Wednesday, October 31, 2007

Tahan Stres dan Waspada AI di 2007

Tahun 2006 segera berakhir, tahun 2007 segera menjelang. Bagi peternak, khususnya peternak hewan unggas, tahun 2006 adalah tahun penuh tantangan. Di awal hingga pertengahan tahun, Avian Influenza (AI) atau flu burung kembali merebak. Baik di wilayah endemis maupun wilayah baru. Permasalahan AI semakin rumit saat muncul tuduhan, bahwa kebijakan vaksinasi AI, menjadi salah satu faktor menularnya AI ke manusia.
Kita bersyukur, tuduhan tersebut bisa dijelaskan dengan baik oleh salah satu tokoh kesehatan hewan Drh Tri Satya Putri Naipospos NH MPhil PhD dan didukung oleh Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD selaku ketua umum Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI).
Pada pertengahan tahun, tepatnya pada Juli 2006, sejenak peternak merasakan kegembiraan dengan digelarnya The Third Indolivestock 2006 yang berlangsung pada saat yang tepat, yaitu saat harga daging ayam dan telur sedang membaik. Indolivestock kali ini berlangsung saat peternak sedang menikmati keuntungan, sehingga banyak peternak yang berkunjung”, begitu kata pengunjung saat itu.
Namun setelah itu, peternak kembali mendapat tantangan yaitu, dengan melambungnya harga DOC dan jagung akibat kekurangan stok. Keadaan ini berlangsung hingga saat tulisan ini diturunkan.

Prediksi tantangan 2007
Ditemui disela-sela kegiatannya, Drh Hadi Wibowo Technical Manager PT Sumber Multivita menjelaskan, tantangan penyakit pada 2007, khususnya pada semester pertama, akan diwarnai oleh penyakit dengan gejala umum seperti stres, yang akan berdampak langsung pada gangguan fisiologis, hormonal, dan imunologis. Penyakit-penyakit yang disebabkan virus seperti ND, AI, IBD, dan lain-lain, serta penyakit bakterial seperti Cocci, Coli, Snot,dan lain-lain.

Stres
Gangguan stres dimulai sejak DOC menetas. Yaitu sejak penanganan di penetasan, transportasi hingga ditebar dikandang. Jika pada saat ditebar suhu kandang kurang dari 25oC. Maka akan terjadi stres akibat renyatan temperatur yang terjadi. Akibat berikutnya ACTH (Adenocorticotropic hormon) meningkat, sehingga penyerapan kuning telur terganggu, zat kebal dari induk terhambat, dan komponen nutrisi menjadi terhambat.
Bila kondisi diatas terjadi, maka DOC rentan terhadap berbagai mikroorganisme dan respon terhadap vaksin jelek. Jika DOC mengalami renyatan temperatur, maka 15 detik setelah ditebar, DOC tidak mau bergerak, makan dan minum. Dan mulai timbul masalah. Bila stres tidak segera diatasi, maka akan terjadi gangguan permanen.sehingga pertumbuhan berat badan maupun produksi telur akan terganggu.





Infectious Coryza / Snot
Snot disebabkan oleh Haemophilus gallinarum. Penyakit ini menyebabkan penularan 70 sampai 90%, angka kematian 20% (infeksi tunggal) dan mencapai 50% bila terjadi infeksi sekunder. Kerugian lain adalah terganggunya penambahan bobot badan. Gejala khas, muka bengkak, diam dan tidak mau makan. Untuk penyakit ini Hadi menawarkan solusi 3-Si yaitu Sanitasi, Seleksi dan Medikasi. Sanitasi, cukup jelas. Seleksi dan medikasi, pisahkan dan karantinan hewan ayam yang sakit kemudian obati per individu. Ayam yang sehat berikan pengobatan perpopulasi. Konsultasikan dengan dokter hewan anda, terkait medikasi.
Penyakit snot memiliki arti penting pada ayam petelur. Karena bila terjadi sebelum masa bertelur, maka saat bertelur akan mundur, sulit mencapai puncak dan produksi rata-rata menjadi buruk. Bila terjadi saat produksi, maka produksi telur akan turun mendadak dan untuk pulih butuh waktu dan program pengobatan khusus.

Kolibasilosis
Kolibasilosis disebabkan oleh Bakteri Escerecia coli galur patogen dan bersifat oportunis. Biasanya timbul akibat dari infeksi sekunder, karena ayam mengalami cekaman stres atau infeksi primer. Gejala klinis kurus, bulu kusam, nafsu makan turun dan murung. Pertumbuhan terganggu, diare, bulunya kotor atau lengket di sekitar ekornya (lihat gambar).


Kendali untuk Coli
Dengan meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Prof Charles, kendalikan dengan konsep UAP (Udara-Air-Pakan). Udara Dengan ventilasi dan sirkulasi yang baik akan tercipta udara yang sehat dan bersih.Terbukti dengan nyata kandungan amonia dan sulfur tinggi menyebabkan kesehatan ayam menurun. Udara bersih menjamin kontaminan bakteri E. coli di udara tidak bisa ikut menjadi tinggi konsentrasinya, sehingga infeksi E. coli melalui udara bisa ditekan.
Air. Kualitas air harus dijaga “bersihnya” mulai sejak DOC masuk dalam kandang dengan cara dimasak, dengan infra-red dan klorinasi rutin secara bertahap dan terprogram pada pullet dan ayam dewasa. Penting karena kecuali air sehat memang dibutuhkan ayam juga merupakan jalur utama yang potensial untuk terjadi infeksi E. coli. Jika kontrol kualitas air optimal, harusnya tidak ada lagi asumsi E. coli datang berkali-kali di tiap kandang.
Pakan. Kontaminan bakteri E. coli termasuk potensial menggunakan pakan sebagai jalur infeksi. Tidak ada jalan lain harus menjaga kebersihan dan kualitas pakan. Sering kali kelalaian dan kurang memperhatikan hal pokok ini menjadi faktor pembenar E. coli sulit diberantas. Padahal semua tergantung dari upaya-upaya itu apakah sudah optimal.
Sanitasi ketat meliputi: sanitasi udara, air dan pakan. Pengafkiran ayam yang positif terinfeksi E. coli, untuk menjaga penularan lebih banyak. Kurangi stress, dengan cara menjaga kandungan amonia dan sulfur serta debu lingkungan kandang. Pemberian imunomodulator dan multivitamin sangat bermanfaat untuk menjaga dan mempertahankan kondisi tubuh saat stress. Pemberian cleaning secara tepat (udara, air dan pakan)

Coccidiosis
Berdasarkan tempat hidupnya, cocci dapat digolongkan sebagai berikut, Coccidiosis sekum terdiri-dari E. Tenella, E. Necatrix. Coccidiosis intestinal terdiri-dari E. Maxima, E. Brunette, E. Acervulina, E. Praecox




Coccidiosis dan integritas pencernaan dengan mengutip Prof Dr George Tice, Hadi menjelaskan, Coccidiosis bisa menyebabkan gangguan pencernaan secara umum (Integritas pencernaan/Intestinal Integrity (I2), bila keberadaannya diikuti oleh enteritis. Bila sudah terjadi I2, akan mengakibatkan kerugian US$ 0,102 = Rp. 1.020,- per 2 kg bobot badan ayam (broiler) hidup
Lebih lanjut menutur Prof Dr Gatut Ashadi (1982), masih kata Hadi, bakal petelur (Pulet), jika terkena kasus Coccidiosis lebih dari satu kali maka pada saat masa produksi, hen-house production-nya akan berkurang 20%
Vaksin Cocci bekerja melalui infeksi ayam dengan beberapa spesies bibit coccidia hidup yang sudah dilemahkan untuk menstimulasi kekebalan terhadap spesies tersebut. Kekebalan terbentuk selama 2 hingga 4 minggu dan secara umum memberikan perlindungan terhadap koksidiosis yang baik, terutama terhadap tantangan terakhir. Efek samping vaksinasi coccidia juga menyebabkan kerusakan usus, sehingga memicu peningkatan produksi mukus. Kelebihan mukus menyebabkan bakteria berbahaya berkembang biak, meningkatkan resiko enteritis bakterial dan memicu terjadinya I2.
Pembentukan antibodi cocci. Mekanisme kekebalan coccidiosis mirip dengan pembentukan kekebalan pada ND, tetapi kekebalan celuler lebih menonjol sedangkan ND lebih menonjol humoral. Cocci merusak Caeca Tonsil, yang menyebabkan rusaknya B-Cell, sehingga menghambat pembentukan antibodi secara keseluruhan.

Waspadai AI di semester 2
Bulan Juli, Agustus sampai awal Nopember 2007, diperkirakan terjadi stres panas perlu diingatkan ayam adalah termasuk golongan aves yang mudah sekali mengalami gangguan hormonal, fisiologis dan imunologis. Ekstremnya pada saat musim panas sering terjadi heat stress yang berdampak kematian mendadak
Pertengahan November 2007 sampai awal Januari 2008 Hadi memperkirakan AI pada hewan dan flu burung pada manusia akan kembali merebak. “Jika tidak diambil tindakan-tindakan kongkrit sejak sekarang, maka perkiraan saya tidak akan meleset,” tegasnya. Saat ditanya apakah dirinya berharap ramalannya itu tepat? Hadi menjawab tidak berharap. “Saya justru berharap ramalan saya ini meleset. Namun, sekali lagi bila kita tidak serius, ramalan saya tidak akan meleset atau bahkan akan datang lebih cepat dan lebih parah”,katanya lagi dengan nada tinggi.
Mengapa flu burung harus diwaspadai? Dikawatirkan adanya ulangan wabah yang bisa menewaskan jutaan unggas dan manusia, diberbagai belahan dunia yang saat ini menjadi kekhawatiran Organisasi Kesehatan Dunia/WHO dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia/OIE. (Sapt)

PETERNAK GUSAR DENGAN PILEK MENULAR

Dibandingkan dengan ND,CRD dan ILT memang Penyakit Pilek Menular (PPM) pada ayam ( Infectious Coryza) lebih menghantui para peternak. Dasar alasan mereka,oleh karena, selama ini program vaksinasi atau paling tepat disebut bacterinasi, lebih cenderung kurang sukses atau banyak mengalami kegagalannya dibandingkan tingkat keberhasilannya. Adalah Fajar Saelan seorang peternak layer yang berada di Krapyak Ngaglik Sleman mengungkapkan tentang hal itu.
”Kalau IB,ILT bahkan ND dan CRD kompleks menurut pengalaman saya PPM atau Snot justru lebih potensial menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Pada awal Juli yang lalu ayam kami kena. Selama hampir 1,5 minggu produksi langsung melorot dan pulihnya membutuhkan waktu tidak kurang dari 1,5 bulan. Padahal harga telur saat itu sedang baik” ujarnya kepada Infovet di kandangnya.
Memang tingkat kematian tidak sebanyak ND atau Gumboro, namun justru dengan cepatnya penyakit itu menjalar ke flok yang lain itu dan juga kemerosotan produksi secara pelahan, maka jauh lebih merugikan. Menurut Fajar, yang jebolan dari sebuah Akademi Komputer itu, bahwa ia tidak membayangkan jika populasi yang ada mencapai ratusan ribu ekor itu terserang PPM, maka tentu akan memukul telak nasib peternak.
Sudah terlalu sering dia melakukan protes dan komplain ke TS pemasar vaksin, namun sayang jawabannya menurut Fajar sangat normatif sekali. Umumnya jawaban dari sang petugas kesehatan lapangan, bahwa kemampuan memberikan proteksi dengan vaksinasi pada PPM tidak pernah bisa mencapai tingkat optimum. Jika jawabannya begitu, maka ia mencoba menyanggah bagaimana jika tidak usah di vaksin saja? Namun akhirnya ia sendiri menjadi ragu dan ketakutan sendiri jika tidak melakukan vaksinasi terhadap PPM.
Menurut penuturannya, bahwa selama lebih dari 8 tahun menjadi peternak ayam petelur, memang relatif sangat jarang penyakit itu datang menyerang. Paling sering adalah ND, Gumboro, CRD kompleks, Koli. Meski demikian, menurutnya PPM adalah yang sangat sulit diatasi jika sudah menyerang dalam sebuah kandang. Tingkat keberhasilan penyembuhan secara cepat, relatif lebih jarang terjadi. Jika kondisinya demikian, maka tentu saja sangat merugikan, terlebih ketika harga telur sedang baik.
Untuk itu ia mencoba berupaya dengan caranya sendiri agar penyakit pilek menular tidak sesering merecoki ayamnya. Saran dan rekomendasi akan kebersihan dan sanitasi kandang maupun lingkungan selalu ia jalankan secara ketat dan terjadwal. Tidak lupa juga berbagai aneka vitamin yang bertujuan untuk mendongkrak produksi maupun untuk menjaga dan mempertahankan kondisi kesehatan ayam selalu ia berikan. Bahkan ketika kondisi seperti saat ini, dimana suhu lingkungan yang sangat tinggi atau panas sekali, maka frekuensi pemberian lebih sering dan tidak sampai lupa. ”Kawasan kandang kami khan sebenarnya berada di daerah yang tinggi dan cukup sejuk, namun dalam beberapa bulan terakhir ini (maksudnya Juni-Nopember 2006) suhu lingkungan tinggi dan terasa gerah sekali. Sehingga saya tidak akan melalaikan pemberian vitamin agar ayam sehat. Namun toh kenyataannya penyakit yang menjadi momok itu datang juga” ujarnya panjang lebar. ”Itu namanya memang nasib dan belum menjadi rejeki saya” tambah Fajar.
Ketika ditanyakan, bagaimana jika kemudian datang penyakit lain yang nimbrung pada saat sedang terserang penyakit. Menurutnya, memang hal itu pernah dialami, namun beruntung pada saat itu justru keadaan tidak menjadi parah dan malah cepat bisa diatasi. Saat itu disamping pemberian obat untuk terapi atas penyakit yang pertama datang, maka ia juga tidak lupa terus memberikan multivitamin dengan dosis dan frekuensi yang meningkat. Atas info dan saran dari para peternak yang lain, bahwa masalah pemberian multivitamin untuk menjaga kondisi kesehatan ayam harus mutlak diperhatikan, disamping penyemprotan dengan desinfectans yang dilakukan setiap 4-5 hari sekali. Ketika wabah flu burung datang, dan banyak peternak yang mengeluhkan kemerosotan produksi pasca vaksinasi, kandangnya juga mengalami hal serupa, namun syukurlah menurut Fajar tingkat penurunan itu relatif tidak berarti. Ia mendengar kabar dari peternak lain bahwa ada yang mengalami kemerosotan sampai 30-40%.
Mengenai upaya apa saja selain kebersihan kandang dan pemberian multivitamin, Fajar menjelaskan bahwa program vaksinasi sejak ayam kecil sampai sedang produksi selalu ia perhatikan dan tidak pernah dilewatkan. Menurutnya memang ada banyak peternak yang berani melanggar prgram baku vaksinasi, namun toh yang selamat jauh lebih sedikti dibanding yang akhirnya bermasalah. ” Saya dengan latar belakang pendidikan bukan dari disiplin ilmu peternakan, mencoba lebih percaya dengan program baku yang direkomendasikan para TS. Oleh karena itu saya tidak berani main-main. Terlebih usaha ini menjadi sandaran hidup kami sekeluarga. Juga yang lebih penting adalah bahwa modal untuk usaha ini menurut pribadi saya tidak kecil, jadi saya tidak mau berjudi” tuturnya dengan mantap.
Seberapa pentingnya aneka program vaksinasi bagi ayamnya, menurut Fajar sangat-sangat penting dan sebuah keharusan. Usaha yang baik adalah jika menuruti aturan baku dan taat penuh serta selalu mencari upaya lain yang baru serta mencari informasi dari sesama peternak. Menurutnya vaksinasi pada usaha ayam adalah sebuah kebutuhan, maka jika ingin meraih selamat dan keberhasilan hal itu harus diperhatikan(iyo).

