Thursday, August 16, 2007

Infovet 146, September 2006 - LABIRIN KEBIJAKSANAAN

Kepercayaan diri bangsa ini sungguhlah, ternyata, lemah. Begitu melimpah ruah kekayaan alam yang dimiliki, tidak juga membuat yakin diri bahwa sesungguhnya segala kebutuhan hidup berbangsa dan bernegara dapat dicukupi dengan mengelola dan memanfaatkan semua anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa pada bumi tanah air yang kaya.


Modal plasma nutfah hewan asli di tanah air Indonesia sungguhlah masuk jajaran terbanyak di dunia. Namun manusia-manusianya kedodoran mansyukuri dan menjaga serta memanfaatkan. Ketika di dunia internasional terjadi pertarungan harga diri dalam wujud imperialisme baru di bidang ekonomi, bangsa ini secara tidak sadar sudah menggadaikan berbagai anugerah itu dengan tidak mengindahkan kepemilikannya. Hak kekayaan alam dan intelektual diabaikan, dibiarkannya bangsa maju mencuri berbagai hak paten yang sebetulnya milik asli Indonesia. Berbagai plasma nutfah asli Indonesia sudah dipatenkan negara lain. Pengembangan satwa asli Indonesia (contoh Jalak Bali di Jepang) sudah jauh melebihi pengembangannya di habitat aslinya sendiri.


Siapakah yang terlibat untuk semua ‘kemiringan’ itu? Sangat mirip perlakuannya dengan di bidang peternakan. Sejak era orde pembangunan tak terhitung lagi biaya dikucurkan untuk pembangunan peternakan. Proyek demi proyek dibangun untuk mempertahankan ternak Indonesia bahkan dengan balai-balai inseminasi buatan, balai embrio ternak, balai-balai pengembangan peternakan. Acara demi acara diselenggarakan untuk mendukung proyek-proyek itu. Tak terhitung lagi seminar, pelatihan, kunjungan ke dalam dan luar negeri, pembentukan lembaga-lembaga pendukung, pengalokasian dana-dana untuk menyediakan ternak yang dikembangkan, dan lain sebagainya. Dan lain sebagainya.


Harapannya sungguhlah bisa diterima, negeri ini serba berkecukupan dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, dengan tersedianya ternak penghasil daging, susu dan telur yang cukup. Suatu saat dibanggakanlah keberhasilan temporer. Namun apa yang terjadi sesungguhnya setelah sekian lama waktu bergulir hingga kabar terakhir? Sungguh mengenaskan. Birokrat peternakan mengaku masih saja kekurangan ternak Indonesia, dianggap tidak dapat mencukupi kebutuhan daging dan hasil-hasil produksi peternakan.


Wajar bila kita bertanya kemana semua dana yang makan pajak rakyat dalam anggaran pendapatan belanja negara? Pemerintah pun masih tak bergeming berpendapat tidak ada jalan lain untuk mencukupi kebutuhan protein hewani ini dari negeri asing.


Kran impor yang terjaga begitu ketat untuk tetap menjaga bebasnya negeri ini dari penyakit ternak menular mulai sedikit demi sedikit digoyang. Resiko penyakit menular dari negara asal ternak itu, resiko berbagai pembebasan impor dari zona-zona bebas yang diperdebatkan, seolah bukan lagi momok hanya untuk memenuhi anggapan kebutuhan produk asal ternak yang konon tidak bisa dipenuhi di dalam negeri.


Untuk membebaskan diri pada penghakiman terhadap pemerintah, kita bertanya ketidakberhasilan program pencukupan ternak selama puluhan tahun pembangunan ini, apakah semata-mata kesalahan pemerintah? Sorotan terhadap kinerja dan ketekunan, kedisiplinan peternak dilakukan. Sorotan terhadap komitmen dan dedikasi para ilmuwan untuk meneliti dan menyuarakan kebenaran pemikiran yang berpihak pada keunggulan dalam negeri dipertanyakan. Kesetiaan para pemikir untuk mempertahankan kekuatan dan kepercayaan diri pada kekayaan alam yang tidak terlalu moderat terhadap hasrat ekonomi segelintir golongan dipertanyakan. Keteguhan para pelaku ekonomi untuk tidak mengumbar hasrat penguasaan ekonomi sendiri dipertanyakan.


Betul kita telah terjerumus dalam era global di mana gurita penguasaan yang kuat terhadap yang lemah begitu kuat. Betul kita sudah terikat oleh berbagai konvensi, traktat, pakta, kesepakatan ekonomi dengan negara-negara internasional. Sungguh kita telah begitu menghamba pada keinginan ekonomi yang seolah-olah sudah menjadi kebutuhan. Sungguh kita sudah masuk labirin kebijaksanaan. Antara yang praktis dan yang hakiki sungguh kita perlu memperpendek jarak yang memisahkan keduanya. Dengan rendah hati, majalah ini hadir untuk setidaknya kita bersama-sama membangun jembatan kebijaksanaan ini. (Yonathan Rahardjo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template