Salmonella monterido yang resisten terhadap antibiotik tertentu menurun. Data ini mungkin dapat dibaca sebagai alternatif strategi dalam mengurangi munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Karena itu fungsi MOS tidak hanya mengganti peran antibiotik dan merangsang pertumbuhan, tetapi juga ikut mengambil peran dalam membersihkan jagad ini dari koloni bakteri yang resisten. Dengan begitu, fungsi antibiotik sebagai obat untuk penyembuhan penyakit yang memang tidak akan mungkin dilarang, akan menjadi efektif dan maksimal.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template