Drh Anom Muntilana, Kepala Bagian Produksi Metaram PS Yogyakarta mengutarakan bahwa ada beberapa penyakit pernafasan pada ayam potong yang harus diperhatikan oleh para peternak yaitu CRD, Gumboro, ND dan Snot/PPM. Dari keempat jenis penyakit itu, menurut Anom memang PPM termasuk jenis penyakit yang paling menjengkelkan. Hal itu oleh karena sifat serangannya yang sangat cepat sekali menjalar ke ayam lain meski tidak banyak membawa dampak kematian. Justru dengan banyaknya ayam yang sakit itulah yang membuat repot peternak. ”Sebagai orang yang lebih banyak terjun di lapangan, maka ketika dalam satu kandang banyak ayam yang sakit, membuat lelah pikiran, loyo dan mengurangi semangat kerja. Beban moral langsung dihadapan peternak akhirnya telah membuat saya menjadi kehabisan kata-kata lagi untuk menjelaskan sebab dan akibat serangan PPM iu” ujarnya dengan polos.
Serangan PPM menurut Anom, umumnya datang pada sekitar umur 20 hari keatas. Namun jika menyerang yang sudah mendekati usia panen, maka hal itulah yang telah membuat loyo dan seolah mematahkan semangat kerja. Bagaimana tidak loyo jika sebentar lagi akan dipanen tetapi ayam-ayamnya sakit, maka tentu membuat bagian pemasaran semakin pusing. Bukan saja karena menjadi tingginya angka kematian saat pengangkutan, akan tetapi dari aspek harga menjadi lebih rendah daripada harga pasar, karena harus diprioritaskan dilempar ke pasar terlebih dahulu.
Hasil pengamatannya di lapangan selama ini bahwa kasus PPM terjadi oleh karena banyak faktor yang melingkupinya. Jika type peternak yang sangat perhatian akan kesehatan dan kebersihan lingkungan maka relatif jarang mengalami gangguan kasus penyakit itu. Dalam satu siklus pemeliharaan ayam petelur bisa lolos alias tidak terganggu penyakit itu. Namun jika type peternaknya kurang begitu memperhatikan, maka dalam satu siklus sampai afkir bisa terjadi 2-4 kali serangan penyakit itu. Sedangkan pada ayam potong, disamping type peternak juga oleh karena faktor musim serta kualitas DOC. Pada peternak ayam potong yang intens memelihara maka dapat lolos dari sergapan penyakit itu meski dalam jangka waktu pemeliharaan 1 tahun (3-4 periode). Namun jika kualitas DOC yang kurang baik, paling-paling hanya sekali muncul gangguan penyakit itu. Sedangkan pada peternak yang serampangan, dalam 1 tahun bisa 2-3 kali direcoki PPM.
Faktor musim, menurut Anom juga sangat besar peranannya untuk munculnya gangguan kesehatan karena PPM. Jika pada pergantian musim yang tidak bersahabat seperti sekarang ini yang sangat panas sekali, sudah dalam jangka waktu hampir 3-4 bulan terakhir ini (september-nopember 2006), maka prevalensinya juga meningkat. Namun atas dasar pengalamannya kejadian serangan PPM meningkat sangat signifikan saat musim penghujan. Barangkali saja karena angka kelembabaan yang tinggi dan kebersihan kandang kurang terjaga. ”Ini hanya atas dasar pengalaman saya, bahwa kasus PPM meningkat secara siginifikan pada saat musim penghujan. Saya menduga barangkali kebersihan kandang menjadi terabaikan meski itu pada type peternak yang intens memperhatikan kebersihan. Atau barangkali kadar amoniak yang meningkat dengan tajam oleh karena sirkulasi udara yang kurang lancar saat musim penghujan itu. Itu hanya sebuah perkiraan saya semata”ujar Anom.
Menurut Anom, disamping aspek kebersihan kandang dan lingkungan, maka tuntutan kualitas DOC pada ayam potong memang harus diperhatikan sekali. Beberapa waktu terakhir ini kualitas DOC yang beredar di pasar memang sangat memprihatinkan sekali. Oleh karena itu, tidak ada upaya lain selain para peternak harus meningkatkan keseriusannya agar tidak menyesal. Pemberian multivitamin memang perlu, namun menurutnya yang jauh lebih perlu adalah tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dan langkah penyemprotan desinfectan yang terjadwal harus dilakukan (iyo)

TAHUN BERGANTI, MUSIM BERUBAH, PERNAFASAN BERPOLAH

(( Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam, penyakit saluran pernafasan perlu diwaspadai. ))

Pergantian musim di tahun 2006, baru terjadi menjelang tahun 2007. Pergantian musim ini, bagi sebagian peternak dianggap sebagai hal yang paling mengkuatirkan, terutama bagi peternak broiler atau layer.
Sudah sejak lama pergantian musim selalu dikaitkan pada penurunan produksi telur pada layer dan terhalangnya pertambahan berat badan pada broiler. Kenapa, karena perubahan musim selalu dibarengi penyakit yang berhubungan langsung dengan penurunan stamina layer atau broiler, sehingga reaksi tubuh terhadap suatu bibit penyakit tereleminir. Akibatnya tubuh ayam gampang terserang penyakit, demikian Hj Ir Elfawati MSi mengawali bincang-bincangnya dengan kru Infovet Riau.
Secara harfiah musim diartikan sebagai fenomena alam yang rutinitas terjadi dibelahan bumi raya ini. Fenomena alam ini seharusnya tidak untuk ditakuti tapi bagaimana bisa disiasati agar tidak menimbulkan mudarat malah bisa menimbulkan keuntungan bagi kita semua. Sebut saja semut, adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat liang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan yang dikumpulkan dimusim panas untuk bekal pada musim dingin.
Artinya apa, semut berpikiran jauh ke depan karena tidak mungkin mendapatkan makanan pada musim dingin, alternatif mengumpulkan makanan pada musim panas adalah terbaik untuk kelompk semut agar terhindar dari kelaparan pada musim dingin. Senada ini, upaya peternak dalam menyikapi pergantian musim perlu hendaknya berkaca pada kerajaan semut, boleh dikata sedia payung sebelum hujan, ini mungkin lebih baik.
Berkaitan perubahan musim yakni dari musim panas ke musim dingin, kewaspadaan peternak perlu ditingkatkan, semisal penyediaan pemanas buatan untuk kelengkapan kandang broiler dan pelindung kandang bagi layer agar terpaan angin secara langsung dapat dihindari. Disamping itu, musim dingin yang lebih diidentikkan musim hujan, memerlukan perhatian peternak pada perbaikan drainase lingkungan kandang agar tidak terjadi genangan air dikala hujan menghadang.
Menurut Hj Ir Elfawati MSi yang alumnus pasca sarjana Institut Pertanian Bogor, pengaturan sistem pembuangan air setidaknya mampu menghindari kemungkinan buruk seperti banjir dadakan dan atau genangan air yang disinyalir sebagai mediator berbagai kuman penyakit penyebab sakit pada peliharaan peternak. “Sebenarnya genangan air di sekitar areal kandanglah yang perlu dikuatirkan, karena rentan sekali sebagai tempat berkumpulnya berbagai bibit penyakit yang secara langsung atau tidak mampu menimbulkan penyakit pada ternak,” jelas dosen Fakultas Peternakan UIN Suska Riau ini.
Lebih lanjut menurut Eva, nama panggilannya, sebenarnya bukan musim dingin saja yang perlu dikuatirkan peternak, namun musim kering atau kemarau juga perlu diperhatikan. Musim kemarau apalagi kemarau panjang dapat mengakibatkan kekurangan air minum dan defisit makanan. Ini dapat mempengaruhi kondisi tubuh ternak, dimana ternak mudah terpapar penyakit. Ada beberapa jenis penyakit ternak menular terutama yang bersifat ganas dan infeksius seperti radang limpa (antrak), ngorok, diare ganas sapi dan penyakit mubeng, ini semua menyerang sapi dan ternak ruminansia lainnya.
Timbulnya penyakit bisa saja akibat menurunnya kondisi pisik tubuh ternak, terutama pada ternak yang minim antibodi, sehingga respon terhadap perlakuan vaksinasi apapun pada ternak juga menurun. Sedang pada unggas menurut Eva, dampak kekeringan juga menimbulkan permasalahan, semisal produksi telur dan daging ayam menurun, hal ini disebabkan tidak stabilnya suhu lingkungan, menipisnya persediaan air bersih, dan masalah krusial lainnya yang secara signifikan dapat berpengaruh pada ayam.
Lain halnya pada ayam kampung yang notabenenya dari segi pemeliharaannya masih bersifat ekstensif dengan cara diumbar dan dilepas begitu saja untuk mencari makanan dengan konsekwensi tetap memberikan produksi berupa telur dan daging pada ”tuannya”. Permasalahan pokok dalam pemeliharaan ayam kampung adalah penyakit, dimana para peternak konvensional sama sekali minim pengetahuannya, sehingga seringkali penyakit tersebut terdeteksi manakala sudah mewabah atau setidaknya telah menimbulkan kematian pada ternak.
Pada layer atau broiler pun demikian, penyakit pun masih tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar di peternakan. Dari sejumlah besar penyakit yang dapat menyerang ayam, penyakit saluran pernafasan perlu diwaspadai.
Akuak, ND atau Tetelo

Menurut Drh Muhammad Firdaus Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kota Pekanbaru, penyakit pernafasan pada unggas sejauh ini masih tergolong sebagai pembunuh nomor satu. Namun, tidak semua jenis penyakit pernafasan tersebut dikategorikan berbahaya baik pada ayamnya atau pada manusia sebagai konsumen terbesar produk unggas tersebut, misalkan saja penyakit akuak atau tetelo.
Penyakit ini disebabkan virus “Paramyxovirus” dengan temuan virus di otak, limpa, paru-paru dan darah. Virus ini mudah tumbuh dalam telur yang sedang ditetaskan, sehingga Paramyxovirus dapat ditularkan secara horizontal dari induk ke anak dengan mediator telur yang terpapar virus. Penyakit yang ditemukan di kota New Castle ini dapat menimbulkan kematian dengan persentase yang tinggi, tercatat bahwa angka mortalitasnya bisa mencapai 100% dari total populasi ayam dalam satu kandang.
Di samping itu, menurut alumni FKH UGM ini, penyakit akuak dapat menular dari satu ayam ke ayam lain dalam kurun waktu yang singkat, penularan biasanya melalui kontak langsung ayam sehat dengan ayam sakit, tamu atau orang yang lalu lalang di sekitar areal kandang, tempat makan dan minum yang kurang bersih dan burung-burung liar yang keluar masuk kandang.
Kematian mendadak pada ayam yang terpapar akuak juga bisa terjadi. Sehingga, seringkali dikelirukan dengan avian influenza bagi kalangan awam, seperti kasus kematian ayam secara mendadak di kelurahan Labuh Baru Timur kota Pekanbaru di awal November 2006, sempat menimbulkan kepanikan terkait merebaknya isyu flu burung yang dapat menimbulkan kematian pada manusia. Apalagi pemberitaan yang tidak profesional dari media lokal telah pula memperkeruh keadaan, sehingga dikuatirkan ketakutan yang berlebihan pada masyarakat dapat menimbulkan berkurangnya minat konsumen untuk produk daging unggas.
Sementara itu, Yanto anak kandang PT Asdar Muda Sakti menyatakan, akuak pada ayam petelur perlu dicermati dengan sungguh-sungguh, karena kelalaian sedikit saja akan berbuah malapetaka terhadap ayam petelur yang dipelihara. Lebih lanjut dikatakan Yanto, faktor kebersihan kandang perlu diprioritaskan, artinya kebersihan menyeluruh mulai dari lingkungan kandang baik dalam atau luar kandang, kebersihan ayamnya, kebersihan peralatan yang digunakan sampai pada kebersihan anak kandang yang berhubungan langsung dengan ayam yang dipelihara. “Dengan ketatnya pengawasan kebersihan ini, sampai saat ini wabah akuak sama sekali belum dijumpai di usaha peternakan ini”, tegas Yanto.
Secara klinik, gejala akuak berupa kesulitan bernafas, rale dan bersuara saat ayam bernafas. Kemudian leher dan kepala berputar dan sayap jatuh, kondisi ini diperparah dengan terjadinya penurunan produksi telur pada layer bahkan dapat terhenti sama sekali. Penyakit ini juga diiringi diare dengan warna feces hijau. Pada nekropsi atau bedah bangkai ditemukan lesi pada proventriculus, usus dan tonsil cecum. Pendarahan juga ditemukan pada ptechi jaringan adipose pada pericardium, abdomen dan jaringan lainnya, disamping itu penyumbatan pada trachea juga ditemukan saat dilakukan bedah bangkai.
Pengobatan pada akuak atau ND belum bisa dilakukan karena belum adanya obat yang mampu membunuh virus ND dimaksud. Menurut Firdaus, cara jitu penanggulangan ND adalah melaksanakan vaksinasi yang terjadwal sedemikian rupa, biasanya dengan program vaksinasi pertama dilakukan pada umur empat hari, vaksinasi selanjutnya dilakukan pada umur empat minggu, sedang vaksinasi ketiga dilakukan pada umur empat bulan, selanjutnya diulang setiap satu kali empat bulan.
Namun, kecanggihan teknologi bidang peternakan saat ini, program vaksinasi lawas ini bisa saja dipangkas dengan temuan-temuan alternatif seperti penggunaan vaksin aktif ataupun vaksin in aktif dengan berbagai pilihan merek dagang di lapangan. Yang tidak kala pentingnya adalah usaha pencegahan dengan cara meningkatkan manajemen dan sanitasi yang baik dalam pemeliharaan, isolasi yang ketat pada daerah wabah dan upaya stamping out semua unggas yang terinfeksi, serta pembatasan perdagangan produk telur dan unggas hidup untuk daerah yang terjangkit akuak atau ND sangat diperlukan.

Avian Influenza

Untuk jenis penyakit pernafasan lain yang juga intens menyerang ayam adalah avian influenza. Penyakit pernafasan ini disebabkan virus dari golongan H5N1 yang berukuran sangat kecil. Penyakit yang diduga bisa menular kemanusia ini sampai saat ini masih menjadi momok menakutkan bagi kalangan awam yang kurang mendapatkan informasi tentang penyakit dimaksud. Keterbatasan penerimaan masyarakt terhadap informasi yang berseliweran juga memperkeruh keadaan, dimana penyakit avian influenza ini mampu menurunkan minat masyarakat untuk mengkonsumsi produk asal unggas seperti daging dan telur.
Penyakit dengan gejala klinis cyianosis pada jengger, pial dan kulit perut yang tidak ditumbuhi bulu, ditemui juga cairan pada mata dan hidung, pembengkakan di daerah muka dan kepala, pendarahan sub kutan, pendarahan titik atau ptchie pada daerah dada, kaki dan telapak kaki, batuk, bersin dan ngorok yang diiringi diare dan berakhir pada kematian ini kali keduanya menyerang Riau khususnya kota Pekanbaru, kabupaten Pelalawan, Siak dan Kampar.
Pada tahun 2005 silam, penyakit ini telah dilaporkan menyerang unggas yang berdomisili di Dumai dan sekitarnya. Namun kali ini sikecil H5N1 mencoba meluluhlantakkan benteng pertahanan unggas di kota Pekanbaru dengan temuan ayam warga kecamatan Labuh Baru Timur yang mati mendadak. Menyikapi ini, Kepala Balai Laboratorium dan Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Riau drh Munasril Wahid menyatakan, ini sudah lagu lama di dunia kesehatan hewan, dimana saat terjadinya perubahan musim dari panas ke hujan sudah dipastikan berpengaruh pada kesehatan hewan terutama unggas yang rentan sekali terhadap fenomena alam tersebut, namun tidak tertutup juga kemungkinan hewan lainpun juga dapat sakit bila kondisi tubuhnya tidak mampu menolak bibit penyakit pada saat dimaksud.
Lebih lanjut dijelaskannya, kematian ayam secara mendadak ini tidak perlu dikuatirkan dulu sebelum adanya peneguhan diagnosa dari instansi berwenang dalam hal ini adalah BPPV Baso Bukit Tinggi, Sumbar. Hanya saja menurut alumni FKH IPB Bogor ini masyarakat kita (red, Riau) masih trauma terhadap beragam pemberitaan yang terlalu vulgar yang tidak mengindahkan kaedah-kaedah penulisan yang benar. “Inilah yang sering menyesatkan umat”, tegas Wahid.
Terkait temuan adanya avian influenza menyerang beberapa ayam kampung di kota Pekanbaru ini, langkah pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit perlu diperketat melalui:
(1) pelaksanaan biosecurity secara ketat untuk mencegah semua kemungkinan penularan atau kontak dengan ternak tertular dan penyebaran penyakit melalui tindakan
a) pembatasan lalu lintas dan tindakan karantina/ isolasi lokasi peternakan terluar dan lokasi tempat-tempat penampungan unggas yang tertular,
b) dekontaminasi atau desinfeksi dilakukan terhadap semua yang berkaitan dan berhubungan dengan yang terinfeksi.
(2) pemusnahan unggas selektif atau depopulasi di peternakan tertular dilakukan dengan:
a) membunuh dengan jalan eutanasia atau menyembeli semua unggas hidup yang sakit dan unggas sehat yang sekandang,
b) disposal atau membakar dan menguburkan unggas mati atau bangkai di lokasi yang tertular.
(3) vaksinasi dilakukan pada unggas yang sehat di daerah tertular,
(4) restocking atau pengisian kembali
(5) stamping out di daerah tertular baru.
Terkait beragam tanggapan masyarakat yang kapasitasnya sebagai konsumen produk unggas ini, Yohardi Penanggung Jawab Lapangan (PJL) PT Subur menyatakan, sejauh ini permintaan telur dan daging unggas di pasaran masih stabil, artinya merebaknya kembali kasus flu burung di Riau khususnya di kota Pekanbaru tidak berpengaruh nyata terhadap minat konsumen mengkonsumsi produk unggas dimaksud. Sedang untuk usaha peternakannya sendiri sampai saat ini masih terbilang aman dari terkaman sikecil H5N1 tersebut. Menurutnya, penerapan sistem sanitasi yang ketat yang lebih populer dengan sebutan biosecurity menyeluruh mulai dari lingkungan, kandang, ayamnya termasuk anak kandang yang berhubungan langsung dengan ternak.
Di samping itu, trik sukses Yohardi dalam menangkal semua jenis penyakit di usaha peternakannya tidak terlepas dari usahanya menjalin jaringan yang baik atau good net working dengan semua pihak termasuk pihak pabrikan pakan, obat-obatan dan yang terpenting adalah dilini awalnya yaitu pintu keluar masuknya sarana transporatasi dari dan ke peternakannya, tak ayal usaha peternakan Subur tetap exist meskipun berbagai macam badai perekonomian Indonesia menghadang, sebut saja krisis ekonomi yang sempat menghancurkan sendi-sendi perekonomian anak bangsa ini, hanya perekonomian berbasis pertanian dan peternakan yang tetap exist menghadapi badai krisis tersebut.

CRD

Penyakit pernafasan lain yang juga sering dijumpai di lokasi peternakan adalah penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD). Penyakit pernafasan menahun ini disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum yang ditandai adanya ingus katar dari lubang hidung, kebengkakan muka, batuk disertai suara waktu penderita bernafas. Penyakit ini dapat menyerang ayam pada semua level umur, dengan derajad morbiditas tinggi sedang mortalitas penyakit ini masih terbilang rendah. Hanya saja pada kasus adanya ikutan penyakit sekunder seperti ND dan Escherchia colli disinyalir dapat memperparah CRD.
Menurut drh Muhammad Firdaus Kasi Keswan Dinas Pertanian kota Pekanbaru, kerugian ekonomi akibat CRD seperti menurunnya konversi makanan yang berakibat pada penurunan laju pertumbuhan, mutu karkas menurun, terjadinya peningkatan jumlah ayam afkir, penurunan produksi telur serta biaya pengobatan yang tinggi perlu disikapi peternak, artinya pantauan secara utuh dan menyeluruh terhadap ternaknya diperlukan, sehingga pada saat ayam peliharaannya menunjukkan satu dari semua gejala dimaksud dapat dicegah sebelum CRD mewabah.
Sebagai penyakit yang dikategorikan penyakit pernafasan, kekhasan CRD menurut alumni FKH UGM ini adalah ingus katar yang keluar dari hidung dengan terjadinya pembengkakan muka akibat tertimbunnya eksudat dalam sinus infraorbitalis. “Sedang di lapangan, CRD sering disamarkan dengan penyakit Snot menular, Kolera unggas, Infeksi Mycoplasma Sinoviae, ND, dan IB,” jelas Firdaus.

Pilek Menular

Sementara itu, untuk penyakit Koriza atau Snot sering juga dilaporkan oleh peternak layer. Seperti diketahui, penyakit ini berjalan khronis pada ayam, yang dicirikan dengan adanya radang katar pada selaput lendir alat pernafasan bagian atas seperti rongga hidung, sinus infraorbitalis dan trakhea bagian atas. Angka kesakitan pada Snot sangat tinggi sedang angka kematian cukup rendah.
Menurut drh Hanggono TS PT Medion cabang Pekanbaru, ayam yang paling rentan terhadap Snot adalah ayam dara menjelang berproduksi dengan kisaran umurn18-23 minggu. Sehingga pada usaha peternakan ayam petelur, Snot sangat diantisipasi kehadirannya sebab meskipun mortalitasnya cukup rendah namun angka penyingkiran atau culling rate nya sangat tinggi mencapai 20% dari total populasi. Berdasarkan survey lawas, ayam yang sedang bertelur dengan paparan Snot akan terjadi penurunan produksi telur 10-40%.
Terkait beragam jenis penyakit pernafasan yang dapat menyerang ayam, drh Hanggono menyarankan agar lebih meningkatkan sanitasi di semua lini pemeliharaan. Di samping itu, perbaikan pakan perlu juga diperhatikan, artinya berikan pakan pada ayam sesuai dengan kebutuhannya, baik dari segi jumlah ataupun kualitas pakan tersebut. ”Bila peternak menerapkan pola pemeliharaan yang benar dan tidak keluar jauh dari kaedah-kaedah yang dianjurkan, maka semua bentuk halangan termasuk penyakit tadi dapat diatasi, dengan demikian usaha peternak tidak sia-sia, karena ternak sehat maka puluspun akan mengalir dengan lancer,” pungkas alumni FKH UGM Yogya ini. (Daman Suska)

PENYAKIT 2007, YANG MUNCUL, LANGKAH-LANGKAH DAN OPTIMISME

(( Terhadap masa depan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia pada tahun 2007 kita sangat optimis. Di seluruh wilayah Indonesia, petani peternak di pedesaan, menunjukkan adanya keinginan kuat para petani peternak untuk maju dan berdaya. Demikian juga, pihak industri peternakan dan kesehatan hewan jelas-jelas menunjukkan komitmen nyata untuk mendukung usaha-usaha pemerintah dalam pemberdayaan peternakan dan kesehatan hewan. Hanya saja yang masih diperlukan oleh pemerintah adalah tindak nyata di lapangan, pemerintah tidak perlu banyak mengobral janji. ))

Di tahun 2007, prediksi penyakit apa yang akan muncul dan mewabah lagi adalah Silent flu burung pada unggas, IBR dan brucellosis pada ruminansia (terutama, sapi perah selama BVDV imunosupresif tidak segera diidentifikasi dan diberantas seperti yang telah saya sebutkan di atas. Juga anthrax, rabies dan SE). Demikian ilmuwan dari FKH UGM Yogyakarta Prof Drh Wasito MSc PhD.
Gizi buruk akibat kurangnya konsumsi pangan protein hewani juga merupakan ancaman bagi masyarakat Indonesia. Demikian tambah Wasito, seraya memaparkan UPT Karantina Pertanian yang kurang memadai kinerjanya akan memungkinkannya berbagai macam penyakit eksotik masuk ke Indonesia, selain penyakit mulut dan kuku, dan BSE.
“Penyakit-penyakit tersebut akan sangat merugikan pemberdayaan para petani dan peternak, kesehatan manusia dan lingkungan secara keseluruhan. Penanggulangan, apalagi pemberantasannya akan sangat sulit dilakukan,” ungkapnya.
Tentang prediksi penyakit apa yang akan muncul dan memwabah lagi di tahun 2007 itu, Ilmuwan dari FKH IPB, Bogor Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS menyatakan AI mungkin masih mengancam, jika kita kendor melaksanakan tindakan biosekuriti dan tidak cermat dalam melaksanakan vaksinasi. AI masih bisa mengancam peternakan sektor 1, 2 apalagi 3 dan 4.
Di samping AI, lanjutnya, Gumboro masih tetap menjadi ancaman peternak, karena sifat virus Gumboro yang bandel dan tahan terhadap perubahan lingkungan serta kemampuannya untuk mengubah antigen permukaannya (vP-2). IB dan ND subklinis mungkin masih mengancam, terutama jika kita tidak pernah melakukan evaluasi terhadap titer dan sebarannya setelah vaksinasi. “Harus ada evaluasi dan penelitian secara terus-menerus terhadap perubahan antigenik virus IB dan Gumboro di lapangan,” tegasnya.

Langkah-Langkah

Menjawab langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyakit itu, Prof Wasito menyatakan mengingat bahwa penyakit hewan sangat erat kaitannya dengan ketersediaan pakan dan pangan, kesehatan manusia dan lingkungan, juga pemberdayaan masyarakat petani peternak, peningkatan pendapatan atau ekonomi kerakyatan dengan lahan yang dan sumber daya manusia yang memadai.
Dan ditambah lagi, kataya, Indonesia merupakan negara nomer 2 terbanyak mengenai sumber keanekaragaman hayati indigenous yang harus dilestarikan dan jika memungkinkan dibudi-dayakan, begitu banyaknya penyakit pada manusia yang sumber utamanya dari hewan ternak, gizi buruk akibat defisiensi protein (kwashiorkor) dan bahkan defisiensi protein dan kalori (marasmus) yang boleh dikatakan sudah endemik (mewabah) di Indonesia akibat terutama kurangnya konsumsi pangan protein hewani, maka tidaklah mengada-ada atau aneh.
Dan, tutur Wasito, sudah saatnya, jika perlu segera dibentuk oleh pemerintah, yaitu:
a) Badan Karantina Nasional mandiri yang merupakan satu kesatuan dari Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan dan bertanggung jawab langsung kepada presiden.
b) Departemen Kesehatan Hewan dengan Menteri Kesehatan Hewan (Seperti halnya, antara lain:Departemen Kesehatan dengan Menteri Kesehatan (Manusia), dan Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Menteri Kelautan dan Perikanan.
Menurut mantan Dirjen Peternakan ini, era perdagangan global yang sangat memungkinkan lajunya arus keluar masuk penyakit hewan ternak, baik yang membahayakan hewan ternak itu sendiri dan bahkan mungkin juga membahayakan manusia antar negara, ancaman bioterrorism dan/atau kemungkinan membanjir masuknya produk-produk mikroorganisme/hewan ternak, termasuk unggas hasil rekayasa genetika perlu diantisipasi sejak awal secara optimal berteknologi canggih. “Sedia payung sebelum hujan..demikian pepatah orang bijak,” sitir Wasito.
Adapun menurut Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS, Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyakit itu: tugas pemerintah dalam hal ini terbatas pada pembuatan perangkat hukum atau aturan serta penegakannya Misalnya tentang hal yang berkaitan dengan kebijakan import DOC, peredaran obat, vaksin dan bahan biologis lain yang berpotensi sebagai pembawa penyakit. “Perangkat dan lembaganya sudah ada, perlu dukungan yang serius saja dari pemerintah dan pelaksana teknis peternakan di lapangan,” katanya.
Kewajiban pemerintah, lanjut Dr I Wayan Teguh, juga melakukan surveilance terhadap penyakit-penyakit penting ini, sehingga masyarakat peternak akan memperoleh informasi yang akurat tentang hal-hal yang bisa digunakan untuk penentuan strategi pengendalian di farmnya masing-masing. Apakah adanya balai-balai penelitian dan diagnostik termasuk juga perguruan tinggi secara signifikan dirasakan oleh masyarakt peternak? Atau sebaliknya, sering penyakit-penyakit baru terlebih dahulu duketahui oleh masyarakat. Kita perlu banyak introspeksi dan memperbaiki pelayanan kita.
Sedangkan Guru Besar FKH IPB Prof drh Roostita berpendapat:
a) Perlu kerja sama yang konkrit dalam pelaksanaan di lapang antara bidang kesehatan hewan dan kesehatan manusia sehingga secara proposional dapat saling bahu membahu dalam memberantas penyakit ini. Tidak saling menjatuhkan satu sama lain.
b) Harus dibuat kajian secara rinci pada masing masing penyakit terutama Flu Burung baik dari sifat penyakitnya, mutasinya, Epidemiology surveillance harus tuntas dan menyeluruh di l;aksanakan.
c) Harus punya peta penyakit (digital mapping) dengan menggunakan GIS (geographical Informatiom System) mungkin Direktorat Jendral Peternakan sudah ada, dimana peta penyakit yang selalu diisi dengan data yang up to date, sehingga penyakit bisa dilacak dan diprediksi keberadaannya yang akan datang. Dimana pada wilayah desa, kecamatan yang sama kondisinya dengan desa yang pernah ada kasus baik dari segi populasi hewan, orang, lingkungan, geografisnya dengan wilayah yang ada kasus di tahun tahun sebelumnya. Maka akan bisa diantisipasi pada desa atau wilayah baru.

Optimis

Menjawab pertanyaan Infovet, “Apakah bapak optimis terhadap masa depan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia pada tahun 2007?” mantan orang nomor satu di sub sektor peternakan di negeri ini Prof Drh Wasito MSc PhD merespon, “Sangat optimis. Mengingat bahwa selama kunjungan saya ke seluruh wilayah Indonesia selama ini yang berinteraksi langsung dengan petani peternak di pedesaan, menunjukkan adanya keinginan kuat para petani peternak untuk maju dan berdaya.”
Demikian juga, lanjutnya, pihak industri peternakan dan kesehatan hewan jelas-jelas menunjukkan komitmen nyata untuk mendukung usaha-usaha pemerintah dalam pemberdayaan peternakan dan kesehatan hewan. Hanya saja yang masih diperlukan oleh pemerintah adalah tindak nyata di lapangan, pemerintah tidak perlu banyak mengobral janji.
Tampaknya, ujarnya, di tahun 2006 masih ada beberapa peternak yang merasa adanya komitmen pemerintah yang belum dilaksanakan. Jangan dibiarkan masyarakat kecewa berkelanjutan. Kerjasama harmonis dengan masyarakat harus lebih ditingkatkan dengan cara lebih mau mendengar dan menerapkan apa-apa yang memang benar menurut versi masyarakat.
Adapun Wakil Dekan FKH IPB Dr drh I Wayan Teguh Wibawan juga menyatakan optimis, karena masyarakat peternak semakin mudah untuk kita ajak belajar. Saya sering keliling Indonesia untuk tugas ini, baik yang diminta pemerintah maupun oleh pihak swasta. “Saya optimis,” tegasnya. (Ardi W)

Koli yang Muncul Berkali-kali

Salah satu penyakit yang kerap menghinggapi peternakan di Indonesia adalah Kolibasilosis. Penyakit ini sering dijumpai bahkan seolah-olah telah menjadi penyakit “wajib” pada peternakan ayam. Peternak kerapkali bertanya mengapa Kolibasilosis hampir pasti dialami selama periode pemeliharaan ayam dan kasusnya selalu berulang setiap periode.
Kejadian penyakit ini umumnya berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi dan lingkungan peternakan terutama kebersihan. Kolibasilosis berhubungan langsung dengan sumber air minum di lapangan, karena keberadaan bakteri Escherichia coli penyebab Kolibasilosis di air dan tanah merupakan flora normal, sehingga tak heran jika hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air di lokasi peternakan hampir semua menunjukkan positif bakteri E. coli.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kebiasaan peternak menggunakan sumur dangkal sebagai sumber air minum untuk ternaknya merupakan penyebab utama Kolibasilosis selalu muncul. Sebabnya, sumur dangkal tersebut rawan tercemari oleh kuman E. coli terutama yang letaknya dekat dengan septic tank. Infeksi kuman coli diperparah bila air dari sumur tersebut tidak disanitasi.
Gangguan yang bisa ditimbulkan oleh Kolibasilosis ini diantaranya adalah gangguan pertumbuhan dan produksi telur, juga merupakan pendukung timbulnya penyakit lain pada saluran pernapasan, pencernaan dan reproduksi yang sulit ditanggulangi serta tingginya biaya pengobatan. Kolibasilosis juga dapat menular melalui telur tetas yang tercemar. Anak ayam yang menetas dari telur tercemar tersebut akan mempunyai banyak bakteri E. coli yang bersifat merugikan (patogen) di dalam usus dan feses. Feses mengandung bakteri E. coli yang dikeluarkan dari tubuh menjadi sumber penular utama.
Namun seringnya di lapangan peternak menganggap remeh keberadaan penyakit ini karena biasanya Kolibasilosis tidak menimbulkan kematian dan penurunan produksi telur yang tinggi. Disamping juga Kolibasilosis dianggap remeh karena mudah ditangani dengan tindakan pencegahan dan pengobatan dengan pemberian antibiotik. Padahal, selain besarnya biaya pengobatan, E. coli bisa menjadi resisten terhadap antibiotik, Kolibasilosis berdampak pula pada pertumbuhan ayam yang tidak optimal dan produksi telur tidak stabil.
Kolibasilosis dapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, Kolibasilosis menyebabkan kematian dengan gejala omphalitis. Sedangkan pada ayam petelur, Kolibasilosis menyebabkan produksi telur turun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan mudah terinfeksi penyakit lain. Ayam pernah terinfeksi E. coli dapat menjadi pembawa (carrier) sehingga penyakit ini mudah kambuh di kemudian hari. Sementara, pada broiler Kolibasilosis menyebabkan kematian yang terjadi selama periode pemeliharaan dan perolehan berat badan saat panen yang rendah.
Bakteri E. coli banyak terdapat di usus bagian belakang dan dikeluarkan dari tubuh dalam jumlah besar bersama dengan feses. Di dalam feses, bakteri ini dapat bertahan sampai beberapa minggu, tetapi tidak tahan terhadap kondisi asam, kering dan desinfektan. Bakteri E. coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, dapat bergerak dan tidak membentuk spora.
Bakteri E. coli bisa masuk melalui saluran pernapasan saat udara sangat berdebu atau ayam sebelumnya telah menderita gangguan pernapasan. Bakteri yang terhirup tersebut akan melakukan infeksi dan berkembang biak (multiplikasi). Infeksi biasanya bersifat lokal pada kantung udara yang ditandai dengan penebalan dan menjadi keruh.
Sedangkan untuk saluran pencernaan biasanya E. coli menyerang usus yang telah mengalami luka karena cacing, jamur atau koksidiosis. Kerusakan dapat dilihat berupa peradangan, penebalan dinding usus, edema dan keluar lendir bercampur darah. Ayam mengalami diare dan kondisi tubuh dan secara fisiknya ayam akan mengalami diare dan menurunnya kondisi tubuh secara cepat. Kuman E. coli juga bisa masuk ke saluran reproduksi karena pencemaran dari feses. Di saluran reproduksi kuman coli menularkan telur dan menyebabkan kematian embrio atau telur pecah di saluran reproduksi sehingga ayam mati mendadak.
Faktor yang menjadi penunjang timbulnya Kolibasilosis adalah litter kering dan berdebu, litter basah/lembab, kadar amonia tinggi, ventilasi kandang jelek, populasi terlalu padat, stres akibat pertumbuhan yang terlalu cepat, adanya penyakit menular, dan reaksi vaksinasi yang berkepanjangan.
Peternak patut curiga ayamnya terserang Kolibasilosis bila menunjukkan gejala kurus, bulu kusam, nafsu makan turun, pertumbuhan terganggu, produksi telur turun, diare berwarna hijau dan berbau khas, serta bulu kotor dan lengket di sekitar dubur. Namun untuk lebih meneguhkan perlu dilakukan pengamatan dengan cermat terhadap gejala klinis dan perubahan bedah bangkai. Segera hubungi dokter hewan anda atau minta saran dari technical services langganan anda. Hal ini karena Kolibasilosis mempunyai gejala klinis hampir sama dengan penyakit salmonelosis, kolera unggas dan streptococcosis.

Selalu Muncul Berulang
Pada umumnya, ayam yang pernah terinfeksi Kolibasilosis sulit untuk sembuh sempurna. Kondisi stres dan daya tahan tubuh yang turun biasanya menjadi faktor pemicu munculnya kembali penyakit Kolibasilosis. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah Kolibasilosis merupakan penyakit ikutan, artinya mengikuti penyakit lain seperti chronic respiratory disease (CRD), swollen head syndrome (SHS) dan Koksidiosis.
Selain itu proses terjadinya penyakit juga cenderung lambat. Gejala klinis Kolibasilosis baru dapat terlihat jelas jika penyakit sudah berlangsung lama dan bersifat kronis. Tempat predileksi (kesukaan) bakteri E. coli yang terletak di kantung udara, di mana pembuluh darah di daerah kantung udara sedikit sekali menyebabkan pengobatan secara sistemik (melalui sirkulasi darah) kurang efektif karena antibiotik yang mencapai kantung udara sangat sedikit sehingga obat tidak dapat terdistribusi optimal ke organ sasaran.
Drh Isra’ Noor General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia yang ditemui Infovet di kantornya Rabu (1/11) mengungkapkan bahwa bakteri E. coli adalah baketri oportunis yang bisa menimbulkan penyakit jika kondisi lingkungannya sesuai. Oleh karenanya penting disini untuk mempertahankan lingkungan kandang tetap bersih dan lakukan upaya pencegahan secara rutin dan terjadwal.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, manifestasi bakteri E. coli bisa berbagai bentuk, misalnya pericarditis, perihepatitis dan peri¬tonitis. Yaitu ditandai permukaan jantung, hati dan perito¬neum tertutup selaput fibrin berwarna kelabu. Bentuk egg peritonitis akibat sumbatan massa mengkeju dan luruhnya oviduk. Ditemukan juga coli-granuloma, yaitu tumor seperti bunga kol yang keras dan ber¬warna kuning.
Bakteri E. coli mudah mencemari lingkungan kandang. Bakteri ini banyak terdapat di mana-mana yaitu air, debu, dan tanah. Apalagi saat ini akan memasuki musim penghujan yang selama musim ini air hujan yang mengalir bersama tanah dan feses yang mengandung bakteri E. coli akan mencemari air sumur atau air tanah. E. coli tahan lama di lingkungan, setelah keluar dari inang (tubuh ayam), bakteri ini dapat bertahan tanpa "nutrisi" selama 20-30 hari, sehingga dapat menginfeksi ayam dan Kolibasilosis kambuh lagi.
Semua hewan dapat terserang Kolibasilosis karena bakteri E. coli tidak khusus menyerang satu jenis hewan saja. Ia juga mudah menga¬lami mutasi menjadi entero pathogenic E. coli (EPEC), yaitu menjadi bakteri patogen di saluran pencernaan. Selain itu, juga bermutasi menjadi entero toxigenic E. coli (ETEC), yaitu bakteri yang menghasilkan racun dan kemudian merusak mukosa usus.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Untuk upaya pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan bermacam cara, diantaranya adalah:
1. Sanitasi dan desinfeksi kan¬dang dan peralatannya.
Kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan. Tempat minum dicu¬ci setiap 2 kali sehari. Kemudian rendam tempat minum yang telah dicuci dalam desinfektan selama 30 menit, setiap 4 hari sekali. Majukan atau rnundurkan jadwal desinfeksi bila bertepatan dengan jadwal vaksinasi.
2. Mencegah tamu, hewan liar, dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang.
3. Mencegah stres.
Usahakan menghindari stres pada ayam dengan cara tatalaksana pemeliharaan yang benar, populasi ayam jangan terlalu padat, ventilasi udara cukup, dan diusahakan agar kadar amonia kurang di dalam kandang. Karena saat stres, semua bibit penyakit dapat dengan mudah masuk ke tubuh ayam.
4. Sanitasi air minum.
Sanitasi sumber air minum untuk ayam dari pencemaran logam berat dan kuman patogen dengan melarutkan desinfektan yang aman dikonsumsi ayam. Program sanitasi air minum dilakukan 1-2 kali dalam 1 minggu asal tidak mendekati jadwal vaksinasi. Sanitasi air rninum bisa dilakukan dengan klorinasi dengan cara memasukkan 3-5 ppm klorin ke dalam air minum. Lebih dari dosis tersebut, malah dapat menurunkan konsumsi ransum, konsumsi air minum dan produksi telur karena mengubah aras dan bau.
Di peternakan, klori¬nasi dilakukan menggunakan kaporit karena kaporit mengandung zat aktif klorin. Jika meng¬gunakan kaporit murni, maka untuk memperoleh kadar yang aman dalam air minum dibutuhkan 6-10 gram kaporit tiap 1000 liter. Namun, biasanya kaporit yang tersedia di pasaran adalah konsentrasi 50% sehingga dosis pemakaian menjadi dua kali dari kaporit murni, yaitu 12-20 gram tiap 1000 liter air.
Kaporit dapat mengubah rasa dan bau air sehingga dapat menurunkan konsumsi air dan ransum. Oleh sebab itu, air mi¬num yang mengandung kaporit harus dibiarkan terlebih dahulu minimal selama 6 jam sebelum diberikan ke ayam.
Kualitas air sangat menentukan kadar bakteri di dalamnya, untuk mengetahui apakah sumber air rninum bebas dari pencemaran logam berat atau kuman patogen dapat dilakukan pemeriksaan sampel air di laboratorium.
Standar air minum yang sehat untuk ayam yaitu:
- tidak berwarna
- tidak berbau
- jernih
- tidak ada endapan pH = 6-9
- kesadahan < 20 mg/liter
- garam (NaCI) < 1000 ppm
- total bahan terlarut < 3000 mg/liter
- nitrat dan nitrit < 5 ppm
- logam beracun < 0,5 ppm total
- jumlah bakteri < 3000/ml
- total jumlah coliform < 300/ml
- E.coli dan Salmonella sp. = 0 (tidak ada)

5. Tatalaksana litter
Cegah litter menjadi sangat kering dan berdebu dengan tidak memasang litter terlalu tebal (ketebalan litter cukup 7-12 cm saja). Program penggantian litter secara berkala, biasanya untuk ayam pedaging dilakukan 1 kali sampai masa panen. Litter yang basah jangan dibalik tapi ditambah yang baru.

6. Segera obati
Ayam yang terserang penyakit saluran pernapasan segera diobati. Pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pertimbangan populasi bakteri E. coli masih relatif sedikit dan mencegah penyebaran bakteri E. coli yang lebih banyak. Pengobatan belum tentu bisa menyembuhkan penyakit colibacillosis secara tuntas jika bakteri E. Coli sudah banyak bersarang di tubuh ayam (sudah parah). Kandang panggung bisa digunakan sebagai alternatif mencegah penyakit Kolibasilosis yang selalu muncul.
Pengobatan penyakit Kolibasilosis menggunakan antibiotik untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri E. coli. Untuk menghindari resistensi obat, jika pernah menggunakan satu jenis obat tertentu selama 3 periode pemeliharaan, sebaiknya periode pemeliharaan berikutnya meng¬gunakan antibiotik dari golongan yang berbeda.
Pada dasarnya, penyakit Kolibasilosis lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena sebenarnya kejadian penyakit ini dapat ditekan asalkan peternak selalu menerapkan tatalaksana pemeliharaan yang baik. (wan)

NGOROK PADA AYAM BROILER

Seorang peternak bercerita kepada Infovet bahwa ayam broiler umur 12 hari mengalami ngorok atau gangguan pernafasan. Setelah vaksinasi IBD gejala makin parah. Ia pun bertanya mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya ?
Menurut pengalaman penulis yang aktif di sebuah peternakan kemitraan, ngorok pada ayam bukanlah nama suatu penyakit, namun merupakan salah satu gejala klinis dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan ayam. Ini bisa disebabkan oleh agen bakterial, viral, juga fisik seperti udara yang berdebu, perubahan cuaca, amonia, dll.
Beberapa penyakit infeksius yang mempunyai manifestasi klinis gangguan pernafasan diantaranya adalah CRD, ILT, Coryza, ND, IB, TRT/SHS, AI. Gangguan/ penyakit pernafasan ini sering sekali terjadi pada ayam broiler, terutama untuk ayam yang dipelihara di kandang postal. Kejadian dipicu oleh banyak hal, baik dari dalam tubuh ayam sendiri maupun faktor lingkungan. Adanya ketidakseimbangan antara kondisi ayam dan lingkungan tersebut merupakan penyebab utamanya. Dan faktor yang terlibat tidak berdiri sendiri, selalu bersama-sama.
Ayam broiler secara genetik mempunyai kemampuan tumbuh lebih cepat dibanding ayam type lain. Pertumbuhan badan yang cepat tidak sebanding dengan perkembangan organ vital dalam ayam yaitu jantung dan paru-parunya. Sehingga kedua organ ini sangat rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun luar. Untuk menunjang pertumbuhan badan ayam, paru-paru dipaksa bekeja keras menyuplai oksigen untuk metabolisme tubuh, dan jantung juga dipacu untuk mengalirkan darah yang akan membawa okesigen tersebut ke seluruh tubuh.
Oksigen merupakan komponen penting dalam metabolisme tubuh ayam. Zat ini didapat dari udara bebas lewat saluran pernafasan ayam atas. Udara masuk tubuh ayam melalui hidung kemudian masuk ke trakea dan selanjutnya akan menuju ke bronki dan bronkioli di paru-paru. Dari sini oksigen akan dihembuskan ke dalam kantong udara yang ada di rongga tubuh ayam, dan di tubuh ayam terdapat 8 buah kantong udara. Kemudian udara akan dikeluarkan dengan jalan didorong dari kantong udara tersebut ke bronkioli, bronki dan trakea.
Saluran pernafasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi oleh mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. Di saluran pernafasan atas ini partikel yang besarnya lebih dari 4 mikron akan didorong keluar oleh silia dan mukus yang ada. Disaluran pernafasan atas selain mengalami penyaringan udara juga mengalami penghangatan. Dan berikutnya di saluran pernafasan bawah terjadi lagi penyortiran partikel yang lebih kecil.
Kandang ayam sistem postal yang memakai sekam atau serutan kayu sebagai litternya, tingkat kepadatan ayam, kelembaban dan temperatur kandang, ventilasi kandang akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan memberatkan kerja saluran pernafasan. Temperatur yang tinggi akan meningkatkan intake air minum ayam dan menyebabkan kotoran menjadi lebih encer (wet dropping). Dan di Indonesia ini kelembaban udara cukup tinggi sehingga litter menjadi basah dan kadar amonia di dalam kandang menjadi tinggi.
Amonia yang terhirup akan mengiritasi saluran pernafasan ayam, dan menyapu silia di mukosanya. Sel-sel yang ada di permukaan saluran pernafasan menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu. Agen penyakit baik bakteri ataupun virus yang terbawa udara akan mudah sekali menempel di saluran pernafasan karena sistem pertahanan mekanik tidak berfungsi optimal. Di tempat ini agen tersebut akan berkembang biak, dan pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan lebih parah.
Demikian halnya dengan pemberian vaksin ND/IB live yang aplikasinya lewat tetes mata, hidung ataupun spray. Virus akan berada di sepanjang saluran pernafasan ayam dan akan merangsang kekebalan seluler di daerah tersebut. Pada kondisi normal reaksi post vaksinasi tidak akan berat, namun karena saluran pernafasan terluka maka reaksi yang terjadi akan berlebih. Dan kemudian timbulah keradangan sebagai reaksinya, ini merupakan mekanisme tubuh untuk menghancurkan material asing yang masuk ke dalam tubuh. Adanya perlukaan di saluran pernafasan menyebabkan ayam ngorok dan batuk.
Mycoplasma gallisepticum merupakan mikroorganisme yang sering terdapat di saluran pernafasan ayam. Agen ini menempel di mukosa saluran pernafasan dan merusak selnya. Adanya kuman ini akan memicu terjadinya reaksi radang dan aliran darah ke daerah tersebut menjadi meningkat. Kuman akan ikut aliran darah dan menuju ke kantong udara, di sini merupakan tempat yang cocok untuk hidup dan berkembang biak.
Jika ada mycoplasma kantong udara terlihat berkabut dan menebal. Jika mycoplasma berperan sendiri dan ayam dalam kondisi baik gejala klini tidak terlihat, dan jika adapun manifestasinya hanya ringan saja. Namun karena adanya faktor lain seperti debu yang berlebih, kadar amonia yang tinggi saluran pernafasan akan teriritasi.
Selain itu perubahan cuaca, perlakuan ayam yang berlebih, dan adanya agen pemicu virus ND, IB baik dari lapangan ataupun virus vaksin akan meningkatkan keparahan gangguan saluran pernafasan. Adanya faktor imunosupresi seperti mikotoksin dalam pakan, vaksinasi IBD yang tidak tepat akan memperburuk keadaan. Karena adanya luka, penebalan dan peradangan di mukosa saluran pernafasan tersebut ayam menjadi ngorok dan batuk
Gabungan beberapa agen tersebut di atas akan menyebabkan Chronic Respiratory Disease (CRD). Ayam tampak batuk, ngorok, bersin, keluar leleran dari mata, dan hidung. Pada pemeriksaan bedah bangkai trakea terlihat memerah, kantung udara keruh, menebal dan kadang juga terlihat berbusa. Jika bakteri oportunis E. coli ikut campur keadaan terlihat lebih parah, munculah Chronic Respiratory Disease Complex. Kantong udara menebal dan terdapat masa mengkeju di daerah itu, juga di dalam rongga perut. Jantung dan hati akan diselimuti oleh selaput berwarna putih kekuningan.
Penyakit ini akan ditularkan dari ayam sakit ke ayam lain yang peka, dan ayam muda biasanya memepunyai kepekaan yang lebih tinggi. Adanya gangguan pada sistem pernafasan ayam akan menyebabkan asupan oksigen berkurang, proses metabolisme tubuh akan terganggu, sehingga pertumbuhan ayam menjadi terganggu, efisiensi pakan menjadi jelek.
Selain itu kadar oksigen yang rendah akan memacu jantung bekerja lebih keras dan sebagai hasilnya akan timbul penumpukan cairan plasma di dalam rongga perut ayam, dan terjadilah ascites. Proses pengeluaran panas tubuh ayam juga menjadi terganggu karena salah satu caranya dengan evaporasi lewat mulut. Ayam yang bertahan sampai masa panen kualitas karkasnya menjadi menurun, dan beberapa organ tubuhnya banyak yang musti dibuang karena tidak layak dikonsumsi
Vaksinasi IBD yang menggunakan strain virus vaksin yang virulen (vaksin intermediet plus/hot) bisa mengganggu sistem kekebalan ayam. Strain virus vaksin ini akan menimbulkan kerusakan bursa fabricius. Di organ inilah sel-sel yang berfungsi untuk pertahanan tubuh (sel limfosit B) diproduksi. Jika pabriknya rusak maka jumlah sel limfosit yang ada di tubuh akan berkurang dan fungsinya menjadi tidak optimal dalam sistem kekebalan tubuh. Pada akhirnya respon vaksinasi menjadi tidak optimal dan ayam menjadi lebih peka terhadap virus ND dan IBV.

Penanganan

Untuk mengatasi gangguan pernafasan ayam perlu dicari akar permasalahnnya terlebih dahulu. Pemberian antibiotik tidak akan memberikan hasil jika penyebab utamanya tidak kita tangani. Jika kondisi lingkungan jelek perlu diperbaiki di samping pemberian obat. Kualitas udara yang jelek perlu koreksi di ventilasi udaranya, sehingga udara menjadi lebih bersih.
Kelembaban yang rendah (< 50 %) menyebabkan udara berdebu, perlu dilakukan spray air. Kelembaban yang ideal untuk hidup ayam 50-70 %. Pemasangan fan/kipas jika memungkinkan perlu dilakukan. Jika kualitas litter jelek harus kita perbaiki. Litter yang basah atau lembab perlu diganti dengan yang baru. Dan pembalikan litter secara rutin perlu dilakukan untuk mengurangi kadar amonia dalam kandang.
Pemberian antibiotik akan mengatasi infeksi bakteri yang ada, dan tentunya akan menekan populasi E.coli dan Streptococcus, dll di tubuh ayam. Pemberian multivitamin terutama yang mengandung vitamin C dan A, serta pemberian pakan yang berkualitas baik dengan nutrisi seimbang akan membantu mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak.

Pencegahan

1. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik

- Pemilihan kandang yang baik (lebih bagus kandang panggung) dan berventilasi lancar.
- Pola pemeliharaan all in all out.
- Jika memakai kandang postal gunakan litter yang mudah menyerap air dan jaga agar selalu kering, perlu dilakukan pembalikan secara rutin, hindari pemilihan litter yang partikelnya kecil (serbuk gergaji).
- Pemasangan fan pada sistem kandang terbuka akan membantu pertukaran udara di kandang.
- Kepadatan ayam diatur tidak terlalu tinggi 8-10 ekor/m2 untuk kandang postal/panggung sistem terbuka, jika sistem closed house (tunnel atau cooling pad) kepadatan bisa 15 ekor/m2.
- Temperatur kandang yang optimal 21-27 0C, dan kelembaban 50-70 %.
- Pakan yang diberikan harus segar dan mengandung nutrisi seimbang dan hindari kontaminasi mikotoksin pada pakan karena toksin ini bersifat imunosupresif.
- Ketersediaan air minum bersih di kandang.

2. Penerapan manajemen kesehatan

- Dilakukan progarm biosecurity secara ketat diantaranya dengan penyemprotan desinfektan secara rutin untuk menekan populasi organisme patogen di kandang dan lingkungan.
- Kontrol terhadap vektor penyakit seperti rodensia dan serangga
- Program vaksinasi yang tepat untuk farm bersangkutan
- Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi posvaksinasi yang dilakukan dengan jalan pemilihan strain virus vaksin yang cocok (gunakan strain virus vaksin yang ringan/sedang untuk mengendalikan virus lemah, dan strain yang keras/virulen hanya dipakai jika tantangan di daerah tersebut tinggi), aplikasi vaksin yang benar dan tepat (spray akan lebih keras reaksi postvaksinasinya dibanding tetes mata ataupun lewat air minum), dan vaksinasi dilakukan hanya pada saat ayam dalam kondisi sehat.
- Dilakukan monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodinya.
- Pencegahan masuknya penyakit imunosupresif terutama IBD, dengan jalan pemilihan strain vaksin yang tidak merusak kekebalan ayam dan waktu aplikasi vaksin yang tepat dengan mengetahui titer maternal antibodinya terlebih dahulu.
- Kontrol terhadap M. gallisepticum dan E. coli dengan pemberian antibiotik yang cocok dan dosis tepat terutama di awal-awal kehidupan ayam dan juga pada saat ayam mendapat stress berat.
- Treatment air misal dengan klorin akan menekan populasi E. coli dalam air minum.
- Pemberian multivitamin secara rutin terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa saluran pernafasan ayam. (Ratriastuti)

PENYAKIT 2006, KEBANGKRUTAN, PEMBERANTASAN DAN KESERIUSAN

(( Penyakit-penyakit itu jelas merugikan dan membangkrutkan dunia peternakan serta bahkan juga memungkinkan manusia tertular. Ada yang dapat menyebabkan kerugian langsung yang dapat dilihat dan dirasakan. Tetapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah kerugian yang tidak dapat dilihat secara langsung meskipun penyakit tersebut sebenarnya sangat membahayakan keberlangsungan hidup dunia para petani peternak. ))

Bukan sembarang flu burung tetapi silent flu burung yang sebenarnya benar-benar nge-trend di tahun 2006. Demikian Mantan Direktur Jenderal Peternakan yang Guru Besar FKH UGM Prof Drh Wasito MSc PhD.
Seperti diketahui, katanya, bahwa flu burung pada unggas dianggap ada 2 bentuk, yaitu low pathogenic avian influenza (LPAI) dan highly pathogenic avian influenza (HPAI). LPAI (hanya) akan menyerang saluran pernafasan dan saluran pencernaan, sedangkan HPAI selain menyerang saluran pernafasan dan saluran pencernaan juga akan menyerang organ-organ lain ayam penderita, misalnya otot-daging dan folikel telur.
“Hasil penelitian kami di lapangan sejak 2003 sampai saat ini (2006), membuktikan bahwa sebenarnya flu burung yang bentuknya berbeda dengan LPAI dan HPAI mendominasi wabah pada unggas di Indonesia setelah kejadian wabah HPAI di penghujung tahun 2003 dan juga wabah HPAI pada unggas di Makassar (terutama Sidrap) sekitar awal tahun 2005,” tutur ilmuwan yang mantan orang nomor satu di sub sektor peternakan di negeri ini.
Menurut Dr Wasito, Flu burung pada unggas yang kita sebut dengan nama silent flu burung inilah sebenarnya yang nge-trend di tahun 2006. “Mengapa demikian?” tanyanya seraya menjawab, “Karena unggas penderita silent flu burung, pada umumnya, tidak menunjukkan gejala klinis dan lesi patolologis anatomis, dan uji serologis deteksi antibodinya negatif, tetapi dalam tubuhnya ada virus flu burung (H5N1) (dengan uji reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR), dan imunohistokemistri antibodi monoklonal anti nukleoprotein flu burung.”
Selain itu, lanjutnya, seringkali, unggas penderita silent flu burung menunjukkan gejala klinis seperti Newcastle disease (ND), yaitu curled toe paralysis (lumpuh jari kaki) dan torticolis (kepala “teler” digerak-gerakkan miring ke kanan dan ke kiri tidak beraturan. Dan, pada saat nekropsi, terlihat adanya lesi patologis anatomis berupa pembengkakan dan perdarahan di bagian brutu (bursa Fabricius) dan otot daging di bagian paha dan tempat-tempat lain.
Hal tersebut, paparnya, akan sangat membingungkan dan pada umumnya, unggas penderita langsung di-punish dengan diagnosa infectious bursal diasease (bursitis atau IBD), Newcastle disease (ND) atau bahkan langsung didiagnosa infeksi kombinasi antara IBD dan ND.
Celakanya lagi, ungkap Wasito, di bawah mikroskop, pada otak akan terlihat lesi histopatologis menciri akibat infeksi virus, yaitu lymphoid perivascular cuffing. Kriteria utama dalam penentuan diagnosa apakah ayam menderita silent flu burung atau tidak, yang kita lakukan adalah dengan uji imunokemistri jaringan.
Sehingga, solusi diberikan Doktor lulusan Amerika ini, penanganan flu burung tidak mudah, diperlukan terutama dokter hewan yang benar-benar punya “jam terbang” kerja riset lapangan dan laboratorik yang memadai, jika tidak demikian, maka usaha kontrol dan pengendalian, termasuk pencegahan, dan pemberantasan flu burung dapat berakibat tidak hanya gagal, tetapi juga fatal pada unggas dan manusia.
Adapun lanjutnya, selain silent flu burung, brucellosis, IBR, SE, rabies, anthrax yang nge-trend didasarkan pada kasus-kasus wabah di lapangan tahun 2006. Sebenanrnya, jika dilakukan pemeriksaan yang lebih rinci dan benar, kemungkinan besar akan diketahui adanya penyakit-penyakit infeksi tersembunyi, metabolik dan eksotik di era perdagangan global saat ini.
Adapun menurut Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS, Wakil Dekan FKH IPB, Bogor selain Flu Burung, penyakit apa lagi yang nge-trend di tahun 2006 dan selanjutnya perlu diwaspadai adalah penyakit pernapasan, jika yang dimaksud penyakit pada unggas, seperti CRD, Snot, Swollen Head Syndrome, kolibasilosis, koksidiosis dan Gumboro (very virulent Gumboro virus).
Adapun menurut Dr Wayan yang beken di televisi dalam kampanye penanggulangan Flu Burung, pada hewan mamalia, khususnya pemamah biak, anthrax perlu diwaspadai. Pada carnivora adalah Rabies.
Sedangkan dari Prof drh Roostita jga dari FKH IPB menyatakan di tahun 2006 yang paling dominan adalah Flu burung sebab secara global yang banyak disorot dan ditakuti masyarakat. Sedangkan kasus penyakit yang lain sudah banyak yang menurun seperti, Brucellosis, Rabies, Anthrax dll.

Sukar Diberantas?

Menjawab pertanyaan Infovet kenapa penyakit-penyakit itu susah diberantas, Prof Wasito menyatakan hal ini karena:
a) Koordinasi dan penanganan penyakit tampak masih sepotong-potong.
b) Kurang mengikut-sertakan dan mengoptimalkan, terutama organ-organ pemerintah yang terkait (yang seharusnya menangani permasalahan penyakit) dan nukleus industri peternakan, serta petani peternak
c) Kebijakan dan penerapannya belum atau kurang didasarkan pada aras kajian ilmiah keilmuan yang mendasari individual penyakit
d) Lemahnya koordinasi di pusat pemerintahan, apalagi penerapannya di lapangan.
e) Otonomi daerah kurang diberdayakan
f) Dana yang ada kurang dimanfaatkan secara tepat guna (masih digunakan untuk hal-hal yang bersifat umum). Pengadaan peralatan disama-ratakan di semua laboratorium yang ada.
g) Laboratorium-laboratorium yang ada belum difungsikan secara spesifik, khusus dan optimal. (Sebenarnya sudah ada laboratorium rujukan dengan fasilitas dan aktivitas khusus menciri, tetapi tampaknya kurang diperhatikan kinerjanya).
h) Tumpang tidih tugas pokok dan fungsi laboratorium yang menangani penyakit hewan dan ternak tampaknya semakin banyak terjadi (karena kebijakan, terutama pemenuhan kelengkapan fasilitas penunjang laboratorium yang tidak terarah dan kurang didasari landasan ilmiah otonomi daerah penyakit spesifik indigenous)
i) Fasilitas pendukung penanganan penyakit hewan dan ternak di-daerah (baca: di desa-desa) sangat jauh dari cukup, apalagi memadai. (Padahal, desa merupakan tempat asal penunjang utama segala macam aspek kehidupan masyarakat jika kita benar-benar menginginkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gemah ripah loh jinawi lan nir ing sambikolo .
Menjawab pertanyaan yang sama, kenapa penyakit-penyakit itu susah diberantas, Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS berpendapat bisa jadi masih merupakan penyakit yang biasa terjadi setiap tahun, karena penyakit-penyakit ini berkaitan dengan cara pemeliharaan yang bersifat intensif, sering peternak tidak taat azas terhadap prinsip dasar manajemen kesehatan. Misalnya memperpendek masa istirahat kandang, masih bayak ternak yang berbeda umur di suatu area peternakan, biosekuriti yang lemah dan memang ada beberapa mikroba yang tahan di lingkungan seperti E. coli, virus Gumboro dan Eimeria.
Adapun Prof drh Roostita menyampaikan penyakit-penyakit itu sulit diberantas karena penangangan tidak tuntas dan menyeluruh. Hanya bila ada kasus saja baru semua ramai2 menangani, bila kasus reda maka penangangan juga agak lambat kembali. Atau kemungkinan dari sektor peternakan tidak cukup dana untuk menangani secara tuntas di bandingkan dengan dari dari sektor kesehatan manusia. Tapi jangan lupa bahwa asal dari penykit adalah dari hewan, seharusnya harus proposional.

Kebangkrutan?
Menjawab pertanyaan apakah penyakit-penyakit itu menyebabkan kebangkrutan di dunia peternakan, Prof Wasito berpendapat jelas merugikan dan membangkrutkan dunia peternakan (dan bahkan juga memungkinkan manusia tertular). Ada yang dapat menyebabkan kerugian langsung yang dapat dilihat dan dirasakan.
Tetapi, tambah Wasito, yang lebih mengkhawatirkan adalah kerugian yang tidak dapat dilihat secara langsung meskipun penyakit tersebut sebenarnya sangat membahayakan keberlangsungan hidup dunia para petani peternak (misalnya silent flu burung pada unggas, dan IBR dan brucellosis yang diakibatkan oleh infeksi tersembunyi imunosupresif diare ganas pada sapi atau bovine viral diarrhea virus/BVDV).
Lalu, katanya, “Hasil penelitian kami dengan uji immunoperoxidase monolayer assay in vitro membuktikan, bahwa di Indonesia pada sapi perah sekitar 70-90% dan sapi potong sekitar 7-15% terinfeksi BVDV, sapi-sapi tersebut tampak normal sehat, tetapi siap menyebarkan virus ke sapi-sapi lain yang peka. Sapi-sapi penderita tersebut menjadi imunosupresif sehingga tidak aneh banyak sapi di Indonesia yang terserang IBR dan/atau brucellosis.”
Selain penyakit yang telah disebutkan di atas, tambah Wasito, penyakit mulut dan kuku, dan BSE jika masuk ke Indonesia akan sangat melumpuhkan pemberdayaan masyarakat petani peternak papa (miskin) dan marginal dan juga prekonomian secara luas. Akibat selanjutnya, jika penyakit pada hewan ternak tidak segera ditanggulangi secara serius dan benar dapat berakibat gizi buruk berkelanjutan akibat kurangnya asupan konsumsi pangan protein hewani sehingga tidak mustahil akan mengarah pada lost of generation anak bangsa.
Demikian juga penyakit pada manusia, misalnya demam berdarah, polio, “TBC dan malaria akan juga semakin susah ditanggulangi karena antibodi spesifik terhadap penyakit-penyakit yang dimaksud tidak dapat terbentuk optimal di dalam tubuh manusia penderitanya yang salah satunya akibat utamanya adalah rendahnya konsumsi pangan protein hewani masyarakat,” pendapat Wasito.
Menurut Mantan Dekan FKH UGM ini, landasan ilmiah penyakit belum atau kurang dikuasai oleh penentu kebijakan selama ini sehingga penerapan penanganan wabah penyakit hewan ternak di lapangan kurang optimal dan penyakit masih tetap saja meraja-lela menelan korban.
Adapun tentang pertanyaan yang sama, apakah penyakit-penyakit itu menyebabkan kebangkrutan di dunia peternakan, Dr I Wayan Teguh Wibawan menyampaikan, secara umum masih bisa dikendalikan, jadi tidak akan menyebabkan suatu hal katastropik bagi peternakan di Indonesia.
Sedangkan Prof drh Roostita menyampaikan apabila pemberitaan di media masa tidak proposional maka masyarakat akan takut dan enggan mengkonsumsi daging ayam, beternak ayam dan tentunya pengusaha peternakan ayam akan banyak merugi.

Keseriusan

Menjawab pertanyaan Infovet apakah langkah-langkah yang dilakukan dalam memberantas penyakit itu tidak maksimal dan tidak serius, Prof Wasito menyampaikan, tampaknya, maunya sih serius dan maksimal. Tetapi, lagi-lagi kendalanya adalah terutama landasan kajian ilmiah tentang penyakit yang kurang benar sehingga pelaksanaan tindak nyata di lapangan menjadi tidak terarah. Pemberdayaan dan keterlibatan instansi terkait belum optimal, apalagi maksimal.
Selain itu, tambahnya, sumber daya manusia yang kerja di lapangan dan penentu kebijakan tampaknya belum (kurang) menguasai penyakit-penyakit dimaksud. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya dukungan dari setiap lapisan masyarakat.
Selain itu, tambahnya, terlihat kurangnya koordinasi antar organ-organ pemerintah pusat itu sendiri, ditambah lagi, kurangnya koordinasi berkinerja positif antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah pusat, seharusnya, terjun langsung ke daerah-daerah (desa-desa) bersinergisme dengan petugas lapangan di daerah (desa).
Akibat itu semuanya, kata Wasito, yang selalu kita jumpai sehari-hari, jika ada kasus wabah penyakit tertentu, kita ramai-ramai rapat/konferensi/workshop dll sejenisnya, pembentukan berbagai tim, tetapi penyakit tetap saja tidak tertangani secara tuntas dan bahkan menjadi lebih mewabah.
Afapun soal apakah langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam memberantas penyakit itu tidak maksimal dan tidak serius, Dr drh I Wayan Teguh Wibawan berpendapat bukan pemerintah, tapi masyarakat peternak yang harus kita tingkatkan kemauan dan kemampuannya dalam penanggulangan penyakit ini.
Andil pemerintah, katanya, adalah di dalam memastikan bahwa ada virus dengan varian baru, misalnya virus vvIBD, apakah telah dilakukan kajian secara serius untuk menyatakan keberadaan virus ini. Maka perlu dukungan dari Balai Penelitian (Balitvet, BPPV) dan atau perguruan tinggi untuk melakukan identifikasi dan karakterisasi hingga ke tahap molekularnya.

Yang Perlu Dievaluasi

Menjawab pertanyaan Infovet apa yang perlu dievaluasi dalam penanganan penyakit yang terjadi di tahun 2006, Prof Wasito menyatakan:
a) Sumber daya manusia (SDM) (as a must.. the right man in the right position. Manusia yang tepat dan berdedikasi kinerja utama).
b) Peran langsung masyarakat (tampaknya, industri peternakan/perunggasan kurang didengar masukan-masukannya. Percaya diri pemerintah lebih kuat dan kurang mempertimbangkan sumbang saran masyarakat pecinta dan pemerhati kesehatan hewan dan peternakan)
c) Informasi (kasus/wabah) penyakit kepada publik/masyarakat (harus benar dan tepat disertai landasan ilmiah yang benar, jangan menyesatkan, dan sebaiknya disampaikan oleh pakar yang benar-benar menguasai permasalahan secara benar dan tepat. Sebaiknya, informasi yang disampaikan ke masyarakat luas mengandung (berisi) pernyataan-pernyataan dan gambar-gambar tentang arti penting positif, tidak perlu ditampilkan penyakitnya, yang justru berdampak menakut-nakuti masyarakat.
d) Pemberdayaan organ-organ pemerintah yang tugas pokok dan fungsinya bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan (laboratorium-laboratorium penyakit hewan yang ada harus lebih diberdayakan kinerjanya secara optimal)
e) Sinergisme kinerja organ-organ pemerintah yang terkait satu sama lain dalam penanganan penyakit hewan (lebih ditingkatkan dan dioptimalkan koordinasi kerjanya di lapangan dan laboratorium. Saat ini, masih terlihat dominasi bertindak sendiri-sendiri).
f) Kebijakan dan penerapannya di lapangan dan laboratorium (harus lebih ditekankan pada acuan kajian ilmiah yang serius, benar dan tepat).
g) Dana (terutama untuk kelengkapan sarana dan prasarana laboratorium harus didasarkan kesesuaian pada arti penting fungsi laboratorium bersangkutan, terutama keterkaitannya dengan indigenous penyakit spesifik di masing-masing daerah/wilayah, sebaiknya tidak semua laboratorium diberi fasilitas peralatan yang serupa)
h) Biosurveillance dan metoda diagnosis (perlu dievaluasi ulang terutama keterkaitannya dengan penyakit-penyakit spesifik tertentu yang seharusnya didasarkan terutama pada identifikasi agen penyebab penyakit (antigen) dan vektor utama penyebabnya.
i) Kebijakan vaksinasi terhadap penyakit tertentu (arti pentingnya harus segera dikaji- ulang )
Sedangkan Dr drh I Wayan Teguh Wibawan MS menyatakan sangat perlu ada evaluasi yang sifatnya menyeluruh, dari kajian epidemiologi, serologi, mikrobiologi, tata laksana peternakan hingga kemungkinan restrukturisasi peternakan di semua sektor peternakan, sektor 1 hingga sektor 4. (Ardi Winangun)

Berbagai Metode Pengobatan Penyakit Parasitik

(( Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. ))

Narasumber pada Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Program Studi Sains Veteriner (SVT) mengungkapkan, terdapat manifestasi penyakit di tingkat sel dan jaringan dari organ tubuh hewan secara komperatif, stadium perjalanan, resiko pada fungsi tubuh, dan berbagai kemungkinan etiologi yang mendasari baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius.

Setelah memahami mekanisme kejadian penyakit tersebut, barulah seorang ahli mampu menghubungkan konsep dasar ilmu pengetahuan medis dengan pola pengambilan keputusan klinis seperti penentuan diagnosa, pilihan prognosa, program terapi dan pencegahannya.

”Dalam mempelajari mekanisme kejadian penyakit, digunakan metode klasifikasi organ sistem untuk mengungkapkan fenomena respons sel dan jaringan terhadap agen yang merusak serta mengganggu fungsi tubuh,” kata narasumber tersebut.

Seorang ahli pun akan mampu menguraikan interaksi secara bertahap antara sel inang dan agen perusak (infeksius dan non-infeksius) secara rinci dan sistematis. Dan kesemuanya ini sangat penting sebagai dasar pengobatan penyakit. Hal ini pula yang mendasari pengobatan terhadap penyakit parasitik, yang disebabkan oleh parasit.

Berbagai jenis obat hewan anti protozoa, anthelmentika (anti cacing) dan anti ektoparasit (serangga) termaktub dalam Indeks Obat Hewan Indonesia (terakhir edisi V 2005) terbitan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia bekerjasama dengan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Indeks Obat Hewan Indonesia itu merupakan rujukan utama tentang obat yang legal dan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. Obat-obat yang belum terdaftar di situ bisa jadi masih dalam proses perijinan, atau mungkin merupakan obat ilegal.

Obat Anti Protozoa
Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat bersaksi, lantaran obat untuk parasit darah protozoa harganya cukup mahal di samping itu jarang ada di pasaran, relatif sulit untuk memberantas anaplasma maupun piroplasma dalam darah hewan, kemungkinan dengan menghilangkan caplak dari lingkungan ternak dapat mengurangi penularan dari penyakit Anaplasmosis maupun Ppiroplasmosis.

Pernyataan Disnak Sumbar itu sekaligus sebagai masukan bagi Ditjen Peternakan Deptan RI yang telah mengeluarkan ijin terhadap berbagai jenis obat anti protozoa yang beredar di Indonesia yang termaktub dalam Indeks Obat Hewan tadi.

Jenis-jenis obat anti protozoa itu dicatat oleh Infovet zat aktifnya antara lain adalah: Diclazuril, Sulfaquinoksalin, Amprolium, Semduramisin, Toltrazuril, Diclorofenil Benseneatonitril, Monensin, Maduramisin, Sulfamonometoksin, Narasin dan Nikarbasin, Salinomisin, Isometamidum, juga ditambah Pirimetamin dan lain-lain.

Memang, dari indikasi obat-obat anti protozoa itu, kebanyakan adalah obat anti parasit Koksidiosis baik hewan besar (sapi, kambing, domba) maupun unggas dan ternak lain seperti kelinci. Lalu anti parasit Leucocytozoonosis (Malaria like disease) yang menyerang unggas, dan juga Trypanosomiasis yang menyerang sapi, kerbau, unta, kuda, keledai dan anjing.

Bagaimana dengan anti protozoa yang lain? Barangkali obat-obat tersebut bisa dimodifikasi sesuai sifat-sifat obat dan protozoa-nya yang bakal ditaklukkan? Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Program Studi Sains Veteriner (SVT) mengungkapkan Obat Anti Protozoa memang butuh pengetahuan lebih mendalam mengenai kemampuan protozoa menginfeksi induk semang, cara-cara pencegahan dan pengendaliannya.

Ambillah contoh obat anti Toksoplasmosis yang diterapkan pada manusia. Di situ terdapat Spiramycin, suatu produk natural yang diperoleh dengan cara fermentasi dan ekstraksi dari jamur Streptomyces ambofaciens, merupakan satu-satunya makrolida yang dikenal mempunyai aktivitas antiparasit.

Spiramycin yang ditemukan oleh Pinnert-Sindico di Peronne, Perancis, merupakan anggota dari makrolida 16-ring yang mempunyai konsentrasi di jaringan tertinggi untuk kelas makrolida pada saat ini, serta mempunyai efek toksoplasmisidal yang cukup baik.

Jelas, soal obat-obat anti protozoa, kita yakin pasti banyak alternatif. Meski untuk hewan betul kita rasakan masih ada kendala seperti masukan dari Disnak Sumbar tadi.


Obat Anti Ektoparasit (Serangga Parasit)

Ditjen Peternakan Deptan RI telah mengeluarkan ijin terhadap berbagai jenis obat anti ektoparasit kutu, pinjal, nyamuk, caplak, lalat, tungau dan berbagai ektoparasit pada berbagai ternak.

Terdaftar pada Indeks Obat Hewan Indonesia, zat aktif obat-obat antiektoparasit itu antara lain Sevin, Ivermectin, Delmethrin, Moksidektin, Cipermetrin, Cyromasin, Doramektin, Fipronil, Permetrin, Selamektin. Bahkan satu perusahaan mempunyai obat yang merupakan komposisi berbagai jenis zat aktif glutaraldehid, didesilmetil, dioktidimetil, alkidimetilbensil dan derivat terpineol untuk insektisida spektrum luas.

Sebagai contoh praktis di lapangan, Drh Wasis Setyadi, seorang praktisi dokter hewan mandiri di Kulon Progo Yogyakarta mempunyai cara yang sangat effektif dan membuahkan hasil yang sangat memuaskan itu dengan penerapan preparat ivermectin 1%.

Dengan dosis seperti yang direkomendasikan dan aplikasi sub kutan/ bawah kulit, menurut Drh Wasis, mampu menuntaskan kasus myasis pada ternak. Maka ia pun berpendapat, Ivermectin adalah sebuah preparat yang mampu bekerja mengatasi infestasi parasit di dalam tubuh dan di luar tubuh ternak.

Sangat jarangnya preparat itu digunakan di peternakan rakyat oleh karena harganya yang tergolong tidak murah pada saat itu. Kini preparat itu sangat mudah diperoleh dan bahkan relatif murah harganya.

Adapun pengalaman lain, dalam membasmi lalat di peternakan, Zuhri Muhammad SPt Technical Serice PT Medion Cabang Pekanbaru Riau mempunyai kiat kontrol kimia melalui aplikasi insektisida atau obat-obatan (spray, fogs dan lain-lain). Pada bagian ini, alumni Fapet Unsoed Purwokerto ini menganjurkan memilih Cyromazine yang secara nyata telah terbukti keampuhannya dalam membasmi lalat di farm-farm peternakan.

”Adapun aplikasi pemakaiannya adalah mencampur Cyromazine dengan pakan, kemudian gunakan 4-6 minggu berturut-turut, setelah itu dihentikan selama 4-8 minggu, lalu dipakai kembali, ini bertujuan untuk memutus siklus hidup lalat,” katanya.

Biasanya ini dipakai untuk farm layer karena periode pemeliharaannya cukup panjang, sedang untuk broiler Zuhri lebih menganjurkan untuk menjaga kebersihan kandang, hindari genangan air dan jangan biarkan adanya pakan yang tersisa.

Zuhri Muhammad pun merekomendasikan untuk menggunakan suatu obat tertentu untuk menangani kutu, menurutnya, penggunaan obat ini di lapangan hasilnya cukup bagus.

Adapun teknik pemakaiannya dengan cara menyemprotkan ke bagian tubuh ayam yang terserang kutu tersebut dan ini dilakukan secara terus menerus sampai tidak ditemukan lagi kutu pada tubuh ayam dimaksud.

Adapun sumber di Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyatakan pengendalian penyakit kudis pada kambing antara lain dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.


Obat Anti Cacing

Untuk berbagai jenis obat anti anticacing (anthelmintik) melawan berbagai jenis cacing pada berbagai tahap siklus hidup, Ditjen Peternakan Deptan RI juga telah mengeluarkan ijin yang terdaftar pada Indeks Obat Hewan Indonesia.

Zat aktif obat-obat anthelmentik itu antara lain Levamisol, Albendazol, Piperasin, Nitroksinil, Ivermectin, Fenbendasol, Triclabendasol, Flubendasol, Pyrantel Pamoat, Hygromysin, Klosantel, Niklosamid, Tetramisol, Parasigvantel, Fenotiasin, Oxfendasol, Avermectin, Oksibendasol, Abamektin,

Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia menyatakan status nutrisi ayam juga mempengaruhi pembentukan kekebalan terhadap parasit cacing. Menurut penelitian ayam yang diberikan pakan dengan kadar vitamin A, B kompleks, kalsium, dan lisin yang tinggi akan meningkatkan resistensi terhadap Ascaridia galli.

Mengingat bahwa lalat dapat bertindak sebagai vektor mekanik dari telur Ascaridia galli, maka pengendalian terbaik terhadap cacing tersebut adalah kombinasi antara pengobatan preventif dan manajemen kandang yang optimal, meliputi sanitasi/disinfeksi ketat dan pembasmian lalat.

Adapun, pencegahan dan pengobatan pada pullet biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu, kemudian diulang dengan interval 4 minggu sampai ayam mencapai umur 21 minggu.

Sementara itu, Nyoman Sadra Dharmawan dari FKH Universitas Udayana Bali menyatakan, tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap taeniasis akibat T asiatica, hampir sama dengan pencegahan dan pengobatan pada penderita T saginata klasik.


Obat Herbal Anti Cacing

Saat beban biaya penggunaan obat cacing mencapai 50% dari seluruh total biaya medikasi dalam arus kas, beberapa efek samping yang merugikan ditemukan dalam penggunaan obat cacing farmasi, seperti peningkatan kekebalan cacing terhadap obat farmasi dan peningkatan kasus intoksikasi pada ternak akibat pemakaian dosis yang berlebihan.

Untuk itulah, Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan memberi pengobatan alternative terhadap kasus cacingan pada kambing selain dengan obat cacing pabrikan, bisa pula diberi: buah pinang yang hampir matang (tua) ditumbuk halus dan cairannya diminumkan (jangan diberikan kepada kambing yang sedang bunting).

Sementara di Sumatera, obat cacing tradisional seperti di Riau antara lain: Buah pinang ditumbuk halus kemudian digoreng tanpa minyak (disangrai), kemudian ambil 1 sendok teh dicampurkan 1 botol air (250 cc), lalu minumkan.

Adapun sumber Dinas Peternakan Banjarbaru Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan menyarankan soal obat dengan pinang itu, “Dapat pula diberi campuran terusi dengan air tembakau. Buatlah air tembakau sebanyak 1 liter sampai berwarna coklat tua, masukkan terusi 30 gram, diaduk sampai rata dan kemudian ditambah air 2 liter lagi.”

Selanjutnya, “Kambing dipuasakan dahulu selama 12 jam, lalu diberi campuran tersebut 30–50 cc (seperlima gelas) untuk setiap ekor kambing dewasa. Setelah diobati jangan diberi makan dahulu sampai 6 jam.”

Sementara itu Dr Drh Setiawan Koesdarto dan Dr Drh Sri Subekti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga serta Dr Herra Studiawan dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dalam suatu kesempatan menyatakan salah satu pilihan dalam mengobati infeksi toxocariasis sapi Penyakit Cacing pada Sapi adalah dengan Fraksinasi Minyak Atsiri Rimpang Temuireng (Curcuma aeruginosa RoxB).

Selanjutnyua berdasar informasi FAO Indonesia, pencegahan dan pengobatan dengan tehnik medikasi etno-veteriner di implementasikan di SPFS (Special Programme For Food Security) Asia Indonesia, dengan tujuan mendapatkan penampilan produksi terbaik dari kelompok tani. Sistem medikasi ini menggunakan bahan dasar natural, baik berupa tanaman, mineral, jenis-jenis hewan tertentu, akupuntur, akupresur, pengeluaran darah dan lain-lain.

Sumber FAO itu menyatakan, di SPFS diperkenalkan penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing, seperti pinang, bawang putih dan biji buah pepaya.

“Penggunaan obat-obatan ternak natural secara rutin dilakukan di kelompok tani Amanah dan memberikan hasil peningkatan penampilan produksi ternak yang cukup signifikan, dimana hal ini disebabkan adanya penghematan di sektor pengadaan obat-obatan ternak,” kata Drh Johan Purnama MSc dan Taufikurrahman Pua Note, S.Pt, teknisi lapangan peternakan dan perikanan yang dalam suatu kesempatan menyatakan penggunaan Bahan Herbal Sebagai Obat Anti Cacing Untuk Ternak Sapi (Lombok Tengah).

Menurut mereka, dasar dari sistem medikasi etno-veteriner sebenarnya telah diletakkan sejak manusia melakukan domestikasi pada hewan liar untuk dijadikan hewan ternak, artinya sistem ini telah dikenal oleh nenek moyang kita dengan menggunakan manusia untuk dasar perbandingan dosis dan jenis obat yang digunakan.

Sistem medikasi ini menggunakan bahan dasar natural, baik berupa tanaman, mineral, jenis-jenis hewan tertentu, akupuntur, akupresur, pengeluaran darah dan lain-lain. Saat sekarang medikasi etno-veteriner telah mengalami kemajuan yang luar biasa dengan dasar-dasar biologi molekular yang sangat kuat dan ilmiah, bahkan penggunaan bahan natural telah ditujukan sebagai imuno-modulator untuk melawan beberapa jenis virus tertentu, seperti: Marek’s, Gumboro, Avian Influenza dan lain-lain.

Tehnik medikasi etno-veteriner ini telah mulai diperkenalkan di kelompok tani SPFS – Indonesia semenjak pertengahan tahun 2005 oleh Deputy Farming System-SPFS Drh Johan Purnama, MSc.

“Sebenarnya beberapa tanaman memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai obat anti-cacing dan hal ini biasa dilakukan dalam tehnik beternak pada jaman dahulu,” kata Johan.

Beberapa jenis tanaman yang biasa diberikan oleh peternak dengan tujuan sebagai obat cacing adalah: pinus, jahe, biji labu, biji pinang, bawang putih, pepaya, bawang putih, jahe, beberapa jenis tanaman karet (contoh : Ficus religiosa) dan beberapa jenis tanaman yang memiliki kandungan tanin dengan konsentrasi yang tinggi.

Drh Johan Purnama MSc menyatakan di SPFS diperkenalkan penggunaan beberapa jenis tanaman yang tumbuh di sekitar area yang dapat digunakan sebagai obat cacing, seperti pinang. Biji buah pinang biasa digunakan oleh penduduk asli Lombok (Suku Sasak) untuk campuran mengunyah sirih, pohon pinang sengaja ditanam oleh penduduk asli untuk tujuan ini.

Penggunaan biji buah pinang ini ternyata sangat efektif dan sangat murah, sehingga tujuan penghematan biaya pemeliharaan dapat tercapai dengan baik, sehingga penampilan sapi di kelompok tani SPFS di Lombok Tengah juga semakin meningkat, karena kesehatannya yang terjaga dan tidak ada lagi kekuatiran dalam masalah biaya obat serta masalah keracunan obat cacing yang biasa timbul bila digunakan obat cacing farmasi.

Lalu bawang putih. Bawang putih yang biasa digunakan untuk memasak di dapur juga mempunyai khasiat anti-cacing yang sangat efektif, terutama untuk melawan infestasi cacing Ascaris sp, Enterobius dan semua jenis cacing paru-paru. Keuntungan lain dari bawang putih adalah adanya kandungan antibiotika alami yang sangat aman dan tidak meninggalkan residu di sapi, antibiotika ini akan berperan sebagai ”growth promotor” pada laju pertumbuhan sapi.

Pada pengobatan sapi-sapi muda penggunaan bawang putih sangat disarankan karena tidak pernah ditemukan efek samping yang merugikan.

Kemudian Biji Buah Pepaya. Biji buah pepaya (Carica papaya) terbukti dapat digunakan sebagai obat cacing yang sangat efektif, terutama untuk infestasi Ascaris sp. Getah pohon pepaya juga memiliki efektivitas yang sama, tetapi secara tehnis penggunaan biji buah akan jauh lebih mudah .

Menurut Drh Johan Purnama MSc, Kelompok tani Amanah adalah salah satu lokasi implementasi medikasi etno-veteriner pada ternak, kelompok ini mendapatkan gelar sebagai kelompok petani ternak terbaik di tingkat propinsi NTB hingga belasan kali, diharapkan dengan melakukan implementasi medikasi etno-veteriner pada kelompok ini akan menjadi contoh dan teladan bagi kelompok tani lain di NTB.

“Penggunaan obat-obatan ternak natural secara rutin dilakukan di kelompok tani Amanah dan memberikan hasil peningkatan penampilan produksi ternak yang cukup signifikan, di mana hal ini disebabkan adanya penghematan di sektor pengadaan obat-obatan ternak,” tutur Johan.

Hal positif lain yang didapatkan adalah bahwa petani menjadi semakin aktif belajar dalam usaha mencari alternatif obat untuk tujuan ekonomis. Rata-rata peningkatan populasi ternak untuk kelompok tani SPFS-Indonesia mencapai 87 % per tahun, dengan hambatan utama timbulnya penyakit-penyakit akibat sanitasi yang kurang baik karena kekurangan sumber air.

Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan rutin dengan perbaikan sanitasi secara optimal dan pemberian obat-obatan herbal diharapkan akan meningkatkan performa produksi ternak kelompok tani di Indonesia.

Berbeda-beda tetapi tetap satu juga? Kiranya begitu. Banyak jalan menuju Roma, banyak obat melawan penyakit parasit, demi kesehatan ternak kita. (Daman Suska, iyo, YR/ berbagai sumber)

Bentuk Ketiga Cacing Pita Taenia Pada Babi

Nyoman Sadra Dharmawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dalam suatu kesempatan menyatakan beberapa tahun terakhir ini, banyak laporan yang membahas kehadiran cacing pita baru, yaitu bentuk ketiga dari cacing pita Taenia.

Dari sumber di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali, peneliti itu menyatakan bentuk ketiga dari cacing pita Taenia itu awalnya disebut sebagai Taenia taiwanensis. Namun, sekarang lebih dikenal dengan Taenia Asia atau Taenia asiatica, karena hanya ditemukan di beberapa negara di Asia. Bentuk ketiga cacing pita ini digambarkan sebagai peralihan dari dua cacing pita klasik yang telah dikenal sebelumnya, Taenia solium dan Taenia saginata.

Menurut sumber FKH Udayana itu, menurut definisi WHO (World Health Organization), cacing pita Taenia adalah parasit siklozoonosis yang dapat menular di antara hewan vertebrata dan manusia. Ada juga yang memasukkan pada kelompok cacing anthropozoonosis karena melihat fakta selain sebagai penyebar, manusia juga menjadi inang buntu (final host) dari parasit tersebuT

Dewasa ini, dilaporkan ada bentuk ketiga dari cacing pita Taenia. Semula dikenal dengan nama Taenia taiwanensis, karena pertama kali dilaporkan di Taiwan oleh seorang pioneer P.C. Fan. Dua bentuk cacing pita sebelumnya adalah cacing pita klasik Taenia saginata atau cacing pita daging sapi dan Taenia solium atau cacing pita daging babi.

Bentuk ketiga cacing pita baru Taenia tersebut, sekarang lebih dikenal dengan Taenia Asia atau Taenia asiatica. Disebut demikian, karena cacing pita ini hanya ditemukan di beberapa negara di Asia, seperti Taiwan, Korea, China (di beberapa propinsi), Indonesia (di Sumatera Utara), dan Vietnam.

Cacing pita ini, tampaknya merupakan bentuk peralihan dari T saginata dan T solium. Ito dan kawan-kawan menyebut sebagai kembaran dari T saginata. Sementara Bowles dan McManus cenderung memasukkan sebagai subspesies atau strain dari T saginata. Berdasarkan penelitian morfologi dan analisis genotif, parasit ini dinyatakan sebagai spesies tersendiri dan memiliki kedekatan hubungan dengan T saginata.


Mirip

Morfologi cacing dewasa T asiatica memang sangat mirip dengan T saginata yang klasik (T saginata). Namun, memiliki perbedaan pada beberapa aspek. Perbedaan yang paling esensial adalah pada daur hidup dan lokasi berparasit bentuk sistiserkusnya pada inang antara. Secara alami, inang antara T saginata adalah sapi dan lokasi berparasit sistiserkusnya pada otot.

Sementara T asiatica, inang antaranya babi, lokasi berparasit sistiserkusnya pada hati dan organ visceral lainnya. Di sisi lain T solium dapat mengakibatkan sistiserkosis pada manusia, tidak demikian halnya dengan T saginata dan T asiatica.

Mengingat cacing ini merupakan temuan relatif baru, studi tentang penyebaran dan tingkat kejadiannya pada masyarakat masih sedikiT Sejauh ini, dilaporkan T asiatica dan sistiserkusnya hanya ditemukan di beberapa negara di kawasan Asia. Hal ini, ada yang menghubungkan dengan kebiasaan makan (eating habbits) masyarakat Asia, setidaknya di beberapa wilayah yang masyarakatnya gemar mengkonsumsi daging babi dan organ visceral atau jeroan yang tidak dimasak.


Daur Hidup

Peneliti FKH Udayana Bali itu menyatakan, daur hidup T asiatica tidak langsung, membutuhkan satu inang antara. Dari beberapa hasil penelitian eksperimental pada ternak dan manusia (sukarelawan) yang dilakukan secara terpisah-pisah, daur hidup cacing pita ini dapat dirangkaikan pada hari ke 14 pasca inokulasi, ditemukan sistiserkus muda berupa bintik-bintik kecil yang tumbuh pada hati.

Pada hari ke 21 ditemukan kista imatur yang telah memiliki rostellum dan sucker. Kait rudimenter dan adanya pergerakan aktif kista yang matur teramati pada hari ke 28.

Diagnosis terhadap adanya infeksi T asiatica dan sistiserkusnya, dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang telah umum dipakai mendeteksi Taenia. Untuk menemukan sistiserkus T asiatica dapat dilakukan dengan pengamatan visual lewat prosedur pemeriksaan kesehatan daging babi. Pemeriksaan ini dilakukan post-mortum terutama pada hati dan organ visceral lainnya.

Teknik diagnostik yang sekarang dikembangkan dan cocok untuk mendeteksi kista T asiatica secara ante-mortum adalah pemeriksaan serologis. Uji serologis dapat memberi arti praktis dan spesifik. Dari hasil ekperimen untuk mengetahui adanya sistiserkosis pada babi dengan menggunakan ELISA, dilaporkan bahwa antibodi akan terdeteksi tiga minggu pasca infeksi.

“Walaupun demikian, teknik ini bukan berarti tidak memiliki kelemahan, karena pada umumnya uji serologis sering menunjukkan variasi keakuratan yang lebar,” katanya.

Selanjutnya, usaha-usaha untuk meningkatkan sensitivitas uji ELISA telah diupayakan oleh beberapa pakar, namun spesifitasnya masih tetap merupakan suatu problem tersendiri. Rendahnya spesifisitas uji serodiagnosis umumnya sering berasal dari penggunaan antigen kasar. Karena itu pemurnian antigen merupakan salah satu langkah untuk mengatasi problem tersebuT

Seperti halnya untuk diagnosis pada taeniasis intestinal lainnya, diagnosis pasti terhadap spesies T asiatica tergantung dari identifikasi parasitnya. Dengan cara identifikasi ini, akan diketahui sifat-sifat atau ciri khas yang biasanya ada pada proglottid, telur atau scolexnya.

Menurut Eom dan Rim sedikitnya ada empat ciri khas yang menonjol yang dapat digunakan sebagai indikator morfologi T asiatica, terutama bila dibandingkan dengan T saginata klasik. Keempat ciri tersebut adalah:

1) adanya rostellum pada scolex

2) adanya tonjolan pada posterior proglottid gravid

3) banyaknya jumlah ranting uterus

4) adanya bentukan kutil pada permukaan gelembung sistiserkusnya.

Metode pemeriksaan DNA merupakan teknik diagnostik yang lebih akurat dan kini banyak digunakan untuk membedakan spesies T asiatica dengan spesies Taenia lainnya.

Beberapa peneliti yang telah berhasil mendeteksi karakteristik T asiatica dengan menggunakan Cloned Ribosomal DNA Fragments dan melihat sekuen amplifikasi menggunakan reaksi rantai polymerase di antaranya adalah Zarlenga, Bowles dan McManus.

Teknik diagnostik molekuler dan serologis (imunodiagnosis) terhadap taeniasis dan sistiserkosis secara umum, juga dilaporkan peneliti lainnya. Teknik tersebut dapat digunakan untuk mendiagnosis T asiatica.


Pencegahan dan Pengobatan

Nyoman Sadra Dharmawan menyatakan, tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap taeniasis akibat T asiatica, hampir sama dengan pencegahan dan pengobatan pada penderita T saginata klasik.

Upaya pencegahan dapat dilakukan seperti pencegahan terhadap taeniasis akibat T saginata dan T solium. Tindakan pencegahan tersebut pada prinsipnya terdiri atas:

(1) menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati orang yang mengandung parasit, dan mencegah kontaminasi tanah dengan feses manusia;

(2) pemeriksaan hati dan organ visceral babi terhadap adanya sistiserkus;

(3) memasak hati babi bila akan dikonsumsi. Penyebaran penyakit dapat pula ditekan lewat jalur pendidikan, kontrol melalui program-program kesehatan masyarakat dan kesehatan masyarakat veteriner

Terungkapnya bentuk ketiga cacing pita Taenia ini, menurut Nyoman Sadra Dharmawan sekaligus menjawab pertanyaan yang menjadi teka-teki mengenai fenomena taeniasis di Asia.

Fenomena yang dimaksud adalah kondisi paradoksal yang memperlihatkan dominannya kasus taeniasis di beberapa wilayah di Asia, yang diduga akibat infeksi cacing pita daging sapi (T saginata), namun terjadi pada masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi daging babi.

Dari uraian di depan, Nyoman Sadra Dharmawan menyimpulkan pada fenomena di atas, ternyata cacing pita yang menginfeksi bukan T saginata, melainkan T asiatica. Sistiserkusnya (C. viscerotropica) berparasit pada hati babi dan morfologi cacing dewasanya memang sulit dibedakan dengan T saginata.

Mengakhiri uraian ini, peneliti mengungkapkan, bahwa kemungkinan T asiatica juga dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia, masih diperdebatkan dan dianjurkan untuk diteliti lebih lanjuT Belum ada cukup bukti yang menunjukkan T asiatica dapat berkembang dan menyebabkan sistiserkosis pada manusia.

Namun, katanya, “Langkah yang bijak selain meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan, adalah melakukan penelitian untuk mengungkap keberadaan T asiatica secara lengkap dan menyeluruh.” (Infovet/ Sumber FKH Udayana)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template